Wow! Ternyata saya bisa update lebih cepat dari yang saya bayangkan ^^

Salam kenal untuk teman-teman yang baru membaca fanfic saya ini ^^

Kalian akan membaca sebuah kisah fantasi yang sangat feminin xD Jadi jangan berharap adanya pertarungan yang begitu seru di kisah ini ^^

Thanks ^^ And please enjoy yourself...


A Dinner with Lang Family

Dalam gelap, mata Boboiboy terbuka perlahan, mendapati hari telah malam dan lampu di kamarnya belum nyala. Berusaha mengingat apa yang membuatnya lelah hingga tertidur sampai malam, Boboiboy perlahan berjalan dalam gelap untuk menyalakan lampu kamar.

Ia ingat seharian penuh ia mengalami pengalaman yang luar biasa dan bertemu orang-orang baru yang telah banyak membantunya.

Gerbang Kabut... para tetua... Lintah darat yang kembali membuatnya takut... Hao dan Elizabeth yang telah menyelamatkannya untuk kesekian kali... Burung Hantu raksasa...

"Oh, astaga... hari ini benar-benar luar biasa..." desahnya sambil terduduk kembali di pinggir tempat tidur.

Mendengar suara-suara dari luar pintu kamar membuat Boboiboy membuka pintu kamarnya perlahan dan berjalan mengikuti sumber suara yang ia ketahui suara milik Elizabeth. Di ruang makan nampak terjadi perdebatan lagi antara ibu dan anak.

"Sehariiiii sajaaaa...!"

"Tidak, Fang...! Kau tak boleh membolos...!"

"Aaaah, kalian sudah seharian dengan Boboiboy...! Giliranku kapaaaan? Dia kan calon pengantinkuuuu!" rajukan Fang tak digubris ayahnya. Sementara Elizabeth meneruskan makan yang menjadi sarapannya.

Boboiboy perlahan mengintip dari balik pintu ruang makan yang terbuka lebar.

Fang langsung menegakkan telinga mendengar suara yang amat sangat kecil yang ditimbulkan pergesekan tangan Boboiboy pada tembok. Hidung Fang mengendus aroma gadis kesayangannya yang bersembunyi malu-malu.

"Boboiboy!" tanpa ragu Fang melompat meninggalkan bangkunya. Sementara Boboiboy terkejut bukan main dalam waktu singkat Fang ada di hadapannya. Sangat dekat. Bahkan tiba-tiba memeluknya erat "Aku kangen sekali! Kau baik-baik saja? Ayo makan bersama!"

Boboiboy panik dan begitu malu berada dalam pelukan seorang tampan bak pangeran yang... mengibas-ngibaskan ekornya dengan senang...? Boboiboy bersumpah ia melihat ekor dari balik celana Fang. Meski tampak aneh tapi gadis tersebut merasa keajaiban di dunia tersebut belum selesai. Kuping yang menjadi khas di kepala Fang juga membuat sang gadis berdecak kagum.

"Fang... sudah berapa kali ibu bilang... Jangan mengejutkannya..." Elizabeth menarik kerah Fang agar anaknya menjauh dari gadis yang meringkuk malu di dekat daun pintu.

"Selamat malam, sayang... Kau pasti lapar... Ayo, makan bersama...!" ujar Elizabeth girang sambil menggeserkan bangku untuk Boboiboy duduk. Fang mulai memohon agar bisa duduk di sebelah Boboiboy. Karena bosan mendengar rajukan Fang setiap harinya, kali ini Elizabeth mengijinkan.

Boboiboy duduk malu-malu di samping Fang. Terlebih Fang terus-terusan memandanginya hingga membuat sebal ibundanya sendiri. Muncul ide absurd untuk mencolok mata Fang dengan garpu di sampingnya, namun Hao yang tahu pikiran istrinya langsung mengambil garpu dari samping sang nyonya.

Ada daging setengah matang serta jus tomat di atas piring mewah serta perangkat mahal di hadapan Boboiboy. Seperti dalam restoran berbintang yang biasa ada di majalah-majalah dengan artikel yang memuji betapa mewahnya tempat-tempat tersebut.

"Ini ibuku yang memasak, kalau tak enak buang saja tak apa-ap..."

BLETAK!

Boboiboy nyaris menjerit melihat Fang terhempas karena lemparan vas kaca mahal yang kokoh melayang-layang. Sementara Elizabeth memasang topeng manis penuh kemurkaan pada Fang di baliknya "Semoga sesuai dengan seleramu, sayang..."

