New World
Begitu pintu tertutup, Ellizabeth berbalik pada Fang sambil menghapus sisa aliran air mata di pipinya "Kau tak kembali tidur? Nanti malam kau bisa mengantuk selama pelajaran…"
Fang menggerutu kecil kemudian menatap ayahnya berharap sang kepala keluarga mau membelanya. Hao hanya mengangkat bahunya, tahu apa yang anaknya inginkan. Fang kembali menggerutu "Ibuuu, kumohon… ijinkan aku ikut kalian… Aku juga mau temani Boboiboy…"
Ellizabeth berkacak pinggang "Tidak, Fang. Kau harus sekolah!"
Fang mendengus kesal tanpa bergerak dari posisinya. Begitu enggan rasanya untuk kembali ke kamar, sebelum melihat sang bidadarinya keluar dari kamar.
"Elly... Kita harus menemani Boboiboy, ayo bersiap... dan Fang, kau dengar apa kata ibumu... kembalilah ke kamar dan lanjutkan istirahatmu..." Hao membujuk Ellizabeth untuk berganti pakaian agar tidak melanjutkan perdebatannya dengan Fang. Sementara sang werewolf muda masih merajuk mengikuti kedua orang tuanya hingga ke kamar. Sementara Ellizabeth berganti pakaian dan berdandan, Fang terus membujuk ayahnya untuk mengijinkan dirinya ikut serta mengantar Boboiboy. Hao berkali-kali menghela napas sambil mengeratkan jasnya mendengar rajukan anaknya.
"Fang... kau ini sudah lima belas tahun... jangan bertingkah seperti anak kecil..."
"Ah, ayaaaah... Ayolaaaah, kumohoooon..."
Ellizabeth berdiri dari kursinya yang berhadapan dengan meja rias sambil merapikan rambutnya "Kalau kau masih manja seperti itu, kau akan makan sayur selama sebulan penuh sebagai hukuman..."
Fang merinding mengingat rasa sayuran yang ada di mulutnya. Bukannya ia tak suka sayur sama sekali, tapi makanan utama serigala tentu saja daging. Tak memakan daging selama sebulan adalah kiamat baginya.
Tentu saja sifat keras kepala Fang membuat dirinya terus membujuk dan memohon pada kedua orang tuanya yang berjalan keluar kamar menuju pintu kamar Boboiboy tanpa peduli Fang mengikuti keduanya dengan rewel di belakang.
Sebelum Ellizabeth mulai kehilangan kesabaran, pintu kamar Boboiboy terbuka dan membuat Ellizabeth membulatkan matanya dengan kagum.
Kerah dari kemeja putih yang dikenakan Boboiboy di balik sweater biru gelapnya menghias leher ramping sang gadis. Rok dengan lipatan rapi melindungi kaki Boboiboy hingga lututnya, sementara stocking putih turut menghangatkan kaki ramping sang gadis dengan sepatu hitam bermodel Mary-Jane bersol flat sebagai alas kakinya.
Hao merasa pakaian tersebut membuat Boboiboy seperti hendak ke sekolah khusus perempuan. Ia agak ragu telah memilihkan model pakaian seperti demikian. Namun melihat ekspresi istrinya, sang kepala keluarga begitu lega bisa mewujudkan impian Ellizabeth yang sudah lama ingin sekali melihat Boboiboy dalam busana tersebut. Sang nyonya membayangkan gadis di hadapannya adalah anaknya sendiri yang hendak ke sekolah. Entah sudah berapa lama ia menginginkan bisa melihat pemandangan tersebut nyata di hadapannya.
Malu-malu, sang gadis berdiri di hadapan ketiga anggota keluarga Lang. Wajahnya bersinar segar dengan rona merah tipis pada kedua pipinya yang chubby. Senyuman kecil di wajah Boboiboy membuat Hao tersenyum lebar melihat istrinya tak kuasa menahan diri dan langsung memeluk gadis yang kini berpakaian rapi pilihannya.
