NOTE: I'm back ^^ Tapi kayaknya bakal hiatus panjang lagi karena jadwal perkuliahan saya ternyata amat sangat padat. Dari pagi sampai malam.

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini dengan setia ^^ Senang sekali membaca review dan PM dari teman-teman sekalian ^^ Bahkan saya menerima fanart dari fic ini! Astaga! Mimpi apa saya sampai ada yang membuat gambar Elizabeth dan persis seperti bayangan saya! *cry* Sungguh terima kasih banyak! Saya benar-benar tak pernah bisa menyembunyikan senyum lebar kalau membaca review ^^

Doakan semoga hiatus saya tak lama. Semoga waktu luang mebuat fic tak tersita banyak karena perkuliahan panjang...

Ada beberapa yang meng-add saya di FB. Namun sayang, saya tak pernah meng-accept friend kalau tidak ada perkenalan melalui PM terlebih dahulu. Jadi mohon teman-teman yang memang telah mengirim add friend pada saya untuk memperkenalkan diri dahulu melalui PM jika masih berkenan ^^

Terima kasih banyak ^^


Mother's Heart

Dalam perjalanan, Boboiboy memandangi Elizabeth dengan heran. Yang dipandangi tentu sadar dan tersenyum pada gadis tersebut "Ada apa, sayang?"

"Ng... aku... sering mendengar cerita bahwa vampir takut sinar matahari dan akan mati jika terkena sinar... Kenapa anda...?"

Elizabeth tertawa kecil mendengar penuturan Boboiboy yang polos. Ia mengelus bahu gadis kesayangannya itu sambil menyandarkan pipinya pada rambut lembut Boboiboy "Kisah itu tidak salah dan juga tidak benar sepenuhnya... Dalam tubuh vampir, ada sel-sel yang membuat kami berbeda dengan makhluk lain... sel-sel yang melemah jika terkena sinar matahari menyengat... Kami akan melemah jika terkena teriknya matahari dalam derajat tertentu, kalau masih seperti ini tidak apa-apa... Aku sering berjalan keluar di siang hari karena udara dan cuaca London yang selalu mendung tak membuat tubuhku melemah sama sekali... Sama halnya dengan kepercayaan manusia bahwa makanan kami adalah darah. Itu juga tak salah, hanya saja mereka salah kaprah bahwa kami harus selalu minum darah setiap saat... Kami juga butuh makanan lain untuk tubuh kami, seperti daging merah atau jus tomat, dan makanan lain. Darah merupakan vitamin atau suplemen tambahan yang kami konsumsi jika tubuh kami merasa lemah... Mengenai bawang putih juga... ada ketidak cocokan sel-sel tertentu dalam diri kami untuk menerima bawang putih, menyebabkan tubuh kami memanas dan melemah... tapi tak sampai membunuh kami jika dalam takaran tertentu..."

Elizabeth mengakhiri penjelasannya begitu mereka memasuki kastil tempat tinggal keluarga Lang. Hao menutup pintu kayu tebal yang membatasi dapur dengan halaman belakang kastil. Boboiboy bisa melihat betapa tuanya kastil tersebut, dan entah kapan terakhir kali dapur kastil tersebut dibersihkan. Matanya berkeliling memperhatikan dapur yang berlantai dan berdinding batu, dengan lemari-lemari kayu yang kokoh, serta oven pemanggang tua yang masih menggunakan kayu bakar dan arang untuk menyalakan api. Ada kuali besar tergantung di sebuah tungku besar yang berdebu dan jelaga hitam yang menempel. Segala botol berisi rempah dan bumbu berjejer tak rapi dalam rak-rak kayu.

Elizabeth menyadari pandangan Boboiboy melihat-lihat dapur yang tak biasa baginya "Maaf, ya... aku sudah lupa kapan terakhir kali menggunakan dapur lama ini... Berhubung ada listrik dan suasana dapur yang gelap ini aku jadi tak pernah menginjakkan kakiku lagi di sini..." Elizabeth tersipu malu memperlihatkan dapur tua kotor berdebu tebal tersebut pada gadis yang tersenyum kecil. Boboiboy tak mengira di kastil yang nampak begitu antik dan klasik itu ternyata sudah menggunakan kompor listrik seperti pada manusia umumnya.

