I Missed You...


Pagi, seperti hari sebelumnya, Boboiboy kembali bangun penuh semangat. Ia membuka jendela dan mengganti bajunya. Namun ada hal yang berbeda di depan pintu kamar sang gadis.

Sebuah trolley dengan mawar segar dan daging setengah matang serta sup sayur, jus tomat dan secarik kertas berwarna biru elegan. Tulisan tangan yang begitu indah tertulis bahwa surat tersebut untuk Boboiboy.

.

Boboiboy sayang

Terima kasih tak terhingga kau membuat dapur dan loteng menjadi sungguh indah dan menawan! Kami nyaris tak mengenali dapur dan loteng rumah kami sendiri...!

Ini sarapan buatanku, maaf kalau tidak selezat buatanmu yah... Fang sungguh senang dan memuji-muji semua masakanmu...

Jangan buat dirimu lelah, sayang... Kau boleh ke manapun kau suka! Dan ini ada uang saku untukmu. Belanjalah barang-barang yang kau inginkan! Kumohon terima uang ini. Kapan-kapan akan kuajak kau ke pasar di desa kecil di bawah bukit. Di sana banyak fasilitas untuk halfter dan aku yakin kau akan menyukai tempat itu...

Cium sayang,

Elizabeth dan Hao

.

Boboiboy justru menjadi lebih bersemangat mengetahui keluarga tersebut menyukai apa yang telah dikerjakannya. Setelah makan dengan lahap untuk mengisi energi, sang gadis kembali melanjutkan apa yang harus ia kerjakan hari itu.

Semua pakaian di loteng serta kain dan karpet dicucinya di halaman. Untung sudah ada mesin cuci sehingga pekerjaan Boboiboy menjadi lebih mudah dan cepat. Kain yang menutupi jendela loteng dan dapur ditariknya kembali.

Mesin jahit tua yang ternyata masih sangat bagus di loteng membutuhkan sedikit pembersihan dan perawatan dengan minyak. Boboiboy membuka gulungan kain besar berbahan indah yang diijinkan Elizabeth boleh dipakai Boboiboy sesukanya, dan mulai mengukur-ukur lalu menjahitnya. Kini jendela loteng dan dapur memiliki tirai indah yang menggantung tertiup angin dengan lembut.

Karpet yang telah dicuci, digelar di halaman belakang agar cepat kering. Begitu pula dengan semua baju yang telah dicuci bersih, kini berada di dalam keranjang, siap dijemur pada tali jemuran.

Tupai-tupai yang menjadi teman Boboiboy kemarin kini kembali tertarik pada gadis yang asyik bekerja di halaman. Bahkan burung-burung berkicau dan bertengger di pohon-pohon dekat jemuran menyapa gadis yang tak ada lelahnya bekerja.

Wangi masakan kembali menjadi pusat perhatian para hewan tersebut. sambil menikmati makan siang, Boboiboy tak segan berbagi dengan teman-teman barunya.

Begitu segala cucian kering dan tergantung serta terlipat rapi pada tempatnya, Boboiboy memulai kembali pekerjaannya dari lantai bawah hingga atas. Sapu, kemoceng, kain pel, bahan kimia pembersih, ember berisi air menjadi sahabat menemani pekerjaannya.

Tentu saja pada malam berikutnya para anggota Keluarga Lang kembali dikejutkan menemukan kastil mereka menjadi bersih berkilau. Bahkan Hao tak tega menginjak lantai yang telah di pel bersih. Elizabeth nyaris menangis terharu "Aku... aku sudah lama memimpikan punya anak perempuan yang rajin seperti ini..." Hao tak komentar apa-apa melihat Fang tersindir bagai tertancap-tancap pedang selama Elizabeth memuji-muji hasil kerja keras Boboiboy.

Fang sendiri, merasa kecewa karena Boboiboy kembali berpamitan melalui surat untuk tidur cepat "Kapan aku bisa bertemu dengannya lagi kalau begini teruuuuus?" raung sang werewolf dan berakhir dengan jitakan dari ibunda karena suaranya bisa membangunkan Boboiboy.


Pagi berikutnya, Boboiboy justru merasa semua pekerjaan tak sebanyak yang ia duga. Kini ia hanya berdiri di tengah lorong yang telah ia bersihkan. Tak ada lagi yang bisa membuatnya sibuk, sementara sang gadis ingin sekali mengerjakan sesuatu.

