Chapter 6

Naruto, dkk punya Masashi Kishimoto

Gaahina

Rated semi M

Romance

Story pure for Jhino

Happy reading

Gaara membuka kemeja putihnya di depan cermin kamarnya. Melihat dirinya sendiri yang sekarang sudah telanjang dada. di genggamnya kalung itu.

"kau memang tak pernah melihatku..."

"dari dulu kau tak pernah peduli padaku.."

"bahkan kau sekarang..."

"merendahkanku.."

Gaara bermonolog sendiri sambil berjalan ke kamar mandi dengan tatapan kosong. Gemericik air dingin yang keluar dari sower memecahkan keheningan di kamar mandi namun tak bisa membuyarkan pikirannya.

"kapan kau melihatku?"

"kapan kau peka?"

"apa yang harus aku lakukan agar kau mencintaiku hinata?"

Gaara masih bermonolog, begitu sakitnya mengingat kejadian tadi, dimana hinata merendahkan harga dirinya. Gadis kecil yang jaga dan ia lindungi kehormatannya justru tak pernah membalas cintanya.

Setelah mandi gaara memakai kaos dan celana pendeknya, lagi-lagi masih berkutat pada peristiwa tadi. Hingga..

"gaara, makanannya sudah sudah siap. Ayo kita makan malam." Ucap sasori di balik pintu kamarnya.

.

.

.

.

.

.

gaara, sasori, sasuke dan sai memulai makan malam dengan sunyi, karena kiba dan lee yang tukang berisik tidak tinggal bersama di apartemen mewah ini. Sebab kiba dan lee sudah menikah sedangkan mereka berempat masih lajang.

"sai masakanmu, enak." Puji gaara singkat. Hari ini memang waktunya sai yang memasak.

"arrigato gaara, habiskan sungkan." Sai tersenyum senang bila gaara makan lahap.

"hei, aku suka masakanmu sai. Jadi kau jangan habiskan semua gaara." kata sasuke di balas anggukan kepala oleh gaara.

"tenang saja, besok waktunya giliranku. Aku masak enak sebelum waktunya sasuke yang masak." Sahut sasori.

"hei, muka bayi kau menghina masakanku ya." Sasuke tak terima dengan perkataan sasori.

"sasori, tak menghinamu sasuke. Lagiula kami tau kau hanya bisa buatkan ramen untuk kami."celetuk gaara membuat sai dan sasori tertawa sedangkan sasuke mendengus kesal.

"aku sudah tau siapa yang menyerang wanita jalang itu?" kata sasuke setelah menyelesaikan makanannya. Gaara mendengarnya hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"mereka suruhan akatsuki.." lanjut sasuke.

Deg.

Semua langsung terdiam.

"kau yakin sasuke? Tak mungkin akatsuki menyuruh orang dengan ceroboh seperti?" kata sasori

"aku yakin, agen informasi kita sudah mengintrogasi mereka. Sepertinya akatsuki tak tahu kalau hinata di kawal ketat." Jawab sasuke.

"dan sepertinya mereka ingin meneror hinata." kata gaara singkat.

"bagaimana kau tau gaara?" tanya sasuke heran.

"kalau memang mereka ingin menyakiti dan membunuh hinata, mereka tak akan perlu banyak bicara dan basa-basi. Mereka ingin menyiksa hinata pelan-pelan dan membuat hinata trauma." Jelas gaara. sasuke mengangguk, dia beru ingat bahwa gaara ahli menganalisis selain sasori.

"tapi untuk apa akatsuki melakukan itu?" tanya sai penasaran.

"ada yang memakai jasa akatsuki, sai. Dan bayarannya pasti sangat mahal" jawab sasori.

"ya kau benar sasori. Seperti kau harus menyelidiki kelompok akatsuki." Kata gaara.

"kenapa kau tidak menyuruh agen informasi saja? Jadi sasori tak perlu repot-repot menyelidikinya." Kata Sasuke

"kau lupa sasuke, aku pernah menjadi bagian akatsuki." Celetuk sasori.

"ah iya, kau kan dulu ditugaskan menyamar dan menjadi anggota akatsuki, jadi lebih mudah mendapat informasi." Sahut sai setelah menyesap tehnya.

