Miracle in The Garden
Pagi berkabut menutupi pandangan daerah perbukitan pinggir London, terasa begitu dingin menusuk tulang tanpa ampun. Semua orang yang keluar mengeratkan jaket dan mantel mereka sambil terus bergerak agar terasa lebih hangat. Napas semua orang nampak berwarna putih jelas di udara.
Boboiboy membuka kunci pintu kamarnya pelan-pelan dan perlahan mengintip, berharap Fang tak ada di depan pintu menghadangnya. Sama sekali tak ada amarah ataupun rasa jijik pada Boboiboy terhadap Fang, hanya rasa malu dan sungkan yang membuatnya enggan bertemu dengan Fang. Terlebih rasa bersalah yang menderu-deru. Sebuah pertanyaan 'bagaimana ia bisa melakukan hal sedemikian rupa dengan sang Tuan Muda Fang Lang' terus membanjiri benaknya.
Tanpa sepengetahuan Boboiboy, Fang sama sekali tak bisa tidur sejak ia pulang sekolah pagi buta tadi. Begitu mendengar suara pintu terbuka dari samping kamarnya, Fang langsung melompat dari tempat tidur dan bergegas menuju pintu. Hanya saja peringatan sang ibunda pada saat sarapan di malam hari justru menghentikan Fang menyentuh gagang pintu untuk membukanya dan menemui Boboiboy. Ia hanya akan memperburuk suasana jika ia meneruskan dirinya memaksa menemui Boboiboy untuk memintanya mendengar permintaan maaf yang sudah berkali-kali diucapkan.
Keduanya membutuhkan waktu untuk bertemu kembali. Terlebih Boboiboy.
Fang uring-uringan dan kembali membanting tubuhnya ke atas kasur. Namun ia merasa sedikit lega karena telah mengambil keputusan untuk tidak membuka daun pintunya setelah mendengar derap langkah sedih kaki-kaki Boboiboy yang sedikit menggema hingga ke telinga lancip dan tajam sang serigala muda. Kesedihan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Fang...
Fang menghela napas begitu panjang.
Ia kembali mengutuk diri sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Menahan dirinya yang bisa saja menangis kapan saja jika mengingat raungan sedih Boboiboy kemarin.
"Kau werewolf terbodoh di dunia, Fang... Bodoh, bodoh, bodoh..."
Dengan seragam maid lengkap, Boboiboy menuruni beberapa anak tangga batu menuju dapur tua, membuka jendela agar udara lembab terganti dengan segarnya udara pagi.
Sedikit mengejutkan, kedua tupai dan beberapa ekor burung tengah bertengger di luar jendela menunggu kemunculan sang gadis, "Oh, astaga... kalian menungguku...? Maaf, kemarin aku tak menyapa kalian... ada... hal lain yang terjadi..."
Salah seekor tupai menengadahkan kepala mungilnya, penasaran dengan sang gadis yang menunduk dalam dengan sedih. Tapi tak lama Boboiboy tertawa kecil karena kedua tupai melompat ke bahu sang gadis dan membuat pipinya geli tergelitik kumis dan bulu mereka. Beberapa ekor burung kecil terbang memasuki dapur dan bertengger pada kayu tiang penyangga di mana Boboiboy menggantung jagung kering di situ.
Dari dalam lemari, Boboiboy mengambil makanan sisa semalam dan memberikan pada teman-teman mungilnya yang menikmati sarapan mereka di dekat jendela. Sungguh pemandangan manis yang membuat sang gadis kembali tersenyum. Setidaknya ada sesuatu yang bisa mengubah suasana hati Boboiboy berbeda dari sebelumnya.
Begitu membuka lemari persediaan makanan, tak diduga sang gadis, tak ada yang bisa ia gunakan untuk memasak nanti malam di situ. Begitu pula dengan kulkas di dapur baru. Barulah ia ingat, dirinya sama sekali belum belanja apapun sejak datang ke kastil tersebut. Sementara ia berusaha menggunakan bahan-bahan makanan yang tanggal kadaluarsanya telah dekat agar bisa lekas dimanfaatkan. Dan kini Boboiboy tersadar semua bahan makanan yang nyaris kadaluarsa itu telah terselamatkan, tetapi tidak ada lagi yang tersisa.
