Pandangan Boboiboy perlahan semakin putih. Cahaya terang bersinar di atas, di mana Boboiboy berbaring. Ada wangi segar bunga mawar begitu Boboiboy menghirup napas.

Kesadaran gadis tersebut semakin terkumpul.

Kini ia sadar tengah terbaring di sebuah tempat tidur yang empuk, hangat, dan lembut. Beserta selimut yang melindungi tubuhnya dari udara dingin. Di langit-langit tergantung lampu hias megah nan mewah.

Dengan penuh kebingungan, Boboiboy terduduk perlahan di tempat tidur mewah yang bertirai kain merah maroon berbahan beludru dengan motif bunga klasik menghias menunjukkan betapa mahalnya semua barang yang ada di ruangan itu. Agak jauh dari hadapan tempat tidur terdapat rak buku dengan berbagai macam buku di dalamnya berdiri berdampingan dengan sebuah meja belajar yang terdapat bertumpuk-tumpuk buku dan kertas di atasnya. Alat tulis, lampu dan barang-barang antik yang menghias meja tersebut tak urung membuat gadis itu kagum. Karpet bulu, sebuah tungku penghangat di samping ruangan menyala menghangatkan udara, lukisan berbingkai, tempat lilin yang berdiri anggun di atas meja.

Pandangan Boboiboy menurun menyadari tubuhnya kini dibalut gaun tidur putih anggun yang lembut. Ia semakin bingung. Berusaha mengingat apapun yang terjadi sebelum ia berbaring tak sadarkan diri dikelilingi seluruh kemewahan tersebut.

Ia mulai ingat...

Dikejar lintah darat serakah yang menginginkan dirinya...

Berlari memasuki gang dalam derasnya hujan...

Suara klakson truk dan cahaya mendekat...

Seluruhnya mulai menjadi gelap...

Boboiboy akhirnya sadar.

Seharusnya ia sudah mati. Seharusnya ia terbaring di jalan bersimbah darah.

Apakah pemilik rumah tersebut menolongnya?

Tapi keanehan luar biasa membuat Boboiboy kembali menyadari... tak ada goresan atau luka apapun di tubuhnya. Padahal benturan keras membuat tubuh gadis tersebut terseret di atas aspal.

Masih dalam kebingungannya, ia melihat jendela besar yang berada di samping ruangan dengan teralis menghias kaca dengan indahnya. Tirai berwarna sama dengan tirai yang menghias tempat tidur, terikat pada kedua sisi jendela agar tak menghalangi pemandangan luar dari dalam ruangan. Sayang derasnya hujan masih menutupi pemandangan di luar sana.

Suara handle pintu yang terbuka mengejutkan Boboiboy kembali menarik selimut hingga ke dadanya.

Muncul seorang wanita dalam gaun hitam mendorong trolley dengan seperangkat alat makan di atasnya. Rambut lurus panjang sebahu berwarna biru terang keperakan tak menutupi paras cantik dan pucat wanita tersebut. Kini matanya yang berwarna biru memandang Boboiboy yang tengah duduk ketakutan di atas tempat tidur.

"Oh, kau sudah bangun, sayang...?" sapa sang wanita dengan lembut.

Boboiboy masih kebingungan dengan segala yang mengelilinginya. Seakan satu hari itu membuat dirinya berkecamuk dengan segala perasaan. Namun ia berusaha memberanikan diri begitu melihat sebuah senyuman ramah di wajah wanita yang berjalan mendekatinya perlahan.

"A, anda... yang telah menyelamatkan saya...?"

Wanita tersebut duduk pada sebuah sofa yang berada di samping tempat tidur Boboiboy sambil menggeleng menjawab pertanyaan gadis tersebut.

"Anakku yang telah menyelamatkanmu... Ia bersikeras membawamu kemari..." senyuman dari wanita di hadapannya membuat Boboiboy sedikit tenang.

"Kau butuh tenaga baru agar lebih cepat pulih... aku bawakan sup dan roti untukmu... Makanlah selagi panas..." Boboiboy melihat uap panas mengepul dari mangkuk besar yang dibawa sang wanita di atas trolley begitu ia membuka tutup mangkuk tersebut. Roti Baguette besar telah terpotong-potong berjejer di piring. Aroma sup dan pemandangan lezat di hadapan Boboiboy membuat gadis itu tak sanggup menahan suara keroncongan perutnya.

Wanita lembut di hadapannya agak terkejut mendengar suara yang membuat Boboiboy malu. Terlebih ketika wanita itu tertawa kecil.