"tapi kau harus hati-hati sasori. Aku ingin kau hidup." Uca gaara sambil memandang jendela apartemen.

"pasti sepupuku, aku tak ingin mati sebelum mendaatkan gadis pujaanku."jawab sasori tersenyum tipis.

"wah siapa gadis pujaanmu itu sasori?" tanya sai penasaran.

"nanti kau tau sai, lebih baik fokus saja bagaimana mendapatkan hanabi dari pemuda berengsek itu." Jawab sasori santai, sementara sai memerah di pipi pucatnya.

"wah ternyata kau suka dengan adiknya sijalang itu? Kau tak takut dicampakkan seperti gaara?" ceplos sasuke ringan.

"hanabi berbeda dengan kakaknya, aku jamin itu sai. Jadi kau tenang saja. Dan kau sasuke, sekali lagi bilang hinata dengan sebutan jalang, akan ku buat telunjukku menyentuh otakmu tanpa kau sadari."sasuke langsung terdiam mendengarkan perkataan gaara. dia tak tau mati muda.

"gaara, kau jangan membuat sasuke seperti mayat. Hahahahha" ledek sasori.

"ya! Kau ini tak membelaku, malah kau menertawakanku. Dasar sodara sialan!"sasuke kesal mendengar ledekan sasori.

"lagi pula buat apa kau membela perempuan itu gaara? kau tak ingat dia menghinamu." Lanjut sasuke.

"hn. Sudah tak usah membahas sesuatu yang penting. Aku lebih suka membahas tentang percintaan kalian."jawab gaara kemudian beranjak pergi ke kamarnya.

"dia memang masih mencintainya sasuke."suara sasori lirih.

"dan itu membuat dia akan hancur jika dia seperti itu." Tambah sasuke yang menatap pintu kamar gaara sendu.

"oleh sebab itu, kita sudah menjadi sodaranya sejak kecil. Apapun yang terjadi kita harus selalu disampingnya sodara-sodaraku."sahut sai tersenyum sambil menepuk bahu sasuke halus.

.

.

.

.

"eeenggh..."lenguh seorang perempuan yang lehernya sedang dihisap oleh seorang pria berambut merah bata.

"aaah.." desah perempuan itu ketika pria itu meremas payudaranya kuat..

Perempuan itu terus mendesah ketika setiap inci tubuh indahnya dijamah. Sedangkan pria asyik mengoda perempuan yang berada di pangkuannya.

"aaaaaah.."pekik perempuan itu ketika sang pria menusuk-nusuk daerah intimnya dengan jari tengah yang panjang nan besar.

"more...aah...more..aah"pintanya namun sang pria justru menyeringai..

"say my name, baby.. " bisik pria itu di telinganya sambil memainkan daerah intimnya.

"aaah...gaara...more...aah...more..gaaraa.." rengeknya, dan dengan senang hati pria yang bernama gaara itu, menusuk-nusukkan jari panjangnya lebih dalam dan cepat.. sehingga membuat perempuan itu...

Byuuuuur...

"shit!" umpat hinata sambil membuka selimutnya.

"bagaimana bisa aku bermimpi sex dengan pria tua itu, padahal aku tadi siang melakukannya naruto-kun. apa hanya karena aku mengusap dadanya yang bidang itu aku langsung bernafsu bahkan terbawa mimpi?! Sial."

"padahal dalam mimpi aku hanya di masuki jarinya saja aku sudah klimak! Oh big no! Ingat hinata dia hanya pengawalmu."

Hinata terus menggerutu dan mengumpat gara-gara mimpi itu. Bahkan dalam mimpi dia sangat menikmati perlakuan gaara bahkan seperti wanita jalang yang minta digagahi.

Tok

Tok

Tok

Hinata langsung terkesiap mendengar pintu kamarnya di ketok.

"hinata sayang, bangun sayang. kita sarapan bersama dan jangan sampai gaara-kun menunggumu." Ternyata itu suara lembut ibunya.

"aah...iya ibu. Aku sudah bagun. Sepuluh menit lagi aku kebawah bu." Jawab hinata.

Segara dia beranjak menuju kamar mandi dengan sejuta umpatan karena mimi itu, namun juga tersebit rasa nikmat yang menjalar di tubuhnya.

TBC