Karena Boboiboy berulang tahun, maka untuk para pembaca tersayang saya berikan kado update lebih cepat sedikit xD

Sebenarnya memang karena saya sudah ketik sejak lama dan akhirnya bisa saya submit sekarang xD Wkwk

Ah, saya sampai lupa... mengenai kisah-kisah yang menjadi inspirasi saya membuat fanfic ini sudah saya sampaikan di chapter 1, namun masih ada beberapa dari film Ghibli yang berjudul 'Kiki's Delivery Service' dan satu lagi yang berjudul 'From Up On Poppy Hill' ^^ Anime Ghibli sungguh rekomendasi saya untuk kalian yang mencari hiburan penuh imajinasi fantasi, slice of live, dan romance yang begitu halus ^^


Destiny

Kedua anak buah lintah darat mengobrak-abrik seisi rumah membuat Boboiboy berteriak panik memohon agar mereka berhenti. Sementara pria bagai babi yang kini hanya duduk santai pada sofa di ruang depan tengah asyik menghitung koin emas di tangannya.

"Kumohon! Hentikan! Aku akan mencari uang untuk melunasi bunga hutang kakek! Jangan rusak rumah ini...!"

Tapi tangisan sang gadis tak digubris pria berjas putih ketat menonjolkan perutnya itu. Ia malah tersenyum merendahkan gadis yang tak sanggup lagi menopang kakinya untuk berdiri.

Dengan kaki-kakinya yang tambun, lintah darat yang terus menghisap rokok tanpa berhenti kini berdiri dan berlutut di depan Boboiboy "Bajumu itu nampak mahal... kau tak mungkin tak mempunyai uang untuk membayar... kau bisa melepaskan bajumu... dan kau bisa pergi bersamaku untuk membayar semua hutang kakekmu itu..."

Boboiboy berteriak sekencang mungkin begitu tangan pria gemuk yang menjijikkan di depannya menggenggam erat lengan mungilnya.

BRAK!

Tiba-tiba sebuah angin kencang membuat daun pintu depan terbuka menghantam tembok dengan keras. Petir berkilat-kilat menunjukkan amarah seorang wanita dengan mata bersinar terang yang kini berdiri di depan pintu.

Rambut biru keperakan Elizabeth berkibar nyaris menutupi wajahnya. Warna mata terang berkilat penuh kemarahan sang vampir membuat lintah darat di samping Boboiboy mengkerut. Keanggunan, misteri, horor, dan kengerian bagai menjadi satu.

Lintah darat beserta anak buahnya terduduk karena terkejut dan ketakutan begitu wanita tersebut melangkah memasuki rumah dengan kemarahannya.

"Kalian... beraninya menyakiti gadis ini..." desis Elizabeth menggema di seluruh ruangan. Suara dingin bagai es yang menusuk dapat membekukan jiwa manapun.

Ketakutan, para anak buah lintah darat tersebut tak berani menantang Elizabeth yang mengeluarkan aura dingin dan seram. Kedua anak buah lintah darat tersebut hendak melarikan diri lewat pintu belakang. Naas, Hao muncul dengan wajah dingin tak berekspresi, namun tangannya mengepal keras. Ia berusaha menahan amarah.

Suasana hening mencekam disertai angin yang perlahan berhenti membuat suara langkah sepatu Hao dan Elizabeth menggema, mendekati ketiga makhluk hina yang terduduk ketakutan di dekat Boboiboy.

Sementara Boboiboy meringkuk ketakutan tak bisa berdiri. Air mata masih mengalir di pipinya. Wajah seram Elizabeth langsung berubah penuh kekhawatiran seorang ibu. Tak sampai hati, sang vampir langsung memeluk Boboiboy yang menangis ketakutan dalam pelukannya "Sudah, sayang... kami di sini... kau aman sekarang..."

Sang lintah menyadari bahwa Boboiboy mengenal kedua orang misterius dengan pakaian mewah di tubuh mereka itu. Dan kini semua menjelaskan dari mana Boboiboy mendapatkan pakaian mewah serta koin-koin emas berkilauan. Otak sang lintah darat mulai bekerja. Ia mengumpulkan keberanian demi kekayaan yang ia inginkan "Ka, kalian ternyata mengenal gadis ini...", ucapnya penuh kesombongan yang palsu sambil berusaha berdiri.