"Ma, maafkan saya... sudah lama saya tak melihat makanan seperti demikian..."

Senyuman penuh maklum kembali menghias wajah cantik sang wanita. Ia menyodorkan semangkuk sup panas dengan Baguette di sisi mangkuk tersebut "Makanlah... Kau akan merasa lebih hangat..."

Boboiboy menerimanya dengan hati-hati. Ia terdiam memandangi semangkuk penuh kelezatan di tangannya. Perlahan wajahnya mengangkat dan kembali memandang sang wanita rupawan di sampingnya "Ma, maaf... nama saya Boboiboy... Boleh saya tahu siapa anda...?"

"Oh! Astaga... Di mana sopan santunku... Namaku Elizabeth... Elizabeth Lang... Senang bertemu denganmu, Boboiboy..." Boboiboy membalas senyuman ramah yang menyambut dirinya dengan senyuman kecil di wajah manisnya. Namun kedua perempuan tersebut sama-sama menunjukkan wajah sedikit bingung mendengar nama masing-masing. Boboiboy menyadarinya duluan.

"Maaf, kalau nama saya terdengar aneh... ayah dahulu ingin sekali memiliki anak laki-laki... dia sudah menyiapkan nama jauh hari sebelum kelahiran saya... tetapi ternyata sayalah yang lahir... dia ingin tetap menggunakan nama ini karena menginginkan anaknya kuat seperti anak laki-laki..."

Elizabeth nampak mengangguk kecil mengerti. Kini senyuman muncul di wajah cantiknya kembali "Aku sendiri memiliki nama belakang 'Lang' dari suamiku... Aku asli Inggris, tapi suamiku dari Cina... Maka itu kami..."

Dari luar pintu terdengar samar-samar suara orang berdebat. Elizabeth melihat ke arah pintu dan menyadari siapa yang menjadi sumber suara-suara itu "Ah, itu pasti suami dan anakku... kau nikmati hidangan ini, yah...! Makanlah yang banyak... Maaf aku jadi mengganggu makanmu..."

Buru-buru wanita tersebut pergi keluar dari kamar dan menutup pintu meninggalkan Boboiboy sendiri masih dalam kebingungan.

Kenapa ada orang yang tak ia kenal sama sekali menolongnya? Bagaimana seluruh luka yang parah pada tubuhnya bisa sembuh seketika? Siapa sebenarnya penolongnya itu?


Elizabeth menuruni tangga dan menghela napas menemui seorang pria dan seorang remaja berusia lima belasan tahun tengah memperdebatkan sesuatu di ruang tengah yang begitu megah dikelilingi barang-barang antik dan mewah. Tirai-tirai beludru berwarna merah gelap menutupi sebagian besar jendela. Kepala rusa antik tergantung pada dinding di atas perapian berjejer dengan lukisan-lukisan berbingkai anggun. Buku-buku berjejer rapi pada lemari yang tertempel pada dinding batu. Rumah yang bagai sebuah kastil itu kini menggemakan suara kedua laki-laki dengan rambut spike bersurai dengan warna gelap. Sang remaja membanting tubuhnya pada sofa empuk besar di hadapan perapian yang menyala.

"Aku tak bisa membiarkannya terluka begitu saja' kan! Apalagi ketiga orang itu benar-benar menjijikkan terus mengejar gadis yang ketakutan seperti itu...!"

Pria yang lebih tua menghela napas dan menahan tubuhnya dengan tangan yang menahan pada sofa di mana remaja bernama Fang bersandar melipat kedua tangannya "Fang... Ayah tahu kau ingin melindunginya... Dengar, kita sudah mendapat teguran dari kementerian, kedutaan dan departemen karena tingkah nekatmu itu... Ayah mohon jangan ada kejutan lagi..."

Fang terdiam dengan wajah cemberut tanpa menatap ayahnya "Oke... Maafkan aku..."

"Ehem..."

Pandangan kedua pria yang selesai berdebat kini tertuju pada Elizabeth yang tersenyum penuh arti dari daun pintu ruang tengah "Bagaimana pertemuan di organisasi tadi, Hao...?"

Hao Lang, sang suami dengan wajah kental Asia menghela napas untuk kesekian kalinya sambil berjalan mendekati istrinya "Fang mengamuk lagi di departemen kependudukan... Tapi semua yang hadir maklum akan tindakannya melindungi gadis manusia itu... Pihak kedutaan kaum manusia juga telah mendapatkan informasi mengenai gadis bernama Boboiboy itu... Dan mereka memaklumi keadaan Fang yang emosional..."

