Cinta adalah sesuatu yang indah sekaligus kejam
Dapat mengubah seseorang menjadi pribadi yang sama sekali berbeda,
Dapat melahirkan satu perasaan yang tak pernah ada sebelumnya,
Bahkan dapat menghilangkan nyawa seseorang yang berharga untuk kita.
.
Selalu saja, aku tinggal di dalam kegelapan yang tenang,
namun tanpa kuduga-duga, malaikat yang bukan apa-apa ini
menarikku jauh ke dalam gemerlapnya cahaya
"Apakah pilihanku ini salah?"
"Apakah salah jika aku ingin berada di sisinya? Yang juga membutuhkanku?"
"Hanya satu permohonanku, yaitu ingin selalu bersamanya sampai kapanpun, namun… Mengapa menjadi begini?"
"Ternyata memang… Malaikat dan Iblis tidak ditakdirkan untuk bersama."
.
Angel, Devil and Forbidden Love Story
.
A Kuroko no Basuke fanfiction
Special for KiyoHana Day 2015
.
Disclaimer
Story ©kiyoha + ShanataS
Characters ©Fujimaki Tadatoshi
.
Rate:
M untuk yang asem asem itu /apa/ dan setori~
.
Pairing
KiyoHana, onesided!ImaHana dan banyak onesided lainnya /heh/
.
Presented by Kiyoha
.
.
.
"Emperor… Mengapa…" Kiyoshi membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang Imayoshi atakana barusan. Sementara sang pemimpin dunia iblis menyeringai lebar.
"Yah… Itu benar. Menurut kesaksian, dan banyak catatan yang membuktikan hal itu. Lagipula, itu ada di sejarah pembuatan peraturan antar dunia, 'kan." Jelasnya. "Kau tahu sendiri 'kan, dilarangnya hubungan antar iblis dan malaikat. Entahlah, sekarang dia ada di mana, masih hidup seperti biasa atau tidak. Mungkin saja dia ada di dunia manusia, menurutku."
"…Apa yang berusaha kau ucapkan padaku, Imayoshi?" Kiyoshi menukikkan alis, memandang Imayoshi tajam. Pasti. Pasti ada sesuatu yang ia maksud.
"Haah, Kiyoshi, Kiyoshi." Imayoshi menghela napas, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan bilang kau masih tidak mengerti apa yang kumaksud? Sudah jelas 'kan, iblis dilarang keras menjalin hubungan dengan malaikat."
Imayoshi menekankan kalimatnya, di balik kacamata terlihat irisnya yang berkilat-kilat marah. Sementara kegelapan mulai berkumpul di sisi tangannya, terdorong oleh kekuatan bulan purnama. Gawat—kalau begini, pihak Kiyoshi lah yang dirugikan, padahal tempat ini dunianya sendiri. Sial.
Untuk berjaga-jaga Kiyoshi mulai membentuk sebilah pedang cahaya di tangan kanannya. Imayoshi yang melihatnya mendengus, seakan meremehkan.
"Kau berniat untuk perang dengan keadaan sayap seperti itu, Kiyoshi? Fuh, sudah kubilang serahkan saja Hanamiya, lalu kita damai. Tidak perlu ada pertumpahan darah. Bukankah itu ide yang bagus? Tidakkah kau setuju denganku, hm?"
"…Dalam mimpimu, Imayoshi."
Fuh. Imayoshi kembali mendengus, sorot matanya berubah menjadi begitu kejam.
"Kau yang minta, ya. Baiklah, bagaimana kalau one on one saja denganku? Dengan begitu akan lebih adil buatmu, 'kan? Dengan setengah sayapmu itu."
"…Sialan. Kali ini kau yang akan kubuat menangis-nangis."
.
.
.
Sakit, sakit, sakit, punggungnya perih tak tertahankan. Rasa sakit ini bagaikan pedang tajam yang menghunus kedua sayapnya dari belakang—tidak, mungkin sayapnya hanya tinggal sebelah sekarang. Pangkal sayap kanannya sudah tidak bisa ia rasakan menempel di punggungnya, hanya kekosongan yang ada.
'Apakah memang… Sudah sampai batasnya? Apakah aku bisa melalui ini?'