"Bagaimana ini... Aku tak mungkin membangunkan tuan dan nyonya hanya untuk melaporkan hal ini... Oh, bodohnya aku..."
Tak lama, dirinya teringat akan secarik surat yang diberikan Elizabeth ketika ia berterima kasih pada Boboiboy yang telah membersihkan loteng serta dapur. Bersama dengan surat tersebut ada uang dengan jumlah begitu banyak di dalam amplop di samping makanan yang tersaji. Tentu saja Boboiboy tak berani menggunakannya sekaligus, bahkan ia bingung hendak membelanjakan apa.
Berusaha tak mengeluarkan suara, Boboiboy melangkah dengan hati-hati menuju kamarnya, mengambil uang dalam lemari. Dari surat tersebut juga Boboiboy ingat akan ajakan Elizabeth untuk mengunjungi pasar di desa kecil di bawah bukit bersama-sama.
Tanpa mengganti seragam maid dan celemeknya, Boboiboy mengambil scarf lebar yang bisa menyelimuti setengah tubuhnya dan melindungi dari dingin. Gadis itu merasa tak pantas mengenakan pakaian-pakaian yang telah dibelikan Elizabeth dan Hao untuk pergi ke pasar. Sungguh mahal kesemua pakaian tersebut. Tas kecil sebagai tempat dompet berisi uang ia selempangkan pada tubuhnya sebelum mengenakan scarf agar aman.
Dengan segera ia kembali ke dapur untuk berpamitan pada teman-temannya yang menunggu di halaman belakang dan mengambil keranjang untuk ia gunakan membawa belanjaan nanti. Sambil mengunci pintu belakang kastil, Boboiboy tersenyum pada tupai yang mampir di bahunya.
"Aku pergi dulu... kalian baik-baik di sini, ya..."
Bagai mengerti kata-kata sang gadis, kedua tupai tersebut kembali ke sarang mereka di lubang pohon sambil mengintip, memperhatikan kepergian sang gadis dari jauh.
Tak lupa, pintu gerbang depan turut dikunci sebelum ia meninggalkan kastil Keluarga Lang. Begitu kaki-kakinya melangkah turun ke jalan, barulah ia kebingungan arah mana yang harus diambilnya.
Dalam keraguannya, nampak sebuah kereta yang membawa jerami dari kejauhan. Seorang pria paruh baya duduk sambil mengendalikan tali kendali kuda yang berjalan menarik kereta kayu tersebut. Memberanikan diri, Boboiboy melambaikan tangannya agar kereta tersebut berhenti.
Derap langkah mantap kuda yang menarik kereta jerami terhenti tepat di hadapan Boboiboy.
"Maaf... apakah anda tahu jalan mana yang harus saya ambil untuk menuju pasar di dekat desa kecil...?"
Sang pria melepas topinya dengan sopan "Desa kecil...? Maksudmu desa kecil di bawah bukit...? Kau butuh tiga jam jika jalan kaki ke sana, nak..."
Wajah Boboiboy yang begitu mudah dibaca menunjukkan keterkejutannya. Tiga jam. Pasti jauh sekali...
Sang pria terdiam melihat seragam maid di balik scarf tebal yang membalut tubuh Boboiboy "Nak, apa kau orang baru di sini...?" dijawabnya pertanyaan tersebut dengan anggukan "Kau mengenakan baju pelayan... Di mana kau bekerja?"
"Ah, di kastil ini..."
Pria tersebut melihat kastil di samping jalan yang dilaluinya. Kastil besar megah yang berdiri dengan segala kemisteriusannya. Namun dari wajah sang pria, nampaknya ia mengenali kastil tersebut.
"Oh, kau bekerja di kastil Keluarga Lang...!? Aku tak pernah mendengar hal ini..."
"A, apakah anda mengenal Keluarga Lang...?"
Sang pria terkekeh "Semua orang di sini tidak ada yang tak tahu mereka, nak... Naiklah, akan kuantar kau..."