Langkah kecilnya sedikit menggema di tangga menuju loteng. Dibukanya tirai jendela hingga menerangi loteng yang telah bersih dan rapi. Bahkan bagai ruang baca kecil untuk sang gadis sejak ia menemukan ketertarikan pada buku-buku yang tersusun rapi dalam rak-rak yang berdiri menghimpit tembok. Namun kini Boboiboy hanya terduduk di bangku mesin jahit. Matanya mencari-cari apa yang bisa ia lakukan lagi.

"Mungkin ada yang bisa kurapihkan di lemari..." kakinya beranjak menuju lemari dan membukanya. Semua sudah tertata rapi dan tak perlu lagi ia rapikan. Namun ada kain hitam yang tergulung bersama bahan kain-kain lain yang telah ia gunakan untuk membuat tirai terhimpit, membuat kain hitam tersebut agak kusut.

Perlahan Boboiboy mengeluarkan gulungan kain hitam tersebut. Nyaris saja gulungan besar itu terjatuh dan menimbulkan suara gaduh kalau tidak ditahan Boboiboy.

Sambil berusaha mendorong gulungan kain masuk ke dalam lemari lagi agar tak terhimpit, mata Boboiboy tertuju pada cermin besar di pojok ruangan yang merefleksikan dirinya. Refleksi dirinya dengan baju yang telah lusuh dan kotor. Boboiboy menyadari bahwa ia tak memiliki banyak baju untuk bekerja, sedangkan ia tak bisa muncul di hadapan Hao dan Elizabeth serta Fang dengan baju seperti demikian ketika bekerja. Namun baju-baju yang diberi Elizabeth terlalu indah untuk dipakai bekerja.

Matanya kembali menatap gulungan kain hitam yang bersandar di lemari. Sebuah senyuman muncul menandakan ada ide muncul di benak sang gadis.

Ia mengukur-ukur tubuhnya sendiri dan mulai membuat pola pada kain, mengguntingnya, dan menjahitnya. Matanya menunjukkan betapa semangat sang gadis membuat sebuah seragam untuk dirinya sendiri.

Usai menyelesaikan baju yang diperuntukkan dirinya sendiri, Boboiboy kembali ke kamarnya dan beristirahat, berharap bisa menanyakan pada Elizabeth apakah ada yang bisa dilakukan lagi untuk membantu keluarga yang begitu baik padanya itu.


Malam hari terasa begitu dingin seperti biasa, namun bukan berarti Fang diijinkan membolos oleh ibunya. Tapi, begitu Fang mengeratkan jas seragam sekolahnya sambil berjalan menuruni tangga dari lantai dua, ia mendapati kedua orang tuanya tengah kedatangan tamu.

Para tamu yang Fang kenal sebagai para petinggi kementrian dan dewan organisasi.

"Ada apa ini?" hardik Fang tiba-tiba. Elizabeth langsung menegur Fang agar lebih sopan. Tapi keenam tamu yang hadir di situ sudah terbiasa dan maklum pada sikap Fang. Mereka menyapanya dengan akrab agar sang tuan muda tidak menjadi lebih tegang "Selamat malam, Fang... hendak ke sekolah?"

"Tak usah basa-basi... Kalian di sini akan membahas mengenai Boboiboy, bukan?"

"Fang!" teguran keras ibunya sama sekali tak membuat Fang patuh. Ia justru menjadi lebih tajam menatap keenam orang tua di hadapannya. Hao segera menepuk pundak Fang dan memintanya untuk segera bersiap ke sekolah "Sudahlah, Fang... biar kami yang..."

"Aku tak akan ke sekolah sampai masalah ini benar-benar selesai! Kalian tahu benar kalau Boboiboy yang telah menyelamatkanku beberapa tahun lalu! Bahkan kalian juga tahu bahwa dia nyaris kehilangan nyawanya karena lintah darat brengsek itu!" nada suara Fang meninggi sehingga menimbulkan gema di lorong dan membangunkan Boboiboy yang terlelap di kamarnya.

