Saya kembali berusaha secepat mungkin karena mau berpamitan untuk hiatus lagi ^^;
Terima kasih sudah membaca bahkan me-review cerita ini ^^ Semangat saya jadi muncul ketika membaca review yang lucu-lucu xD
Ada pertanyaan mengenai deskripsi Ellizabeth, maka saya jawab di sini saja ya ^^ Hao Lang, ayah Fang di sini memiliki wajah Asia (Cina) yang sangat kental. Sedangkan Ellizabeth memiliki wajah yang jelas menunjukkan ia berdarah Inggris. Maka Fang lebih banyak menurun dari ayahnya yang berwajah Asia, namun sang tuan muda memiliki fisik campuran Cina-Eropa dari orang tuanya. Semoga ini bisa menjawab ^^
Lalu ada pertanyaan mengenai kemunculan Yaya, Ying, dan Gopal... mari tunggu tanggal mainnya xD
The Fog Gate and The Lost Forest
Sebuah gate dalam kastil menunjukkan nama 'Government, Ministry, Embassy and Office' pada sebuah papan besar. Boboiboy dan Ellizabeth diminta oleh Hao untuk menunggu di sebuah ruangan samping kantor-kantor yang nampak sibuk. Sementara Hao memintakan ijin pada kementrian dan departemen di dalam kantor dengan mengisi data dan prosedur yang ada.
Meski penasaran, Boboiboy tak berani banyak bertanya. Ia merasa apa yang dilakukan Hao bukanlah hal yang mudah ia mengerti dan terlihat begitu penting. Namun Ellizabeth yang bisa membaca anak asuhnya bagai buku bergambar, dengan baik hati menjelaskan tanpa diminta "Kita akan menggunakan 'Gerbang Kabut' agar bisa sampai ke rumahmu di Malaysia dengan cepat... Hmm, mungkin 'Gerbang Dimensi' akan menjadi terasa lebih futuristik dibanding 'Gerbang Kabut'..."
"'Gerbang Kabut'...?"
"Disebut 'Gerbang Kabut' karena, kita akan memasuki sebuah gerbang yang melewati 'Lost Forest' yang dipenuhi kabut tebal... Jika tidak hati-hati, kita bisa tersesat..."
Wajah bingung Boboiboy amat sangat dimaklumi Ellizabeth. Maka ia melanjutkan penjelasannya dengan penuh sabar dan murah hati. Ia justru merasa senang bisa menjelaskan segalanya pada gadis yang penuh dengan rasa penasaran itu.
"'Lost Forest' adalah sebuah hutan misterius yang membatasi dunia para ras halfter dengan dunia para ras manusia... tak ada yang tahu di mana hutan itu jelasnya dan tepatnya... Begitu misterius. Hutan tersebut akan membawa kita ke tempat tujuan jika kita benar-benar memikirkan ke mana tujuan kita dengan sepenuh hati. Namun, jika kita masuk dengan hati yang ragu dan penuh kebimbangan, hutan tersebut akan menyesatkan kita dan membawa kita entah ke mana... Konon tak ada yang bisa kembali lagi jika tersesat dalam kabut di 'Lost Forest'... Hanya para tetua dan orang-orang yang bekerja dalam pemerintahan dengan jabatan senior yang tahu di mana tepatnya hutan tersebut. Mereka membatasi wilayah 'Lost Forest' dengan gerbang yang akhirnya disebut dengan 'Gerbang Kabut' agar kita tak sampai nekat mendatangi hutan tersebut untuk pergi ke suatu tempat. Maka itu dibutuhkan ijin agar kita mendapatkan jaminan keselamatan oleh organisasi..."
Boboiboy mengangguk dengan ekspresi kagum yang kembali terlihat di wajahnya. Ia merasa telah mendengar sebuah kisah atau dongeng penuh keajaiban, namun nyata jelas terjadi. Ellizabeth mengakhiri penjelasannya dengan menghela napas panjang dan melanjutkan kata-katanya kembali, "...dan Fang menggunakan 'Gerbang Kabut' tanpa ijin ketika ia ingin menjemput dan menyelamatkanmu dahulu... Maka itu ia mendapat hukuman..."
Hati Boboiboy tersentak. Ia tak menduga Fang nekat melakukan hal besar yang melanggar hukum hanya demi dirinya. Bahkan saat itu Boboiboy sama sekali tak mengenal sang pemuda werewolf. Kini ia merasa bersalah. Boboiboy menganggap dirinyalah penyebab Fang dihukum. Ellizabeth langsung menyadari ia mengucapkan hal yang membuat anak asuhnya merasa bersalah.
