Mengapa? Apa aku ini tak cukup untukmu?

Mengapa? Aku tidak bisa… Jika bukan dirimu?

Padahal aku benar-benar mencintaimu

Perasaan yang tak akan sampai ini… Kusembunyikan jauh di dalam hatiku

Sesak, aku hampir tak dapat bernafas

Mengapa sampai sekarang… Aku terus saja memikirkan dirimu?

Kalau saja… Aku hanya mencintai orang-orang yang juga akan mencintaiku…

Apa perasaan ini… Terlalu egois?


Angel, Devil and Forbidden Love Story

.

A Kuroko no Basuke fanfiction

Special for KiyoHana Day 2015

.

Disclaimer

Story ©kiyoha + ShanataS

Characters ©Fujimaki Tadatoshi

.

Rate:
M for Violence and mature hint

.

Pairing

KiyoHana, onesided!ImaHana dan banyak onesided lainnya /heh/

.

Warning(s)!

Desain (?) dunia sana sama seperti dunia sini—atau seperti Makai Ouji, OOC?, typo (s), author mabok, lebai, terlalu banyak pairing yang bikin gumoh, Hanamiya so uke so lembut so tersakiti (?), Aggressive!Kiyoshi, Galau!Imayoshi, plot campursari dan serentet keanuan lainnya.

DLDR!

.

Presented by Kiyoha


'Aah, ini terjadi lagi. Dan… Ia tetap kasar seperti biasanya.

Sakurai… Apa yang membuatmu begitu lama mencari bantuan?

Sudah berapa lama aku terkurung di kamar ini, ya?'

.

Hanamiya membuka matanya perlahan. Tekstur lembut ini… Kasur? Dia di atas ranjang?

Oh ya, Imayoshi memindahkan suatu ranjang ke kamar ini semalam. Entah karena ia merasa kasihan dengan kouhainya yang kesakitan, atau… Ia hanya tidak ingin melakukan itu di permukaan lantai yang dingin. Yah, kalian mengerti, kan?

Apa pun alasannya, Hanamiya sedikit bersyukur. Setidaknya ranjang ini lebih lembut, empuk, dan hangat dibanding dengan lantai. Lukanya sudah sedikit membaik dan… Rantainya sepertinya sudah lebih panjang. Mungkin Imayoshi yang memanjangkannya supaya ia lebih leluasa bergerak.

Tok tok

"Hanamiya~? Aku membawa makanan, nih. Kau lapar, kan?"

Ah. Ternyata Imayoshi yang masuk sambil membawa nampan berisi makanan. Benar juga, sekarang sudah sore. Ia belum makan siang—tidak, ia rasa ia belum makan dari kemarin malam.

Imayoshi meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja, di samping ranjang. Selagi Hanamiya tidur—tidak sadarkan diri, sepertinya Imayoshi mendekor ruangan kosong ini dengan barang-barang. Ruangan yang tadinya gelap dan kosong itu menjadi lebih bercahaya—mungkin karena jendela dibuka.

"Nih, pesawat akan masuk~" Imayoshi menyodorkan sesendok bubur ke hadapan sang kouhai, seperti menyuapi anak kecil. Hanamiya membuang muka, tidak suka diperlakukan seperti itu. Oh ayolah, kalau hanya makan ia bisa sendiri. Dia tidak selemah itu sampai harus disuapi.

"Nggak butuh." ucapnya ketus seraya menepis kasar tangan senpainya. Namun Imayoshi tak terlihat marah—ia hanya membersihkan tangannya yang terkena bubur sambil tersenyum.

"Hei, Hanamiya." Imayoshi mengelus helai eboni Hanamiya—yang masih membuang muka—dengan lembut. "Katakan, kau membenciku?"

'Tuh tahu' rutuk Hanamiya dalam hati.

"Setelah segala perlakuanmu padaku selama ini, kau tidak sadar juga, kacamata?" Hanamiya akhirnya menoleh, menatap sinis.

