Cinderella's Morning

Jam berdentang menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah dua jam sejak kepergian Fang ke sekolahnya. Elizabeth tengah menemani Hao membaca-baca di ruang tengah dekat perapian. Hati sang nyonya sebenarnya gelisah menunggu keputusan dewan kependudukan mengenai status Boboiboy. Begitu besar harapan sang nyonya anak asuhnya mendapat ijin legal dan tertulis untuk tinggal di situ bersama Keluarga Lang. Hao mengetahui isi hati istrinya. Ia mengelus lembut tangan Elizabeth agar lebih tenang.

Tiba-tiba wangi teh beraroma mint segar tercium bercampur dengan wangi roti bakar.

Boboiboy mengetuk pelan daun pintu ruang tengah yang terbuka lebar. Elizabeth berdiri mempersilahkan gadis itu masuk. Namun sang nyonya tak mengira akan mendapati Boboiboy mendorong trolley yang menjadi sumber wangi yang ia cium tadi.

Dua cangkir porselen yang telah lama tak dilihat sang nyonya kini bersih berdampingan dengan piring kecil yang menjadi pasangan mereka, lengkap dengan teko berisi teh mint dan gula kotak dalam tempatnya yang mungil. Dua sandwich yang diolesi butter keemasan berisi daging panggang dan sedikit sayur di dalamnya.

"Silakan menikmati... saya menggunakan bahan-bahan yang ada di lemari es... nampak akan kadaluarsa dalam waktu yang tak lama lagi... jadi saya olah agar bisa disantap..."

Elizabeth begitu senang melihat perabotan porselennya dapat ia pakai untuk bersantai. Hao merasa begitu hangat meminum teh buatan Boboiboy, terutama begitu ia memakan sandwich berisi daging.

"Ini enak sekali...! Kau yang membuatnya...?" Elizabeth nyaris tak percaya. Ia yakin rasa yang ada di mulutnya hanya pernah ia rasakan di restoran-restoran mahal yang makanannya selalu dipuji-puji oleh Fang, meski itu hanya roti dengan isi daging dan sayur.

"Saya berusaha tak menggunakan bahan yang tak boleh dikonsumsi ras halfter seperti bawang putih... Untungnya rempah itu memang tak ada di sini... Saya olah dengan rempah yang ada saja di dapur..." sang gadis tersipu mendengar pujian dari kedua haflter dewasa yang begitu menikmati santapan buatannya.

"Mm, tuan... nyonya..."

Hao dan Elizabeth nyaris tersedak mendengar panggilan dari anak asuh mereka "Ah, Boboiboy... kau bisa panggil kami dengan 'ayah' dan 'ibu' kalau kau mau..."

Tapi diamnya sang gadis dengan raut wajah bimbang menjadi pertimbangan bagi sang tuan dan nyonya. Mereka khawatir Boboiboy belum siap dan kurang nyaman memanggil mereka dengan panggilan tersebut. Bagi gadis yang telah kehilangan orang tuanya sejak lama, bukan hal mudah untuk menganggap orang lain menjadi kedua orang tuanya...

Hao tersenyum kecil "Kau boleh panggil kami sesukamu..."

Boboiboy kembali tersenyum, "Tuan, Nyonya... bolehkah saya meminta ijin...?" Boboiboy memainkan ujung celemek dengan jemarinya malu-malu. Elizabeth memandang gadis di depannya dengan antusias. Ia sangat senang kalau bisa memberikan sesuatu pada Boboiboy "Apa itu, sayang? Katakan saja!"

"Mmm, loteng di atas... bolehkah saya bersihkan? Saya juga lihat ada beberapa gulung kain besar... bolehkah saya meminta sedikit bahan untuk saya jahit...?"

Hao dan Elizabeth berpandangan "Sayang... kau akan lelah membersihkan loteng yang luas di atas itu... tapi kalau kau menginginkannya kami tentu tak melarangmu... Dan soal kain... apakah bajumu kurang...? Kami bisa belikan lagi...!"

Boboiboy menggelengkan kepalanya buru-buru "Ti, tidak! Justru saya amat sangat menyukai baju-baju yang anda berikan pada saya...! Baju-baju tersebut begitu indah...! Namun saya tak sampai hati mengotorinya... jadi, saya pikir akan sangat menyenangkan memiliki baju khusus untuk bekerja..."