"Sup dan roti kemarin... anda yang memasak...?" Elizabeth kembali tersipu mendengar pertanyaan tersebut "Ng, roti kemarin aku membelinya... kalau sup, yah... aku sedikit bisa masak... dibantu dengan buku resep dan kekuatanku... Kalau secara manual aku tak pernah bisa memotong dengan rapi ataupun mencampurkan bahan dengan benar..."

Fang dan Hao saling melirik mendengar obrolan para perempuan di belakang mereka. Fang tak bisa menahan diri berkomentar "Yah... setidaknya kita untung ibu punya kekuatan untuk menggerakkan benda sehingga bisa mengontrol masakan... Kalau tidak bisa ada dua mayat serigala di kastil ini..."

Fang berakhir tepar di lantai dengan benjolan di kepala, diikuti dengan benjolan pada sapu yang melayang-layang di atasnya berkat kekuatan Elizabeth.

Hao menghela napas dan menggelengkan kepalanya sementara ia membiarkan anak dan ibu tersebut saling cek-cok. Kepala keluarga Lang menepuk pundak Boboiboy dan membungkukkan tubuh jangkungnya menatap mata sang gadis "Boboiboy... apa kau mau coba ke rumahmu sekarang...? Ini sudah pagi, jadi kita bisa sekalian memeriksa dan mendaftarkan dirimu pada organisasi..."

Boboiboy mengangguk antusias. Ia tak sabar ingin kembali ke rumahnya meski ia tahu tiada lagi yang akan menyambutnya di sana.

"Fang sudah mencoba mendaftarkan dirimu secara online... tapi karena status ras-mu belum jelas, maka kita akan memeriksakan dirimu dahulu..." Hao mengelus kepala Boboiboy yang kembali mengangguk menurut dengan polos.

Elizabeth hanya diam memasang wajah sebal pada anaknya yang nampak begitu bernafsu ingin lompat ke pelukan gadis pujaannya. Wanita itu bersumpah akan menabok anaknya sendiri dengan kursi kalau sampai Fang berani melepaskan nafsunya pada anak perempuan yang masih polos tersebut.

"Ah, ta, tapi... bukankah sekarang adalah jam tidur anda...? Saya tak mau anda jadi kerepotan karena saya... Ijinkan saya pergi sendiri... Saya akan lekas kembali, saya janji...!"

Elizabeth kembali memeluk Boboiboy "Tidak, sayang... kami baik-baik saja... Yang seharusnya beristirahat pagi ini adalah Fang, karena malam nanti ia harus sekolah... kecuali kalau ia tak mau lulus sebagai werewolf yang sukses..." Fang merasakan betapa dingin dan menusuknya pandangan sang ibunda pada dirinya. Terpaksa ia harus menuruti perintah yang berupa sindiran tersebut. Boboiboy geli meilhat Fang yang sedikit mengkerut karena tatapan tajam ibunya, menekukkan kuping serigala yang berada di kedua sisi kepalanya. Benar-benar bagai seekor anak anjing yang mau tak mau patuh pada ibunya.

"Nah, kau mandilah air panas dahulu agar segar... Akan kuambilkan handuk untukmu... Kau tak perlu khawatir soal baju..." Boboiboy kembali mengangguk menuruti kata-kata kedua orang tua asuhnya. Elizabeth mendorong lembut pundak Boboiboy membimbing gadis itu menuju kamar mandi yang berada di ujung lorong lantai dua.


Begitu pintu kamar mandi dibuka, Boboiboy tak sanggup menahan rasa takjubnya. Bagian dalam kamar mandi tersebut tak kalah mewahnya dengan kamar yang ia lihat sebelumnya.

Bak mandi untuk satu orang dihias tirai menggantung mengelilingi area bak mandi beserta shower dengan toilet di samping, dibatasi oleh kaca buram. Dinding yang berlapis marmer berwarna coklat keemasan dengan pola tanaman bunga serta ornamen indah penuh keanggunan, dihias kaca besar berbingkai indah menempel di dinding tepat di atas meja tempat kran air dan bak cuci tangan marmer bermodel antik. Boboiboy tak bisa membayangkan mencuci tangan di tempat seindah itu. Tak sampai hati rasanya mengotori keindahan tersebut.

