The New World

NOTE: Saya menyarankan ketika membaca (semua chapter) fanfic ini untuk sambil mendengarkan lagu La Lune Brille Pour Toi - OST Le Petit Poucet yang dinyanyikan Vanessa Paradis, sementara komposernya adalah Joe Hisaishi (yang kita tahu belau biasa membantu dalam pembuatan soundtrack anime-anime buatan Ghibli). Selama menulis, lagu ini yang selalu membantu saya sebagai soundtrack fanfic ini ^^

Dan seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa fanfic ini menyambung dengan fanfic saya yang berjudul "Night Hunter" dari fandom GRAVITATION ^^

Have a good read ^^ /hugs


Hao Lang duduk di sofa depan perapian dalam ruang kantornya yang gelap, dikelilingi rak penuh dengan buku-buku, berdiri tegap dalam bisu. Jendela besar yang tertutup tirai setengahnya tak memperlihatkan pemandangan apa-apa selain kegelapan malam. Hujan telah berhenti perlahan membuat kabut tebal turun menutupi. Udara dingin terasa begitu lekat di kulit.

Suara ketukan kecil dari pintu yang terbuka membuat Hao menolehkan pandangannya dari api terang di perapian, mendapati sang istri yang tersenyum cantik tengah berdiri sambil merangkul gadis yang kini terlihat lebih sehat daripada sebelumnya. Scarf lebar berwarna coklat gelap menyelimuti tubuh Boboiboy dari bawah leher hingga nyaris sampai lutut, melindungi dari udara dingin.

Lega perasaan sang kepala keluarga melihat gadis yang sudah dianggap anaknya sendiri sejak ia mengawasinya di masa kanak-kanak Boboiboy.

"Kau sudah merasa lebih baik...?" tanya Hao sambil sedikit membungkukkan tubuhnya menyamakan tinggi pandangan mata Boboiboy. Anggukan dari gadis itu menjadi jawaban yang membuat Hao tersenyum lebih lebar. Ia tahu Boboiboy sudah bisa menerima apa yang telah terjadi padanya.

"Duduklah bersama istriku... akan kuperkenalkan sedikit demi sedikit dunia kami..."

Boboiboy menuruti sang werewolf yang lebih senior. Elizabeth tetap menggenggam hangat tangan Boboiboy sambil merangkulnya sembari duduk di sofa dalam ruang yang gelap tersebut. Bagai menari, tangan kanan Elizabeth mengangkat hingga di atas kepalanya.

Dengan ayunan tangan kanan Elizabeth, lampu megah yang menghias langit-langit tengah ruangan tersebut bersinar hingga menyinari seluruh isi ruangan yang berisi begitu banyak buku berjejer dari lantai hingga ke langit dalam rak besar nan gagah. Karpet bulu di tengah ruangan memberi nuansa hangat mendampingi sofa yang diduduki Boboiboy dan Elizabeth di samping perapian. Meja yang dipenuhi kertas, berkas, buku, alat tulis bermodel antik, serta telepon kabel antik bagai penunggu setia yang selalu menyambut siapapun yang datang ke dalam ruangan tersebut.

Penuh kekaguman Boboiboy melihat segala benda yang ada di ruangan tersebut mengelilinginya. Dan ruangan itu hanyalah sebagian kecil dari rumah bagai kastil yang tak bisa ia bayangkan sebesar apa.

Elizabeth kembali mengayunkan tangan kanannya pada sebuah rak buku. Sebuah buku tebal bersampul tua melayang keluar dari tempatnya, lembaran-lembaran halamannya terbuka-buka hingga sampai di tangan sang suami dengan sebuah halaman yang tepat ia inginkan.

"Sebelumnya... kami ingin meminta maaf padamu, Boboiboy. Dengan segala keegoisan kami, ada darah yang bukan dari ras manusia sejati kini mengalir dalam dirimu dan sudah membuatmu menderita... Kami sungguh tak bermaksud membuatmu demikian..."

Boboiboy menggeleng kecil "Tidak... justru seharusnya saya berterima kasih pada anda berdua... Berkat anda, saya bisa tetap hidup... Saya tak bisa mati begitu saja sementara ada hutang-hutang yang harus saya lunasi..."

Hao dan Elizabeth terdiam. Mereka tak mengira gadis itu berniat untuk tetap melunasi segala hutangnya pada lintah darat yang telah berniat buruk padanya.

