Cahaya matahari pagi bersinar, menembus celah jendela kamar. Ya, malam sudah bergeser menjadi pagi. Kiyoshi membuka kedua matanya perlahan—mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya pagi yang semakin menerang.
"Ng… Hanamiya?" Melihat ke sekitar, ia tidak menemukan kekasihnya itu di mana-mana. Lho, ke mana dia? Jangan bilang kalau dia sudah tertangkap—
Kiyoshi segera bangun dari ranjang, meraih jubahnya kemudian bergegas mencari kekasihnya. Dasar, harusnya dia belum jauh dari sini. Kalau terlalu jauh berjalan bisa-bisa ia bertemu dengan malaikat lain dan—
Hmm, hmm, hmm
—sebentar, sepertinya ia mendengar suara gumaman yang tidak asing di telinganya. Ini… Suara Hanamiya, kan? Kiyoshi berjalan perlahan keluar dari kamarnya, kemudian menuju ruang tengah.
Saat ia sampai di ruang tengah, tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada meja kecil yang kosong, dan… Sofa yang berantakan. Aah, kalau ini sih gara-gara 'aktivitas' mereka semalam.
Tiba-tiba saja harum kopi dandelion yang begitu ketara mampir di penciumannya. Tak hanya itu—wangi roti yang baru dipanggang juga memenuhi ruangan. Apa dari dapur? Apa Hanamiya ada di dapur?
Benar saja, ketika ia melangkahkan kakinya menuju dapur, terlihat Hanamiya sedang asyik menuangkan kopi ke dalam cangkir, sementara di atas meja makan sudah tersaji dua piring roti panggang yang berwangi manis.
"Hana…miya?"
"Ah, Kiyoshi."
Kiyoshi mendapati seseorang bersurai eboni memandang ke arahnya sambil asyik menata meja. Syukurlah, Hanamiya tidak apa-apa, masih ada di dapur. Untuk sesaat ia takut sekali kalau misalnya Hanamiya iseng dan keluar dari rumah untuk berjalan-jalan.
"Jangan berdiri bengong begitu, seperti orang bodoh saja. Nih, makan." ucap Hanamiya dengan nada galaknya yang biasa. Ia mengetuk pinggiran piring dengan sendok, memberi kode agar Kiyoshi segera duduk di meja makan.
"Ah, baiklah…"
.
Baru saja Kiyoshi akan melangkahkan kakinya menuju meja makan, suara pecahan piring yang begitu keras mengagetkannya—ditambah suara seperti benda berat yang jatuh ke lantai. Suara apa—
"Hanamiya?!"
Sang iblis—kekasihnya itu jatuh terkapar menabrak meja makan. Panik, Kiyoshi segera mendekatinya dan memeluk tubuh lemasnya. Hanamiya tidak sadarkan diri, mengapa?
"Ia masih bernafas…" ujarnya setelah memeriksa keadaan tubuh kekasihnya itu. Syukurlah, ia menjadi sedikit lega. Tapi tetap saja, apa yang membuatnya mendadak jatuh pingsan begini? Sepertinya tidak ada yang aneh… Apa ia terlalu lelah? Atau mereka melakukan 'kegiatan semalam' terlalu jauh?
Ah.
Kiyoshi menemukan satu kejanggalan setelah sekali lagi mengobservasi tubuh iblis bersurai eboni di pelukannya.
Ya, selain sayap kanannya, sayap kirinya juga tinggal tersisa setengah.
Angel, Devil and Forbidden Love Story
.
A Kuroko no Basuke fanfiction
Special for KiyoHana Day 2015
.
Disclaimer
Story ©kiyoha + ShanataS
Characters ©Fujimaki Tadatoshi
.
Rate:
M untuk yang asem asem di chap sebelumnya dan cerita yang cukup ehem /?/
.
Pairing
KiyoHana, onesided!ImaHana dan banyak onesided lainnya /heh/
.
Warning(s)!
Desain (?) dunia sana sama seperti dunia sini—atau seperti Makai Ouji, OOC?, typo (s), author mabok, lebai, terlalu banyak pairing yang bikin gumoh, Hanamiya so uke so lembut so tersakiti (?), Aggressive!Kiyoshi, Galau!Imayoshi, plot campursari dan serentet keanuan lainnya.
DLDR!