Hao hanya bisa memijit keningnya melihat tingkah istri dan anaknya yang tak peduli akan keberadaan Boboiboy di situ, mereka tetap giat melakukan perdebatan dan percek-cokan dengan segala macam alasan.

Hao tersenyum kecil pada Boboiboy memintanya memaklumi suasana ramai yang ditimbulkan perdebatan Elizabeth dan Fang, yang kembali kisruh karena masalah rasa masakan. Elizabeth memang mengakui ia tak bisa masak seperti layaknya ibu rumah tangga. Sementara Fang selalu ribut soal rasa.

Bayangkan saja, selama belasan tahun Fang terbiasa dengan masakan ibunya, sekali waktu ia diajak makan di sebuah restoran oleh orang tuanya dan menemukan bahwa ada masakan yang begitu nikmat selain masakan ibunya. Elizabeth tak menyesal pernah mengajaknya ke restoran, karena terkadang Fang pada akhirnya mencoba masak sendiri di dapur dan tidak merepotkan ibunya. Sayang, justru percobaan masak Fang berujung membuat racun yang bisa membunuh lalat yang terbang di atas masakan hasil karya Fang. Sejak itu ia menyerah untuk mencoba memasak sendiri dan menerima masakan ibunda apa adanya... dengan omelan sana-sini.

Hao sendiri sudah terbiasa dengan masakan istrinya sejak masih muda dulu. Maka ia tak banyak protes atau terang-terangan meledek seperti Fang yang terlalu jujur pada ibunya.

Boboiboy berusaha membiasakan diri dengan suasana ramai Fang dan ibunya di ruang makan. Dengan kalem ia memotong daging dan mengunyahnya dalam mulut tanpa bersuara. Memang bagi sang gadis rasa masakan Elizabeth tak begitu terasa ada bumbu ataupun tambahan lain. Begitu 'polos'. Tapi karena perut yang lapar dan menjaga kesopanan, Boboiboy menghabiskan makanannya, bahkan sebelum Fang dan ibunya menyelesaikan perdebatan mereka.

"Bagaimana...?" tanya Hao pelan. Boboiboy tersenyum kecil "Bagi saya bisa menikmati makan bersama dengan suasana hangat seperti ini begitu terasa nikmat..."

Elizabeth dan Fang menghentikan pertengkaran mereka begitu mendengar kata-kata polos Boboiboy. Memang, ketiga Keluarga Lang selalu menemui sang gadis makan sendirian tanpa ditemani sang kakek yang selalu terbaring karena sakit, atau makan sendirian pada jam istirahat ketika ia bekerja di sana-sini pada saat mereka mengawasi Boboiboy dari jauh dahulu.

Hao tersenyum lebih lebar. Ia berdiri dan berjalan menuju bangku sang gadis, mengelus lembut kepalanya "Terima kasih telah menemani kami makan bersama di sini..."

Boboiboy menggeleng kecil, "Terima kasih telah mengijinkan saya menikmati waktu yang luar biasa seperti ini... Dan terima kasih atas makanan yang tersaji indah ini..."

Elizabeth kembali tak bisa menahan harunya lalu berhambur memeluk Boboiboy, mendorong Fang yang turut hendak memeluk gadis pujaannya. Fang menggerutu kesal dari pinggir meja makan pada sang ibu yang menyerobot pelukan mesranya.


Begitu makan malam sekaligus sarapan bagi ketiga Keluarga Lang selesai, Boboiboy meminta agar dirinya yang mencuci piring.

"Ijinkan saya mencuci piring-piring ini... Jadi saya bisa tahu letak dapur dan segala perabot agar mudah membantu Anda..." permohonan Boboiboy sama sekali tak bisa ditolak Elizabeth. Terlebih karena sang gadis memasang ekspresi begitu memohon dan manis pada saat yang bersamaan.

"Maaf, apa Anda punya celemek yang boleh saya gunakan...?" tanya Boboiboy kembali dengan sopan sebelum ia mencuci piring. Enggan rasanya ia mengotori pakaian indah yang dikenakannya. Pakaian-pakaian yang diberikan Elizabeth dan Hao begitu mewah dan mahal. Tak sampai hati Boboiboy mengenakannya untuk bekerja.

