The Young Master Who Cannot Hold Himself

ps: Untuk beberapa saat saya mau keluar kota dulu, jadi belum bisa update setelah ini ^^ Ada yang bertanya bagaimana kelanjutan "Alasan Terbesar: Small Chapters", saya masih melanjutkannya ^^ Hanya saja akhir-akhir ini lumayan sibuk, jadi hiatus sebentar ^^

Terima kasih sudah setia membaca fic saya ^^ Dan salam kenal buat yang baru membaca ^^


Pukul dua pagi, hujan telah berhenti meninggalkan aroma tanah dan dedaunan dalam udara dingin serta sepinya pagi buta. Kabut tebal menyelimuti seluruh wilayah di pegunungan daerah pinggiran London yang sepi. Sebuah rumah berwujud kastil tua dengan nuansa Eropa klasik menerangi nuansa gelap dengan cahaya yang nampak dari tiap jendelanya. Cahaya kuning remang hangat. Pepohonan tinggi rimbun yang mengelilinginya sedikit menutupi cahaya remang tersebut. Beberapa rumah yang berjarak agak jauh dari situ juga tampak menunjukkan cahaya kecilnya dari dalam rumah, bagai bintang-bintang yang terang dalam gelap malam di langit.

Di saat para manusia beristirahat, pada saat itulah para halfter beraktivitas. Nampak pada beberapa desa terpencil di daerah pegunungan tersebut dikelilingi hutan rimbun berkilau hangat terangnya api dari lampu-lampu yang menyala sebagai penerang jalan dalam keramaian pagi buta. Wangi roti, kopi, hangatnya cahaya lampu, dan suara-suara para makhluk mengobrol terdengar di tengah pagi buta. Bagai malam yang menggantikan siang. Udara dingin yang menusuk tak dihiraukan mereka yang berjalan di tengah riuh desa dan kota kecil, di mana para halfter tinggal berdampingan dengan manusia.

Berjarak cukup jauh dari pedesaan, begitu dalam memasuki hutan yang lebat dan dibalik perbukitan serta gunung yang menjulang tinggi penuh wibawa, nampak sebuah tembok tebal tinggi yang dikelilingi perbukitan dan hutan lebat. Tersembunyi di balik tembok raksasa nan tinggi tersebut, keberadaan sebuah kastil besar dengan cahaya keemasan. Terlindungi dalam tembok besar yang mengelilingi, nampak pemandangan kota kecil Eropa jaman dahulu, lengkap dengan rumah-rumah dan pertokoan gaya Eropa abad pertengahan mengelilingi kastil megah yang diketahui sebagai pusat organisasi Night Gaze beserta badan Research and Development, serta kementerian dan kedutaan yang terbagi dalam beberapa bagian dalam satu kastil. Terbagi menjadi beberapa sayap, kastil tua tersebut begitu besar dan megah, tak kalah dari tembok yang mengelilingi sebagai penjaga dan pelindung. Nampak sayap kiri yang masih berupa bagian dari kastil tersebut, Hospital and Service khusus untuk para halfter. Dan sayap kanan yang menjadi bagian tak kalah penting dari organisasi tersebut, Education, School and Library untuk para halfter dan para ras manusia yang mengambil pendidikan di tempat tersebut.

Bisa dibayangkan betapa besar kastil tersebut, dengan warna keemasan yang dipantulkan pada tembok dari cahaya-cahaya yang terang di pagi buta bersumber dari keramaian kota yang mengelilingi. Namun apa yang menjadi pemandangan luar kastil tua yang megah itu tidak dapat dinilai dengan keadaannya di dalam.

Alat-alat canggih dan modern menjadi bagian besar dalam kastil tersebut. Tampak pintu kaca otomatis yang mempersilahkan masuk segala ras yang datang. Sistem keamanan yang ketat menjadi sambutan pertama bagi siapapun yang masuk dengan kewajiban melewati beberapa alat scan tubuh yang berhadapan dengan pintu gerbang kastil. Meja resepsionis berjejer begitu melewati sistem keamanan. Komputer dengan para karyawan di balik meja siap melayani semua ras yang datang.

Pria dan wanita dari segala ras dengan pakaian rapi berjalan mondar-mandir sibuk di dalam kastil berlantai marmer bagai kaca yang menghias seluruh lantai dalam kastil. Elevator dan escalator siap mengantar siapapun yang hendak ke lantai atas bahkan sampai puncak kastil, di mana segala sistem pemerintahan dan kementerian organisasi bekerja dalam kantor mereka. Dengan jembatan yang menyambung dari kastil satu ke yang lain, mengatar orang-orang menuju bagian-bagian lain dari organisasi.