Elizabeth agak bingung mendengar 'baju khusus untuk bekerja' dari Boboiboy, tapi karena gadis tersebut nampak begitu antusias ingin melakukan sesuatu dengan kain yang ia lihat di loteng, Elizabeth memberikan semua kain yang ada pada Boboiboy. Bahkan loteng di atas ia percayakan pada gadis yang begitu gembira mendengar kepercayaan sang nyonya padanya.

"Tapi jangan kau kerjakan hari ini ya, sayang... kau nampak begitu lelah... Besok saja jika kau sudah merasa lebih segar..." Elizabeth mengelus pipi dan kepala sang gadis yang mulai mengantuk karena lelah itu. Meski ia sudah tidur cukup lama, nampaknya sehari itu benar-benar melelahkan jiwanya. Maka sang gadis pamit pada kedua halfter dewasa untuk tidur di mana jam malam itu merupakan jam tidur bagi manusia biasa.


Pukul dua pagi, pintu depan terbuka lebar dengan serigala hitam bermata menyala, mengibas-ngibaskan ekornya dengan semangat.

"AKU PULAAAAAAAAAAAAAANG!"

BLETAKKK!

Dan sang serigala tersebut kini tepar di lantai dengan benjolan di kepala karena sebuah kursi melayang-layang tepat mengenai kepalanya "Jangan berisik, anak bodoh! Ini jam tidur Boboiboy!"

"Apa!? Dia tidur? Aaah... padahal aku ingin sekali bertemu dengannya..." Fang mengubah wujudnya kembali menjadi seorang remaja lengkap dengan telinga serigala lancip yang menekuk kecewa dengan galaunya jongkok sambil membuat lingkaran kecil dengan jari telunjuk di lantai.

Elizabeth menghela napas panjang sambil berkacak pinggang melihat anaknya kecewa menemukan gadis idamannya sudah tidur. Tentu saja mereka akan sulit bertemu karena jam istirahat para manusia dan halfter sungguh berbeda.

"Tadi Boboiboy membuatkan kami teh mint dan sandwich... rasanya enak sekali...!" Elizabeth berusaha mengganti topik agar anaknya kembali semangat. Kuping Fang langsung menegak dan ekornya kembali terkibas kencang "Ya! Bekal sandwich buatan Boboiboy enak sekali! Aku tak menyangka ia sungguh pandai memasak...!"

Hao menaruh telunjuk di depan bibirnya sambil tersenyum meminta Fang memelankan suaranya. Sang anak nyengir lebar menuruti ayahnya sambil berjalan menuju ke kamarnya di lantai dua. Sebenarnya ia begitu berharap bisa bertemu dengan Boboiboy, tapi tak sampai hati ia membangunkan tuan putrinya yang kelelahan itu.

Perlahan, Fang membuka pintu kamar Boboiboy, menemukan ruangan yang gelap dengan tirai tertutup. Boboiboy tengah tertidur penuh damai karena lelah. Fang tersenyum sambil berlutut di samping tempat tidur Boboiboy tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Wajah manis dan cantik sang gadis menghipnotis putra werewolf untuk terus memandanginya.

Dengan hati-hati Fang mengelus pipi Boboiboy dengan lembut. Namun pandangannya kini tertuju pada sebuah foto dengan bingkai kayu berwarna gelap di atas meja samping tempat tidur Boboiboy terbaring. Foto sang tuan putri pada usia di mana pertama kali mereka bertemu, dengan kedua orang tua dan kakeknya yang pada saat itu masih hidup.

Fang terdiam. Ia bersumpah akan membuat Boboiboy bahagia bersamanya. Ia berjanji dengan mengucapkan dalam jiwa sanubarinya yang terdalam. Bibir Fang mengecup lembut bibir putri tidurnya yang terlelap damai.

"Pengantinku yang manis... aku, Fang Lang... akan menjadi takdirmu dan membahagiakanmu... aku bersumpah..."

Sungguh pemandangan damai gadis yang tengah tertidur lelap di pembaringannya membuat Fang tak bergerak dan terpaku padanya sambil duduk di samping bantal Boboiboy. Tangannya lembut menggenggam tangan Boboiboy, yang tak disangka membalas genggaman Fang, membuat sang tuan muda tersenyum.

