Lust and Distance

WARNING! Ada adegan R+15. Bagi yang merasa belum siap membaca adegan demikian, dimohon jangan meneruskan atas kesadaran masing-masing. Terima kasih.


Jam dinding berbunyi dengan irama yang teratur. Cahaya matahari di luar tak sampai menyinari kamar Fang yang terlindungi tirai tebal. Gelapnya kamar tersebut membuat yang empunya dengan tenang terlelap.

Pagi hari di mana seharusnya menjadi jam istirahat bagi Fang, justru membuatnya terbangun karena suara ketukan lembut di pintu.

Tak pernah ada yang mengetuk kamar Fang kecuali orang tuanya benar-benar menganggap suatu hal yang darurat dan Fang harus tahu. Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi. Sambil mengusap matanya, Fang mengambil kacamata di atas meja samping tempat tidur dan turun dari pembaringan, membukakan pintu, menyambut seseorang yang mengetuk pintunya...

"Boboiboy...?"

Sedikit menunduk, gadis berpakaian maid tersebut menggigit bawah bibirnya malu-malu dengan rona di wajahnya.

Fang yang sempat terdiam karena terkejut akhirnya menggelengkan kepalanya cepat dan tersadar dari lamunan pagi hari, melihat bidadari tersayangnya membangunkan istirahat sang werewolf.

"Ah, ma, masuklah...," Fang kembali menutup pintu dan hendak membalik tubuhnya menghadap Boboiboy. Namun bahkan ketika baru saja daun pintu tertutup, Fang merasakan pelukan di pinggang dari balik punggungnya.

"Fang..."

Fang terkejut bukan main, membelalakkan matanya tanpa bisa membalik tubuh karena dipeluk begitu erat oleh sang pujaan hati. Tanpa memandang, ia tahu Boboiboy tengah merona merah.

"Bo, Boboiboy...!?"

"Aku... merindukanmu..."

Dalam hati, Fang mengutuk dirinya 'Astaga... ini pasti yang dikatakan ayah semalam... Perasaan rinduku mempengaruhi Boboiboy... Apa yang harus kulakukan..!? Bodoh sekali kau, Fang! Tidak hati-hati menyebabkan Boboiboy menjadi begini!'

"Tu, tunggu dulu, Boboiboy...! Kita tak boleh begini...!" Fang dengan tiba-tiba melepas pelukan Boboiboy dan menghadap pada sang gadis yang wajahnya jelas terlihat begitu merindukan dirinya. Rasa rindu Fang yang tak terbendung telah tertular pada Boboiboy. Dan Fang menemukan dirinya mati-matian menjaga nafsu dari gadis suci polos tak berdosa tersebut.

"Ti, tidak bisa... Aku... sungguh menginginkan dirimu, Fang..." Boboiboy kembali memeluk Fang dan membenamkan wajahnya pada dada bidang sang werewolf yang nampak di balik piyama dengan beberapa kancing yang terbuka di bagian atas.

Sungguh Fang ingin sekali menerkam gadis manis tersebut. Jantungnya berdegup tak karuan. Wajahnya memanas hingga membuat tangannya bergetar hebat.

Kini keduanya memiliki rasa rindu yang begitu luar biasa.

Fang membalas pelukan tersebut dengan erat sambil mengelus punggung Boboiboy. Keduanya mendapati hidung mereka saling bersentuhan hingga akhirnya bibir mereka saling menempel erat.

Kelaparan, Fang menjelajahi mulut Boboiboy dengan lidahnya, membuat gadis itu mengerang semakin menarik wajah pasangannya untuk memperdalam ciuman mereka. Fang jelas merasakan dada empuk sang gadis menempel tak ingin lepas dari dada bidangnya.

Ciuman liar keduanya semakin membuat Fang bernafsu pada pujaannya. Kini bibir sang werewolf semakin turun ke leher sembari jemarinya membuka kancing kerah seragam maid yang terbalut rapi pada tubuh Boboiboy.

"Fang... aahhh...," desahan Boboiboy semakin memanjakan telinga Fang seiring ciuman dari sang pemuda yang menggerayangi seluruh tubuh gadis tersebut.

Fang langsung mendorong Boboiboy berbaring di tempat tidurnya, mencium dalam sang gadis tanpa ampun membuatnya semakin mengerang dan mendesah menginginkan dirinya. Boboiboy tak bisa melepas pandangannya dari paras tampan Fang yang kini membuka piyama, meninggalkan celana yang masih ia kenakan menutupi bagian bawah tubuhnya.