Dari gedung administrasi yang menjadi jantung atau gedung inti yang menyambut para pengunjung, tersedia gerbang atau gate masing-masing untuk menuju ke bagian kastil yang lain. Di mana ada gate menuju Education School and Library, menuju bagian Hospital and Service, hingga menuju Government, Ministry, Embassy and Office.

Bermacam-macam makhluk berkeliaran dengan sibuk, menjalani tugas dan urusan mereka masing-masing. Begitu pula dengan pemuda dengan rambut bersurai gelap yang sedang melewati salah satu mesin scan tubuh yang berjejer di setiap ujung gate sebagai salah satu dari segala sistem keamanan yang ada.

Dengan menunjukkan kartu siswa, bukti bahwa ia merupakan salah satu murid di sekolah yang disediakan organisasi tersebut pada mesin scanner yang dijaga para goblin tua tanpa senyum sama sekali di wajah. Tubuh mungilnya yang hanya setinggi lutut manusia dewasa terbalut dengan seragam rapi dan menunjukkan keseriusan ia bekerja. Mata mereka mengrenyit nyaris bersatu dengan hidung mereka yang mancung tajam, menunjukkan ketidak ramahan. Telinga mereka yang tajam terangkat bisa mendengar segala suara yang mencurigakan di sekeliling mereka. Bukti bahwa tidak adanya ramah tamah dalam sistem keamanan dalam organisasi, yang ada hanya disiplin keras dan ketegasan menghadapi keamanan. Namun di balik para goblin bertubuh mungil tersebut, senantiasa siap para pasukan halfter lain yang lebih kuat dan bertubuh besar untuk memperkuat sistem keamanan organisasi.

Fang berjalan sambil membetulkan letak kacamatanya melewati gate sekolah menuju meja resepsionis pada gedung inti. Seorang wanita ras manusia ditemani seorang goblin wanita di belakangnya menyambut cowok tersebut. Keduanya duduk dalam satu sekat yang sama dengan busana rapi dan sopan. Tentu saja hanya sang wanita manusia yang tersenyum menyambutnya, sementara goblin di belakangnya tak memasang ekspresi apa-apa selain ketidak ramahan sambil sibuk mengurusi segala administrasi, membantu rekan manusianya.

"Mohon tunjukkan kartu ID anda..."

Sang putra werewolf tersebut memberikan kartu ID pelajarnya. Sang wanita menerimanya dan mulai memeriksa. Sementara sang wanita memeriksa identitas kartu, Fang melihat jam dijital yang menunjukkan waktu dari segala bagian dunia terpampang besar di bawah logo Night Gaze yang menonjol megah di atas jejeran meja resepsionis. Setelah beberapa saat, wanita tersebut menyapa ramah "Selamat pagi, tuan Fang Lang... Ada yang bisa saya bantu...?"

"Boleh aku tahu bagaimana cara mendaftarkan halfter baru...? Ada kenalanku yang belum mendaftarkan diri dalam data kependudukan..."

Sang wanita mulai mengoperasikan komputer yang menghadap pada dirinya dengan layar yang membelakangi Fang "Anda bisa melihatnya melalui website dengan memasukkan nomor induk yang ada pada ID anda. Setelah anda telah melakukan proses memasukkan data melalui jalur online, mohon kehadiran anda beserta kenalan anda yang belum terdaftar di bagian Embassy and Office dengan mendaftarkan diri dahulu di sini..."

Fang mengangguk menerima kembali kartu IDnya. Besar harapan sang pewaris keluarga Lang untuk mendaftarkan gadis pujaannya menjadi bagian dari organisasi setelah ia tahu bahwa Boboiboy telah menerima dirinya sebagai vampir dari ibunya yang mengirimkan pesan melalui handphone malam tadi.

Kini kakinya melangkah buru-buru kembali ke rumahnya melewati pintu gerbang kastil organisasi yang megah. Ia menuruni tangga kastil dan menerobos lautan ras di hadapannya yang sibuk beraktivitas menutupi jalanan di antara pertokoan dan rumah.

