Love Letter
note: Pada saat bagian Boboiboy menyanyi, lagu yang dinyanyikannya adalah lagu 'Itsumo Nando Demo' atau dalam Bahasa Inggrisnya 'Always With Me', lagu ending dari anime Studio Ghibli berjudul Sen to Chihiro no Kamikakushi atau Spirited Away.
Lagu yang dinyanyikan Boboiboy adalah versi Bahasa Inggrisnya, 'Always With Me', yang dinyanyikan oleh Hayley Westenra.
Saya sarankan untuk membaca adegan tersebut sambil mendengarkan lagu ini ^^
Malam kembali datang berkunjung. Boboiboy menyiapkan sarapan untuk Keluarga Lang, berusaha secepat mungkin agar ia tak perlu bertemu dengan Fang. Tak disangka sang gadis, Hao dan Elizabeth bisa menebaknya bahwa gadis itu masih berusaha menghindari Fang.
"Selamat malam, Boboiboy... Bagaimana keadaanmu...?" tanya Hao sambil duduk di bangkunya hendak menyantap sajian di depannya.
"Sa, saya baik-baik saja..."
Elizabeth dan Hao mengangguk kecil memaklumi sikap sang gadis yang berubah pendiam. Pandangan Elizabeth tertuju pada bunga-bunga segar yang menghias vas di meja makan. Tak pernah ia melihat karangan bunga menemani mereka makan.
"Boboiboy... Kau yang meletakkan bunga-bunga ini...?"
"Ah, i, iya... akan saya pindahkan jika anda merasa terganggu...!"
"Tidak, sayang... ini indah sekali...! Dari mana kau dapatkan bunga-bunga ini...?"
"Da, dari taman di halaman belakang kastil ketika saya merapikan taman..."
Hao yang hendak meminum kopinya langsung terdiam "Kau merapikan taman...?"
Boboiboy mengangguk kecil tak berani menatap kedua orang tua asuhnya. Hao dan Elizabeth berpandangan, dan kembali menatap gadis yang terus berdiri di samping meja makan.
"...Apa kau... bertemu dengan sesuatu... tidak... seseorang dari halaman...?"
Boboiboy bingung mendengar pertanyaan Hao. Ia hanya bisa menggeleng karena tak merasa bertemu siapapun. Hao dan Elizabeth menghela napas kecil dan kembali menyantap hidangan. Namun dalam diam, Boboiboy berpikir jika pertanyaan sang tuan berarti lain.
"Apa.. maksud anda... peri yang tinggal di halaman belakang...?"
Hao dan Elizabeth kini terdiam tak bergerak. Diamnya tuan dan nyonya membuat Boboiboy takut, takut bahwa ia melakukan kesalahan atau melakukan yang tak seharusnya.
Elizabeth berdiri dari bangkunya dan menggenggam bahu Boboiboy lembut, "Kau bertemu peri...?"
Boboiboy mengangguk. Elizabeth memasang senyum dan memeluknya, membuat gadis tersebut kebingungan, "Maukah kau menceritakan padaku bagaimana pertemuanmu dengan peri...?"
Boboiboy terdiam. Ia ingin sekali menceritakannya, namun setelah melihat jam, dirinya menjadi gelisah. Elizabeth mengerti ia masih menghindari Fang yang sebentar lagi turun untuk sarapan. Maka sang nyonya maklum dan mengijinkan Boboiboy beristirahat hingga besok.
Boboiboy berpamitan dan buru-buru memasuki kamarnya. Tepat begitu Boboiboy mengunci diri, Fang keluar dari kamar setelah mendengar suara langkah kaki.
Melihat pintu Boboiboy yang tertutup erat, sang tuan muda menunduk sedih. Ia berjalan lemas menuju ruang makan, menemui kedua orang tuanya yang menunggu anak mereka untuk makan bersama. Fang hanya memandangi kedua orang tuanya dengan wajah kecewa. Elizabeth diam sambil memasang senyum maklum. Ia benar-benar maklum pada kedua remaja yang sangat disayanginya.
Wangi pai daging di meja makan membuat Fang begitu merindukan Boboiboy. Ia ingin sekali memuji-muji masakan yang begitu nikmat di hadapan sang koki langsung. Ia ingin sekali menikmati makan bersama seperti sebelumnya.
"Kalian makan duluan saja... Aku mau ke halaman belakang..."
Fang keheranan melihat ayahnya tiba-tiba berdiri dan berpamitan ke halaman belakang. Elizabeth justru mengikutinya. Tentu saja sang werewolf muda penasaran. Namun perut laparnya menjadi alasan ia ingin langsung menyantap pai buatan sang kekasih. Dalam kebimbangan, akhirnya Fang mengambil sepotong dan melahapnya sambil berlari menyusul kedua orang tuanya.