"Sudah kubilang aku tidak apa—ukh," ucap Hanamiya sedikit memaksa, mencoba memberi tenaga pada tubuhnya yang terkulai lemas di atas ranjang. Melihat keadaan kekasihnya yang kelihatan menahan sakit, Kiyoshi mencegahnya mentah-mentah.
"Tidak, Hanamiya. Kau harus istirahat. Lihat, seluruh badanmu hampir tidak bisa bergerak sama sekali. Kau tidak boleh ke mana-mana, tenang saja di sini."
"Tapi, Kiyoshi—"
Kiyoshi menempelkan telunjuknya di atas bibir sang kekasih, memberinya isyarat untuk diam—ditambah dengan ekspresinya yang serius, membuat Hanamiya tidak dapat melawan lagi. Jika ekspresi Kiyoshi sudah berubah seperti itu, itu tandanya ia tidak main-main.
"…Baiklah, dasar bodoh…" Menyerah, Hanamiya menarik selimut yang terletak di pinggir ranjang kemudian meringkuk di dalamnya. "Khusus hari ini saja aku menurut." lanjutnya sebal—Kiyoshi hanya menghela napas pelan.
"Sudah, tidur saja. Biar aku yang akan mengurus segala hal di sini."
"…Iya, iya. Aku tidur. Puas sekarang?"
"Hehehe, begitu dong. Nih, aku selimuti. Kalau ada yang terasa sakit atau aneh panggil saja aku, ya? Aku tidak akan jauh-jauh darimu, kok."
"Terserah sajalah." Malas menanggapi kekasihnya, Hanamiya menarik selimut kemudian lekas menuju alam mimpi. Kiyoshi menghela napas, kekasihnya ini memang benar-benar keras kepala. Tapi setidaknya keras kepalanya itulah yang membuatnya manis, hehehe.
.
.
"Ternyata, itu yang terjadi, kah? Haah, makanya kalau bertindak jangan gegabah begitu, Ryou." Aomine memijit pelipisnya, heran dengan kelakuan fallen angel manis di hadapannya ini.
"Ehehe, maafkan aku. Habisnya sih~ Aomine-san sendiri mengerti, 'kan?"
"…Yah."
…
…
"Kau…" Memecah keheningan, Aomine membuka suara, membuat Sakurai menoleh.
"Ada apa, Aomine-san?"
Setelah jeda sesaat, lelaki bersurai biru itu bertanya, "Kau masih mencintai Imayoshi-san, Ryou? Setelah yang ia lakukan padamu?"
Kedua iris kecoklatan Sakurai membulat, ekspresinya berubah kaget. Aomine tahu, kalau sebaiknya ia tidak menanyakan hal itu, tapi tetap saja ia penasaran.
Aomine bisa merasakan Sakurai menarik ujung lengannya, meremasnya erat. Ia tersenyum—entahlah, entah mengapa terasa kesepian.
"…Masih, kok. Ini memang bodoh atau kelewat percaya diri, tapi… Kurasa Imayoshi-san juga masih mencintaiku… Sepertinya."
Terdengar di telinganya Aomine menghela napas pelan, kemudian tangan tan yang berukuran lebih besar dari tangannya itu membelai kepalanya seakan ia adalah anak kecil. Tapi ia menikmati sensasi ketika Aomine mengacak rambutnya seperti itu—walau sedikit geli.
"Percaya diri sekali, Ryou. Yah… Katakan saja padaku kapan saja… Kalau perasaanmu terhadapnya sudah hilang."
Eh?
"Anu… Aomine-san, memangnya kena—"
Iblis itu mendecakkan lidahnya sampai kemudian tertawa kecil. "Jangan buat aku mengatakannya, baaka."
"Eeeh? Apa sih, Aomine-san?"
"Sudah kubilang jangan buat aku mengatakannya, dasar."
"Mou~"
.
.
.
Kegelapan mulai menyelimuti angkasa. Imayoshi duduk terdiam di atas beranda, memperhatikan sekeliling dunianya ini dengan lesu.
Bingung. Marah. Sedih. Tidak percaya. Segalanya bercampur menjadi satu.
Iblis berkacamata itu memijit pelipisnya pelan, hela nafas terus saja keluar dari bibirnya. Kedua matanya yang menyipit kini terbuka, memandang kosong bulan yang hampir terbentuk sempurna di langit.
