Ng…?
Apakah sekitarku selalu begini terang?
Rasanya nyaman sekali… Entah mengapa. Apa yang sebenarnya terjadi?
…
"—yoshi!"
Apa yang ada di luar…? Apa yang akan terjadi bila aku membuka mataku?
Suara yang memanggil ini… Begitu familiar…
…
…
"Kiyoshi! Akhirnya…"
Hanamiya segera memeluk sang kekasih yang baru membuka iris kecoklatannya. Syukurlah. Syukurlah. Semua yang melihat mereka berdua terbelalak, tidak percaya dengan apa yang barusan saja terjadi.
Kiyoshi Teppei, terbangun kembali—dengan sepasang sayap putih utuh, yang lebih besar dari sebelumnya.
"Ini tidak mungkin… Mengapa bisa…" Kuroko menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tidak, ia tidak memercayai ini. Seharusnya kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi, 'kan?
"Pasti… Permohonannya terdengar," Akashi bergumam. "Tapi, kasus seperti ini baru pertama kali kujumpai. Tidak kusangka Kiyoshi Teppei bisa kembali bangun lagi."
Seandainya saja… Kouki juga dapat kembali.
...
"Ung… Ini…" Kiyoshi masih terlihat bingung, sebelah tangannya mengusap-usap mata, tidak tahu apa yang terjadi. Rasanya hanya—kosong.
"Kiyoshi… Kau kembali."
Lagi, kedua tangan pucatnya melingkari leher sang kekasih, menghapus segala rasa sakit yang membebaninya selama ini. Sungguh, ia benar-benar bersyukur permohonannya terkabul. Namun… Kiyoshi sendiri sepertinya tidak mengerti apa yang terjadi dengannya. Sedari tadi ia hanya menatap kosong sang eboni, kemudian berucap,
"Kau ini… Siapa?"
Angel, Devil and Forbidden Love Story
.
A Kuroko no Basuke fanfiction
Special for KiyoHana Day 2015
.
Disclaimer
Story ©kiyoha + ShanataS
Characters ©Fujimaki Tadatoshi
.
Rate:
M untuk yang asem asem itu /apa/
.
Pairing
KiyoHana, AoSaku, dan banyak pairing lainnya /heh/
.
Presented by Kiyoha
"Kau ini… Siapa?"
Kedua pupil Hanamiya membulat sempurna tatkala mendengar kekasihnya itu mengucapkan kalimat yang terasa aneh.
'Apa Kiyoshi bilang tadi? Siapa?'
"He-hei, jangan bercanda…" suaranya mulai bergetar tidak suka, "Aku, Hanamiya Makoto, apa kau tidak mengenaliku? Kita selalu bersama selama ini, 'kan!"
'Jangan bilang… Ini yang dimaksud dengan kondisi yang harus kuketahui? Kalau Kiyoshi akan melupakan sesuatu?'
Kiyoshi menggaruk belakang kepala, wajahnya tampak sulit. "Aku… Err, di mana Hyuuga? Rasanya terakhir kali aku sedang mengobrol di rumahnya… Mengapa aku tiba-tiba kembali ke sini, ya?"
"…!"
.
Hyuuga? Hyuuga? Di mana Hyuuga?
Itu hal yang ia katakan segera setelah bangun? Tentang Hyuuga?
Tapi—mengapa?!
"Bohong…" Hanamiya melangkah mundur, mendadak tubuhnya lunglai dan jatuh berlutut. "Kenapa… Kau tidak mengenaliku, Kiyoshi?"
"Su-Sungguh, aku tidak berpura-pura." Kembali ia menggaruk belakang kepalanya. "Aku memang tidak mengenalimu… Apa kita pernah bertemu di suatu tempat? Aku belum pernah melihat malaikat sepertimu."
"A-Akh…"
Bohong. Ini bohong, 'kan? Tolonglah, siapapun, katakan padaku kalau ini hanya kebohongan belaka.