Di halaman belakang, tepatnya di taman bunga, Hao berdiri didampingi Elizabeth. Meski gelap, mereka dapat melihat taman mereka kini begitu indah, bersih, dan rapi berkat cahaya bulan yang menyinari.
Tak lama, muncul cahaya-cahaya terang dari balik bunga-bunga. Bagai kunang-kunang dengan warna mereka yang berbeda-beda dan bercahaya lebih terang dari serangga yang selalu menerangi malam tersebut.
"Lama tak berjumpa, Hao Lang..."
Dentingan-dentingan kecil terdengar seiring suara seorang wanita tua di antaranya. Seorang wanita dengan ukuran tubuh yang amat sangat kecil tengah duduk di atas bunga mawar yang paling besar di antaranya. Bunga yang tidak jadi dipetik Boboiboy karena ada lebah mungil yang tengah bekerja.
Hao dan Elizabeth menunduk sedikit menyambut peri tua dengan sayap-sayap yang tersembunyi di balik jubahnya.
"Apa kabarmu...? Sudah lama sekali kau tak mengunjungi taman ini..."
"Saya baik-baik saja, Ratu Rozetta... Maaf lama tak mengunjungimu..."
Rozetta sang peri tua tersenyum dengan wajahnya yang penuh dengan kerutan sambil menatap sepasang suami istri pemilik taman.
"Hingga hari ini, sejak ratusan tahun lalu kami para peri mengadakan perjanjian dengan Keluarga Lang... Kita hidup berdampingan dalam satu lahan yang sama dan saling melindungi tanpa saling mengusik satu sama lain... Ternyata kedatangan seorang penghuni baru di kastilmu membuat salah satu anakku penasaran dan mendekatinya..."
Seorang peri kecil terbang perlahan sambil menunduk penuh sesal mendekati Hao dan Elizabeth. Dentingan-dentingan kecil permintaan maaf terdengar pelan penuh sesal dan sedih.
Elizabeth mengulurkan tangannya agar peri kecil yang masih muda tersebut bisa duduk di telapak tangannya "Bisakah kau ceritakan pertemuanmu dengan gadis bernama Boboiboy ini...?"
"Afha? Fhofhoifhoy kenafha!?"
Fang mendadak muncul dengan mulut yang penuh dengan pai daging membuat kesal ibundanya "Fang! Jaga kesopananmu!" Buru-buru Fang menelan pai lezat di mulutnya begitu tahu kedua orang tuanya sedang berhadapan dengan siapa. Sang pemuda langsung membungkukkan tubuhnya setelah semua pai yang ada di mulutnya habis "Selamat malam, wahai Ratu Rozetta..."
"Fang Lang... anak penuh semangat yang sering sekali membuat para peri di halaman panik karena mengejar-ngejar suara dentingan kami... Sudah sebesar ini kau rupanya..."
Fang nyengir mengingat masa kecilnya ketika ia masih belajar merubah wujudnya menjadi seekor serigala kecil dan berlarian di halaman. Beberapa peri mengagumi sang werewolf yang telah tumbuh menjadi remaja berparas tampan. Mereka tertawa-tawa kecil melihat sang pemuda tersenyum malu atas sindiran sang ratu.
Elizabeth kembali menatap peri kecil yang berada di telapak tangannya. Dentingan-dentingan kecil riang terdengar. Sang peri mulai bercerita seiring nada dentingan meninggi menunjukkan kebahagiaan peri tersebut ketika bertemu dengan gadis yang begitu baik memberikannya potongan kecil pai daging yang lezat. Sang peri hanya ingin berterima kasih karena gadis tersebut telah membersihkan halaman, maka ia memberikan setangkai mawar sebagai hadiah.
Usai sang peri bercerita, Elizabeth berterimakasih dan menurunkannya dengan hati-hati di dekat bunga-bunga.
Sang Ratu peri tersenyum berterima kasih atas keberanian sang peri untuk bercerita pada mereka "Ada yang membuatku heran dari gadis bernama Boboiboy ini... Hanya ras halfter yang bisa mengerti bahasa kami para peri... Kukira gadis ini seorang manusia biasa... siapa dia sebenarnya...?"
Elizabeth berlutut di hadapan peri tua dan menceritakan semua yang terjadi pada Boboiboy dan bagaimana ia kemudian tinggal bersama Keluarga Lang. Pada akhirnya Hao menyadari bahwa kemampuan halfter dalam diri Boboiboy sedikit demi sedikit bisa berkembang.
