Ada yang berencana ke Cocoon di JDC Jakarta minggu depan? Saya akan di sana seharian ^^7 See you at Cocoon ^^
Owl's Letter
Merasa sudah lama berjalan-jalan, keduanya memutuskan untuk kembali ke kastil rumah keluarga Lang. Fang membantu Boboiboy membawakan belanjaannya di dalam tas yang diikatkan di punggung sang serigala dengan erat.
Namun sebelum keduanya berjalan menuju gerbang perbatasan desa, Boboiboy terhenti. Matanya terpaku pada sesuatu. Fang bingung dan berusaha mengikuti pandangan Boboiboy.
Dalam sunyi hembusan angin, nampak sebuah rumah mungil yang dikelilingi sulur akar pohon yang membuat rindang rumah tersebut. Pohon besar yang usianya bagai ratusan tahun berdiri kokoh menaungi rumah mungil yang ternyata adalah toko bunga dengan segala bunga berwarna-warni yang dipajang di depan toko, menghias dengan cantiknya. Papan kayu nama toko 'Fleur' terpampang cantik tergantung di dinding kayu rumah mungil tersebut. Wangi semerbak tercium dari bunga-bunga di toko, membuat Boboiboy tertarik ingin mendekatinya.
Fang tersenyum kecil melihat Boboiboy yang ragu-ragu ingin mengunjungi toko tersebut. Dengan kepalanya, Fang mendorong perlahan punggung Boboiboy, memaksanya mengunjungi toko bunga tersebut.
"Ayolah... kau tak perlu ragu-ragu begitu..."
"Eh... ta, tapi... ng... lain kali saja, Fang... kita sudah berjalan terlalu lama... aku khawatir Tuan dan Nyonya terbangun dan menyadari kita pergi begitu lama..."
"Jangan dipikirkan... Mereka tak mungkin bangun pada jam-jam begini..."
Boboiboy terdiam ragu memainkan jemari di depan perutnya. Fang terdiam. Ia akhirnya sadar Boboiboy begitu bertanggung jawab dan tak ingin membuat orang lain repot atau khawatir. Fang memiliki sebuah ide seiring kepalanya celingukan mencari-cari sesuatu, "Ah, itu dia... ayo ikut denganku..."
Boboiboy hanya diam tak banyak bertanya berjalan mengikuti Fang menuju sebuah bangunan. Dan kini ia menemukan dirinya berada di dalam... kantor pos? Tapi ada yang berbeda dari kantor pos tersebut. Di samping bangunannya yang nampak klasik dengan arsitektur Eropa berdinding batu bata merah dan rak-rak besar dari kayu yang berjejer di dalamnya. Fang berjalan diikuti Boboiboy memasuki gedung tersebut lebih dalam hingga terasa semakin gelap. Hanya ada lampu besar dengan lilin-lilin yang menerangi gedung bernuansa remang tersebut.
Lama Boboiboy perhatikan, baru disadari sang gadis bahwa rak yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit tersebut bukanlah rak biasa. Ada burung hantu dengan berbagai macam jenis di dalamnya melongokkan kepala mereka dan ada beberapa yang tidur. Gadis itu menarik napas kagum. Semua hal di dalam gedung itu nampak misterius dan anggun. Dirinya kembali berdegup penuh rasa takjub.
Lantai batu kokoh yang dipijak Boboiboy membuat gema langkah kakinya di antara suara-suara para burung hantu yang bersahut-sahutan lembut. Suara orang-orang yang ada di dalam gedung berbisik-bisik tak banyak membuat suara. Mungkin mereka tak ingin membuat para burung hantu terganggu.
Fang mendekati sebuah meja kayu panjang yang membatasi ruangan dengan para rak tinggi yang berjejer , dengan segala macam buku dan kertas di atasnya.
"Permisi... kami ingin menyampaikan pesan kilat..."
Seorang tua yang duduk di balik meja panjang, membetulkan letak kacamata di wajahnya sambil segera memberikan kertas dan sebuah pita lebar berwarna coklat tua di atas meja tepat di hadapan Fang. Pakaian sang pria tua persis seperti pegawai kantor pos biasa, dengan kemeja putih dan vest coklat tua yang melapisi di bagian luar dengan kantong-kantong berkancing.