"Kau suka pakaian ini, sayang?"
Boboiboy bagai tak bisa bernapas, kata-katanya terbata, tak tahu harus mengucapkan apa dalam kekagumannya, "Oh, saya tak pernah sebahagia ini... Saya sangat menyukainya...! Ini, ini sungguh... Oh, astaga... Terima kasih banyak... Saya tak tahu bagaimana bisa membalasnya..."
Boboiboy menyembunyikan rona merah di wajahnya dalam pelukan erat Ellizabeth. Ada wangi khas yang tercium dari sang nyonya. Wangi segar penuh keanggunan, namun membuat Boboiboy melayangkan ingatannya ke masa lalu.
Ia ingat jelas wangi yang tercium tiap malam seiring dengan alunan merdu menina bobokannya. Sang nyonya vampir yang penuh kasih sayang sama sekali tak menyia-nyiakan kesempatan dirinya memeluk anak perempuan yang telah menghangatkan hatinya sejak lama.
"Kau cantik sekali, sayang..." Ellizabeth tak sanggup menahan senyuman di wajahnya begitu melihat bibir tipis bagai kelopak bunga yang memberikan senyuman padanya menghias wajah Boboiboy yang manis. Ellizabeth mengelus lembut pipi chubby dan lembut Boboiboy dengan kedua tangan, tanpa bisa menahan tumpahan kasih sayangnya.
Sementara Fang terkagum ria sembari menahan diri untuk tidak menerjang Boboiboy dari tempatnya berdiri. Hao menepuk bahu istrinya sebelum Fang hilang kendali "Ayo... kita bisa berangkat sekarang... Fang, kau kembali tidur dan jangan sampai terlambat sekolah nanti malam..."
Fang kembali menggerutu. Pada akhirnya mau tak mau ia mematuhi perintah kedua orang tuanya agar tak makan sayur selama sebulan.
Di depan gerbang kastil, Ellizabeth mengeratkan scarf pada leher Boboiboy agar gadis itu tak kedinginan dalam dinginnya pagi pedesaan London. Hao mengeratkan jasnya. Secara tiba-tiba pria tersebut membungkukkan tubuhnya dengan cepat dan berubah menjadi seekor serigala besar hitam dengan mata merah menyala.
"Kalian berdua... naiklah..." suara begitu dalam dan dingin sedingin malam hari London terdengar dari serigala besar, sang kepala keluarga Lang, yang dengan tegap menapakkan kaki-kakinya sambil menolehkan kepala pada Boboiboy dan Ellizabeth.
Boboiboy berdecak kagum. Mulutnya tanpa sadar terbuka agak lama dengan mata terbelalak lebar. Ia menarik napas panjang dan tertahan dengan penuh keterkejutan. Apa yang terjadi di hadapannya bagai sihir penuh keajaiban. Tentu saja Ellizabeth tersenyum melihat gadis tersebut mematung penuh takjub. Wanita itu mengenakan jubah berwarna merah maroon pada tubuh Boboiboy dan membuat tudung jubah melindungi kepala sang gadis.
"Kita akan duduk di punggung suamiku... Ia akan berlari cepat menembus hutan dan lembah... Aku tak mau angin dingin membekukan dirimu, sayang..." Boboiboy tak pernah menyangka sentuhan tangan seorang vampir bisa begitu hangat terasa di kedua pipinya. Kecupan sayang di dahi Boboiboy membuat gadis itu tersenyum dan mengangguk pada Ellizabeth, "Terima kasih..."
Hao merendahkan tubuhnya membiarkan Ellizabeth duduk dengan nyaman di atas punggungnya. Boboiboy belum bisa menghilangkan kekagumannya dengan apa yang telah dilihatnya tadi sampai sang nyonya menjulurkan tangan kanannya, meminta sang gadis duduk menemani dirinya di atas punggung sang serigala jejadian.
