Tak ada yang dapat mengganggu kita

Bahkan 'orang itu' sekalipun takkan bisa

Mari kita berlari jauh

Membawa rahasia kita berdua ke ujung dunia

.

Ku ingin bertemu, ku merindukan dirimu

Hatiku perih, sakit tak tertahankan

Mulai saat ini, teruslah bersamaku

Agar kita dapat terus mendekap satu sama lain

.

Ku ingin lebih, tidak, ku tak mau jika bukan dirimu

Jangan kau lepaskan hatiku, walau kau harus mengorbankan segalanya

Hari itu, kuucapkan permohonan pada langit berbintang,

"Berilah kami cinta yang abadi."


Angel, Devil and Forbidden Love Story

.

A Kuroko no Basuke fanfiction

Special for KiyoHana Day 2015

.

Disclaimer

Story ©kiyoha + ShanataS

Characters ©Fujimaki Tadatoshi

.

Rate:
M untuk yang asem asem itu /apa/

.

Pairing

KiyoHana, onesided!ImaHana dan banyak onesided lainnya /heh/

.

Warning(s)!

Desain (?) dunia sana sama seperti dunia sini—atau seperti Makai Ouji, OOC?, typo (s), author mabok, lebai, terlalu banyak pairing yang bikin gumoh, Hanamiya so uke so lembut so tersakiti (?), Aggressive!Kiyoshi, Galau!Imayoshi, HUWAA MAAPIN saya gabisa bikin asem asem manis itu, asem asem cuma lewat, plot campursari dan serentet keanuan lainnya.

DLDR!

.

Presented by Kiyoha


Ini… Bukanlah perbuatan yang akan dilakukan oleh seorang malaikat.

"Tunggu, Tep—ahn!"

"Tidak. Aku tidak bisa menunggu."

Mengabaikan kekasihnya yang terus memberontak dalam genggamannya, Kiyoshi meneruskan kegiatannya menginvasi tubuh sang kekasih—menghapal setiap titik sensitifnya.

Mulai dari leher, dada, hingga perut—tidak ada satupun bagian yang tertinggal. Segalanya ia beri perlakuan sama—menciumnya, menjilatnya dan sesekali menghisapnya hingga menimbulkan bekas kemerahan di tubuh ricottanya, menggantikan bekas dari Imayoshi. Hanamiya mengatup bibirnya erat, menahan desahan agar tidak meluncur keluar. Sentuhan-sentuhan Kiyoshi membuat rasa panas menjalar di tubuhnya.

Melihat kekasihnya yang sepertinya merasa kurang nyaman, Kiyoshi mengangkat sebelah tangan Hanamiya yang sedari tadi ia tahan, menciumnya lembut.

"Makoto."

"Mm—ng?"

Mimik mukanya menjadi masam, sampai akhirnya ia kembali melanjutkan.

"Apa yang kulakukan ini… Sebuah kesalahan?"

"Eh… Maksudmu?"

"Tapi—aku menginginkanmu. Kau segalanya bagiku, Makoto. Apa… Perasaan ini salah?" Tangan besar Kiyoshi membelai lembut dada kekasihnya, membuatnya bergidik. "Melihat bekas yang ditinggalkan Imayoshi di tubuhmu… Aku kesal."

Apa ini aneh? Apa aneh kalau aku menginginkannya? Apakah aneh jikalau seorang malaikat menginginkan hal seperti ini?

"Karena…"

Kiyoshi menjilat kemudian menggigit cuping telinga Hanamiya, membuat empunya mengerang pelan.

"Dirimu seutuhnya… Adalah milikku, Makoto." ujar Kiyoshi dengan sebuah senyum yang tak pernah Hanamiya lihat di wajah kekasihnya sebelumnya. Senyum yang membuat Kiyoshi tampak berbahaya. Buas, begitu pikirnya.

Apa ini pengaruh ia kehilangan sebelah sayapnya? Apa karena… Sekarang ia tinggal setengah malaikat?

Dengan kasar Kiyoshi memaksa kepala eboni itu untuk mendongak, kemudian ia kembali meraup leher jenjangnya dengan rakus, meninggalkan tanda kepemilikan di sana.

Puas dengan lehernya, tangan Kiyoshi kembali mengelus permukaan tubuh Hanamiya yang mulus, hingga akhirnya berhenti di suatu titik—tonjolan merah muda yang tampak mengeras.

