Lima tahun kemudian...

Hujan deras membasahi bumi. Langit berwarna gelap menaungi dan menutupi cahaya matahari, bagai penuh duka mengiringi sebuah pemakaman. Doa-doa terdengar dalam syahdu. Payung-payung berwarna hitam kelabu melindungi para peziarah dari guyuran hujan di sebuah makam.

Udara dingin menyayat kulit hingga ke tulang. Putihnya napas yang keluar dari mulut mengepul-ngepul seiring doa-doa yang keluar dari mulut para peziarah.

Kini mereka berjalan meninggalkan makam, membiarkan seorang gadis dalam busana hitam yang masih berkabung tengah berdiri lemas sambil memeluk foto seorang tua yang memperlihatkan senyuman hangat di wajahnya. Gadis berambut pendek hitam tersebut tak bergerak sama sekali dari hadapan makam kakeknya yang kini tengah terbaring abadi di bawah sana. Meratapi batu nisan di hadapannya, sang gadis tak peduli air hujan membasahi dari ujung kepala hingga ujung kakinya.

"Atok... kenapa... meninggalkan Boboiboy...?" sedu nada terdengar dalam derasnya suara hujan dari bibir gadis yang bergetar tersebut "...Boboiboy... tak punya siapa-siapa lagi..."

Kaki-kaki gadis tersebut lemas tertekuk, tangannya tak bisa melepaskan foto sang kakek.

Kakeknya yang telah menjadi penopang dan semangat hidupnya kini telah berpulang. Tak ada lagi senyuman dan sentuhan tangan penuh kehangatan yang menghiburnya. Sang gadis mulai merasa apapun yang telah ia lakukan kini sia-sia.

Hidupnya tak berarti lagi...

Dalam isak tangisnya ia tak menyadari seseorang tengah berdiri di belakangnya.

Seseorang dengan busana gelap dengan wajah tak tampak dibayangi payung hitam yang melindungi tubuhnya dari basah air dari langit sana. Perlahan tangan sang pemuda yang berdiri dalam diam di belakang Boboiboy itu terjulur dengan payung dalam genggamannya melindungi tubuh basah Boboiboy dari derasnya hujan yang turun.

Sebuah sentuhan hangat mengelus bahu Boboiboy yang masih bergetar karena isak tangisnya. Sebuah bisikan penuh kelembutan terdengar di telinga sang gadis.

"Aku akan selalu mengawasimu... menjagamu... Boboiboy..."

Entah apa yang membuat sebuah rasa ngantuk begitu hebat menyerang Boboiboy. Gadis itu tak sanggup melawan keinginan menutup matanya di tengah hujan yang deras di hadapan makam sang kakek. Tubuhnya melemas seiring matanya tertutup erat.

Tubuh ramping sang gadis tertangkap dan terpeluk erat dalam pelukan sang pemuda yang berdiri di belakangnya tadi. Perlahan ia mengangkat tubuh Boboiboy dan membuat kepala gadis itu bersandar di bahunya. Senyuman lembut terlukis pada bibir pemuda berkacamata tersebut.

Sementara seorang pria dan seorang wanita berdiri berdampingan tepat di belakang sang pemuda. Keduanya menaungi anak mereka dengan payung hitam lebar sementara tangan sang pemuda sibuk menggendong gadis yang tengah berkabung tersebut.

"...Boboiboy... pengantinku..."


Perlahan mata Boboiboy terbuka. Ia menyadari dirinya kini tengah terbaring di tempat tidur mungil di rumah tua miliknya dan sang kakek yang telah almarhum. Rumah kecil yang sepi. Kini hanya Boboiboy sendiri yang tinggal di situ.

Sebuah foto terbingkai manis di atas meja kecil di samping tempat tidur. Wajah Boboiboy ketika kecil yang cerah ceria memeluk topi kesayangannya yang berwarna oranye. Dengan kedua orang tua serta sang kakek yang saling memeluk dengan wajah penuh tawa hangat.

Boboiboy mencoba mengingat apa yang sedang ia lakukan sebelum jatuh tertidur.

Seharusnya ia ada di pemakaman kakeknya...

Seharusnya ia masih berada di bawah guyuran hujan...

Apa yang telah terjadi?

Siapa yang membawanya kembali ke rumahnya?