Ellizabeth memeluk pinggang Boboiboy dan mengelus kepala sang gadis yang terlindungi tudung, meyakinkan dirinya untuk santai, "Tenanglah... kita akan lekas sampai di kastil Organisasi Night Gaze..."
Begitu Boboiboy mengangguk kecil, Ellizabeth mengusap punggung suaminya menandakan ia bisa memulai perjalanan. Dengan sigap, sang werewolf melompat tajam meninggalkan kastil rumah mereka. Sementara dari jendela kamarnya, Fang hanya menghela napas kecewa karena tidak diperbolehkan ikut.
Hutan, dedaunan, lembah, sungai... semua dilalui Hao dengan kecepatan luar biasa. Kaki-kakinya terus berlari menembus angin bagai pedang tajam. Pemandangan indah perbukitan serta pegunungan Inggris berlalu begitu cepat dari pandangan Boboiboy yang duduk bersama Ellizabeth di punggung sang werewolf.
Kecepatan Hao berlari tak bisa dibayangkan Boboiboy yang terus melindungi wajahnya dengan menunduk agar tak terkena hembusan angin yang mengarah tajam dari depan. Dingin yang menggores tajam kulit wajah sang gadis membuatnya terus berusaha mengeratkan tudung kepalanya. Ellizabeth tentu sudah terbiasa, namun ia khawatir pada gadis di pelukannya. Tak henti-hentinya sang nyonya mengelus dan membantu Boboiboy melindungi kepalanya dengan tudung dan jubah yang erat membalut tubuh Boboiboy.
Tak terasa, kini mereka sampai di gerbang besar nan tinggi sebuah kota kecil di mana kastil organisasi Night Gaze berdiri kokoh.
Ellizabeth membantu Boboiboy turun dari punggung Hao begitu mereka memasuki gerbang. Hao merubah wujudnya kembali menjadi wujud manusia. Ia mengeratkan jasnya sambil mengangguk pada para penjaga gerbang yang menyambutnya dengan mengangkat topi mereka. Ellizabeth kembali mengeratkan tudung Boboiboy karena cuaca pagi Inggris nyaris tak berbeda dengan udara di malam harinya.
"Di salah satu bangunan pada kastil itulah Fang bersekolah..." Ellizabeth merangkul Boboiboy sambil menunjuk pada sebuah kastil megah. Tak kuasa Boboiboy menahan kekagumannya. Bukan hanya kastil organisasi, tapi juga keadaan kota kecil yang begitu manis dengan bangunan-bangunan klasik terawat.
Wangi roti dan kopi serta bunga-bunga segar dari para pedagang membuat perut Boboiboy berbunyi hingga Hao dan Ellizabeth bisa mendengar. Betapa malunya gadis tersebut sambil menunduk dalam dengan rona merah di wajah yang tak bisa ia sembunyikan.
"Astaga, sayang...! Maafkan aku...! Aku lupa kalau kau belum sarapan...! Seharusnya aku sadar kalau tubuhmu masih tubuh manusia biasa...!" Boboiboy menurut ketika Ellizabeth dan Hao membawanya ke sebuah kedai kecil untuk sarapan.
Kembali terlihat ekspresi bahagia penuh takjub di wajah gadis itu. Perabotan yang membuat suasana menjadi hangat dan antik menghias dari luar hingga dalam kedai. Tiap meja pelanggan yang terbuat dari kayu dilindungi taplak dengan pola garis-garis Gingham berwarna merah serta dihias pot kecil dengan beberapa tangkai bunga Daisy segar. Toples-toples berisi cookies, selai, rempah, dan biji-biji kopi serta daun teh berjejer rapi memenuhi rak yang berada di belakang meja kasir memanjang, didampingi gelas-gelas dan beberapa jenis minuman dalam botol-botol besar.
Beberapa jenis roti hangat yang baru keluar dari oven berjejer dan bertumpuk dalam keranjang membuat Boboiboy tak kuasa menahan laparnya. Wangi mentega menyelimuti udara di sekitar kedai.