Sungguh bahagia sang gadis yang langsung membungkuk berterima kasih pada pria tersebut. Boboiboy dengan hati-hati menaiki kereta di belakang yang dipenuhi jerami. Jerami-jerami tersebut justru membuat dirinya hangat dan empuk. Sang pria tak bisa menahan senyumnya melihat Boboiboy yang sepertinya baru pertama kali menaiki kereta kuda petani. Ia terlihat begitu senang dan penasaran, terlebih ketika kereta mulai berjalan ditarik kuda yang nampak begitu kuat.
"Siapa namamu, nak?"
"Boboiboy..."
"Sejak kapan kau tinggal dengan Keluarga Lang...?"
"Ng... belum lama... mungkin semingguan..."
"Hooo, kau benar-benar baru di sini... Apakah kau mengetahui bahwa keluarga tersebut dari ras lain?" pertanyaan dengan bahasa yang sopan sang pria dijawab anggukan dari Boboiboy. Dan dibalas kembali dengan senyuman dari sang pria.
"Seperti yang kubilang tadi... di sini tak ada yang tak mengenal Keluarga Lang... Nyaris seluruh desa di sekeliling perbukitan adalah desa tempat para ras manusia dan ras halfter berbaur... Apa kau juga halfter, nak...?"
Boboiboy yang masih bimbang akan rasnya hanya bisa menjawab dengan gelengan, tapi ia mencoba untuk memperjelas, "Se, sebenarnya... saya manusia biasa... namun, Nyonya Elizabeth menolong saya dengan memberikan sedikit darahnya pada diri saya ketika saya dalam keadaan kritis... sehingga saya tak tahu apa ras saya... Tak ada kekuatan vampir dalam diri saya, bahkan saya tak bisa meminum darah... tapi saya juga bukan lagi manusia murni dengan mengalirnya darah nyonya dalam diri saya..."
Sang pria menjadi merasa bersalah membuat gadis yang duduk di belakangnya menunduk dengan wajah sedih. Ia menebak bahwa gadis tersebut merasa berhutang nyawa pada sang nyonya vampir sehingga bekerja di kastil tersebut. Boboiboy berusaha mengubah kembali suasana hatinya dengan mencoba melanjutkan pembicaraan tadi "La, lalu... apakah orang-orang juga tahu bahwa Keluarga Lang adalah ras halfter...?"
"Hohoho, tentu saja...! Tetanggaku dari ras Goblin... ia tak pernah tersenyum namun pekerja keras dan tak segan membantu siapapun yang butuh pertolongan...! Keluarga Lang adalah keluarga bangsawan sejak beratus-ratus tahun lalu... Perbukitan yang kau lihat mengelilingi kita ini adalah daerah kekuasaan keluarga tersebut... Dari yang terlihat hingga yang terhalang hutan dan perbukitan lain... Para penduduk desa yang tinggal di lahan milik Keluarga Lang bekerja untuk Tuan Hao... Aku bekerja untuk Tuan Hao mengurus peternakan dan lahan yang dimilikinya... Berkat keberadaan Keluarga Lang kami bisa menghidupi diri kami di pinggiran London yang sepi dan dingin ini..."
Boboiboy tak pernah menyangka kekayaan Keluarga Lang begitu besar tak terhitung jari. Ia hanya diam mendengarkan penuh rasa takjub.
"Pada ratusan tahun lalu, seorang pria dengan ras werewolf dari Cina datang bersama keluarganya dan membeli lahan kecil di daerah sini... Dengan kerja keras ia mulai memperluas lahan hingga menjadi seorang bangsawan dan menetap di Inggris sini... Namanya semakin dikenal karena jasanya yang telah melindungi para penduduk desa dari serangan halfter liar, serta termasuk salah satu pendiri Organisasi Night Gaze untuk mewujudkan perdamaian seluruh ras..."
Sang gadis terdiam mendengarkan dengan serius. Sang pria tiba-tiba tertawa, "Astaga...! Aku ini bicara apa...? Kau pasti sudah dengar sendiri kisah ini dari Tuan Hao..."
Boboiboy lekas menggeleng "Ti, tidak... Saya belum pernah mendengar hal sedetail ini...! Tolong lanjutkan kisah Keluarga Lang..."
