Chapter 5

Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto

Gaahina

Rated T++++

Romance

Story pure for Jhino

Happy reading

Ceklek.

Daun pintu kamar sengaja di buka dari dalam, hinata yang membuka pintu itu dan keluar menuju dapur untuk menghilangkan rasa hausnya setelah tiga jam melakukan intim dengan kekasihnya yang sebentar lagi menjadi tunangannya, Namikase Naruto.

Sedangkan gaara yang mendengar pintu terbuka langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu. Matanya sempat terbelalak melihat penampilan mantan kekasihnya yang sekarang menjadi prioritas yang dilindungi, Hyuuga Hinata, namun dengan cepat dia berdiri dan menundukkan badannya.

Niat awalnya Hinata ingin menghilangkan dahaga, justru malah berjalan mendekati pengawalnya itu.

"nona Hyuuga Hinata, sebentar lagi akan sore, sebaiknya kita pulang." Ucap gaara datar tapi tetap menatap hinata yang berjalan pelan menuju ke arahnya.

Tap

Tap

Tap

Hanya bunyi pelan langkah kaki hinata yang mulus di dalam keheningan. dia tak membalas ucapan gaara, justru malah berjalan dan menatapnya erotis sambil membuka kancing kemeja nomor dua dari atas membuat kemeja putih itu merosot didadanya, memperlihatkan bahu mulus dan belahan dada sintal Hinata. gaara langsung berkeringat dingin, namun dia berusaha mempertahankan wajah datarnya, dalam hati dia sangat mengagumi tubuh hinata yang sempurna, hinata yang sekarang hanya memakai kemeja putih yang besar milik Namikaze, langkah kaki jenjangnya menuju ke arahnya dengan seksinya, bahkan rambut indigonya yang panjang sekarang di gelung memamerkan leher mulus itu tak lagi putih karena terdapat banyak tanda kepemilikan sang Namikaze itu. Gaara meremas kedua tangannya mati-matian menahan hasratnya dan tetap sadar.

Hinata berhenti dihadapan gaara yang berjarak beberapa senti saja, dia menengadah karena memang pria ini lebih tinggi darinya. di bukanya kancing atas kemeja gaara, lalu jari lentik kanannya masuk kedalam kemeja dan mengusap dada bidang pria itu pelan membuat pria itu menengang sesaat, hinata menyeringai.

hinata berjinjit, wajahnya mendekat hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung gaara. hembusan nafas berat hinata rasakan dari pria itu, menandakan bahwa pria itu menahan nafsunya untuk menerkam hinata. mata jade pria itu yang awalnya datar justru bergairah apalagi hinata dengan sengaja memperlihatkan belahan dadanya...namun sayangnya...

"pria tua sepertimu tak pantas menjamah tubuhku yang sempurna ini, karena kau adalah anjingku, gaara."

Deg

Seketika itu juga gaara mundur perlahan, sedangkan hinata tersenyum kemenangan. Gaara mengontrol dirinya dengan cepat lalu membungkukkan badan dan berkata,

"terima kasih nona Hyuuga Hinata, anda telah mengingatkan posisi saya."

Kini gantian Hinata terbelalak, bagaimana bisa, pria itu bisa tenang dan datarnya setelah ia merendahkannya.

"hm, tunggu aku menit lalu kita pulang."titah hinata kemudian balik kekamar lagi.

.

.

.

.

Konoha University

Seorang pria berkulit pucat terduduk di bawah pohon yang rindang sedang berbicara dengan seseorang lewat earphonenya.

"ya, aku masih menunggunya, dia masih aman, Sasori. Lalu kapan hinata pulangnya? Aku tak mungkin membawanya pulang dulu." Ucap pria pucat itu.

"nanti aku kabari lagi, Sai." Jawab Sasori.

"sai, aku sudah selesai, ayo kita pulang." Kata Hanabi yang tiba-tiba duduk di sebelah sai.

"ah, nona Hanabi." Sai kaget dengan buru-buru menundukkan kepalanya memberikan hormat. "sepertinya kita tidak bisa pulang nona, karena nona hinata belum pulang." Lanjut Sai menunjukkan senyum manisnya.

Hanabi mendengus kesal, namun dengan sigap sai berkata, " bagaimana kalau saya mentraktir nona Hanabi makan eskrim? Sambil menunggu nona Hinata."

Hanabi nampak menimbang ajakan Sai lalu tak lama kemudian dia menyetujuinya.