"Beberapa hari lagi… Ya…"
Ia menghirup wangi minuman hangat di tangannya, berusaha untuk melupakah kegundahannya yang sehitam gelapnya malam. Entah mengapa, rasanya kurang. Rasanya seperti ada yang janggal. Seperti ada sesuatu yang hilang akhir-akhir ini. Dan ia tahu apa itu.
"…Hanamiya…"
"Imayoshi."
Suara bariton yang khas sedikit mengejutkannya, membuat ia mengalihkan pandangan dari langit ke arah sesosok iblis yang memanggil namanya.
"Susa," meletakkan minumannya di meja, Imayoshi bertanya, "Ada apa, malam-malam begini? Mau ikutan minum-minum sambil melihat bulan? Ayo, sini."
"Bukan begitu, tapi… Ya sudahlah."
Susa mendudukkan dirinya di kursi yang berada di hadapan Imayoshi. Sambil tersenyum seperti biasa, Imayoshi menuangkan minuman dari teko ke dalam gelas untuk Susa, iblis yang merupakan tangan kanannya.
"Minumlah."
"…Ya, terima kasih."
…
…
"…Menunggu kapan bulan itu akan bulat sempurna, Imayoshi?" tanya Susa memecah keheningan. "Aku dengar dari Wakamatsu. Kau juga menyiapkan pasukan, 'kan?"
"Hee, kau tahu juga, Susa. Yah, tidak apa-apa, 'kan?"
Susa mengerti apa yang kawannya ini maksud dari rencananya 'menunggu bulan'. Sebenarnya sih ia tidak ingin ikut campur dalam urusan Imayoshi, apa lagi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengannya, tapi…
"Masih mengejar Hanamiya, Imayoshi?"
Imayoshi mendelik, beralih memandang Susa dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu, Susa?"
"Oh ayolah, Imayoshi. Aku yang paling mengenalmu sejak dulu. Aku tahu kalau kau masih menginginkannya, seimbang dengan bagaimana kau menginginkan Sakurai,"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Sakurai." Nada suaranya meninggi, kedua irisnya berkilat marah, tidak suka dengan perkataan Susa padanya. "Ini tidak ada hubungannya dengan Sakurai, ini juga tidak ada hubungannya denganmu."
"Kau masih menginginkan Sakurai, namun kau terhalang karena saat itu 'kan? Saat Emperor menghilang, dan kau ditunjuk untuk menggantikannya. Dengan syarat, kau tidak boleh menjalin hubungan selain dengan iblis. Tapi kau nekat membawa Sakurai sampai dunia kita."
"CUKUP!"
Ia berteriak keras, menghunuskan kuku jarinya ke bahu Susa dalam dan keras—sekarang sepertinya sudah berbekas di sana.
"Aku yakin, karena dulu kau menyukai Izuki dan pasti sama saja—"
"Cukup. Susa, kumohon—cukup sudah."
Imayoshi menggigit bibirnya hingga meneteskan darah. Jari-jarinya masih setia mencengkram bahu Susa, mirip elang menangkap mangsanya. Merasakan kedua tangan Imayoshi yang semakin bergetar, Susa membelai kepalanya lembut.
"Imayoshi, jangan dipaksakan. Hatimu tidak kuat untuk ini. Kau sudah terlalu banyak melewati saat-saat berat. Sudah, berhentilah."
Imayoshi tidak menjawab. Susa masih saja mengeluarkan untaian kata-kata yang dapat membuat Imayoshi semakin tersayat saja. Tahu, ia tahu kalau yang ia lakukan itu sudah berlebihan. Ia tahu kalau kata-kata Susa benar. Ia tahu kalau seharusnya ia berhenti.
Namun… Itu mustahil.
…
Tangan besar dan panjang itu melingkari tubuh lemasnya.
"…Butuh pelukan, Imayoshi?"
"…"
Sembari mengusap lembut helai eboni kawan sekaligus pemimpinnya itu, Susa kembali melanjutkan. "Walau aku bilang begitu… Keputusan ada di tanganmu, Imayoshi. Aku sebagai tangan kanan hanya bisa mendukungmu sekuat tenaga. Tenanglah, walau seluruh dunia melawanmu, aku akan tetap berada di sisimu, Ima—tidak, Shouichi."
Sakit. Sakit ini semakin menggerogoti tubuh lemahnya. Punggungnya terasa ringan sekali—hampir tidak bisa dipercaya kalau beberapa hari yang lalu ia masih memiliki dua sayap hitam yang membentang lebar. Sekarang kedua sayap itu hanya tinggal pangkalnya saja.