Hao mengangkat alis dan wajahnya. Jelas terlihat ekspresi merendahkan dari sang kepala Keluarga Lang "Ya, dia anak asuh kami..."

Elizabeth tetap memasang wajah penuh amarah sambil terus memeluk kepala dan tubuh gadis kesayangannya itu. Dirinya tak rela Boboiboy disentuh oleh makhluk menjijikkan penuh hina dan kotor, bagai najis yang harus dimusnahkan dari muka bumi.

"Ooh, anak asuh kalian...? Sayang sekali... tapi gadis ini masih berhutang padaku..."

"AKU SUDAH MELUNASINYA! BUNGA HUTANG ITU KAU BUAT-BUAT! KAU PEMBOHONG!" tak kuasa lagi Boboiboy menahan amarahnya. Emosinya meluap dengan teriakan dan tangisan. Elizabeth berusaha menenangkan Boboiboy dan memeluknya lebih erat.

Hao terdiam tanpa menghilangkan ekspresi di wajahnya yang dingin "Berapa jumlah hutang gadis ini padamu...?"

"Hmph, aku tak yakin kau bisa membayarnya..." Dari balik jas putihnya, lintah darat tersebut mengeluarkan sebuah map, "Surat kepemilikan tanah rumah ini telah ia berikan padaku sebagai jaminan, dan ia masih berhutang delapan juta..."

Boboiboy kembali terbelalak "PEMBOHONG! TIDAK MUNGKIN SEBESAR ITU! KAU BENAR-BENAR LINTAH DARAT!"

Elizabeth kembali berusaha menenangkan Boboiboy. Sebenarnya wanita itu juga ingin sekali menghabisi lintah darat beserta anak buahnya yang kini tersenyum-senyum culas dengan pengecutnya, seperti apa yang telah dilakukan Fang pada mereka. Melihat luka-luka cakar dan balutan perban di tubuh mereka jelas Fang masih berusaha menahan diri menyiksa mereka dahulu. Kalau tidak, pasti mereka sudah kehilangan nyawa. Elizabeth berusaha menahan diri karena peraturan dari kementrian akan hukum yang berlaku.

Hao menghela napas sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan melemparkan segepok uang pada lintah darat membuat babi serta kedua tikus tersebut terkagum-kagum berbinar melihat uang yang mereka terima.

"Dua puluh juta... Sekaligus untuk mengambil kepemilikan tanah ini kembali... itu cukup' kan?"

Sang lintah darat mengangguk senang. Air liurnya mengalir penuh nafsu menghitung lembaran uang di tangannya.

"Kalau begitu, aku akan bawa anak ini. Dia milik kami sekarang... jadi kau tak boleh mengganggunya lagi..." Hao berbicara dengan nada tenang sambil merangkul Boboiboy yang telah berhasil mengumpulkan tenaganya untuk berdiri dibantu Elizabeth yang tak melepaskan pelukannya. Boboiboy terkejut bukan main melihat jumlah uang yang diberikan Hao dengan mudahnya pada lintah darat rakus tersebut.

"Boleh aku minta kembali surat-surat kepemilikan tanah itu...?" tanya Hao santai. Dengan segera sang lintah darat menuruti sang kepala Keluarga Lang penuh hormat. Hao memberikan map beserta surat-surat tersebut pada Boboiboy.

"Kau bisa pergi sekarang... dan tidak menginjakkan kakimu di tempat ini untuk selamanya..." lanjut Hao dan disetujui sang lintah darat dengan segera pergi dari situ beserta anak buahnya.

Boboiboy terdiam dalam pelukan Elizabeth. Kini ia merasa begitu berhutang nyawa pada Keluarga Lang. Namun Hao dan Elizabeth dengan tenangnya kembali membimbing gadis itu keluar rumah sambil membawakan tas berisi barang-barang Boboiboy.

"Ru, rumah ini... sudah menjadi milik Anda...", tutur Boboiboy pelan sembari menyodorkan map yang dipegangnya pada Hao dengan perlahan. Hao menatap gadis itu dalam dan tersenyum "Apa arti nilai jual beli tanah dengan sebuah nyawa yang kau selamatkan lima tahun lalu...? Ini milikmu, Boboiboy... Aku menolak menerima kepemilikan tanah ini..."

Boboiboy kembali tak mengerti akan situasinya. Hao dan Elizabeth telah berulang kali menyelamatkan nyawanya, bahkan memberinya segala rasa aman, kehangatan, dan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan seumur hidup. Terlebih lagi...