Peri-peri kecil lain bagai memberikan laporan dari hewan-hewan yang menjadi penghuni taman selain mereka. Boboiboy dengan baik hati selalu memberikan bagian makan siangnya untuk disantap bersama.
Fang terdiam mendengarnya. Ia begitu iri pada para peri dan hewan yang akrab dengan sang gadis pujaan. Ingin sekali dirinya bisa bersama-sama setiap harinya mengisi waktu di manapun dan kapanpun.
Sambil menunduk, Fang melangkahkan kakinya dengan lesu kembali menuju kastil meninggalkan kedua orang tuanya yang masih berbincang dengan para peri. Di ruang makan, sambil memandangi kotak bekal di samping piring, Fang hanya bisa menghela napas penuh kekecewaan pada dirinya sendiri.
Tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya Fang berangkat sekolah, meninggalkan kastil Keluarga Lang dengan menyempatkan diri melihat jendela kamar Boboiboy. Kamar yang gelap, menyembunyikan gadis yang enggan muncul di hadapan Fang.
Tak biasa di malam itu...
Di mana seharusnya terdengar suara gemerisik dedaunan dan angin yang kencang, karena tertebas oleh langkah-langkah tajam seekor werewolf muda... hari itu terasa begitu sepi.
Tak ada derap langkah tegas dan angin tajam yang menyibak ranting-ranting daun. Hanya suara desahan dan langkah begitu lesu di antara angin lembut yang dingin.
Fang yang berwujud serigala, sungguh-sungguh merasa lemas berjalan di antara pepohonan yang menutupi lembah. Jarak sekolahnya masih jauh, namun ia tak peduli bahwa akan terlambat, bahwa akan dihukum, bahwa akan mendapatkan pelajaran tambahan... Sungguh tak peduli.
"Sungguh derap langkah yang menyedihkan, wahai Tuan Muda Fang Lang..."
Suara renta terdengar mendesir bersama angin. Fang kembali menghela napas menjawabnya "Selamat malam, tetua Ent..."
"Berkali-kali saya mendengar anda menghela napas... Ada apakah gerangan, wahai tuan muda yang selalu dimabuk cinta pada seorang manusia...?" Sebuah pohon besar tersenyum menunjukkan kerutan-kerutan yang luar biasa tua dari tekstur kayunya tengah menyindir Fang.
Helaan napas kembali menghias awalan kalimat Fang "Hhh, entahlah... sekarang gadis manusia itu bukanlah manusia murni... dan ia tengah menghindariku sejak kemarin..."
Serigala muda tersebut enggan melangkahkan kakinya lagi. Ia membaringkan tubuh berbulunya dengan lemas, membiarkan tas yang dibawanya memuntahkan isinya di atas rerumputan. Matanya bersinar sedih mengingat suara tangisan sang gadis pujaan yang terluka jiwanya.
"Hmm...? Kau bisa bercerita pada tetua para ras Ent yang telah renta ini jika kau mau..."
"Tidak... aku tak apa-apa..."
Kekeh tua terdengar begitu lembut bersama angin merontokkan sedikit daun dari sang pohon tua "Aaah, cinta... begitu membahagiakan dan menyakitkan..."
"Kau ini bicara apa sih?" gerutu Fang. Ia kembali menghela napas untuk kesekian kalinya tapi hanya senyuman dan kekeh seorang tua yang keluar dari lipatan-lipatan kerut di pohon tua tersebut.
"Cinta... akan selalu membutuhkan waktu untuk berkembang, untuk pulih, dan untuk saling mempercayai serta memaafkan... Janganlah malu, tuan muda... Ceritakanlah pada saya..."
Fang menghela napas kembali, namun pada akhirnya ia menceritakan apa yang telah terjadi di antara dirinya dan Boboiboy. Sang pohon renta mendengarkannya dengan penuh sabar.
"Sungguh gadis ini amat sangat menyayangimu, tuan muda Fang...," pendapat sang pohon seusai Fang bercerita membuat serigala muda itu mengerutkan keningnya.
"Menyayangiku...? Tapi dia terus menghindar dariku...!"
"Tentu saja... ia begitu malu atas apa yang sebenarnya tidak ia lakukan, namun ia merasa sedih sedemikian rupa dan tak bisa menemuimu... Gadis ini berusaha menjaga kehormatanmu, Fang Lang... Ia sadar akan ketidak sengajaanmu, ia tak mau kau bertemu dirinya dengan perasaan yang tak nyaman... Seperti yang saya ucapkan tadi, 'cinta selalu membutuhkan waktu'..."