Kafe eskrim

Sai membukakan pintu masuk kafe itu, mempersilahkan hanabi masuk terlebih dahulu. Sesaat setelah mereka duduk pelayan kafe itu datang dan mereka memesankan eskrim.

"nona Hanabi sering kesini?" tanya sai lembut tak lupa tersenyum.

"um..ya begitulah tapi akhir-akhir ini sudah tidak sai, karena aku sibuk. Em, sai panggil aku hanabi saja. Aku tak sama dengan kakakku." Ucap hanabi memerah karena senyuman sai.

"maaf nona, saya tak bisa, karena saya sedang bekerja."jawab sai.

"kerja?"

"ya, pekerjaan saya kan melindungi nona hanabi." Jawab sai

Jantung hanabi berdegu kencang mendengarnya, dia sendiri tak mengerti mengapa begini jantungnya, padahal hanya mendengar perkataan sederhana itu dari sai. Hanabi akui sai adalah pria tampan dan gagah, ngomong-ngomong tentang kata 'pria', tak mungkin dia suka dengan sai yang notabene jauh lebih tua darinya. tapi kenapa hanya dengan senyumannya saja membuat dia meleleh.

Sai yang melihat sikap hanabi yang tiba-tiba diam dan menggelengkan kepala, berpikir pasti dia sedang memikirkan sesuatu, tapi apa yang dipikirkannya. Bahkan eskrim yang dipesannya tak di hiraukannya.

"nona hanabi?" , hanabi terkesiap ketika sai memanggilnya.

"apa nona tidak apa-apa? Pesanan nona sudah datang. Silahkan nona hanabi menyantapnya."

Hanabi melihat senyumnya lagi , sialnya mukanya memerah lagi. Dengan buru-buru dia melahap eskrim yang ada dihadapannya. Sai hanya bisa tersenyum melihatnya dan melahap pesanannya.

.

.

.

.

Bassement Naruto apartement

"sasori, aku ingin menampar perempuan jalang itu" ucap sasuke sambil menyandarkan tubuhnya di sedan merahnya.

"aku juga. Beraninya dia menghina kapten seperti itu." Sasori menghisap rokoknya dan duduk di kap sedan hitamnya.

Sasuke dan sasori sangat kesal dengan hinata yang menghina gaara. mereka dapat mendengar dengan jelas melalui earphone mereka yang terhubung dengan Gaara.

"dia benar-benar jalang, memberikan tubuh kepada bocah ingusan.,cih"

" jangan lupa meski dia bocah ingusan, dia ada pewaris perusahaan keluarga Namikaze. Ingat dia anak namikaze minato."

"hah. Iya aku tau. Ya sudah kita masuk mobil. Aku jemput sai dan hanabi dulu, nanti kita bertemu di kampus."ucap sasuke dan dibalas anggukan oleh sasori.

Tak lama kemudian gaara dan hinata muncul, mereka menyusul ke tempat sai dan hanabi, kemudian pulang ke kediaman Hyuuga.

.

.

.

.

.

Kediaman Hyuuga

Setelah sampai gaara dan yang lain menghadap Hiashi diruang kerjanya, sedangkan hinata dan hanabi ke kamar mereka. Gaara, sasuke, sasori, sai, kiba dan lee memberikan hormat kepada hiashi.

"aku dengar Hinata diserang lagi, apa itu benar?" tanya Hiashi.

"benar presiden. Namun semua telah kami selesaikan sebelum mereka menyentuh nona Hyuuga Hinata. mereka adalah orang suruhan." jawab gaara.

"lalu apa kalian sudah tau siapa pelakunya?"

"masih dalam penyelidikan, presiden."kali ini sasuke yang menjawab.

"nanti beritahu hasilnya. lalu bagaimana dengan dengan hanabi?"

"nona hanabi seharian ini, baik-baik saja, presiden. Nona beraktivitas seperti biasanya." Jawab sai tersenyum, sepertinya hanya sai saja yang memasang muka senyumnya.

"bagus, lalu neji?"

"oh, tuan neji bekerja seperti biasa di perusahaan, namun tadi tuan Hiazhi, sodara kembar anda menemui tuan neji selama 4jam, presiden." Jawab kiba.

"selama itu? Apa yang mereka bicarakan?"

"mohon maaf presiden, tuan neji menyuruh kami keluar dari ruangannya, karena pembicaraan mereka sangat pribadi." Jawab lee.