Dua puluh juta... Bukan jumlah yang sedikit...

Belum sempat mereka melangkah keluar halaman, sebuah mobil mungil berhenti di depan pagar dan seorang pria keluar menghampiri Boboiboy dengan buru-buru "Boboiboy!"

"Pa, pak lurah...?"

"Astaga...! Aku mendapat kabar dari seorang teman yang lewat sini bahwa kau telah kembali! Aku sungguh khawatir kau menghilang begitu saja setelah pemakaman kakekmu! Ooh...! Syukurlah kau tak apa-apa...! Apa lintah darat itu mengejarmu lagi!?"

Boboiboy menenangkan pria separuh baya di hadapannya yang tampak kesal dan khawatir secara bersamaan "Aku baik-baik saja... terima kasih telah mengkhawatirkanku..."

Memandangi map di tangannya, Boboiboy berpikir sambil kemudian memeluk map tersebut, "Pak lurah... aku ada permintaan..."

Setelah kembali tenang, pak lurah kembali menatap Boboiboy "Apa itu? Apa saja permintaanmu akan kuusahakan! Aku sudah berjanji pada kakekmu sahabatku sejak lama untuk mengurusmu...!"

Boboiboy tersenyum dan memberikan sebuah map berisi surat-surat. Kebingungan, pak lurah menerimanya.

"Itu surat-surat kepemilikan tanah... Aku ingin memberikannya padamu... Aku dengar panti asuhan membutuhkan tempat baru, semoga rumah beserta seisinya ini bisa meringankan beban... Aku tak akan tinggal di sini lagi..."

Pak lurah terdiam beribu bahasa. Ia tak mengerti permintaan gadis di hadapannya. Pria tersebut tergagap dan kebingungan "A, apa... kenapa? Kau akan tinggal di mana...!?"

"Ia akan tinggal dengan kami..."

Pak Lurah baru menyadari dua orang asing berwajah Asia kental dan wanita Eropa di belakang Boboiboy. Sang pria semakin bingung melihat dua orang yang nampak begitu terhormat itu.

"Anak kami adalah teman dari Boboiboy dan kami akan mengasuhnya, membawanya ke Inggris, rumah kami..."

Dengan bahasa Melayu yang fasih, kalimat dari Hao tentu dapat dimengerti Pak Lurah. Tapi yang membuatnya begitu terkejut adalah rencana kepergian Boboiboy yang mendadak. Pak Lurah bergantian menatap Boboiboy dan kedua orang tua asuh gadis tersebut, meyakinkan bahwa dirinya tak salah dengar. Boboiboy mengangguk kecil mengiyakan kalimat Hao.

"Aku begitu menyukai lingkungan rumahku dan semua orang-orang di sini... Namun aku tak mau merepotkan siapapun di sini... Maka itu, titipkan salamku pada yang lain... Aku akan merindukan semua orang..."

Pak Lurah tak sanggup menahan air matanya. Ia memeluk gadis yang sudah dianggap anaknya sendiri "Kami semua akan kehilangan kau, Boboiboy... Jaga dirimu baik-baik... Dan aku akan melaksakan amanatmu untuk merawat rumah ini sebagai panti asuhan..."

Setelah melepas pelukannya, Pak Lurah menarik napas panjang dan menghadap pada Hao dan Elizabeth "Aku titip anak ini... tolong jaga dia baik-baik..."

Hao dan Elizabeth tersenyum sambil mengangguk.


Ditemani Pak Lurah, mereka mengunjungi makam kakek Boboiboy dan menyempatkan diri berziarah membawa bunga. Hao dan Elizabeth membiarkan Boboiboy duduk di depan makam kakeknya.

Hao serta Elizabeth tengah mengobrol dengan Pak Lurah menggunakan nada yang begitu pelan agar tak terdengar Boboiboy yang masih duduk sambil menyematkan kedua tangan di depan makam kakeknya.

"...sejak kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh kakeknya... namun karena usianya yang sudah tua, tentu kakek Boboiboy sakit-sakitan... anak itu berjuang menjadi tulang punggung dengan bekerja keras... kakeknya sendiri telah berhutang banyak pada lintah darat demi menghidupi diri dan cucunya... Kami seluruh warga berusaha membantu, namun terus ditolak oleh Boboiboy... Bahkan ia menolak keinginan kami membantu dengan mengumpulkan uang untuk melunasi segala hutangnya... Ia gadis yang baik, selalu menolong dan ramah pada semua orang... Begitu banyak orang yang menyayanginya... Jujur saja, aku terkejut ia mau ikut dengan kalian sebagai anak asuh... karena ia terus menerus menolak keinginanku untuk mengasuhnya..."