Sang gadis panik ketika menyadari ia belum menyiapkan makan begitu melihat jam di samping tempat tidurnya. Setelah mengenakan seragam yang dibuatnya sendiri, ia segera bergegas menuju dapur. Tapi begitu melewati tangga, ia menyadari ada beberapa tamu di ruang tengah. Maka dengan perlahan dan berusaha tak mengganggu, Boboiboy menuju dapur tanpa diketahui siapapun dengan mengendap di pinggir tembok dan baru mempercepat langkahnya begitu sampai di lorong yang jauh dari pintu ruang tengah.

"Apakah tak ada toleransi bagi Boboiboy!? Kalau kalian ingin menyalahkan seseorang, ini semua salahku! Aku yang telah kabur bermain ke dunia ras manusia! Aku yang membuat Boboiboy menyelamatkanku ketika nyaris terlindas mobil! Aku yang menghajar manusia babi itu! Aku yang meminta ibuku membagi darahnya! Aku yang...!"

"Fang... sudahlah... duduk dulu..." dengan tenang, sang ayah menepuk pundak Fang yang mulai naik temperamennya. Fang membanting tubuhnya pada sofa dengan dengusan kesal.

Salah satu dari tamu yang datang adalah tetua yang menjaga 'Gerbang Kabut'. Ia berdehem membuat semua orang teralih perhatian padanya "Aku... juga menginginkan Boboiboy untuk tinggal di sini..."

Fang nampak kaget, namun lega ada yang membelanya.

"Aku tahu kehidupan gadis itu sejak para Keluarga Lang terus menjenguknya... dan peristiwa kemarin, membuatku tak bisa tak memikirkan anak itu... Aku mohon pada para dewan untuk mempertimbangkan status anak itu..."

"Tapi... anak itu tak memiliki ras yang jelas... kami semua kebingungan bagaimana mencatatnya dalam kependudukan..." seorang dari mereka mendesah. Seperti membuat Kartu Tanda Penduduk yang harus jelas kategori dan datanya, bahkan halfter atau manusia juga harus mencantumkan ras mereka. Sayang, Boboiboy kini dalam jembatan tipis di antara dua ras yang membingungkan.

Fang mulai sebal dan merasa segalanya sia-sia jika terus diperdebatkan.

Tiba-tiba terdengar suara derit trolley begitu pelan dari daun pintu, dan kini semua orang melihat sosok gadis yang tengah mereka permasalahkan. Tapi pandangan Elizabeth dan Hao menunjukkan ekspresi terkejut ketika melihat busana yang dikenakan Boboiboy.

Seragam seorang maid.

Lengkap dengan celemek putih manis pemberian Elizabeth, dengan seragam hitam terusan di baliknya membalut tubuh sang gadis dengan sopan. Sepatu hitam Mary Jane dan stocking putih pemberian Elizabeth juga dikenakan Boboiboy, membuat gadis tersebut benar-benar bagai seorang pelayan rumah tangga yang mungil.

Fang tak kalah terkejutnya. Hatinya bercampur aduk. Ia senang melihat sosok mungil cantik yang begitu menarik perhatiannya. Tapi... maid!? Pelayan!? Dirinya tak terima Boboiboy tinggal dan bekerja di kastil tersebut sebagai pelayan.

"Bo, Boboiboy...? Seragam itu...?" tanya Elizabeth kebingungan.

"Ah, saya yang membuatnya sendiri... saya tak bisa bekerja dengan pakaian yang begitu indah yang anda berikan pada saya... Saya juga tak bisa menggunakan pakaian lusuh untuk bertemu anda... Maka saya membuat seragam ini sendiri tadi pagi dari bahan yang anda berikan pada saya... A, apa... saya tak boleh...?" hati Boboiboy mulai resah. Ia takut membuat Elizabeth marah. Namun sang nyonya menggeleng dengan cepat dan langsung memeluknya.

"Bukan itu, sayang... tapi... kau jadi nampak seperti seorang pelayan... Kau adalah anggota keluarga kami... Bukan pekerja di sini..."

"Ta, tapi..." Boboiboy yang merasa begitu banyak berhutang justru kebingungan mendengar kata-kata Elizabeth. Ia ingin sekali bekerja di kastil tersebut, menggantikan seluruh kebaikan keluarga tersebut.