"Hilang ingatan." Tiba-tiba saja sang emperor melangkah maju, berdiri di samping Hanamiya yang tengah menggenggam telapak kekasihnya erat. "Tapi… Kurasa takkan lama. Sepertinya lama kelamaan ia akan mendapatkan ingatannya kembali. Yah, semoga saja."
"Kau pikir begitu? Kuharap saja benar."
"Anu… Kalian belum menjawab pertanyaanku." ucap sang brunet, memotong pembicaraan kedua malaikat. Wajahnya masih saja kebingungan—seakan tempat ini begitu asing untuknya.
"Begini, lho… Mengapa tiba-tiba aku ada di sini? Harusnya aku 'kan sedang bersama Hyuuga sekarang—ya 'kan?"
Hanamiya tersentak. Ia ingin menjawab, namun tenggorokannya tercekat. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang kini bergetar. Melihat itu, Riko melangkah maju dengan berani, meminta Hanamiya mundur kemudian memandang sang brunet lekat.
"Hyuuga sudah tidak ada di dunia ini, Kiyoshi Teppei. Ia sudah meninggal—ia tertabrak kereta yang melaju kencang."
Kedua iris kecoklatannya membulat.
"Ti-tidak mungkin! Habisnya… Kemarin saja aku masih mengobrol dengannya, kok… Mengapa—tidak mungkin. Ini bohong 'kan ya?"
Kiyoshi berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa 'sahabatnya' itu masih ada, masih bernafas. Namun Riko menggeleng cepat.
"Tidak, Kiyoshi. Sebenarnya, selama beberapa waktu kau tidak sadarkan diri… Karena banyak hal. Entahlah—kau seharusnya tahu, tapi kau tidak mengingatnya. Hyuuga sudah meninggal… Sejak lama."
"Bohong—"
"Itu benar, Kiyoshi Teppei." Akashi menegaskan suaranya. "Hyuuga Junpei, sudah tidak ada di dunia ini."
Ya, kenyataan pahit yang tak ingin ia dengar. Kenyataan pahit yang tak ingin ia percayai.
.
"Dan lagi…" Akashi melangkah, kemudian mendorong pelan punggung Hanamiya, membuatnya menghadap ke arah sang brunet. "Kekasihmu sekarang... Dia, Hanamiya Makoto. Kau yakin tak mengenalnya? Kau yakin tak mengingatnya sama sekali?"
Hanamiya berharap-harap cemas. Tangannya mengepal kuat, berusaha tegar. Kiyoshi hanya memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Mengapa? Mengapa ia bisa tidak ingat?
"Ma-Maaf… Maaf, aku benar-benar tidak ingat. Aku merasa pernah melihatmu, tapi ingatanku buram. Segalanya jadi tidak jelas. Aku… Aku…"
'Dia kembali ke sisiku. Namun dia tak mengingatku. Dia… Masih berusaha mengingat siapa diriku. Hanya dengan itu… Apakah tak apa untukku? Aku sendiri tak tahu.'
Hanamiya merunduk, kemudian memeluk erat sang malaikat brunet, membenamkan wajah di bahu tegapnya. Mulus tanpa cacat. Tidak ada luka, tidak ada noda… Tidak ada 'tanda' yang ia berikan, semuanya…
Kiyoshi Teppei seakan diputar balik, kembali ke dirinya yang dulu. Dirinya sebelum mengenal Hanamiya Makoto. Dirinya ketika masih hidup dalam kedamaian bersama Hyuuga Junpei.
"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Kau bisa mengenalku dari awal lagi, Kiyoshi." lirih Hanamiya tepat di telinga sang kekasih. "Hanya saja… Tolong, tolong, anggap aku ini… Kekasihmu, Kiyoshi. Aku ini kekasihmu. Walau aku bukan Hyuuga. Kau mungkin tidak mengingat hari-hari yang kita lalui bersama, tapi… Ayo mulai lagi dari awal."
'Apa yang sebenarnya kulakukan? Apa yang sebenarnya kuharapkan? Apa aku ingin Kiyoshi kembali mencintaiku lagi, ingin kita kembali hidup bersama lagi? Padahal… Dalam keadaan yang sekarang, rasanya akan sulit. Harusnya aku tahu…'
"Aku… Akan berusaha, err, Hanamiya."