Hao berdiri dalam diam memperhatikan anaknya di dekat daun pintu kamar Boboiboy yang dibiarkan terbuka sedikit oleh Fang. Beliau memasuki ruangan gelap tersebut tanpa suara. Fang baru menyadari keberadaan ayahnya begitu sebuah tepukan di pundaknya terasa.

"Fang... ada yang ingin kami bicarakan denganmu... soal Boboiboy..."

Fang menuruti ayahnya dengan perlahan beranjak berdiri. Namun genggaman tangan Boboiboy justru menahannya. Bagai tak ingin melepas sang tuan muda, Boboiboy tanpa sadar mengeratkan genggaman dalam tidurnya yang lelap.

Fang tersenyum kecil dan hati-hati melepaskan genggaman tersebut sambil mengecup kening sang gadis "I Love You, my bride..."


Di ruang tengah, di mana ketiga anggota Keluarga Lang berkumpul, membicarakan apa yang telah terjadi pada Boboiboy ketika mengunjungi rumah lamanya tidak setenang yang dibayangkan.

Fang begitu marah pada lintah darat yang telah berbuat kurang ajar pada gadis kesayangannya. Ia sudah bersiap akan berhambur menuju pintu depan dalam wujud serigalanya. Namun sang ayah menenangkan anaknya.

"Fang... Kalau kau mengamuk dan menghabisi manusia hina itu, tak hanya kau yang mendapat masalah... kami, orang tuamu juga... dan kau bisa bayangkan betapa sedihnya Boboiboy mendapatimu mendapat hukuman lagi... Dia terus menganggap dirinyalah yang membuatmu terkena hukuman..."

Fang langsung terdiam mendengar nama Boboiboy disebut ayahnya. Perlahan wujud serigalanya kembali menjadi remaja labil yang masih belum bisa mengontrol emosinya, "Dia... menganggap dirinya penyebab aku dihukum...?"

Hao mengangguk kecil. Kini Fang merasa begitu bersalah. Padahal apa yang ia lakukan adalah keinginannya sendiri untuk melindungi Boboiboy. Sama sekali bukan karena Boboiboy dirinya dihukum...

Elizabeth mendekati anaknya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada "Gadis itu amat sangat memikirkan orang lain... Ia berjanji akan membayar hutang-hutang kakeknya dan benar-benar ia lakukan... Dan setelah ayahmu menggantikan gadis itu membayar hutang, ia berkata akan menggantinya juga... Aku jadi berpikir kalau ia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh..."

Fang mengerutkan kening "Aku tak mengerti apa maksud ibu..."

Elizabeth kembali duduk di sofa depan perapian yang menyala "Bagi Boboiboy, janji ada segalanya... Ia sungguh-sungguh akan melakukan apa yang telah ia katakan... Aku khawatir ia akan melakukan apapun untuk mengganti uang yang ayahmu berikan pada lintah darat brengsek itu..."

"Berapa jumlah uang yang kau berikan pada babi itu, Ayah?"

"Dua puluh juta kalau tak salah..."

"Hah? Cuma segitu? Kecil lah itu..."

"Fang... kau lupa? Boboiboy mencari uang satu juta saja sudah mati-matian... Baginya satu sen saja amat sangat berharga... Ia bukan kau, anak manja yang selalu mengeluh pada hal-hal kecil dan tak bisa mengendalikan emosi..." sindiran sang ibu hanya dibalas dengusan sebal dari Fang.

"Lalu... soal status Boboiboy...?" lanjut Fang mengalihkan pembicaraan. Hao dan Elizabeth saling memandang dan menghela napas "Kita hanya bisa menunggu keputusan dewan kependudukan dan kementrian... Tak ada yang bisa kita lakukan lagi..."

Fang merebahkan tubuhnya pada sofa di samping ibunya. Ia tak percaya masih ada kesulitan yang harus dihadapi Boboiboy.


Boboiboy membuka matanya perlahan. Udara dingin membuat gadis itu ingin sekali mengeratkan selimut lebih lama di atas tempat tidurnya yang empuk. Tapi begitu ia teringat akan sesuatu yang berada di lemarinya tergantung, sang gadis langsung melompat dengan semangat dari pembaringan mengenakan sandal empuk hangat di samping tempat tidurnya dan melangkah cepat menuju lemari. Menemukan serenteng kunci-kunci pemberian Elizabeth tergantung dengan aman di balik pintu lemari pakaiannya.