Sang serigala muda menoleh pada Boboiboy dan memintanya untuk mendekat ke sampingnya, "Ambillah kertas itu, Boboiboy... ayo kita ke meja di dekat tembok sana..."
Boboiboy menuruti Fang. Keduanya berjalan ke seberang ruangan, di mana meja berbilik ada beberapa berjejer menghimpit tembok. Nampak beberapa orang tengah menulis sesuatu di atas kertas dibatasi bilik dengan meja lain agar privasinya terjaga. Boboiboy menghampiri salah satu bilik, menemukan lampu dengan kap-nya yang berbentuk kelopak mahkota bunga menunduk tertutup, dan pena bulu yang mencuat dari botol tinta di samping lampu. Begitu Boboiboy berdiri tepat di hadapan meja berbilik tersebut, kap lampu merekah mekar dan lampu dari dalam mahkota tersebut menyala menerangi kertas di atas meja. Boboiboy kaget berdecak kagum. Tak kuasa ia menahan sebuah komentar dari bibirnya, "I, indahnya..."
"Nah, tulislah pesanmu untuk ayah dan ibuku... nanti akan ada burung hantu yang menyampaikan pesanmu untuk mereka...," Fang menjelaskan bagaimana cara kerja pos di dunia tersebut. Tentu saja Boboiboy senang sekali mendengar sebuah keajaiban lagi dari dunia yang ditinggali Fang.
"Aku akan menunggumu sambil berbaring di bawah meja, yah..." Fang menundukkan kepalanya dan berjalan memasuki kolong meja untuk menjaga privasi Boboiboy agar ia bisa menulis apapun yang diinginkannya.
Usai Boboiboy menulis, Fang meminta surat tersebut digulung dan diikat dengan pita yang diberikan bersama kertas tadi. Sebelumnya, pada pita tersebut telah ditulis 'Untuk Tuan Hao Lang dan Nyonya Elizabeth Lang', yang tiba-tiba begitu saja menghilang bagai terserap oleh bahan pita sehingga tak dapat dibaca siapa pun.
Keduanya kembali menghampiri meja panjang, Fang maju lebih dekat agar orang tua di hadapannya bisa melihatnya, "Tolong burung hantu jenis Bott..."
Dari balik meja, pegawai pos burung hantu menarik sebuah tuas, hingga terdengar sebuah dentingan kecil membuat sebuah kandang burung hantu yang berada di rak paling atas menyala kecil. Seekor burung hantu berukuran tak begitu besar berwarna kuning keemasan menghampiri pos di mana Boboiboy dan Fang berdiri. Warna mata biru menyala bagai warna langit memandangi surat yang dipegang oleh Boboiboy. Nampak ia mengerti apa yang harus dilakukannya.
Fang meminta Boboiboy memasukkan suratnya pada tabung yang diikatkan pada kaki burung hantu dengan sabuk kecil yang sudah disediakan kantor pos. Sabuk kecil yang tak akan lepas dari kaki burung pengantar surat meski cuaca seburuk apapun. Burung hantu tersebut langsung lepas landas mengepakkan sayap-sayapnya keluar dari gedung tersebut.
Boboiboy menatap dengan kagum, sembari matanya mengikuti ke mana burung hantu tersebut pergi hingga menghilang dari pandangan, "Lu, luar biasa sekali..."
Orang tua pegawai kantor pos mengangkat alisnya, heran mendengar kata-kata Boboiboy. Fang tersenyum kecil, "Ia baru di sini...," penjelasan Fang membuat seorang tua tersebut mengangguk mengerti.
Boboiboy merasa lebih tenang mengetahui surat tulisannya akan sampai pada Elizabeth. Kini ia bisa mengunjungi toko bunga yang menarik perhatiannya.
Di depan toko bunga yang rindang, Boboiboy mengagumi segala keindahan bunga-bunga yang terpampang cantik menghias teras depan toko. Fang menemani Boboiboy yang membuka perlahan pintu depan toko dengan papan kayu kecil bertuliskan 'open' tergantung di balik kaca pintu.