Namun sebelum kakinya melangkah lebih cepat, kini ia terhenti di sebuah gerobak yang dipenuhi bunga hingga wanginya semerbak tercium terbawa angin malam yang lembut. Warna merah mawar sungguh mencolok dan menarik hatinya untuk membeli beberapa ikat. Gadis berpakaian tradisional Eropa menyambut Fang hangat dan merangkaikan mawar pesanan Fang.

"Boboiboy..." bisik Fang dalam hati sembari memeluk mawar merah segar yang dihias butiran embun di tiap kelopaknya. Setelah membayar, kakinya kembali melangkah menuju gerbang dinding kokoh yang menjadi pelindung kota kecil tersebut. Para penjaga gerbang mengangkat topi mereka sopan pada Fang yang perlahan merubah tubuhnya menjadi seekor serigala hitam besar, berlari dengan kaki-kakinya yang berbulu menerobos pepohonan dan hutan yang menghalangi pandangannya dengan kegelapan pagi buta. Bukan masalah bagi sang serigala bermata tajam.

Dari atas bukit, sang serigala jejadian berdiri tegap memunggungi rembulan terang menatap kastil rumahnya yang berdiri kokoh di balik perbukitan dan pepohonan. Cahaya terang dari jendela menjadi penunjuk arah dalam gelap. Rumah yang bersinar hangat, di mana ia kembali berjalan pulang dengan harapan begitu besar untuk dapat memeluk gadis yang setia ia cintai sejak pertama kali bertemu lima tahun lalu.


Elizabeth dan Hao bisa mendengar langkah bahagia yang berasal dari pintu depan. Begitu Fang masuk dengan wajah gembira beserta seikat bunga mawar di pelukannya, mereka hanya bisa menghela napas melihat anak mereka tengah dimabuk cinta dari atas ujung tangga lantai dua.

Fang mendangak, mendapati kedua orang tuanya yang menyambutnya dengan senyum kecil. Ia langsung berlari mendekati mereka dan disambut dengan sang ibu yang meletakkan telunjuk jari di depan bibirnya "Ssh... Boboiboy sedang beristirahat..."

Elizabeth menceritakan apa yang telah membuat Boboiboy kaget setengah mati. Fang perlahan membuka pintu kamarnya dan mendapati gadis pujaannya kembali terbaring sama seperti ketika pertama kali ia membawanya ke rumah itu di atas tempat tidur miliknya.

Wajahnya begitu tenang membuat Fang tak dapat menahan keinginan untuk mengelus pipi Boboiboy. Kulit yang begitu lembut berwarna salju, bibir berwarna kelopak mawar merah muda yang nampak manis, rambut hitam legam halus yang nyaris menutupi dahi Boboiboy. Jari Fang menyisir dengan lembut rambut gadis itu dari wajahnya agar tak mengganggu pembaringan Boboiboy.

Bagai mimpi yang terkabulkan, Fang tak kuasa menahan hasratnya untuk memeluk tubuh gadis yang ditunggunya bertahun-tahun untuk berada di pelukannya. Wangi bunga semerbak tercium dari tubuh gadis itu. Hidung Fang begitu dekat hanya terpisah beberapa mili dari dada Boboiboy. Ia menghirup wangi yang begitu ia idamkan ada di sisinya. Sambil menarik napas menghirup wangi tubuh Boboiboy, perlahan kepala Fang bergerak menuju tepat di depan wajah Boboiboy.

Tanpa ada keinginan untuk membangunkan Boboiboy, dengan hati-hati Fang menempelkan bibirnya pada bibir gadis impiannya.

"Akhirnya aku bisa memelukmu... pengantinku..."

Suasana romantis penuh bunga yang Fang hadirkan selama ia memeluk Boboiboy, akhirnya terpaksa harus dihentikan karena Elizabeth memanggil anaknya untuk makan bersama di ruang makan bawah.


Hidangan lezat terhidang di atas meja yang begitu lebar dan panjang. Ruang makan yang dikelilingi dinding tinggi dengan tiang yang menghias serta lukisan-lukisan yang terbingkai indah begitu terang berkat lampu hias di atas meja makan yang hanya memiliki tiga buah bangku. Hanya untuk Fang dan kedua orang tuanya. Jika saja ada musik yang mengalun, ruang itu sudah seperti sebuah ruang restoran VIP dengan harga yang tak terjangkau.

"Fang..." suara ibunda vampir sedikit menggema memecah keheningan waktu makan di tengah ruangan tersebut. Fang hanya menatap sang ibu dari bangkunya sambil mengunyah makanan di mulutnya "Hmm?"