Fang terdiam. Dirinya mulai merasa lebih baik mendengar hiburan dari sang pohon bijaksana. Akhirnya ia berpamit setelah membereskan isi tasnya dan kembali meneruskan perjalanan menuju sekolah, berharap belum terlambat.
Fang berhasil sampai di kelasnya tepat ketika bel masuk berbunyi. Pelajaran-pelajaran di kelas ia lalui sambil memikirkan Boboiboy. Otaknya tak bisa berhenti berpikir bagaimana cara mendekatkan keduanya kembali.
Berjam-jam ia hanya menyoret-nyoret bukunya tak tentu apa. Bahkan di saat jam istirahat otaknya terus memikirkan gadis yang disayanginya. Bekal yang dibuat Boboiboy semakin membuatnya rindu akan sang gadis.
"Fang... sampai kapan mau bengong? Udah pada pulang, tuh..."
Suara Gopal terdengar menyadarkan lamunan Fang. Yaya dan Ying berada di kedua sisi Golem India tersebut sambil memandangi sahabat mereka "Ni anak pasti mikirin pengantin imajinernya lagi, deh..."
Yaya mendesah panjang dan membalikkan badannya "Yuk, pulang... aku mau mampir ke toko buku sebentar... buku catatanku sudah habis..."
"Ih, kok punyaku awet, yah... Nggak habis-habis..."
"Itu tandanya kamu males nyatet, tau...," Ying menyikut Gopal yang akhirnya nyengir.
Fang berjalan tanpa obrolan di belakang ketiga sahabatnya. Bahkan sampai di toko buku ia sama sekali tak menimpali obrolan ketiga sahabatnya. Otaknya terus bekerja memikirkan cara agar Boboiboy mau kembali berbicara dengannya...
"Ying, bagus warna pink atau kuning...?"
"Aku sih suka warna kuning..."
"Halah, dasar cewek... sama aja kali...," omelan bertalu-talu menghujani Gopal dari Yaya dan Ying. Fang menggelengkan kepalanya ketika Gopal meminta perlindungan.
Tak lama, di mata Fang nampak sebuah buku diary berwarna ungu kebiruan gelap dengan hiasan sulur membentuk bingkai berwarna oranye keemasan pada covernya berjejer di antara buku-buku tulis yang lain. Buku tersebut lumayan tebal dengan kertas-kertas lembut yang begitu halus untuk ditulisi. Otak Fang kembali bekerja sambil menggenggam buku yang tertaut di hatinya itu. Ide yang muncul di kepalanya membuat Fang langsung membeli buku tersebut.
"Aku duluan, ya!"
Yaya, Ying, dan Gopal yang masih sibuk membahas warna buku tulis pilihan Yaya hanya bisa bengong melihat Fang langsung melesat meninggalkan toko buku begitu selesai membayar di kasir, meninggalkan uang kembalian yang ia berikan sebagai tip pada sang penjual.
Pukul dua pagi, Fang sampai di rumahnya. Tentu saja Boboiboy sudah terlelap dalam kamar. Fang tak mempermasalahkan itu lagi. Ia langsung bergegas ke kamarnya sendiri dan mulai membuka buku kosong yang baru saja ia beli. Ia mulai menulis apa yang ada di otaknya.
Menulis kata-kata yang ingin sekali ia sampaikan pada Boboiboy...
Paginya, Boboiboy melakukan rutinitas seperti sebelumnya.
Ia mengenakan seragam maid setelah mencuci wajah dan membasuh tubuh, tak lupa celemek putih yang diberikan Elizabeth padanya. Namun ia menyadari kecerobohannya, bahwa ia lupa melaporkan keadaan keuangan untuk membeli bahan makanan pada Tuan dan Nyonya semalam. Tapi setidaknya ia kemarin telah belanja banyak dari uang yang diberikan Elizabeth padanya, maka ia tidak begitu khawatir.
Begitu Boboiboy membuka pintu, kakinya menyentuh sesuatu yang terletak tepat di lantai depan pintu kamarnya.
Sebuah buku harian.
Penuh pertanyaan, Boboiboy mengambilnya. Terutama ada tulisan 'Untuk Boboiboy, Tolong dibaca' di sebuah kertas yang ditempelkan pada cover. Maka tanpa ragu, ia membawa buku tersebut masuk kamarnya kembali dan duduk di pinggir tempat tidur untuk membacanya...
.