"Hanamiya-kun…" Riko memandang sang eboni dengan raut khawatir, "Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat, badanmu panas…"
"…Aku tidak apa-apa. Yang lebih penting, aku cemas dengan keadaan Kiyoshi… Apa ia baik-baik saja? Hawa kegelapan yang sedari tadi kurasakan semakin besar saja…"
"Ku-Kurasa tidak apa-apa, kok! Teppei 'kan hebat, ia pasti baik-baik saja!"
Mendengar ucapan Riko yang mencoba menenangkannya, Hanamiya hanya membisu. Sehebat apapun Kiyoshi, lawannya adalah banyak iblis tingkat tinggi, didorong dengan kekuatan bulan purnama yang membulat sempurna. Malam adalah waktu yang terburuk bagi malaikat untuk beraktivitas.
'Semoga saja… Ia tidak apa-apa.'
.
.
.
Suara keras pedang yang beradu memenuhi malam. Baik itu pedang kegelapan Imayoshi, maupun pedang cahaya Kiyoshi, keduanya tak ada yang sudi menyerah. Keduanya bersikeras akan memenangkan pertarungan satu lawan satu ini. Semua yang melihatnya membisu, termasuk bias cahaya pucat bulan yang membeku.
Nafas berat menderu. Imayoshi menggigit bibir, ia tidak tahu bahwa mengalahkan Kiyoshi yang sudah kehilangan sebelah sayapnya begini beratnya. Kiyoshi mulai terengah-engah, tidak tahu menahu bahwa melawan Imayoshi ditengah purnama; ditambah dengan separuh punggungnya yang hampa seberat ini. Keduanya seimbang, untuk saat ini.
Dari kejauhan, terlihat sang panglima—Susa Yoshinori—memperhatikan dengan seksama. Wajahnya terlihat tidak yakin akan mendukung Imayoshi atau tidak, samar-samar tergambar kesedihan dibalik poninya yang diterpa angin. Entah apa yang menyebabkannya hingga menjadi seperti itu. Sakurai juga sama. Telapak kanannya masih setia mencengkram tangan tan Aomine hingga menimbulkan bekas kemerahan yang kentara.
Sungguh malam yang bisu—hanya dua bilah pedang saling melontarkan amarahnya.
.
"Cukup sampai di situ!"
Barulah kedua bilah pedang itu dapat menutup mulut. Dari kejauhan terdengar kepakan sayap—besar, suci, dan banyak—sekelompok malaikat yang mulai mendekat. Imayoshi mendecih, tidak menyangka rencananya dapat ketahuan secepat ini. Sementara Kiyoshi tidak tahu harus bernafas lega, atau harus merasa ketakutan.
Di barisan depan, malaikat-malaikat besar berdiri dengan gagahnya. Kiyoshi mengenal sebagian—Reo, Hayama, Nebuya—sementara dua malaikat di tengah, Kiyoshi tidak tahu menahu tentang mereka. Mungkin mereka adalah malaikat yang Riko sebut sebagai 'pemimpin di balik layar'?
Satu malaikat bersurai kemerahan, satu malaikat bersurai sewarna langit cerah.
Surai kemerahannya berkibar diterpa angin sejuk bersamaan dengan fajar yang menampakkan wajahnya di ufuk Timur. Masih saja Kiyoshi diam seribu bahasa; dan tanpa diduga-duga para iblis menunjukkan wajah…
Tidak, bukan wajah ketakutan. Tidak ada setitikpun rasa takut terbias di sana. Namun…
Shock?
.
"Cukup sampai di situ, kalian berdua. Ini perintah. Turunkan senjata kalian." Lagi-lagi, dari bibir mungil itu terucap titah absolut. Kiyoshi segera melepaskan kekuatan cahaya dari telapak tangannya, sementara Imayoshi masih membeku di tempat. Hanya kedua kakinya yang terus menopang bergetar hebat.
"Ada apa, Imayoshi? Turunkan pedangmu itu sekarang juga. Padahal kau tahu bahaya jika menggunakannya tepat di bawah naungan purnama sempurna. Bila kekuatan itu terus mengalir, entah apa yang akan terjadi nantinya.
"Em… peror? Mengapa bisa—"
Kiyoshi membelalakkan mata. Emperor? Dia ini?