"Ngh… Teppei… Ja-jangan, kh…" Hanamiya memprotes di tengah-tengah desahannya, tatkala Kiyoshi mulai memainkan tonjolan merah muda di dadanya, memilinnya pelan.

"Kenapa, hm? Kau tidak menyukainya?" Bukannya berhenti, Kiyoshi malah tersenyum usil dan menekan tonjolan itu semakin keras, sesekali mencubitnya.

"Mmmn! Teppei—ahhn!"

"Reaksi yang bagus… Makoto,"

"Ba-baka… Aah!"

Panas sekali, tubuhku serasa terbakar oleh perasaan ini—aku menginginkannya, tubuhku menginginkannya, aku tak dapat berhenti lagi…

Kiyoshi merendahkan posisinya, menumpukan berat badannya pada tangan. Ia tersenyum, Hanamiya sepertinya mulai menikmati setiap sentuhan yang ia berikan padanya. Ia memejamkan mata—menikmati saat-saat milik mereka berdua.

"Aku tidak mengira kau se-sensitif ini,"

Dari bibirnya meluncur kalimat yang terkesan menggoda, membuat pipi ricotta kekasihnya kembali merona hebat bagai mawar merah merekah.

"Itu… Habisnya…"

"Habisnya apa, hm?"

"Ahh—habisnya… Yang berada di hadapanku saat ini… Adalah kau, bodoh—Aaargh! Jangan membuatku mengatakannya!" Hanamiya mengerang malu. Melihat reaksi kekasihnya, Kiyoshi tertawa.

"Tapi kau mengatakannya, tuh."

"…"

Merasa malu dan kesal, Hanamiya mencoba membuang muka. Namun dengan segera Kiyoshi meraih pipi kekasihnya supaya tidak dapat melepaskan pandangan darinya.

"Lihat aku, Makoto. Aku di sini, bukan di sana."

Kami-sama, ampunilah diriku—karena melakukan dosa seperti ini.

Selepas mengatakan itu, bibir Kiyoshi menangkap bibir Hanamiya secara cepat, tidak membiarkan empunya untuk menolak. Awalnya ia hanya menciumnya secara lembut—lama kelamaan hal itu disusul dengan jilatan dan lumatan pada bibir cherry Hanamiya, membuat empunya melenguh pelan.

Namun—ia masih saja keras kepala.

"Makoto, buka mulutmu."

Hanamiya Makoto—benar-benar iblis yang keras kepala—setidaknya begitu pikir Kiyoshi. Tapi yah, keras kepalanya ini salah satu yang membuatnya manis.

Mencoba sedikit memaksa, Kiyoshi menggigit bibir bawah kekasihnya, membuatnya memekik dan membuka mulutnya. Tersenyum usil, Kiyoshi segera memasukkan lidah ke dalamnya—mengajak lidah Hanamiya untuk bertarung. Kesal karena perlakuan kekasihnya yang tiba-tiba, Hanamiya mencoba mencakar punggungnya—akan tetapi kedua tangannya terasa lemas sekali.

'Bagaimana ini? Kepala dan jari-jariku… Bergetar.'

'Walau aku benar-benar malu, tapi—mengapa tanganku tidak kuasa untuk menolaknya?'

"Aahn—Teppei…"

"Kau kembali bereaksi, Makoto." ucap Kiyoshi tatkala ciuman panas mereka berdua terlepas. Dengan jari-jarinya yang panjang ia kembali mengelus torso kekasihnya—merangsang titik sensitifnya. "Padahal aku baru menggunakan tanganku… Apa kau memang selalu begini?"

"Ungh… Ja-Jangan katakan—"

"Jadi… Kau memang benar-benar menyukai ini, hm, Makoto?" tanyanya setengah menggoda—masih dengan setiap sentuhannya, yang kini beralih ke paha Hanamiya yang mulus.

Aah, ia tidak dapat mengelak lagi. Ia akui ia memang menyukai permainan kekasihnya ini walau baru yang pertama kali—dan yah, tubuhnya bereaksi terhadap setiap sentuhannya. Ia tidak dapat mengatakan bahwa ia tidak menyukainya.