Siapa yang telah menggantikan pakaiannya dengan gaun tidur miliknya?

Udara dingin dan hujan masih menyelimuti bumi. Hujan bagai turun tak berniat untuk berhenti, seperti melukiskan perasaan duka gadis yang mengeratkan sweater pada tubuh rampingnya sambil menatap kosong keluar jendela.

Kebingungan-kebingungan yang dialaminya kini tergantikan kembali oleh rasa duka mendalam atas kematian kakeknya. Orang tuanya yang telah meninggal ketika kecelakaan lima tahun lalu masih membekas. Ketika mulai terobati dengan adanya sang kakek di sisinya, justru kini orang yang disayanginya turut meninggalkan Boboiboy seorang diri.

Kesedihan yang begitu dalam membuatnya tak sanggup menahan air mata terus berurai dari bola mata jernih hingga membasahi ujung sweater sang gadis.

Bunyi bel dan gedoran di pintu depan mengejutkan Boboiboy membuat gadis itu bergegas menuruni tangga menuju pintu. Ia tahu siapa yang datang. Penuh keraguan dan ketakutan ia membuka kunci untuk tamu yang datang.

Seorang pria paruh baya berkulit putih mengkilat dengan tubuh besar mengangkat dagunya penuh kesombongan bersama dua orang yang nampak seperti kacung di belakangnya. Cerutu menggantung di bibir tebal pria yang bagai seekor babi berdiri dengan dua kaki. Dua pria di belakangnya tersenyum licik bagai tikus got yang siap menggerogoti seisi rumah. Boboiboy meringkuk penuh horor.

"Aku turut berduka cita atas kepergian kakek tersayangmu, Boboiboy... nampaknya kini kau sendirian..." senyum culas menghias wajah licik sang pria gemuk tersebut. Asap rokok di mana-mana begitu ia memasuki rumah kecil tersebut, membuat Boboiboy terbatuk-batuk.

"Sayang sekali, rasa prihatinku tidak sampai pada hutang-hutang yang harus dibayar kakekmu itu... Hutang adalah hutang... Kau tetap harus membayarnya, gadis manis..." jemari gemuk menyentuh dagu Boboiboy membuat gadis itu geram dan membuang wajahnya.

"Aku akan membayarnya nanti... kumohon beri aku waktu..."

Namun ketiga pria tersebut hanya tergelak keras mendengar suara pecah Boboiboy.

"Waktu? Lagi? Hutang kalian sudah bertumpuk dan membengkak... Kapan kau mau membayarnya, hah? Sudah lama aku menunggu tapi tak kunjung lunas..."

"Kau memberi bunga terlalu tinggi! Meski aku sudah membanting tulang bekerja di sana-sini tentu saja tak akan cukup! Dasar lintah darat!" emosi sang gadis tak lagi bisa ditahan. Ia tahu demi mengurus dirinya, sang kakek terpaksa harus berhutang pada seorang lintah darat. Namun sang kakek tak pernah mengeluh meski harus bekerja hingga sakit. Kondisi keuangan yang mereka miliki tidaklah mencukupi kebutuhan sehari-hari. Terlebih ketika penyakit Tok Aba semakin parah, tentu biaya pengobatan dan rumah sakit membengkak.

"Aku tak peduli apa alasanmu, manis... Aku punya penawaran terhadap hutang-hutangmu itu... Bagaimana kalau... kau membayarnya dengan tubuhmu...?"

Boboiboy merinding penuh ketakutan melihat senyum menjijikkan dari wajah lintah darat di hadapannya. Ia melangkah mundur dan akhirnya berbalik, berlari menuju dapur mengambil pisau. Namun ketiga orang tersebut mengikuti sambil terkekeh melihat Boboiboy menodongkan pisau pada mereka.

Sayang, kekuatan kedua kacung lintah darat tersebut lebih kuat sehingga Boboiboy kesakitan ketika kedua lengannya digenggam hingga pisau dari tangannya terlepas dan jatuh ke lantai "Le, lepaskan aku!"

Boboiboy tak bisa berkutik terseret paksa meninggalkan rumahnya oleh kedua kacung beserta boss mereka yang berjalan menuju mobil mewah yang diparkir di depan pagar rumah Boboiboy. Lintah darat gemuk tersebut membukakan pintu mobil menyuruh kedua kacungnya memasukkan Boboiboy untuk duduk di samping bangkunya di belakang bangku supir dengan cepat karena hujan belum berhenti sama sekali.