Senyum penuh semangat menghias wajah manis sang gadis. Boboiboy buru-buru mengganti gaun tidurnya dengan pakaian yang lebih pantas untuk bekerja membersihkan loteng. Sempatkan diri ia membuka tirai kamarnya agar cahaya menerangi.

Tak peduli lagi dingin menusuk kulit hingga ke tulang, rasa hangat dalam hatinya lebih mendominasi semangat sang gadis yang perlahan membuka pintunya dan menutup kembali dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara mengganggu para halfter yang sedang beristirahat di kamar mereka masing-masing.

Nyaris terlupa, Boboiboy melihat dapur tua gelap di bagian paling belakang kastil juga butuh dibersihkan. Maka ia menyingsingkan lengan baju, mulai mengeluarkan segala macam benda yang ada di dapur tua di halaman belakang. Menjejer mereka agar rapi terlihat dan mudah dibersihkan.

Tak disangka ada kekuatan besar dari gadis kecil tersebut. Segala benda telah ia keluarkan dan meninggalkan dapur tua kosong yang gelap dan kotor. Kain tua yang menutupi jendela ditariknya hingga membiarkan cahaya matahari masuk menyinari debu-debu keemasan yang beterbangan. Dibukanya jendela agar udara segar masuk.

"Oh, astaga... ternyata pemandangan halaman sungguh indah jika terlihat dari sini..."

Kabut yang menghalangi pemandangan mulai menipis, memperlihatkan pemandangan taman bunga di halaman belakang meski masih sebagian besar tertutupi kabut.

Sarang laba-laba sudah menghias sapu dan alat-alat pembersih. Tanpa peduli, gadis tersebut mengambil segala macam alat pembersih yang ada. Dimulai dengan menyapu langit-langit dengan sapu bertangkai panjang yang ia temukan di belakang, barulah ia menyapu lantai yang lengket dengan debu.

Lemari, meja, tiang-tiang penyangga, tembok batu, tungku, hingga cerobong asap semua ia bersihkan. Baru kemudian lantai batu yang tak disangka Boboiboy memiliki warna tanah yang begitu indah. Begitu ruang dapur menjadi bersih dan terang, barulah ia membersihkan segala perabotan yang ia tinggal di halaman belakang kastil. Semua ia bersihkan hingga sisi terkecil sekalipun. Toples-toples dan peralatan masak hingga kuali-kuali serta panci besar dicucinya bersih. Peralatan yang terbuat dari kayu, batu, tanah liat, hingga kaca dan keramik kini berjejer rapi, bersih di tempat masing-masing dalam dapur.

Rempah-rempah dan bahan makanan yang bertumpuk tak rapi dalam lemari es di dapur modern akhirnya dipindahkan Boboiboy dalam toples-toples besar dan tempat penyimpanan makanan yang erat di dapur antik kesayangannya. Ia pisahkan makanan yang sanggup awet lama di luar pendingin, mana yang akan kadaluarsa, mana yang butuh suhu tertentu, dan mana yang bisa disimpan dalam lemari.

Kini kedua dapur tersebut terlihat lebih rapi, terlebih dapur tua yang nampak lebih manis dan hangat. Bagai melihat dapur tua antik dalam dongeng-dongeng, Boboiboy puas melihat hasilnya. Bahkan kini para burung-burung kecil tak enggan mampir di pinggir jendela bernyanyi menyapa sang Cinderella berambut pendek yang tersenyum pada mereka. Boboiboy tak sanggup menahan senyum.

"Selamat pagi... Aku penghuni baru di sini..." Kicau para burung seakan menjawab perkenalan gadis yang dipenuhi imajinasi dalam benaknya.

Tak sadar hari telah menjelang siang. Boboiboy mencoba memasak di dapur antik tersebut untuk pertama kalinya. Memasak di tungku dan kompor antik, memotong bahan makanan di atas meja kayu yang beralaskan lempengan batu untuk memotong. Bahan-bahan makanan ia ambil secukupnya. Gelas, mangkuk, piring dan segala perabotan yang terbuat dari kayu tak rusak meski termakan usia membuat Boboiboy kagum dan tanpa segan menggunakannya.

