Aku sama seperti mereka—Emperor, juga pemimpin yang sekarang
Mencintai malaikat suci,
tanpa tahu perasaan itu akan berakibat fatal bagi segalanya
Jadilah aku di sini, terkekang selamanya di ujung dunia
Tanpa seorangpun sudi menemani
Hanya karena… Aku memiliki hubungan dengan makhluk dari dunia sana.
Ah, mengapa? Mengapa hidupku harus seperti ini?
Tapi, walau aku tahu bahwa takdirku akan seperti ini…
Aku takkan berhenti mencintainya, yang juga mencintaiku sepenuh hati
.
Aku sama seperti mereka—Furihata-kun, juga Sakurai-san
Mencintai iblis dengan jiwa membara,
tanpa tahu perasaan itu akan berakibat fatal bagi segalanya
Jadilah aku di sini, menjadi malaikat yang bisu
Melaksanakan pekerjaan bagai robot—pekerjaan yang sungguh kejam
Hanya karena… Aku tidak dapat menggapainya yang berada di dunia sana.
Ah, mengapa? Mengapa hidupku harus seperti ini?
Tapi, walau aku tahu bahwa takdirku akan seperti ini…
Aku takkan berhenti mencintainya, yang juga mencintaiku sepenuh hati
.
Wahai Tuhan,
apakah kami dapat bertemu kembali?
Angel, Devil and Forbidden Love Story
.
A Kuroko no Basuke fanfiction
Special for KiyoHana Day 2015
.
Disclaimer
Story ©kiyoha + ShanataS
Characters ©Fujimaki Tadatoshi
Ichiban no Takaramono by LiSA
.
Rate:
M untuk yang asem asem itu /apa/
.
Pairing
KiyoHana, AoSaku, dan banyak pairing lainnya /heh/
.
Presented by Kiyoha
.
.
.
"Kau harus melimpahinya dengan cinta, Kuroko. Aku tahu—kau tidak bisa menggantikan Furihata, tapi berusahalah."
Kalimat itu terus terngiang di telinganya.
Kuroko memejamkan matanya erat. Berkat kejadian tadi siang, ia jadi memikirkan yang macam-macam. Ia jadi memikirkan apa yang seharusnya ia lupakan.
Mau bagaimana lagi? Akashi menceritakan masa lalunya—berarti masa lalu Kuroko juga. Tentu saja dengan otomatis otaknya akan merekam kembali memori-memori yang pernah ada.
Sepi, hanya ditemani oleh cahaya lilin yang menari-nari. Perlahan jemarinya membalik halaman demi halaman, menyerap satu per satu kata yang tertulis dalam buku di tangannya—
—sebuah diary masa lalu.
"Tetsuya, kau belum tidur?" tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamarnya, menimbulkan derit yang membuatnya menoleh ke belakang.
"Akashi-kun." Kuroko menutup bukunya kemudian tersenyum tipis. "Aku tidak bisa tidur, jadi kurasa aku akan membaca buku sebentar."
"Oh." Akashi meletakkan tatakan lilin di meja, kemudian mendekati Kuroko yang tengah terduduk diam di ranjang, tangannya memegangi sesuatu dengan erat. Dari sampulnya, mungkin buku itu sudah berumur bertahun-tahun—tapi tetap ia rawat sampai sekarang. "Diary?"
Kuroko mengangguk. "Ya, kau tahu 'kan dulu aku sering menulis diary, lalu berhenti saat 'malam itu'… Kupikir tidak salah kalau aku melanjutkan kebiasaan itu lagi."
"Begitu, ya. Kalau begitu, jangan malam-malam. Tidak baik untuk kesehatanmu." Akashi meraih kembali tatakan lilinnya, kemudian beranjak keluar dari kamar sang baby blue. "Aku tidur duluan, Tetsuya. Selamat tidur."
"Selamat tidur, Akashi-kun."
…
'Surai kemerahan Akashi-kun yang berkibar, kulitnya yang berubah jingga karena terpapar cahaya lilin… Entah mengapa selalu membuatku teringat dengan dia… Kagami-kun.'
Sayang, ia tahu waktu takkan kembali.
.
.
.
"Hangatnyaa~!" Sakurai membenamkan wajahnya dalam bantal dengan senang. "Beda sekali dengan ruanganku yang dulu, yang itu terlalu dingin dan penuh besi."
Aomine memijit pelipisnya. Dasar, Sakurai yang biasanya terlihat melankolis bisa juga kekanakan seperti ini. "Yah… Aku yang membolehkanmu tinggal di kamarku, sih, tapi jangan langsung lompat ke ranjangku juga."
"Ah, maaf, Aomine-san."
"Tidak apa-apa. Yah… Mu-mulai saat ini kamarku 'kan kamarmu juga. Tapi, kau tidak keberatan, 'kan? Aku hanya ada satu ranjang medium size, sih…"
Di mansion ini, iblis setara Aomine memang mendapat ruangan berukuran sedang. Satu ranjang medium-sized, lemari, meja tulis dan sedikit tempat kosong untuk menyimpan barang-barang. Kamar pribadi Aomine ini terasa hangat karena diterangi cahaya lilin yang tergantung di dinding kamar. Di luar jendela ada balkon untuk melihat sekitar.
Tapi, fallen angel bersurai brunet itu tampak tidak keberatan sama sekali.