Hao dan Elizabeth terdiam. Hati sang nyonya begitu sedih mendengar kisah tersebut. Tak sampai hati ia membiarkan gadis kesayangannya terus menerus bekerja keras.

Begitu Boboiboy selesai berpamitan di depan makam kakeknya, ia berdiri dan berjalan mendekati ketiga orang dewasa yang agak jauh darinya. Di depan gerbang pemakaman Hao berjabat tangan dengan Pak Lurah untuk mengakhiri pertemuan mereka.

"Main-mainlah kemari kalau kau sempat, Boboiboy..." Sang gadis tersenyum mengangguk dan memeluk pria sahabat kakeknya sekali lagi sebagai perpisahan.


Begitu mobil Pak Lurah menjauh hingga tak terlihat, Hao dan Elizabeth merangkul Boboiboy mengajaknya menuju sebuah gang yang sepi dekat situ. Tentu saja sang gadis heran dan bingung bagaimana mereka akan kembali.

Elizabeth menggenggam tangan Boboiboy yang mengenakan gelang "Sekarang bayangkan 'Lost Forest' sambil menyentuh gelang ini dan memejamkan matamu... Kita akan kembali ke sana bersama-sama..." Boboiboy menuruti kata-kata Elizabeth.

Begitu memejamkan mata dan membayangkan pemandangan hutan 'Lost Forest' yang penuh kabut dan horor, tiba-tiba terasa ada angin kencang bertiup dan kembali tenang. Boboiboy membuka matanya dan menemukan dirinya berserta Hao dan Elizabeth kembali berdiri di jalan setapak 'Lost Forest'. Namun kini jelas di hadapan mereka berdiri gerbang besar yang menjadi pintu masuk mereka sebelumnya.

Begitu Hao mendorong pintu tersebut, pemandangan ruang bawah tanah serta para tetua yang menyambut mereka membuat Boboiboy merasa lega tak perlu berjalan dengan perasaan mencekam di hutan seperti sebelumnya.

"Selamat datang kembali..." suara hangat sang tetua disambut senyuman dari Elizabeth. Seorang tetua melihat tas yang dibawa Boboiboy "Oh, kau sudah membawa barang-barangmu untuk tinggal bersama mereka...? Apa kau berencana untuk tinggal dengan Keluarga Lang selamanya...?"

Anggukan dari Boboiboy membuat Elizabeth senang. Ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya, tahu Boboiboy akan menjadi bagian dari keluarga mereka. Sebuah elusan di rambut Boboiboy dari sang tetua diiringi tawa terkekeh dari tetua yang lain, "Kedatanganmu jelas membuat Elizabeth begitu senang, nak..."

Tak disangka, tiba-tiba Boboiboy memeluk erat sang tetua yang baru saja mengelus lembut kepalanya. Para orang tua yang berada di situ tak kalah terkejut dengan tetua yang tertahan napasnya menerima pelukan erat dari sang gadis.

"Terima kasih... telah mengijinkanku pulang dengan gerbang ini..." isak tangis terdengar pelan dari gadis yang membenamkan wajahnya pada jubah tetua "Sungguh ini tak ternilai bagiku..."

Sang tetua tak sanggup menahan air matanya. Belum pernah ada yang berterimakasih sedemikian rupa pada para tetua di situ. Kembali ia mengelus lembut gadis mungil yang menangis di dadanya dengan penuh sayang "Kau layak mendapatkan kebahagiaan setelah mengalami apa yang telah terjadi... Doa kami para tetua akan selalu menyertaimu, nak..."

Boboiboy melepaskan pelukannya dan bergantian memeluk para tetua lain yang menyambutnya penuh haru dan bahagia. Mereka tak sanggup menahan senyum melihat kepolosan sang gadis.

Dalam beberapa menit pertemuan mereka, para tetua sudah jatuh hati menganggap Boboiboy sebagai cucu mereka sendiri.