Malaikat bersurai kemerahan yang kini diketahui sebagai 'Emperor' tersebut menyunggingkan senyuman tipis. "Ceritanya panjang. Aku yakin kalian semua mengira aku sudah mati, dan pasti terkejut saat aku datang ke hadapan kalian dengan wujud malaikat putih suci."
"Te—Tentu saja kemi terkejut! Selama ini anda ke mana?! Mengapa sekarang anda sudah menjadi… Malaikat…"
"…Tidak apa-apa. Kalau kuceritakan pasti akan panjang sekali, kita tidak boleh membuang-buang waktu di sini. Nah, sekarang ada apa, hingga kalian berduel seperti ini? Kiyoshi Teppei, aku yakin Aida sudah membuangmu ke Bukit Utara." ucap Sang Emperor lagi, dengan kalimat yang ditekankan setiap detiknya.
"Itu…" Kiyoshi tidak dapat menjawab. Sang Emperor mendengus.
"Yah, itu tidak penting. Yang jelas…" Ruby kembar itu menatap Imayoshi tajam. "Iblis, tidak seharusnya berada di sini."
"Ta-Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian, Imayoshi Shouichi. Kau dan temanmu harus segera keluar dari dunia ini. Kau, dan tema—ah, rupanya ada Sakurai juga. Lama tidak bertemu, sejak kau melarikan diri dari hukumanmu beberapa tahun lalu, hmm? Aku memang tidak ada di sana, tapi aku mengetahui segalanya. Kau rela mengorbankan sayap sucimu demi pengecut yang membawa banyak pasukan hanya untuk melawan satu malaikat ini?"
Begitu mengintimidasi.
Sakurai menunduk, ia menggigit bibir bawahnya pelan. Perkataan Emperor sepenuhnya benar. Geram, dan didorong amarah yang mulai memuncak, Aomine berseru kencang:
"Ryou tidak ada hubungannya dengan masalah saat ini, 'kan!"
"A-Aomine-san! Jangan—aku tidak apa-apa."
"Ta, tapi…"
Plok plok plok.
Tanpa dapat terduga, Sang Emperor bertepuk tangan.
"Hebat. Berani juga kau melawanku, hm, Aomine Daiki? Tapi tak apa, aku suka semangatmu itu."
Masih bertepuk tangan.
"Kau benar. Masalah saat ini hanya berputar di Imayoshi dan Kiyoshi, bukannya begitu?" tanya Emperor lagi, kini wajahnya sedikit melunak—mungkin sedikit terhibur dengan sikap Aomine barusan. Kini ia beralih memandang Kiyoshi yang masih takjub.
"Aku ingin mendengar ceritamu. Mari, kita berbincang-bincang di tempatku, ditemani earl grey hangat dan suguhan manis-manis. Setelah itu kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan damai. Sekarang, bisa kau ikut denganku, Kiyoshi Teppei?"
Sang Emperor mengulurkan tangannya, mengajak Kiyoshi untuk pergi. Imayoshi masih menggertakkan dirinya geram, tidak suka dan tidak percaya dengan sikap Emperor yang merupakan mantan pemimpin dunianya.
Tidak, benar-benar tidak suka.
"Emperor! Mengapa… Mengapa anda menjadi begini?! Mengapa anda tega meninggalkan dunia para iblis untuk malaikat yang tidak bisa apa-apa?! Selama ini… Aku yang menanggung semuanya, anda tahu!"
Sakit—tak dapat terbendung lagi.
"…Itu masa lalu, Imayoshi. Yah, mungkin aku sedikit menyesal."
Belum selesai. "Kalau begitu mengapa anda masih saja?! Sejak kehilangan anda beberapa tahun lalu, segalanya, keseimbangan dunia kacau. Apakah anda tahu bagaimana?!"
Emperor hanya terdiam. Imayoshi semakin geram—mungkin ia sudah akan melayangkan kepalan tinjunya kalau saja Susa tidak langsung menahan tubuhnya dari belakang. Tidak dapat melawan kuncian erat Susa, ia akhirnya meneriakkan amarahnya yang terakhir.
"SEANDAINYA SAJA… ANDA TIDAK PERNAH JATUH CINTA DENGAN MALAIKAT!"
…
Baik Kiyoshi, Emperor, dan malaikat kebiruan di sampingnya terbelalak.