Perlahan Boboiboy membuka daun pintu yang sedikit berderit. Begitu daun pintu terbuka lebar, dengan perlahan Boboiboy dan Fang memasuki ruangan yang memperlihatkan seisi toko dipenuhi dengan berbagai macam tanaman, bahkan tanamanyang tak pernah Boboiboy lihat sebelumnya.
Semakin dalam keduanya memasuki toko tersebut, barulah mereka sadari bahwa keduanya disambut oleh seorang wanita tua dengan akar tumbuhan yang menyelimuti tubuh rentanya, tengah duduk pada bangku yang bersandar di tembok kayu ruangan. Sulur akar tanaman kering bermunculan di balik tudung berwarna hijau tuanya bagai menggantikan rambut dengan beberapa helai daun kering. Bangkit dari duduknya, perlahan sang nenek membungkuk dan berjalan, menimbulkan suara deritan kayu pohon tua seiring dirinya berjalan menyambut tamu yang datang.
Senyuman hangat di wajahnya membentuk kerutan-kerutan bagai ruas-ruas batang pohon tua. Boboiboy membalas senyuman ramah tersebut sambil membungkukkan sedikit tubuhnya dengan hormat.
"Sudah lama aku tak mendapatkan tamu dengan usia yang begitu muda... Selamat datang, anak-anakku...," suara renta bagai desiran angin terdengar menenangkan hati. Boboiboy berjalan mendekat dan menatap mata tua kehijauan warna emerald sang nenek, "Bolehkah... saya melihat-lihat...," pertanyaan sang gadis dijawab dengan senyuman yang lebih lebar dan anggukan dari sang tua.
Sungguh toko mungil yang indah. Nyaris semua perabot terbuat dari kayu, menimbulkan wangi hutan yang segar dengan bunga-bunga yang menghias. Mata Fang berkeliling menerka-nerka bunga mana yang membuat Boboiboy tertarik. Pastilah yang berwarna manis dan wangi ceria.
Namun dari sekian banyak bunga berwarna cerah dan anggun, Boboiboy mendekati sebuah pot dengan mawar putih polos.
Mawar putih yang bersih namun tak seanggun mawar merah, dan warnanya tak semenarik bunga yang lain. Bunga yang nampak kesendirian di antara ramainya bunga yang lain. Wanginya pun sangat lembut, tak mencolok seperti yang lain. Fang bingung mengapa gadis itu justru tertarik pada bunga yang polos tersebut.
"Maaf... berapakah harga mawar putih ini...?"
Senyuman kembali menghias di wajah seorang tua, "Untuk gadis berhati lembut sepertimu, Boboiboy... tak ada harga yang bisa diucapkan dari mulut tua ini..."
Boboiboy terkejut. Ia merasa dirinya belum menyebutkan nama sama sekali sebagai perkenalan. Jadi, bagaimana mungkin...?
"Seekor lebah kecil mendengungkan namamu dan menceritakan kisahmu untukku yang tua ini...," jawab sang nenek tua yang bahkan tak menerima pertanyaan secara lisan dari Boboiboy.
Boboiboy masih belum mengerti. Ia berbalik memandang Fang yang dipikirnya mungkin tahu sesuatu. Namun Fang sendiri ternyata juga tak tahu menahu soal nenek tersebut. Sang serigala jejadian tersebut hanya bisa menggeleng sambil mengangkat bahu dengan wajah kebingungan.
"Diriku yang sudah tua ini tak sanggup lagi berjalan-jalan keluar... yang bisa menghiburku dari kebosanan hanyalah cerita-cerita yang didengungkan para lebah, dihembuskan oleh angin, dan dibisikkan oleh para bunga... Kau wahai gadis berhati mulia... para peri mengunjungiku dengan kisah mereka mengenai dirimu, serta seekor lebah pekerja yang dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik karena kau tak memetik bunga yang dihinggapinya..."