'…Kalau Kiyoshi Teppei yang ini… Hanya mencintai Hyuuga Junpei, dan bukan diriku.'
.
.
.
"Mengapa… Kiyoshi-san bisa kehilangan ingatan—tapi hanya ingatan tentang hari-harinya bersama Hanamiya-san? Aku tidak mengerti… Ini sungguh aneh." Sakurai bergumam—ia berpikir keras, mengapa segalanya jadi begini. Ia bersyukur Kiyoshi bisa kembali lagi ke dunia ini… Tapi rasanya, kehilangan ingatan seperti ini justru lebih menyakitkan.
"Kasihan Hanamiya-san… Apa ada yang bisa kulakukan untuknya, ya?"
SRAAAK
Aomine menutup tirai kamar, wajahnya tersenyum seakan ingin menenangkan sang fallen angel. Tak lama, tangan tannya mendekat dan menepuk pelan kepala brunet Sakurai.
"Kau tidak perlu khawatir, Ryou. Emperor juga sudah bilang 'kan, pasti hilang ingatannya hanya sementara saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan." ujarnya lembut. "Kalau misalnya tidak kembali juga, mereka bisa mengulang dari awal. Tidak ada yang salah dari itu, 'kan?"
"Ta-Tapi tetap saja, Aomine-san." Sakurai berucap cemas. "Kehilangan ingatan tentang orang yang kau cintai itu… Menyakitkan."
Aomine terdiam, ia masih berdiri dalam bisu. Memang, yang Sakurai katakan juga tidak salah, tapi… Jika sudah begini, bisakah mereka kembali?
"Aku pun… Walau sepertinya sudah dilupakan, tetap saja aku tidak ingin melupakan hari-hariku bersama Imayoshi-san. Walaupun menyakitkan… 'kan?"
"Ryou…" Aomine kemudian mendecakkan lidah, alisnya menukik, bersamaan dengan iris kebiruannya yang memandang tajam sang fallen angel. "Jangan membuatku panas dengan mengatakan hal seperti itu."
"Eh? Maksudnya—kyah!"
Tubuh kurusnya terdorong jatuh ke ranjang, sayap hitamnya sedikit menghantam ujung kerasnya, membuat Sakurai merintih pelan. Mengapa tiba-tiba Aomine mendorongnya dengan kasar seperti ini?
"Ryou." Suara bariton itu menggema.
"E-eh? Aomine-san…? Ada apa, mendadak begitu? Sakit…"
Rintih kesakitan Sakurai menyadarkannya, mengirimkannya kembali ke kenyataan. Plak! Ia menampar pipinya sendiri.
'Duh—sadar, Aomine Daiki! Apa yang barusan mau kau lakukan padanya!?'
"Ma-Maaf, Ryou. Aku… Tanpa sadar…" Ia bangkit kembali dan duduk di pinggir ranjang. Wajahnya malu, seperti merasa bersalah. Melihatnya, Sakurai terkekeh pelan.
"Aomine-san… Jangan-jangan cemburu?"
"Ap—SIAPA YANG CEMBURU! Duuuh…" Aomine mengacak helaian brunet fallen angel di hadapannya dengan gemas. Sial, bisa-bisanya saja ia menggodanya seperti itu—harusnya Aomine tahu kalau Sakurai itu tidak se-innocent yang ia pikir. Ia tetap mengacak rambut Sakurai dengan sebal—sementara empunya hanya tertawa-tawa geli.
Aomine mendengus. Dasar Sakurai, usil sekali padanya. Ya sudahlah—salahnya juga yang tiba-tiba tanpa sadar mendorongnya ke ranjang seperti itu. Kan bisa dikira mau macam-macam nanti. Lagipula… Ia 'kan punya sesuatu yang harus ia katakan pada sang brunet, hampir saja ia lupa.
"Oh iya, sebelum aku lupa memberitahumu… Aku punya satu teman ini, dia sedang terkena masalah… Masalahnya sudah dari lama, sih. Mau mendengarnya?"