"Ibu tahu kau begitu merindukan Boboiboy dan sangat menginginkan dirinya untuk dijadikan istri... Tapi ibu ingin berpesan padamu... Kau ini werewolf yang masih dalam usia muda... Ibu meragukanmu bisa menjaga nafsu..."

Hao yang sedang minum nyaris tersedak tanpa melepas wajah dingin dan datarnya mendengar kata-kata penuh kejujuran dan langsung dari sang istri yang duduk di samping kiri meja makan. Sementara Fang menghela napas setelah menelan makanannya.

"Ibu minta agar kau tak melakukan hal-hal tak senonoh pada Boboiboy... Apalagi berusaha menciumnya... Gadis itu sangat pemalu. Kau mengerti?"

Fang mengangkat alis. Kenyataannya dia sudah memeluk dan mencium gadis idamannya ketika sedang tidur. Tapi perintah sang ibu adalah absolut. Maka ia tak bisa melakukan hal seperti demikian lagi setelah perintah keluar dari bibir ibunya "Baik, bu..."

Fang melihat makanan yang berjejer pada piring-piring indah di hadapannya "Apa Boboiboy sudah makan? Lebih baik aku bawakan dia makanan..."

"Sudah... pada saat dia siuman sudah ibu bawakan sup panas dan roti... Nanti kalau ia sudah bangun lagi, mungkin bisa kita bawakan makanan untuknya lagi..." Elizabeth mengelap bibir dengan serbet putih di samping tangannya "Fang... kau bisa tidur di kamar tamu sementara Boboiboy tidur di kamarmu..."

"Aku tak boleh tidur di sampingnya?"

"TIDAK"

Jawaban tegas berbarengan dari kedua orang tua Fang membuat cowok werewolf itu cemberut. Kedua halfter dewasa tersebut tahu jelas anaknya kurang bisa menahan hasrat jika sudah berhubungan dengan Boboiboy.


Boboiboy terbangun mendengar dentangan jam yang terpasang di dinding kamar tempat ia berbaring. Perlahan gadis itu bangun, terduduk dan akhirnya menggeserkan tubuhnya ke sisi tempat tidur. Kakinya telanjang berjalan di atas karpet lembut menuju jendela yang tertutup tirai. Begitu telapak kakinya menyentuh lantai yang tak terlindungi karpet, ia merasa menggigil.

Tangannya menyentuh tirai dan mengeser kain berbahan lembut tersebut sedikit hingga memperlihatkan pemandangan luar dari jendela yang telah terbuka. Pemandangan di luar nampak lebih terang, namun sinar matahari tertutupi kabut tebal sehingga cahayanya tak sanggup menyentuh bumi secara penuh.

Ingatan Boboiboy kembali di saat Elizabeth dan Hao menjelaskan keberadaannya kini. Gadis itu merasa sehari lalu yang ia jalani bagaikan mimpi dalam semalam seharusnya sudah sirna karena ia sudah terbangun. Namun mimpi itu kini masih bisa ia lihat, tak menghilang sama sekali.

"Inggris... Astaga... apakah ini bercanda...?" mata bulatnya memandang sekeliling kamar dan tertuju pada scarf lebar tebal yang dipinjamkan Elizabeth semalam untuk menghangatkan dirinya. Boboiboy kembali membalut tubuhnya dengan scarf tersebut dari kepala hingga nyaris ke lutut. Tak pernah ia rasakan udara sedingin itu di kampung halamannya. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Kembali, kedua kaki tanpa alas berjalan menuju pintu dan membukanya.

Lorong besar dan panjang terasa lebih dingin dan gelap, terlebih lantai sepanjang lorong tersebut di mana Boboiboy pijak. Ia mulai berjalan menuju entah ke mana.

Rumah bagai kastil itu begitu sepi. Boboiboy ingat jelas bahwa kedua tuan rumah yang menyambutnya bukan manusia seperti dirinya. Setidaknya... tidak seperti dirinya yang dahulu.

Ia kembali mengingat ketika Elizabeth bercerita bahwa ia adalah vampir dan suaminya adalah werewolf "Mungkin... mereka tidur pada pagi hari dan bangun pada malam hari... seperti di dongeng-dongeng..." gumam Boboiboy sambil berjalan menuruni tangga.