"Tidak masalah buatku. Aku juga… Lebih nyaman jika tidur ditemani orang lain, hehehe… Maaf, apa terlalu kekanakan, ya?" ia terkekeh pelan sembari merengkuh bantal. Aomine menjadi sedikit salah tingkah melihat wajah manis Sakurai tersenyum kepadanya.
Melihat senyum Sakurai, mendadak ia teringat sesuatu yang penting. Penting sekali, ia harus memberitahukannya sekarang juga.
"Ah ya, Ryou, aku harus menceritakan ini padamu. Kupikir kau yang menyukai Imayoshi akan mengerti. Jadi begini, ada temanku yang diasingkan karena—"
Suara nafas samar-samar terdengar.
"Geh! Sudah tidur, ternyata. Dasar, di saat penting seperti ini…" Aomine menarik selimutnya kemudian menutupi tubuh sang fallen angel yang tidur dengan senyum mengembang dan pipi sewarna darah. Aomine tidak kuasa membangunkannya yang tengah terlelap. Entahlah, rasanya ia tidak dapat melawan wajah tidur itu.
"Tidurlah yang nyenyak, Ryou. Biarkan malam melepaskan segala kesedihanmu. Karena kau tahu—aku menyukaimu yang tersenyum seperti ini." Bisiknya, tanpa ada jawaban. Tangan tannya perlahan menyampirkan poni brunet Sakurai, mengecup lembut dahinya.
"Aku menunggu senyummu esok hari."
.
.
.
Sakit, punggungnya sakit sekali, perih.
Namun, rasa sakit ini tak dapat mengalahkan perasaannya.
Hanamiya mengalungkan tangannya di leher Kiyoshi, mencoba meredam segala yang ia rasakan di bahu sang kekasih. Walaupun ini Kiyoshi yang sama, walaupun ini sentuhannya yang seperti biasa, tapi…
Ada yang berbeda.
'Mengapa… Rasanya mengandung kesedihan. Kiyoshi, ada apa denganmu…?'
"Kiyoshi, kau kenapa? Nh—ada yang terjadi dengan emperor?" tanyanya di sela aktivitas malam hari mereka. Memang, ia merasakan ada sesuatu yang salah, jadi ia harus menanyakannya. Mungkin setidaknya dapat membantu meringankan masalahnya.
"Hah… Apa yang membuatmu bertanya seperti itu, Hanamiya? Apakah ada yang salah denganku?" Kiyoshi bertanya balik, tidak menghentikan gerakan tubuhnya.
"A-Akh! Mmn…Habisnya—nh! Kau tidak seperti biasanya, Kiyoshi! Ayolah, jangan membuatku banyak pikiran. Jangan membuatku memikirkan masalah kita, masalah emperor—"
"Hanamiya…" Kiyoshi memajukan wajahnya kemudian menelungkup pipi ricotta kekasihnya dengan kedua tangan, mengecup singkat keningnya. "Tolong, jangan pikirkan masalah itu. Sekarang hanya ada kau dan aku—jangan lihat hal yang lain, cukup pandang aku saja."
"Kiyoshi…"
'Ternyata memang, ada sesuatu yang salah darinya. Ia seakan menyembunyikan sesuatu. Namun, apa itu, aku tidak tahu.'
.
Entah sudah berapa ronde yang mereka mainkan. Tubuhnya perih, sakit, lelah, namun ia sama sekali tidak menyesal sudah melakukannya dengan Kiyoshi. Ini soal perasaannya, bukan soal fisiknya, 'kan?
Langit sudah mulai terang, matahari mulai menampakkan wajahnya. Ah, tidak apa-apa, Kiyoshi 'kan sudah pulang, jadi ia bisa bersanta—
"Lho, kau mau ke mana lagi, Kiyoshi?"
Kiyoshi menoleh ke arah kekasihnya yang memandang bingung, kemudian tersenyum. "Aku… Masih harus menyelesaikan urusanku dengan emperor, aku sudah berjanji akan kembali ketika fajar menyingsing."
"Begitu…" Hanamiya menundukkan wajahnya, ekspresinya berubah sedih. "Kau akan meninggalkanku sendirian lagi… Di sini?"
'Mengapa… Ia terlihat seperti akan pergi ke tempat yang jauh, di mana aku tak dapat menggapainya?'
"Ah—" Melihat ekspresinya yang seperti itu, Kiyoshi membalikkan tubuhnya, kemudian mengelus lembut pipi sang kekasih. "Ayolah Hanamiya, jangan memasang wajah seperti itu. Kau tahu aku lemah menghadapi wajah itu. Bisa-bisa urusanku takkan selesai."
Ya, mungkin akan lebih baik jika segalanya tidak selesai hari ini.
"Aku tahu, tapi…" Hanamiya mencengkram kedua bahu Kiyoshi, memandangnya dengan wajah penuh arti. Wajah sedih—wajah tidak ingin kehilangan. Ia tahu berat untuk berpisah walau sebentar saja, namun ia tidak bisa melawan titah emperor.
"…Kau akan kembali lagi ke tempatku berada, 'kan ya? Kau akan kembali lagi ke rumah ini—rumah kita berdua? Bisakah kau berjanji padaku?"
Iris kecoklatan itu membulat, namun tak lama tergantikan oleh senyum yang rasanya takkan memudar.
"Aku selalu bersamamu, Hanamiya."
"Kau tidak menjawab dengan benar." Hanamiya menggembungkan pipinya. Kiyoshi tertawa datar.
