Terima kasih atas dukungan teman-teman sekalian. Mohon maaf kalau saya sudah membuat drama dengan keputusan saya yang lalu. Saya pikir tak seharusnya berhenti berkarya hanya karena adanya kejadian demikian. Review teman-teman membuka mata saya dan memutuskan untuk meneruskan fanfic ini. Semoga terhibur, dan ijinkan saya menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan melalui message, FB, maupun review ^^

1. Jenis kucing apakah Night itu? Black cat Tiffany. Saya suka jenis kucing ini ^^ Bisa cek di google images kalau kalian tak tahu ^^

2. Apakah ada kemungkinan Boboiboy bertemu teman-teman Fang? Mari tunggu tanggal mainnya ^^

3. Bagaimana ending fanfic ini? Bahkan saya sendiri belum kepikiran bagaimana endingnya xD

4. Update-nya kapan saja? Kemungkinan dua minggu sekali. Karena saya harus kerja, mengerjakan projek lain, dan menulis bukanlah hal yang mudah. Tak setiap harinya ide muncul. Terkadang jika sedang tidak mood dan dipaksakan akan menjadi tidak bagus.

Sekian dahulu ^^ Buat yang sedang ujian, semoga sukses, yah ^^7


Let Me Love You

Setelah menyelempangkan tas berisi beberapa jumlah uang di dalamnya dan mengambil mantel merah maroon dari lemari pakaiannya, Boboiboy menemui Fang yang telah bersiap di pintu depan.

Jelas nampak sekali Fang tak sabar ingin segera menggandeng tangan Boboiboy berjalan-jalan menelusuri desa kecil yang diidamkan gadis itu. Banyak kisah-kisah yang diceritakan dalam bentuk kata-kata bagai puisi dalam buku catatan keduanya ketika bergantian membaca, kisah mengenai desa kecil nan menakjubkan, hangat dan mendamaikan hati bagi gadis setengah vampir. Mungkin bagi Fang tak semenarik apa yang dilihat dan dirasakan Boboiboy, namun ketika membaca kisah tersebut melalui tulisan yang diungkapkan dari hati Boboiboy dalam buku catatan, Fang tak kuasa menahan diri untuk menikmati waktunya bersama tuan putri berjalan-jalan menghabiskan waktu di sana.

Boboiboy muncul menghampiri Fang dengan mantel manis pemberian Elizabeth. Pemandangan yang membuat Fang selalu tersenyum hangat membuat hatinya berbunga. Rona merah di pipi Boboiboy menunjukkan betapa dingin udara di Inggris, membuat napas putih beterbangan seiring helaan bahagia Fang.

Fang membantu Boboiboy mengenakan mantel di tubuhnya. Bagian tudung melindungi kepala dari udara dingin, bagian tubuh hingga bawah pinggang Boboiboy terlindungi mantel meski pakaian maid nampak sedikit dari balik mantel tersebut. Sweater biru tua gelap yang menutupi kemeja putih di tubuh Fang membuat Boboiboy agak khawatir kalau-kalau Fang kedinginan. Bahkan celana panjang Fang tak nampak cukup tebal untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin.

"Mm, Fang... kau tak mengenakan mantel untuk menghangatkan tubuhmu...?"

"Haha, aku sudah terbiasa dengan udara seperti ini... Tenang saja..."

Boboiboy mengangguk kecil dengan mulut nyaris tertutupi mantel yang melindungi hingga lehernya. Sungguh manis pemandangan tersebut bagi Fang. Napas putih menghias di antara keduanya. Bagai bersatu di tengah, membuat sang pelayan mungil lebih merona menatap wajah tampan tuan mudanya. Fang tersenyum melihat Boboiboy yang malu-malu. Sebuah ciuman lembut menghampiri kening Boboiboy, membuat gadis itu sedikit kikuk. Namun senyuman kecil di wajah manisnya menunjukkan bahwa ia menyukai ciuman tersebut.

Keduanya berjalan keluar pintu dan tak lupa menguncinya. Di gerbang depan, Fang kembali mengunci gembok dan memasukkan rentengan kunci tersebut ke dalam tas pinggang yang menjadi sabuk melingkar di pinggul sang serigala jejadian.