"Oh! Ini bukan salahmu, sayang...! Sebenarnya Fang bisa menggunakan gerbang dan menengokmu jika ia melalui proses ijin...! Hanya saja anakku itu bukan seorang yang penyabar... Ini murni kesalahan Fang hingga ia mendapatkan hukuman... Bukan salahmu sama sekali..." kecupan sayang menghampiri kening Boboiboy. Hatinya merasa lega sedikit, namun tetap ada rasa bersalah menaungi sang gadis.
Fang hanya ingin menyelamatkan dirinya. Bahkan berkat Fang kini dirinya bisa merasakan hari-hari luar biasa penuh kebahagiaan dan keajaiban. Fang telah membawanya ke dalam dunia yang baru dan mempertemukan dirinya dengan Hao dan Ellizabeth. Orang tua asuhnya yang begitu baik dan menyayangi dirinya...
Tak lama, Hao keluar dengan tiga buah gelang di tangannya. Dua yang lain ia berikan pada Boboiboy dan istrinya masing-masing satu. Sebuah gelang dari akar kayu dan beberapa helai bulu berwarna merah menyala menggantung.
"Gelang ini terbuat dari akar pohon Brouillard, pohon yang berasal dari 'Lost Forest'... dengan bulu Phoenix. Gelang ini akan membawa kita kembali kemari jika kita terpisah atau tersesat... Gelang ini bukan benda yang bisa sembarangan dibuat dan dimiliki orang lain, karena di dalam akar ini ada mantera para tetua agar kita mudah ditemukan dalam kabut 'Lost Forest' dan menarik kita kembali... Pakailah, jangan sampai terlepas, ya..." Ellizabeth mengenakan gelang tersebut pada lengan Boboiboy dan lengannya sendiri. Begitu ketiganya telah siap, seorang tua dengan tongkat berukir dan jubah hitam beraksen merah keluar dari kantor, berjalan tanpa berbicara sepatah kata pun, membimbing ketiganya menuju elevator dan turun hingga ke lantai terbawah.
Di ruang bawah tanah, nampak sebuah ruangan besar bertembok dan berlantai batu. Tepat di tengahnya, berdiri gerbang besar yang terbuat dari balok-balok batu dengan segala aksara asing terukir. Daun pintu megah terbuat dari kayu tebal dan kokoh dengan gagangnya yang berupa gelang besar menggantung. Nampak begitu berat. Beberapa orang tua duduk di bangku yang melingkari pintu tersebut, menjaganya.
Seseorang dari mereka menghampiri Hao dan tersenyum "Baru saja Fang menghadapi kasus, kau sudah mau menggunakan gerbang lagi...?"
Hao mengangkat bahu dan membalas senyuman sang tua "Untungnya kali ini aku tak bersama anakku yang panasan itu..." tubuh tegap Hao menggeser dan memperlihatkan Boboiboy yang mungil tengah bersembunyi di balik Ellizabeth. Wajahnya kebingungan dan takut. Suasana ruang bawah tanah tersebut begitu mistis dan dingin baginya. Ia tak tahu apa yang akan ia temui nanti di balik gerbang tersebut.
Sang tua mengangkat alis "Siapa gadis ini...?"
Ellizabeth menjawab dengan nada akrab "Kau pasti tahu siapa yang ingin kami temui setiap saat sejak Fang kecil kembali dari dunia ras manusia' kan?"
Sang tua terdiam sesaat dan menyadari siapa anak yang malu-malu memainkan ujung scarfnya di hadapannya itu.
"Ini' kah anak asuhmu dari dunia ras manusia itu...? Kini ia tinggal bersama kalian...? Sejak kapan?"
"Beberapa hari lalu... kami membawanya setelah kejadian kurang mengenakkan... Saat itu sepertinya kau sedang tidak dalam shift berjaga di sini..." Hao mengelus kepala Boboiboy dan memintanya maju beberapa langkah agar orang tua penjaga gerbang tersebut bisa melihatnya jelas.
Boboiboy menggigit bibir bawahnya sambil mengangguk tanpa kata-kata, berusaha menjaga sopan santun di hadapan para penjaga gerbang. Satu per satu dari mereka mendekat dan tersenyum memperlihatkan kerutan di wajah "Kau, Boboiboy... Sungguh terkenal di kalangan para penjaga gerbang..."