"Berdoa saja."
Dan segala kekhawatirannya tertelan dalam satu ciuman.
.
.
.
"Matahari mulai terbit, ya." gumam Akashi sembari menengok ke balik tirai jendela. Di wajahnya tertuliskan berbagai macam perasaan—cemas, takut, ingin hari ini cepat berlalu—segalanya. Ya, hari ini adalah hari itu.
"Kiyoshi Teppei… Sebentar lagi saatnya. Aku harus membangunkan Tetsuya."
Kreeet
Perlahan pintu kamar Kuroko terbuka, menampilkan penghuninya yang masih terlelap di meja tulis. Mungkin ia terlalu lelah menulis diary malamnya jadi ia tertidur. Akashi menghela napas pelan.
'Yah, masih ada waktu sebentar, mungkin dia akan kubiarkan istirahat sebentar lagi.'
"Ng?"
Tangannya menyentuh sesuatu yang bertekstur tebal. Ini 'kan, kalau tidak salah…
"Buku diary milik Tetsuya."
Tentu saja, ia penasaran dengan isinya. Ia tidak ingin melanggar privasi sang baby blue begitu saja—tapi tetap saja… Ia penasaran apa yang Kuroko goreskan di buku diary itu setiap hari. Karena ya, diary itu sama saja dengan gambaran perasaan, 'kan? Sedikit saja…
"Kalau hanya sebentar, tidak apa-apa, 'kan?"
.
Srek. Perlahan jemarinya membuka diary tebal itu secara acak. Tidak peduli hari apa, ia hanya ingin membacanya sedikit saja. Lagipula, ini catatan masa lalu, 'kan? Bertahun-tahun sudah berlalu.
Matanya membulat sempurna melihat segala perasaan yang Kuroko ekspresikan dalam kata-kata di diarynya.
'Hari ini sibuk sekali. Nijimura-san dilimpahi banyak pekerjaan, jadi aku harus membantunya. Syukurlah sore ini aku bisa bertemu Kagami-kun, setidaknya itu akan meringankan lelahku.'
Hari selanjutnya.
'Kagami-kun dan Akashi-kun hari ini bertengkar lagi, duh! Apa yang harus kulakukan, ya? Karena walau bertengkar, kupikir mereka sedikit mirip…'
Lompat ke minggu selanjutnya.
'Tebak, diary! Hari ini Kagami-kun membawakan bunga yang hanya tumbuh di dunianya di tempat tertentu saja. Walau ia bilang bukan apa-apa sih, tapi penampilannya yang acakadul menjelaskan semuanya. Ah, aku rela jika mati dalam keadaan bahagia seperti ini.'
Akashi semakin penasaran, ia membalik halaman demi halaman buku diary dengan cepat, melihat catatan yang penting-penting saja.
"Jadi, Tetsuya selalu… Memiliki rasa seperti ini terhadap Taiga?"
Beberapa hari sebelum berakhirnya diary.
'I…Ini tidak dapat dipercaya, diary. Hari ini sungguh… Sungguh mengejutkan, sekaligus membuatku senang. Rasanya segala permohonanku terkabulkan—Kagami-kun, Kagami-kun yang itu, hari ini mengatakan padaku bahwa ia men—'
"Akashi-kun?" Sang emperor terkejut mendengar suara yang memanggilnya dari samping tubuhnya. Ini gawat, Kuroko sudah terbangun. Langsung saja Akashi menutup buku tebal itu.
"Te-Tetsuya. Akhirnya kau bangun juga. Aku sudah menunggumu."
Kuroko mengernyit. "Akashi-kun… Apa yang kau lakukan dengan bukuku? Kau tidak membaca isinya 'kan… Ya?"
Sial.
Tidak. Ia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia membaca diary milik sang baby blue. Lagipula, sudah seharusnya ia menanyakan hal sepenting ini padanya. Ini harus ia tanyakan, demi memecahkan masalah beberapa tahun lalu.
Ya, harus.
"Tetsuya… Jangan bilang kalau catatan-catatan di diary inilah sesuatu yang kau sembunyikan?" tanya Akashi tegas sembari kembali membalik diary milik malaikat tangan kanannya. "Selama ini… Kau merasakan seperti ini… Terhadap Taiga?"
Iris sapphire di hadapannya membulat sempurna. Tak lama, Kuroko mulai menarik selimut dan menyembunyikan wajah di baliknya. Ia tetap diam seribu bahasa. Lama kelamaan Akashi kesal karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Apakah aku mengganggu hubunganmu?"
"…"
"Tetsuya, kumohon jawab. Aku tidak masalah jawaban apapun yang kau berikan, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada kalian berdua setelah Kouki menghilang dari sini." Nada suaranya melembut—karena ia tahu jika ia tetap memaksa Kuroko takkan mau menjawabnya.
"…Itu… Hanya cerita masa lalu, Akashi-kun. Akashi-kun tidak perlu memikirkannya. Ini bukan urusan Akashi-kun."
"Tetsuya, jika ini urusan salah satu dari kita berempat, maka ini urusanku juga." ucap sang emperor setengah memaksa. Oh ayolah, ini urusannya juga, kau tahu! Apa yang terjadi setelah itu, wajar jika ia menanyakannya, 'kan?
"Kubilang, ini bukan urusan yang harus dipikirkan Akashi-kun…" suara lembutnya mulai bergetar.