Tiba-tiba mata Boboiboy tertuju pada seorang yang begitu dikenalnya berdiri di antara para tamu. Senyum yang membuat keriput-keriput sang tetua penjaga gerbang terlihat jelas dengan hangatnya menyapa gadis tersebut. Tanpa sadar Boboiboy berlari kecil menuju sang tetua yang membuka kedua tangannya siap menerima pelukan sang gadis.

"Tetua...!" Pelukan erat Boboiboy membuat tetua penjaga gerbang tak sanggup menahan kekeh tawanya. Ia begitu menyayangi gadis polos yang membuat semua orang di ruangan tersebut terkejut karena keberaniannya memeluk seorang tetua senior pemerintahan. Termasuk Fang yang membuka mulutnya lebar tanpa sadar.

"Ohohoh... Kau terlihat cantik dengan seragammu ini... Kau membuatnya sendiri? Sungguh hebat...!" puji sang tetua sambil mengelus kepala Boboiboy. Wajah mungil sang gadis merona dengan senyuman menghias. Ia berputar sambil mengangkat sedikit ujung roknya agar tetua bisa melihat keseluruhan seragam tersebut "Celemek putih manis ini dari Nyonya Elizabeth...! Aku senang sekali memakainya...!"

Fang tak percaya melihat gadis kecil tersebut begitu akrab tertawa-tawa dengan tetua penjaga gerbang yang tak diketahui Boboiboy merupakan salah satu senior pemegang jabatan tertinggi dalam pemerintahan organisasi. Fang melirik pada orang tuanya yang hanya mengangkat bahu dengan senyum di wajah mereka.

"Boboiboy... Kau senang di sini?" tanya tetua dan dijawab anggukan cepat dari sang gadis. Ia menceritakan betapa baiknya sang tuan, nyonya dan tuan muda Keluarga Lang, betapa indahnya kastil yang ia tempati, betapa ajaibnya dunia baru itu. Sang tetua duduk di sebuah sofa mendengarkan dengan bahagia di wajahnya "Nampaknya kau benar-benar menyayangi keluarga Lang..."

Boboiboy mengangguk dengan senyum lebar, membuat Elizabeth senang mendengarnya.

"Oh, astaga! Di mana sopan santun saya...! Maaf! Saya membawakan teh serta kue untuk anda semua..." buru-buru sang gadis menuangkan teh dan memberikan kue yang ia buat sore tadi dari bahan sisa.

Tentu saja Fang begitu semangat memakan kue buatan gadis pujaannya. Dan para dewan memuji keahlian masak Boboiboy, termasuk sang tetua yang kini menyeruput tehnya.

"Sudah lama aku tak memakan kue seenak ini..." mata orang tua tersebut kembali memandangi Boboiboy, "Kau... sebegitu inginnya bekerja di sini...?"

Elizabeth hendak memotong. Ia tak rela gadis kesayangannya bekerja di kastil keluarganya itu sementara sang nyonya menganggap Boboiboy sudah sebagai anaknya sendiri, namun Hao menghentikan, ingin mendengar jawaban dari Boboiboy sendiri.

"Saya... begitu bahagia bisa bertemu dengan Tuan dan Nyonya... mereka telah menyelamatkan hidup saya berkali-kali... dan saya ingin sekali membalas budi kebaikan mereka..." kini mata Boboiboy menyorot memohon pada sang nyonya "Kumohon... ijinkan aku bekerja... Aku ingin sekali mengganti segala apa yang telah anda lakukan pada saya... Saya tak bisa hidup penuh kesenangan di sini sementara saya tak mengerjakan apa-apa..."

Hao dan Elizabeth tak bisa berkata apa-apa lagi. Hati sang gadis kecil begitu besar namun keras. Keduanya hanya bisa saling berpandangan.

Tanpa disadari suami-istri tersebut, sang tetua tersenyum lalu memandang satu per satu para dewan yang lain. Mereka hanya bisa menjawab pandangan sang tetua dengan helaan napas dan anggukan.

"Boboiboy... kau tahu mengenai status ras-mu, kan?" anggukan kecil menjawab pertanyaan sang tetua.