Elizabeth turut tak sanggup menahan air mata harunya dalam rangkulan sang suami. Tak lama kemudian mereka berpamitan, dengan janji dari Boboiboy akan mengunjungi mereka kembali. Sayang, untuk menuju ruang bawah tanah tersebut dibutuhkan ijin yang ketat. Namun Hao berjanji akan menyampaikan salam Boboiboy jika ia akan menggunakan 'Gerbang Kabut' lagi.

Melihat jam sakunya, Hao baru sadar mereka bisa melanjutkan jadwal mereka kembali ke Hospital and Service untuk mendapatkan hasil pemeriksaan Boboiboy. Namun apa yang Hao dan Elizabeth dapatkan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikir sebelumnya...


Seorang dokter yang jelas merupakan ras halfter dengan pakaian lab putih duduk dalam ruangan kantor yang dipenuhi segala alat kedokteran, berhadapan dengan Elizabeth dan Hao, juga Boboiboy yang duduk di antara keduanya.

"Kasus Boboiboy berbeda dengan para halfter yang mendapatkan kekuatan mereka karena hasil perkawinan dua ras, manusia dan halfter... Secara biologis, tubuh Boboiboy adalah tubuh manusia, namun darah vampir mengalir dalam tubuhnya secara tiba-tiba... Seluruh organ dalam tubuhnya tak berubah, hanya darahnya saja yang membuat dirinya berubah sebagian... Dengan kata lain, ia tetap manusia, namun tanpa kemampuan vampir..."

Tanpa kemampuan vampir...

Hao dan Elizabeth berpandangan. Sang dokter mengambil sebuah gelas berisi darah segar dan memberikannya pada Boboiboy "Coba minum ini... Seperti yang kau tahu, kau butuh memerintahkan otakmu untuk percaya bahwa darah ini enak untuk diminum, layaknya vampir yang butuh darah... Bayangkan hal demikian..."

Boboiboy menuruti kata-kata sang dokter. Ia memejamkan mata dan menganggap dirinya vampir murni yang meminum darah segar. Begitu bibirnya menyentuh ujung gelas dan meneguk darah yang ada di gelas, gadis tersebut langsung kembali memuntahkannya sambil terbatuk-batuk.

Elizabeth panik mengelap darah yang dimuntahkan Boboiboy. Hao dan dokter turut membantu gadis tersebut menenangkan diri.

Tubuhnya jelas menolak meski ia telah memerintah otaknya untuk menerima.

"Ini yang saya takutkan... Tubuh Boboiboy menolak darah... sementara darah adalah suplemen para vampir untuk bertahan hidup..."

"A, apa yang terjadi jika Boboiboy terus menolak darah...?" tutur Elizabeth tak tenang.

Sang dokter menunduk dan menghela napas menghadapi Hao yang memaksanya untuk berkata jujur "Sel-sel darah vampir dalam tubuhnya akan mati perlahan, dan tubuh Boboiboy akan melemah hingga terjadi kelumpuhan... karena seharusnya gadis ini sudah menemui ajalnya sebelum Anda memberikan darah dalam tubuhnya... Maka, itulah yang akan terjadi... kematian perlahan..."

Bagai tersambar petir, napas Elizabeth tertahan. Ia langsung memeluk gadis kesayangannya. Sementara Boboiboy hanya bisa membisu menghadapi kenyataan.

Ia tahu seharusnya ia sudah mati...

Ia tahu seharusnya ia tak melawan takdir...

Tapi ia merasa bukan sekaranglah saatnya untuk menerima takdir begitu saja...

Kini ia merasa banyak berhutang pada Keluarga Lang. Boboiboy mulai menolak kenyataan yang pasti bahwa ia harus menemui ajalnya perlahan dan ditentukan oleh waktu yang transparan.

"Mawar..."

Hao dan Elizabeth sedikit terkejut dan heran mendengar nama bunga yang dibisikkan Boboiboy "Saya... menemukan diri saya begitu menikmati rasa manis pada bunga mawar... saya memakannya... Apa itu juga merupakan salah satu perubahan dalam diri saya karena darah vampir yang mengalir...?"

Sang dokter terkesima mendengarnya. Ia membuka-buka buku tebal yang berada dalam rak buku dekat meja kerjanya "Saya tak menyangka kau bisa memakan mawar..."