Sang pria terkekeh dan memenuhi permintaan Boboiboy "Baiklah... Ras werewolf dan vampir bukanlah ras yang bisa disatukan karena sifat kedua ras begitu berbeda... Namun Nyonya Elizabeth yang juga merupakan dari keluarga bangsawan para vampir justru menikah dengan Tuan Hao dan membuat terkejut semua orang... Keduanya memang pernah bertemu ketika masih muda, hanya saja tak ada yang bisa menebak bahwa mereka kemudian menikah... Kau bisa bayangkan dua ras yang berbeda dari masing-masing keluarga bangsawan terkenal kaya menikah, luas wilayah yang mereka miliki semakin bertambah... Tapi Tuan Hao bahkan pernah bercerita mengenai istrinya yang ramah itu, bahwa Nyonya Elizabeth tak begitu menyukai dunia bangsawan vampir yang glamour seperti yang terjadi dalam keluarganya... Memang kami sering bertemu sang nyonya yang senang sekali berjalan-jalan di pasar hanya untuk membeli bertangkai-tangkai mawar dari gadis kecil penjual bunga, atau menikmati kue-kue kecil di kedai... Kami begitu menyayangi keluarga ini... Terlebih anak mereka yang berdarah panas...," dalam kalimatnya yang terakhir terdengar gelak tawa lepas dari sang pria, membuat Boboiboy bertanya-tanya.
"Tuan Muda Fang yang tak pernah gagal membuat kedua orang tuanya menghela napas karena ulahnya... Bayangkan saja sang serigala kecil nekat bermain di sungai untuk mencari ikan dan nyaris hanyut, membuat kami para penduduk desa mencari-carinya, ternyata ia justru membuat api unggun sendiri dan memasak ikan hasil tangkapannya di tepi sungai... Lalu berlari-lari menakuti seluruh ternak dengan wujud serigalanya yang masih mungil menyalak-nyalak berlarian di perbukitan membuat Tuan Hao lelah mengejarnya dan membubarkan barisan ternak yang tadinya sudah rapi... Belum lagi ketika ia bermain petak umpet dari sang nyonya di pasar...!"
Boboiboy tertawa geli jika mengingat wujud Fang pada saat mereka pertama kali bertemu dahulu. Wujud anak serigala kecil yang meringkuk ketakutan dalam pelukan Boboiboy.
Fang...
Boboiboy mulai berpikir tak seharusnya ia bersikap demikian pada Fang. Ia tahu Fang tak sengaja menghipnotis dirinya dan menularkan kerinduan yang ada dalam dirinya. Hati sang gadis kini penuh sesal. Ia berharap pintu maaf masih terbuka untuknya dari Fang...
"Ini pertama kalinya kau ke pasar' kah...?" Pertanyaan dari sang pria menyadarkan Boboiboy dari lamunannya.
"Ya... saya tak pernah pergi ke mana-mana sendirian sejak pertama kali datang kemari... Saya tak mau merepotkan nyonya dan tuan... jadi saya mencoba sendiri..."
"Hahahah, kau gadis yang sangat pemberani...! Setiap hari pada jam yang sama aku selalu melewati jalan ini...! Aku bisa mengantarmu ke pasar kapanpun kau mau...!"
"Oh, sungguh!? Terima kasih banyak...!"
Tak terasa keduanya mengobrol banyak sampai tujuan mereka. Boboiboy kembali berterima kasih dan berpamitan menuju pasar di desa yang begitu indah tersebut.
Perasaan sang gadis yang sebelumnya dipenuhi kesedihan kini berubah drastis. Pemandangan indah dan cantik desa tersebut membuat Boboiboy terperangah begitu lama. Kakinya berjalan menuju pasar, mencari segala kebutuhan yang telah dicatatnya dalam secarik kertas.
Pasar mungil yang ramai dan penuh warna natural dengan tenda-tenda di desa tersebut begitu memanjakan suasana hati Boboiboy. Semua yang dibutuhkan gadis pelayan tersebut ada di situ, berjejer rapi dan bersih. Tak pernah ia melihat pasar sebersih itu. Ia mulai mengunjungi satu per satu pedagang yang memiliki barang dagangan yang dibutuhkan Boboiboy. Daging, sayur, rempah, segala bahan makanan yang dibutuhkan dimasukkannya ke keranjang belanja. Dari buku-buku yang dibaca di loteng, Boboiboy menemukan sebuah buku di mana tertulis segala jenis makanan yang diperbolehkan dan dihindari oleh para halfter dengan ras-ras tertentu. Maka dengan mudah ia memilah bahan makanan yang tak bisa dikonsumsi Keluarga Lang.