Boboiboy, pengantinku tersayang
Aku memohon dengan sangat tolong maafkan aku atas apa yang terjadi di antara kita saat itu. Aku benar-benar tak tahu adanya kekuatan hipnotis yang diwarisi dari ibuku seperti ini dalam diriku. Aku juga tak sadar telah mempengaruhimu dengan rasa rinduku yang begitu besar padamu.
Rasa rinduku yang tak terbendung padamu justru membuat diri kita melakukan hal sedemikian rupa. Tapi tolong jangan benci padaku... Dan tolong jangan menganggap itu salahmu.
Itu semua salahku yang tak bisa menahan nafsu.
Sungguh aku ingin sekali bisa kembali memandangmu sambil mengobrol banyak denganmu.
Sungguh aku ingin sekali bisa lebih dekat denganmu, meski aku tahu jam istirahat dan pertemuan kita tak bisa sesering itu. Setidaknya aku ingin sekali bisa bertemu denganmu sebelum berangkat sekolah.
Banyak sekali yang ingin kusampaikan padamu, banyak yang ingin kuceritakan padamu, banyak yang ingin kulakukan bersamamu. Maka itu tolong maafkan aku.
Jangan hukum aku dengan menghindariku seperti ini...
Aku mencintaimu...
Sungguh, aku tak bisa menghadapi keadaan di mana kau berada di dekatku namun kita tak pernah bertemu.
Sungguh aku mencintaimu, Boboiboy...
Tolong balas tulisanku dalam buku ini dan taruhlah di depan pintu kamarku jika kau masih belum ingin menemuiku...
Sungguh aku berharap besar kau menemuiku dan memandang mataku sambil berbicara, namun aku tahu bahwa kau butuh waktu...
Sekali lagi aku minta maaf...
Kekasih abadimu,
Fang
.
Boboiboy terdiam. Perlahan air mata menetes dan mengalir di pipinya.
Ia tidak membenci Fang sama sekali. Ia sendiri mulai mengerti apa yang Fang rasakan. Kerinduan yang amat sangat dan nafsu yang tertahan ingin menyentuh...
Ia tahu bahwa Fang merasa begitu bersalah, namun Boboiboy sendiri masih begitu malu untuk bertemu muka dengannya. Boboiboy juga begitu merasa bersalah telah membuat Fang sedih...
Di kamar sebelah, Fang bersandar pada dinding tanpa bisa tidur sama sekali. Kembali ia mendengar isak tangis sedih Boboiboy yang membuat kepala bermahkotakan telinga serigala menunduk. Kedua insan yang hanya terbatasi dinding tebal di antara kamar mereka yang bersebelahan, hanya bisa meratapi perasaan mereka masing-masing. Entah kapan keberanian akan muncul dalam hati sang gadis yang penuh penyesalan dan ketakutan.
Di jendela dapur, dua ekor tupai dan beberapa burung kecil yang hinggap tengah menunggu kemunculan gadis dengan baju maid yang begitu ramah. Nampak pula seorang peri kecil yang penasaran mengintip dari balik kaca jendela yang belum terbuka.
Yang mereka cari akhirnya muncul... dengan wajah agak sedih.
Dalam pelukan Boboiboy ada buku yang Fang titipkan. Dibawanya buku tersebut ke dapur agar ia menyempatkan diri menulis balasan untuknya.
Begitu melihat teman-temannya tengah menunggu di luar, Boboiboy membuka jendela dan memberikan senyuman hangat pada mereka, membiarkan para sahabatnya masuk.
Tak disangka, bertambahlah seekor kucing hitam dengan matanya yang berkilau keemasan di antara mereka, sebagai tunggangan sang peri kecil. Dengan patuhnya, kucing tersebut perlahan memasuki jendela dapur dengan sopan karena dentingan-dentingan kecil memintanya menyapa Boboiboy.
Keindahan yang sungguh anggun membuat senyuman di wajah Boboiboy lebih lebar, "Apa dia temanmu...?" Dentingan kecil menjawab dengan anggukan senang. Boboiboy mengelus kepala kucing yang lembut tersebut serta membagi susu dari sarapannya. Roti isi sayur dan daging serta susu segar sebagai sarapan Boboiboy turut dibaginya pada sahabat-sahabat yang telah menunggunya di halaman belakang.
Sambil duduk di tangga batu, Boboiboy menikmati sarapannya ditemani para tupai, kelinci, landak, dan seekor kucing hitam yang duduk di sampingnya sambil menikmati susu dengan kalem.
