Love and Home

Sementara dua insan yang tengah menelusuri pepohonan menuju jalan pulang, kini melewati padang rumput luas yang dipagari untuk melindungi para hewan ternak di dalamnya.

Fang yang tadinya asyik mengoceh bercerita untuk Boboiboy yang berada di punggungnya tiba-tiba terhenti sambil mengibaskan ekor dengan kencang melihat domba-domba yang sedang menikmati rerumputan segar dengan damainya.

"Boboiboy... bolehkah aku bersenang-senang... sebentar saja?"

Boboiboy tentu saja tak bisa melarang wajah penuh kebahagiaan yang cerah tersebut. Hanya saja gadis itu tak mengerti kesenangan apa yang Fang maksud, "Eh, ng... boleh saja..."

Boboiboy turun dari punggung Fang di dekat pepohonan agak jauh dari padang rumput dengan pot bunga di pelukannya. Fang mulai mengendap-endap mendekati padang rumput dan kerumunan domba dengan amat sangat mencurigakan. Matanya bersinar nakal mengawasi para domba dari kejauhan. Sementara, Boboiboy merasa mulai mengerti apa yang akan dilakukan Fang, "Di, dia akan memangsa para domba itu!?"

Benar saja, begitu Fang dekat dengan para domba, ia langsung melompat menampakkan wujud serigala yang mengejutkan para domba membuat kesemuanya berlarian dan berhamburan ke mana-mana.

Boboiboy panik dan berlari dengan pot bunga di pelukannya mendekati padang rumput melihat Fang mengejari domba-domba malang tersebut, "Fa, Fang! Hentikan...!"

Tapi begitu terhenti di dekat dengan pagar, gadis tersebut mulai bisa melihat jelas bahwa Fang hanya mengejar sambil menyalak-nyalak tak tentu, menikmati kepanikan para domba yang dikejarnya. Boboiboy menghela napas melihat sifat kekanakan sang Tuan Muda, "Dia ini... sedang apa sebenarnya, sih...?"

Tak lama, ada yang muncul dengan tiba-tiba di hadapan Fang mengejutkan dirinya. Melompat tajam menghadang dengan penuh misteri. Fang terkesiap berhenti menghadapi seekor serigala besar dengan bulunya yang segelap malam, yang Fang ketahui sebagai...

"Eh... A, ayah... eheheh..."

Helaan napas membuat udara di sekitar moncong Hao memutih, "Kau ini, Fang... sedang apa, sih...?"

Boboiboy berlari dengan terburu-buru mendekati ayah dan anak werewolf di tengah padang rumput hijau nan luas. Kedua serigala tersebut mengubah wujud mereka menjadi manusia, diiringi sebuah cengiran di wajah Fang, sementara Hao hanya bisa berusaha mengerti akan sifat kekanakan anaknya.

"Kau sudah berusia lima belas tahun tapi masih saja bandel begini... lihat, ternak jadi tercerai berai karena ulahmu... Dan lagi kau ini serigala, bukan anjing, jangan menyalak-nyalak seperti itu lagi..."

Fang mengerucutkan bibir dan memainkan jemari di balik punggung sambil menoleh ke arah lain tanpa ada ekspresi bersalah sama sekali di wajahnya, meski ia tahu para penggembala dan peternak yang bekerja untuk Hao tengah panik sibuk mengumpulkan kembali para domba. Jelas ia menikmati kenakalannya.

Boboiboy terengah-engah menghampiri Fang dan ayahnya, "Fa, Fang... apa, sih... hh... yang kau... hh... lakukanhh...? Kasihan... hh... domba-domba itu... hh..."

"Habis... sudah lama aku tak lakukan itu... menyenangkan, loh...! Boboiboy, lain kali kau juga ikutan, yah...!"

Boboiboy menarik napas terpanjang dan menggelengkan kepalanya, "Fang... kan' kasihan para penggembala dan para domba itu... bayangkan kalau mereka mengiramu serigala sungguhan dan kau akhirnya diburu... Aku takut sekali tadi..."

Barulah wajah Fang menunjukkan rasa bersalah. Ia telah membuat khawatir Boboiboy karena kenakalannya. Perlahan ia menoleh pada ayahnya yang menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, menunggu kalimat terucap dari bibir anaknya.

"Ma, maafkan aku, ayah... Maaf, Boboiboy..."