"Hanamiya, kau tidak apa-apa? Tubuhmu panas sekali, seperti terbakar." Kiyoshi meletakkan gulungan handuk basah ke atas tubuh kekasihnya. Ia menatapnya iba. Kasihan, kalau saja ia bisa membagi kesakitan, maka ia sudah membagi dua kesakitan Hanamiya dan memindahkan ke tubuhnya. Kalau saja bisa.
"Aku tidak apa-apa, kau urus saja rumah, bodoh."
"Tapi kau begitu kesakitan begini!"
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa. Sebentar lagi rasa sakit ini akan menghilang. Kumohon, Kiyoshi?" ucap Hanamiya memelas—tidak ingin Kiyoshi mengkhawatirkannya sebesar itu. Meneguk ludahnya, Kiyoshi bertanya,
"Apa ini salah satu proses dalam pembentukan hati itu, Hanamiya?"
Iblis manis itu membulatkan matanya. Ia akhirnya hanya membisu di dalam selimut. Ia tidak tahu harus menjawab seperti apa untuk pertanyaan Kiyoshi barusan. Mungkin ya, mungkin tidak. Yang jelas, rasa sakit ini seperti tengah mendorongnya menuju kematian.
Tapi tidak, ia tidak boleh mengalah dengan rasa sakit ini.
Karena jika ia menghilang dari dunia ini… Untuk apa perjuangannya—kawan-kawannya, serta Kiyoshi selama ini?
.
"Nee, Kiyoshi… Daripada itu, aku merasakan firasat buruk…" ujarnya tiba-tiba, membuat Kiyoshi menatapnya tidak percaya.
"Ma-Masa'… 'Kan kita sudah berhasil kabur ke tempat yang aman ini… Tapi, apa itu, Hanamiya?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Sebaiknya bersiap-siaplah. Cobalah kau lihat ke luar, bila bulan sudah terbentuk sempurna, menurut pengalamanku itulah saatnya Imayoshi bergerak. Bisa jadi ia mencari-cari keberadaan kita berdua."
"Begitukah? Sial…"
Memang kita tidak bisa terus bersembunyi di sini.
.
.
.
Kemarin hari bagaikan mimpi. Susa terhenyak, Imayoshi yang memeluk tubuhnya dengan muram semalam menghilang entah kemana—digantikan dengan tatapan tajam dan gelagak serius tanpa main-main. Tidak ingin kalah dan tak ingin kelemahannya terlihat.
Yang jelas, ia kelihatan begitu serius.
"Malam ini, bulan akan mencapai bentuknya yang paling sempurna." ucapnya tegas kepada barisan pasukan setianya. Imayoshi sengaja menyuruh Wakamatsu menyiapkan pasukan khusus untuk hari ini. Memang tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk menghadapi sang malaikat besar, Kiyoshi.
Susa menghela napas, lalu tersenyum pasrah. Dasar, Imayoshi memang tidak bisa dilawan kemauannya jika sudah seperti ini. Ia pasti akan melakukan apapun sampai terwujud. Bahkan walau ia harus mengerahkan segenap tenaga seperti ini.
Sakurai menggigit bibirnya, dilema antara harus menyapa Imayoshi atau tidak. Tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan tan di sampingnya bergetar hebat. Karena ia sudah ketahuan membantu Hanamiya, apakah Imayoshi jadi membencinya? Saking gugupnya ia, ia tidak menyadari kalau ia sudah bertukar pandangan dengan sang pemimpin dunia iblis, Imayoshi.
Tapi tidak. Imayoshi sama sekali tidak mempedulikannya kemudian berjalan menjauh. Sakurai menunduk lesu. Apakah benar-benar Imayoshi sudah membencinya sekarang?
Gyut.
"Tenang saja Ryou, semuanya akan baik-baik saja. Jadi, kau mau ikut aku dan pasukan lain ke dunia sana, tidak?"
Sakurai menepuk pipinya, membuang kegundahannya jauh-jauh untuk menatap lurus ke depan. "Tentu saja, Aomine-san."
.
"Imayoshi." Susa menghampiri sang pemimpin yang tengah menyusun strategi. "Apa kau tahu di mana mereka berada? Ayolah, salah selangkah dan kita bisa berbalik ditangkap. Pemimpin dunia sana benar-benar jeli, kau tahu."
"Apa kau mengatakan kalau aku tidak jeli, Susa?" tanyanya balik tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas strategi.