"Hmm, celemek, ya... karena aku selalu menggunakan kekuatanku jadi tak pernah menggunakannya... hmm, sebentar..." Jari telunjuk sang nyonya menyentuh pipi, berusaha mengingat sesuatu. Elizabeth teringat akan lemari yang sudah lama terkunci di loteng kastil. Boboiboy mengikuti sang nyonya yang membawa lampu di tangannya untuk menerangi tangga kastil menuju loteng. Lorong panjang tinggi nan gelap membuat Boboiboy berhati-hati dalam melangkah di tiap anak tangga batu menuju bagian teratas kastil Keluarga Lang.

Sesampainya di atas, ada pintu kayu yang nampak sudah berusia begitu tua. Elizabeth membuka pintu tersebut dengan salah satu kunci yang menggantung bersama kunci-kunci lain pada sebuah gelang yang dibawanya.

"Ini adalah loteng dan juga berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang... Semua barang tua dan tak terpakai banyak kami simpan di sini... Hati-hati melangkah, sayang... Loteng ini sangat berantakan dan berdebu..." Elizabeth menggandeng Boboiboy masuk dengan perlahan.

Lampu yang dibawa sang nyonya diletakkan di atas meja tua dekat pintu yang terbuka lebar.

Ada begitu banyak antik menjadi penunggu loteng. Nyaris semuanya tak tersentuh cahaya lagi. Bahkan jendela loteng tertutup kain yang tak pernah terbuka. Ada rak besar dengan buku-buku tua berjejer. Entah buku apa saja itu. Lemari-lemari besar berdiri terkunci. Mesin jahit tua dan beberapa peti serta keranjang-keranjang bersandar pada dinding dingin. Mainan anak-anak yang tak pernah tersentuh terselimuti debu di kotak besar samping lemari.

Elizabeth membuka salah satu lemari dan mencari-cari sesuatu di dalamnya.

Boboiboy melihat dengan mata kepalanya sendiri. Meski gelap namun jelas terlihat banyak baju-baju manis berjejer tergantung rapi dalam lemari. Bahkan ada gulungan-gulungan kain berbahan bagus yang berjejer. Tanpa sadar dari mulut Boboiboy mengeluarkan suara penuh kekaguman...

"Waw..."

Elizabeth tertegun mendengar nada kekaguman dari Boboiboy, namun kembali tersenyum "Ini baju-bajuku ketika kecil dahulu... Aku tak pernah sempat merapikan tempat ini karena akan menguras tenagaku berlebih jadi loteng ini terbengkalai begitu saja..."

Sebuah celemek putih manis dengan lipatan-lipatan yang membentuk renda diberikan Elizabeth pada Boboiboy. Gadis itu memekik girang melihat celemek bermodel Eropa tersebut. Elizabeth turut bahagia melihat ekspresi Boboiboy yang memeluk-meluk celemeknya. Pertama kalinya sang nyonya vampir melihat ekspresi lepas sedemikian rupa dari sang gadis yang pemalu tersebut.

"Semua baju-baju ini sungguh manis...!" puji Boboiboy. Elizabeth kembali jatuh cinta kesekian kalinya pada anak asuhnya. Serta merta ia memberikan rentengan kunci-kunci yang tergantung menjadi satu pada Boboiboy "Kau boleh mencoba-coba mereka sesukamu, sayang... Semua ini sudah menjadi milikmu... apalagi aku tak cukup lagi mengenakannya... Aku titipkan kunci ini padamu. Kau boleh ke manapun kau suka di kastil ini... Aku memiliki kunci-kunci asli dari kunci duplikat ini, tenang saja..."

Mata Boboiboy berbinar cerah mendengarnya. Tak percaya rasanya ia mendapatkan kepercayaan sebesar itu. Kesekian kali sang gadis memeluk erat dan berterima kasih pada sang nyonya.


Meski Elizabeth sudah menunjukkan dapur kecil yang lebih modern pada Boboiboy agar ia bisa mencuci di situ, namun sang gadis merasa lebih tertarik menggunakan dapur lama yang berada di bagian paling belakang kastil. Di mana ia pertama kali melihatnya pada saat ketiga Keluarga Lang menjemput dirinya dari taman bunga mawar, ketika secara tak sadarkan diri Boboiboy berjalan menuju taman dan memakan mawar di sana.

Memang letaknya tak jauh dari dapur baru yang modern, namun suasana di dapur tua lebih gelap dan kotor. Elizabeth hanya tersenyum sambil menghela napas melihat Boboiboy begitu tertarik pada benda-benda antik di manapun dalam kastil itu meski pada tempat gelap sekalipun.