Lampu hias yang menerangi kamar mandi nampak lebih kecil dan lebih sederhana dengan lampu di ruang manapun namun tak kalah indah, dan menerangi lebih remang membuat suasana hati begitu tenang dan santai. Permadani yang membuat suasana kamar mandi menjadi lebih hangat terletak di lantai samping bak mandi, serta ditemani meja kayu kecil di mana vas lengkap dengan bunga yang indah menghias ruang mandi tersebut.

Elizabeth membuka kran air di bak membiarkan air hangat mengisi untuk Boboiboy. Ia membalikkan tubuhnya mendapati sang gadis menatap penuh kekaguman di wajahnya yang polos. Reaksi yang begitu jujur membuat Elizabeth tersenyum geli. Ia menepuk kepala Boboiboy dan memberikan handuk untuk gadis tersebut "Mandilah dengan tenang... Aku akan siapkan baju untukmu, ya..."

Sebelum Elizabeth keluar membiarkan Boboiboy membasuh tubuh, gadis itu menahannya "Ah..."

Elizabeth menghentikan langkah dan tangannya yang sudah hendak menutup pintu kamar mandi "Ya...?"

"Ng... te, terima kasih banyak... a, apa yang anda semua lakukan untuk saya sungguh tak terhingga..."

Elizabeth terdiam dengan senyuman kembali melukis perasaan sayangnya pada anak gadis di hadapannya. Kakinya kembali melangkah masuk karena ia tak sanggup menahan diri untuk memeluk dan mencium kening Boboiboy "Kami hanya ingin membalas kebaikanmu menyelamatkan nyawa anak kami..."

Boboiboy masih tak bisa percaya dengan segala yang ia terima dari keluarga halfter yang begitu misterius itu. Apa yang ia lakukan lima tahun lalu tak pernah diduganya akan membawa dirinya ke sebuah dunia penuh keajaiban dan kasih sayang yang begitu dalam.

Tubuh tanpa busana sang gadis manusia kini terendam air panas yang menghangatkan tubuhnya. Tak pernah ia rasakan kemewahan sedemikian rupa seumur hidupnya. Hati kecilnya terus teringat sang kakek yang telah berpulang. Ingin rasanya ia berbagi kemewahan yang ia rasakan saat itu. Kemewahan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya.

Panasnya air dalam bak membuat hati Boboiboy lebih tenang. Perutnya pun telah terisi, meski ia masih dalam bimbang bagaimana mungkin mulutnya merasakan manis dari kelopak mawar merah...

Ia tahu dirinya telah berubah, namun segala keanehan yang terjadi bukan berarti bisa ia terima begitu saja dalam sehari. Perlahan, Boboiboy berusaha menerima dirinya yang baru.

Kebaikan hati Elizabeth dan keluarganya sungguh membuat Boboiboy merasa tak enak hati. Ia mulai merasa harus mengganti segala perlakuan yang ia terima dari keluarga Lang.


Hao memasuki kamar yang telah Elizabeth lama siapkan untuk Boboiboy sejak dahulu. Kamar dengan luas yang sama dengan kamar Fang, lengkap dengan segala properti dan kemewahan yang sama, hanya lebih feminin. Kepala sang werewolf menggeleng kecil melihat istrinya sibuk memilihkan baju untuk gadis yang sedang berendam dengan nikmat di kamar mandi. Semua pakaian anak perempuan yang bermodel manis Elizabeth jejer di hadapannya, melayang-layang karena kekuatan sang vampir. Meski terlihat bingung, namun ada kilau kebahagiaan begitu cerah terlukiskan di wajah Elizabeth. Sudah lama ia menunggu saat-saat seperti ini, memilihkan baju untuk anak perempuan yang ia kasihi sejak lama. Bagai mimpi indah yang menjadi kenyataan. Bahkan semua pakaian anak perempuan yang tergantung rapi dalam lemari merupakan pakaian yang telah lama ia siapkan untuk Boboiboy.

Barulah sang nyonya vampir sadari, suaminya berdiri menyilangkan tangan di depan dada tengah memperhatikan dirinya dari daun pintu "Oh! Sayang! Kemarilah! Mana yang menurutmu cocok untuk Boboiboy? Hari ini kita akan menemaninya ke rumah lamanya' kan? Kita bisa sempatkan diri berbelanja sebentar bersama-sama! Aaah! Aku tak sabar melihat dia memakai semua pakaian ini! Kita akan berjalan-jalan sebagai keluarga, berbelanja, lalu...!"