"Boboiboy... kau... tetap ingin melunasi hutang-hutangmu itu...?" tanya Elizabeth pelan. Anggukan dari Boboiboy membuat suami istri Lang saling berpandangan. Sejak keduanya menjadi orang tua asuh Boboiboy secara diam-diam, mereka mengenal betul gadis tersebut. ia berpendirian teguh dan sangat menyayangi orang-orang di sekelilingnya, terutama kakeknya. Sang kakek meninggal dengan segala hutang dunia yang belum terbayar. Sekarang mereka tahu, Boboiboy pasti berniat untuk mencari uang meski ia harus bekerja sampai mati demi membayar hutang kakeknya.

Hao terdiam dengan buku di tangannya yang telah terbuka lebar "Baiklah... hmm, aku ingin menjelaskan sedikit mengenai darah istriku yang kini ada di dalam tubuhmu itu..."

Elizabeth tahu suaminya berusaha tak membahas hal yang justru ia pendam. Wanita tersebut juga tahu bahwa suaminya akan tetap memikirkan keputusan Boboiboy tersebut meski nampak tak peduli.

"Kami tak akan memaksamu untuk mempercayai keberadaan kami, para halfter, dengan cepat... Kalau kami memaksakan itu, kau tak akan bisa memahami diri kami sebenarnya... Seperti para manusia yang mempercayai keberadaan kami, namun mereka salah kaprah dalam pemahaman..."

"Ma, maaf... Apa itu halfter...?"

Hao tersenyum sambil memberikan buku di tangannya pada pangkuan Boboiboy "Aku baru saja akan menjelaskannya padamu... Coba lihat ini..."

Banyak tulisan berderet dalam buku tua di pangkuan Boboiboy. Banyak bahasa latin dan aksara yang tak ia mengerti. Namun Hao menunjukkan ilustrasi-ilustrasi yang ada pada halaman tersebut.

Boboiboy mengenal ilustrasi-ilustrasi kuno tersebut sebagai para makhluk mitos atau bahkan imajiner. Vampir atau drakula, werewolf, ghoul, zombie, bangsa goblin, hingga bangsa mermaid, gryphon, naga dan lainnya. Buku tersebut dipenuhi gambar-gambar bagai buku dongeng. Semua aksara yang bercerita mengenai segala makhluk yang tergambar indah di dalamnya memperindah isi buku tersebut.

"Ras manusia dan ras makhluk seperti kami ini tak pernah bisa memiliki pemahaman yang sama... Hanya ada segelintir orang yang bisa memahami kami secara mendalam. Sementara banyak yang salah paham akan keberadaan kami di dunia ini... Manusia menganggap kami bukanlah makhluk yang berhak tinggal di atas bumi hidup berdampingan dengan mereka... banyak yang berusaha memusnahkan kami dengan membuat kisah-kisah menyeramkan mengenai keberadaan kami..."

Boboiboy mulai mengerti apa yang dibicarakan Hao secara tenang di hadapannya.

"Halfter memiliki arti dari, half yang berarti 'setengah'... Makhluk seperti kami yang merupakan ras murni bukan manusia sering disebut demikian... Dibanding dengan kata 'monster', halfter masih memiliki arti yang lebih lembut dan sopan... Kami disebut halfter karena pada malam hari kami keluar dengan wujud asli kami... namun jika siang, meski kami lebih banyak bersembunyi dan tidak keluar beraktivitas, namun banyak juga yang keluar dengan menggunakan wujud manusia sebagai penyamaran... Maka itu, halfter bisa juga berarti makhluk-makhluk yang bisa menyamar sebagai manusia di siang hari, sementara kami ini sama sekali bukan manusia murni... dan kami menggunakan wujud asli kami di malam hari..."

Dari pandangan mata Boboiboy, Hao bisa tahu bahwa gadis itu dengan cepat mengerti apa yang ia jelaskan.

"Kami tidak seburuk yang kalian bayangkan... Sejak ratusan tahun lalu, sejak semakin memburuknya hubungan manusia dengan ras lain... sebenarnya sudah ada sebuah organisasi yang berusaha menyatukan dua dunia yang berbeda ini secara diam-diam... Organisasi ini disebut dengan Night Gaze. Organisasi yang bercabang di seluruh pelosok negeri. Ada sistem pemerintahan, kementerian, dan duta dari masing-masing pihak. Semua perundangan dan peraturan dirancang oleh kementerian dan wajib dipatuhi oleh seluruh pihak. Banyak manusia yang tak mengetahui keberadaan kami karena tidak semua manusia bisa menerima kami... Para halfter yang tersebar di seluruh pelosok negeri harus memiliki Tanda Pengenal, sama seperti manusia yang memiliki Kartu Tanda Pengenal. Semua halfter akan didata dalam sensus kependudukan. Tentu saja ada halfter liar yang harus ditangkap agar tidak meresahkan manusia dan halfter lain... Para halfter liar yang tak bisa mengendalikan diri dapat menyerang manusia secara brutal seperti yang kau tahu dari kisah-kisah mengenai sisi buruk kami... Maka para halfter ilegal ini harus ditangkap dan diberikan perawatan serta suntikan agar sel-sel dalam tubuh yang membuatnya liar bisa lebih terkontrol. Para halfter yang telah terdata merupakan halfter legal yang tinggal berbaur dengan manusia tanpa diketahui manusia itu sendiri..."