"Ketiga Keluarga Lang setiap harinya kemari untuk melewati 'Gerbang Kabut' demi menjenguk dirimu di luar sana..."
"Kau telah membuat sang putra tunggal Lang dimabuk cinta..."
"Kau yang begitu dikasihi sang vampir..."
"Kau yang begitu dijaga sang werewolf..."
"Syukurlah kini kalian bisa berkumpul... Berbahagialah dengan mereka, anakku..." Seorang tua yang berada di tengah mengelus kepala Boboiboy dengan lembut. Seakan tahu apa yang telah terjadi padanya selama ini sebelum ia menemukan dunia penuh keajaiban tersebut.
Tersipu, Boboiboy mengangguk kecil. Ia tak pernah tahu keberadaan dirinya begitu dikenal orang-orang di dunia ajaib tersebut.
Wajah bulat Boboiboy yang mendangak menatap satu per satu para tetua penjaga gerbang tak menunjukkan ekspresi apapun, namun kenangannya melayang rindu kepada seorang tua yang telah meninggalkannya. Seorang tua yang penuh kasih menyayanginya...
Kakek...
Tanpa sadar air mata menetes begitu saja mengalir di pipi sang gadis membuat orang-orang yang mengelilinginya terkejut. Terlebih sang nyonya vampir yang langsung menyentuh kedua pipi Boboiboy dan menghapus air matanya "Boboiboy!? Sayang? Ada apa? Mengapa kau menangis...!?"
"Ah, saya... oh, ma, maaf... saya tak..." terbata-bata dengan nada bergetar, kalimat Boboiboy tak diselesaikannya. Hao langsung mengerti tanpa perlu penjelasan dari gadis yang berusaha menghapus air matanya. Sebelum kekhawatiran para tetua berlanjut, Hao menarik napas dan menegakkan tubuhnya "Kami mohon bimbingan kalian agar sampai ke rumah Boboiboy... ia hendak mengunjungi makam kakeknya..."
Kelima orang tua yang mengelilingi Keluarga Lang mengangguk mengerti apa yang telah ditangisi sang gadis. Salah satu dari mereka menepuk lembut bahu Boboiboy dan memasang senyuman yang begitu hangat "Kau yang dicintai semua orang... akan ada kebahagiaan untukmu nanti... tenanglah, wahai gadis yang penuh kasih sayang..."
Begitu ajaib, kini hati Boboiboy terasa hangat membuatnya bisa memasang senyuman membalas kata-kata indah dari sang tetua.
Kelima tetua kembali ke posisi mereka masing-masing mengelilingi gerbang. Kelimanya mengangkat tongkat di tangan mereka masing-masing dan menghentakkan ke lantai batu bersamaan mengeluarkan suara yang menggema diikuti cahaya yang bersinar dari aksara-aksara pada batu gerbang. Dan akhirnya suara deritan berat pintu gerbang menggema memenuhi ruangan mengiringi terbukanya kedua daun pintu.
Begitu pintu tersebut terbuka lebar, tak ada pemandangan apa pun yang dapat dilihat Boboiboy, hanya kabut putih tebal yang menutupi apa yang ada di balik pintu tersebut.
Ellizabeth menggandeng tangan Boboiboy erat, begitu pula dengan suaminya. Ketiganya melangkah berjalan memasuki gerbang yang diselimuti kabut tebal hingga pintu gerbang tertutup kembali, meninggalkan para tetua yang berjaga mengelilingi gerbang sampai gerbang tersebut terbuka lagi menandakan Boboboy dan kedua orang tua asuhnya telah kembali.
Boboiboy berdiri penuh ketegangan diapit oleh Hao dan Ellizabeth. Sang nyonya kembali mengeratkan scarf Boboiboy agar gadis itu tak kedinginan.
Tak ada suara yang terdengar sama sekali kecuali kicauan burung dari jauh yang perlahan menghilang. Mata sang gadis berkeliling. Ia menyadari ada di dalam sebuah hutan lebat. Pohon-pohon tinggi bagai mengepung mereka dari segala arah. Mata Boboiboy turun menuju kakinya yang menginjak tanah, barulah ia menyadari tengah berdiri pada sebuah jalan setapak menuju entah ke mana, karena kabut tebal menghalangi pandangannya.
Tiba-tiba bulu pada gelang yang dikenakan ketiganya bercahaya perlahan bagai kunang-kunang berwarna merah. Kini cahaya tersebut lepas dari gelang, melayang dan bersatu di hadapan ketiganya, bagai lampu penerang yang akan membimbing mereka hingga tujuan.