"Sebenarnya, kami masih memperdebatkan dirimu... Karena kau telah mengetahui tentang dunia para halfter ini, sementara kau bukan berasal dari ras manusia yang memiliki hubungan atau kontak langsung dengan lingkungan halfter, bahkan tidak memiliki keluarga lagi. Keluarga Lang juga bukan merupakan pengasuh resmimu, karena sebenarnya mereka sendiri tak memiliki hubungan darah ataupun garis keluarga denganmu... Tapi mereka bersikeras ingin membuatmu tinggal bersama mereka... Dan melalui pemeriksaan medis, kau adalah manusia dengan darah vampir dalam dirimu... namun tak ada kemampuan vampir... Maka, kami akan mencatatmu sebagai ras manusia... namun jika seiring berjalannya waktu tubuhmu mengalami perubahan... Periksakanlah lagi dan kami akan memperbarui status ras-mu... Bagaimana?"

"Apa itu artinya Boboiboy bisa tinggal di sini!?" suara Fang mendahului keterkejutan Boboiboy yang mendengar keputusan sang tetua. Anggukan dari para dewan membuat Fang langsung memeluk Boboiboy sambil mengibaskan ekornya. Tentu saja Boboiboy menjerit panik dengan wajah semerah tomat.

Kembali, vas kristal yang kokoh melayang dan mampir di kepala Fang dengan teganya karena kekuatan Elizabeth. Sementara Fang tergelepar di lantai, Elizabeth memeluk bahagia gadis kesayangannya itu. Hao hanya bisa memijit jidat sambil meminta maaf atas perlakuan anak dan istrinya kepada para dewan yang sudah biasa melihat pemandangan 'akrab' ibu dan anak tersebut.


Para dewan berpamitan pulang. Sang tetua menyempatkan diri mengelus kepala Boboiboy yang telah dianggap cucunya sendiri. Tanpa diduga ternyata Boboiboy telah menyiapkan sebungkus kue-kue untuk sang tetua agar bisa berbagi dengan para tetua yang lain. Tentu saja sang orang tua tersebut tertawa senang menerimanya "Akan kusampaikan salammu pada yang lain..."

Begitu para dewan memasuki kereta kuda yang diparkir di depan gerbang, seekor pegasus mulai mengepakkan sayap-sayapnya dengan anggun dan melesat menarik kereta yang berisi penumpang terbang menghilang di angkasa.

Elizabeth menyadari sesuatu begitu Hao menutup pintu depan "Fang... kau tak sekolah? Sudah jam berapa ini!?"

Fang kembali memeluk-meluk Boboiboy yang hendak membereskan cangkir dan piring di ruang tengah "Kumohoooon! Ijinkan aku membolos sekali iniiii saja...!" Tentu saja Boboiboy tak bisa melakukan apa-apa selain kebingungan dengan wajah merah dalam pelukan sang werewolf berparas tampan tersebut.

"Hhh, kau ini..."

Hao menepuk pundak istrinya sambil memperlihatkan senyuman di wajah "Sudahlah... biarkan dia membolos sehari ini saja..."

Tentu saja Fang girang mendengar keputusan ayahnya. Elizabeth menghela napas menuruti kata-kata suaminya.


Akhirnya Boboiboy dapat membereskan cangkir serta piring di ruang tengah dengan gangguan dari Fang yang terus-terusan mengekor. Tak hentinya sang tuan muda mencari perhatian gadis pujaannya. Boboiboy yang pemalu hanya bisa menjawab segala macam pertanyaan dengan kata-kata yang singkat sambil menyembunyikan wajahnya. Ia mulai panik jika Fang mendekatkan wajahnya pada sang gadis. Bahkan ketika menyiapkan sarapan, Fang terus mengintil sambil mengendus wangi makanan yang disiapkan Boboiboy di meja makan, sampai akhirnya Elizabeth mengancam akan melempar kursi karena merasa anaknya begitu mengganggu.

Hao duduk tanpa mempedulikan perdebatan ibu-anak sebelum sarapan yang menjadi rutinitas. Sementara Boboiboy mulai panik karena Fang dan ibunya sama sekali tak terlihat akan berhenti berdebat "Tak apa, Boboiboy... duduklah dan makan bersama kami..."

Fang menikmati masakan yang begitu lezat di mulutnya sambil terus memandangi Boboiboy yang duduk di sebelahnya "Kau hebat sekali bisa membersihkan loteng dan dapur menjadi bersih dan indah... aku sudah lihat tirai baru yang kau jahit! Cantik sekali...!"