Pemandangan manis gadis berseragam maid di balik scarf merah lebar tentu menjadi pusat perhatian para penduduk desa yang tak pernah melihat Boboiboy sebelumnya. Tak jarang tiap penjual menanyakan asal dirinya. Boboiboy hanya menjawab bahwa ia baru di situ dan bekerja pada sebuah keluarga yang tinggal di atas bukit. Sejak mendengar kisah Keluarga Lang yang tersohor, Boboiboy tak berani menyebut nama keluarga tersebut dalam perkenalannya.
Tak disangka sang gadis, belanjaannya begitu berat. Dan ia baru ingat bahwa ia sama sekali belum sarapan. Maka Boboiboy memutuskan untuk beristirahat di kedai kecil yang ia lewati.
Begitu memasuki kedai tersebut, nampak wanita paruh baya tengah mengeluarkan roti-roti dari oven tradisional. Wanginya begitu membuat sang gadis lapar. Perlahan Boboiboy menaruh belanjaannya di pojok ruangan dan berjalan menuju meja kedai untuk memesan sesuatu. Namun, belum sampai ia mengeluarkan suara, tiba-tiba segerombolan pria yang tampak terburu-buru memasuki kedai dan langsung memesan makanan.
Begitu banyak pesanan hingga membuat wanita pemilik kedai kewalahan. Boboiboy yang nyaris terhimpit di antara para pria pekerja tersebut berusaha menyingkir dan menemukan dirinya kini berada dekat meja kasir.
"Tolong satu per satu...! Aku tak bisa mengerjakan semuanya sekaligus...!"
Salah satu pelanggan mengeraskan suaranya agar terdengar "Di mana anakmu yang biasa melayani pelanggan?"
"Dia sedang keluar membeli mentega! Ini pesananmu! Hei, jangan dorong-dorong...!"
Boboiboy panik melihat sang wanita paruh baya tersebut kewalahan mengangkat loyang yang luar biasa besar. Serta merta sang gadis menerobos hingga berdiri di balik meja kedai, membantu mengangkat loyang-loyang besar berisi roti yang berjejer "Biar kubantu anda!"
Wanita paruh baya pemilik kedai nampak terkejut dengan kemunculan Boboiboy, namun para pelanggan tidak memberinya kesempatan untuk berpikir, maka ia membiarkan Boboiboy membantunya dengan memotong roti hingga membuatkan kopi panas untuk para pekerja yang ingin sarapan.
Akhirnya keramaian tersebut usai dan membuat kedua perempuan yang berbeda usia jauh itu bisa duduk menikmati istirahat mereka.
"Terima kasih, nak... Kau benar-benar membantuku di saat aku membutuhkan orang...!"
"Ma, maaf saya tadi menerobos begitu saja..."
Sang wanita tertawa lepas "Hahahah! Kalau ada larangan menerobos, pasti tak ada pekerjaan pemadam kebakaran dan tak ada nyawa yang selamat...! Kau benar-benar telah menyelamatkanku, nak...! Ijinkan aku menraktir santapan untukmu sebagai ganti karena kau telah membantu wanita tua ini... Oh, siapa namamu, sayang?"
"Boboiboy..." senyuman hangat menyambut roti dengan daging dan sayur di dalamnya serta susu panas di meja dari sang wanita penuh semangat tersebut.
"Kau seorang maid? Di mana kau bekerja...? Aku tak pernah melihatmu di sini sebelumnya..." wanita tersebut duduk menemani penolongnya sarapan "Saya memang baru di sini... Saya bekerja di rumah sebuah keluarga yang tinggal di atas bukit..."
Tak lama anak dari pemilik kedai pulang dan mendapati ibunya tengah mengobrol akrab dengan seorang pelanggan mungil berseragam maid yang diselimuti scarf merah melindungi kepala dan tubuhnya dari udara dingin. Ibu-anak pemilik kedai tersebut kembali berterima kasih pada Boboiboy ketika ia berpamitan pulang.