Dentingan kecil dari sang peri bertanya-tanya buku apa yang terus dipeluk Boboiboy. Gadis tersebut menceritakan bahwa ia tak sengaja melakukan suatu kesalahan yang membuat kesalah pahaman di antara dirinya dan sang Tuan Muda Fang. Fang meminta maaf atas kesalahan yang sebenarnya tak disengaja melalui buku tersebut, dan Boboiboy bingung bagaimana akan menjawabnya.
Ditemani para sahabatnya, Boboiboy menyusun kata-kata sebaik mungkin. Dengan pena yang ia temukan di laci meja di kamarnya, ia berusaha tak membuat kesalahan dalam menulis dengan amat sangat berhati-hati. Begitu merasa apa yang ditulisnya sudah cukup, peri bunga sahabatnya meninggalkan Boboiboy menuju taman bunga dan kembali dengan sekuntum bunga mawar kuning kecil di tangan-tangan mungilnya.
Boboiboy melakukan atas apa yang disarankan sang peri untuk menjepit bunga tersebut di antara tulisan Boboiboy yang ditujukan pada Fang dalam bukunya.
Seekor kucing hitam dengan peri di atasnya menjadi teman Boboiboy dalam membersihkan rumah. Ketika Boboiboy membersihkan rak-rak buku di ruang tengah, kucing yang dipanggil Night oleh dentingan sang peri, melompat dan berbaring di rak sebelah Boboiboy, menemani sang gadis yang tak kuasa menahan senyum melihat kedua sahabat barunya begitu penasaran dengan buku-buku yang terbuka penuh dengan gambar dan tulisan.
Boboiboy kembali meneruskan pekerjaannya mengelap rak...
.
A voice calls softly
It calls from within
To trust my steps
And to keep on dreaming
Around night falls and all turns to grey
But I hold a light to light my way...
.
Sang peri terbang perlahan mendekati sang gadis sembari mendengarkan dengan seksama lagu tersebut. Burung-burung berhenti berkicau seakan tak ingin mengganggu lagu bernada lembut dari Boboiboy bersama para tupai yang berlompatan menuju jendela ruang tengah yang dibuka lebar. Para hewan mungil tersebut tertarik mendengar suara jernih dari Boboiboy.
.
The sky is all cear blue
No matter what we do
The road is long
But I see the light
That shines at the end
The arms reaching in
I know that you are wait for me...
.
Di kamarnya, Elizabeth membuka matanya perlahan. Sudah berkali-kali ia terbangun karena kegelisahan yang disebabkan hubungan Fang dan Boboiboy. Sang vampir memutuskan untuk keluar dari kamarnya, berhati-hati agar tak membangunkan sang suami.
Untuk pertama kalinya, ia melihat lorong kastil begitu segar dan tak segelap biasanya. Meski cuaca London yang selalu mendung tak mengijinkan cahaya matahari menerangi begitu cerah tanah perbukitan pinggiran London, namun cuaca teduh tersebut justru membuat Elizabeth lebih leluasa berjalan-jalan di pagi hari.
Suara lembut dengan alunan lagu yang tak asing di telinga sang vampir membuat Elizabeth tertarik menelusuri kastil mencari sumber nyanyian tersebut...
.
Though sorrows, troubles
May gather up high
Broken glass pieces
Fall from the sky
Memories though sad
Will hold something true
Shattered glass pieces
Reflect something new...
.
Elizabeth mengintip mendapati Boboiboy tengah duduk di atas tangga rak buku yang menjulang tinggi di ruang tengah sambil membersihkan rak dengan rajin, bersama teman-temannya. Sungguh sang nyonya tak bisa berhenti tersenyum bahagia sejak kedatangan bidadari mungil di kastil tersebut. Boboiboy kembali menyanyikan lagu kesukaannya sejak kecil itu sambil ditemani sahabat-sahabat kecil yang terkadang bertengger di bahu maupun di ujung rak yang ia bersihkan.
Dentingan kecil sang peri membuat Boboiboy tersenyum menjawabnya, "Ini lagu yang biasa kudengar ketika masih kecil... sejak kedua orang tuaku telah tiada, setiap malam selalu ada alunan lembut lagu ini... Sekarang aku tahu siapa yang begitu baik menina bobokanku setiap malamnya... Suara lembut Nyonya Elizabeth langsung kukenali setiap ia memelukku, dialah yang mengalunkan lagu ini setiap malamnya..."
Pemandangan begitu menghangatkan hati sang vampir yang tubuhnya masih terbalut gaun tidur serta mantel yang melindunginya dari udara dingin. Ia tak menyangka Boboiboy masih mengingat lagu yang biasa dialunkan Elizabeth agar gadis tersebut tak sedih dan kesepian pada saat ia masih kecil di kamarnya yang gelap sendirian.