Tak henti-hentinya gadis itu merasa takjub pada istana tersebut. Seluruh benda yang ada di segala sudut dan ruangan begitu antik dan mewah. Dari langit-langit hingga ke lantai serta dinding tembok yang mengelilingi. Meski rasa penasarannya besar, tapi Boboiboy tak berani untuk bersikap kurang ajar menjelajahi segala ruangan yang berpintu di sepanjang lorong. Ia hanya diam berjalan menelusuri lorong yang tinggi dihiasi lukisan-lukisan serta patung yang mengawasi. Semua tirai tertutup erat membuat suasana gelap dalam kastil itu begitu misterius.

Langkah Boboiboy terhenti begitu ia melihat sebuah lukisan paling besar pada sebuah dinding. Secercah cahaya kecil dari celah tirai yang kurang erat tertutup menerangi lukisan tersebut. Nampak sang tuan dan nyonya rumah yang ia kenal, bersama dengan seorang anak lelaki seusia dirinya berdiri mendampingi kedua orang tuanya. Boboiboy ingat wajah itu. Wajah yang ia lihat ketika perlahan siuman dari demamnya.

"Ini... anak dari Nyonya Elizabeth...?" wajah tampan tersebut bukanlah satu-satunya hal yang diingat Boboiboy ketika siuman. Namun ada hal lain yang membuat gadis itu teringat akan masa kecilnya dahulu.

Ada yang membuat memorinya mengalun perlahan kembali ke masa lalu.

"Mata itu..."

Mata berwarna coklat kemerahan di balik gelas kacamata bening di wajah sang tuan muda.

Boboiboy kini ingat...

Dahulu ketika ia menyelamatkan seekor anak anjing hitam dari ramainya jalan raya... mata itu yang menatapnya. Ketika ia bertambah usia, ada seekor serigala yang menatapnya dari kejauhan di halaman rumahnya. Sang gadis kecil mengintip dari jendela kamarnya. Ada seekor serigala kecil yang didampingi serigala besar. Serigala kecil tersebut memiliki mata yang sama. Seiring bertambah lagi usianya... seekor serigala dengan sinar mata yang sama terus memperhatikannya dari kejauhan. Dan sebelum ia hilang kesadaran ketika terbaring bersimbah darah di atas aspal, mata yang sama menatapnya, dengan wujud serigala hitam besar yang berjalan mendekat hingga akhirnya ia tak sadarkan diri...

Boboiboy menggeleng perlahan. Tapi cerita Elizabeth kembali memperingatkan dirinya akan sebuah kenyataan... bahwa sudah lama ia beserta suami dan anaknya memperhatikan diri Boboiboy sejak anak itu menyelamatkan serigala kecil yang melengking ketakutan di tengah jalan raya.

Bisa jadi, sang tuan muda keluarga Lang lah yang...

Wangi harum yang lembut tiba-tiba membuat Boboiboy mengangkat kepalanya perlahan. Tanpa ia sadari, kakinya berjalan menuju arah sumber wangi tersebut. Wangi semerbak kini begitu menggoda gadis berambut hitam legam tersebut berjalan menuju pintu belakang kastil keluarga Lang, di mana pintu tersebut membawanya ke halaman belakang yang diselimuti kabut.

Tanpa kesadaran sama sekali, kaki-kakinya berjalan menginjak rerumputan yang dibasahi embun, udara dingin sama sekali tak dipedulikannya lagi, bahkan scarf yang ia kenakan di tubuhnya terjatuh di pintu yang ia lewati sebelum ia menginjak tanah dan rerumputan. Tebalnya kabut putih yang menutupi daerah pegunungan tempat tinggal keluarga Lang kini benar-benar membutakan pandangan. Gadis yang berjalan dengan pandangan kosong di halaman kastil tersebut sama sekali tak menyadari ke mana ia akan menuju. Kini seluruh kabut menyelimuti dirinya yang berjalan semakin jauh menuju ke tengah taman dengan daster putih.

Namun dibalik tebalnya kabut putih yang menutupi taman kastil, ada sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga dan tanaman hijau yang rimbun bagai taman surgawi. Hanya satu jenis bunga yang didatangi Boboiboy. Lautan bunga mawar merah dengan tangkai-tangkainya yang penuh duri.

Wanginya yang semerbak memanggil sang gadis untuk mendekati. Anehnya, duri-duri yang tajam dan besar seakan tak bisa melukai gadis yang tak sadarkan diri tersebut. Kulit mulus Boboiboy sama sekali tak tergores sedikitpun meski tubuhnya melewati kumpulan mawar berduri yang indah dan berbahaya.