"Bukan begitu…"
"Tenang, aku juga jeli kalau dengan musuh. Lagipula, aku sudah bersama Hanamiya sejak lama, instingku pasti akan membawa kita kepadanya. Tak ada yang perlu kau khawatirkan, Susa. Nah, sekarang bisakah kau pimpin yang lainnya untuk berangkat? Malam hampir mencapai puncaknya."
Mendengar itu, Susa menghela napas, kemudian bersiap kembali ke tempatnya—ke tempat pasukan setia Imayoshi berada.
"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan."
.
.
.
"Ini gawat, Teppei!" seorang gadis malaikat mendobrak pintu depan rumah Kiyoshi Teppei hingga menimbulkan suara kencang.
"Pasukan… hah… Ima…"
"Riko!" Kiyoshi yang tengah sibuk mengurus Hanamiya yang kesakitan menoleh. "Ada apa? Mengapa kau terburu-buru begitu? Tenang sedikit."
"Mana bisa aku tenang, bodoh!"
"Heh?"
Hanamiya akhirnya bangun karena mendengar suara-suara mereka yang berisik. Mendecakkan lidah, ia menatap Riko. "Sebenarnya ada apa, Riko? Malam-malam mendobrak rumah orang lalu berteriak seperti itu… Tetangga sebelah nanti marah, lho."
"Makanya dengarkan dulu aku! Kiyoshi, Hanamiya, sebaiknya kalian melarikan diri dari sini sekarang juga!" serunya, membuat Kiyoshi dan Hanamiya memiringkan kepala mereka bingung.
"Memangnya ada apa? Mengapa kau menyuruh kami kabur?"
"Itu soalnya… Tadi, di perbatasan dunia—"
Belum sempat Riko menyelesaikan perkataannya, mendadak hawa tidak nyaman menyelimuti Kiyoshi. Hawa yang hitam, gelap, dan jahat. Hanamiya langsung mengetahui hawa tidak enak apa yang mengganggu mereka sekarang.
"…Imayoshi…"
"Eh?!"
"Kiyoshi Teppei! Aku tahu kau di sana! Aku juga tahu, kalau Hanamiya ada di sana. Keluarlah sekarang juga!" seruan keras mengagetkan ketiganya. Tidak salah lagi, itu pasti Imayoshi. Dan terdengar dari derap langkahnya… Ia pasti membawa pasukan.
"Ia benar-benar datang kemari… Sialan. Tapi, bukankah kalau ia berteriak seperti itu maka akan terdengar oleh orang lain?"
Hanamiya menggeleng cepat. "Tidak. Imayoshi pasti sudah menyihir semua yang ada di sekitar sini agar tidak mendengarnya. Hanya kita bertiga."
"Bagaimana ini, Teppei… Ini bisa menjadi masalah besar."
…
…
"Aku akan keluar."
Riko dan Hanamiya membulatkan kedua mata mereka kaget. Kiyoshi berdiri tegap, bersiap untuk melangkah menuju luar rumah.
"Tapi, Teppei, ini terlalu bahaya! Ia membawa banyak pasukan, lho! Kau tidak akan selamat kalau begini!" cegah Riko. Hanamiya mengangguk setuju kemudian menanggapi,
"Walau ini duniamu, tapi malam sudah mencapai puncaknya. Purnama sudah terbentuk sempurna. Kalau begini pasti Imayoshi yang diuntungkan, karena kami bergerak ketika malam datang, sedangkan kalian ketika fajar,"
Namun walau dicegah bagaimanapun, Kiyoshi tetap saja keras kepala akan pergi keluar dan menghadapi Imayoshi.
"Ini masalahku dengannya. Aku yang membawa Hanamiya ke dunia ini, aku yang akan bertanggung jawab. Tenang saja, aku akan mencoba untuk bicara dulu dengannya. Imayoshi itu cerdas, ia takkan mengambil langkah gegabah."
"Tapi—"
Kiyoshi menoleh ke arah Hanamiya kemudian tersenyum lembut. "Aku tidak akan kenapa-kenapa. Aku akan cepat kembali ke sini. Karena itu tunggulah di sini, masalah pasti akan berakhir cepat."
"Tapi tetap saja—"
.
Cup.
Secara tiba-tiba Kiyoshi mencium bibir kekasihnya, membungkamnya supaya diam. Melepaskan ciumannya, Kiyoshi segera mendekap tubuh mungilnya yang bergetar, mencoba meyakinkannya.
"Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Tunggu saja di dalam rumah, selesaikan perkembangan hatimu, lalu kita bisa bersama lagi. Aku ingin kau percaya, Hanamiya. Percayalah padaku."
"Ukh… Dasar bodoh… Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau kenapa-kenapa, awas saja ya!"
"Sudah kubilang kau tidak perlu khawatir. Kalaupun ada sesuatu yang menimpaku… Yah, saat itu, kau hanya harus percaya, Hanamiya."
Aku tidak perlu kebohongan. Aku tidak perlu janji palsu.
"Pokoknya kau tidak boleh kenapa-kenapa! Aku tidak mengizinkanmu!"
"Hahaha, baiklah. Nah, Riko, jagalah Hanamiya sebentar, ya. Aku akan segera kembali."
Riko mengangguk mengiyakan. Akan tetapi, ia sendiri sedikit cemas. "Kau yakin tidak perlu bantuanku atau bantuan petinggi lainnya, Teppei?"
"Tidak perlu. Ayolah, aku ini termasuk malaikat yang bermasalah… Bisa-bisa mereka semakin menghukumku, Riko."
"Yah… Aku mengerti soal itu. Kalau begitu, berhati-hatilah, Teppei."
…
…
Kini mereka berdua berhadapan, saling bertukar pandangan tajam. Keduanya berdiri tegap di tempat, tidak ada yang mau mengalah, baik itu Imayoshi maupun Kiyoshi.
"Aku datang seperti permintaanmu, Imayoshi. Apa yang ingin kau lakukan sampai datang ke dunia sini?"
Imayoshi mendengus, seakan meremehkan Kiyoshi yang berdiri kuat mencengkram rerumputan. "Fuh, berani sekali kau menghadapiku seorang diri, Kiyoshi. Apalagi dengan tangan kosong dan… Hanya sebelah sayap. Begitu yakinnya kah kau akan menang dari diriku?"
"Tidak juga. Hanya… Aku datang dengan diriku sendiri, sama seperti saat aku datang ke duniamu waktu itu."
"Yah… Aku tidak keberatan. Sebenarnya aku hanya berniat bicara denganmu, aku tidak ingin membuat ini menjadi keributan besar." ucapnya pelan—kemudian membuka matanya yang menyipit. "Katakan, mengapa kau membawa Hanamiya ke duniamu?"
Kiyoshi menarik napas panjang, kemudian menjawab dengan tegas. "Hanamiya adalah kekasihku sekarang, Imayoshi. Itu tidak ada hubungannya denganmu."
"Oo, tentu saja ada." tangkisnya dengan logat yang khas, "Hanamiya itu milikku, kau tahu? Hanya milikku seorang."
Menggertakan giginya, Kiyoshi kembali membalas dengan keras.
"Tidak ada seorangpun yang dapat mengklaim seseorang sebagai miliknya, Imayoshi! Hanamiya adalah Hanamiya sendiri, tidak terkekang apapun. Bebas memilih apapun. Dan ia memilihku. Bukankah kau seperti memaksakan kehendakmu yang egois?"
"Tidak! Dia memang milikku!" tukas iblis berkacamata itu cepat. "Sejak dulu. Sejak lama sekali, ia sudah bersamaku. Sampai kau datang dan merebutnya dariku."
"…"
"…"
"Lalu… Bagaimana dengan 'Sakurai'?"
"E-Eh?"
"Sakurai, kubilang. Aku mendengar ceritanya sewaktu aku datang ke duniamu. Aku juga pernah menangani kasusnya saat aku masih termasuk malaikat besar. Bagaimana, Imayoshi?"
Sementara di belakang barisan pasukan, Sakurai menggenggam tangan Aomine erat, menahan-nahan perasaannya.
"Ini tidak ada hubungannya… Dengan Sakurai…"
Tidak menyerah, Kiyoshi kembali berkicau. Ia serius ingin tahu mengenai hal ini. "Aku tahu kalau dunia kalian juga melarang hubungan antara iblis dan malaikat. Karena itu, bukankah Hanamiya hanya pelarianmu dari Sakurai, Imayoshi? Karena kau tidak dapat bersama dengannya."
Mendengar itu, Imayoshi menggertakkan giginya semakin keras. "Kau sendiri, hanya berpindah ke Hanamiya karena kehilangan Hyuuga Junpei, 'kan! Tidak sepantasnya kau bicara begitu kepadaku."