"Te, terima kasih, tuan muda..."

Sup di mulut Fang nyaris menyembur ketika ia mendengar panggilan dari Boboiboy "Tu, Tuan muda...? Panggil saja aku 'Fang'!" paksanya, namun Boboiboy menggigit bibir bawahnya tanpa menjawab.

"Kau' kan tunanganku...! Pengantinku...! Jangan panggil aku seperti itu lagi...!" Fang menggenggam kedua bahu Boboiboy yang kini ketakutan. Hao langsung meminta Fang berhenti dan menyadari gadis tersebut takut padanya. Fang perlahan melepaskan genggamannya dengan desahan.

Boboiboy bisa mengenali nada desahan Fang. Ia begitu kecewa.

Kecewa pada sang gadis.


Begitu selesai makan, Boboiboy mencuci segala peralatan makan dan menaruhnya pada keranjang agar kering. Ketika berbalik, ia menemukan Fang tengah berdiri di bibir pintu dapur. Boboiboy tahu Fang masih kecewa atas sikapnya yang tak terlalu ramah pada sang tuan muda. Tapi gadis itu berusaha untuk tetap menjaga statusnya sebagai penghuni baru.

"Ikut aku..." perintah Fang yang singkat membuat Boboiboy takut tak bisa menatap remaja yang berjalan di depannya. Ia hanya menurut mengikuti ke mana Fang pergi, yang ternyata tujuannya adalah kamar sang tuan muda.

Boboiboy ketakutan dan khawatir apa yang hendak dilakukan Fang. Yang ia tahu, Fang kurang bisa mengontrol nafsunya.

"Jangan khawatir... masuklah..." Boboiboy kembali menurut dengan ragu. Apalagi begitu masuk kamar Fang yang remang, empunya kamar menutup pintu kemudian dan meminta Boboiboy duduk di atas karpet tebal depan perapian.

Sambil melipat roknya pada kaki dengan sopan, Boboiboy duduk dengan takut-takut melakukan perintah Fang. Entah apa yang akan dilakukan Fang padanya di kamar sang tuan muda.

Tak disangka Boboiboy, Fang mengubah dirinya menjadi serigala jejadian persis seperti ayahnya. Hanya saja ukuran tubuh Fang tak sebesar sang ayah. Perlahan, tubuh penuh bulu hitam tersebut berbaring di samping Boboiboy dan menaruh kepalanya di pangkuan sang gadis.

"Kau... takut padaku...?" suara Fang terdengar begitu dalam bagi remaja seusianya. Boboiboy tak tahu harus menjawab apa, namun ia menggeleng kecil "Bukan begitu... saya hanya..."

"Tolong jangan gunakan bahasa yang resmi ketika kau bicara denganku... Dan panggil aku dengan nama..." kalimat Fang yang memotong membuat Boboiboy terdiam dan kemudian melanjutkannya sesuai perintah sang tuan muda "Aku hanya... tak begitu mengenalmu... Fang..."

Fang tertegun. Kepalanya terangkat dan menatap wajah mungil Boboiboy "Tak mengenalku...?"

"...Aku menyadari... kau serta tuan dan nyonya begitu mengenalku... sejak kalian terus mengawasi diriku sejak kecil... Aku baru menyadari itu semua ketika mengingat suara nyonya yang selalu mengantarku tidur dan tuan dalam wujud serigalanya yang mengawasiku dari jauh... Tapi... aku tak pernah mengenal kalian... Aku tak tahu harus bersikap bagaimana... sementara, aku tak ingin membuat siapapun kecewa karena diriku..."

Fang baru menyadari, bahwa selama ini dirinya dan kedua orang tuanyalah yang amat sangat begitu mengenal Boboiboy. Sementara sang gadis sama sekali tak mengetahui keberadaan mereka di sekelilingnya. Ketika ketiga anggota Keluarga Lang tersebut begitu menginginkan dan merindukan diri Boboiboy, sang gadis bahkan tak memikirkan adanya orang lain yang begitu menyayanginya segenap jiwa raga mereka.

Fang begitu berasa bersalah mengingat wajah ketakutan Boboiboy. Ia kembali membaringkan kepalanya pada pangkuan Boboiboy. Sang gadis tak tahu harus berbuat apa, namun tangannya seraya mengelus lembut kepala sang serigala muda di pangkuannya.

