Hold Me Tight
Selamat menjalankan ujian bagi teman-teman yang akan melaksanakan ujian ^^7 Semoga bisa menjawab semua soal dengan lancar dan lulus dengan sukses ^^
Saya justru sekarang sedang kurang fit... jadi harus istirahat full... Tapi senang sekali rasanya membaca review-review dari teman-teman sekalian ^^ Saya jadi merasa terhibur di kala masa istirahat. Sudah lama saya tidak membuka ff hingga baru sadar ada review di beberapa fic saya ^^
Terimakasih untuk para pembaca setia dan reviewer ^^
Begitu weker berbunyi, Fang langsung bubar dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar, menunggu sesuatu yang begitu diharapkannya muncul di depan kamarnya.
Buku catatan yang ditinggalkan di depan kamar Boboiboy kini berpindah di depan kamar Fang tepat seperti apa yang diinginkan sang pemuda. Tapi ada benda lain di atas buku tersebut, sebuah kotak mungil yang bisa dimasuki seekor anak kucing di dalamnya tertutup rapi dengan pita menghias.
Begitu tak sabar Fang membawanya masuk kembali ke kamar dan membukanya.
Bunga mawar kuning menjadi perhatian pertama yang memikat hatinya.
Mawar kuning... yang memiliki arti lain sebagai permintaan maaf dalam bahasa bunga.
.
Untuk Tuan Muda Fang,
Maafkan saya yang telah berbuat tak senonoh. Saya tahu anda tak sengaja dan saya sendiri tak bisa mengendalikan diri saya...
Seharusnya saya yang meminta maaf pada anda, karena saya tak mengetahui apa yang anda rasakan, dan saya telah membuat anda kecewa... dan kini justru anda yang meminta maaf pada saya...
Maafkan saya...
Namun saya masih merasa belum bisa bertemu muka dengan anda. Saya merasa tak pantas untuk menampakkan diri saya setelah melakukan hal demikian...
Sungguh saya lega bisa berkomunikasi dengan anda menggunakan cara ini...
Saya ingin berterima kasih, karena anda telah memperlihatkan pemandangan indah kedua orang tua dan kakek saya dalam waktu yang tak lama, namun begitu menyanjung hati ini. Kenangan indah lama yang begitu saya rindukan dan amat sangat berharga.
Saya begitu menyesal telah membuat anda sedih. Saya tak bermaksud demikian.
Saya tak pernah membenci anda. Sama sekali tak ada perasaan demikian dalam diri saya...
Saya merasa begitu tersanjung atas perasaan yang anda berikan pada saya.
Tolong terima permintaan maaf saya. Saya memanggang beberapa cookies sebagai permohonan maaf untuk anda. Semoga cocok dengan selera anda.
Boboiboy
.
Bukan main gembiranya hati Fang membuka kotak tersebut. Kue-kue kering lezat langsung dimakannya sambil berguling-guling di atas tempat tidur, "ENAAAAAAAK!"
"Fang...! Sedang apa kau teriak-teriak!? Awas kalau kau sampai telat sekolah...!"
Ancaman sang bunda dari lantai bawah dijawab riang oleh Fang sambil menari-nari ke kamar mandi.
Sementara gadis yang tengah duduk di depan perapian dalam kamarnya, sedikit terkejut mendengar seruan girang Fang dari balik dinding sebelah. Night si kucing hitam menggelengkan kepala sambil memutar matanya seakan mengejek kegembiraan Fang dan kembali cuek seraya menikmati elusan lembut tangan Boboiboy di tubuhnya. Boboiboy tak bisa menahan senyuman kecil dengan rona merah di wajah mendengar Fang yang begitu bahagia menerima kue buatannya.
Tanpa ia sadari, pintu hatinya yang berwarna merah muda mulai terbuka untuk Fang.
Sebuah pintu hati bernama cinta.
Hao terbengong ria mendengar gumaman lagu yang dilantunkan Fang sambil turun tangga. Elizabeth menaikkan sebelah alisnya, berusaha menebak apa yang telah Boboiboy lakukan hingga Fang demikian bahagianya.
"Kalian sudah baikan...?" tanya Hao penasaran.
"Hmm, Boboiboy masih belum mau bertemu muka denganku... tapi... kurasa sekarang lebih baik begini dulu...," Fang memakan sarapannya dengan nikmat, berbeda dengan sebelumnya. Ia begitu senang rencana Buku Catatan berhasil membuat keduanya bisa berkomunikasi lagi.