Sebuah halaman menunjukkan tulisan-tulisan serta grafik bunga mawar "...Mawar adalah bunga yang memiliki kandungan-kandungan yang dapat membantu agar darah vampir tetap aktif... bisa dibilang sebagai pengganti darah bagi para vampir yang kesulitan menemukan darah. Saya amat sangat menyarankan agar kau mengkonsumsi mawar setiap harinya, disertai daging merah segar, jika daging mentah tak bisa kau makan, maka panggang setengah matang... lalu jus tomat sebagai tambahan..."

Begitu lega luar biasa sang nyonya vampir mendengar resep yang diberikan sang dokter. Hao menjabat tangan dokter begitu mereka mengakhiri pertemuan dan akan melanjutkan jadwal mereka kembali untuk mendaftarkan Boboiboy dalam kependudukan.

Kembali, mereka menemukan masalah dalam proses...


Seorang... atau seekor burung hantu berukuran besar, lengkap dengan dasi dan jubah yang menutupi tubuh serta sayapnya berdiri di balik sebuah meja besar yang mengelilingi ruangan, lengkap dengan segala kertas dan buku yang bertumpuk memenuhi ruangan.

"Status Boboiboy tidak jelas dalam surat hasil pemeriksaan ini, Hao Lang... Aku tak bisa mendaftarkannya sebagai ras manusia asli atau ras halfer... Bahkan para halfter yang memiliki orang tua dengan ras campuran dapat dengan jelas ditentukan apa ras mereka... Namun kasus ini langka... Boboiboy adalah manusia dengan darah vampir, tanpa kemampuan vampir dalam dirinya... Entah apa yang harus kita sebut..." Burung Hantu raksasa dengan suara penuh wibawa tersebut menggeleng bingung.

Hao dan Elizabeth kembali berpandangan. Boboiboy mulai merasa resah mengenai status dirinya. Ia bagai kehilangan jati diri di dunia baru yang begitu menakjubkan tersebut.

"Maaf, nak... ini sungguh kasus yang tak pernah kutemukan sebelumnya dalam ratusan tahun..." Burung Hantu tersebut menghela napas tak bermaksud melukai perasaan gadis yang berdiri di antara kedua orang tua asuhnya.

Hao maju beberapa langkah mengeluarkan suaranya, "Tapi Yang Mulia... Boboiboy telah mengetahui keberadaan dunia kita ini... Kita tak bisa membiarkannya hidup di antara ras manusia yang tak tahu menahu mengenai dunia ini... Setidaknya ijinkan ia tinggal bersama keluargaku dengan ijin tertulis..."

Burung Hantu yang penuh kebijaksanaan kini berpikir. Benar apa yang dikatakan Hao. Maka ia membuka lembaran baru pada buku tebal di sampingnya dan mulai menulis sesuatu dengan sehelai bulu yang mencuat dari balik jubah hijau tuanya.

"Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti... apakah status ras-mu akan berubah seiring berjalannya waktu, anakku... tapi biarkan Burung Hantu tua ini membicarakan pada para dewan perwakilan segala ras agar ada keputusan bulat..."

Hao dan Elizabeth berterima kasih. Boboiboy membungkukkan tubuhnya penuh hormat berterima kasih pada sang Burung Hantu.

Sayap-sayap besar mengembang dan mengepak membuat kertas-kertas berterbangan begitu Burung Hantu tersebut melompat keluar dari balik meja. Cakar-cakar besarnya menyentuh lantai, berdiri tegap di samping Boboiboy dan kedua orang tua asuhnya, mengantar ketiganya menuju pintu keluar.

"Bagaimana pendapatmu mengenai dunia yang dipenuhi keanehan ini, anakku?" tanya sang Burung Hantu.

"Sungguh luar biasa... Bagai mimpi dan keajaiban yang keluar dari buku dongeng menjadi nyata...!"

Burung Hantu tersebut terkekeh kecil "Kau menyukai dunia ini...?"

"Oh, sangat, Yang Mulia..."

Gelak tawa yang terdengar ramah dari Burung Hantu bijaksana tersebut membuat hati gelisah Boboiboy menjadi lebih ringan "Selamat datang di duniamu yang baru, nak... Ada banyak yang harus kau pelajari dan patuhi... Terlebih mengenai keberadaan dunia yang penuh rahasia ini..."

Boboiboy mengangguk tegas.