Di dapur, Boboiboy mencuci sambil bersenandung. Meski suasana dapur yang gelap dan berdebu, gadis itu merasa ada cahaya kecil bernama keajaiban yang terus menemani dirinya, menerangi perasaannya sejak ia datang ke tempat tersebut.

Menggenggam kunci-kunci yang diberikan Elizabeth, Boboiboy merasakan dirinya bisa membalas kebaikan-kebaikan yang diberikan Keluarga Lang pada dirinya, "Aku punya banyak kesempatan di sini dengan membantu sebisaku..."

Di dapur modern, Boboiboy menemukan kulkas berisi berbagai macam bahan makanan. Sepertinya Elizabeth tak pernah bisa mengolah menjadi masakan dengan baik, karena bahan-bahan tersebut bertumpuk dengan tanggal kadaluarsa yang sudah dekat.

Melihat jam, Boboiboy menyadari Fang akan berangkat sekolah sebentar lagi. Matanya kembali melihat bahan-bahan masakan tersebut dan bibirnya mulai membuat lengkungan sebuah senyuman.


Elizabeth dan Hao mengantar Fang hingga ke pintu depan, melepas kepergian anaknya yang akan bersekolah "Hati-hati, Fang... kau sudah bawa payung?"

Fang menunjukkan payung lipat yang menonjol dari tasnya "Aku berangkat..."

"Ah, tunggu...! Tunggu sebentar...!"

Ketiga Keluarga Lang melihat Boboiboy yang berlari kecil menghampiri mereka dengan bungkusan di pelukannya. Sebuah kotak bekal.

"Ini bekal untuk anda... semoga cocok dengan selera anda..."

Sungguh senyuman di wajah Boboiboy adalah hal terindah dan energi Fang sebelum berangkat sekolah. Wangi roti dengan daging di dalam kotak yang dilapisi kain tersebut membuat senang sang werewolf muda "Terima kasih! Aku akan lekas pulang nanti!"

Belum pernah Hao dan Elizabeth melihat anak mereka semangat seperti demikian ketika berangkat sekolah. Hao berharap Fang tidak kabur di tengah pelajaran hanya untuk lekas pulang menemui pujaan hatinya.

"Boboiboy, kau sampai jadi repot membuatkannya bekal..."

"Tidak, kok... Saya senang jika bisa membalas kebaikan Anda semua...!" senyuman hangat sang gadis tak pernah membuat Elizabeth bisa menahan senyumnya. Sang nyonya membiarkan Boboiboy berbuat apa saja yang ia inginkan di kastil itu, selama ia bahagia dan betah bersama keluarganya yang baru.


"SELAMAT MALAAAAM!"

Seorang gadis kecil dengan ras vampir Cina, seorang gadis dengan tudung di kepala, dan seorang anak laki-laki tambun berbadan besar dengan ras Golem nyaris terjungkal begitu Fang masuk ke ruang kelas sekolahnya.

"Hoi, hoi... tumben sekali sang Tuan Muda Lang sebahagia ini menyapa kita dengan begitu bahagia..." sindir sang gadis bertudung yang tertimpa buku tebal berisi katalog bahan rempah ramuan.

"Haiya, pasti ada apa-apanya... Sini coba di tes darah dulu... siapa tahu ada kelebihan gula di darahmu, Fang..." ujar gadis vampir Cina dengan jarum-jarum di tangannya.

Sementara Golem gendut teman mereka mengendus sesuatu dari tas Fang "SANDWICH ISI DAGING! Boleh aku minta, Fang!?"

"Maaf, tapi ini sungguh terlalu suci untuk kalian sentuh..." Fang memeluk tasnya penuh rasa bangga, membuat ketiga temannya penasaran.

"Weits... beneran keracunan ni anak... ada apa sih dengan sandwich itu? Biasanya yang bisa bikin dia keracunan sampe ketawa-ketawa sendiri' kan cuma donat lobak merah di kantin... ya, kan, Yaya?" Yaya, gadis bertudung merah muda mengangguk menyetujui kata-kata gadis vampir Cina sahabatnya.

"Ying, mungkin Fang menemukan donat jatuh di jalan lalu dimakan gitu aja..." Yaya menanggapi Ying sang vampir Cina berbadan mungil sambil ketawa-ketawa meledek. Sementara Fang tak peduli dan hanya berusaha menjauhkan tasnya dari Golem gendut yang terus mengemis bekal Fang.

"Gopal! Kau' kan sudah dibawakan bekal oleh ibumu! Makan itu saja sana!" usir Fang kasar. Gopal si Golem batu kelaparan kecewa sambil melihat bekal dengan roti isi kerikil halus yang sudah membuatnya bosan.