Elizabeth memutar matanya tak bisa menyembunyikan senyuman "Benar-benar pengertian sekali orang-orang ini pada anak kita yang terkenal akan emosinya yang meledak-ledak..."

Fang menggerutu kesal mendengar sindiran ibunya "Ibuuu...!"

"Oh, ayolah, Fang... Kau sudah berusia lima belas tahun sedangkan kau belum bisa mengendalikan emosimu... Ini sangat berbahaya bagi kaum werewolf... Seandainya kau saat itu tak bisa mengontrol emosimu, pasti kau sudah menghabisi nyawa ketiga lintah darat yang mengejar gadis pujaanmu sejak kecil itu' kan?"

Fang membanting tubuhnya kembali di sofa "Biarkan saja mereka mati! Mereka mau melakukan tindakan tak senonoh pada Boboiboy!" tiba-tiba mata Fang terbelalak mengingat hal terpenting yang nyaris ia lupakan "Boboiboy...! Bagaimana keadaannya?" tubuhnya yang terbaring di sofa langsung tegap menghadap sang ibunda.

"Dia sudah sadar... sekarang sedang makan... Lebih baik kau jangan men..."

Elizabeth langsung menarik kerah leher Fang dan membanting kembali tubuh anaknya ke sofa sebelum ia berlari menemui gadis yang telah diselamatkannya tadi tanpa mau mendengar kelanjutan kata-kata ibunya.

"Dia masih kebingungan... jadi lebih baik kita beri dia waktu dulu..." lanjut sang ibunda dengan wajah tenang mengusap kepala Fang yang terjungkir balik di sofa karena bantingan tadi.

"Ya, bu..." jawab Fang kesal.


Semangkuk sup panas dan dua lapis roti telah Boboiboy habiskan. Ia tak ingat sudah berapa lama perutnya tak diisi makanan yang pantas untuk memberikan energi. Kini tubuhnya terasa lebih bertenaga.

Perlahan ia menggeserkan tubuhnya ke pinggir tempat tidur, menapakkan kakinya pada karpet lembut yang membatasi kaki tempat tidur dengan lantai.

Dengan penuh kekaguman ia melihat sekeliling ruang kamar tersebut. Bahkan daster yang dikenakannya juga membuatnya takjub. Sebuah kaca besar yang tergantung pada sisi dinding memantulkan refleksi seorang gadis yang ia kenal sebagai dirinya sendiri. Gaun tidur berwarna putih bagai sutra tersebut membuat dirinya terlihat seperti seorang putri melalui pantulan di cermin. Dengan jemarinya ia angkat ujung gaun tersebut perlahan dan berputar perlahan. Tak pernah ia kenakan pakaian semewah itu.

Pemandangan hujan di luar membuat gadis itu mendekat ke jendela dan menyentuh kaca yang telah memutih karena embun udara dingin. Derasnya hujan membuat Boboiboy teringat pada apa yang terjadi setelah kematian kakeknya. Kini ia kembali mengingat...

Ada seseorang yang menangkap tubuhnya ketika ia mengantuk tiba-tiba di hadapan makam sang kakek.

Ia terbangun di tempat tidur rumahnya sendiri.

Lintah darat jahat datang dengan para anak buahnya, mengejar dirinya hingga ke jalan raya dalam derasnya hujan.

Dan sebuah truk besar menembus tirai hujan hingga menghempas tubuhnya ke aspal jalanan.

Sekor serigala hitam besar mendekati sebelum pandangannya semakin gelap...

Serigala...?

Kepalanya terasa sedikit pusing membuat tubuh kecil Boboiboy terhuyung. Untung tangannya sempat menahan pada meja kayu bundar di sampingnya. Vas dengan bunga mawar yang terhias cantik di atas meja ternyata adalah sumber wangi yang ia cium ketika siuman tadi.

Wangi dari mawar merah di hadapannya seakan menghipnotis Boboiboy. Entah apa yang membuat aroma itu terasa begitu manis. Tanpa sadar, sang gadis memandang kosong dan wajahnya mendekati mawar yang begitu menggoda mengeluarkan harumnya.

Tersentak, Boboiboy menggeleng kepalanya kencang. Entah apa yang barusan ia pikirkan. Mengapa ia begitu tergoda pada mawar di hadapannya.

Sebuah ketukan kembali terdengar di pintu dan Elizabeth memasuki ruangan dengan wajah hangat begitu melihat mangkuk kosong di trolley "Syukurlah kau masih memiliki nafsu makan yang bagus..."