Dan malam yang sepi kini kembali seperti semula, di mana angin kencang menebas bagai pedang melewati pepohonan dan bukit, seekor serigala muda berlari penuh semangat dan tengah dimabuk cinta untuk kesekian kalinya.
Bahkan pohon tua tempat Fang mencurahkan hatinya dilupakan sang werewolf bahwa ia baru saja melewatinya dengan kecepatan luar biasa. Sang tetua ent tersenyum dengan kekeh kecil penuh lega melihat Tuan Muda Fang kembali bersemangat.
Sampai di sekolah Fang langsung membuka tas, tak peduli sindiran ketiga sahabatnya yang kerap membandingkan kondisi dirinya yang begitu berbeda dari kemarin.
"Kemaren galau, sekarang bahagianya nggak karuan... ni anak kesetanan apa kesurupan, sih...?"
"Fang, kalo mau obat di klinik sekolah juga ada, loh..."
"Buku apa sih itu, Fang?"
"Heh! Sana! Jangan ganggu! Aku mau nulis surat cinta buat pengantinku! Hush! Hush! Jauh-jauh!"
Yaya, Ying, dan Gopal menghela napas sebal dan kembali ke bangku mereka karena gema tawa guru nyentrik mereka sudah terdengar dari lorong akademi.
Begitu memasuki jam istirahat, Fang langsung melesat ke perpustakaan mencari tempat yang tenang untuk menulis buku catatannya. Sayang tak satupun kata ia bisa curahkan. Hatinya begitu menggebu hingga ia tak tahu apa yang harus ditulis.
Teman-teman Fang mencarinya dan mengajak bermain basket di lapangan. Pada akhirnya seharian di sekolah Fang hanya bisa menjalani kegiatan sekolahnya saja tanpa berhasil menulis satu kata pun.
"Aku menyerah...! Apa yang harus kutulis...!"
"Aduh... kau berisik sekali, sih... Memangnya kau mau menulis apa...?" Seorang pemuda gemuk putih dengan ras vampir terbangun dari tidurnya karena terganggu suara Fang.
"Stanley... kau sudah seharian ini tidur... bahkan sampai pulang sekolah kau masih tidur... Tak ada kegiatan lain apa?" Fang melirik sebal pada temannya yang menguap lebar. Tiba-tiba Golem India bernama Gopal mendekati keduanya dengan makanan di kedua tangannya, "Hoi! Belum pulang? Aku dapat diskonan jajan di kantin, nih!"
"Haish, ini lagi... makan melulu... Yang satu tidur melulu, yang satu makan melulu...," sindiran Fang dibalas dengan cibiran dari Gopal sambil menikmati makanan di tangan-tangan gemuknya.
"Lah kamu sendiri...? Menghayal melulu... Udahlah, Fang... Jangan kebanyakan menghayal punya pengantin, deh...," sindir Stanley membalas Fang.
"Aku nggak berimajinasiiii! Ini beneraaan! Dan aku lagi mau nulis sesuatu buat dia tapi nggak tau mau nulis apaaa..!"
"Hhh, susah amat... Lagian kamu nulis surat cinta kok di buku harian... Tulis aja kegiatanmu sehari-hari di situ sekalian...! Kayak cewek banget, sih...," ujar Stanley sambil merenggangkan badan, membereskan bukunya bersiap pulang.
Saran Stanley justru menjadi ide awal mula Fang untuk mulai menulis. Akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan saja apa yang ia alami di sekolah. Mengingat dirinya begitu ingin mengenalkan dunia para halfter kepada gadis yang memiliki sedikit darah vampir dalam dirinya.
Esok paginya, Boboiboy yang telah dalam pakaian maid-nya kembali menemukan buku harian yang sama seperti sebelumnya. Perlahan ia membuka lembaran-lembaran di mana Fang menuliskan rasa terima kasih karena Boboiboy berbaik hati membuka pintu maaf untuk dirinya. Betapa ia bersyukur dan merindukan sang gadis untuk mengobrol dan bertemu dengannya seperti sedia kala. Fang menunjukkan kebahagiaannya karena kini mereka telah saling mengerti dan memaafkan, bagaimana ia memuji kue buatan Boboiboy dan begitu berterima kasih, hingga ia menulis kegiatan sehari-harinya di sekolah malam hari.