"Tapi, Tetsuya—"
"KAU TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN AKU MAUPUN KAGAMI-KUN, AKASHI!"
…
Terucapkan juga.
Melihat Akashi yang kaget—memandangnya tidak percaya, Kuroko kembali ke kesadarannya. Refleks kedua tangannya membekap mulut—apa yang ia teriakkan barusan?!
"Hah? Akashi-kun… Maaf, aku… Aku…"
"…Kau selalu menahannya selama ini?" Akashi melangkah kemudian menepuk pelan kepala sang baby blue. "Aku tahu, pasti berat. Maaf aku tidak menyadarinya selama ini—aku malah menyusahkanmu."
Kuroko tersentak, memandang balik iris heterokrom milik sang emperor. "Itu tidak benar! Hari ini… Aku hanya sedikit emosional saja, karena cerita itu."
"Kau tidak perlu sok kuat dan menyembunyikannya, Tetsuya." Nada bicaranya menegas. "Akan kubantu kau agar dapat bertemu dengannya kembali."
"Ta-tapi—bagaimana caranya?" Sang baby blue nampak tak begitu yakin, namun Akashi tersenyum.
"Aku ini emperor, aku pernah menjadi pemimpin dua dunia, serahkan saja padaku. Aku yakin ia juga sedang berada di suatu tempat, menunggumu. Nah, sekarang bersiap-siaplah, kita harus segera memulai kegiatan hari ini."
"Baiklah…" Kuroko menyeka air matanya yang sempat mengalir. "Terima kasih, Akashi-kun."
"Tidak setara dengan pertolonganmu padaku, Tetsuya."
.
.
.
"Aku datang, Akashi. Sesuai janjiku." Pakaiannya yang agak panjang berkibar tertiup angin. Kiyoshi Teppei, berdiri di depan mansion Akashi tanpa setitikpun keraguan. Ia sudah memutuskannya. Akashi menoleh, kemudian merespon,
"Kau datang juga—memang kau bukan pengecut." gumamnya sembari tersenyum pahit. "Jadi? Bagaimana salam perpisahanmu dengan Hanamiya kemarin? Begitu mengharukan, kah?"
Kiyoshi mengeratkan kepalannya.
"Tidak—aku tidak mampu mengatakan padanya. Tapi aku tidak berkata padanya akan kembali. Hanya aku akan selalu bersamanya—hatiku ini."
Akashi mendengus. "…Begitu. Pilihan cerdas." Merapikan poninya yang terpapar angin, Akashi mempersilahkan Kiyoshi masuk ke dalam mansionnya. "Ayo masuk, urusanmu kuserahkan pada Tetsuya. Aku takkan ikut campur—karena sesungguhnya, itu bisa mengingatkanku pada Kouki. Aku tidak ingin memikirkan hal menyakitkan lagi."
"…Baiklah. Di halaman belakang, ya?"
"Ya, di hamparan bunga-bunga di belakang mansion…"
'Ya, tempat di mana aku, Kouki, Tetsuya dan Taiga biasa berkumpul bersama. Tempat yang penuh kenangan, tempat yang penuh pertemuan dan perpisahan.'
.
"Ah, Kiyoshi-san." Kuroko yang tengah menuang teh melati ke cangkir menyadari kedatangannya. "Kukira Kiyoshi-san tidak akan datang. Aku juga tidak suka melakukan pekerjaan semacam ini, karena itu…" Kuroko menunduk sendu. Akashi menghela napas.
"Tidak banyak malaikat yang diberi kekuatan untuk mencabut, Tetsuya. Lagipula, Kiyoshi sudah menetapkan pilihannya." ujar Akashi. Kiyoshi mengangguk yakin.
"Begitu. Um… Akashi-san, kau bisa kembali mengerjakan berkas-berkas yang bertumpuk. Kiyoshi-san, kemarilah, aku ingin sedikit berbincang-bincang denganmu sebelum melakukannya."
"—berbincang-bincang?"
.
Wangi teh melati ini begitu kentara. Dari wanginya saja, Kiyoshi dapat tahu kalau Kuroko terlalu banyak menambahkan gula—karena sekarang ia tengah gugup, itu pasti. Walau ini pekerjaannya yang biasa, ia tetap saja tidak menyukainya. Apalagi ia harus menahan kekuatan agar tidak menyakiti seseorang seperti Kiyoshi—yang sebenarnya berusaha meraih kebahagiaan.
"—Tiramisu?"
"Ya. Kue dari dunia manusia. Dalam salah satu bahasa di dunia manusia, artinya 'izinkan aku pergi ke surga'. Doa agar seseorang yang menghilang dari dunia dapat meraih kebahagiaan abadi." ujar Kuroko sembari memotong kecil kue manis tersebut. Kiyoshi tertegun.
"Dasar… Kau ini sebenarnya tidak tega, ya?" Kiyoshi menaikkan sebelah alisnya, sedang Kuroko tertawa kecil.
"Yah… Karena yang Kiyoshi-san lakukan berdasarkan cinta, 'kan? Sebenarnya… Aku sedikit mengerti soal itu. Itulah yang ingin kubicarakan sekarang. Soal itu."
"Soal itu?"
.
Angin berhembus lumayan kencang, membuat rerumputan dan sekumpulan bunga menari-nari. Kuroko masih saja diam, kedua matanya terpejam dan bibirnya membentuk senyuman. Entahlah, mungkin di lubuk hatinya ia tengah mempersiapkan apa yang akan ia ceritakan.