"Yah…"

Imayoshi menunduk, masih dengan senyumannya yang biasa. "…Wajar saja, ya. Setelah apa yang kulakukan padamu, sudah sepantasnya aku dibenci. Apalagi kemarin, aku benar-benar sudah kelewatan. Pasti Sakurai juga membenciku, haha."

"…Sakurai?"

"Ya. Sakurai. Kau sudah bertemu dengannya, kan? Fallen angel itu."

Darimana ia tahu… Kalau Sakurai sudah menemuinya?

"Tapi, kau tahu? Aku melakukannya semata-mata untuk membuatmu tetap di sisiku, di dunia ini." Imayoshi melanjutkan, entah mengapa ekspresinya terlihat pahit. "Hanamiya… Kau itu penting untukku."

Mendadak Hanamiya merasakan sensasi dingin menyentuh bibirnya.
Imayoshi… Menciumnya secara tiba-tiba. Hanya ciuman singkat, tapi entah mengapa dipenuhi berbagai perasaan—sakit, sedih, kecewa—segalanya. Setelah kedua pasang bibir itu terlepas, Imayoshi membelai lembut sayap kanan Hanamiya yang hampir terkoyak seluruhnya.

"Setelah perkembangan hatimu ini selesai… Pilihlah diriku, Hanamiya. Aku janji, aku takkan meninggalkanmu, aku takkan menyakitimu lagi."

Setelah mengatakan itu, Imayoshi berjalan ke luar ruangan, meninggalkan kouhainya yang terdiam tak percaya.

.

.

"…"

"Imayoshi-san, kita akan selalu bersama, kan?"
"Tenang saja, aku akan terus melindungimu, kita berdua akan terus bersama."

"Mengapa…Kenangan itu harus teringat sekarang…"


"Hei, kalian yakin aku harus melakukan ini?

"Tentu saja, Kiyoshi! Ini satu-satunya cara untuk sampai ke sana!"

"Terus saja bersembunyi di bawah kain itu! Tenang saja, kau takkan ketahuan! Syukurlah tugas kami hari ini bagian memindahkan barang-barang!"

Ya ampun. Ia bersembunyi di balik kain dan barang-barang ini, lalu para iblis membawanya ke dunia sana. Rasanya agak menakutkan, mungkin. Apalagi kalau ia sampai ketahuan Riko membuat perjanjian dengan para iblis, habis sudah dia. Tapi… Ini demi Hanamiya.

Samar-samar ia bisa melihat ke luar kain. Luar biasa, ternyata dunia para iblis begitu gelap, tidak seperti dunianya yang terang benderang. Siang dan malam terasa sulit dibedakan di sini.

Apa mereka tahan… Tinggal di dunia seperti ini?

.

"Yak, kita sampai. Ini kamarku. Kiyoshi, kau tinggal saja di sini untuk sementara waktu. Imayoshi dan pengawal-pengawalnya baru akan meninggalkan rumah besar ini untuk patroli pada jam 7, saat itulah kau bisa menemui Hanamiya," ucap Hara sambil membuka kain yang menutupi Kiyoshi.

"Ah, kalau begitu terima kasih. Sekarang jam…?"

"Jam 6 sore. Kami akan memberitahumu kalau sudah saatnya untuk bergerak." jawab Seto sambil merapikan bajunya. "Kami masih ada pekerjaan, nanti kami akan menemuimu lagi. Jangan jalan-jalan dari sini, ya!"

"Tenang saja. Aku takkan kemana-mana."

Tentu saja, Kiyoshi tak mau mengambil risiko tertangkap.

"Tapi, aku ingin bertanya satu hal saja…"

"Apa? Tanyakan saja."

"Apa pemimpin dunia ini… Masih sang emperor? Kudengar ia menghilang, tapi…" tanya Kiyoshi setengah ragu-ragu. Ini… Bukan pertanyaan yang sensitif untuk para iblis, kan? Ia tidak enak menanyakannya…

"Ah." Furuhashi teringat sesuatu. "Ya. Itu bukan cuma gosip—emperor memang benar-benar menghilang. Hanamiya pernah menceritakannya kepadaku."