Boboiboy menyunggingkan senyuman di wajah membaca buku yang dipenuhi tulisan-tulisan dari Fang. Namun ia menutup buku catatan tersebut untuk melakukan pekerjaan sehari-harinya terlebih dahulu. Begitu jam makan siang, Boboiboy membuka buku catatan dengan pena di tangan, sambil menikmati makan siang bersama teman-temannya di bawah pohon rindang dengan tikar sebagai alas duduk. Tea set yang diberikan Elizabeth turut dibawa agar ia bisa menikmati teh bersama dengan teman-teman dari kebun belakang. Tak disangka peri-peri lain mulai menaruh rasa penasaran dan mendekati Boboiboy karena ajakan peri bunga sahabatnya.
Sesekali seekor burung kecil melompat penasaran ke atas buku catatan di mana Boboiboy hendak menulis untuk Fang. Gadis berambut hitam pendek tersebut tertawa kecil melihat Night yang berbaring di sampingnya tengah menjadi tempat santai para peri yang mengagumi halus bulu indah hitam legam sang kucing.
Pemandangan seorang gadis dengan seragam maid bersama para sahabatnya membuat siapapun tersenyum melihatnya. Termasuk Elizabeth yang mengintip dari jendela kamarnya di lantai tiga. Ia sengaja bangkit dari pembaringan ketika sedikit terbangun untuk melihat pemandangan tersebut.
Malam hari, Fang kembali menemukan buku catatan harian yang diletakkan Boboiboy di depan kamarnya. Sungguh tak sabar ia membawanya masuk dan membuka buku tersebut membaca tulisan-tulisan dari pujaannya.
Fang dengan khusyuk membaca keseharian Boboiboy di pagi hingga siang hari. Di mana para hewan-hewan kecil menjadi temannya ketika sarapan, membantu dirinya membersihkan rumah, makan siang bersamanya, hingga sore menjelang. Ketika Boboiboy menceritakan dirinya begitu menyukai dapur tua mungil di bagian paling belakang kastil, loteng yang kini menjadi ruang bacanya memiliki buku-buku menarik.
Fang selalu tersenyum selama membaca tulisan-tulisan yang disertai hiasan kelopak bunga di dalamnya tertempel pada kertas sehingga menjadi indah. Ada wangi khas yang ia cium dari kertas-kertas yang ditulis Boboiboy.
Di sekolah Fang kembali melakukan keseharian bersama teman-temannya. Begitu pulang barulah ia menulis apa saja yang ia lakukan pada hari itu. Ketika Yaya dan Ying berseteru mendapatkan nilai terbaik, ketika Gopal disetrap karena ketahuan makan di tengah pelajaran, ketika Stanley dan Amar Deep membuat ledakan karena salah memasukkan ramuan, ketika Suzy dan Amy tak sengaja membuat Iwan berubah menjadi ayam dan berlarian di lorong sekolah sehingga membuat para guru halfter mengejarnya dengan merubah wujud mereka agar bisa menangkap Iwan yang panik ketakutan, ketika Anna dan Siti salah mengucap mantra sehingga satu kelas nyaris terhisap lubang hitam...
Setiap harinya, Fang bercerita mengenai apa-apa yang ia alami, kesehariannya, hingga akhirnya ia tak tahu lagi apa yang harus ditulisnya...
Fang merasa semua kisah yang ia ceritakan berulang-ulang nyaris sama. Tak ada perubahan, monoton, dan membosankan...
Meski demikian, catatan harian Fang selalu dibalas oleh Boboiboy keesokan harinya. Sungguh bahagia sang werewolf senantiasa menemukan buku milik berdua di depan kamarnya...
Namun setiap membaca catatan harian Boboiboy, Fang kembali merasa begitu kosong...
Sang gadis menceritakan ketika ia menemukan keajaiban yang membuatnya begitu terpesona akan dunia tersebut, digambarkannya dalam tulisan yang puitis, sesekali ia mencoba menggambar dengan sketsa-sketsa kecil meski tak bisa menggambar, menceritakan ketika ia pergi ke pasar di desa bawah bukit, di mana ia begitu mengagumi keindahan tempat tersebut, ia menyukai toko-toko yang berjejer manis bersama cafe dan kedai, orang-orang ramah yang menyapanya, terkadang teman-teman perinya turut mengikuti karena penasaran dunia luar atas seijin ratu mereka. Begitu bahagia dirinya kini memiliki banyak kenalan baru di desa tersebut. Ketika sebuah pohon tua menyapanya dalam perjalanan pulang, ketika seorang Golem baik hati membantunya membawa belanjaannya yang berat, ketika ia menemukan toko ramuan dan obat yang dijaga oleh seorang penyihir tua ramah, ketika ia menemukan kucing-kucing di jalanan menyapanya... semua keajaiban yang bagi Fang begitu biasa, namun terlukis manis di catatan harian Boboiboy.