Boboiboy terdiam dan akhirnya berhasil mengingat lebah yang sedang menghisap sari bunga di taman belakang. Kembali dalam benak Boboiboy terpikir, apalah artinya untuk tidak memetik setangkai bunga karena adanya lebah pekerja di situ? Sungguh tak sebanding dengan harga yang mungkin bisa membeli setangkai bunga lain...
"Ta, tapi... saya ingin membeli bunga mawar putih yang indah ini... saya..."
"Maka bunga itu milikmu, sayang... bawalah... Bunga itu memang menunggu dirimu untuk membawanya pergi..."
Boboiboy semakin tak mengerti. Ia merogoh tas kecil berisi uang dan memberikan beberapa keping untuk sang tua.
"Sa, saya tak bisa melakukannya... saya harus membayar atas apa yang saya inginkan... ma, maafkan saya...," suara Boboiboy semakin kecil seiring kepalanya menunduk.
Sang nenek tersenyum, "Meski tubuhmu mungil... namum ternyata kau keras kepala juga...," Boboiboy semakin menunduk dan merona mendengar tawa kecil sang nenek.
"Kalau begitu, bagaimana kalau begini saja... Kau membayar bunga tersebut dengan membuatkanku teh jahe kayu manis... maka lunaslah apa yang ingin kau bayar, anakku..."
Boboiboy mengangguk setuju. Fang mengikuti sang gadis menuju dapur yang dipenuhi bunga dan rempah. Keduanya tak bisa menahan takjub. Bahkan Fang belum pernah melihat bunga sebanyak itu dalam sebuah ruangan.
Di dapur, Boboiboy melihat sebuah tungku dengan teko tua serta beberapa cangkir yang terletak di dekat lemari kayu beserta bahan-bahan masakan dan minuman. Wangi rempah dan segarnya tanaman mengelilingi dapur kecil yang terang tersebut. Fang mendongak menyadari tak ada langit-langit yang menutupi atap. Hanya dedaunan rindang yang membiarkan cahaya matahari mengintip memberikan cahayanya hingga ke lantai dapur.
"Wow... rumah ini pasti sering kebanjiran kalau hujan..."
Boboiboy turut mendongak mendengar komentar Fang. Namun lantai kayu yang mereka pijak sama sekali tak menunjukkan adanya kerusakan karena banjir atau air yang menggenang. Memang ada beberapa jamur yang merambat di tembok. Namun jamur raksasa tersebut justru menjadi hiasan bahkan tempat menaruh sesuatu di atasnya.
"Umm, mungkin pemilik toko ini memiliki cara sendiri untuk merawat rumah...," Fang semakin penasaran mengendus-endus kayu berlubang yang ternyata tempat penyimpanan bahan rempah.
Boboiboy mulai meracik teh pesanan nenek penjual bunga. Sementara Fang penasaran dengan beberapa jenis bunga yang ada di situ, dan pada keputusan Boboiboy...
"Boboiboy... dia memberimu bunga itu dengan cuma-cuma... kenapa tak kau terima saja?" Fang mendekati moncongnya pada sang gadis yang membalasnya dengan gelengan.
"Segala hal yang kuterima di dunia ini begitu indah dan baik. Kebaikan yang sangat hangat seperti ini terkadang membuatku tak nyaman..."
Fang memiringkan kepalanya tanda tak mengerti pada ucapan Boboiboy. Gadis tersebut menghentikan kegiatannya sambil menatap Fang dengan senyum, "Bukan berarti aku mencurigai kebaikan yang diberikan untukku... hanya saja, hati ini lebih nyaman jika bisa membalas sebuah kebaikan yang hangat..."
Fang mengangguk kecil. Ia mendampingi Boboiboy yang sedang meracik teh.
Fang sangat suka ketika jemari-jemari gadis pujaannya tengah sibuk membuat sesuatu. Nampak begitu terampil dan telaten. Matanya serius namun lembut menatap apa yang ia kerjakan. Dulu, Fang hanya bisa melihat itu dari kejauhan. Kini jelas begitu dekat bisa ia lihat di depan matanya. Sungguh pemandangan indah bagi sang werewolf.