"Ya. Itu benar. Sekarang pemimpin tertinggi dunia ini… adalah Imayoshi." Yamazaki menanggapi.

"Begitu ya… Terima kasih sudah memberitahuku."

'Gawat, kurasa misi penyelamatan ini akan semakin sulit saja…'

.

.

.

Hanamiya duduk terdiam di atas ranjang. Bubur yang tadi sore dibawakan oleh Imayoshi sudah mulai mendingin, ia belum menyentuhnya sejak tadi. Pusing, entah mengapa memorinya sejak dahulu seperti menyerangnya. Ia tak dapat menghilangkan kalimat yang Imayoshi katakan dari kepalanya.

"Hanamiya… Kau itu penting untukku."

"Tidak… Dia itu bermuka dua, Hanamiya Makoto… Jangan tertipu dengan kata-katanya…" ucapnya, berusaha mengusir ingatannya tentang Imayoshi.

"Hanamiya, mulai sekarang aku akan mengajarimu bermacam-macam hal."
"Aku akan terus melindungimu, jadi teruslah bersamaku."
"Haha. Kau itu seperti adik yang harus kujaga ya, Hanamiya."

"Ukh…"

Tanpa sadar, air matanya menitik. Saat ini kepalanya dipenuhi segala kenangan tentang Imayoshi. Sejak beberapa tahun lalu—saat ia masih lebih kecil—sampai sekarang. Segalanya melebur menjadi satu. Kenangan menyenangkan, menyakitkan, menyedihkan… Segalanya.

"Imayoshi—dasar kacamata bodoh itu, bodoh, bodoh…"

.

Mengapa Imayoshi tidak mengatakannya?
Mengapa Imayoshi tidak memberitahunya langsung, melainkan berbuat kasar?
Mengapa… Ia tidak menyadarinya sejak awal?

Ah, menyedihkan. Imayoshi—benar-benar menyedihkan.

Tapi…

Hanamiya menyeka air matanya.

Imayoshi sudah terlambat. Walau ia akhirnya mengatakannya, tapi ia sudah terlalu terlambat.

Saat ini… Ada yang lebih penting dari itu. Seseorang yang ia cintai, seseorang yang selalu ada di dalam hatinya…

.

Tok tok

"Hanamiya-san, aku kembali."

Oh, ternyata Sakurai yang memasuki ruangan.

"Lho—Hanamiya-san menangis? Kenapa? Ma-maafkan aku!" serunya panik. Alis tebal Hanamiya berkedut,

"Si-Siapa yang menangis?! Lagipula, apa yang membuatmu begitu lama, dasar bego!"

"U-Uwaa, Hanamiya-san marah, maafkan aku!"

"Ck. Ya sudahlah. Apa maumu?" tanya Hanamiya to the point. Sialan Sakurai, anak itu masuk saat penampilannya menyedihkan seperti ini. Tidak, ia tidak menangis!

Sakurai tersenyum seraya membuka pintu lebih lebar. "Kau kedatangan tamu, Hanamiya-san."

…Eh? Tamu?

Pintu besar itu terbuka, menampakkan seseorang yang berdiri tegap di belakangnya. Hanamiya tidak mempercayai penglihatannya, bahwa yang berdiri di sana…

Kekasih yang ia cintai—Kiyoshi Teppei.


"Ki—"

Kiyoshi tersenyum lembut sambil perlahan berjalan menghampiri kekasihnya. Hanamiya merasakan lututnya melemas dan seluruh tubuhnya bergetar seperti terkena listrik.

Kiyoshi Teppei. Berdiri di hadapannya. Demi alam semesta dan seluruh isinya, Kiyoshi yang itu, Kiyoshi yang ia cintai sejak lama, bagaimana bisa?

"Hanamiya. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu."

Kedua lengan sang kekasih mendekapnya erat. Kehangatan yang familiar ini—Ini Kiyoshi. Ini benar-benar Kiyoshi. Hanamiya membenamkan kepalanya di dada bidang sang kekasih kemudian membalas pelukannya.