Wanita itu duduk di sisi tempat tidur di mana tadi Boboiboy terbaring. Gadis itu kini berjalan mendekati penolongnya dan duduk di samping wanita berbusana hitam tersebut setelah tangan pucat Elizabeth menepuk di sebelah tempat ia duduk.

"Kau merasa baikan...? Ada sesuatu yang kau rasakan...?" tanya Elizabeth sembari mengelus kedua pipi Boboiboy lembut bagai seorang ibu yang khawatir pada anak gadisnya. Boboiboy menggeleng kecil. Sudah lama ia tak merasakan elusan hangat seorang ibu pada wajahnya. Ada kenangan manis tertinggal yang membuatnya rindu.

"Saya baik-baik saja... hanya..., oh..." tiba-tiba kepalanya kembali merasa berputar. Wangi mawar yang semerbak di kamar itu membuatnya memiliki perasaan aneh.

Elizabeth terdiam sambil mengelus bahu Boboiboy.

"Kau tahu bahwa seharusnya kau sudah menemui ajalmu di atas aspal jalanan pagi tadi' kan?"

Pertanyaan Elizabeth mengejutkan Boboiboy. Itulah pertanyaan yang terus berkumandang di kepalanya. Apa yang sudah terjadi? Apakah Elizabeth mengetahui sesuatu?

"A, apa yang sebenarnya terjadi pada saya...? Kumohon, jelaskan apa yang sudah terjadi..."

Elizabeth berusaha membuat Boboiboy tenang kembali. Wanita dengan busana hitam yang terseret di lantai itu berdiri mengangkat tangan kanannya. Entah keajaiban apa semua jendela tertutup tirai dengan sendirinya bagai patuh pada Elizabeth. Kembali Elizabeth mengayunkan tangannya dan kini sehelai scarf lebar yang tergantung pada sandaran sofa melayang lembut ke tangannya.

Wanita itu perlahan dengan hati-hati menyelimuti tubuh Boboiboy dengan scarf berusaha tak membuatnya lebih takut dari keadaannya sekarang. Tentu saja gadis tersebut mulai merasa keanehan dari wanita yang tersenyum di hadapannya.

"Aku... bukan manusia... Aku adalah bangsa vampir sejati. Kau mungkin menganggap makhluk seperti kami hanya ada dalam dongeng... Tapi sesungguhnya kami nyata ada di sekeliling kalian..."

Boboiboy semakin tak mengerti keadaannya. Tapi kini ia semakin takut melihat adanya taring panjang di balik bibir merah merekah Elizabeth. Tubuhnya tak bisa berhenti bergetar.

"Kau tak perlu takut, sayangku... Aku tak akan menghisap darahmu... Kami vampir yang telah memiliki bukti kependudukan legal sehingga kami wajib melaksanakan hukum yang berlaku, yakni tak boleh sembarangan menghisap darah dari korban. Kami hanya boleh meminum darah yang telah disediakan organisasi dan pemerintah... Terlarang juga bagi kami berburu bebas mencari manusia untuk dijadikan mangsa..."

Boboiboy hanya terdiam dalam bingung mendengar penjelasan Elizabeth. Namun wajah tersenyum sang vampir wanita benar-benar menunjukkan kejujuran dan keramahan. Wanita itu kembali duduk di samping Boboiboy sambil menghela napas.

"Suami dan anakku adalah werewolf... Fang adalah anakku satu-satunya dan dialah yang telah menyelamatkanmu. Fang pernah kau selamatkan ketika kecil dahulu, saat dia nekat bermain ke kota di siang hari dengan wujud serigalanya... Dia jatuh cinta padamu dan menetapkan bahwa kaulah yang akan ia nikahi suatu saat nanti..."

Boboiboy semakin kebingungan. Semua itu bagai sebuah mimpi bersambung. Pikirannya berkecamuk tak tentu. Di antara harus percaya atau menganggap apa yang dikatakan Elizabeth hanyalah bualan belaka.

"A, sa, saya... Saya tak tahu harus berkata apa... tapi... terima kasih telah menyelamatkan saya... saya mau pulang..." Boboiboy berdiri dengan panik terhuyung tak tentu arah membuat Elizabeth turut panik memeluk tubuh rapuh gadis yang kembali terduduk dengan lemas di tempat tidur.

"Boboiboy, maaf... tapi kau tak bisa lagi kembali ke rumah lamamu... Kau akan dikejar lagi oleh lintah darat itu' kan? Tinggallah di sini bersama kami... Ini juga keinginan Fang... Apalagi, kau sudah bukan manusia biasa lagi..."