"Hmm? Masalah apa, Aomine-san? Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Sakurai. Aomine mengangguk kemudian melanjutkan,
"Ya, ini sesuatu yang perlu bantuanmu. Dia… Sedikit mirip denganmu, kurasa. Sekarang ia sedang diisolasi, sebagai hukuman atas perbuatannya."
"He… DIISOLASI?!" Sakurai berteriak tidak percaya. Diisolasi, diasingkan—ia pasti dikurung di suatu tempat sekarang. Untuknya, yang memang sudah pernah merasakan dikurung oleh Imayoshi, ia tahu betapa tidak enaknya. Tapi… Apa yang membuat 'iblis ini' diisolasi seperti itu? Kesalahan apa yang dilakukannya?
"Yah… Diisolasi. Permasalahannya sepele—itu juga hanya karena pemimpin yang sekarang tidak sependapat dengan pemimpin yang dulu—Emperor." ujar Aomine menjelaskan. "Dia ini… Iblis yang memiliki rasa pada malaikat… Begitulah. Kau tahu 'kan peraturan antar dunia saat ini seketat apa. Kau juga pernah merasakan ikatannya."
Sang brunet hanya mengangguk pelan. Memang, para petinggi dari tiap dunia sudah berubah pola pikirnya, mereka pikir ini yang terbaik—walau sebenarnya peraturan ini membuat banyak yang menderita. Ia, Imayoshi, Kiyoshi, atau Hanamiya, contohnya. Peraturan di mana iblis dilarang keras menjalin hubungan dengan malaikat.
Memang—itu untuk kebaikan, 'kan? Tapi pada faktanya… Bukankah keadaan malah memburuk dari waktu Emperor masih memimpin dunia iblis?
"Be-begitu, ya… Ia juga sama, ya… Pantas saja Aomine-san menceritakan hal ini kepadaku." Sakurai bergumam tanda mengerti. Aomine mendengus kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ya. Kuberitahu, ya. Awalnya, dia itu pemimpin yang cukup tinggi di dunia ini… Mengatur prajurit, membuat strategi, melakukan perlindungan, membantu pemerintahan… Ia panglima perang. Tangan kanan Emperor. Namun, setelah terjadinya kejadian naas yang melibatkan cinta iblis dan malaikat—ditambah lagi ia ketahuan para petinggi, kalau ia dalam status berhubungan dengan salah satu malaikat tinggi di sana… Ia segera dijauhkan, diasingkan, diisolasi." Kembali sang iblis dark blue menjelaskan, membuat sang fallen angel menyentuh bibir, menandakan cemas. Yah—Aomine hanya bisa berharap kenyataan tak seburuk yang ia kira.
"Aku… Ingin menolongnya. Maukah kau membantuku menyelamatkan temanku, Ryou?" tanyanya sekali lagi, memastikan. Awalnya ragu, tapi Sakurai mengangguk mengiyakan. Tidak ada salahnya—ia juga sudah lama merepotkan Aomine, jadi membantu seperti ini pasti hanya hal kecil untuk membalas kebaikannya.
"Aku mengerti. Aomine-san, kalau ada yang bisa kulakukan, katakan saja padaku, aku akan coba membantu, entah bagaimana caranya."
Mendengar itu, sang iblis tersenyum, kemudian menepuk lembut puncak kepala sang fallen angel.
"Terima kasih, Ryou. Baiklah, karena saat aku memeriksa ke penjara, ia tidak ada—aku akan mencari tahu tempat ia dikurung dan membuat rencana… Tunggu saja."
"Iya, aku akan tunggu. Saat itu… Aomine-san jangan ragu-ragu untuk meminta bantuanku, ya?"
.
.
"Hei, Susa…" Iblis bersurai eboni itu membenarkan letak kacamatanya yang miring, sambil berkata: "Kudengar, Kiyoshi sudah tidak ada, lho."
Sementara di hadapannya, sang panglima tersedak kopi.
"Uhuk—jangan bilang, kau masih…?"
Imayoshi tersenyum lebar, kemudian berseru dengan logat yang khas. "Tentu saja, dong! Bukannya ini kesempatan untuk merebut Hanamiya lagi?"