"Nampaknya bekalmu lebih wangi dan lezat dari punyaku... Ayolah, Fang... ijinkan aku mencoba..."

Fang membuang muka sambil terus memeluk bekalnya "Tiiiidak. Ini buatan pengantinku tercinta..."

Ketiga sahabat Fang langsung menaikkan alis mereka "Pengantinmu...? Pengantin 'fiktif'-mu maksudnya...?"

"Apa maksud kalian 'fiktif'...?" mata Fang menatap sebal kepada ketiganya. Yaya, Ying, dan Gopal saling berpandangan.

"Yah... kami semua tak pernah melihat wujud 'pengantin'-mu yang kau gembar-gemborkan itu... Tentu saja kami sulit percaya kenyataannya..."

"Ini... jadi kau beneran punya tunangan...?"

"YA IYALAH!" Fang berteriak kesal sehingga perhatian seluruh teman sekelasnya tertuju pada keempat sahabat yang sedang berdebat.

"Tunanganku yang bernama Boboiboy itu sejak kemarin tinggal bersamaku!" seluruh teman sekelas Fang jadi mengelilingi sang putra werewolf yang berdiri di atas mejanya sambil membusungkan dada.

"Kalau begitu kita ke rumahmu setelah pulang sekolah... Jadi penasaran ingin lihat...", ujar Ying.

"Aku pernah bilang kalau dia dari ras manusia' kan? Pastilah dia sedang tidur kalau kalian datang...", dengus Fang. Teman-temannya kembali memutar mata dengan sinis, tak mempercayai Fang.

"Tak ada bukti, berarti kebohongan besar, Fang...", tutur Yaya sambil menyilangkan kedua tangan "...kau selalu berkoar-koar mengenai tunanganmu sejak kita masih Sekolah Dasar... nyatanya kita tak pernah melihat gadis ini..."

Fang semakin kesal pada teman-teman sekelasnya. Belum lagi pada para penggemar wanitanya yang berada di jendela luar kelas. Mereka berdiri di depan sana hanya untuk melihat Fang dan berharap apa yang dikatakan Fang hanya bohong seperti yang Yaya katakan. Tapi ia tak bisa memaksa Boboiboy untuk bangun di pagi buta hanya untuk membuktikan kata-katanya.

Seperti yang ayah dan ibunya sering pesankan, Fang harus menahan emosinya yang meledak-ledak. Maka hanya itulah yang bisa dilakukan sang werewolf muda. Untung guru segera masuk kelas dan membuat murid-muridnya yang dari berbagai kalangan ras duduk di bangku mereka masing-masing.

"Selamat malam semuanya, wahai para halfter mudaaa...!"

"Selamat malam, profesor Zola..." jawaban lemas tak bergairah selalu menjadi sambutan para siswa kepada guru mereka yang berbadan tambun ditutupi jubah hitam dan baju ketat di dalamnya. Benar-benar penyihir paling nyentrik di akademi Night Gaze.

"Mari kita mulai pelajaran Matematika yang penuh dengan keajaiabaaan...!" penggaris, kapur, dan peralatan menghitung berterbangan di udara. Anak-anak sudah terbiasa melihat atraksi sang guru sebelum mulai pelajaran, dengan mudahnya mengelak dari penggaris maupun busur yang melayang-layang karena sihir sang guru.

"Kalian harus bersemangat setiap malamnya di mana para ras manusia tengah tertidur! Demi keajaibaaaan!"

Yaya, gadis halfter dari ayah manusia dan ibu penyihir, sebenarnya lebih tertarik pada mata pelajaran Ramuan dan Kimia. Meski teman-temannya selalu berusaha bersembunyi di bawah meja sebelum terjadi ledakan karena campuran ramuannya yang tak jelas itu. Bagi sang gadis pintar, Matematika bukan menjadi masalah, hanya guru dengan topeng aneh di wajahnya yang sok-sok misterius itulah yang membuatnya malas. Ying sang gadis vampir Cina tak kalah sebalnya pada sang guru yang bahkan sering memberi soal ngawur luar biasa. Sementara Gopal si Golem rakus asyik curi-curi kesempatan ngemil kue-kue dari tasnya.

Fang yang duduk di paling belakang dan pojok ruang kelas dekat jendela berteralis hitam menopang dagu sambil melihat keluar jendela, berharap ia bisa pulang cepat dan bertemu pujaan hatinya.


TBC...