Sudah begitu lama tak ada asap dengan wangi masakan mengepul muncul dari cerobong asap dapur kastil.

Pemakaian tungku manual bukan hal sulit bagi sang gadis yang terbiasa menggunakan segala macam jenis alat masak. Dari lain tempat ke tempat lainnya ia telah lalui demi mencari uang. Pengalaman yang didapatnya begitu banyak dan membuatnya terlatih. Nyaris segala macam restoran dan rumah makan ia pernah lalui pengalaman bekerja, membuat pengetahuan memasak sang gadis begitu luas.

Sup krim kentang dengan roti sisa yang akan kadaluarsa sebelum tanggalnya ternyata terasa begitu nikmat dimakannya setelah melakukan bersih-bersih. Sang gadis duduk di tangga pintu dapur menghadap ke halaman kastil di mana kabut telah menipis, memperlihatkan pemandangan indah taman yang tak begitu terawat. Banyak bunga liar dengan warna mereka yang cantik, serta dedaunan yang jatuh mengotori halaman. Namun beberapa hewan yang bersarang di pohon besar di halaman kini tertarik pada gadis yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Apalagi wangi masakan Boboiboy membuat perut kecil mereka keroncongan. Dua ekor tupai malu-malu mengintip dari balik sarang mereka di pohon. Turun dengan lincahnya dan dengan kegesitan gerakan mereka, membuat Boboiboy gemas. Perlahan keduanya mendekati sang gadis yang sedang menikmati makan siang yang sekaligus sarapannya "Tak apa... kemarilah... ini untuk kalian..."

Senyuman manis Boboiboy membuat kedua tupai lincah pemalu tersebut perlahan mendekat dan menerima potongan roti dari tangan Boboiboy yang terjulur ramah menawarkan sebagian makan siangnya. Burung-burung kecil memakan remah-remah roti yang berjatuhan. Tak disangka Boboiboy, kastil megah dan nampak sedikit menakutkan ternyata memiliki sisi manis di baliknya.


Begitu selesai makan siang, kembali Boboiboy memanfaatkan waktunya menuju ke loteng perlahan. Ia tak ingin membangunkan penghuni kastil dan berusaha setenang mungkin membuka pintu loteng yang tua.

Di loteng atas, semua nampak sama seperti apa yang ia lihat ketika pertama kali masuk bersama Elizabeth mencari celemek. Bahkan dari ruangan gelap tersebut ia tak bisa mengenali pagi atau malam. Kain tebal usang yang menutupi jendela tak mentolerir cahaya matahari untuk masuk.

Dan kain itulah yang pertama kali Boboiboy turunkan dari tempatnya. Cahaya matahari memasuki ruangan tanpa ampun, menyinari segala barang yang ada di dalam loteng kotor tersebut dan debu beterbangan begitu kain usang tersebut terjatuh ke lantai membuat Boboiboy terbatuk dan bersin. Namun kini Boboiboy bisa melihat jelas segala benda antik yang luar biasa menakjubkan penuh keajaiban baginya.

Lemari yang berdiri kokoh menyimpan gaun-gaun mungil Elizabeth ketika kecil, ada mesin jahit tua yang masih sangat bagus dan Boboiboy mulai berpikir ia bisa menggunakannya. Sama seperti sebelumnya, ia membuka jendela membiarkan udara dan cahaya memasuki lebih banyak dalam ruangan yang pengap tersebut.

Di depan pintu loteng hingga anak tangga, Boboiboy perlahan menaruh segala barang-barang yang ada di dalam, mengeluarkan dan menyusunnya dengan perlahan dan hati-hati tanpa kecerobohan.

Dari langit-langit hingga lantai dan bagian dalam lemari ia bersihkan, dioleskan bahan kimia anti rayap dan pengilat kayu agar segala perabotan di loteng tetap terawat.

Tanpa sadar, pekerjaan gadis tersebut memakan waktu hingga sore dan malam nyaris berkunjung.


Malam membangunkan Fang dengan penuh keluh kesah. Ia menggerutu begitu wekernya berbunyi memaksanya bangun.

Setelah pemuda tersebut bersiap dalam seragam sekolah dengan rapi, Fang berjalan gontai menuju ruang makan. Ia masih memikirkan status Boboiboy yang masih harus diperjuangkan. Begitu besar harapannya untuk bisa tinggal bersama selamanya. Jika status Boboiboy tak bisa diperjuangkan, gadis itu bisa saja dipaksa kementrian untuk kembali ke negerinya karena tak bisa memiliki ijin kependudukan.