Boboiboy terdiam takjub mendengar segala penjelasan Hao mengenai dunia para halfter yang terpisah dengan dunia yang ia kenal sebelumnya.

"Dalam organisasi Night Gaze tentu saja dijalankan oleh kedua belah pihak secara adil, baik dari ras manusia maupun ras halfter... Organisasi ini memiliki sekolah yang diperuntukan para halfter muda dan manusia yang memiliki hubungan maupun pengetahuan terhadap halfter... Anak kami, Fang, bersekolah di organisasi tersebut bersama para halfter muda lainnya... Tentu dengan kebersamaan yang ada dan diciptakan oleh organisasi ini, kami harus hidup berdampingan dengan manusia. Semisal makanan para vampir yang terpenting adalah darah. Dari pihak organisasi akan diberikan darah yang berasal dari hasil transfusi dalam kantong transfusi darah. Para halfter tidak diperbolehkan memburu manusia sebagai mangsa. Kami memakan daging dengan cara yang sama seperti kalian... membeli di pasar legal..."

Boboiboy mulai membayangkan sebuah sekolah yang berisi berbagai macam rupa murid yang ada dengan para guru yang tak pernah bisa ia bayangkan sebelum ia mengenal dunia itu. Bagaimana para halfter berjalan-jalan dengan menyamar di setiap sudut jalanan berinteraksi dengan manusia tanpa diketahui siapapun. Hatinya berdecak kagum mendengar kisah bagai sebuah mimpi tersebut.

"Mungkin Elizabeth telah menceritakan bahwa kami telah mengawasimu sejak kau masih kecil, Bobiboy... Kami ingin, kau bisa memahami kami secara perlahan..." Boboiboy mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Hao tersenyum lega.

"Baiklah... Sekarang, biar kujelaskan peran darah Elizabeth yang kini mengalir dalam tubuhmu..." Hao kini duduk di samping Boboiboy berdampingan dengan istrinya saling menghadap pada sang gadis yang berada di tengah memeluk buku di pangkuannya.

"Elizabeth adalah vampir sejati, yang artinya lahir dari kedua orang tua yang murni vampir dalam keluarga vampir. Begitu pula denganku, lahir dari keluarga werewolf dari Cina yang secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu adalah keturunan murni werewolf... Anak kami, Fang, lahir sebagai werewolf namun memiliki kemampuan menurun para vampir, hanya saja ia belum bisa mengendalikannya..." Hao menghela napas sambil memutar matanya mengingat sang anak yang temperamental. Dalam hati Boboiboy justru semakin penasaran kemampuan apa yang ada pada masing-masing ras, setelah mendapat penjelasan dari Hao dan melihat kemampuan Elizabeth yang begitu memukaunya.

"Untuk menyelamatkan dirimu, Elizabeth memberikan lima tetes darah vampir dari dalam dirinya... Meski hanya beberapa tetes, darah dari kedua ras yang berbeda jika disatukan secara tiba-tiba bisa membahayakan tubuh yang menerima darah tersebut... Terutama jika pikiran sang penerima menolak, karena dari pikiran yang berupa otak memerintahkan tubuh mengalir ke seluruh syaraf dan organ untuk menolak darah atau benda asing yang masuk. Penolakan ini mengakibatkan darah vampir membeku dan mengkristal dalam tubuh. Seluruh tubuh akan merasakan sakit luar biasa dan demam tinggi, seperti yang kau alami tadi... Kini tubuhmu telah menerima darah Elizabeth, membiarkan darah tersebut mengalir dan bercampur dengan darahmu, sehingga keadaanmu menjadi lebih baik..."

Boboiboy terdiam sambil memandangi Elizabeth yang masih merangkulnya "Ta, tapi... saya ingat jelas... bahwa saat itu saya terluka parah... Bagaimana mungkin... lima tetes darah dapat menyembuhkan...?"