Sebelum rencana perjalanan Elizabeth semakin panjang dituturkan, Hao menepuk pundak istrinya dan memilihkan salah satu sweater biru tua gelap anggun dengan kemeja putih di dalamnya. Begitu melihat pilihan suaminya, buru-buru Elizabeth mencari rok dan stocking yang cocok dengan warna atasannya.

Sementara Boboiboy telah selesai membasuh tubuh, ia mengenakan mantel mandi tebal yang telah disiapkan Elizabeth di gantungan dalam kamar mandi. Tentu saja tubuhnya masih terasa begitu dingin meski bahan yang ia kenakan tebal. Perlahan sambil menggigil ia membuka pintu kamar mandi dan dikejutkan oleh Fang yang merentangkan kedua tangan dengan sebuah handuk lebar dan tebal di tangannya siap menyelimuti Boboiboy agar tak kedinginan. Wajah Fang berpaling ke arah kiri, berusaha meyakinkan Boboiboy bahwa ia hanya bermaksud baik dan tak ada keinginan melihat aurat sang gadis "Pakailah... kau pasti belum terbiasa dengan udara macam begini..."

Dalam diam, Boboiboy perlahan menutup pintu kamar mandi tanpa melepaskan pandangan dari handuk lebar di hadapannya yang direntangkan oleh Fang. Agak ragu, Boboiboy mendekat dan menjulurkan tangan kanannya perlahan sementara tangan kirinya masih mengeratkan bagian kerah mantel yang dikenakannya. Namun baru saja Boboiboy menyentuh sedikit handuk di tangan Fang, tiba-tiba handuk tersebut dengan erat menyelimuti tubuh Boboiboy... beserta Fang yang tak segan memeluk tubuh mungil sang putri pujaannya.

Tentu saja Boboiboy panik. Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang. Tapi suaranya tercekat dalam keterkejutan mendapati sang tuan muda memeluk erat tubuh Boboiboy yang hanya dilindungi mantel handuk.

"Boboiboy..."

Suara Fang yang dalam bagi remaja seumurannya membuat jantung Boboiboy semakin berdegup kencang. Suara tersebut terdengar tepat di telinga Boboiboy, bahkan nafas dari mulut Fang bisa dirasakan hangat di telinga. Suara Boboiboy sama sekali tak bisa keluar menjawab panggilan dari werewolf yang memeluknya, namun Fang meneruskan kata-katanya tanpa peduli "...aku sudah menunggumu sejak lama... Kau akan menjadi pengantinku... Kaulah takdirku..."

Boboiboy tak mengerti apa yang dikatakan cowok dengan tubuh yang tinggi gagah yang sedang memeluknya tanpa ada niat untuk melepas. Kedua tangan Boboiboy terhimpit di antara dada keduanya tak bisa bergerak maupun mendorong Fang. Kekuatan Fang begitu besar.

"Sejak kau menyelamatkanku lima tahun lalu, aku sudah bersumpah bahwa akulah yang akan menjadi takdirmu, begitupula sebaliknya... Kaulah pengantinku, kekasih abadiku..."

Perlahan, tubuh tegap sang werewolf melepas pelukannya yang erat. Kini Boboiboy menatap jelas wajah tampan dengan bingkai ungu serta gelas bening yang membatasi tatapan keduanya. Kedua tangan Fang sama sekali tak melepaskan bahu Boboiboy. Fang melihat jelas wajah yang memerah dari gadis di hadapannya, dengan rambut yang masih basah menempel pada leher yang dialiri sisa air mandi tadi membuat Boboiboy begitu sensual, menggoda nafsu sang werewolf muda. Mata Boboiboy membelalak lebar, memperlihatkan bulat dan warna coklat manis di dalamnya. Wajahnya jelas melukiskan rasa terkejut, bingung, dan malu menjadi satu. Bibir yang sedikit terbuka basah berkilauan terlihat begitu manis untuk dikulum.