Susa hanya bisa menghela napas kemudian menepuk jidat. Dasar Imayoshi, di saat sudah kalah begini masih saja ia memikirkan hal yang tidak-tidak. Masih saja ia memikirkan bagaimana caranya merebut Hanamiya kembali dari Kiyoshi. Haah.
Kapan dia akan sadar, sih? Daripada Hanamiya, aku 'kan…
"Imayoshi, kau itu keras kepala sekali, sih." Sebal, Susa memukul pelan kepala teman masa kecilnya itu dengan buku yang tengah ia baca—membuatnya mengerang pelan. "Sampai kapan kau mau berpikir untuk merebut Hanamiya kembali. Lagipula, kau ini ketinggalan berita, tahu. Memangnya kau tidak dengar kalau Kiyoshi bangun kembali… Dan hidup bersama Hanamiya sebagai malaikat?"
"He?" Wajahnya tampak terkejut. Susa semakin membenamkan wajahnya dalam tangan.
Benar-benar, ia ketinggalan berita.
"Karena itu, Hanamiya sudah menjadi malaikat, sebaiknya kau tidak usah berharap dapat merebutnya lagi ke sisimu." ucap Susa akhirnya, sembari menepuk-nepuk kepala Imayoshi yang kini merengut sebal.
"…Tinggal kurebut saja, susah sekali, sih."
"Imayoshi!"
Kesal dengan temannya yang keras kepala, Susa mendorong tubuh Imayoshi yang lebih mungil darinya hingga jatuh ke permukaan sofa yang empuk. Imayoshi tertawa geli melihat sang panglima kesal—tanpa tahu sikap menyebalkannya bisa berakibat fatal. Ya—Susa bisa mengamuk nanti.
"Susa, kau ini benar-benar lucu, ya. Masa baru kubilang begitu, kau sudah… Heh?"
Imayoshi merasakan sesuatu menelungkup pipinya.
"Imayoshi, aku serius." Suara bariton Susa semakin terasa memaksa, "Aku sudah terlalu sering mengurusi keegoisanmu dari dulu, jadi…"
Glek. Ini buruk.
"…Giliranku untuk menjadi sedikit lebih egois."
"Su—mmph?!" Mendadak saja, Imayoshi merasakan mulutnya terkunci oleh sesuatu yang hangat, rasanya sesak—Susa mengunci bibir Imayoshi yang tidak bisa diam itu dengan bibirnya sendiri. Panik dan terkejut, Imayoshi mulai meronta-ronta—yang benar saja! Mengapa tiba-tiba Susa menjadi agresif begini?!
"Lepa—aaahn…"
'Mengapa? Mengapa mendadak Susa menciumku dengan kasar seperti ini? Dia tidak pernah begini sebelumnya!'
Sampai beberapa saat, pagutan mereka pun terlepas, meninggalkan segaris saliva di antara kedua lidah mereka. Imayoshi menarik napas panjang, masih shock karena perlakuan Susa barusan. Mengapa Susa yang biasanya kalem dan pengertian bisa melakukan hal seperti ini padanya? Ia benar-benar tidak mengerti.
"Imayoshi…"
Lagi, bisikan Susa terasa benar-benar seduktif di telinganya.
"Su-Susa? Tunggu, kau kenapa, hei—"
"Imayoshi, aku takkan menahan diri lagi kalau kau sampai mencoba melarikan diri dariku. Jangan lupakan itu. Aku sudah lama menunggu kesempatan ini, dan aku takkan melepaskannya."
"Tunggu, Susa—gyaa! Aku mengerti, jangan tarik bajuku seperti itu!"
Hari ini Imayoshi belajar hal yang penting, yaitu jangan pernah sekali-kali membuat Susa mengamuk, apalagi membuatnya cemburu.
.
.
.
Beberapa hari berlalu. Kiyoshi dan Hanamiya menjalankan kehidupan seperti biasa—walau ada satu hal yang beda, Hanamiya merasa Kiyoshi tidak bersikap seperti kekasihnya. Wajar saja, ia kehilangan separuh ingatannya tentang Hanamiya. Satu hal yang paling tidak Hanamiya harapkan dari sang kekasih—melupakannya. Namun mau bagaimana lagi.