Elizabeth tersenyum mendengar pertanyaan Boboiboy yang polos "Salah satu kemampuan yang dimiliki vampir adalah menyembuhkan diri sendiri dengan cepat. Namun darah dalam tubuh vampir tidak berjumlah banyak, menyebabkan kami harus mengkonsumsi darah dari luar tubuh, untuk memberikan kami energi dan darah yang baru untuk bersatu dalam tubuh kami... Dan jika sembarangan orang mengambil darah kami dengan paksa, atau bahkan mencuri darah kami... Dengan mudah kami melacak dan 'mengambil' kembali darah yang ada di dalam tubuh lain itu..."

Boboiboy memiringkan kepalanya bingung mendengar kata 'mengambil' dari Elizabeth. Wanita itu mengerti dan tersenyum manis memberi penjelasan sambil memperlihatkan taring di balik bibirnya "Kau tahu... hal yang biasa dilakukan vampir..."

Elizabeth semakin gemas pada Boboiboy yang mengangguk polos mengerti akan penjelasan yang diberikan padanya. Wanita itu memeluk tubuh Boboiboy semakin erat sambil mengelus rambut hitam pendek gadis mungil tersebut. Hao tersenyum melihat istrinya yang sudah lama sekali ingin memeluk anak perempuan yang sudah ia anggap anak sendiri sejak wanita itu jatuh hati pada gadis kecil yang kehilangan orang tuanya menangis sendirian di dalam kamar yang gelap lima tahun yang lalu.

"Maka itu... kini dirimu bukanlah manusia sejati seperti dulu lagi, Boboiboy..."

Kata-kata dari Hao membuat Boboiboy terdiam. Kelanjutannya tak lagi membuat gadis itu terkejut maupun menolaknya, ia sudah bisa menebak...

"Kau kini setengah vampir..."

Elizabeth turut terdiam sambil mengelus lembut rambut Boboiboy "Namun... karena hanya sedikit darah yang kuberikan padamu... kau bukan juga merupakan vampir sejati... kau bukan halfter seperti kami... Bisa dibilang... kau langka... Manusia yang memiliki kemampuan vampir..."

Hao menghela napas "Kalau kau tak keberatan... kami ingin merawatmu... Tinggallah di sini bersama kami... Kami tahu kau tak memiliki sanak saudara yang bisa menampungmu... dan kami tak rela kau tinggal sendirian, dikejar-kejar oleh lintah darat itu..."

Boboiboy terdiam menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

"Terlebih lagi... dengan kondisimu yang sekarang... Bahkan kami sendiri tak tahu perubahan macam apa yang terjadi dalam tubuhmu... Kami ingin membawamu ke rumah sakit dan bagian research organisasi Night Gaze untuk pemeriksaan lebih lanjut... Kau juga harus didaftarkan dalam data kependudukan karena sudah memasuki wilayah ras halfter..."

Boboiboy merasa tak memiliki pilihan. Dalam hatinya ia ingin menolak karena tak ingin merepotkan para penolongnya. Namun jika ia pergi dari situ, entah apa yang akan terjadi di dalam tubuhnya, entah apa yang terjadi jika kembali ke rumah lamanya sendirian...

"Ba, baiklah... tapi... bolehkah saya pulang sebentar untuk mengambil barang-barang keperluan yang ada di rumah...?"

Elizabeth memasang wajah penuh kegembiraan dan kelegaan yang luar biasa. Ia nyaris tak percaya anak gadis yang ia impi-impikan untuk diasuhnya sejak dulu kini akan tinggal bersamanya "Tentu saja, sayang...! Besok akan kami antar kau...!"

"Ah, ng... bolehkah saya pulang sekarang...? Hanya sebentar saja... Saya janji..."

Hao dan Elizabeth berpandangan. Ada hal penting lain yang lupa mereka sampaikan pada gadis yang sedang memainkan ujung scarf dengan jemarinya. Boboiboy benar-benar tak ingin membuat suami-istri tersebut repot, namun ia merasa tak nyaman meninggalkan rumahnya begitu saja sejak ia diseret paksa oleh lintah darat yang menginginkan dirinya.

"Ng... Boboiboy... maaf... tapi... Kita baru bisa pergi besok... karena... pintu dimensi segala penjuru hanya bisa kita gunakan melalui ijin organisasi..."

Hao dan Elizabeth berpandangan kembali dengan tatapan maklum setelah melihat wajah Boboiboy yang penuh dengan tanda tanya.

"Rumahmu... di Malaysia, Pulau Rintis' kan...? Sedangkan... saat ini kau berada di sebuah desa kecil di pegunungan pinggiran barat kota London, Inggris... jadi..."

Tak ada suara yang terdengar sama sekali setelah penjelasan singkat dari Elizabeth. Boboiboy hanya bisa diam berdiri tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Selanjutnya, pasangan suami istri Lang panik karena ternyata Boboiboy pingsan sambil berdiri.

TBC...