"Ha-Habisnya…" Hanamiya berusaha mengalihkan pandangan dari manik sang kekasih yang memandangnya lekat. Aaaargh, yang jelas ia tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya menyukai ini, dan ia tidak dapat membohongi Kiyoshi.

"…Habisnya… Saat kau memandang tubuhku seperti itu… Rasanya seperti terbakar,"

Kalimat yang terdengar seperti jawaban beralasan itu meluncur mulus dari bibirnya. Kiyoshi membulatkan mata—sementara Hanamiya menutupi wajahnya yang kemerahan dengan tangan—sedikit menyesal sudah mengatakan itu. Dia tidak tahu kalau rasanya benar-benar memalukan.

Tak lama, Kiyoshi kembali menyunggingkan senyum tipis, sementara kedua tangannya mencoba untuk menyingkirkan tangan yang menghalangi ia untuk melihat wajah cantik kekasihnya. Tadinya Hanamiya ingin memberontak, tapi sepertinya percuma karena kekuatan Kiyoshi jauh di atasnya.

"…Makoto."

Sekali lagi, Kiyoshi kembali meraup bibir Hanamiya dan langsung mendominasinya dengan rakus, tak memberi Hanamiya kesempatan walau hanya untuk sekedar mencari posisi nyaman di sofa.

"Mmmn.. Kh, Tep—A-Aahn!"

Kiyoshi tidak mendengarkannya lagi. Ia sudah tenggelam dalam ciuman mereka berdua. Mulut Hanamiya yang terbuka menjadi keuntungan baginya saat ini, karena ia dapat dengan mudah mengadu lidahnya dengan lidah Hanamiya, mengajaknya bertarung—walau dengan posisi ini, siapa pemenangnya sudah dapat dipastikan.

Desahan Hanamiya terus menjadi-jadi di tengah ciuman mereka yang semakin memanas. Ia hampir tak percaya ini kali pertama Kiyoshi melakukan hal semacam ini—lumatannya, jilatannya, bahkan caranya menginvasi seluruh bagian mulutnya yang dapat membuatnya gila—semuanya seperti sudah terlatih sebelumnya. Lidah Kiyoshi mengalahkan lidahnya, membuatnya semakin terangsang.

Ditambah lagi dengan tangan besar Kiyoshi yang berpindah dari paha mulusnya kemudian beralih memainkan kejantanannya yang sudah berdiri tegak dan mengeluarkan precum—berkat perlakuan Kiyoshi padanya sejak tadi. Entahlah, yang pasti ia dapat merasakan puncaknya akan datang sebentar lagi.

Ingin mendengar desahan kekasihnya, Kiyoshi melepaskan ciumannya—membentuk segaris saliva di ujung lidah masing-masing.

"Ti-Tidak… Aku… Mmph!"

"Jangan menahannya, Makoto. Keluarkan saja suaramu." bisiknya seduktif sembari menarik sebelah tangan yang menutup mulut kekasihnya.

"Teppei…A-Aaaaaah!"

.

.

Hanamiya terbaring pasrah di atas sofa dengan penampilan berantakan dan wajah memerah—yang menurut Kiyoshi terlihat benar-benar menggoda—sementara kekasihnya sibuk menjilati tangannya yang dipenuhi oleh cairan Hanamiya dengan penuh nafsu.

Merasa puas menjilati jarinya, ia kembali menoleh ke Hanamiya yang masih terengah-engah di sofa, mencoba mengumpulkan oksigen.

"Hehehe,"

"Hehehe kepalamu!" Sang eboni menendang tubuh malaikat di hadapannya dengan kesal. Dasar, sudah menggodanya seperti tadi, sekarang ia bersikap seperti ini? Aah, Hanamiya benar-benar kesal.

Kiyoshi hanya tertawa kecil, kemudian mendekati kekasihnya yang kini duduk di pinggir kiri sofa. "Kenapa, hm? Sudah capek? Aku baru menggunakan tanganku, lho."

"Si-siapa yang sudah capek! Bukannya aku ingin lebih, tapi—me-memangnya kau bisa mengatasi itu sendiri?!" balas Hanamiya dengan tsundere. Tapi itu tidak sepenuhnya salah, sih. Memang, Kiyoshi juga sudah menegang di bawah sana.

"Jadi—kau tahu kan..."