Ellizabeth memesankan sup krim dan beef pastry dengan ukuran besar untuk Boboiboy, sementara Hao memesan kopi panas. Boboiboy kembali penasaran ketika Ellizabeth memesan segelas darah pada pelayan. Malu-malu, Boboiboy bertanya dengan suara yang begitu pelan, "Darah...?"
"Oh, kota ini adalah salah satu dari sekian banyak kota di mana ras manusia hidup berdampingan dengan ras halfter... Maka tersedia fasilitas untuk halfter pada banyak tempat... Semisalnya kedai ini, para vampir bisa memesan darah... kedai atau restoran yang memiliki fasilitas untuk para halfter mendapatkan pengiriman darah dari hasil donor di organisasi. Jadi tentu saja dari hasil legal..." Ellizabeth tak mampu menahan senyum melihat wajah Boboiboy yang penuh dengan ekspresi takjub. Ia seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, kisah baru yang membuatnya penasaran.
Wangi sup krim dan pastry di meja menggoda Boboiboy hingga ia memakannya begitu lahap. Hao merasa ia tak pernah melihat Ellizabeth tersenyum sesering itu seumur hidupnya. Sejak kedatangan Boboiboy di rumah keluarga Lang, istrinya terus menerus memasang senyuman bahagia.
Melihat remahan roti di pinggir bibir Boboiboy selalu membuat Ellizabeth mengeluarkan sisi keibuannya dengan mengelap remah tersebut menggunakan serbet. Tak urung Boboiboy tertunduk dengan rona di wajah mendapat perlakuan sedemikian rupa.
Usai menikmati hidangan, Hao membayar pesanan, dan ketiganya kembali meneruskan perjalanan mereka menuju kastil utama organisasi. Boboiboy tak hentinya melihat-lihat sekeliling selama mereka berjalan. Perasaan kagum berdecak menggelitik dirinya. Jelas ada ras lain yang berjalan-jalan di sekitar dirinya meski pagi hari sekalipun. Ellizabeth yang terus menggandeng tangan Boboiboy merasa seperti memiliki seorang anak yang penasaran dengan apapun yang ia lewati. Kepolosan dan keluguan sang gadis tak henti membuat nyonya vampir ingin memeluknya.
Begitu memasuki kastil organisasi, Hao langsung mendaftarkan Boboiboy pada badan pemeriksaan untuk mendapatkan kejelasan biologis tubuhnya sekarang ini. Di ruang tunggu, ada beberapa pasien yang menunggu nama mereka dipanggil. Boboiboy duduk dengan kalem bersama kedua orang tua asuhnya. Ia melihat seorang anak yang tampaknya ras werewolf yang hendak memeriksakan giginya melengking kesakitan pada ibunya yang duduk sambil menghibur sang anak. Boboiboy bisa langsung menebak ras anak tersebut karena melihat sebuah ekor menyembul dari celana sang anak juga kuping yang begitu mencolok seperti yang ia lihat pada kepala Fang juga. Selain anak dan ibu tersebut, ada beberapa halfter lain yang duduk di ruang tersebut.
Tak lama, nama Boboiboy dipanggil. Ellizabeth kembali merangkul Boboiboy memasuki laboratorium. Para pegawai kesehatan menyambut mereka dan mengerti akan kedatangan Hao. Boboiboy diminta untuk menggulung lengan baju agar mereka bisa mengambil contoh darah dari tubuhnya. Kemudian ia diminta untuk berganti baju dengan sehelai baju pasien agar bisa discan pada mesin scanner tubuh. Tak pernah ia sangka bahkan di dunia para halfter segala peralatan sudah dilengkapi dengan tekonologi canggih seperti layaknya di dunia ras manusia.
Setelah menjalani segala pemeriksaan, Boboiboy dan kedua orang tua asuhnya diminta untuk menunggu. Karena tahu akan menjalani proses lama, Hao dan Ellizabeth membawa Boboiboy untuk jalan-jalan di kota kecil yang mengelilingi kastil organisasi.