"Aku juga… Merindukanmu, bodoh…"

Gawat, perasaannya kini tercampur aduk. Marah, sedih, terharu, bahagia, rindu—berjuta perasaan yang selama ini terkunci dalam hatinya, akan tumpah seluruhnya. Sedikit demi sedikit air mengalir dari pelupuk matanya, membasahi pipi porselennya.

"Kiyoshi brengsek… Apa yang membuatmu begitu lama, bodoh… Aku… Aku terus menunggumu di sini, kau tahu…"

Hanamiya terus berkomat-kamit disela isakannya yang semakin lama semakin keras. Kiyoshi hanya membalasnya dengan senyuman, dan memeluknya lebih erat. Entah sudah berapa lama—ia benar-benar merindukannya. Satu hari tanpanya benar-benar berat, apalagi berhari-hari.

"Aku juga… Benar-benar ingin bertemu denganmu, Hanamiya."

Sakurai, Hara dan yang lainnya hanya menatap sepasang kekasih itu dari dekat pintu, ikut merasa terharu. Dan… Sedikit iri, mungkin?

.

.

Entah karena sudah lama tidak mendekap satu sama lain atau apa—Hanamiya dan Kiyoshi merasakan suatu yang asing. Rasanya berbeda dari biasanya. Saat masing-masing meraba punggung kekasihnya, barulah mereka menyadari—

"Sayapmu?!"

"Sayapmu?! Eh—"

Ups, mereka mengatakan itu bersamaan.

"Ehm, aku duluan ya… Kiyoshi, apa yang terjadi dengan sayap kirimu?!"

"Hanamiya juga… Sayap kananmu kenapa? Lalu, sayap kirimu juga sedikit terkoyak—Kalau aku ya, aku sedikit terkena hukuman, haha. Karena itu."

"O-Oh…"

'Jadi ini yang dikatakan Imayoshi soal 'hukuman' di dunia malaikat. Cukup berat juga, kehilangan sebelah sayap seperti itu.'

"Nah, kalau Hanamiya?"

Hanamiya memainkan jemarinya, sedikit ragu untuk memberitahu. "Eee… Ceritanya panjang."

"Tak apa. Ceritakan saja padaku. Mumpung ada waktu." pinta Kiyoshi sedikit memaksa. Yah, wajar jika ingin tahu, kan?

"Baiklah…"

.

.

.

"Haa, coba kalau Imayoshi-san dan aku bisa seperti itu juga," Sakurai menghela napas. Sekarang, ia tengah duduk di beranda kamar Imayoshi. Rasanya berada di dalam ruangan tempat Hanamiya berada, mengingatkannya pada hari-hari indahnya bersama Imayoshi.

Mendadak suatu menahan tangannya.

"…Sakurai. Kau di sini rupanya."

"A-A-A-Aomine-san!"

"Apaan tampangmu itu! Seperti melihat hantu saja. Kucari-cari kau dari tadi sore, kemana kau pergi?! Jelaskan padaku sekarang juga."

Sakurai mencoba mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam Aomine. Begitu tajam—serasa menusuk dadanya.

"Ano, maaf… Ti-Tidak kemana-mana, kok…"

"Aku tahu kalau kau menyembunyikan sesuatu, Sakurai."

"E-Eh?"

"Ceritakan padaku, sekarang juga." perintah Aomine dengan tegas. Yah, menjaga Sakurai adalah tugasnya. Ia harus mengetahui segalanya. Kemana Sakurai pergi, juga dengan siapa—

Sakurai berpikir keras. Bagaimana ini, bisa-bisa tindakannya ketahuan oleh Aomine. Apa yang harus ia lakukan?!

"Aku khawatir padamu. Jadi kuharap kau mau menjelaskannya padaku. Aku takkan memberitahu hal ini pada siapapun, aku janji. Jadi beritahu aku."

"Aomine…san…?"

.

.

.