Beberapa saat, barulah ia kembali berkicau,
"Ya. Waktu itu, belum semuanya kuceritakan… Yang kemarin kuceritakan adalah cerita tentang Akashi-kun." ucapnya seraya merangkai beberapa tangkai krisandi pangkuannya. "Sekarang akan kuceritakan tentang masa laluku. Asal Kiyoshi-san tahu… Aku sedikit mirip dengan Kiyoshi-san."
"…Mirip?"
Jemarinya berhenti membentuk mahkota krisan. Perlahan bibir merah muda itu kembali bergerak, membentuk kalimat. "Ya. Sebenarnya aku juga… Sempat jatuh cinta pada iblis. Awalnya memang aku merasa ia mengganggu, namun lama kelamaan… Kau juga pasti tahu rasa itu 'kan, Kiyoshi-san?"
"Ah—mencintai iblis?" Kiyoshi agak kaget, separuh tidak percaya. Namun Kuroko mengangguk, meyakinkannya.
"Itu benar, Kiyoshi-san. Namanya Kagami Taiga. Namun, tidak seperti Kiyoshi-san, aku tidak dapat memperjuangkan cintaku… Karena beberapa hal."
"Eh…?"
.
.
Flashback
.
"Begitu ya, ternyata Furihata memang tidak bisa tertolong lagi…" Kagami menutup wajah sedihnya dengan telapaknya yang besar, menahan pelupuknya agar tidak segera menumpahkan air. "Aku… Merasa bersalah karena kejadian ini. Ini salahku… Karena itu kita takkan bisa berkumpul berempat lagi…"
Kuroko menggeleng cepat, kemudian menggenggam tangan tan sang iblis. "Itu tidak benar, Kagami-kun. Ini bukan salahmu. Lagipula, aku yang diminta Furihata-kun untuk 'meringankan bebannya'…"
"Kau juga tidak boleh menyalahkan dirimu, Kuroko. Ngomong-ngomong… Bagaimana keadaan Akashi?" tanya Kagami lagi, Kuroko menundukkan wajahnya muram.
"Akashi-kun… Aku sudah mengajaknya untuk tinggal bersamaku, karena jika ia sendirian, kurasa akan berbahaya bagi tubuhnya—tidak, lebih pada mentalnya. Sekarang ia masih saja mengunci diri di kamarnya." jelas Kuroko pada Kagami yang ber 'ooh' pelan.
"Dia pasti sangat shock." ucap sang iblis merah cemas. "Kuroko… Kini giliranmu berperan untuk menghiburnya. Kumohon, jangan biarkan Akashi menghadapi hal seperti ini sendiri. Walau ia terlihat tegar dari luar, aku mengenalnya baik—dia pasti akan kesulitan bangkit tanpa dorongan."
"…Aku tahu itu."
.
Perlahan angin berhembus, menyusup melalui kehangatan kedua tangan mereka yang saling menggenggam erat. Keduanya sama-sama diam, hanya memandang langit yang dipenuhi bintang kecil berkilauan. Masing-masing dari mereka merasakan sakit—bukan fisik, ini sesuatu yang berbeda.
Sampai pada akhirnya Kuroko merasakan genggaman tangan Kagami mengerat. Menoleh, iblis bersurai merah dan hitam itu berkilat-kilat matanya. Karena lapisan cair yang hampir tak terbendung lagi.
"Sial, padahal baru beberapa hari yang lalu kita menyadari perasaan masing-masing." Suara yang biasanya tegas itu mulai bergetar hebat. "Sial sial, mengapa kita berempat harus mengalami hal seperti ini? Aku tidak mengerti…"
"Kagami-kun…?"
Mendadak Kagami mencengkram kedua bahu Kuroko dengan cepat—membuat pemiliknya memekik kaget, sedikit kesakitan. Ada apa? Kuroko sendiri tidak mengetahuinya. Hanya saja Kagami terasa berbeda, ia seperti tengah menahan sesuatu—atau merelakan sesuatu yang berat.
"Kuroko, mungkin ini permintaanku yang terakhir." ucapnya dengan napas berat. "Kau harus melimpahi Akashi dengan cinta, Kuroko. Dia tengah dilanda kesakitan tanpa ampun, ia membutuhkan dukungan! Aku tahu—tahu betul kalau kau tidak bisa menggantikan Furihata, tapi kumohon berusahalah. Kumohon kembalikan dia menjadi Akashi yang seperti dulu."
Kuroko membulatkan sapphire kembarnya.
"Ta-tapi Kagami-kun, itu mustahil. Karena kau tahu sendiri, yang kucintai adalah—"
"Aku tahu itu. Aku juga mencintaimu. Itu yang kukatakan padamu beberapa hari yang lalu, 'kan?!" Kagami memeluk sahabat sekaligus malaikat terkasihnya yang kini merona. "Karena sampai kapanpun, aku juga akan merasa begitu."
"Kagami-kun…"
Pelukannya semakin erat saja. Apa benar ia ingin aku lebih memerhatikan Akashi-kun ketimbang dirinya? Apakah hatinya kuat menerima segala ini? Padahal, baru beberapa hari lalu ia mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya padaku...
…
"Namun, kasus kali ini berbeda, Kuroko." Kembali ia berkicau. "Saat ini, yang membutuhkan lebih banyak cinta adalah Akashi, bukan aku. Aku rela jika itu untuk mengembalikannya seperti Akashi yang semula. Jadi…"
Mengapa, Kagami-kun? Mengapa kau mengatakan hal ini?