Baju yang dikenakan Boboiboy turut terbuka sebagian setelah Fang membuka kancing-kancing yang melindungi baju terusan hitam Boboiboy, memperlihatkan leher hingga setengah dada sang gadis yang begitu menggiurkan. Bibir dan lidah Fang kembali menjelajahi bibir hingga dada sang gadis.

Tangan Boboiboy memeluk erat dan mengelus punggung hingga rambut Fang. Membuat sang werewolf semakin memperdalam ciumannya pada saat bibir Fang menghampiri bibir lembut Boboiboy.

Rasa manis mawar terasa dari mulut Boboiboy ketika Fang memasukkan lidahnya dalam menjelajahi mulut sang gadis untuk kesekian kalinya. Sementara dari tubuh Boboiboy begitu harum semerbak mawar membuat Fang tak sanggup berpikir jernih.

Tangan Fang mulai memasuki dalam rok Boboiboy, mengelus paha halus sang gadis, membuatnya mendesah lembut "Fa, Fang... nnh..."

Suara Boboiboy yang terdengar di telinga lancip Fang mendadak menyadarkan dirinya dan langsung menjauh dengan cepat sambil panik luar biasa. Fang nyaris meneruskan nafsunya pada gadis yang masih polos tersebut "WOAAAAA! SEBENTAR! AKU! TAK! BOLEH! BEGINI!"

Fang dengan cepat menjauhkan diri dari tempat tidurnya, meninggalkan Boboiboy yang berusaha duduk di atas pembaringan.

Ia kembali mengutuk-ngutuk dirinya yang menjadi penyebab Boboiboy bertingkah demikian. Gadis berbusana maid yang kini begitu bernafsu pada sang tuan muda tak mempedulikan bahunya tak terlindungi apapun. Yang ia tahu, rasa rindu dalam diri tak lagi terbendung.

Wajah merah penuh nafsu dengan tatapan sayu dan bibir merah muda merekah yang sedikit terbuka nampak begitu kenyal dikulum... Bagaimana Fang tak ingin menerkam Boboiboy dengan pemandangan seperti itu. Terlebih lagi, seragam maid yang dikenakan sang gadis telah berantakan di tubuh rampingnya karena aktifitas mereka tadi.

"Fang..." Suara Boboiboy yang mendesah membuat Fang semakin panik tak bisa mengontrol diri.

"Fang... apa-apan kau berteriak pagi-pagi begi..."

Mendadak, sang ibunda membuka pintu kamar Fang dan melihat pemandangan yang membuat matanya terbelalak. Mata Elizabeth berpindah dari memandang Boboiboy lalu ke Fang.

"Ng... Ibu... aku bisa jelaskan..."

Namun vas kristal yang melayang ke kepala Fang berkata lain...


Kicau burung pagi hari, bukan hal yang biasa didengar oleh para haflter, yang beristirahat di kala para manusia beraktifitas. Dan kini Hao dan Elizabeth tengah duduk di sofa kantor sang kepala keluarga, berhadapan dengan anak mereka yang duduk... dengan Boboiboy yang memeluk tak mau lepas dari tangan Fang.

Bukannya Fang tak senang mendapati gadis pujaannya memeluk erat sambil mengelus pipinya pada lengan sang pemuda dengan wajah bahagia... tapi pandangan tak mengenakkan dari kedua orang tua Fang yang membuat sang werewolf muda begitu tertekan. Terlebih sang ibunda yang jelas-jelas siap melempar anaknya sendiri keluar jendela dari lantai tiga tanpa ampun.

Hao mencondongkan tubuhnya sambil menatap anaknya tajam "Fang, kau... memang sengaja menularkan rasa rindumu pada Boboiboy agar ia seperti ini... atau bagaimana?"

"TIDAK! SUNGGUH! AKU TAK SENGAJA! AKU TAK TAHU KALAU AKAN JADI SEPERTI INI!" Fang semakin panik. Ia tak pernah bermaksud menularkan kerinduannya, bahkan tahu akan kekuatannya seperti demikianpun tidak, "Ayah dan ibu sendiri' kan tahu! Kalau aku tidak menyadari memiliki kemampuan seperti ini! Sungguh! Aku tak sengaja!"

Elizabeth memijit keningnya, "Aku tak menyangka reaksi dari hipnotis Fang menjadi begini...," Ia berdiri mendekati Boboiboy dan duduk di samping gadis yang tengah merindu pada sang tuan muda.