Sementara Fang yang tidur di salah satu kamar dekat ruangan di mana Boboiboy beristirahat akhirnya terbangun begitu telinga serigalanya yang runcing menegak. Bergegas ia melompat dari tempat tidur menuju kamarnya di mana seharusnya putri tidurnya masih terbaring, kini kosong tak ia temukan di sudut ruangan mana pun dalam kastil setelah berkeliling dengan cepat.

Tentu saja Elizabeth dan Hao terbangun karena ulah anaknya yang membuat rusuh satu kastil besar. Beruntung hanya mereka bertiga penghuni kastil besar itu.

"Fang... kenapa bangun jam segini...? Ayo kembali tidur..." Elizabeth menguap sambil bersandar di daun pintu dengan suaminya yang mengenakan mantel tidurnya.

"BOBOIBOY HILANG!"

Teriakan Fang yang menggema akhirnya menggerakkan kedua orang tuanya bergegas ikut mencari.

"Aku sudah mencari di seluruh kastil tapi ia tak ada di mana-mana!" Fang mulai panik. Ayahnya berusaha menenangkan agar anaknya tak harus mengelilingi seisi rumahnya lagi.

Elizabeth berdiri diam memejamkan matanya sambil berkonsentrasi. Ia bisa melacak di mana darah yang ia miliki mengalir dalam tubuh Boboiboy, maka ia juga dapat melacak di mana gadis itu berada.

"Ia tak jauh dari sini... keadaan darahnya juga stabil dan tenang... mungkin ia berjalan-jalan saja setelah terbangun... tenanglah, Fang..."

Fang mulai kalem mengatur napasnya. Hao juga menghela napas lega sambil mengambil mantel Fang dan mengenakannya pada anak itu. Sambil menepuk pundak Fang, Hao menaruh harap pada istrinya "Kau bisa lacak di mana kira-kira dia berada?"

Elizabeth kembali berkonsentrasi penuh. Begitu sang nyonya berjalan meninggalkan tempatnya, Fang dan ayahnya turut mengikuti.


Kini ketiganya mendapati scarf yang dikenakan Boboiboy di depan pintu belakang yang terbuka. Mata Fang mengikuti arah sang ibunda memandang. Elizabeth yakin Boboiboy ada di balik kabut tebal yang menyelimuti taman kastil mereka. Fang langsung berjalan menuruni tangga batu memasuki kabut tebal di hadapannya. Ia memasang mata dan penciuman serta pendengarannya yang tajam. Telinga lancip tegak berkonsentrasi mendengar suara sekecil apapun.

Hao dan Elizabeth mengikuti di belakang anak mereka. Sang nyonya menggenggam erat scarf di tangannya sambil dirangkul oleh suaminya.

Begitu sampai di tengah taman, mereka mendapati Boboiboy tengah terduduk dikelilingi lautan bunga mawar yang mekar semerbak berwarna merah darah dan merah muda. Gaun putih yang membalut tubuh Boboiboy sedikit terkoyak karena duri, namun gadis itu sendiri tak terluka sedikitpun. Ia hanya duduk dengan pandangan kosong… sambil memakan bunga mawar yang ada di tangannya.

Fang dan kedua orang tuanya terdiam melihat sang gadis yang tak menyadari apa yang sedang dilakukannya. Bibir Boboiboy menjadi merah terang karena warna kelopak-kelopak mawar yang ia kunyah di mulutnya. Fang berjalan penuh hati-hati melewati rimbunan mawar yang menghias taman agar tak mengenai duri, hingga akhirnya ia sampai tepat di sebelah sang tuan putri. Perlahan, tangannya mengelus tangan Boboiboy dan memanggil nama yang bagai sebuah mantra suci bagi Fang "Boboiboy…"

Gadis berambut hitam pendek tersebut tersentak sedikit begitu kesadarannya kembali. Ia menoleh dan mendapati Fang tersenyum di sampingnya "…Anda…?"

"Aku Fang… anak dari kedua orang yang kau kenal ini…"

Boboiboy mendapati Elizabeth dan Hao tengah tersenyum sambil berdiri di belakangnya, masih dengan pakaian tidur di balik mantel mereka. Kini pandangan sang gadis kembali pada werewolf di sampingnya, menyadari warna bola mata yang begitu familiar sejak ia masih kecil. Boboiboy mengenalnya dengan jelas, namun ia bertanya lagi untuk memastikan kebimbangannya "A, anda yang menyelamatkanku…?"