Dengan belanjaan di kedua tangannya, Boboiboy kini kembali kebingungan bagaimana ia akan kembali ke kastil Keluarga Lang. Dari ujung jalan perbatasan desa, nampak ada seseorang yang memanggilnya. Ternyata pria baik hati yang telah mengantarnya tadi pagi.
"Boboiboy...! Bagaimana pengalaman pertamamu di desa ini?"
"Sungguh menyenangkan...! Desa ini sungguh cantik dan indah...!"
Sang pria tertawa lepas sambil mengelus rambut gadis manis di hadapannya "Syukurlah! Aku senang mendengarnya...! Ayo, kita kembali... Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku..."
"A, apakah anda menunggu saya tadi...?"
"Tentu saja, aku bertanggung jawab untuk menjagamu... Aku bisa dimarahi Tuan Hao kalau sampai terjadi apa-apa padamu..."
"Oh, terima kasih tak terhingga...! Maaf saya jadi merepotkan anda..." Boboiboy buru-buru meminta maaf, takut telah membuat pria tersebut menunggu dan repot karena dirinya.
"Tidak... tidak... Aku memang harus melakukan beberapa hal yang memang menjadi rutinitasku di sini seperti mengantar jerami dan mengecek penjualan ternak Tuan Hao di pasar... Aku sampai lupa mengabarimu untuk menungguku di dekat kedai saja tadi jika kau selesai belanja...," tawa sang pria mengiringi keduanya berjalan menuju kereta kuda yang diparkir di pingir jalan.
Boboiboy tak menyangka angin segar pagi hari yang ia hirup beraroma jerami membawanya ke sebuah desa kecil penuh kehangatan. Di pasar ia menemukan banyak benda-benda unik serta mengagumkan. Namun Boboiboy tak sempat berjalan-jalan lebih lama dan melihat-lihat lebih banyak. Ia berharap bisa ke pasar tersebut untuk membeli beberapa barang yang diinginkannya.
Sang pria mengantarkan Boboiboy sampai di depan kastil Keluarga Lang. Kedua tupai teman Boboiboy menegakkan telinga dan tubuh mereka dari sarangnya, mendengar suara tapak kuda berhenti di depan kastil. Dengan lincah, keduanya menelusuri pagar dan menemukan Boboiboy membuka gerbang dan dibantu oleh seorang pria membawakan belanjaan-belanjaan sang gadis ke dalam gerbang. Boboiboy melambaikan tangannya pada pria petani yang telah berbaik hati mengantarnya pulang kembali.
Di dapur belakang kastil, Boboiboy menyusun segala bahan makanan pada tempatnya, ditemani dua tupai yang terus penasaran pada apa yang dilakukan gadis tersebut. Sambil tersenyum melihat kedua hewan yang lincah di atas meja dapur, Boboiboy mengistirahatkan kakinya duduk di bangku dekat jendela.
Kabut tebal yang menutupi pemandangan halaman belakang telah menghilang. Dan kini Boboiboy bisa jelas melihat taman belakang kastil. Tak disangka dirinya, taman kastil bagai sudah lama tak disapu. Banyak daun-daun berserakan dan tanaman-tanaman tumbuh dengan subur namun tak terawat.
Dengan inisiatif tinggi, sang gadis kembali berdiri dan berjalan menuju taman belakang ditemani dua ekor tupai yang berlompatan di dekat kakinya. Sebuah pondok kecil di samping tumpukan kayu bakar adalah tempat yang pertama kali dikunjungi Boboiboy. Ia ingat pernah melihat alat-alat bertaman di dalamnya. Ada sapu, penggaruk daun, gunting tanaman, hingga gerobak dorong, bahkan ada celemek khusus bertaman.
"Sepertinya sudah lama sekali tak dipakai... Pasti tuan dan nyonya tak pernah sempat membersihkan taman...," sambil mengganti celemeknya dengan celemek yang ia temukan dalam pondok, Boboiboy menanggalkan celemek putih pemberian Elizabeth di dapur dan kembali ke halaman beserta alat-alat yang ia ambil di pondok.