"Kumohon, Kuroko. Kumohon."
Lagi. Sama seperti permintaan Furihata-kun di akhir hayatnya.
Kuroko menutup setengah sapphirenya yang mulai berurai air mata. Mengapa? Mengapa Kagami bisa-bisanya meminta hal seperti ini, setelah mereka berdua saling mengakui perasaan yang mereka rasakan adalah sama? Mengapa—walau biasanya ia selalu bersemangat dan tidak mau kalah…Mengapa Kagami selalu memandangnya dengan sorot mata yang penuh kelembutan? Mengapa?
…
"Kagami-kun…" air mulai mengalir di pipi porselennya. "…Baiklah, aku akan menyanggupinya sebisaku." ucap Kuroko akhirnya. Kagami tersenyum lembut.
"Aku juga sesungguhnya tidak tahu apakah kita akan diizinkan bertemu kembali… Setelah terjadinya kasus naas seperti ini." Ini dia. Nadanya yang sudah putus asa. "Yah, walau aku menyesal tidak mengatakannya padamu lebih awal, jadi kita juga dapat berhubungan lebih lama… Segalanya telah berlalu, 'kan ya?"
"Kagami-kun…"
Kedua dahi saling menempel. Tak ada satupun yang rela menjauh.
"Jadi… Kurasa ini akhirnya, ya? Mungkin memang benar, cinta antara iblis dan malaikat takkan terwujud."
.
Tes. Tes.
"Ukh—" Kuroko tak kuasa membendung air matanya lagi. Sedih, ini terlalu menyedihkan. Mengapa cinta mereka selalu terbatasi seperti ini? Mengapa ia tidak segera menyadari debaran yang selama ini tersembunyi dalam dadanya? Mengapa… Dunia harus sekejam ini pada mereka?
Di sela musim yang mulai berubah, setetes air mata jatuh. Dengan lembut tangan tan itu mengusapnya, tak ingin menyakiti yang terkasihnya lebih dalam lagi. Ia tidak mau. Namun, ia sendiri menyembunyikannya, dengan memandang langit yang begitu luas.
'Aku pernah melihat mimpi di mana kita dapat terus bersama—sesuatu yang juga diharapkan oleh banyak pasangan. Namun itu hanya permintaanku yang egois, 'kan? Itu hanya permohonanku yang memilukan, 'kan? Maaf—tapi apa yang dapat kita lakukan dalam batasan seperti ini?'
"Kumohon, Kuroko. Jangan menangis lagi. Bila sebegitu sulitnya melupakan diriku, maka pelan-pelan saja." pinta Kagami setengah terkekeh—yang terasa sedih. Kuroko mengangguk, kemudian menyeka air matanya, membuat sang iblis tersenyum hangat.
"Kalau begitu, ciuman terakhir untuk mengakhiri hubungan kita?"
.
Flashback End
.
.
...
"Begitukah yang terjadi? Aku… Aku sama sekali tidak tahu." Kiyoshi berucap lirih. Kuroko hanya tersenyum kosong di hadapannya.
"Tidak perlu kau pikirkan, Kiyoshi-san. Aku hanya ingin menceritakan pengalamanku. Yah, sampai sekarang aku tidak tahu di mana ia berada, apakah masih berada di dunianya atau tidak." Tangan terampilnya kembali menyusun krisan sedemikian rupa hingga membentuk mahkota. "Karena itu, aku jadi tahu… Hubungan malaikat dan iblis takkan terwujud. Seperti sekarang ini juga, 'kan?"
"Ahaha, kau benar…" Kiyoshi tertawa miris. "Kalau begitu… Mau apa lagi. Memang sudah sepantasnya."
Kuroko kembali tersenyum, kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Kiyoshi-san… Apa kau siap melakukannya sekarang? Kalaupun belum, aku akan menunggu sampai kau siap."
"Tidak, kau tidak perlu menunggu, Kuroko." Kiyoshi pun bangkit dari tempat duduknya kemudian menuju rerumputan yang berdesir. "Aku siap dengan apapun yang harus kuterima. Sebagai hukuman. Namun juga sebagai tanda… Aku pernah mencintainya. Sungguh, itulah hal yang paling kusyukuri sepanjang hidupku."
.
.
PRANG
Sebuah mug berukuran sedang jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Sementara iblis yang sendirian di ruangan itu, mengerang kesakitan seakan tengah terbakar api yang paling panas. Bukan hanya panas—luka-luka mulai terbentuk di sekitar sayapnya yang hampir habis.
Tidak—ia tidak bisa membiarkan dirinya berakhir begitu saja seperti ini. Ia belum meraih Kiyoshi. Ia belum dapat… Bersama dengannya.
"Kiyoshi—Kumohon cepat kembali, aku akan menahan rasa sakit apapun hingga kita bisa… Ukh—bersama…"
Namun rasa sakit itu tetap mencengkram tubuhnya.
"AAAAAAAKH!"
.
Dunia kembali menjadi gelap. Pingsan? Apa dirinya tidak sadarkan diri? Apakah sudah berada di dunia sana sekarang? Ia tidak tahu. Yang jelas, mendadak kegelapan itu menyilaukannya. Seberkas cahaya mulai bersinar dari titik terujung pandangannya.
Cahaya… Mulai mengisi kegelapan.
...