Seandainya saja… Emperor tidak pernah bertemu, kemudian jatuh cinta dengan seorang malaikat…
Akankah dunia ini berubah?
…
"Sudah, Kiyoshi. Biarkan saja dia, aku hanya membutuhkan cerita darimu. Ayo pergi."
"Ba-baik…"
Kemudian sayap-sayap putih mengepak dan menjauh.
Kh.
"Emperor!"
"Imayoshi, sudahlah! Sudah cukup, kita juga harus kembali!" Dengan sekuat tenaga, Susa menahan kedua tangan Imayoshi dari belakang, mencegahnya agar tidak segera meluapkan segala kemarahannya pada Emperor. Namun, ia memberontak.
"Lepaskan aku, Susa! Aku harus mengejar mereka!"
"Imayoshi, mereka sudah pergi jauh. Kita tidak seharusnya berada di sini!"
"Tapi—"
.
Kini bibir tipisnya dibungkam oleh Susa yang menciumnya dalam. Ciuman yang sunyi senyap.
"Mm—Tida—"
Kembali Imayoshi mencoba melepaskan diri, namun gagal. Susa menekan kepala eboninya lembut, berusaha memperdalam ciuman mereka—sekaligus membuat Imayoshi menyerah.
Percuma saja, kini ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Perlahan kedua tangannya melemah, kemudian jatuh begitu saja—mencengkram kedua bahu Susa tanpa tenaga. Beberapa detik berlalu, Susa melepaskan ciumannya—membentuk segaris saliva di antara keduanya. Imayoshi menarik napas, antara sesak karena ciuman barusan atau sesak karena… Perasaannya.
"Ukh…"
Kedua irisnya mulai memproduksi air mata.
"Imayoshi… Kacamatamu berembun. Kau tidak perlu menahan-nahannya. Namun, sudahlah—kau tidak bisa apa-apa lagi di masalah ini. Kita tinggal menunggu hasil dari perbincangan mereka. Sudahlah."
Imayoshi membenamkan wajahnya di dada bidang sang panglima. Segalanya serasa akan tumpah begitu saja. Sedih, kesal, marah, segalanya…
"Susa—"
Dalam setetes air mata.
.
BLAM.
Sepasang pintu tinggi besar tertutup. Ketiga makhluk yang berada di dalamnya terdiam—yang satu masih sibuk mengaduk earl grey dalam teko kecil. Wanginya harum sekali. Persis seperti kata Emperor tadi, mereka akan berbincang-bincang dengan jamuan yang manis-manis.
"Terima kasih, Tetsuya. Kau boleh keluar sekarang."
Malaikat bersurai biru langit itu mengangguk pelan, kemudian keluar dari ruangan pribadi Sang Emperor. Ruangan ini begitu luas dan putih—jika Kiyoshi boleh menebak, ini pasti ruang kerjanya yang ada 'di balik layar'. Walau ia mantan malaikat tinggi, ia belum pernah kemari sebelumnya.
"Nah, Kiyoshi Teppei, anggap saja di rumah." ujar Sang Emperor sembari menyeruput sedikit earl grey di tangannya. "Santai saja, aku hanya ingin bicara denganmu—seperti yang kuucapkan ke Imayoshi tadi.
Kiyoshi hanya mengangguk. Ia masih sedikit canggung dengan ruangan ini. Hawanya tidak biasa. Baru saja ia mendudukkan diri di salah satu sofa empuk, malaikat besar di hadapannya kembali berkicau.
"Nah…" Cangkir earl grey diletakkan di meja. "Sekarang, bisakah kau ceritakan secara detil apa yang terjadi? Ah ya, aku juga sempat mendengar ceritamu dari Aida, tentang seorang anak Adam yang bisa melihat wujudmu. Ceritakan juga bagian itu."
Maksudnya Hyuuga? Ah, padahal ia sudah berusaha melupakan saat-saat itu.
"Baiklah… Jadi, begini…"
.
.
Hanamiya terbatuk kencang. Sebelah tangannya mencengkram kuat dadanya yang kian sesak. Riko, yang khawatir dengan keadaannya, mengambilkan segelas air dari dapur kemudian memberikannya, berharap bisa sedikit menyembuhkannya.