"Kiyoshi?" panggil sang eboni dari dapur. "Aku membuat teh, mau minum tidak? Tidak juga tidak apa, sih—bukannya aku mengharapkannya."
…Tak ada jawaban.
Menoleh dari balik dinding, Hanamiya mendapati 'kekasih'nya itu tengah duduk terdiam di ranjang sambil mencengkram kepalanya. Wajahnya terlihat bingung. Penasaran apa yang tengah dipikirkannya, Hanamiya melangkah kemudian menepuk pundak sang brunette.
"Hei, kubilang ada teh—"
"Hanamiya." Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Kiyoshi menoleh. "Kita… Pernah bertemu di suatu tempat, ya? Misalnya—dunia manusia, begitu?"
Mendengar itu, iris kehijauan Hanamiya terbelalak.
"Kiyo—jangan bilang, kau… Ingat?!" tanyanya setengah tidak percaya. "Iya, iya! Jangan bilang ingatanmu sudah kembali lagi? Kau ingat pertemuan kita?"
Kiyoshi memiringkan kepalanya kemudian tersenyum, seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Yah… Cuma sampai situ, sih… Setelah itu semuanya buram." Ia tertawa hambar. "Aku masih tidak tahu tentang hubungan kita sebagai 'kekasih', tapi ya… Aku akan coba mengingatnya sedikit demi sedikit."
Mendadak saja kedua orb yang selalu terlihat muram itu mencerah. Hanamiya tersenyum lega.
Masih ada harapan. Masih ada setitik harapan bahwa Kiyoshi bisa mengingatnya kembali.
'Sedikit demi sedikit… Ia pasti bisa mengingatku lagi. Ia bisa kembali menjadi Kiyoshi yang biasanya.'
.
Tok tok
"Hanamiya-san, kau ada di dalam? Aku ingin bicara sebentar…" Sebuah kepala brunette muncul dari balik pintu rumahnya yang terbuka setengah. Dari luar terlihat sepasang sayap hitam yang bergerak naik-turun. Sakurai Ryou.
"Ah, Sakurai! Kok bisa?"
"Iya, aku dapat izin dari emperor—Akashi." Fallen angel bersurai brunet itu terkekeh pelan. "Aku… Ada yang ingin kubicarakan dengan Hanamiya-san. Tadinya aku ingin ke sini bersama Aomine-san, tapi… Dianya tidak mau."
"Oooh." ujar Hanamiya seraya menuangkan teh ke cangkir, mempersilakan Sakurai masuk. Setelah keduanya duduk manis, Hanamiya kembali berucap,
"Jadi? Apa yang mau kau bicarakan denganku? Apa hal penting?"
"I, iya… Cukup penting." Sakurai berucap dengan gugup, seraya memainkan kedua jarinya. "Eng… Hanamiya-san… Kenal Kuroko-san, 'kan?"
Ah. Kuroko Tetsuya. Malaikat bersurai kebiruan itu.
"Tentu saja, ada apa?"
Sakurai menelan ludah, sebelum akhirnya menjelaskan.
"Jadi begini—"
.
.
"EH?! KEKASIH KUROKO ITU?!" Hanamiya tidak dapat menahan kekagetannya lagi. Sakurai kontan menutup mulut sang ex-iblis dengan tangannya.
"Ssssst! Ini rahasia, Hanamiya-san!" ujarnya panik. "Ini rahasia di antara aku, Aomine-san… Dan Hanamiya-san. Sesungguhnya aku juga baru tahu ketika menemuinya beberapa hari lalu."
"Be-begitu…Ehm, maaf aku mendadak berteriak." Hanamiya berdeham, kemudian kembali memasang wajah jaim. "Jadi? Dulu kekasih Kuroko-san itu… Beda dunia juga? Sungguh—sebenarnya berapa pasangan yang sudah melanggar peraturan 'dilarang menjalin hubungan' itu, sih?" Hanamiya mengacak surai eboninya, pusing. Ternyata bukan cuma Kiyoshi, atasan-atasannya seperti Akashi dan Kuroko juga punya hubungan lintas dunia.