"Ja-Jadi begitu ya, Hanamiya…" Kiyoshi menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Hebat juga cerita kekasihnya. Hanamiya memerah malu. Baginya, menceritakan tentang perkembangan hatinya sungguh memalukan! Padahal dia tak ingin memberitahunya sampai proses itu selesai.

"Tapi, ya… Aku sedikit senang… Kau mengorbankan sayapmu untukku, hehe…" Kiyoshi menggaruk pipinya yang tidak gatal. Hanamiya memandangnya sebal.

"Cuma sedikit senang?! Nyawaku bisa terancam, kau tahu?!"

"Hahaha, maaf, maaf. Tentu saja aku senang sekali."

"…Huh."

"Jadi…" Kiyoshi melicinkan tenggorokannya, sebelum melanjutkan. "Kita kembali ke dunia sana, ya?"

"Ke duniamu?! Tapi aku kan—"

"Tenang saja. Sekarang aku tinggal di tempat yang terpencil, tempat itu sangat aman untuk kita berdua. Kita ke sana, ya? Tidak apa-apa, kok!" ucap Kiyoshi berusaha meyakinkan kekasihnya.

"Ka-Kalau begitu, baiklah…"

.

"Tapi sebelum itu, Kiyoshi—" Hanamiya menunjuk kedua kakinya. "Kakiku dirantai."

"…Dirantai? Tapi mana rantainya?"

Ck. Hanamiya menepuk jidat, lupa kalau rantai yang mengikat kakinya adalah rantai kegelapan yang sulit terlihat.

"Pokoknya di kakiku, fokuskan saja penglihatanmu."

"Ah, kalau dilihat-lihat, memang ada. Lalu?"

"Sakurai bilang, tombak cahaya bisa melepaskan rantai ini. Jadi, apa kau bisa…?" Hanamiya memandang kekasihnya, antara yakin dan tidak yakin. "Kau bisa kan… ya?"

Tapi, sial. Ia baru tahu kalau sayap Kiyoshi tidak utuh lagi. Dan jika malaikat kehilangan separuh sayapnya, itu berarti kekuatan… Dan nyawanya berkurang, tinggal separuh lagi.

Apalagi ini rantai kegelapan buatan Imayoshi. Ia khawatir Kiyoshi tidak—

"Tak apa. Aku akan melepaskan rantai ini." ucap Kiyoshi yakin. Ia lalu memfokuskan kekuatan cahaya di tangan kanannya.

.

'Kh, ini menyakitkan. Mungkin karena sayapku yang tinggal sebelah?'

"Hei—kau tidak apa?" tanya Hanamiya cemas.

"Tak apa, kok. Kh… Ini hanya sedikit sulit… Aaagh—"

'Gawat, ia terdengar sangat kesakitan. Apa tidak ada hal yang bisa kulakukan untuk menolongnya?'

"Kiyoshi! Ah—"

Sebilah tombak yang berkilauan pun muncul di genggaman sang brunette. Tombak ini—ternyata memang tombak yang terbuat dari kekuatan cahaya. Begitu menyilaukan…Hingga kamar ini terang. Hanamiya berharap tidak ada yang penasaran dan mencoba mengintip.

"Nah, hahaha, bisa, kan? Haa—" ucap Kiyoshi sambil terengah-engah. Pasti berat sekali untuk mengeluarkan tombak itu. Kiyoshi…

Tanpa aba-aba lagi Hanamiya segera meluruskan kedua kakinya, agar Kiyoshi bisa menancapkan tombak itu ke rantai yang mengikatnya.

"Tahan sedikit, ya, Hanamiya."

"Tak perlu kau katakan juga aku akan menahannya, bodoh."

.

.

.

"Jadi—ada kejadian seperti itu? Ck, seharusnya kau beritahu lebih awal, bodoh!"

"Hiii—maaf…"

Aomine menggaruk kepalanya. Dasar Sakurai! Ia menyembunyikan hal sepenting ini darinya. Seharusnya ia juga mengetahui hal ini, dong! Menghela nafas, Aomine melembutkan nada suaranya. Fallen Angel di hadapannya terlihat takut, sih.