'Wahai iblis yang tengah mencinta, pilihlah.'
'Pilihlah.'
Mendadak suara-suara aneh merasuki kesadarannya.
'Apa kau ingin tetap seperti ini… Atau kau ingin hidup sebagai malaikat? Jika kau memilih untuk menjadi seperti ini, aku akan mengembalikan sayapmu ke bentuk semula, kau bisa kembali ke dunia asalmu, dunia iblis. Sebaliknya, jika kau memilih menjadi malaikat, aku akan memberimu dua sayap putih yang lebih indah dan bercahaya dari apapun, penghargaan dari kesabaran dan rasa cintamu selama ini.'
"E…Eh?" Awalnya ia tidak mengerti apa maksud suara yang memanggilnya tersebut, namun…
Jika di sana ada dua pilihan, sudah pasti ia akan memilih pilihan yang terbaik baginya, terbaik untuk sekitarnya, pilihan yang dapat memberinya kebahagiaan…
…Yang selama ini ia harapkan dari lubuk hatinya.
"A…Aku…"
'Itu sudah pasti, aku akan menyusulmu, Kiyoshi Teppei.'
...
...
Seorang malaikat yang telah kehilangan kedua sayapnya tertidur tenang di tengah rerumputan dan bunga-bunga, untuk selamanya. Wajahnya damai dan bibirnya tersenyum, air matanya perlahan mengering, seakan terbawa pergi angin yang berhembus perlahan.
Kuroko, sang malaikat pencabut bersurai biru langit, mengusap air matanya yang masih mengalir, meletakkan sepiring Tiramisu dan memakaikan mahkota krisan kepada sang malaikat brunet yang kini telah menutup mata.
"Beristirahatlah dengan tenang, Kiyoshi-san. Kau telah melakukan hal baik untuk dunia ini. Terima kasih banyak…"
Hembusan nafasnya yang samar takkan lagi terdengar. Senyumnya yang hangat bak mentari takkan lagi memancarkan sinarnya. Hatinya yang selembut sutra takkan dapat menolong orang-orang di sekitarnya lagi.
Kiyoshi Teppei, takkan dapat kembali lagi.
Perlahan terdengar banyak langkah dari kejauhan. Yang pertama adalah Aida Riko dan teman-teman malaikatnya, semuanya menahan kesedihan agar tidak terpantul di wajah mereka—semua berusaha menyunggingkan senyuman. Dan, mereka yang mendapat kabar entah dari mana—kemungkinan besar dari Akashi—Aomine dan Sakurai, yang kini bergenggaman erat, berusaha mengusir duka.
Pagi hari ini, dunia kehilangan salah satu malaikat yang berpengaruh dalam kelangsungannya.
.
Di tengah kesedihan itu, sebuah cahaya memancar dari balik gerbang mansion. Cahaya yang terang dan indah, jauh lebih indah dari apapun. Biasan cahaya putihnya bak aurora yang mengisi langit, iris kehijauan itu membuat semua mata terhipnotis saat melihatnya, sementara bulu-bulu sayap megahnya putih bersih, perlahan menuju tempat mereka berada.
Semua yang ada di sana tercengang. Tidak, mereka hampir tidak bisa mempercayai penglihatan mereka. Siapa sangka malaikat suci yang berdiri di hadapan mereka… Sebelumnya adalah iblis yang menahan luka di tubuhnya? Hanamiya Makoto—begitulah namanya.
"Kiyo…shi? Di mana?" Ia mencari-cari, menyingkirkan Riko yang berusaha menghalangi tubuhnya. Ia harus melihat sendiri, apapun yang menunggunya di seberang.
Ya, apapun…
Barulah kedua iris kehijauan itu membulat sempurna memandang malaikat brunet yang tengah tertidur damai di permukaan permadani bunga-bunga. Tidak, jangan bilang—
"Kiyoshi…? Ini bohong, 'kan ya?"
Riko menggeleng cepat, berusaha menahan malaikat yang baru terlahir kembali itu menyentuh tubuh kaku kekasihnya. Namun dengan mudah Hanamiya melangkah.
"Kiyoshi… Jangan main-main denganku. Ini bukan saatnya untuk bercanda, kau tahu."
Suaranya bergetar. Akashi tersenyum getir, Riko mencoba meyakinkannya.
"Hanamiya-kun, Kiyoshi sudah…"
"Tidak." tegasnya. "Aku tidak suka kau bermain-main di saat seperti ini, Kiyoshi. Bangunlah, hei, bangun sekarang juga!"
Berapa kalipun ia mengguncang bahunya, tubuh kaku di hadapannya ini takkan menggubris.
"Hei, bangun… Kau sudah janji padaku, 'kan? Kita akan selalu bersama, begitu. Hei…" Perlahan setetes demi tetes air mata mengalir tanpa ia sadari. "Kiyoshi bodoh, kau 'kan yang mengatakannya padaku… Aku benci janji palsu, hei…"
Semua yang melihatnya tak kuasa membendung air di pelupuk mata masing-masing. Menyadari reaksi asing malaikat di sekelilingnya, Hanamiya terbelalak.
"Ini—bohong, 'kan?"
Ha. Hahaha. Jangan membuatku tertawa.
"Lalu… Yang kau katakan semalam itu… Hanya sekedar kebohongan, Kiyoshi? Apakah ini salahku telah memercayaimu? Apa aku terlalu naïf sehingga membiarkanmu pergi begitu saja?"