Fang mengubah wujudnya menjadi serigala dan membiarkan Boboiboy naik di punggung. Meski Boboiboy pernah melihat hal demikian ketika bersama Elizabeth dan Hao, tak urung hal demikian membuatnya terkagum kembali.

Bagai di awang-awang, Fang tak pernah berani memimpikan bahwa suatu saat pujaan hatinya akan duduk di atas punggungnya sambil menyentuh lembut bulu hitam gelap sang serigala muda. Begitu Boboiboy memeluk erat leher Fang, napas sang werewolf bagai tertahan dengan jantungnya yang berdegup kencang.

Hati Fang berbunga-bunga. Di hari yang dingin itu bagai terhias pelangi dengan hangatnya. Awan kelabu yang menghalangi cahaya matahari bagai gula-gula manis yang tertiup angin. Seluruh pemandangan di matanya menjadi indah.

"Fang... apa aku... berat...?"

Boboiboy khawatir karena Fang sama sekali tak bergerak meski gadis tersebut sudah duduk dengan tenang sejak beberapa menit lalu di punggung Fang, sementara sang werewolf masih terlena akan kenyataan bahwa tuan putri tercintanya sedang duduk manis di punggung, "Ah, tidak...! Sama sekali tak berat! Apa kau sudah siap?"

Boboiboy mengangguk sambil mengeratkan pelukan di leher Fang.

"Kalau begitu... kita berangkaaat!"

Boboiboy terkejut mendapati Fang tiba-tiba melompat tajam dari depan gerbang menuju daerah perbukitan luas, menembus pepohonan. Bahkan kecepatan Fang nampak melebihi ayahnya meski tubuh sang werewolf muda lebih kecil sedikit.

Boboiboy berteriak panik begitu Fang mulai memasuki daerah pepohonan yang rindang bagai hutan.

"Kyaaaah! Fa, Fang...! Berhenti...! Ku, kumohon...!"

Fang langsung menghentikan langkahnya yang bagai angin. Ia mulai khawatir telah membuat Boboiboy takut atau terluka karena sabetan ranting-ranting yang mungkin mengenainya. Fang menoleh ke arah punggungnya, mendapati Boboiboy tertunduk sambil terengah-engah.

"Boboiboy...? Ka, kau tak apa-apa...?"

Boboiboy mengatur napas sambil mengeratkan mantel di tubuhnya. Ia menatap Fang sambil tersenyum, "Aku tak apa-apa... Hanya saja... apakah bisa kita menuju desa dengan perlahan...? Nampaknya akan lebih menyenangkan sambil menikmati pemandangan..."

Fang agak keberatan. Ia bukan seorang yang penyabar dan mulai berpikir mereka akan menyia-nyiakan waktu di jalan lebih lama.

"Lagipula..."

Fang kembali menegakkan sedikit telinganya mendengar Boboiboy yang melanjutkan kata-katanya dengan suara pelan.

"A, aku... ingin meluangkan waktu lebih banyak denganmu... kalau kau tak keberatan..."

Wajah Boboiboy yang menunduk berusaha menyembunyikan rona merah di wajah dengan tudungnya membuat Fang kembali berdegup kencang. Pemandangan manis yang membuat werewolf muda tersebut menurut untuk mengurangi kecepatan maksimum menjadi perlahan penuh sabar.

Ia merasa sungguh bodoh tak berpikir bahwa keduanya bisa meluangkan waktu bersama. Hanya berdua saja. Tanpa gangguan siapapun.


Beberapa puluh menit berlalu. Di atas punggung Fang, Boboiboy tertawa-tawa mendengar gurauan Fang yang menceritakan keseharian di sekolah bersama para sahabatnya. Kejadian-kejadian lucu yang membuat Boboiboy tergelak selama perjalanan mereka.

"...dan kau tahu yang lebih buruk? Gopal sama sekali tak berpikir bahwa ramuan hasil karya Yaya benar-benar meledak dan membuat hitam seluruh ruangan... Tentu saja guru kami berhasil meyakinkan dirinya bahwa ia punya seorang murid yang ahli dalam ledakan...!"