Keduanya kembali ke hadapan sang nenek tua sambil membawakan secangkir teh. Begitu bibir yang berkeriput menyentuh cangkir dan menyeruput teh, sebuah helaan napas mengiringi setelah sang nenek meneguk tehnya, "Ini teh yang paling nikmat yang pernah kurasakan... terima kasih, nak... Nah, ambillah bunga mawar putih itu... jagalah ia baik-baik..."
Boboiboy begitu senang memeluk pot mawar putih dari sang nenek.
"Dan kau Tuan Muda werewolf... jaga gadis itu baik-baik...," Fang mendengus pada nasehat sang nenek yang berbisik padanya, "Aku akan melakukannya tanpa disuruh siapapun..."
Seyuman lebar dan kekeh kecil mengiringi kedua insan tersebut keluar dari toko. Boboiboy membungkukkan badannya dengan penuh rasa terima kasih pada nenek tua yang duduk santai di dalam tokonya.
Begitu pintu toko tertutup pelan meninggalkan sang nenek sendirian, terdengar dentingan kecil dari arah langit-langit yang dirambati akar pohon dan batang kayu yang besar-besar. Dari tempat yang tinggi, suara dentingan terdengar semakin dekat, melompat-lompat hingga menapakkan kaki-kaki berbulu hitamnya di lantai.
Night, si kucing hitam mengeluskan tubuhnya dengan manja pada kaki sang nenek. Kemudian memanjat dan membuat dirinya nyaman di pangkuan wanita tua tersebut. Senyuman kembali mengiringi wajah sang nenek begitu para peri terbang mendekat dan duduk di bunga-bunga sekitar toko.
"Pengantin Sang Werewolf... Tak kuduga bisa bertemu dengannya secepat ini... Seperti kata kalian, ia gadis yang lembut dan sederhana... Ia telah memilih apa yang memang miliknya..."
Para peri terbang menuju kaca pintu toko, memperhatikan Boboiboy yang berjalan menjauh bersama Fang, dengan pot bunga mawar putih di pelukannya.
"Mawar itu telah memilihnya... memilih seorang gadis yang memiliki hati suci..."
Fang berjalan di samping Boboiboy, hingga sampai di gerbang perbatasan desa, barulah ia merendahkan tubuhnya agar Boboiboy bisa menaiki punggungnya. Namun gadis itu hanya diam tak bergerak sambil memperhatikan belanjaan yang terikat erat pada punggung Fang. Ada sebuah tas kecil berisi oleh-oleh untuk Tuan dan Nyonya, renda belanjaan Boboiboy, dan kini ada pot bunga mawar putih di pelukannya. Senyuman kecil yang manis tak sanggup ditahan lagi oleh sang gadis. Wajahnya merona bahagia.
Fang kebingungan mengapa Boboiboy belum juga menaiki punggungnya, "Boboiboy...? Kau baik-baik saja...?"
Boboiboy mengangguk, "Terima kasih, Fang... aku... ini pertama kalinya aku belanja untuk diriku sendiri... rasanya sungguh... menyenangkan..."
Fang terdiam sambil memandangi gadis manis di sampingnya. Sebuah senyuman dari Fang seakan menunjukkan bahwa sang werewolf siap mengantar ke manapun gadis itu inginkan.
Sementara di kastil keluarga Lang, sang Nyonya yang terbangun di pagi hari tak mendapati anak gadis kesayangannya di manapun. Dalam kepanikan, Elizabeth berhambur membangunkan suaminya. Hao yang masih terlelap tentu saja kaget dan kebingungan begitu istrinya mengguncang-guncang tubuhnya sambil berseru, "Boboiboy hilang...! Kita harus mencarinya...!"
Sang kepala keluarga berkepala dingin tak langsung panik melihat istrinya yang kembali berhambur keluar kamar... dan kembali lagi.
"Fang juga hilang...! Jangan-jangan Fang mengajaknya nekat kawin lari!"
Hao menggelengkan kepalanya sambil mengenakan mantel tidur dan berjalan perlahan keluar kamar mengikuti istrinya yang kembali memeriksa kamar Fang. Tapi Hao hanya menghela napas dan melanjutkan langkah ke ruang kerjanya. Elizabeth menyusul Hao sambil mengomel, "Kok kamu malah santai begitu, sih!?"