Night, si kucing hitam satu-satunya yang menyadari keberadaan Elizabeth di balik daun pintu. Ia melompat perlahan tanpa diketahui Boboiboy dan teman-teman mungilnya, mendekati sang nyonya dan mengais lembut mantel sang vampir. Elizabeth tersenyum mengenal siapa kucing itu. Jemari lentik sang vampir mengelus leher dan kepala Night yang menikmati sentuhan di kepalanya, "Tolong jaga bidadari kecilku ini, ya..."
Night kembali ke sisi Boboiboy perlahan dan mengusap-usap kepalanya manja pada lengan gadis yang telah menyelesaikan pekerjaannya, sementara Elizabeth memutuskan pergi ke dapur untuk mencari cemilan mengisi perutnya yang mulai lapar.
Dapur tua kastil yang telah dibersihkan Boboiboy justru menarik perhatian Elizabeth. Ia mengunjungi dapur tua yang manis dan hangat tersebut. Tak pernah disangkanya, ia akan merasa sesenang itu menapakkan kakinya setelah sekian lama tak menghirup udara di dapur tua itu.
Sambil mengeratkan mantelnya, Elizabeth duduk di bangku dan menyandarkan tangannya di atas meja. Meja dan bangku kayu membuatnya nyaman duduk di dekat jendela terbuka memperlihatkan pemandangan indah taman belakang yang diselimuti kabut tipis. Bagi vampir yang selalu tidur di pagi hari, hal langka macam demikian membuat hatinya tak henti penuh ketakjuban. Inilah pemandangan yang selalu dinikmati Boboiboy setiap harinya...
"Ah, nyo, nyonya..."
Suara Boboiboy menyadarkan Elizabeth dari lamunannya menikmati pemandangan. Sang vampir tersenyum menyapa gadis berbusana maid yang terkejut melihatnya.
Kucing yang ditunggangi sang peri melompat dan berbaring santai di atas meja di samping lengan Elizabeth. Peri bunga turun dari punggung Night dan membungkuk memberi salam pada sang vampir. Dua tupai tengah bertengger di bahu Boboiboy dan salah satunya dalam genggaman sang gadis yang berhati-hati memeluknya. Elizabeth tak bisa menahan senyum melihat wujud imut gadis yang dikelilingi para sahabatnya itu.
"Ma, maafkan saya... Apa saya telah gaduh hingga membangunkan anda...?"
"Oh, tidak, sayang... Aku terbangun sendiri karena memang tak bisa tidur... Kemari, duduklah bersamaku... Aku tak pernah menikmati pagi hari seperti ini sebelumnya..."
Boboiboy tersenyum sambil dengan hati-hati meletakkan tupai yang berlompatan di atas meja penasaran pada Elizabeth, "Apa anda mau teh? Saya baru saja memetik beberapa daun mint setelah membersihkan halaman tadi..."
"Oh! Tentu, sayang...!"
Boboiboy menuangkan teh dengan asap panas yang mengepul beraroma mint dari teko di atas tungku pada teko lain berbahan keramik dengan hiasannya yang manis berwarna putih. Elizabeth berusaha mengingat teko itu namun tak sedikitpun ia merasa memiliki teko dengan beberapa cangkir yang menjadi pasangannya tersebut merupakan milik sang vampir. Ukuran tea set yang tak besar tersebut begitu kontras dengan suasana hangat yang diberikan Boboiboy dalam dapur antik yang menjadi favoritnya.
"Boboiboy... dari mana kau mendapatkan satu set teko dan cangkir-cangkir tersebut...? Aku tak pernah melihatnya..."
"Ah, ini... Saya menemukannya di atas ketika membersihkan loteng... masih sangat bagus dan saya suka sekali satu set cangkir ini... Karena berdebu di atas dan bertumpuk dengan barang lain, saya rasa sayang kalau tak dicuci dan digunakan lagi... Ng... maaf saya tidak ijin anda... Saya..."
"Ah, tak apa-apa, sayang...! Aku malah senang kau bisa menemukan barang-barang yang bahkan aku telah lupakan...! Kau boleh pakai semua ini sesukamu...! Nampaknya kau juga akan sering menjamu teman-temanmu ini...," Elizabeth tersenyum geli melihat seekor kucing hitam tengah menikmati susu dari piring kecil dan beberapa burung kecil serta tupai menikmati jamuan mereka dari tea set yang disajikan Boboiboy dengan kue dan teh di atasnya. Terlebih sang peri mungil yang begitu mengagumi perangkat teh tersebut.