Boboiboy bagai bermimpi dalam keadaan sadar. Ia mengelus kepala hingga punggung Fang yang dipenuhi bulu hitam yang tak disangka terasa lembut di sentuhan sang gadis pujaan. Fang memejamkan mata menikmati sentuhan yang begitu ia rindukan bertahun-tahun. Fang mulai merasakan sedikit kegelisahan dalam dirinya. Gelisah bahwa gadis tersebut perlahan akan menolaknya.

Dalam kegelisahan Fang, entah apa yang membuat Boboiboy kemudian perlahan membaringkan kepalanya di atas kepala Fang dengan begitu lembut. Tentu saja Fang terpukau akan hangatnya pelukan tuan putri yang senantiasa dirindukannya itu.

"Maafkan aku... Fang..."

Suara kecil yang terdengar begitu penuh kesedihan membuat Fang tak sanggup menjawab apapun yang keluar dari bibir Boboiboy.

Fang tahu jelas Boboiboy tak bersalah sama sekali. Bahkan Fang sadar karena dirinya sendirilah yang tak sanggup menahan hasratnya kini berujung menjadi penyesalan yang seharusnya tak terjadi dalam diri Boboiboy.

Perlahan Fang mengangkat kepalanya membuat Boboiboy melepaskan pelukannya dan menegakkan tubuhnya juga. Fang terdiam menatap gadis di sampingnya. Kedua mata mereka bertemu. Boboiboy bagai melihat bola kaca dengan pemandangan malam yang magis di dalam menatap dirinya.

Perlahan tubuh Fang dikelilingi debu kristal berkilauan yang mengubah kembali wujudnya menjadi manusia dengan telinga serigala memahkotai. Tatapan keduanya tak lepas, justru kening keduanya kini saling menyentuh.

Boboiboy merasa ia tengah terhipnotis oleh sang werewolf di hadapannya. Perlahan kelopak mata sang gadis menutup, merasakan hangat napas dari hidung dan mulut Fang, serta api perapian di kamar Fang yang menyala.

Entah apa yang terjadi, namun Boboiboy perlahan melihat sesuatu sementara matanya masih terpejam.

Ia melihat dirinya. Dirinya yang masih kecil. Tertawa, menangis, ketika dirinya bersama kedua orang tuanya, bersama sang kakek...

Fang kecil tengah memperhatikannya dari jauh. Dengan senyuman dan rindu yang terlukiskan di wajah.

Seperti menonton film yang diputar ulang mengenai kisah hidup keduanya, dari masa lalu, hingga perlahan keduanya beranjak dewasa...

Anehnya, seiring kisah tersebut terus berjalan, rasa rindu yang begitu besar dalam diri Fang bagai mempengaruhi diri Boboiboy.

Tatapan rindu werewolf muda yang begitu sedih ketika tak bisa memeluk maupun menghibur pujaannya yang bersedih, senyumnya yang cerah ketika melihat pujaan hatinya bahagia, kemarahannya yang berujung pada melindungi tanpa sepengetahuan sang gadis ketika pujaannya dalam keadaan berbahaya, tangan-tangan usilnya yang turut bergerak membantu tanpa sepengetahuan pujaannya...

Pemandangan-pemandangan bagai film yang diputar semakin cepat melintas dan mempengaruhi kerinduan Fang pada Boboiboy. Semakin cepat hingga akhirnya Fang tersentak dan membuka matanya menjauh dari wajah Boboiboy.

Jantungnya berdegup kencang, tak sanggup menahan kerinduannya lebih dari seharusnya. Fang menggelengkan kepala dengan peluh mengalir di kening. Ia takut telah mengejutkan gadis di hadapannya, "Ma, maafkan aku, Boboiboy... tadi aku..."

Kaget bukan kepalang, Fang melihat Boboiboy menangis. Air mata mengalir deras di wajah polos gadis yang tak mengalihkan pandangannya dari sang werewolf.

"Boboiboy!? Kenapa kau...!?" Buru-buru Fang menghapus air mata di pipi Boboiboy dengan jemarinya yang menyentuh pipi gadis pujaannya. Namun isak tangis sang gadis tak berhenti. Ia semakin menunduk membuat Fang semakin panik.