"Ahaha, benar juga ya, mana bisa aku melakukannya sendiri…" Kiyoshi tertawa grogi, kemudian meraih tangan pucat kekasihnya, mengecupnya singkat.

"Kalau begitu… Izinkan aku melakukannya?"

Sang iblis memijit pelipisnya. Untuk apa coba kekasihnya ini bertanya lagi? "…Kalau aku tidak mengizinkanmu, lalu mengapa aku duduk di sini dalam keadaan setengah telanjang, bodoh…"

"Ahaha, tentu saja. Kalau begitu, jawabanmu?"

"…" Hanamiya membuang muka, ia salah tingkah dan refleks memainkan kedua jari telunjuknya.

"Kau bisa berbicara, kan, Hanamiya? Gunakan mulutmu."

"Ce-cepat lakukan saja, bodoh!" seru Hanamiya malu-malu. Sial, dia kesal sekali dengan Kiyoshi yang suka menggodanya seperti ini! Tapi…

…Ia… Menyukai hal ini.

"Kalau begitu… Ayo pindah ke kamar. Kau pasti tidak nyaman di atas sofa begini."


Sementara itu, dunia iblis…

.

.

"I-Imayoshi-san… Lebih cepa—Aakh!"

Sang brunette mengeratkan pegangannya pada sprei ranjangnya. Gila, ini sudah gila. Hantaman Imayoshi pada tubuhnya yang semakin beringas dapat membuatnya gila. Wajahnya memerah dan berkeringat—membuat poninya menempel. Desahan keras terus meluncur dari bibir tipisnya, tatkala Imayoshi semakin mempercepat tempo keluar masuknya di bawah sana.

"Kh—Haha, seperti biasa tubuhmu benar-benar sensitif, Sakurai." Imayoshi berbisik seduktif ke telinga Sakurai yang memerah karena sedari tadi dipermainkan. Ia tak dapat menjawab, namun bagi Imayoshi, desahannya sudah menjadi jawaban yang cukup.

Merasakan puncaknya akan datang, Imayoshi semakin menghentakkan tubuhnya semakin keras, mempersatukan mereka berdua—setelah sekian lama. Sakurai juga tidak lagi menahan desahannya—ia tidak peduli ada yang mendengarnya atau tidak, sekarang bukan saatnya mengkhawatirkan hal itu.

Ya, yang harus ia perhatikan hanyalah Imayoshi—yang ia cintai selama ini.

"I…Imayoshi-sa—aaaaahn!"

"Kuh…"

Mereka berdua pun mencapai batasnya.

.

Sakurai melenguh panjang, merasakan benih Imayoshi memenuhi tubuhnya. Hangat. Entah, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir ia merasakan sensasi seperti ini. Yang jelas, tubuhnya benar-benar lelah sekarang, walaupun baru 3 ronde yang ia mainkan.

"I…Imayoshi-sa—"

Tok tok

Mendadak terdengar suara ketukan yang sepertinya terburu-buru di pintu kayu kamar Imayoshi. Pemilik kamar itu mendecakkan lidah, siapa yang berani mengganggunya di saat seperti ini?!

Dengan segera ia membersihkan dirinya, memakai pakaian kemudian menyelimuti tubuh polos Sakurai dengan selimut hangatnya, sebelum mempersilahkan orang kurang ajar yang mengetuk pintunya untuk masuk.

"Ya. Masuk saja."

BRAAAK

"Ga-Gawat, Imayoshi-san!" seorang prajurit—yang diketahui bernama Wakamatsu—mendorong keras pintu kamar Imayoshi, kemudian masuk dengan wajah yang benar-benar panik.

"Hah? Ada apa lagi? Bukannya kita sudah melakukan patrol tadi? Ada masalah apa?" tanya sang pemimpin—Imayoshi sambil membetulkan posisi kacamatanya. Wakamatsu mencoba menenangkan diri sedikit, lalu kembali berucap:

"Hanamiya—menghilang dari kamarnya."

Di balik kaca, sepasang mata itu membulat terkejut.

"A-Apa katamu?! Hanamiya?!" Imayoshi berteriak tak percaya seraya bangkit dari ranjang tempat ia duduk. Hanamiyanya menghilang? Mengapa bisa?