Tes. Tes.
Hanamiya menempelkan tubuh lemahnya ke tubuh beku sang kekasih, sayapnya mengembang karena kesedihan. Seluruh tubuhnya bergetar, tak kuasa menahan duka.
"Memang aku sungguh bodoh, karena mencintai malaikat brengsek, pembohong sepertimu… Selama ini, aku terus menunggumu—aku memang bodoh sekali, benar-benar…"
Air matanya seakan menolak untuk berhenti.
"Padahal aku sudah berusaha menahan rasa sakit ini, hanya demi bersamamu, kau tahu…"
.
"Kiyoshi… Mengapa kau meninggalkanku secepat ini?"
Hanamiya Makoto, menangis bisu dalam pelukan kekasihnya yang tak sehangat dulu. Entah karena egonya yang terlalu tinggi untuk menunjukkan tangis, atau…
Hatinya sudah terlebih dahulu meneriakkan berjuta perasaannya.
.
.
Tak jarang kita bertengkar saat bertatap muka
Tapi itu masih sebuah kenangan yang indah, itulah yang kau katakan padaku—karena itu aku tidak takut lagi.
Walau apapun yang membatasi kita berdua, aku pasti akan meraih kebahagiaan, karena itu…
Walau sendirian, aku tetap 'kan berjalan
Walau aku merasa ingin mati saja, aku mendengar sayup-sayup suaramu 'janganlah kau mati'
Walaupun begitu berat kujalani, walaupun kesepian ini membuatku menangis,
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasakan kehangatanmu.
Berputar dan mengalir, walaupun waktu ini perlahan memudar,
apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku tak mengingatnya lagi.
Saat ku coba menutup mataku, terdengar suara tawa seseorang.
Entah mengapa, saat ini itulah…
Hartaku yang paling berharga.
.
[A/N] akhirnya selesai chap 15, masooo ngejar dedlen~ 2 bulaaaan~ update kilaaat~ /boboan/ ah ya, bila kalian berhenti membaca sampai sini, berarti bad end ya :) sementara lanjutan ending lain masih berlanjooooot dibawah ^w^)/
Tapi sekarang, balas ripiu dulu ya? :3
.
Kagami Tania
Oke, ini kelanjutannya...
Hanaciel Jaeger
hmmm, nasib kagami mungkin akan dilanjut di arc setelah ini :3/ belum pernah kayaknya wakakaka xD /disambit/ oke, ini chap 15nya, update kilat lagiii :3
Cookie Kouki Cookies
iya, toh badan dia juga nggak akan bertahan lama lagi :') salah siapa? salah authoooor /ei/ hmm, soal kagami akan dilanjut di arc habis ini yah :3/ jadi yang kurang puas yang masih penasaran tenang aja, deh xD ini updatenyaa~
Kurotori Rei
yah, ini karena macam2 hal~ hubungannya dijelasin di sini yah :3/ dan iya, kagami itu iblis. KiyoHana mah bahagia...mungkin /plak/ syukurlah rata www xD ini lanjutannya :3
Guest
Kuatkan kokoromu, nak xD
.
Maukah meninggalkan jejak? :3
kiyoha
.
.
Ternyata memang mustahil. Ia tidak bisa. Ia tidak bisa melalui hidup—walau dengan sayap barunya—sendirian saja. Ia butuh keberadaan sang brunet di sampingnya. Ia tidak kuasa menahan kesendiriannya.
'Ternyata memang… Kau yang berjanji akan selalu di sampingku, adalah seorang pembohong, Kiyoshi.'
Apakah ini akhirnya?
Apa memang kisah kita hanya sampai di sini saja?
Jangan bercanda! Aku… Aku masih membutuhkannya. Aku membutuhkannya kembali di sampingku.
Kumohon, Tuhan, walau dengan cara apapun, walau aku harus terlahir kembali ataupun menyusuri waktu, biarkanlah ia kembali berada di sisiku!
.
"Itukah yang kau harapkan?"
.
Perasaannya… Tersampaikan. Kembali ia mendengar suara-suara yang memanggilnya entah dari mana. Yang penting, ia harus segera mengembalikan Kiyoshi ke sisinya, apapun cara yang harus ia lakukan! Ayolah, setelah segala rintangan yang ia lalui, tidak adil rasanya jika cintanya berakhir begitu saja seperti sekarang!
"Ya! Aku ingin ia kembali ke sisiku, walau apapun yang terjadi. Kumohon dengan sangat."
.
"Baiklah. Untuk sekali ini, karena kesungguhkan hatimu, Kami akan berusaha mengabulkannya. Namun ada beberapa kondisi yang harus kau ketahui…"
"Apa itu? Aku akan menyanggupinya!" seru Hanamiya tanpa ragu lagi. Apapun tak masalah. Asal Kiyoshi kembali kepadanya.
"Yang pertama adalah… Kiyoshi Teppei akan kehilangan sebagian ingatannya. Sebagai gantinya, ia akan mengetahui hal yang seharusnya tidak ia ketahui. Apakah itu tidak masalah untukmu?"
"Tidak! Tidak masalah sama sekali! Yang paling penting, kembalikan si bodoh itu ke sisiku!"
.
Saat itu ia tidak mengetahui, rintangan apa yang akan menghadang saat ia menyanggupi kondisi menyulitkan itu.
.
.
.
TBC?
[A/N] cerita akan berlanjut lagi!