"Boboiboy...! Ssh... tenanglah... apa yang...?"

Tak diduga Fang, Boboiboy memeluk erat dirinya. Napas Fang tertahan. Seharusnya ia bahagia, namun isak tangis Boboiboy membuatnya khawatir.

"Ma, maafkan aku...! Aku... tak tahu perasaan rindumu sebesar itu... Aku... aku..."

Fang belum bisa mengucapkan apapun. Tangannya hanya bisa mengelus lembut punggung dan rambut sang gadis, berharap ia menghentikan tangisannya yang memilukan hati. Tapi dalam hatinya Fang bertanya-tanya... apa yang telah terjadi pada Boboiboy.

Suara ketukan halus di pintu sedikit mengejutkan Fang. Namun Fang lega melihat wajah ibunya muncul dari balik daun pintu kamarnya yang terbuka. Tentu saja Elizabeth terkejut melihat Boboiboy yang menangis sambil memeluk Fang.

"Ada apa ini? Boboiboy? Apa yang terjadi? Fang, jelaskan...!" Elizabeth langsung berhambur mendekati keduanya dan memeluk Boboiboy dalam pelukannya sambil menatap Fang dengan wajah penuh pertanyaan.

"A, aku tak tahu... aku..." Fang menggelengkan kepalanya. Ia sendiri bingung harus menjelaskan apa.

"A, aku... aku melihat diriku... dan Fang... ketika kami masih... hiks, kecil... lalu... entah... hiks, semua itu... membuatku sedih... tiba-tiba... hiks, ada... rasa rindu yang amat sangat..." kata-kata Boboiboy yang terbata karena isak tangisnya semakin membuat Fang dan ibunya keheranan. Hao yang memasuki kamar Fang karena mendengar nada tinggi Elizabeth turut mendengar pengakuan Boboiboy.

"Boboiboy... sayang... kau istirahat di kamarmu dulu, ya...? Nanti aku akan menengokmu setelah berbicara dengan Fang..." bujuk Elizabeth sambil mengantar gadis tersebut berbaring di pembaringannya sendiri.

Kembali pada Fang dan kedua orang tuanya yang kini duduk pada kedua sisi anak mereka di pinggir tempat tidur kamar Fang.

Fang telah menceritakan apa yang telah terjadi sebelumnya. Ketika tiba-tiba ia teringat masa lalunya mengawasi Boboiboy dari jauh, di mana rasa rindu begitu besar terasa hingga mempengaruhi dirinya yang sekarang.

Hao terdiam, namun ia nampak mengerti apa yang terjadi pada Boboiboy "Fang... kau adalah keturunan werewolf... namun kau memiliki kemampuan vampir bercampur dalam dirimu meski tidak dominan yang berasal dari ibumu... Kau pasti tahu kemampuan vampir dalam menghipnotis' kan?"

Fang mengangguk kecil.

"Kau mengingat seluruh masa lalumu dengan rasa rindu yang menyelimuti, dan pada saat itu kau tengah berhadapan dengan orang yang kau pikirkan, yang sedang berada dalam benak dan ingatanmu, bahkan kalian melakukan kontak fisik dengan menempelkan kening kalian... sehingga perasaan rindumu yang besar padanya itu turut mempengaruhi ke dalam jiwa Boboiboy... Gadis itu kini memiliki kerinduan yang sama denganmu..."

Elizabeth dan Fang berpandangan. Fang sama sekali tak tahu ia memiliki kemampuan demikian yang diturunkan ibundanya.

"Kau harus hati-hati, Fang... Terutama jika menyangkut masalah perasaan yang ada dalam dirimu... Jangan sampai orang bisa menebak apa yang kau rasakan... Terlebih kau belum bisa mengontrol emosi... Ini adalah kondisi yang amat sangat mudah dibaca oleh lawan jika kau berhadapan dengan orang yang berniat buruk padamu..."

Fang hanya bisa diam mendengar penjelasan sang ayah. Kini ia mengerti betapa pentingnya menjaga emosi dalam dirinya. Dan Boboiboylah korbannya.

Dari milyaran bahkan trilyunan makhluk yang ada di dunia, hanya satu orang yang tak pernah Fang inginkan melihat air mata sedih mengalir dari wajahnya...

"... Maafkan aku, Boboiboy..."


TBC...