"Entahlah—saat kami lewat tadi, pintunya sudah terbuka dan segelnya sudah terlepas," jelas Wakamatsu, masih sambil terengah-engah. "Kurasa memang pintunya terbuka dengan mantra—atau password yang kau atur, karena tidak ditemukan kerusakan di pintu. Hanya ada bekas-bekas rantai kegelapan di dalam."

"Bekas rantai… Cih, ini pasti ulah malaikat itu—" geram Imayoshi, mengeratkan kepalan tangannya.

Kemudian, ia menyadari sesuatu. Ya, pintu yang terbuka dengan rapih itu, pasti terbuka dengan mantra buatannya. Dan yang mengetahui mantra itu hanya ia, dan—

—Sakurai?

.

"Emm… Jadi apa yang ingin kau tunjukkan padaku itu, Imayoshi-san? Aku kan malaikat, masa aku main-main di duniamu… Aku takut."

"Tenang saja, aku akan melindungimu selama kau di sini—tidak, di mana pun kau berada, aku akan terus melindungimu, Sakurai."

"Ba…Baiklah, jika Imayoshi-san berkata begitu. Jadi… Maaf, apa yang mau Imayoshi-san tunjukkan padaku?"

"Lihat ini, Sakurai. Aku membuat kamar rahasia dengan mantra, agar tidak ada siapapun yang dapat membukanya."

"Eh? Mengapa, Imayoshi-san?"

"Begini, lho… Jadi, kalau kau ingin tinggal di sini, kau akan terlindungi. Akan bahaya jika seorang malaikat terlihat mondar-mandir di dunia iblis, kan?"

"Ehehe, benar juga,"

"Jangan lupakan apa yang ku katakan kepadamu ini, Sakurai. Sandi untuk memecahkan mantra di pintu besar ruangan ini adalah…"

"Sakurai Ryou,"

.

Sakurai memasang mimik ketakutan, tatkala mata Imayoshi yang menyipit memandang tajam dirinya. Oh tidak, pasti ia mengetahui kalau sebenarnya dirinyalah yang melepaskan Hanamiya dari kurungannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dan ia juga tidak tahu Imayoshi akan berbuat apa padanya.

"—Cih. Kalau begitu, antarkan aku ke sana!" perintah Imayoshi kepada Wakamatsu dan pasukannya, yang kemudian dibalas dengan tanda hormat. Eh? Apakah Imayoshi takkan berbuat apa-apa pada sang fallen angel?

"Jangan salah paham, Sakurai. Aku perlu bicara banyak padamu ketika aku kembali nanti. Kau harus menjelaskan semuanya kepadaku."

.

.

BLAM

Pintu kayu itu dibanting kasar, seakan tidak peduli akibatnya kalau pintu itu akan rusak atau tidak. Melihat itu, Sakurai tertunduk di atas ranjang, diam seribu bahasa.

Oh tidak, Imayoshi sudah mengetahui kebenarannya. Lalu apa yang harus dia lakukan?

Apa… Nasibnya sesudah ini?

Kalau Imayoshi sampai mengusirnya… Ia tak tahu lagi harus ke mana. Imayoshi adalah satu-satunya tumpuan hidupnya.

Kalau sampai—

Tok tok tok

Pintu kayu itu kembali diketuk. Kini ketukan itu terdengar lebih halus dari sebelumnya. Menyeka air matanya, Sakurai mencoba bertanya siapa yang ada di luar.

"…Siapa?"

"…Ryou. Kau ada di dalam?"

Tunggu—suara ini… Suara yang benar-benar familiar di telinganya. Dan… Panggilan 'Ryou' itu…

"Aomine…san?"

"Bolehkah aku masuk? Tenang saja, aku hanya sendirian."

"…Silakan."

GREET

Perlahan pintu kayu itu terbuka, menampilkan sesosok iblis bersurai dark blue dan bersayap hitam lebar di punggungnya. Aomine. Iblis yang ditugaskan untuk menjaga Sakurai.

"A-Aomine-san… Maaf, aku… Aku…"

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aomine menghampiri sang brunette yang kembali terisak, membenarkan balutan selimutnya kemudian mengelus pipi porselennya lembut.

"Sst. Tak usah berkata apa-apa. Biar aku membersihkan dirimu, sini."

"…Ke-Kenapa?"