"Lain kali, jika ada masalah seperti ini, langsung saja kau beritahu aku. Ya?"

"Ng." Sakurai mengangguk-angguk. Sang darkblue mengelus kepala brunette itu gemas.

"Bagus, anak baik."

"Ehehe,"

Setelah puas, Aomine berdiri dan bersiap untuk pergi. "Nah, kalau begitu aku akan memberitahu ke Susa-san. Dia pasti tahu solusi terbaik. Tenang saja, aku akan memberitahunya supaya cerita ini tak terdengar oleh Imayoshi-san."

Perlahan tangan tan itu terulur,

"Ya, Sakurai—tidak—Ryou?"

Sakurai terkekeh, lalu menyambut uluran tangan Aomine. "Sudah lama Aomine-san tidak memanggilku begitu. Biasanya 'Sakurai' terus."

"Yah—hanya kalau kita berdua, ya. Jangan bilang-bilang Imayoshi-san."

"Ehehehe~"

.

.

"Ah! Akhirnya terlepas juga. Fyuuh, rantai ini lumayan tebal…" ujar Kiyoshi seraya mengusap peluhnya karena sedari tadi ia mencoba untuk menghancurkan rantai yang mengikat kaki kekasihnya. Akhirnya bisa juga.

"Ya. Kalau begini kita bisa—ah, gawat! Sudah jam 8, bagaimana ini—" Hanamiya melihat ke arah jam dengan panik. Sial, bagaimana ini?!

"Lho? Memangnya kenapa—"

"Sebentar lagi Imayoshi pulang! Duh, kalau begini mana bisa kita—"

"Bisa, kok." ucap seseorang dari balik pintu. Ah, ternyata Hara yang baru pulang dari pekerjaannya. "Kalau Imayoshi… Kami sudah mengirim pengalih perhatian."

"Pe-Pengalih perhatian?"

"Ya. Supaya ia bisa lupa dengan Hanamiya untuk sementara. Sudah, kalau kalian tidak mau tertangkap, ayo cepat! Kami akan mengantar kalian ke perbatasan!"

.

"Nah, sekarang sudah di perbatasan." ucap Seto sambil menurunkan Kiyoshi dan Hanamiya. "Hanya melewati dunia manusia, lalu langsung… Kau yakin tidak ingin kami antar?"

Kiyoshi mengangguk. "Ya. Kalau kalian terlihat jalan-jalan di duniaku, bisa-bisa masalah bertambah besar. Lagipula, tempat aku tinggal dekat dengan perbatasan, kok."

"Haah, baiklah kalau begitu. Tapi kau yakin bisa terbang dengan sebelah sayap seperti itu?"

"Tentu saja. Sayapku yang hilang sayap sebelah kiri, dan Hanamiya sebelah kanan. Kita bisa menyeimbangkan, ya kan?" jelas Kiyoshi sambil melirik ke arah kekasihnya. Hanamiya mengangguk pelan.

"Ah, itu benar juga. Kalau begitu, hati-hati!"

"Ya. Sampai jumpa, terima kasih atas bantuan kalian!"

.

.

.

"Ah, mereka pergi…" Hara memandang punggung Kiyoshi dan Hanamiya yang semakin jauh. "Hana-chan… Pergi, deh."

"Sudahlah, jangan sedih begitu, Hara. Kan kita yang memutuskan akan mendukung cintanya, agar dia bahagia?" Furuhashi menepuk-nepuk pundak sobatnya itu, padahal ia sendiri berusaha tegar.

"Iya."

"Ngomong-ngomong, Hara… Apa yang kau maksud dengan pengalih perhatian?" tanya Yamazaki. "Apa suatu kejadian, atau jebakan atau—"

"Bukan, Yamazaki. Pengalih perhatian ini…"

.