Fang begitu iri...
Karena Boboiboy tengah menghabiskan waktu dengan orang lain... tapi bukan dirinya.
Pada saat Fang menjalani keseharian di sekolahnya... Boboiboy melakukan hal-hal yang begitu menyenangkan di luar sana...
Esok paginya, Boboiboy keluar dari kamarnya dan kembali mendapati buku catatan harian dari Fang seperti biasa. Ia tersenyum kecil, tak sabar ingin membaca.
Namun begitu tangannya hendak mengambil buku tersebut dari lantai, pintu kamar Fang terbuka dengan segera membuat sang gadis terkejut bukan main melihat Fang ternyata menunggunya keluar kamar.
"Tu, tuan mu...!"
Fang langsung memeluk Boboiboy tanpa ampun, "Jangan panggil aku 'Tuan Muda'..."
Boboiboy terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia tak menyangka Fang justru menampakkan dirinya di saat yang tak Boboiboy duga. Hatinya belum siap menatap mata Fang yang kini merenggangkan pelukannya sambil menatap dalam Boboiboy.
Kejadian yang begitu ingin Boboiboy lupakan kini kembali teringat di benaknya. Dengan wajah merona Boboiboy berusaha memalingkan wajahnya.
"Boboiboy... aku tahu kau sulit melupakan kejadian itu... Tapi aku tak bisa lagi merasakan di mana aku begitu ingin memelukmu yang begitu dekat denganku... sementara kau justru jauh tak bisa kusentuh... Maafkan aku..."
"A, sa... saya...," Boboiboy tak tahu harus berkata apa. Sementara dirinya sangat merindukan Fang juga. Akhirnya ia memberanikan diri menatap wajah Fang, menatap mata di balik kaca bening yang menghias wajah tampan sang werewolf. Tatapan hangat penuh rindu, pelukan erat nan hangat, wangi segarnya angin hutan seakan tercium dari tubuh Fang.
Boboiboy merasa dirinya tak bisa lagi berpikir jernih. Yang ia tahu, kini ia membiarkan tubuhnya tenggelam dalam hangat pelukan Fang. Tangannya perlahan membalas pelukan tersebut. Rasa rindu Fang yang tertular pada dirinya masih tersisa, membuat Boboiboy tak lagi menghindari Fang.
Boboiboy menutup matanya menikmati rasa hangat dan wangi dari Fang, tak peduli berapa lama mereka akan terus di situ.
"Tolong... jangan berbicara begitu resmi denganku..."
Boboiboy mengangguk kecil membuat Fang lega dan melepaskan pelukannya perlahan, mendapati wajah Boboiboy yang merona merah. Tapi berbeda dari sebelumnya, gadis itu dalam keadaan sadar dan nampak menyukainya. Fang tak ragu lagi mengelus lembut pipi chubby Boboiboy dan mencium kening gadis pujaannya.
"Ng.. Fang... le, lebih baik kau kembali beristirahat... Nanti kau mengantuk di sekolah...," ujar Boboiboy malu-malu mendapati Fang terus memandanginya tanpa bosan.
"Aku tak mengantuk sama sekali... Lagi pula hari ini hari Sabtu... Lebih baik aku begadang pagi ini meluangkan waktu bersamamu...,"
"Eh? Ta, tapi... nanti Tuan dan Nyonya..."
"Ah, sudahlah... biarkan mereka beristirahat... Nah, apa yang biasanya kau lakukan pagi ini? Aku ingin tahu banyak suasana di pagi hari dan keseharianmu lebih dalam...!"
Akhirnya Boboiboy tak bisa menolak Fang tengah mengekor dirinya menuju dapur tua mungil di belakang kastil. Tentu saja Fang terkagum-kagum mendapati suasana hangat dan manis di dapur tersebut. Terlebih ketika Boboiboy membuka tirai yang melindungi jendela. Debu keemasan bagai intan terbang mengelilingi dapur tersebut dengan sinar matahari yang menerangi seisi ruang gelap tersebut. Para hewan mungil serta beberapa peri tengah menunggu kemunculan gadis yang tersenyum ramah menghangatkan hati siapa pun yang bertemu dengannya.
"Selamat pagi, semua... Hari ini ada Tuan Muda Fang di sini bersamaku..."