"Sungguh? Bo, bolehkah saya melihat-lihat?" binar di mata Boboiboy dijawab dengan anggukan dari Ellizabeth. Langkah gadis pemalu tersebut menjadi begitu ringan, seperti dipanggil oleh rasa penasaran dan takjub pada dunia barunya.
Di kota, Hao dan Ellizabeth membiarkan gadis yang berjalan di depan mereka menikmati pengalaman barunya. Segala benda aneh nan ajaib yang terpajang di etalase toko, makanan beraroma wangi, orang-orang yang berpakaian begitu khas, ras-ras lain yang tak menyembunyikan diri mereka berjalan-jalan di sekeliling para manusia dan saling menyapa, toko ramuan dan peralatan meracik, pasar, gerobak penjual bunga... di mata sang gadis segala yang ada di hadapannya begitu cantik dan menakjubkan.
"Boboiboy... kemari, sayang..."
Boboiboy mendekati Ellizabeth yang menggenggam tangan gadis tersebut. Boboiboy kebingungan melihat sejumlah uang di tangannya dari Ellizabeth "Uang ini... untuk apa?" tanyanya sopan.
"Belanjalah apa yang kau mau... kalau kurang, kau bisa bilang pada kami..."
Tentu saja jawaban sang nyonya membuat Boboiboy kaget. Buru-buru ia menggenggam kembali uang tersebut dan memberikannya pada Ellizabeth "Ti, tidak...! Saya tak bisa menerimanya...! Apa yang anda berikan sudah lebih dari apa yang...!"
Ellizabeth langsung memotong sambil menggenggam tangan Boboiboy "Sayangku... Ini untukmu... Belilah keperluan yang kau inginkan... kau akan tinggal bersama kami' kan? Kami ingin kau menggunakan uang ini..." Hao turut mengangguk menyetujui kata-kata istrinya. Sementara Boboiboy bimbang dengan uang yang berjumlah besar di tangannya.
"Saya... tak bisa..." Kalimat pendek yang tak selesai dengan nada bergetar dan pelan terucap dari bibir Boboiboy. Gadis itu menunduk dalam. Hao dan Ellizabeth justru merasa sedih melihatnya demikian.
Keduanya tahu, Boboiboy adalah anak yang amat sangat sederhana. Kesederhanaan yang membuat ia selalu menolak apa yang justru diinginkan banyak orang pada umumnya. Ellizabeth takut telah mengubah suasana hati anak asuhnya, ia buru-buru memeluk dan memberinya dompet kecil dari dalam tas jinjingnya.
"Begini saja... Uang ini kau masukkan dalam dompet ini... pakailah jika kau butuh sesuatu... Kami ingin sekali memberi uang ini untukmu, maka itu tolong jangan ditolak, ya...?" Boboiboy akhirnya tak bisa menolak karena senyuman dari sang nyonya vampir. Dompet kecil bermotif bunga pansy berwarna oranye kecoklatan yang diberikan Ellizabeth akhirnya ia simpan dalam saku roknya, dengan penuh kegelisahan akan jumlah uang yang diterimanya.
Uang dengan koin emas berkilauan. Siapa yang tak tergiur melihatnya?
Boboiboy justru takut menerimanya...
Hao juga merasa tak enak pada Boboiboy. Wajah gembira gadis itu berubah menjadi tertunduk kebingungan. Kepala keluarga Lang melihat arloji antik yang terikat rantai dari balik jasnya "Proses pemeriksaan akan memakan waktu lama... bagaimana kalau kita ke rumahmu dulu...?"
Boboiboy mengangkat wajahnya sedikit melihat kedua orang tua asuhnya. Ia mengangguk pelan. Ellizabeth tersenyum lebih lebar sedikit sambil merangkul bahu gadis tersebut dan membimbingnya berjalan kembali menuju kastil organisasi.
TBC...