"Boboiboy... sekarang bayangkan rumahmu... konsentrasi... jangan lepaskan apa yang telah kau gambarkan dalam benak hingga kita sampai di tujuan..."
Boboiboy menarik napas dalam dan menutup matanya, melakukan apa yang diminta Ellizabeth.
Begitu Boboiboy membayangkan rumahnya dengan begitu jelas, cahaya merah di hadapan berubah menjadi kuning terang dan mulai melayang-layang menerangi jalan setapak.
"Ayo ikuti cahaya itu..."
Ketiganya kembali melangkah menelusuri hutan lebat yang diselimuti kabut tebal mengikuti jalan setapak yang diterangi cahaya pembimbing mereka. Udara dingin dan suasana mencekam dalam hutan membuat Boboiboy ketakutan.
Ada suara-suara kecil yang menggema. Kicauan burung dan hewan-hewan lain yang terdengar begitu misterius. Berusaha memberanikan diri, mata Boboiboy melirik ke samping melihat Ellizabeth yang dengan tenang berjalan tanpa melepas rangkulannya pada Boboiboy. Mata sang gadis melirik lebih jauh memandangi apa yang ada di balik pepohonan yang mereka lewati.
Bayangan-bayangan hitam tengah mengintip dengan mata mereka yang bercahaya dalam bisu. Entah apa dan siapa mereka itu, yang pasti Boboiboy langsung kembali memandang cahaya di depan mereka dengan cepat, berusaha tak melakukan kontak mata dengan bayangan-bayangan tersebut lagi.
Hatinya semakin gelisah dan takut. Udara dingin menusuk tulang semakin terasa mencekam. Mata Boboiboy memejam erat. Hatinya tak sabar ingin cepat sampai di rumah, menghirup kembali aroma kayu rumah tua kakeknya, merasakan hangatnya udara di kota kecil tempat tinggalnya.
Cahaya di hadapan ketiganya tiba-tiba berubah menjadi warna putih dan membesar membutakan pandangan. Dan kini nampak pemandangan rumah Boboiboy dengan jelas. Bahkan sang gadis bisa merasakan kakinya tengah menginjak halaman depan rumahnya.
"Kita sudah sampai..."
Kalimat Hao membuat Boboiboy menghela napas panjang penuh lega. Tak sabar, gadis tersebut langsung menghambur menuju pintu depan dan mencari kunci yang bersembunyi di balik pot tanaman.
Namun niatnya membuka pintu terhenti ketika ia mengingat di mana dirinya dibawa paksa oleh lintah darat. Boboiboy ingat jelas meninggalkan rumah tanpa mengunci bahkan menutup pintu...
"Kamilah yang mengunci rumahmu selepas kau melarikan diri dari lintah darat beberapa hari lalu..." Hao seakan bisa membaca apa yang dipikirkan Boboiboy. Gadis itu nampak mengangguk kecil berterima kasih.
Kini tangannya sedikit bergetar. Boboiboy berusaha menenangkan diri membuka kunci pintu. Hatinya tak tenang penuh ketidak sabaran dan bahagia akan kerinduan pada rumah lamanya. Begitu pintu terbuka, senyuman di wajah Boboiboy perlahan menghilang, menyadari tak ada lagi yang menyambut dirinya.
Suasana rumah yang hangat dan penuh keceriaan kini berubah dingin dan sepi. Terlebih lagi dikarenakan cahaya matahari terhalangi tirai jendela tak bisa menyinari isi rumah yang gelap tanpa ada lampu yang menyala satu pun.
Kepala Boboiboy perlahan menunduk sedih.
Ellizabeth mengelus bahu Boboiboy dari belakang, membiarkan gadis itu membimbing kedua orang tua asuhnya memasuki rumah dengan perlahan.
Wajah sedih tersirat begitu mata Boboiboy melihat foto dirinya bersama sang kakek terpajang di tembok rumah. Hao dan Ellizabeth saling memandang dan kembali menatap gadis di hadapan mereka. Ellizabeth memeluk kepala Boboiboy dengan lembut hingga rambutnya menutup wajah sang gadis.
"Boboiboy... kami akan tinggalkan kau di sini sebentar, nikmati saja waktumu dengan santai... nanti kami jemput, ya, sayang...?"