"Oh, astaga...! Ahahahah...! Kasihan guru Papa Zola... Fang, sepertinya keseharianmu sungguh menyenangkan dan tak pernah membosankan... aku iri..."

Fang terkekeh kecil, "Kau bicara apa? Justru aku iri sekali padamu... Setiap aku membaca catatan darimu, aku merasa kau benar-benar beruntung... Hei, nanti di sana ajak aku keliling ke semua tempat yang kau tahu, yah! Sudah lama sekali sejak aku masih kecil terakhir kalinya aku bersama ibu ke desa... tapi ia hanya duduk sambil minum teh bersantai atau melihat-lihat baju dan bunga.. aku bosan... Eh, tapi bukan berarti itu hal yang membosankan, hanya saja aku merasa kau banyak menemukan hal yang lebih menarik di sana...," oceh sang serigala jejadian.

Boboiboy tertawa geli tak menyangka Fang sangat senang mengobrol, hingga tak terasa mereka sudah dekat degan desa tujuan mereka.

Di jembatan perbatasan desa sebelum memasuki pagar gerbang, Fang merendahkan tubuhnya agar Boboiboy bisa turun. Begitu ia mengubah wujudnya kembali menjadi remaja biasa, tiba-tiba Boboiboy berubah panik menarik lengan Fang, menahannya agar tak melanjutkan langkah menuju desa, "Fang! Tu, tunggu sebentar...!"

"Eh? Apa? Kenapa?"

"Ng... bi, bisakah... kau berubah menjadi serigala saja...?"

Fang mengangkat salah satu alisnya heran, "Kenapa aku harus berjalan-jalan dengan wujud serigala?"

Boboiboy menunduk bingung menjelaskan sambil memainkan jemarinya di ujung mantel, "A, aku... telah mendengar nama besar keluargamu... Aku... ng..."

Fang terdiam. Ia mulai mengerti, Boboiboy tak ingin orang-orang yang telah mengenalnya tahu bahwa ia adalah salah satu anggota keluarga yang tersohor dalam dunia halfter. Sejujurnya Fang agak kecewa, tak bisa menggandeng mesra tangan kekasihnya. Tapi ia bisa memaklumi sifat Boboiboy yang sederhana.

"Baiklah...," Fang mengubah kembali wujudnya sambil tersenyum kecil. Boboiboy merasa menyesal telah meminta hal demikian pada Fang. Tapi pemuda tersebut mengeluskan kepalanya pada lengan Boboiboy, menunjukkan bahwa ia tak keberatan sama sekali.

Boboiboy terdiam sambil mengelus wajah sang serigala. Bahkan dalam wujud demikian, ketampanan Fang masih tampak jelas dengan gagahnya. Boboiboy merasa tidak enak membuat Fang melakukan permintaan yang dianggap gadis tersebut begitu egois.

"Maafkan aku, Fang..."

"Hei... aku mengerti... tak apa-apa..."

Fang begitu menikmati sentuhan lembut tangan Boboiboy yang mengelus sekeliling lehernya. Sang serigala manja begitu menyukai ketika gadis itu melingkarkan tangannya pada lehernya, memeluk erat bagai tak ingin melepaskan Fang.

Fang tak ingin Boboiboy terus merasa bersalah. Dengan nada ceria, Fang mengajak kekasihnya meneruskan tujuan semula mereka, "Ayo, kita telusuri desa ini...! Kalau ada yang ingin kau lihat atau beli bilang saja... kita bisa berhenti dan melihat-lihat dahulu...!"

Boboiboy mengangguk senang. Kini pemandangan seorang gadis manis dengan baju maid bertudung merah maroon dan seekor serigala yang gagah menarik perhatian semua orang di desa. Tentu saja semua orang tahu serigala tersebut adalah halfter, namun pemandangan manis tersebut bagai melukiskan kisah 'Si Tudung Merah dan Serigala' dalam nyata.

Tak ada yang mengenali serigala jejadian tersebut sebagai sang Tuan Muda dari keluarga Lang yang tengah mengubah wujud. Fang sendiri merasa lebih leluasa karena tak ada yang menyadari keberadaannya.