"hemmm, begitu ya nanti aku tanya sendiri saja. Kerja kalian hari ini bagus, dan trima kasih menjaga kedua anakku dan keponakanku. Ah iya istriku menyuruh pelayan menyiapkan makan malam. Kalian bisa makan bersama dengan kami nanti." Ajak Hiashi.

"terima kasih presiden, tapi kami harus undur diri mungkin lain waktu saja."tolak gaara dengan halus.

"baiklah kalau begitu."

Mereka pun keluar dari ruangan itu, namun ketika mereka berjalan di teras bertemu Neji. Mereka memberikan hormat dan di balas anggukan oleh neji.

"gaara, aku dengar kau mengahajar penjahat tadi dengan berutal?" suara angkuh neji. Gaara hanya menganggukkan kepala.

"aku begitu kaget mendengarnya. Aku tak sabar mencobanya, seperti perjanjian kita gaara."

"baik tuan saya siap." Jawab gaara singkat.

"ikut aku."

Gaara dan teman-temannya yang awalnya berniat pulang tak jadi, mereka justru mengikuti neji di sebuah ruangan kosong dan besar. Tempat biasanya neji gunakan sebagai latihan bela dirinya.

.

.

.

.

.

Pertarungan duel antara neji dan gaara sudah dimulai. Selama lima belas menit neji selalu menyerang, disisi lain gaara juga selalu setia menghindar dengan tenang. Sedangkan sasuke dan kawan-kawan menjadi penonton setia dan sesekali mereka berbisik.

"Ya! Gaara! kenapa kau selalu menghindar? Serang aku!" geram Neji. Namun gaara hanya tak bergeming.

"aku jadi ragu kalau kau bisa melindungi Hinata. kau sama seperti dulu, lemah!" neji memancing emosi gaara agar mau melawannya, namun sayang pria berambut merah itu hanya diam.

Di sisi lain , teman-temannya tersenyum dengan reaksi gaara dan neji yang kontras.

"gaara, memang hebat bisa mengendalikan emosinya." Lee menatap gaara kagum.

"kau dan kiba saja yang tak bisa kendalikan diri. Kalian terlalu mengikuti emosi, itu akibatnya kalian terlalu lemah dengan istri kalian." Balas Sasuke.

"itu bagus, jadi ketika pulang kami sudah di layani istri. Sedangkan kau? Masa disuapin mama kamu?!"ejek kiba. Sasuke geram dan membalas ejekan kiba.

"sst... sudah, jangan bertengkar, ingat profesi kita." Lerai sai sedangkan sasori hanya menggelengkan kepalanya.

Bugh!

Mereka yang awalnya berbisik-bisik langsung menoleh kearah sumber suara itu. Lee dan kiba terbelalak sedangkan sasuke, sai dan sasori diam melihat sudut bibir gaara mengeluarkan darah.

Hosh..hosh..

Neji tersengal-sengal sedangkan gaara diam tak bergeming padahal dia hanya bisa memukulnya satu kali tapi dia tak puas.

"tuan neji tak apa-apa?" tanya gaara.

"sialan kau gaara! kau meremehkan aku! Balas seranganku atau aku pukul kankuro yang lembek itu!" teriak neji emosi.

Tap

Tap

"kankuro bukan seperti itu, tuan hyuuga. Kau tak mengenalnya." Ucap gaara sambil melangkah mendekati neji.

Sasuke dan lainnya yang dari tadi duduk bersila sekarang mulai berdiri ketika melihat aura gelap gaara. ya, gaara tak terima kakaknya di hina.

"aku mengenalnya, dia kolega yang ceroboh." Ejek neji sambil menyiapkan pertahanannya dan menyerang.

Gaara hanya diam tetap berjalan. Neji menyerang gaara dan gaara menghindar namun ternyata...

Bruuuk!

Semua penghuni di ruangan itu mematung kecuali gaara. neji berlutut tercengang sedangkan gaara di belakangnya dengan jari telunjuknya menyentuh dan menekan bahu neji..

"ka-kau..." neji syok.

" anda kalah tuan neji." Ucap gaara dingin dan datar.

"kiba.. sai, tolong bantu tuan Neji bangun" lanjutnya lalu memberikan hormat pada neji yang masih bersimpuh tak berdaya oleh sentuhannya dan pergi meninggalkan kediaman Hyuuga.

TBC