"Aah, akhirnya selesai juga. Yaah, pekerjaan patrol ini memang benar-benar merepotkan, duh…" Imayoshi akhirnya dapat bernafas lega, merenggangkan tangannya yang pegal. "Nah, aku harus memberi Hanamiya makan malam~"

Tapi, sesuatu menahannya.

"Imayoshi-san."

Imayoshi menoleh ke arah suara yang memanggil dirinya. "Ah, Sakurai. Ada apa, tidak biasanya kau menjemputku sampai ke sini. Kalau ada orang yang melihatmu, bagaimana?"

"…Aku tidak peduli. Habisnya aku ingin cepat-cepat bertemu Imayoshi-san."

Imayoshi memicingkan matanya, "Hee. Tumben sekali kau begini. Ada apa?"

"Tidak… Aku hanya ingin…" Sang brunette mengeratkan pelukannya, bergelayut manja di tangan Imayoshi bagai anak kecil meminta permen. "Bersama Imayoshi-san… Malam ini."

Imayoshi sedikit terkejut, namun ekspresi itu segera tergantikan oleh tawa.

"Dasar, Sakurai. Pintar sekali kau 'mengajak' seperti itu." Dengan gemas ia mengacak rambut sang brunette.

"Kalau begitu… Sebentar saja, ya?"


Hanamiya memandang hamparan rumput yang begitu luas. Bukit Utara, tempat mereka yang terbuang. Ia tertegun, betapa sepinya tempat ini—namun juga betapa indahnya. Begitu ia memandang ke langit, yang terlihat adalah bintang-bintang yang bertabur indah, menemani bulan memperelok malam.

Dari kejauhan terlihat bangunan-bangunan serba putih yang diterangi cahaya lilin. Ada beberapa bangunan di sebelah utara, beberapa lagi di sebelah timur… Dan di sebelah barat, ada satu bangunan kecil, yang juga berwarna putih bersih.

"Nah, ini rumahku yang sekarang, Hanamiya. Kecil sih, hehehe." ucap Kiyoshi seraya memutar knop pintu, menampakkan bagian dalam rumah yang sederhana, namun terlihat hangat.

"Kalau begitu, permisi…"

.

Hanamiya mendudukkan dirinya di sebuah sofa sederhana milik Kiyoshi. Lumayan besar—ia bisa membaringkan diri di atasnya. Dan juga… Terasa hangat.

"Mau minum?" tanya sang brunette, sambil meletakkan 2 cangkir teh di atas meja. Harum sekali, benar-benar teh buatan malaikat.

"Nah, sekarang…" Kiyoshi menarik tangan kanan Hanamiya dan menggenggamnya dengan tangan kiri. "Aku harus memeriksa keadaanmu, Hanamiya."

"E-Eh? Tidak perlu, ah…"

"Ssst, diam. Wah, sayapmu benar-benar terkoyak, ya… Apa ini gara-gara perkembangan hati itu? Parah juga."

"Ng… Yah. Walau sebagian juga salah Imayoshi, sih…"

Kiyoshi tersentak. Ia lalu memposisikan duduknya agar lebih dekat dengan kekasihnya.

"Salah… Imayoshi?"

"Yah… Kadang ia bersikap kasar, lalu…Eh, Kiyoshi?"

Entah mengapa aura di sekitar Kiyoshi terasa menggelap—pandangannya juga menjadi lebih serius. Tunggu, mengapa mendadak begini—Ada apa dengannya?

.

"Sampai mana ia memperlakukanmu, Hanamiya?"

"Memperlakukan? Ng, Kiyoshi—"

"Sampai sejauh mana… Ia memperlakukan kekasihku?"

"Eh? Maksudmu apa, hei—"

Tanpa berkata apa-apa, Kiyoshi menyampirkan helai eboni Hanamiya ke belakang telinga, memeriksa seluruh bagian dari wajahnya. Tak puas hanya dengan itu, ia membuka satu-dua kancing baju kekasihnya, supaya ia bisa leluasa melihat daerah sepanjang leher dan bahunya.

Ternyata benar. Selain luka, ada banyak kissmark di sana.