"Ah, Boboiboy...!" mengingat nama sang gadis langsung membuatnya bersemangat. Kaki Fang melangkah penuh energi menuju ruang makan mendapati kedua orang tuanya tengah duduk di bangku mereka masing-masing belum menyentuh masakan yang tersedia wangi di meja makan.

"Waw! Wangi sekali! Ini pasti Boboiboy yang masak! Mana dia?" Fang celingukan hendak mengejar pujaan hatinya di dapur tapi dihentikan sang ibu yang memberikan sebuah surat di tangannya.

.

Tuan, Nyonya, dan Tuan Muda...

Maaf saya tidak bisa menyambut anda semua bangun di malam hari ini. Ijinkan saya beristirahat lebih awal.

Saya telah membuatkan sup kentang dengan daging setengah matang juga pasta dan roti dengan keju leleh sebagai sarapan. Semoga masakan saya cocok dengan selera anda.

Saya sudah membersihkan dapur tua dan loteng. Ijinkan saya untuk memasak di dapur yang cantik tersebut untuk selanjutnya.

Terima kasih tak terhingga dari saya,

Boboiboy

.

Bersama kedua orang tuanya, Fang turut penasaran dengan dapur tua kotor yang kini menjadi begitu bersih, indah, serta hangat. Tak henti-hentinya ketiga halfter tersebut takjub akan hasil kerja Boboiboy di dapur tersebut. Jendela dapur hanya ditutupi kain sebagai pengganti tirai usang yang sudah dilepas oleh Boboiboy.

Segala bahan makanan dan alat masak tertata rapi pada tempatnya. Bahkan jelaga pada panci besar yang tergantung di tungku telah hilang tergosok licin.

Ketiganya melanjutkan perjalanan mereka menuju loteng dan kembali menemukan ruang yang begitu bersih serta indah. Mainan-mainan masa kecil Fang tertata rapi pada sebuah lemari bersama dengan beberapa pajangan yang tadinya hanya tergeletak bagai sampah di loteng. Kain besar menutupi jendela besar sebagai pengganti kain usang yang sudah sobek-sobek sebelumnya agar jendela tetap terlindungi.

Buku-buku yang berjejer dalam rak kini begitu rapi dan tak berdebu lagi. Semua disusun sang gadis dengan teliti. Kursi goyang tak terpakai yang masih kuat, kini berdiri mendampingi lampu baca yang juga sudah dibersihkan Boboiboy dari debu dan mengganti kap-nya dengan kain baru.

Hao melihat foto-foto tua milik keluarga mereka terpajang manis di dinding dan meja serta pinggir lemari. Begitu piawai sang gadis menata ruangan.

Elizabeth menyadari loteng tersebut disihir Boboiboy menjadi ruang santai sekaligus ruang jahit dengan segala benda-benda yang ada di dalamnya.

Sebelum Fang terus mengagumi hasil kerja keras Boboiboy, Elizabeth melihat jam tua di atas meja yang ternyata masih berfungsi dan diganti baterainya oleh Boboiboy. Jam tersebut menunjukkan Fang harus bergegas sarapan untuk pergi ke sekolah.

Tentu saja ketiganya kembali dikejutkan oleh rasa masakan hasil karya gadis yang kini tinggal bersama mereka. Fang yang biasanya selalu mengomel soal rasa kini diam tenang dan makan dengan lahap. Itulah rasa makanan yang begitu disukainya, yang begitu lezat terasa di lidahnya yang pemilih. Bahkan di samping piring Fang terletak sebuah kotak dengan bungkusan kain seperti kotak yang sebelumnya Boboiboy berikan pada Fang sebagai bekal. Tanpa basa-basi Fang langsung menyambarnya dan memasukkan bekal tersebut dalam tas.

"Aku berangkat! Kalau Boboiboy sudah bangun pada saat kalian belum tidur, sampaikan padanya aku sangat berterima kasih atas masakannya...!"

Dengan begitu melesatlah sang werewolf muda yang setiap harinya dimabuk cinta oleh gadis pekerja keras yang kini tertidur lelap karena lelah.


TBC...