Ia ingat terakhir kali ketika masih sebelas tahun ia menemani ibunya ke pasar, nyaris semua orang memperlakukannya terlalu istimewa sehingga ia tak dapat menikmati waktu sendiri. Sejak itu ia malas keluar kastil meski hanya untuk sekedar jalan-jalan kecuali ke sekolah. Dan sekarang ia tengah berjalan bersama pujaan hatinya. Sungguh waktu yang benar-benar diidamkan sejak dahulu.

Dan... tak ada yang boleh mengganggunya.

Tidak satu pun.

Namun Boboiboy begitu ramah menyapa semua kenalannya yang menyapa dirinya di sepanjang jalan. Fang sendiri terkagum. Boboiboy baru ke pasar itu sebanyak tiga atau empat kali, tapi nyaris semua orang di pasar dan kedai telah mengenalnya dengan akrab.

Di dekat sebuah kedai, seorang wanita tua tengah menyapu lantai beranda depan. Wanita yang pernah ditolong Boboiboy melayani pelanggan menyapanya, "Halo, Boboiboy... Siapa teman serigalamu itu...?"

"Eh... ng... di, dia... Fa..."

"Nama saya Fall... saya teman Boboiboy, nyonya."

Boboiboy yang kebingungan bagaimana hendak mengenalkan Fang, lega begitu tahu bahwa Fang sadar akan keraguan Boboiboy, maka ia memotong kata-kata sang gadis sebelum berlanjut.

Kedua insan tersebut melanjutkan perjalanan mereka. Ada banyak hal-hal yang biasa bagi Fang justru membuat Boboiboy takjub. Seperti melihat para Golem melakukan pekerjaan mereka menempa peralatan bertani, di mana para peri membantu mewarnai bunga di sebuah toko bunga, dan banyak hal lain yang membuat Fang tak bisa menahan senyum melihat mata Boboiboy yang berbinar, begitu terpukau pada dunia yang dipenuhi keajaiban tersebut.

Begitu keduanya melewati toko khusus jahit, Boboiboy terhenti di depan etalase toko yang memperlihatkan berbagai macam kain dan renda. Fang tahu gadis itu tengah tertarik pada sesuatu.

"Ayo masuk...," ajak Fang.

Di dalam toko, seorang ibu menyambut mereka. Boboiboy girang melihat segala kain bercorak indah, terlebih renda-renda manis dengan berbagai macam pola yang tersusun rapi dalam rak.

Sementara Boboiboy asyik memilih-milih renda, Fang membaringkan tubuhnya di lantai kayu toko.

"Gadis yang jeli... matanya sangat teliti memilih barang yang bagus...," puji sang penjaga toko sambil tersenyum. Fang turut tersenyum mendengar pujian itu, "Anda benar... bahkan tangan-tangannya sangat telaten mengerjakan berbagai macam hal..."

Boboiboy telah menemukan renda yang ia sukai. Fang geli melihat gadis itu tak bisa menutupi ekspresi bahagianya ketika ibu penjaga toko mengukur renda dengan meteran sesuai pesanan Boboiboy. Bahkan sang ibu gemas padanya, sampai hati beliau memberikan bonus beberapa senti renda untuk Boboiboy.

Boboiboy tak sanggup menyembunyikan betapa senang dirinya hingga memekik sambil memeluk-meluk bungkusan berisi renda seusai membayar. Dalam perjalanan, gadis tersebut terus memeluk bungkusan tersebut bagai seorang anak kecil memeluk boneka yang baru dibelikan untuknya.

Fang tak bisa menahan diri untuk tak bertanya, "Untuk apa renda-renda itu...?"

"Aku ingin membuat celemek seperti yang diberikan nyonya untukku... Aku tak bisa mengenakan celemek ini setiap hari... akan cepat rusak dan tak ada ganti... sudah lama aku ingin mencucinya... Nyonya memberikanku bahan-bahan kain yang begitu bagus, sayang kalau tak dipakai..."

"Kau akan menjahit celemek untuk dirimu sendiri? Kenapa tak beli baru saja langsung? Jadi tak perlu repot..."

Boboiboy menggeleng, "Aku bisa membuat model yang kusukai... dan lagi, celemek baru akan jatuh lebih mahal jika dibeli langsung jadi..."