Fang mengangguk "Begitulah… Aku juga adalah anak serigala yang telah kau selamatkan lima tahun lalu…"

Boboiboy terdiam kemudian tersenyum kecil mengingat pertemuan pertama mereka yang unik. Bagaimana ia sanggup melupakan lengkingan manja seekor anak anjing liar di pelukannya yang gemetar ketakutan nyaris terlindas truk. Boboiboy kini yakin mengenal Fang.

Fang bersumpah bagai melihat malaikat di depannya. Kalau Elizabeth tak berdehem mengingatkan, cowok itu sudah langsung memeluk Boboiboy tanpa ampun.

"Ah, kau… baik-baik saja…? Di luar sini sangat dingin…"

Boboiboy baru sadar ia berada di tengah sebuah taman yang dikelilingi mawar. Tanpa mengetahui kapan dan bagaimana ia bisa berada di situ "A, sa, saya… bagaimana bisa…?"

Kini pandangannya turun melihat beberapa mawar yang terkoyak di tangannya. Jemarinya berwarna merah karena warna bunga tersebut. Semakin bingung, gadis itu melihat sekeliling gaun tidurnya yang tersobek-sobek karena duri. Terlebih ketika ia menyadari ada sesuatu di dalam mulutnya…

Kelopak mawar merah.

Panik, Boboiboy berdiri membuat bunga-bunga di pangkuannya jatuh berserakan. Ia menyadari bahwa ia telah melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan sebagai manusia.

Ia telah memakan bunga-bunga yang terasa begitu manis di mulutnya.

"Ah! Apa yang...? Kenapa ini? Aku tak mungkin...! Oh!"

Elizabeth buru-buru mendekati gadis itu dan menenangkan Boboiboy yang menemukan keabnormalan lain dalam dirinya. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa merasakan manis dan lezat pada bunga mawar...

Dalam paniknya, kepala Boboiboy kembali berdenyut membuat gadis itu menderita kesakitan. Fang ikut panik langsung memeluk tubuh Boboiboy yang nyaris jatuh membentur rerumputan basah. Gadis tersebut merintih kesakitan memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah "A, ahhh! Sa, sakit...! Tolong...!"

Elizabeth memeluk kepala Boboiboy dan membisikkan dengan nada selembut mungkin agar gadis itu tidak semakin panik "Boboiboy... sayangku... Kau ingat' kan? Kau kini bukanlah murni manusia biasa... ada darahku dalam dirimu yang mengalir... Semakin kau menolak perubahan dalam dirimu, semakin sakit kau rasakan... Tak apa, sayang... Kami di sini akan selalu bersamamu dan menjagamu... Tak semua perubahan itu buruk... aku janji, sayang..."

Perlahan Boboiboy mulai tenang. Kata-kata sang nyonya membuat dirinya lebih bisa menerima apa yang telah terjadi. Rasa sakit di kepalanya mulai hilang seiring Boboiboy mengatur napas. Elizabeth tersenyum lembut dan memeluk gadis itu sambil mengenakan kembali scarf pada tubuh mungil Boboiboy. Kini anak perempuan yang merasa bagai tersesat di dunia yang tak pernah ia bayangkan, merasakan kehadiran 'rumah' pada pelukan Elizabeth.

Fang berlutut di sebelah ibunya. Ia tersenyum lebih lebar begitu Boboiboy memandangnya malu-malu dari balik pelukan Elizabeth "Sa, saya... saya sungguh berterima kasih anda sudah menyelamatkan nyawa saya..."

Fang terdiam tak bisa bergerak. Sungguh hatinya ingin sekali menerkam gadis polos di hadapannya dengan pelukan dan ciuman. Namun sang ayah yang sudah bisa membaca anak semata wayangnya langsung menepuk pundak Fang agar ia sadar diri "Ah, eh... ng... sama-sama..."

Hao menghela napas lega melihat anak perempuan asuhan mereka dalam keadaan baik tak kurang apa. Hanya perubahan dari diri Boboiboy yang sedikit mengejutkan mereka "Baiklah... bagaimana kalau kita masuk? Udara masih terlalu dingin untuk Boboiboy..."

Elizabeth membantu Boboiboy berdiri tanpa melepaskan pelukannya. Keempatnya berjalan kembali menembus kabut menuju kastil.

TBC...