Hao turut merasa bahwa Boboiboy membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Sang kepala keluarga mengangguk pada gadis dalam pelukan istrinya, meminta agar menyetujui apa yang diminta Ellizabeth. Boboiboy mengangguk kecil dan menatap sang nyonya "Apakah saya boleh mengemasi beberapa barang saya untuk dibawa nanti...?"
"Tentu boleh... Tapi tak perlu banyak-banyak, yah? Nanti Hao tak kuat membawa kita kembali ke rumah..." Candaan kecil Ellizabeth membuat senyuman kembali di wajah Boboiboy.
Selepas Hao dan Ellizabeth pergi, Boboiboy berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Hanya suara deritan kayu di tangga yang menimbulkan suara mengisi keheningan rumah.
Tak ada yang berubah selepas ia meninggalkan rumahnya dahulu. Semua nampak tetap sama di tempatnya tak bergeser sesentipun.
Diawali dengan helaan napas panjang, Boboiboy mengambil tas di dekat tempat tidurnya dan mulai membuka lemari, mengambil beberapa baju dan barang-barang penting dari lemari meja. Sebuah foto berbingkai mungil yang terpajang di atas meja juga diambilnya.
Sebelum masuk dalam tas, Boboiboy memandangi foto kedua orang tua dan kakeknya beserta dirinya sendiri ketika masih kecil. Ia ingat jelas, foto itu diambil selepas pertemuannya dengan Fang. Jemari lentik Boboiboy menghapus debu tipis pada kaca bingkai. Senyuman rindu menghias wajah manisnya.
Suara langkah kaki di lantai bawah menyadarkan lamunan sang gadis "Ah, aku pasti sudah terlalu lama mengemas barang... Aku tak boleh membuat mereka menunggu..."
"Maafkan saya! Saya akan turun!" Buru-buru Boboiboy memasukkan barang-barang lainnya yang penting ke dalam tas dan langsung membawanya menuruni tangga.
Namun orang yang ditemuinya di lantai bawah justru membuat suasana horor.
Lintah darat yang mengejarnya kembali bersama kedua kacung dengan tampang mereka yang culas.
"Sudah kuduga kau pasti kembali ke rumahmu, manis..."
Suara yang membuat bulu kuduk Boboiboy merinding menggema disertai asap rokok yang mengepul. Boboiboy terdiam seribu bahasa sambil menatap ketiga pria di hadapannya dengan perasaan ngeri. Namun luka cakaran dan balutan-balutan perban pada lengan dan wajah mereka membuat sang gadis sedikit heran.
Mata pria gemuk tambun di hadapan Boboiboy menatap tas yang dibawa sang gadis. Menaikkan alis dengan sinis, sang pria mendengus, "Kau hendak kabur...? Tak kusangka kau seorang gadis pembohong yang membiarkan hutang-hutang kakekmu tak terbayar..."
"Tidak! Aku bukan akan kabur...! Tu, tunggu sebentar!" Meninggalkan tasnya di ruang depan, Boboiboy berlari menuju kamarnya kembali dan membongkar-bongkar lemari. Sebuah amplop coklat yang nyaris ia lupakan segera diremasnya dan kembali turun menemui lintah darat beserta para kacungnya.
"Ini!" Boboiboy meletakkan amplop uang di meja samping lintah darat berdiri. Tangan mungil Boboiboy merogoh saku bajunya dan mengeluarkan dompet pemberian Ellizabeth. Ia membuka dan menuangkan isinya membuat lintah darat beserta anak buahnya gelap mata akan koin-koin emas berkilauan di atas meja.
"Ini sudah cukup' kan? Hutang kakekku sudah lunas!"
Melihat koin-koin emas bertumpuk dan wujud Boboiboy yang kini terbalut manis dengan pakaian mahal membuat sang lintah darat berpikir agak lama. Seringai culas menghias.
"Gadis bodoh... kau pikir ini sudah lunas...? Kau belum membayar bunga yang terus berkembang dari hutang kakekmu..."
Boboiboy terbelalak. Napasnya terhenti. Ia tak sanggup lagi menahan emosi.
Agak jauh di sebuah kedai restoran dalam kota kecil tersebut, Ellizabeth tersentak. Ia bisa merasakan perubahan emosi tak stabil dari darahnya yang berada di dalam tubuh Boboiboy. Hao yang sedang membaca surat kabar mengangkat alis sembari melihat istrinya yang tiba-tiba berdiri "Elly...?"
"...Boboiboy..."
TBC...