"Ki-Kiyo—"

"Memberi tanda pada kekasih orang, sopan sekali ya…"

Mendengar intonasi kekasihnya yang semakin memberat, Hanamiya menjadi sedikit panik. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?!

Jemari panjang Kiyoshi menyentuh satu persatu kissmark, lalu bergerak menyusuri leher jenjang Hanamiya, membuatnya bergidik. Aneh. Sentuhan Kiyoshi terasa aneh di tubuhnya. Berbeda dengan sentuhan biasanya—yah, mereka juga sering berpelukan, saling cubit-cubitan atau apa—Sentuhan ini… Terasa… Asing.

Hanamiya berusaha mendorong Kiyoshi menjauh, tapi apa daya, Kiyoshi lebih kuat darinya. Saling mendorong, malah membuatnya terguling ke sofa. Gawat—Ini posisi yang cukup berbahaya karena tubuhnya terbuka tanpa pertahanan.

"Mmn—"

"Tenang saja, Hanamiya. Aku akan menghilangkan tanda-tanda yang ia berikan padamu ini… Karena kau… Milikku sekarang, benar, kan?"

'Tunggu tunggu tunggu tunggu. Sudah jelas ada yang aneh pada Kiyoshi. Tidak biasanya ia seagresif ini, kan?! Jangan-jangan kepalanya terbentur atau—'

"Tunggu dulu, bodoh—Akh!"

"Tidak. Aku tidak bisa menunggu lagi."

'Gawat gawat gawat, kalau begini terus maka tubuhku akan—Ah, sudahlah.'

Karena sepertinya menolak juga percuma, Hanamiya merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan pasrah. Sudahlah, terserah saja Kiyoshi mau memperlakukannya seperti apa. Memang benar kalau malam ini Kiyoshi terasa berbeda dari biasanya dan itu agak menyeramkan—tapi sejujurnya, ia bukannya membenci hal ini. Justru ini… Adalah hal yang ingin ia lakukan dengan Kiyoshi sejak lama, kalau saja tidak ada banyak hal yang mengganggunya.

Dengan perlahan, ia membuka lagi sisa 3 kancing bajunya, kemudian memandang kekasihnya dengan wajah yang memerah—

"Silahkan… Teppei."

.

.

.

TBC?


A/N

Yo! Kiyoha's here~ *gulingguling*
Kali ini update lumayan cepet buat ngegantiin update lelet yang kemarin-kemarin. Sumimasen deshitaaa *sungkem*

Ngomong-ngomong, di chapter ini...

Kiyoha masih sayang sama babang mayo, dan dia nggak sepenuhnya jahat, kok. hehehe :') dia cuma tersakiti (?) /APA
Tambahin satu lagi pair slight... Aosaku...
Dan... Kok Kiyoha gatel pengen nulis tentang aggressive!Kiyoshi *smirk* /pulangsana

Ah, tenang, tenang, gak akan Kiyoha potong seperti biasa, kok... Mungkin awal-awal chap depan bakal ada err... anu (?) *lemes* TAPI GIMANA KIYOHA MALU BIKINNYA HUWAAA

Ya sudahlah, balasan ripiu :'3

.

Yozorra

Okay okay ini chapternya~ Mereka udah ketemu lagi, kan? xD
Endingnya? Masih lama hoho~

Iya makanya LDR itu lucu—/APA/ Sakurai juga, dia bisa bersifat begitu sih, jadi sekalian dibikin aja xD
Yokatta wqwqwq

Okay! Let's go to the next chap~

.

Eqa Skylight

Yaay~ penantianmu tak sia-sia sobaat xD *tebarconfetti*
Iya, soalnya di anime juga dia bisa begitu kan... hoho xD

.

Hanaciel Jaeger

Yups, di update :3 Rencana mereka udah dijelasin di chapter ini ya, hahaha.
Oke, lanjuut~ Yokatta kalau suka :''3

.

Rune of Darkness

Wah, nggak bisa begitu xD

.

Lastly, mind to RnR? :3