"Minumlah. Sudah kuberi sedikit mantra."
Melihat itu, Hanamiya hanya dapat tertawa hambar, "Yang benar saja, mantra? Ayolah, itu malah dapat membunuhku. Begini-begini aku masih berwujud iblis, kau tahu."
"Ah—maaf…"
"Tidak apa-apa. Lebih penting, mengapa rasanya sunyi sekali? Aku juga sudah tidak merasakan kegelapan… Apa yang terjadi di luar?" Hanamiya bertanya-tanya, rasa penasaran merasuki dirinya. "Apakah… Imayoshi sudah dikalahkan?"
"Mentari sudah terbit." ujar Riko sambil membuka tirai jendela. "Lagipula, di luar sudah sangat sepi. Kurasa mereka sudah kembali ke dunianya."
"Begitu? Syukurlah…" Hanamiya menghela napas lega. "Dasar, bagaimana kalau si bodoh itu kenapa-kenapa… Ngomong-ngomong, di mana dia?"
"Ah? Aku juga tidak tahu…"
.
.
Sakurai memandang kedua pemimpin dari kejauhan. Susa menggendong Imayoshi yang sepertinya terlalu kelelahan ke kamarnya. Tubuh iblis berkacamata itu sudah penuh dengan goresan-goresan, penuh dengan luka. Ia sendiri merasa perih melihatnya. Namun, dibandingkan itu…
'Susa-san… Mencium Imayoshi-san. Jangan-jangan…'
Hatinya lebih perih tak tertahankan.
"…Ryou. Mengapa kau diam saja di sini?"
Aomine menghampirinya yang tengah berdiri dalam sunyi, sendirian di lorong mansion. Tidak ingin membuat 'penjaga'nya itu cemas, Sakurai menggeleng, "Maaf, aku tidak apa-apa."
Hanya kamuflase.
"Imayoshi, kah? Atau jangan-jangan Susa-san?" tebak sang dark blue. Sakurai membulatkan iris caramelnya.
"Me-mengapa—"
"Yah, kalau aku, pasti langsung tahu apa yang kau pikirkan, Ryou." balas Aomine sambil menyilangkan tangan di dada. "Susa-san… Memang sudah memendamnya sejak lama. Bahkan sebelum kau datang kemari. Sebelum ia menjalin hubungan antar dunia denganmu."
Rasa tidak percayanya berkembang. "Eh? Mengapa…Susa-san tidak…"
"Asal kau tahu saja, mereka sudah bersama sejak kecil. Mereka belajar bersama, mengikuti pelatihan bersama, mengatasi masalah bersama, yah… Mereka tumbuh dalam hubungan teman masa kecil. Bahkan sekarang Susa-san masih menjadi tangan kanan Imayoshi, 'kan? Mungkin karena kedekatan itulah… Justru lidahmu akan kelu saat mencoba 'merubah' hubunganmu." jelas Aomine panjang lebar—entah dari mana ia mendapatkan informasi seperti ini—kemungkinan besar dari Susa. Sakurai menempelkan telunjuknya di bibir, berpikir keras.
"Te-ternyata seperti itu… Kupikir, yang teman masa kecil itu Imayoshi-san dan Hanamiya-san. Ternyata Susa-san sudah lebih dulu…"
"Ya. Karena itulah, mungkin sulit untuk menyatakan perasaannya pada Imayoshi."
Sakurai kembali memutar otaknya, memikirkan segalanya yang terjadi. 'Jadi jangan bilang… Kalau aku dan Hanamiya-san… Serta Izuki-san, yang pernah Imayoshi-san sukai, mengganggu Susa-san? Apakah aku sudah menyakiti perasaannya karena menjalin hubungan dengan Imayoshi-san? Jika dipikir, daripada diriku, dialah yang lebih menderita.'
"Aku… Aku…"
"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, Ryou. Masa lalu adalah masa lalu. Lagipula, kau tidak mengetahuinya. Percayalah, Susa-san bukan pribadi yang akan goyah hanya karena cemburu—tidak sepertimu. Lagipula, sepertinya Susa-san akan mencapai masa kejayaannya, terima kasih pada masalah ini." Aomine terkekeh pelan, tangan tannya mulai mendaki ke puncak brunette sang fallen angel.