Aomine memandang Sakurai sekilas, kemudian kembali sibuk merawat tubuh sang brunette yang terhias luka. "Kau ini lupa, ya. Aku yang ditugaskan untuk menjagamu, tahu. Lagipula… Kau tak nyaman dengan penampilan seperti itu, 'kan?"

"…"

Setelah memeriksa seluruh titik dari tubuh sang fallen angel, Aomine kembali menoleh ke atas, bertukar pandangan dengan sepasang iris karamel di hadapannya. "Mau kau… Ceritakan padaku, apa yang terjadi?"

"Aomine…san…"

Sang dark blue mendekap sang brunette erat, melingkari tubuhnya dengan kedua tangan tannya. Sementara Sakurai membalas pelukannya, kemudian terisak keras di dada bidangnya.

"Ryou. Jika itu dapat membuatmu lebih baik, menangislah sepuasnya."

.

.

"Benar-benar… Si Kiyoshi sialan itu…" geram Imayoshi saat ia menemukan sehelai bulu putih bersih di lantai—yang ia yakini sebagai bulu dari sayap malaikat. Ia menggenggam bulu itu erat di tangan kanannya, sayap hitam iblisnya melebar karena marah.

"Aku… Harus membalasnya."

"Ta-Tapi… Maaf mengganggu, Imayoshi-san. Hanya mengingatkan—kau tidak dapat keluar sebelum bulan purnama membulat sempurna." potong Wakamatsu secara sopan, kemudian mengingatkan Imayoshi peraturan tentang penguasa dunianya, yaitu ia harus menunggu bulan purnama selanjutnya untuk pergi ke luar—ke dunia manusia, atau ke dunia para malaikat.

"Ya. Kira-kira kapan purnama itu akan sempurna, Wakamatsu?"

"Kira-kira… Sebentar lagi. Malam kedua setelah malam ini. Saat itulah purnama akan dalam bentuknya yang paling sempurna."

Imayoshi menyeringai lebar. "Bagus. Saat itu juga… Kerahkan pasukan bersenjata."

"Tentu, tuanku."

.

"Imayoshi-san, kita ini berbeda makhluk, apa kita masih bisa saling mencintai?"

"Imayoshi-senpai, tolong ajarkan aku cara menjadi iblis yang baik!"

"Imayoshi-san, aku… Aku menjadi seperti ini… Untuk terus mengejarmu, kau tahu."

"Aku… Saat ini hanya mencintai Kiyoshi, Imayoshi."

"Mengapa… Aku harus mengalami hal seperti ini…"


Hanamiya memerah malu di atas ranjang, berusaha menutupi tubuhnya yang terekspos sempurna—berkat Kiyoshi yang menyingkirkan seluruh pakaiannya sebelum mereka melakukan hal ini. Ia mengernyit melihat Kiyoshi yang memandangi tubuhnya lekat-lekat dengan ekspresi aneh.

"A-Apa lihat-lihat?"

"Eh? Ah—tidak, aku hanya berpikir… Tubuhmu indah, Makoto."

Untuk sesaat rona di wajahnya menjadi semakin ketara. "…Ja-Jangan mengatakan hal seperti itu, dasar bodoh."

"Ahaha, tidak boleh?"

.

"Nee, Makoto…" bisik Kiyoshi sambil mengelus pelan sayap hitam iblis di hadapannya, membuat empunya bergidik antara perih dan geli. "Aku tidak tahu… Apakah yang kulakukan ini sebuah kesalahan? Maksudku—tidak seharusnya malaikat melakukan hal seperti ini, apalagi terhadap iblis…"

"Ah…"

Kedua mata coklat Kiyoshi memandang sayu. Nampaknya ia betul-betul kebingungan—apakah yang ia lakukan ini salah atau tidak. Apa salah… Jika mereka melakukan hal ini? Apa salah jika mereka saling mencintai?

"…Tidak…"

"…E-Eh? Makoto?"

"Yang kau lakukan saat ini… Tidak salah, Teppei!" serunya penuh keyakinan. Akan tetapi—itu tidak dapat menghilangkan kegundahan di hati sang kekasih.

"Ahaha… Bagaimana kau bisa begitu yakin…? Kau ini kan iblis yang berbeda denganku, Makoto…"

"…"

Mengapa aku begitu yakin, ya? Lalu mengapa kau begitu tidak yakin bahwa kau tidak salah, Teppei?