Boboiboy semakin takut seiring nafas Fang yang semakin berat. Wajah keduanya semakin mendekat karena Fang yang tak sanggup lagi menahan nafsunya. Perlahan, gadis yang ketakutan itu berusaha mundur perlahan, namun di belakangnya hanya ada dinding yang menahan.

Berusaha keras, Boboiboy mengeluarkan suaranya yang masih tertahan, hingga akhirnya air mata keluar sedikit bersamaan dengan suaranya "Ja, jangan...!"

Fang tersentak begitu melihat air menetes dari mata Boboiboy. Gadis itu kini meringkuk takut sambil bersandar pada dinding di belakangnya. Fang tak sampai hati melihatnya demikian. Rasa bersalah kini merundung hatinya. Ia kembali memeluk Boboiboy, bukan lagi pelukan penuh nafsu. Sebuah pelukan sayang dan penuh perhatian ia dekapkan pada sang gadis yang akhirnya menangis di pelukan Fang.

"Ma, maafkan aku... Aku tak bermaksud... Aku... aku tak bisa menahan nafsuku padamu... maaf..."

Elusan hangat tangan Fang di rambut Boboiboy akhirnya berhasil menenangkan sang gadis. Wajah penuh penyesalan Fang membuat Boboiboy yakin cowok itu sama sekali tak bermaksud jahat padanya.

"Sudah bertahun-tahun aku menunggu saat seperti ini... di mana kau berada di dekatku dan menyadari keberadaanku... Di mana aku bisa menyentuhmu secara nyata, menghirup wangi tubuhmu dan merasakan hangat kulit serta tubuhmu... Kau bagai sebuah mimpi indah yang tak bisa kuraih... hingga akhirnya hari ini datang..."

Boboiboy terdiam setelah menenangkan dirinya dalam pelukan Fang. Kata-kata Fang membuat ia termenung. Tak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirannya ada seseorang yang menunggunya begitu lama dan mengasihinya begitu dalam.

Kesetiaan Fang menunggu dirinya selama bertahun-tahun, serta Elizabeth dan Hao yang mengasuhnya diam-diam sejak ia kehilangan kedua orang tua kandung membuat Boboiboy merasa bahwa ia sesungguhnya masih memiliki orang-orang yang begitu menyayanginya. Tak lagi ada rasa kesepian dalam dirinya. Sebuah kehangatan perlahan menggantikan rasa sepi dan sedih.

Fang mencium kening Boboiboy dengan lembut agar tak menakuti gadis itu. Boboiboy sendiri hanya diam sambil memejamkan mata dan membukanya perlahan, mendapati Fang yang tersenyum lega melihat gadis itu tak lagi takut ataupun menolak dirinya.

"Ibuku menunggumu di kamar yang sudah ia sediakan untukmu sejak lama… Mari kuantar…" Fang merangkul dengan hati-hati bahu Boboiboy dan membimbingnya menuju kamar di ujung lorong, agak jauh dari kamar Fang dan kedua orang tuanya, dibatasi beberapa ruangan lain.


Keduanya mendapati sang nyonya vampir menikmati dirinya mencari-cari stocking yang cocok untuk baju yang telah disediakannya di atas tempat tidur. Mata Boboiboy berkeliling melihat seluruh sudut kamar yang akan ia tempati nanti. Sungguh kemewahan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Memimpikannya saja tidak berani, namun kini semua itu nyata ada di hadapannya.

Fang melirik pada ayahnya yang berdiri di dekat jendela sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Keduanya sama-sama menghela napas melihat sang ibu tak menyadari kehadiran Boboiboy dan Fang. Barulah Elizabeth menoleh begitu Fang berdehem di dekat pintu yang terbuka dengan Boboiboy yang masih terbalut handuk tebal serta mantel mandi di baliknya.

"Oh, sayang! Kasihan… kau pasti kedinginan…!" buru-buru Elizabeth memeluk dan membimbing sang gadis menuju dekat perapian yang menyala di kamar itu. Boboiboy duduk di sebuah sofa besar merasakan hangatnya api di perapian. Fang tanpa segan berlutut dan membantu mengenakan sandal empuk pada kaki kanan Boboiboy agar tak kedinginan. Ia tak bisa menahan senyum melihat gadis pemalu tersebut berusaha menutupi wajahnya yang memerah hingga ke telinga.