Kini giliran Kiyoshi yang kaget. Siapa duga kalau Imayoshi mengetahui hubungannya dahulu dengan Hyuuga. Tapi tetap saja, ia tidak mau kalah.
"Masa lalu adalah masa lalu, Imayoshi. Mungkin Sakurai adalah masa lalumu, tapi kau menyeretnya sampai masa sekarang. Itulah bukti kalau Hanamiya hanyalah untuk melampiaskan perasaanmu tidak bisa memiliki Sakurai. Aku mencintai Hanamiya, aku bukan menggantikannya sebagai 'pengganti', seperti dirimu."
Buruk, iris Imayoshi terbuka lebar, berkilat-kilat marah terpapar cahaya bulan. Ia sudah benar-benar marah sekarang. Karena… Ucapan Kiyoshi memang separuhnya benar. Mau bagaimana lagi.
Mengapa… Ia merasa begini?
.
"Fuh… Hahaha, ya, mungkin kau benar, Kiyoshi… Mau aku ceritakan bagaimana bisa aku menjadi seperti itu, hah?! Ini semua salah malaikat dari duniamu, Kiyoshi."
"A-Apa…?"
"Nah, biar kuceritakan sesuatu yang menarik, dengarkanlah. Pasti kau tahu cerita tentang 'emperor' 'kan? Yah, dia adalah pemimpin dunia iblis sebelum diriku. Ia menghilang, meninggalkan urusan dunia di tanganku. Aku juga tidak tahu di mana ia sekarang, dan sedang apa ia, apakah masih menjalani hidupnya sebagai iblis biasa atau ia sudah menghilang dari dunia. Saat ia menghilang, maka dibuatlah peraturan baru oleh petinggi duniamu dan dunia kami, yaitu…"
"Yaitu?"
Imayoshi tersenyum sadis, kemudian melanjutkan.
"Dilarangnya hubungan antara iblis dan malaikat. Pasti kau tahu saat itu, ini peraturan yang wajib diketahui oleh malaikat besar, peraturan yang mengekang dirimu dan diriku. Apa kau tahu apa sebabnya dibuat peraturan seperti itu, Kiyoshi? Kau ingin tahu, 'kan?"
Kiyoshi meneguk ludahnya, kemudian mempersilakan Imayoshi untuk melanjutkan. Maklumlah, cerita ini tabu untuk diceritakan di dunianya, entah mengapa.
Tanpa ia sangka-sangka, kelanjutan dari kalimat Imayoshi dan jawaban dari rasa penasarannya bisa membuatnya tidak percaya seperti ini. Tidak, ini tidak mungkin. Bagaimana bisa…
"Emperor… Jatuh cinta pada seorang malaikat."
.
.
.
.
TBC?
A/N
Haaai, Kiyoha kembali setelah sekian lama~ *lambaibakwan* /ditabok
maap ya lama banget huhuhu, sebenernya kemarin mentok antara 2 ide, akhirnya diambil yang gausah pertumpahan darah aja, kan kasian (?) dan untuk ganti telat, kiyoha panjangin hehehe.
Semoga bisa memuaskan ya UwU dan... Kira-kira tinggal beberapa chap lagi, dan YOLO TEIKO DAYS UNYU BANGET /heh /janganngerambling
Oke segitu aja, mari balas ripiu :3
.
Hanaciel Jaeger, okeee, ini lanjutannya semoga bisa menghapus penasaran hohoho :3
Kurotori Rei, Hee, souka xD iya, pairingnya jadi banyak begini, muhuhuhu ;w; iya, sakurai berperan juga sih di cerita ini~ okeee, ini lanjutannya :3
Eqa Skylight, kyaaaa jangan dilempar sendal Dx ah iya, banyak pair disini, semoga ga bingung ya :'3
Mey chan love Kagami 5862, ini tisunya mbak hahaha 3 ribu ya /plok/ makochan memang tsuntsun, dia memang lucuu xD halah, kalo wakamatsu ga ganggu mereka bisa anu sampai pagi dong (?) dan ya, AoSaku bakal muncul di cerita xD
Okee, ini lanjutannya~ ada kok si makhluk kelewat galau di chap ini, dan soal nasib mereka... Tinggal beberapa chap lagi hohoho :3
.
Lastly, maukah meninggalkan jejak? :3
kiyoha