"Karena itu… Jangan bersedih lagi."
Sakurai tertegun saat tangan Aomine mulai mengacak surai brunettenya dengan gemas. Apakah ini—apakah Aomine berusaha menghiburnya? Agar dia melupakan rasa sedihnya? Agar ia melupakan segala perasaan yang berhimpit di hatinya?
Mendadak wajahnya memanas.
'Mengapa… Aku begini? Mengapa perasaanku begini? Aomine-san…'
"Lagipula, yah…" Belum sempat Sakurai membuka mulut, Aomine kembali berucap. "Kalau misalnya saja Imayoshi jadi membencimu, lalu kau tidak dapat tinggal di kamar itu lagi… Pintuku selalu terbuka."
"E-Eh?"
"Aku bukannya memaksa. Hanya saja, kalau kau tidak keberatan… Aku sama sekali tidak keberatan menerimamu."
Sakurai melongo.
…Apa ia salah lihat? Aomine… Dengan pipi yang merona.
"Fufu, dasar Aomine-san. Tapi emm, maaf ya, aku akan merepotkanmu mulai saat ini."
"…Tidak perlu bilang. Aku sudah biasa mengurusmu." Aomine kembali mengacak rambut Sakurai dengan gemas. "Suatu saat nanti… Aku akan mengatakan kebenarannya. Jangan sekali-kali kau coba untuk lari, Ryou."
.
.
.
"Ternyata… Memang sudah kuduga, pasti begitu awalnya. Klise." ucap sang Emperor sembari memandang jauh ke luar jendela. Entah mengapa, sorot matanya sedih—apa yang menyebabkannya begitu? Padahal sampai tadi ia tidak apa-apa.
"Emperor… Ano… Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Apa?"
Entahlah, Kiyoshi tidak tahu ini boleh ditanyakan atau tidak, tapi ia penasaran. Benar-benar penasaran. Ia harus tahu yang sesungguhnya. Mengapa 'peraturan' itu dibuat. Mengapa cintanya dianggap hal yang tabu.
"Berdasarkan cerita Imayoshi, anda… Dulu pernah mencintai malaikat, ya?"
.
PRANG
Sebuah suara yang keras mengagetkannya—begitu juga Emperor. Itu seperti suara… Sesuatu yang terpecah belah. Tidak, asalnya bukan dari dalam kamar, namun dari luar. Ketika Emperor membuka dengan cepat pintu besar ruangannya—
"E-Empe…ror. Ini…"
Sepasang safir memandangnya takut.
"Tetsuya. Hati-hati kalau membawa barang pecah belah. Tapi yang lebih penting—mengapa kau ada di luar ruanganku?"
Tetsuya—Kuroko Tetsuya, begitulah namanya. Malaikat bersurai biru langit yang selalu berada di sisi Emperor untuk memerintah di balik layar. Kini ia tak dapat bertukar pandang dengan atasannya, hanya perlahan memunguti pecahan beling dengan jari-jari bergetar.
"…Hanya saja…"
"Hanya saja?"
Menelan ludah, malaikat biru itu melanjutkan, "Hanya saja… Kiyoshi-san tadi menanyakan tentang masa lalumu, lalu aku… Jadi…"
"Masa lalu?" Sang Emperor menaikkan sebelah alisnya. "Aah, aku mengerti. Kau khawatir dengan itu? Tenang saja, tidak apa-apa. Aku memang sedang bertukar cerita dengannya. Nah, karena kau juga ada di sana saat itu, bagaimana kalau kau ikut bercerita, mendukungku?"
"Eh—"
"Sudah, tidak akan ada apa-apa. Ayo."
.
Pintu besar kembali menutup dengan kencang. Kini yang memasuki ruangan bukan hanya Emperor sendiri, namun juga satu malaikat lagi di sampingnya. Kuroko Tetsuya. Entahlah, mungkin ia diperlukan dalam perbincangan ini—Kiyoshi sendiri tidak tahu.
Setelah memposisikan duduk dengan nyaman di sofa, Emperor kembali membuka suara,
"Nah. Sudah cukup dengan ceritamu, aku akan menjawab pertanyaanmu barusan. Tetsuya, mulai."