"Yah—macam-macam, ehehe." Sang brunet tertawa grogi. "Jadi begitu… Masalahnya, sejak ketahuan ia juga menjalin hubungan dengan malaikat—walau saat itu ia terpaksa memutuskan hubungannya karena meninggalnya Furihata—jadi sekarang, ia dikurung di suatu tempat."
"Hukuman bentuk pengasingan, ya…" Hanamiya menggigit bibir. Dulu ia juga pernah membantu Imayoshi menangani kasus seperti itu. "Jangan bilang… Itu penjara yang terletak di paling ujung dunia?"
Sakurai tersenyum. "Tepat sekali~ Jadi, beberapa hari lalu, aku dibawa Aomine-san untuk menemuinya… Tapi dia sendiri seperti tidak mau bicara dengan kami. Waktu Aomine-san mengatakan 'akan melepaskannya' pun… Ia tidak bergeming. Daripada hukuman dari petinggi, kurasa lebih mirip ia 'menghukum' dirinya sendiri. Dengan mengunci diri."
Kepala brunetnya menunduk muram. Hanamiya mengangguk-angguk mengerti.
"Ah… Itu biasa… Tapi, kurasa ia punya masalah…"
"Karena itu, Hanamiya-san!" Mendadak saja Sakurai maju dan meraih kedua tangan sang eboni. "Kurasa kalau Hanamiya-san yang mencoba bicara dengannya… Pasti tersampaikan! Kalian 'kan sama-sama iblis yang mencintai malaikat, jadi—kumohon!"
"Ukh—" mendengar itu, Hanamiya merasa tidak enak untuk menolak. Lagipula—hei, ia juga sudah berhutang pada Sakurai karena membantu Kiyoshi menemuinya, 'kan?
"Aku… Ingin membantu Aomine-san. Kekasih Kuroko-san—Kagami-san itu teman baiknya. Setidaknya, aku ingin membantu hubungan mereka—seperti aku membantu Kiyoshi-san." Pegangan tangannya pada tangan Hanamiya melemah, pandangannya sendu. "Setidaknya—aku tidak ingin ada hubungan iblis-malaikat yang akhirnya akan berakhir seperti diriku… Aku ingin mereka bahagia. Cukup aku saja yang menjadi seperti ini… Maaf, kalimatku aneh, ya?"
Hanamiya tertegun. Ia tidak menyangka. Sakurai, walau dengan sayap hitamnya itu, hatinya sebagai malaikat masih tersisa. Mengharapkan kebahagiaan orang lain—sementara ia sendiri menderita. Tak ingin orang lain menderita seperti dirinya. Tapi, tetap saja…
"Kau selalu membantu orang lain, walau kau tahu itu takkan sedikitpun membuatmu meraih kebahagiaan… Mengapa, Sakurai?"
Itu yang ingin kuketahui. Jawaban dari pertanyaan itu.
Mendengar kalimat tanya yang ditujukan untuknya, Sakurai mendengus pelan, kemudian kembali menyunggingkan senyum tipis.
"Aku ikut bahagia jika melihat orang lain bahagia. Seperti menunjukkan bahwa hubungan lintas dunia tidak seburuk itu, begitu. Hanamiya-san sendiri tahu, 'kan? Kasusku yang membuat cinta itu semakin tabu." jelasnya—masih dengan senyum manis yang setia mengembang di pipinya. "Dan ya… Ehehehe, saat ini aku sudah cukup bahagia, kok."
Hanamiya menghela napas. Dasar anak ini.
"Iya, iya, aku mengerti. Kau berarti sudah berhasil dengan Ao—"
"U-UWAAAA! JANGAN KATAKAN ITU, HANAMIYA-SAAAN! Huwa, maafkan aku!" ia menyembunyikan wajahnya. Malu. Dasar Sakurai.