Boboiboy tak pernah menyangka Fang sama sekali tak merasa keberatan menyentuh kaki-kaki mungilnya yang kedinginan. Boboiboy tak habis pikir apa yang terjadi padanya hingga ada seorang tampan bak pangeran di hadapannya berlutut dan menyentuh lembut kakinya.

Buru-buru Boboiboy menarik kaki kiri yang belum dikenakan sandal oleh Fang. Tentu saja sang werewolf memandangi tuan putri di hadapannya dengan bingung. Suara Boboiboy terdengar begitu kecil dan tergagap "Ta, tak perlu… aku… aku baik-baik saja… te, terima… kasih…"

Fang semakin gemas memperhatikan tubuh mungil yang bergetar kedinginan berusaha mengeratkan mantel yang membalut. Boboiboy semakin berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa semakin panas.

Elizabeth akhirnya menemukan warna stocking yang cocok dengan pakaian pilihannya dan sang suami. Boboiboy berdiri perlahan dibantu Fang dari sofa mendekati Elizabeth.

"Nah! Ini pasti sangat cantik kau kenakan! Pakailah, sayang…!" Elizabeth merangkul anak asuh tersayangnya dan memberikan pakaian yang telah siap untuk Boboiboy kenakan. Gadis itu terpukau menyentuh lembut bahan baju yang diberikan Elizabeth. Baju itu seperti salah satu dari pakaian yang biasa terpajang indah dan anggun di tiap etalase toko dengan harga mahal. Nyaris setiap hari ia bermimpi setidaknya dapat menyentuh sedikit saja baju-baju tersebut. Mata Boboiboy berbinar terang menatap Elizabeth yang tersenyum lebar. Tanpa sungkan Boboiboy memeluk sang nyonya, membuat Hao dan Fang turut terkejut sama seperti Elizabeth yang napasnya tercekat begitu gadis di hadapannya memeluk erat.

"Te, terima kasih..." tanpa melihat wajah Boboiboy, Elizabeth tahu gadis itu menangis. Suara pecah dari anak perempuan tersebut membuat perasaan keibuan semakin berkembang dalam jiwa Elizabeth. Ia membalas pelukan Boboiboy tak kalah erat. Sang nyonya tak pernah merasa begitu tersentuh hingga meneteskan air mata haru di pipinya.

Sang vampir yang nyaris setiap detiknya bermimpi memeluk anak perempuan yang menangis karena kematian kedua orang tuanya. Ketika anak tersebut merawat kakeknya yang sakit. Ketika anak tersebut bekerja keras mencari uang hingga lupa akan perutnya sendiri berbunyi, hingga peluh membanjiri wajah mungilnya yang memerah lelah. Ketika anak tersebut berdiri penuh harap di depan sebuah etalase toko baju, bermimpi ia dapat mengenakannya. Ketika anak tersebut terus berdoa akan kesembuhan kakeknya...

Setiap detiknya tangan Elizabeth berusaha menggapai sang gadis. Ingin mendekapnya dalam pelukan, ingin menghapus air mata sedih sang gadis, ingin mengelus lembut rambut hitam pendek yang tersisir angin...

Elizabeth memejam erat matanya yang telah basah. Anak perempuan itu kini dalam pelukannya yang hangat. Bagai sebuah porselen indah yang tak akan pernah sang nyonya vampir lepaskan.

Hao terdiam berjalan mendekati istrinya. Elizabeth melonggarkan pelukannya pada Boboiboy dan menghapus air mata begitu merasakan sentuhan lembut tangan Hao di bahunya. Fang memberikan sekotak tissue pada ibunya yang langsung menyambar dan membuang ingus pada selembar tissue. Sementara Boboiboy menghapus air matanya dengan ujung mantel mandi yang masih dikenakannya. Fang tersenyum sambil mengelus lembut rambut gadis tersebut.

Elizabeth menarik napas panjang dan kembali memasang senyuman di wajah cantiknya. Kedua tangan sang vampir menyentuh pipi Boboiboy, memberi ciuman sayang pada dahi anak itu "Aku sudah lama bermimpi melihat kau mengenakan baju ini... Kami tunggu kau di bawah ya, sayang?" Kemudian ia mendorong suami dan anaknya keluar kamar agar Boboiboy dapat berganti baju dengan tenang.

TBC...