Dari segala hal-hal yang harus dilakukannya, Boboiboy memulai dengan menyapu dedaunan kering yang jatuh menumpuk di atas rerumputan. Kembali Boboiboy dikejutkan oleh beberapa hal manis, seperti beberapa landak keluar dari balik dedaunan dan bergelinding menuju sarang mereka di bawah pohon tempat para tupai membuat rumah. Ada kelinci-kelinci yang berlompatan karena terkejut dedaunan tempat mereka bermain tiba-tiba dikunjungi penghuni kastil yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Para kelinci berlari menuju lubang di bawah pepohonan yang lain.
"Oh, astaga... Maafkan aku... Aku hanya ingin membersihkan halaman ini... Aku tak bermaksud mengejutkan dan mengganggu kalian..."
Beberapa kelinci dan landak melongokkan moncong mereka malu-malu dari balik lubang, mengintip gadis yang tersenyum ramah pada mereka. Boboiboy kembali ke dapur mengambil sepotong roti dan beberapa helai sayur serta sebuah wortel. Ia menaruhnya di dekat pohon tempat hewan-hewan tadi berlompatan melindungi diri mereka "Makanlah... aku akan membersihkan halaman dahulu..."
Boboiboy kembali melanjutkan kegiatannya, para hewan yang tadi bersembunyi perlahan muncul dan mendekati serta memakan makanan yang disediakan sang gadis.
Dedaunan kering dimasukkan Boboiboy ke dalam tong-tong bekas besar yang kosong tak terpakai di pinggir taman "Aku bisa menggunakan dedaunan ini sebagai pupuk..."
Pengalaman Boboiboy bekerja di masa lalu kembali menjadi sebuah pelajaran yang digunakannya kini. Entah sudah berapa kali ia bekerja menjadi tukang kebun membersihkan segala macam kebun dengan luas yang berbeda-beda. Kotoran hewan yang menyengat sudah menjadi aroma yang biasa menemani dalam bekerja.
Halaman belakang dengan taman bunga yang luar biasa indah kini bagai sebuah surga yang dipijak bagi Boboiboy. Wangi bunga-bunga menjadi aroma yang menemani dirinya bekerja, membuat semangat dan mengembalikan energinya yang mulai lelah. Terlebih mawar-mawar yang beraroma manis di hidung sang gadis setengah vampir.
Rumput-rumput liar yang tinggi dipangkas sang gadis dan dikumpulkan dalam karung yang lain. Meski udara begitu dingin namun Boboiboy berpeluh karena lelah bekerja. Bukan berarti ia menghentikan kegiatannya, justru karena hewan-hewan yang telah menikmati santapan mereka kini penasaran pada sang gadis, mereka terus mengikuti gadis tersebut membuat Boboiboy melupakan penatnya. Gadis tersebut menghentikan pekerjaannya sebentar. Ia duduk di atas rerumputan menghadap para hewan "Hai, aku Boboiboy... penghuni baru di sini..."
Seekor kelinci mengendus-endus jemari Boboiboy dan mengijinkan jemari tersebut mengelus kepala para kelinci yang lembut. Bagai mimpi dalam dunia dongeng yang penuh keajaiban, Boboiboy kembali menemukan dirinya begitu senang menikmati pagi hari yang berkabut di halaman kastil.
Kini halaman telah bersih dan rapi. Namun bunga-bunga yang bermekaran indah di halaman terlihat kurang terawat dengan segala dedaunan dan tangkai mereka yang mencuat tak teratur. Dengan gunting tanaman, Boboiboy menggunting merapikan bunga-bunga tersebut. Bunga-bunga yang telah mekar tua dipetiknya dengan hati-hati.
Begitu hendak memetik setangkai bunga, jemari Boboiboy terhenti. Ada lebah kecil yang sedang menghisap madu pada bunga yang mekar indah. Pemandangan manis yang begitu indah dipandang. Boboiboy tersenyum membiarkan lebah tersebut bekerja. Seekor lebah mungil terbang meninggalkan bunga yang ia hinggapi tadi menuju sebuah pohon. Mata Boboiboy mengikuti dan menemukan hal lain yang begitu menghangatkan hatinya.
Ternyata ada sebuah sarang lebah di dekat pohon. Salah seekor tupai nampak berlompatan riang mengunjungi sarang tersebut, bagai hendak menunjukkan bahwa keberadaannya tak membahayakan. Senyuman kembali menghias wajah mungil Boboiboy sambil meninggalkan halaman yang telah rapi dan indah.