"Haah, baiklah. Panggil saja aku kalau waktunya tiba. Aku akan membantumu—walau kurasa aku juga takkan begitu berguna." Hanamiya meng-iyakan permintaan sang brunet. Yah, kalau bisa mengapa tidak?
"Oh ya, jangan lupa menceritakan ini pada emperor. Kudengar dulu ia sahabat 'Kagami' ini, ia pasti bisa membantu."
"…Baiklah, terima kasih. Aku mengharapkanmu, Hanamiya-san."
"Sama-sama. Yah, semoga kita berhasil membantu mereka berdua. Walau mungkin akan sedikit sulit, mengutip dari cerita emperor."
.
.
Sementara di dalam kamar yang berdinding putih, sang malaikat bersurai brunet mencengkram kepalanya kuat. Segalanya berputar-putar—memorinya bertumpuk, bercampur-campur, membuatnya pusing. Segala serpihan-serpihan ingatannya dari masa lalu datang dan pergi. Kepalanya sakit.
Mendadak ia terbelalak, ia mengingat saat itu—saat di mana ia mulai menjalin hubungan dengan Hanamiya. Ya, Hanamiya yang dulu masih dalam wujud iblis—bukan malaikat seperti sekarang. Walau masih buram, ia dapat sedikit demi sedikit mengingat hal-hal yang terjadi saat itu.
Sebentar, ia bisa mengingat saat Hyuuga menceritakan hal-hal tentang Izuki, dan ia juga bisa mengingat saat pertama kali menjalin hubungan dengan Hanamiya, tapi… Mengapa ia tidak bisa menemukan potongan memorinya tentang kematian Hyuuga? Mengapa? Sial—ia tidak bisa mengingatnya sama sekali. Ini buruk.
"Hanamiya…"
.
.
.
TBC?
A/N
Konnichiwa, kiyoha kembali! :D maaf ya ngaret banget, banyak yang terjadi... Ukk, ujian praktek, lomba, sama... LAPTOP RUSAK ;3; untungnya sekarang udah bisa hehehe. Tapi kalo untuk ngejar deadline KiyoHana Day... kayaknya susah ;3;
Ta-tapi kiyoha bakal usahain bakal cepet, kok! Toh liburan bentar lagi, semoga ngetiknya juga bisa cepet :3 dan yah, soal Kiyoshi, dia sedikit demi sedikit bakal ingat, dan sekarang kita selesaiin masalah KagaKuro dulu ya hehehe.
Balasan ripiu :3
.
Kagami Tania, aah, feelnya dapet, kah? :'3 yokatta, kiyoha sempet takut ngga ngefeel gitu :'3 oke, ini lanjutannyaa~
Hanaciel Jaeger, huwaaa jangan nangis, mereka aja bahagia kok nantinya :'DD iya, Kiyoshi bakal dihilangin sebagian ingatannya. Nah... gimana dengan Hanamiya? :3 lanjuut~
Lala chan ssu, Ah, souka? :'D hayoh kamu jangan maso baca yang galo xD dan okee, lanjuuut~
Guest, kuatkan kokoromu, nak! (?)
Ryiki-chan, iyaa, lanjuut :D e-eeeh? tanggung jawab? :''D oke, ini update~
Cookie Kouki Cookies, ayo, semangatin Hanamiya biar dia nggak putus asa :3 Kagami... yah, dia memang gitu. Di chap ini dan di chap depan dijelasin kok gimana hehehe. Kouki... bakal gimana ya? Akashi bakal gimana ya? :D
kurohime, iya, masih dilanjut~ dan KagaKuro bakal dimulai dari sekarang, nih :D lanjut lanjut~
Tsukkika Fleur, ah, kejutan shock :'D iya, jadi yang dulu sama dia itu Furi, sekarang tinggal sama Kuro... sombong ya, Akashi nya xD sudah sepantasnya kok (?) /dilempar/ iya, seginya banyaak~ mungkin SusaIma bakal damai dulu sekarang, tapi Kiyoshi... :'')
Yosh, ini lanjutannya ya! Gimanakah nasib Hanamiya? :D
.
Lastly, mind to RnR? :3