"Boboiboy... mari pandang aku sebentar saja...," tutur Elizabeth lembut. Sang gadis menurut sembari perlahan melepaskan pelukan dari lengan Fang. Fang hanya bisa diam melihat apa yang dilakukan ibunya. Tapi Elizabeth hanya diam dan nampak berkonsentrasi menatap dalam mata Boboiboy. Beberapa detik kemudian, Boboiboy mengerjap-ngerjap matanya bingung.

"Bo, Boboiboy...?"

Suara Fang membuatnya menoleh melihat sang tuan muda. Gadis tersebut tampak kebingungan. Ia berpikir sejenak, tengah berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Dan akhirnya wajah Boboiboy memerah tak karuan.

"A, ah...! KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!"

Gadis dengan baju maid tersebut panik berhambur keluar ruangan dan memasuki kamarnya sendiri lalu mengunci diri di dalam. Fang kebingungan melihatnya. Ia memandangi kedua orang tuanya yang tak mengeluarkan suara sedikitpun.

"Ibumu melepas hipnotis yang tak sengaja kau lakukan semalam dari diri Boboiboy... Masalahnya, gadis itu bisa mengingat apa yang telah terjadi di antara kalian berdua..."

Fang terbelalak. Seumur hidupnya, bagi Fang sebuah mimpi terburuk adalah dibenci oleh Boboiboy. Ia sama sekali tak pernah bermaksud buruk pada gadis kesayangannya. Kini ia mengejar Boboiboy lalu menggedor-gedor pintu yang terkunci, berharap sang gadis mau memperlihatkan wujudnya lagi.

"Bo! BOBOIBOY! KUMOHON MAAFKAN AKU! AKU TAK BERMAKSUD SEPERTI DEMIKIAN!"

Tak ada jawaban. Fang semakin panik.

"BOBOIBOY! KUMOHON JAWABLAH!"

"Pe, pergilah...! Saya tak bisa menampakkan diri saya di hadapan anda lagi! Saya sungguh tak tahu bagaimana bisa saya telah bertingkah demikian pada anda...! Maafkan saya...!" suara Boboiboy yang pelan terdengar ada nada penuh penyesalan dan terisak-isak.

Fang bagai terhujani pedang belati. Ia sungguh membenci dirinya kini. Tak pernah ada maksud buruk untuk menyentuh gadis polos itu dengan nafsu yang tak terbendung. Namun semuanya terlambat. Cara bicara yang begitu resmi dari Boboiboy bagai menunjukkan perbedaan status mereka yang begitu besar. Fang sungguh membencinya.

"Kumohon... maafkan aku... Ini salahku...," Fang menyandarkan keningnya pada pintu kamar Boboiboy. Kakinya lemas mendengar kalimat sedih dan isak tangis Boboiboy yang malu pada dirinya.

"Aku... kerinduanku padamu sungguh tak terbendung hingga mempengaruhi dirimu kemarin malam... Aku bahkan tak tahu ada kemampuan seperti ini dalam diriku... aku... Kumohon, Boboiboy... jangan membenciku..."

Tak ada suara yang terdengar dari balik daun pintu yang masih terkunci. Fang sungguh berharap ia bisa mendobrak pintu tersebut, tapi hal itu justru akan memperparah keadaan. Kini Fang semakin putus asa.

"Saya tak membenci anda..."

Telinga Fang menegak membuat tubuhnya turut tegap berdiri, mendengar suara yang terdengar begitu pelan dari balik pintu.

"Sa... Saya hanya... saya mohon, berikan saya waktu untuk sendiri... saya sungguh malu untuk bertemu anda saat ini... Ma, maafkan s, saya..."

Kalimat yang diucapkan Boboiboy dengan nada bergetar membuat Fang lega setengah mati, namun ia tetap merasakan kesedihan tak bisa menatap Boboiboy untuk beberapa saat entah sampai kapan.

Hao dan Elizabeth melihat pemandangan kekecewaan anak mereka dari daun pintu kantor Hao. Elizabeth hanya diam dan merasa Fang pantas mendapatkan hal tersebut sebagai ganjaran dan sebagai pelajaran untuk Fang bahwa ia harus mengendalikan emosinya. Sambil menggandeng lengan Hao, sang nyonya mengajaknya untuk kembali ke pembaringan, melanjutkan istirahat mereka. Membiarkan Fang terduduk lemas di depan pintu kamar Boboiboy.

Sungguh malu luar biasa sang gadis yang kini bersembunyi di balik selimut tebalnya di atas ranjang. Air mata mengalir tak bisa ia hentikan.

Boboiboy masih bisa mengingat wajah Fang yang tampan tepat di depannya, menciumnya, bahkan merasakan sentuhan, ciuman, dan jilatan Fang di sekujur tubuhnya.