Dengan cepat Boboiboy bertindak. Ia menginjak keras kaki salah satu anak buah lintah darat yang mencengkeram lengan kanannya, dan menyikut keras perut seorang lagi di sebelah kiri. Keduanya melepaskan cengkeraman mereka sambil menahan sakit di kaki dan perut mereka. Dengan cepat Boboiboy melarikan diri berlari menuju gang kecil. Ia sempat mendengar bentakan lintah darat di belakang memaki kedua kacungnya untuk mengejar dirinya.

Tanpa menoleh ke belakang, kaki-kakinya terus berlari. Tubuhnya menembus derasnya hujan yang turun. Tak peduli betapa sakit tetesan-tetesan besar air yang menyayat kulit, betapa dingin udara hingga terasa sampai tulang.

"Itu dia! Cepat tangkap!"

Teriakan lintah darat di belakang Boboiboy membuat gadis itu semakin ketakutan dan panik. Ia berusaha mempercepat kecepatan larinya menuju belokan gang kecil.

Ketiga penjahat di belakang Boboiboy terengah-engah mengikuti kecepatan gadis tersebut memasuki gang. Ketiganya kehilangan sosok gadis yang ketakutan itu di dalam gang. Terutama lagi pandangan mereka mulai memutih karena hujan dan kabut yang menutupi pandangan.

"Hhh... hh... dasar gadis brengsek! Kalian berdua! Cepat kembali ke mobil! Kita akan mengejarnya dari ujung gang seberang... Ia tak akan bisa berlari lebih jauh...!"

Namun begitu ketiga orang tersebut berbalik, nampak sesosok bayangan muncul di hadapan mereka, agak jauh di ujung gang. Ketiganya menebak-nebak siapa yang tengah berdiri di bawah derasnya hujan dan tebalnya kabut di ujung gang selain mereka.

Sosok tersebut semakin mendekat. Dan kini semakin jelas... seekor serigala besar dengan mata menyala terang tengah menggeram pada mereka.

"A, apa ini...? Dari mana anjing ini...?" ketiga penjahat tersebut mulai ketakutan dan berjalan mundur.

Serigala tersebut berhenti. Ia menengadahkan leher dan kepalanya ke atas dan melolong keras, menggema mengiringi suara derasnya hujan.

Sementara Boboiboy terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang. Tanpa sadar ia sudah keluar gang dan sampai di tengah kota. Pandangan yang ditutupi tirai hujan yang deras dan penuh kabut membuat seluruh pandangan Boboiboy tak jelas melihat arah manapun.

Hanya ada suara yang semakin keras terdengar dari belakangnya diikuti cahaya yang semakin terang...

Sebuah truk membunyikan klakson dan mendekat dengan kecepatan tinggi.

Hujan sama sekali tidak berbelas kasih untuk terus membasahi bumi dengan derasnya. Namun suara air yang jatuh ke bumi berderai-derai menutupi suara benturan keras di tengah jalan.

Air yang mengalir di aspal kini ternodai warna merah.

Tubuh seorang gadis tengah terbaring bersimbah darah membuat siapapun yang melihatnya akan merasa tersayat-sayat.

Ia telah menerima nasib...

Lebih baik mati dari pada tubuhnya ternodai...

Air mata menetes tersamar oleh hujan membasahi wajah cantiknya. Bibirnya membentuk sebuah lengkungan, senyuman kecil penuh kesedihan menghias wajah yang sudah bersimbah darah.

"Atok... ayah... ibu... aku... akan menyusul kalian..."

Sebelum matanya semakin buram memandang sekeliling, ia sadar ada banyak orang yang panik mendatangi dirinya, mengelilingi tubuh yang telah terbaring mengenaskan di atas aspal jalanan.

Dan satu hal yang begitu aneh...

Sebuah pemandangan yang begitu ajaib...

Misterius...

Seekor serigala hitam tengah berdiri tegap di antara mereka...

Bagai tak ada yang bisa melihat serigala tersebut...

Kaki-kakinya yang besar berbulu melangkah mendekati Boboiboy sebelum gadis itu kehilangan kesadaran. Sebelum semuanya menjadi gelap... hitam...


TBC...