Di luar kastil organisasi, Boboiboy yang kelelahan akhirnya memutuskan untuk menahan diri akan keinginannya menjelajahi kota yang manis dalam tembok yang mengelilingi kastil organisasi tersebut. Terlebih jam pagi seharusnya adalah jam istirahat Hao dan Elizabeth. Boboiboy tak mau merepotkan orang-orang yang telah berjasa baginya itu, maka ia meminta untuk pulang kembali ke kastil Keluarga Lang dengan sopan pada Hao.

Perjalanan menembus angin di punggung Hao membuat Boboiboy sedikit lebih tenang. Ia merasa hembusan angin kencang seiring lompatan Hao yang tajam bagai membawa semua kesedihan dalam dirinya entah ke mana.

Ia telah siap menjalani hidupnya yang baru bersama Keluarga Lang yang kini mengasuhnya.

Setelah sampai di depan gerbang kastil, Hao kembali mengubah wujudnya. Elizabeth membuka gerbang, diikuti Boboiboy yang masuk setelah Hao.

Elizabeth membantu Boboiboy yang membawa tas di tangannya dengan membukakan pintu depan agar gadis itu masuk dengan mudah "Maaf ya... kau jadi tidak sempat belanja..."

Boboiboy langsung terkejut mengingat bahwa uang jajan yang diberikan Elizabeth ia berikan pada lintah darat sebelumnya. Buru-buru Boboiboy meminta maaf dan menyesali apa yang telah ia lakukan. Padahal uang berjumlah banyak itu diberikan Elizabeth untuknya "Sa, saya akan menggantinya nanti...! Maafkan saya...! Saya akan mengganti uang yang telah anda berikan sebagai ganti hutang-hutang kakek saya!"

"Oh sudahlah, sayang... tak apa-apa... Tak perlu kau pikirkan... Uang itu tak seberapa dibanding keselamatanmu..." untuk kesekian kalinya Elizabeth memeluk erat penuh sayang gadis berambut pendek tersebut.

"Saya... sungguh berterima kasih atas apa yang Anda berdua lakukan untuk saya... Saya akan membalas kebaikan Anda... saya janji..."

Tutur kata Boboiboy yang lembut penuh kesungguhan menghanyutkan hati Elizabeth dan Hao. Keduanya tak menganggap serius kata-kata gadis tersebut. Elizabeth hanya tersenyum dan mencium kening Boboiboy.

Elizabeth kembali mengantar Boboiboy menuju kamarnya di ujung lorong lantai dua. Hao melepas jas sembari menuju ke kamar Fang untuk menengok anaknya yang akhirnya tertidur pulas setelah dipaksa menuruti kedua orang tuanya untuk tidak ikut mereka ke kota pada jam istirahat sang pemuda werewolf.

Selama perjalanan menelusuri lorong kastil, Boboiboy bertanya-tanya dan memberanikan diri mengutarakan keheranannya itu "Ma, maaf... tapi... apa tak ada pembantu yang membantu Anda mengurus kastil sebesar ini...?"

Elizabeth memandang heran Boboiboy sambil tetap berjalan "Oh, pasti karena beberapa tempat berdebu, yah...?" senyumnya. Boboiboy buru-buru menggeleng. Justru keadaan kastil yang lumayan terawat itu membuatnya bingung. Hanya ada tiga anggota keluarga yang menghuni, namun kastil tersebut nampak lumayan terawat.

"Seperti yang kau tahu... aku bisa menggerakkan benda sesuai keinginanku... tapi tetap saja aku harus menggunakan tenaga dan itu bisa sangat melelahkan... makanya aku jarang membersihkan kastil ini... Tapi aku kurang suka adanya orang asing yang tak kukenal berkeliling di kastil ini... Maka aku tak pernah memperkerjakan orang..." Elizabeth tersipu sambil mengeluarkan lidahnya sedikit, meledek diri sendiri.

Dalam benak Boboiboy mulai muncul suatu ide...

Ia mulai menyadari ada hal lain yang bisa dilakukannya untuk membalas kebaikan Keluarga Lang pada dirinya...

Begitu Elizabeth meninggalkan Boboiboy untuk beristirahat di kamarnya, tubuh sang gadis langsung ambruk karena lelah di atas tempat tidur yang empuk. Matanya berkeliling melihat langit-langit dan seisi ruangan penuh kemewahan itu.

Perlahan mata lelahnya menutup seiring tubuhnya turut santai.

Satu hari penuh kisah yang mencampur adukkan perasaan, sungguh luar biasa pengalaman sang gadis tanpa ras.


TBC...