Sebelum omelan Elizabeth berkepanjangan, Hao memintanya duduk di sofa bersama dirinya.
"Aku tak bisa duduk santai sementara anak-anakku kawin lari, Hao...!"
"Elly, tenang dulu... Coba kamu rasakan aliran darahmu yang ada di dalam tubuh Boboiboy... Apakah alirannya tak wajar?"
Elizabeth terdiam. Ia tak merasakan adanya aliran darah yang aneh pada diri Boboiboy. Akhirnya sang Nyonya vampir bisa menenangkan dirinya.
Hao menggenggam tangan istrinya. Sebelum sang werewolf mengeluarkan kata-kata untuk kembali menenangkan istrinya, terdengar suara ketukan di kaca jendela. Hao berdiri dan menghampiri jendela yang masih tertutup tirai di mana sumber suara ketukan terdengar. Begitu ia membuka tirai, seekor burung hantu nampak bertengger di pinggir luar jendela. Dari cakarnya, Hao membuka tabung yang terikat dan mengambil sebuah gulungan. Begitu burung hantu tersebut pamit, Hao kembali menutup jendela dan membuka gulungan surat yang tertuju untuk dirinya serta Elizabeth.
"Dari Boboiboy..."
Elizabeth melesat mendekati suaminya begitu nama gadis kesayangannya diucapkan sebagai pengirim surat yang berada di tangan Hao.
.
Untuk Tuan dan Nyonya,
Mohon maaf kami tidak berpamitan sebelum pergi, namun Tuan Muda Fang mengajak saya untuk melihat-lihat daerah pedesaan. Saya sungguh minta maaf, karena sebenarnya ini keinginan saya sejak lama untuk lebih mengenal lingkungan rumah baru saya. Banyak sekali yang saya lihat dan temukan berkat ajakan Tuan Muda. Saya ingin menceritakannya lebih banyak pada Tuan dan Nyonya jika sudah pulang nanti...
Salam sayang,
Boboiboy
.
Elizabeth berubah girang setelah membaca surat tersebut. Ia benar-benar bahagia mengetahui bahwa Boboiboy telah menganggap tempat itu sebagai rumahnya sendiri. Hao kembali menghela napas melihat istrinya memeluk-meluk bantal sofa dengan bahagia.
"Sekarang kita tinggal menunggu mereka pulang... oke?"
"Ah! Kalau begitu aku mau masak...! Kali ini TANPA kekuatanku...! Aku akan membuatkan sesuatu sepenuh hatiku!"
"Ng... Elly... bukankah lebih baik kalau kau tidur saja...? Jadi kau bisa mendengarkan cerita dari Boboiboy nanti dalam keadaan segar..."
"Hmm, benar juga... Kalau begitu aku mau kembali tidur saja..."
Hao menghela napas lega. Ia tahu istrinya bukan koki yang handal jika ia tak menggunakan kekuatannya. Dan Hao lega nyawa Boboiboy selamat karena Elizabeth mengurungkan niatnya untuk memasak.
Sambil melihat jam Hao terdiam berpikir agak lama, membuat Elizabeth memandanginya heran.
"Hao... kau tak kembali tidur...?"
"... Sudah lama aku tak memeriksa dengan mata kepalaku sendiri keadaan di padang rumput... Lebih baik aku mengunjungi para pekerja mumpung hari ini cerah..."
Hao berjalan menemani istrinya menuju kamar. Tapi di depan lemari pakaiannya, Hao mengganti piyama dengan kemeja dan sweater tebal serta celana untuk bepergian lengkap dengan mantel dan scarf leher.
"Ooh, kalau begitu hati-hati, yah... aku mau kembali tidur..."
Hao mencium istrinya sebelum ia meninggalkan kamar.
Di depan pintu kastil, Hao mengeratkan mantel dan mulai berjalan menuju padang rumput, di mana para domba ternaknya tengah menikmati rerumputan hijau segar.
TBC...