Kuroko mengangguk, kemudian memandang Kiyoshi lurus. Bibirnya mulai bergerak, memberitahukan kebenaran. "Ya, memang itu tepat. Aka—Emperor, memang dahulu pernah mencintai seorang malaikat, sampai ia berubah menjadi seperti ini sekarang."
Belum selesai Kuroko berbicara, sang Emperor menyahut. "Namaku… Akashi Seijuurou. Mantan pemimpin dunia iblis. Kau pasti tahu kalau hanya sekedar itu, 'kan? Walau tidak pernah ada yang memberitahumu kalau aku memimpin kalian di balik layar."
"Perkembangan hati…" gumam Kiyoshi. Sepertinya dapat terdengar—terlihat dari senyum Empe—Akashiyang mengembang. Ia bertukar pandang dengan Kuroko, kemudian mengangguk.
"Kau sudah tahu, ternyata. Kalau begitu ini akan cepat." Iris rubynya kemudian memandang gula blok yang perlahan meleleh di air teh yang cokelat kemerahan, mengingatkannya sesuatu. Persiapan hati kini sudah rampung.
"Akan kuceritakan padamu… Kisah tentang seorang pemimpin dunia iblis, yang jatuh cinta pada seorang malaikat lemah yang tidak bisa apa-apa—pada pandangan pertama mereka di dunia manusia."
.
.
.
TBC?
A/N
Konnichiwa~ kiyoha de su~ *lambaitangan* /dilemparkacang/
Huwaaa, serius maaf lama banget yaaa! Kemarin sempet kehilangan feel, terus sibuk, terus galau milih antara 2 pair TwT
Disini, emperor sudah muncul ya. Tapi cerita tentang dia sengaja di cut dulu biar nggak kepanjangan(?) gomennasai~ dan, berdasarkan ripiu kemarin-kemarin, kiyoha nyoba seimbangin antara yang mau AkaKuro sama AkaFuri, ya. Tenang, mereka berdua dapet jatah seimbang kok, disini. QwQ
Sekarang... Sudah jelas deh perasaan satu orang. Susa. Nanti makin lama juga yang lain dijelasin kok, sy jg gamau Imayoshi terus-terusan jadi anak galau(?) ladur sama cintanya~ diriku kan adil~ *kedip* /dibuang
yah nggak usah panjang-panjang, mari balas ripiu :3
.
Kurotori Rei
Iya, onesidednya ada banyak ya x''D semoga nggak bingung bacanya. Nah, emperor jatuh cinta sama siapa, ya? Mari tunggu chap depan~ /dilempar/ ini lanjutannya :3
Oto Ichiiyan
Ah, nggak apa kok ^^ asyik, ada yang suka KiyoHana lagi~ *tebarconfetti* Imayoshi juga punya hati kok, nanti lama kelamaan akan dijelaskan, ya x'D dukung AoSaku, ya? Semoga terwujuud :)
Oke, ini lanjutannya. Bad end atau nggak, nanti ada pilihannya kok :) ganba! :3
Mey Chan Love Kagami 5862
sono elus-elus makochan, butuh balsem ga? xD /GAK/ iih, tuh tau perasaannya Aomine xD pasti dijelasin kok, nantinya~ nah iya, Imayoshi memang galau, ia butuh orang yang setia di sisinya :3 emperor? Hmm, siapa ya xD /dilempar/ oke, ini lanjutannya :3
Hanaciel Jaeger
Hmm, bener nggak ya~? *muterotak* /ditabok/ ah, kalau Hanamiya sih... Gimana jadinya, ya? :3
Lala chan ssu
Cieee yang penasaran xD /hush/ nyeri-nyeri wuenak ya xD udah diseimbangin sama fluff sih~ dan... nggak suka bad end? nanti ada pilihannya, maybe xD oke, ini lanjutannya :3
Cookie Kouki Cookies
gapapa hehehe ^^ hmm, Imayoshi ini, diantara buat pelarian sama dia bener-bener suka~ yah hati dia kan galau pisan (?) mau milih siapa www tapi karena Sakurai ia pikir nggak bakal bisa terus di sisinya, ia milih hanamiya, gichu :3 bener sih, sekalian jadi tameng ya. Eeeh? gimana, yaa? xD
.
Lastly, maukah meninggalkan jejak? :3
kiyoha