Tanpa sepengetahuan sang gadis, ada mata kecil yang mengawasinya dari balik bunga-bunga di taman.
Di dapur, Boboiboy mulai memasak sesuatu untuk para penghuni kastil. Wangi masakan kembali membawa para burung berkicau kecil meminta ijin agar mereka bisa mendapatkan sedikit makan dari sang gadis. Tentu saja potongan-potongan kecil sayuran yang menjadi bahan sup dibagi Boboiboy untuk para hewan.
Bunga segar yang dipetik dari taman disusun indah dalam vas yang diberikan air, diletakkan Boboiboy dekat jendela agar terkena sinar matahari meski cuaca London tak pernah absen dari tebalnya kabut.
Begitu misterius, ada suara dentingan-dentingan bel kecil terdengar dari luar jendela. Boboiboy berkali-kali melongokkan kepalanya mencari sumber suara tersebut namun tak ada apapun di luar sana. Berusaha tak mempedulikannya, Boboiboy kembali memasak.
Wangi pai daging yang baru keluar tungku begitu menggiurkan. Remah-remah pai yang berjatuhan dikumpulkan dengan hati-hati dan diletakkan di atas sapu tangan agar para burung kecil dan tupai bisa memakannya dekat jendela.
Pai daging lezat yang masih panas, ditaruhnya di dekat jendela agar cepat hangat, di mana para hewan tengah menikmati remah dari atas sapu tangan. Angin siang hari yang sejuk membawa aroma pai ke angkasa. "Yang ini untuk tuan dan nyonya... jangan dimakan, ya...?" Boboiboy mencolek kecil hidung mungil sang tupai. Entah bagaimana hewan-hewan tersebut seperti mengerti akan kata-kata gadis yang begitu ramah pada para penghuni halaman belakang kastil.
Suara dentingan-dentingan terdengar lagi, Boboiboy kembali berusaha menghiraukannya sambil membuat sup jamur. Namun begitu tubuhnya berbalik menghadap jendela. Pemandangan begitu ajaib membuat sang gadis terkejut luar biasa tak mampu bergerak.
Peri...
Seorang peri berukuran kecil...
Seorang peri yang berdiri di samping tupai di dekat jendela...
Begitu jelas dengan sayap transparannya di punggung, matanya yang bagai batu amethyst, tubuhnya yang ditutupi dengan dedaunan dan kelopak bunga, telinganya yang meruncing...
Boboiboy hanya bisa melongo penuh takjub tak bisa mengeluarkan suaranya.
Ini... pasti mimpi...
Dentingan-dentingan yang berasal dari sang peri kecil terdengar begitu riang. Peri tersebut terbang mengelilingi bunga pada vas yang terletak di dekat jendela. Nampak ia ingin mengatakan sesuatu, namun hanya dentingan-dentingan yang terdengar.
"A, a... apakah kau berbicara denganku...?" tutur Boboiboy perlahan. Kepala peri kecil tersebut mengangguk-angguk. Suara dentingan kembali terdengar seiring sang peri menunjukkan sesuatu yang dibawanya dari luar sana.
Setangkai bunga mawar...
"U, untukku...?"
Sebuah anggukan disertai dentingan membuat Boboiboy mulai mengerti apa yang dimaksud sang peri "Kau... berterima kasih karena aku telah membersihkan taman...? Dan... ini hadiah untukku...?"
Sang peri kembali mengangguk disertai dentingan. Boboiboy menerima setangkai mawar indah dari peri kecil yang membawanya dengan penuh hati-hati. Dentingan-dentingan kembali terdengar, seakan menanyakan sesuatu pada gadis tersebut.
"Oh, aku... aku Boboiboy... aku penghuni baru di sini... Salam kenal...," dengan sopan, Boboiboy membungkukkan tubuhnya sambil mengangkat sedikit ujung rok seragam maidnya. Dibalas dengan bungkukkan yang sama dari peri kecil tersebut.
Dentingan-dentingan sebagai suara komunikasi yang dihasilkan sang peri begitu menyejukkan hati Boboiboy. Hatinya kembali cerah menemukan keajaiban yang lain di dunia itu.
TBC...