Napas Boboiboy tak terkontrol. Ia langsung menuju pintu kamar mandi yang berada di dalam kamarnya sendiri. Membuka kenop pintu tanpa bisa mengontrol getaran tangannya. Seragam maid yang dikenakannya ia taruh di keranjang pakaian dekat pintu kamar mandi. Begitu air hangat dari shower mengalir deras, sang gadis membiarkan dirinya basah dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Sungguh malu dirinya...

Sungguh merasa kotor dirinya...

Dirinya merasa tak pantas telah melakukan hal demikian bersama sang tuan muda...

Dirinya merasa ternodai oleh rasa malu yang luar biasa...

Dan kenyataan Fang yang menyentuh sekujur tubuhnya...

Tanpa bisa membendung lagi, isak tangis berubah menjadi raungan sedih dari mulutnya. Kaki-kaki mungilnya tak sanggup menahan gemetar tubuhnya yang kini terduduk lemas dalam bak di bawah shower. Air yang mengalir dalam bak mandi membawa kesedihan dan emosi sang gadis yang begitu malu pada dirinya sendiri ke lubang pembuangan air.

Tanpa sepengetahuan Boboiboy, Fang tengah menegakkan telinganya. Pendengarannya yang begitu tajam sanggup mendengar suara sekecil apapun. Dari balik pintu kamar Boboiboy, ia merasa begitu tersayat mendengar raungan tangis gadis yang masih suci tersebut.

Perasaan bersalah terus menghujaninya tanpa ampun...

Usai membasuh tubuh, Boboiboy keluar dengan handuk tebal di tubuhnya, membuka lemari baju dan mengambil beberapa helai pakaian yang kemudian ia kenakan.

Untuk hari ini, gadis pekerja keras tersebut memutuskan untuk mengistirahatkan diri dan jiwanya di pembaringan, dengan air mata yang masih belum bisa dihentikannya. Ia tak ingin bertemu siapapun.

Terutama sang tuan muda...


Malam tiba, Boboiboy membuka sedikit daun pintu kamarnya, berharap Fang tak lagi ada di depan pintu menghadangnya. Yakin tak ada siapapun di lorong, sang gadis keluar perlahan.

"Boboiboy..."

Suara lembut Elizabeth mengejutkan Boboiboy. Namun gadis itu hanya bisa menunduk dalam tak berani menatap wajah keibuan sang nyonya. Elizabeth menjadi sedih melihat gadis itu nampak begitu bersalah. Sentuhan dan pelukan hangat mampir pada tubuh mungil sang gadis.

"Tak perlu merasa malu atau bersalah, sayang... Itu bukan salahmu...," Elizabeth mengelus punggung Boboiboy ketika gadis kecil tersebut kembali terisak di pelukan sang vampir.

Elizabeth mengeluarkan setangkai mawar dari balik lengan gaunnya yang lebar dan memberikannya pada Boboiboy "Makanlah... rasa manis mawar akan menenangkanmu, sayang..."

Elizabeth sungguh tersayat melihat wajah sedih Boboiboy. Perlahan, Elizabeth menyuapi sebuah kelopak mawar ke bibir Boboiboy, membiarkan gadis itu mengunyahnya pelan.

"Ma, maafkan saya, nyonya... Sa, saya tak bermaksud..."

"Ssshhh... Boboiboy... Kami tahu itu bukan datang dari dirimu dan bukan salahmu... Tak perlu kau bersedih begini..."

Setelah agak tenang sedikit, Boboiboy berpamitan menuju dapur. Ia ingin menyiapkan sarapan untuk keluarga di kastil itu, sebelum Fang yang masih bersiap untuk sekolah keluar dari kamarnya.

Sementara Fang buru-buru membasuh dirinya dan berpakaian, berharap bisa bertemu Boboiboy ketika ia keluar kamar. Begitu membuka pintu, tanpa peduli menutup daun pintunya kembali, Fang melesat ke ruang makan, menemui kedua orang tuanya tengah menikmati sarapan buatan Boboiboy di meja makan dengan tenang. Fang terdiam, terutama ketika ia melihat kotak bekal di samping piringnya. Terdiam agak lama, Fang memutuskan untuk mencari Boboiboy di kamarnya, tapi...

"Kalau kau terus mengejarnya, ia akan semakin lari darimu, Fang..." suara dingin sang ibu menghentikan langkah Fang.