Fang sedikit merona melihat betapa cantiknya putri pujaan hatinya tersenyum memperkenalkan sang werewolf muda pada sahabat-sahabatnya. Wajah manis Boboiboy nampak cerah disinari matahari.
Ragu-ragu, para tupai berlompatan masuk dan mengawasi Fang dari bahu Boboiboy tempat mereka bertengger. Burung-burung kecil terbang memasuki dapur dan melompat-lompat di atas tungku, sementara Night si kucing hitam melompat masuk dengan beberapa peri di atas punggungnya tertawa-tawa kecil mengagumi ketampanan Fang yang mereka kenal sebagai Tuan Muda Keluarga Lang.
Fang merasa agak kikuk begitu dua ekor tupai tengah mengendus-endus dirinya dan bermain-main di atas kepala. Boboiboy tertawa kecil melihatnya.
Membiarkan Fang tengah dikelilingi para sahabatnya yang penasaran, Boboiboy mengeluarkan roti dan beberapa irisan daging yang akan ia masak di atas tungku. Tangannya dengan terampil memotong sayuran dan keju. Air panas yang telah masak mengeluarkan uap mengepul membuat para peri terbang di atasnya merasakan hangat dari uap yang menari di udara.
Seorang peri yang menjadi sahabat pertama Boboiboy di antara peri yang lain membawa setangkai mawar untuk gadis tersebut. Boboiboy sangat berterima kasih. Dengan tea set pemberian Elizabeth, ia menyajikan sarapan untuk para sahabatnya, serta Fang yang pertama kalinya merasakan santapan lezat di pagi hari.
"Fang, kau mau teh...? Ada teh mint, jasmine, black..."
"Ah, ng... teh mint saja..."
Boboiboy menuangkan teh pada cangkir untuk Fang yang duduk bersama teman-teman barunya dari kebun belakang. Roti isi daging kesukaan Fang tentu saja membuat pemuda itu kelaparan dengan wangi yang mengelilingi dapur tua.
Boboiboy bukannya duduk bersama Fang dan teman-teman mungilnya, justru mengambil sebuah piring, sebotol susu, dan beberapa kerat roti serta potongan wortel. Fang penasaran mendapati gadis itu membuka pintu belakang menuju halaman dan menyapa seseorang di baliknya. Begitu kepala Fang melongok melalui jendela yang terbuka lebar di sampingnya, barulah ia melihat jelas beberapa ekor kelinci dan landak menyapa gadis yang membawa sarapan untuk mereka. Di atas piring, Boboiboy menuangkan susu untuk para landak dan menaruh roti serta wortel di atas serbet. Elusan tangan Boboiboy yang lembut begitu ditunggu para kelinci menghampiri kepala mereka.
Barulah kemudian Boboiboy duduk menikmati sarapannya menemani Fang di meja dapur. Wajah manis yang tak disangka Fang begitu keibuan, kini nyata berada di hadapannya. Tersenyum padanya, dengan kecantikan absolut bagi Fang. Wajah yang mencerminkan hati sang tuan putri berbalut baju pelayan.
Mimpi menjadi kenyataan bagi Fang yang amat sangat menunggu-nunggu saat-saat seperti demikian, di mana ia bisa menikmati cantiknya wajah sang pujaan nyata dan begitu dekat di hadapannya.
"Mm, Boboiboy... habis ini... biasanya apa yang kau lakukan...?"
"Biasanya saya, ah, ...aku membersihkan seisi kastil, tapi karena kemarin baru kubersihkan jadi nampaknya tak begitu banyak pekerjaan untuk hari ini... Apalagi di Inggris nyaris tak pernah berdebu..."
"Jadi... kau lowong hari ini...?"
"Iya..."
Otak Fang mulai berputar. Sungguh banyak yang ia ingin lakukan bersama Boboiboy berdua saja. Sambil meneguk teh lezat buatan Boboiboy, Fang mulai menemukan sebuah ide. Senyumannya melebar.
"Hei, bagaimana kalau kita ke pasar di desa kecil bawah bukit seperti yang kau ceritakan di buku...?"
"Eh...? Tapi... aku sudah belanja lusa kemarin... jadi tak ada yang harus dibeli untuk keperluan..."
"Tak apa! Kita jalan-jalan saja! Melihat-lihat... Siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan...!"
Boboiboy agak ragu, tapi ekor Fang terus terkibas bahagia. Boboiboy tak sampai hati jika ia membuat telinga Fang menekuk sedih. Dengan senyum kecil, gadis itu mengangguk, membuat Fang senang tak terhingga.
TBC...