Mata Elizabeth berkeliling menikmati suasana dapur yang hangat meski cuaca dari luar jendela begitu dingin. Ada bahan makanan berjenis rempah yang tergantung di samping tungku, beberapa kerat roti di keranjang tersimpan rapi dan bersih, toples-toples yang bercahaya karena sinar matahari yang redup menyimpan bahan makanan di dalamnya dengan aman.
Elizabeth kembali berpikir sebentar... Ia baru ingat bahwa bahan-bahan makanan tersebut tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Boboiboy... Kau... baru belanja...?"
Boboiboy menghentikan bibirnya yang hendak menyentuh bibir cangkir teh, "Ah, iya, nyonya... Saya sampai lupa mau mengabari... Kemarin saya ke pasar di desa kecil di balik bukit seperti yang anda ceritakan dahulu..."
Elizabeth terkejut bukan main. Boboiboy berani sendirian pergi keluar tanpa ditemani. Dan sang nyonya mulai bertanya-tanya... dari mana gadis itu memiliki uang untuk belanja...
"Saya sudah membuat catatan belanja... kemarin saya gunakan uang yang anda berikan pada saya..." di tangannya yang mungil, Boboiboy menyodorkan sebuah buku kecil di atas meja pada Elizabeth sebagai catatan belanja yang telah ditulisnya rapi dan teliti.
"Eh!? Uang yang kuberikan untukmu!? Astaga, Boboiboy... itu uang untukmu, sayang... Jangan kau gunakan untuk keperluan rumah tangga seperti ini..."
"Ma, maafkan saya... tapi... saya tak mau mengganggu istirahat anda... dan saya harus menyiapkan makanan sedangkan tak ada lagi bahan makanan... ja, jadi...," kepala sang gadis menunduk ketakutan, tangan meremas-remas di pangkuannya membuat Elizabeth menyesal tak sengaja menggunakan nada tinggi.
Sang nyonya vampir menghela napas berdiri dari bangkunya dan mendekati Boboiboy. Ia memeluknya sambil mengelus lembut rambut hitam pendek gadis kesayangannya itu "Aku amat sangat berterima kasih kau begitu peduli pada kami, sayang... Tapi lain kali, tolong katakan saja apa yang kau butuhkan.. apalagi untuk kepentingan seperti ini, ya...?"
Boboiboy mengangguk kecil dalam pelukan Elizabeth, "Maafkan saya..."
"Oh, sudahlah, sayang... tak apa-apa... Nanti aku ganti uangmu, yah...," ciuman sayang menghampiri kening Boboiboy dari sang vampir "Bagaimana pengalamanmu ketika ke pasar...?"
Satu pertanyaan dijawab dengan ratusan bahkan ribuan kata dari sang gadis yang menceritakannya dengan begitu bahagia. Elizabeth tak bisa berhenti tersenyum mendengar kisah dengan nada antusias dari gadis di hadapannya. Ketika bagaimana ia menikmati perjalanan di atas gerobak yang dipenuhi jerami ditemani seorang petani baik hati yang akrab mengobrol dengannya, kota kecil dengan pasarnya yang begitu indah, bagaimana ia membantu sebuah kedai menyiapkan makanan untuk para pengunjungnya yang kelaparan, perjalanannya kembali menuju kastil...
Teh panas yang dibuatkan Boboiboy bagai pengiring pagi dengan melodi lembut. Gadis mungil tersebut membuatkan pai apel lezat untuk sarapan nanti malam, namun ia memotong disajikan untuk Elizabeth dan beberapa sahabat mungilnya.
Di kamar, Hao terbangun menyadari istrinya tak ada di samping. Terheran, sang werewolf duduk di pembaringan mencari-cari Elizabeth.
Tak lama, yang dicari muncul dari pintu dan menutupnya kembali. Hao mengangkat alis melihat Elizabeth nampak begitu bahagia dan kembali berbaring di samping suaminya.
"Dari mana kau...? Tak biasanya kau terbangun jam begini..."
"Menikmati pagi hari bersama malaikat kecilku..."
Hao kembali mengangkat alis, namun ia mengerti siapa yang dimaksud Elizabeth dengan malaikat kecil, "Bagaimana keadaan Boboiboy?"
"Dia baik-baik saja... Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi...," Elizabeth berbaring menghadap suaminya sambil membenamkan wajahnya pada lengan Hao yang gagah. Hao menghela napas lega mendengar kata-kata Elizabeth yang bernada tenang.
Suami istri Lang kembali melanjutkan istirahat mereka, hingga malam datang .
TBC...