Dengan berat hati, sang pemuda duduk dengan kedua orang tuanya menikmati sarapan yang terasa begitu hambar dalam mulutnya. Bukan karena rasa dari masakan yang tersaji, tapi karena suasana hati Fang yang amat sangat buruk.

Sungguh, ia ingin sekali menemui Boboiboy sebelum berangkat, namun sang ayah setuju dengan kata-kata Elizabeth. Fang terpaksa berangkat sekolah dengan hatinya yang gelap seperti langit malam itu.


Boboiboy keluar kamarnya setelah melihat jam, tahu bahwa Fang sudah pergi ke sekolah. Suasana kastil yang begitu sepi di malam hari membuat Boboiboy tak bisa melupakan perasaan bersalahnya pada Fang. Ia berusaha terus menghindari sang tuan muda.

Piring-piring di ruang makan telah dicuci bersih dan dijemur pada keranjang di samping bak cuci. Boboiboy kembali menuju kamarnya hendak mengunci dirinya lagi. Berharap tak bertemu Fang setelah ia pulang sekolah nanti.

Namun sebelum memasuki kamarnya, Boboiboy menemukan Elizabeth tengah berdiri di depan pintu kamar Boboiboy dengan bunga-bunga mawar yang begitu indah di tangannya. Senyuman di wajah sang nyonya sama sekali tak membuat gadis yang masih bersedih itu membaik. Ia justru mempertanyakan kenapa Elizabeth di situ.

"Boboiboy... Ini bunga mawar yang kupetik dari taman di halaman belakang... Aku berharap hatimu menjadi lebih baik dengan memakannya... Jangan khawatir, duri-durinya sudah kubersihkan..."

Boboiboy menerima bunga mawar yang berjumlah banyak dalam pelukan Elizabeth dengan hati-hati. Elizabeth sungguh sedih melihat Boboiboy tak mau menatap matanya. Perlahan, sang nyonya vampir mengelus lembut kedua pipi Boboiboy dan membuat gadis itu mulai mengangkat wajahnya perlahan.

"Sayang, tak perlu kau terus simpan rasa malu dan perasaan bersalahmu itu... Ini semua salah Fang yang tak sanggup menahan rasa rindunya hingga tertular padamu secara tak terduga... Biar aku lempar sofa ruang tengah ke kepalanya nanti jika ia sudah pulang sekolah, ya..."

Boboiboy tak tahu harus berkata apa melihat wajah Elizabeth yang begitu keibuan dan tutur katanya yang lembut namun begitu mengancam jiwa anaknya sendiri. Hanya tawa ragu yang terdengar pelan dari Boboiboy, namun membuat Elizabeth memasang senyumnya lebih lebar.

"A, ahahah... ta, tak perlu, nyonya... sa, saya rasa itu akan sangat membahayakan jiwa tuan muda..."

"Oh, jangan pikirikan anak bodoh yang tak tahu cara menjaga emosinya itu... Nah, makanlah mawar-mawar itu... kau akan merasa lebih baik..."

Boboiboy menurut dengan berpamitan pada Elizabeth untuk beristirahat di dalam kamarnya sendiri. Sambil duduk di sofa empuk di depan perapian kamarnya, Boboiboy memakan kelopak-kelopak mawar yang terasa manis di mulutnya sambil menenangkan diri dengan teh Jasmine yang disajikan Elizabeth untuknya di kamar.


"Fang...?"

Yang dipanggil tak mengangkat wajahnya...

"Yohooo, Fang..."

Yang dipanggil semakin membenamkan wajah pada tangan yang bersandar di atas meja...

"Fangiefang..."

"JANGAN PANGGIL AKU NAMA ITU!"

Dan pandangan seluruh teman sekelasnya tertuju pada Fang...

"Habisnya... sejak kamu masuk kelas, entah kenapa keadaanmu benar-benar berbeda dari sebelumnya..." desah Ying si vampir Cina, diikuti anggukan dari Yaya si penyihir Timur Tengah.

"Mana semangatmu berkoar-koar tentang pengantinmu ini? Kemarin kau bahkan tak masuk sekolah... Apa yang terjadi sampai kau seperti ini...?" Gopal si Golem India yang asyik mengemut permen batunya.

"Berisik... pergilah..."

Ketiga sahabat Fang mengangkat bahu dan kembali ke bangku mereka masing-masing tepat sebelum sang guru nyentrik masuk kelas memulai pelajaran.

Fang sama sekali tak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran. Di benaknya hanya ada suara-suara isak tangis sang gadis yang merasa begitu bersalah dan malu atas apa yang telah dilakukannya tanpa sadar.

Padahal... semua itu bukan salah Boboiboy.


TBC...