Kata-kata Elizabeth yang terakhir membuat Boboiboy terdiam kebingungan untuk kesekian kalinya "A, apa maksud anda... saya bukan manusia biasa lagi...?"

Elizabeth menghela napas sambil mengelus bahu Boboiboy "Alasan mengapa kau tidak tewas setelah kecelakaan pagi ini adalah... karena Fang terus mengawasimu hingga tubuhmu dipindahkan ke rumah sakit... Saat itu kau masih bernapas namun tak bisa lagi diselamatkan dengan kondisi demikian. Fang cepat-cepat memintaku memberikan darahku padamu, agar kau berubah menjadi vampir..."

Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Boboiboy. Ia hanya bisa diam dengan mata terbelalak tak percaya gurauan yang diceritakan nyonya di hadapannya.

"Darah vampir yang kuberikan padamu kini telah mengalir bersatu dengan darah manusiamu, memberikan kekuatan lebih agar kau bertahan hidup seperti sekarang ini. Sebagai gantinya adalah kau tak bisa lagi hidup seperti manusia biasa... Namun, karena jumlah darah yang kuberikan padamu hanya sedikit... kemungkinan tubuhmu masih memiliki sifat-sifat manusia, dan sifat-sifat vampir yang ada tak akan sebesar kekuatan vampir sejati..."

Napas Boboiboy tak terkontrol. Ia merasa dibohongi. Tak ada yang bisa ia percayai lagi. Bahkan orang yang menolongnya sekalipun. Dalam sehari itu semua memori bercampur aduk dengan emosinya. Entah memori yang mana yang dapat dipercayainya.

"Ma, maaf...! Tapi tolong hentikan ini semua! Saya tak mengerti maksud anda! Saya benar-benar berterima kasih atas pertolongan anda...! Tapi ini sudah cukup! Saya harus pergi!" Boboiboy buru-buru berlari menuju pintu meski tubuhnya tak mengijinkan bergerak normal.

Ia merasa ada sesuatu dalam tubuhnya yang membuat seluruh badannya panas dan tak bisa mengontrolnya. Kesakitan luar biasa dari ujung kaki hingga kepalanya membuat Boboiboy berlari tak tentu arah. Pandangannya berbayang.

Dengan susah payah, gadis itu berlari keluar kamar menuju tangga yang ada di ujung lorong. Elizabeth panik mengejar gadis yang hendak menuruni anak tangga dalam kondisi payah tersebut "Boboiboy!"

Fang yang berada di ruang tengah bersama ayahnya tersentak mendengar teriakan Elizabeth, langsung berlari menuju tangga di mana ibunya berusaha menangkap tubuh Boboiboy sebelum terjatuh menuruni tangga. Tangan Elizabeth sudah terjulur hendak menarik Boboiboy dengan kekuatannya, namun tak sempat.

Beruntung Fang tangkas melompat menuju lantai dua dan memeluk tubuh Boboiboy yang akhirnya hilang kesadaran kembali bersandar di dada Fang. Tubuhnya panas luar biasa, peluh menempel di dahi hingga seluruh tubuh Boboiboy. Fang semakin panik begitu menempelkan telapak tangannya di dahi pujaan hatinya. Sang ibunda yang turut cemas buru-buru mendekati dan meminta Fang membawa Boboiboy kembali ke kamar membaringkannya di tempat tidur. Sementara, Hao, sang kepala keluarga Lang menelepon seseorang dari telepon kabel klasik di ruang kantor miliknya.

TBC...


Penggunaan nama keluarga 'Lang' untuk Fang beserta kedua orang tuanya saya ambil dari bahasa Cina 'Lang' yang berarti serigala. Saya ingin tetap menunjukkan bahwa Fang memiliki keturunan Cina seperti yang ada pada kartun Boboiboy sendiri. Nama ayah Fang, 'Hao' sendiri juga berasal dari bahasa Cina yang berarti 'howl' (setidaknya ini apa yang dikatakan teman saya).

. Hao Lang - ayah, kepala keluarga.

. Elizabeth Lang - ibu, istri Hao.

. Fang Lang - anak, pewaris keluarga Lang.


note : Fanfic Boboiboy kali ini, saya crossover dengan fanfic saya dari fandom lain yakni fandom GRAVITATION, yang sudah saya publish (namun sekarang hiatus) dengan judul 'Night Hunter'. Jadi jika ada penjelasan mengenai dunia para makhluk-makhluk yang disebut selain manusia pada chapter 4 nanti, anda juga bisa membaca fanfic saya yang berjudul 'Night Hunter' tadi itu ^^