"Aku—"

"Kau tidak salah, Teppei. Aku yakin. Aku benar-benar yakin. Soalnya… Kau melakukan ini karena mencintaiku, 'kan? Kita melakukan hal ini—dengan didasari cinta, 'kan?!"

Masa bodo kau mau berpikir bagaimana—dan aku tahu, ini benar-benar memalukan—tapi tetap saja!

"Mako—"

"Habisnya… Malaikat itu 'kan simbol dari kebaikan dan kasih sayang… Apa salah jika kau melakukan terhadap aku—kekasihmu ini? Justru aku tidak mengerti mereka yang berusaha menghalangi kita…"

Ya, kau tidak salah. Apa yang kita lakukan ini bukanlah suatu kesalahan.

"Tidak ada salahnya… Kau mencintaiku, 'kan?"

Setetes dua tetes air mata mengalir di pipi porselen Hanamiya yang kini merona merah—antara malu mengatakan kalimat tadi dan sedih karena… Kenyataan yang kejam ini.

Tangan besar sang malaikat brunette mengusap pelan air mata yang membasahi wajah cantik kekasihnya, kemudian membisikkan kata-kata manis ke telinganya.

"Kau benar. Tidak ada yang salah dalam mencintai, ya? Tenang saja, jika kau tetap berada di sini, maka kita berdua akan baik-baik saja…"

"Te—"

"Karena… Ini tempat perlindungan untuk kita berdua. Tidak ada yang dapat mengganggu kita di sini. Bahkan para petinggi, bahkan Imayoshi."

Kiyoshi menarik sang kekasih ke dalam dekapannya, memeluknya erat—seakan esok mereka takkan bertemu lagi. Hanamiya membalas pelukannya—melingkarkan tangan putih pucatnya pada tubuh kekar Kiyoshi, hingga menyentuh sayap putih besarnya.

"Makoto… Aku mencintaimu."

"… Aku tahu, bodoh… Aku juga mencintaimu…"

Sampai kapankah…

Kita dapat bertahan di sini, ya?

Karena lama kelamaan—seiring dengan terbentuknya purnama itu… Kita harus keluar dari persembunyian ini…

Dan menunjukkan pada dunia…

Hubungan kita yang sekarang.

.

.

.

TBC?


A/N

Haii, kiyoha di sini~ *lambai2daritandu* maaf lama ya~

Aduh, berasa otak mesum banget bikin gini, karena ini 1st fic yang ada lemonnya D: padahal niatnya cuma dibuat lewat doang eh jadi begini mana langsung 2 pair lagi kan huwaaaa maapin sayaaaa *kuburdiri* ada bimbingan bikin adegan ero gak~? /ming/ oh iya dan ini epi 11 spesial soalnya hasil dari 7+4 kaan, hahaha~

Di sini juga, Imayoshi banyak flashback hahaha... Dia memang anak galau /ditabok/ aku juga pengen ngencengin pair-pair slash yang unyu nih, hahaha, tebak siapa kalau di chap ini :3

Oh iya, untuk chap selanjutnya mungkin dilanjut habis kiyoha UTS, yaa~ mau istirahat juga UwU

Balasan ripiu :3

.

Eqa Skylight, iya, papappei memang gitu /w/ slight AoSaku malah pengen kubuat jadi pair disini hahaha... kalo emperor... gimana yaa? *kedip* okeee, ini lanjutannyaaa :3

Hanaciel Jaeger, malam pertama yaa xD yah, bisa juga dibilang begitu, hahaha. Okee, ini udah di update :3

Mey-chan Love Kagami 5862, Sakurai kan memang baiik, apalagi quartet kiridai itu :3 Iya, Imayoshi walo depan2nya keliatan kayak antagonis jahat sebenernya di cerita ini dia yang paling galo lho... Pasangannya terakhir kira2 siapa ya xD
Adegan anuanu? Huahaha ini silakan walo abal~ *sodorin* /ngumpet/ perkembangan hati Makochan nggak bakal lama lagi, kok... Ehm hm, mati nggak yaa~? *kedip* /heh
Hmm, soal emperor itu mungkin benar, tapi dimanakah dia belum diketahuiiii *kedipkuadrat* okee, ini lanjutannya :3

.

Kalian yang membaca, maukah meninggalkan jejak? :3

kiyoha