Sungguh gadis yang sederhana. Fang begitu mengagumi Boboiboy. Gadis itu membuat Fang yakin akan pilihannya untuk segera menikahi Boboiboy. Namun ia sadar, ia tak bisa memaksa gadis pemalu tersebut untuk buru-buru menikah.

Toko permen, toko parfum, toko khusus teh dan kopi, hingga toko rempah semua mereka kunjungi. Fang tak menyangka bisa sesenang itu meski hanya berjalan-jalan dan melihat-lihat. Boboiboy membeli biji kopi untuk Hao dan parfum untuk Elizabeth atas saran Fang. Tadinya Fang merasa Boboiboy tak perlu melakukan hal demikian, namun ia tak ingin merusak suasana hati sang gadis.

"Fang... kau mau sesuatu?"

"Eh? Aku?"

Fang kebingungan begitu ditanya Boboiboy. Tak ada hal yang spesifik ia inginkan, terlebih ia tahu Boboiboy hendak membelikannya sesuatu dengan uang jajannya sendiri. Bukannya Fang tak senang, hanya saja ia merasa bahwa tak seharusnya seorang gadis membelikan sesuatu untuk seorang pria. Apalagi Fang merasa ia sanggup membeli apapun yang ia inginkan dengan uangnya sendiri.

"Hmm, tidak... tak ada sama sekali..."

Boboiboy terdiam. Ia tahu apa yang Fang pikirkan.

"Ng... kalau dipikir-pikir... aku sama sekali tak mengenalmu... sementara kau begitu tahu apa kesukaanku dan hobiku... Apa boleh aku mengenalmu lebih dekat, Fang...?"

Fang ingin rasanya mencubit diri sendiri. Meyakinkan dirinya bahwa ia tidak bermimpi, melihat Boboiboy malu-malu menanyakan tentang diri Fang sambil menunduk merona. Fang merasa ia bisa gila dimabuk cinta melihat pemandangan tersebut. Namun sang serigala jejadian berusaha menahan diri dan nafsunya, "Ehem... hmm, aku... aku suka membaca buku... makanan kesukaanku donat lobak merah dan daging, aku suka teh mint... apa itu cukup?" Fang tersenyum menatap Boboiboy.

Gadis tersebut menggeleng kecil, membuat Fang mengangkat alis, "Maksudku... Aku senang sekali jika bisa mengisi waktu bersamamu... perlahan-lahan bisa mengenalmu... Tapi, terimakasih kau telah memberi tahu tentang dirimu padaku tadi...," Boboiboy memeluk leher Fang lembut, "Hanya saja... aku ingin mengenalmu dengan usahaku sendiri... Ta, tapi aku tak ingin mengganggumu... ijinkan aku selalu bersamamu... aku tak akan mengganggu, aku janji..."

Fang terdiam, senyuman kecil menghias wajahnya, "Satu hal yang pasti harus kau tahu, Boboiboy... aku mencintaimu... dan aku akan selalu bersamamu, melindungimu..."

Boboiboy berganti terdiam. Ia memeluk kepala Fang, mencium dahi sang serigala, membuatnya sedikit terkejut dan merona, "Aku juga mencintaimu, Fang... entah dari mana datangnya perasaan ini... tapi kini aku yakin bahwa aku... memiliki perasaan yang sama denganmu..."

Fang sungguh berharap cinta yang ada di dalam diri Boboiboy bukan karena pengaruh hipnotis dari dirinya. Namun Fang merasa ia tak bisa berharap lebih maupun bermimpi untuk memiliki Boboiboy secara utuh. Memiliki cintanya, jiwanya, raganya, dan kasih sayang sang gadis secara nyata.

"Boboiboy..."

Menatap mata yang lembut penuh kehangatan di hadapannya, Fang begitu menyesal pernah tak sengaja menghipnotis Boboiboy. Kini ia tak tahu apakah cinta Boboiboy adalah murni dan nyata dari gadis itu untuk dirinya...

Aku tak peduli lagi... kalau memang cinta dalam dirinya untukku bukanlah cinta yang murni... Aku hanya ingin mencintaimu dan bersamamu selalu, Boboiboy...


TBC...