Dua orang penggembala datang mendekati Tuan mereka dengan terengah-engah, "Tu, Tuan Hao... para domba ini tersebar terlalu jauh... kami tak bisa..."

"Kalian tenang saja... anakku akan bertanggung jawab atas ulahnya... Ya' kan, Fang?"

Fang menunduk malu sambil nyengir. Setelah ia meminta maaf pada para pekerja, ia kembali mengubah dirinya menjadi serigala dan mengumpulkan para domba berkumpul lagi di padang rumput. Boboiboy dan Hao yang memperhatikan dari jauh bisa melihat bahwa sebenarnya Fang begitu menikmati berlarian di padang luas dan menggonggong sekeras mungkin, "Dia pikir dia ini anjing, apa...?" Hao memijit dahinya membuat Boboiboy tertawa kecil melihat Tuan Besar Hao Lang begitu pasrah menghadapi kenakalan anak semata wayangnya.

Hao memperhatikan bunga mawar putih pada pot yang dipeluk Boboiboy. Ia tersenyum tahu bahwa gadis itu menikmati jalan-jalan bersama Fang bahkan belanja untuk dirinya sendiri. Hal yang selalu diinginkan Elizabeth, agar Boboiboy bisa melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri tanpa segan.

"Bunga yang indah... Kau senang, Boboiboy?"

"Ah, terimakasih...! Saya senang sekali...! Belum pernah saya membeli sesuatu untuk diri saya sendiri seperti ini...!" Boboiboy menyadari bahwa seharusnya pagi adalah jam istirahat Hao, tapi sang kepala keluarga justru keluar kastil bahkan tanpa istrinya, "A, anu... kenapa anda tidak istirahat, Tuan...?"

"Hmm... sudah lama aku tak keluar pagi begini untuk mengawasi para pekerjaku sendiri, jadi aku kemari... kebetulan kami mendapat surat pesan burung hantu darimu..."

Hao kembali tersenyum melihat wajah cerah Boboiboy yang tahu bahwa suratnya yang diantar seekor burung hantu telah diterima oleh kedua orang tua asuhnya, "Burung hantu itu sampai di kastil, Tuan!?"

"Tentu saja... bahkan Elly kembali melanjutkan istirahatnya dengan cepat agar ia bisa mendengar pengalamanmu hari ini..."

Boboiboy sungguh senang mendengarnya. Rasanya tak sabar ia ingin menceritakan segala pengalaman di desa kecil kesayangannya itu.

Fang kembali dengan napas tak beraturan menjulurkan lidahnya namun ekornya terus terkibas senang, bahkan ia melompat-lompat dan berlari mengelilingi Hao dan Boboiboy. Hao menggeleng kepala melihat Fang begitu bahagia bisa berlarian hingga puas dan meluapkan segala energinya yang ada. Boboiboy tertawa geli melihat kelakuan Tuan Mudanya yang begitu bersemangat.

Fang menghampiri Boboiboy yang langsung meletakkan pot bunganya di atas rerumputan dan berlutut menyambut Fang dengan memeluk leher sang serigala jejadian sambil menggaruk-garuk gemas padanya. Sementara Fang dengan manjanya menikmati pelukan dan garukan penuh sayang dari Tuan Putri berbaju pelayannya. Ekornya terus terkibas cepat. Belum pernah Hao melihat anaknya seperti itu. Ia berusaha menahan tawa karena melihat anaknya yang begitu lugu dimabuk cinta.

"Seperti majikan dan peliharaannya...," Hao hanya bisa berkomentar dalam hati melihat anaknya begitu manja pada Boboiboy. Dan gadis itu nampak tak keberatan dengan sikap manja Fang, justru gemas menggaruk-garuk sambil memeluk leher sang serigala.

Para penggembala mendekati tuan besar mereka sambil mengelap peluh dengan lega setelah memasukkan para domba ke kandang mereka. Fang yang melihat kedatangan mereka sebenarnya merasa terganggu karena saat-saat bermanja-manja dengan Boboiboy harus berhenti. Ia mengubah dirinya menjadi wujud manusia dengan telinganya yang masih berwujud telinga lancip serigala.

"Tuan muda Fang...! Anda sudah sebesar ini rupanya...!" Nampak begitu jelas para pekerja itu terkejut melihat Fang yang dengan gagah berdiri di samping ayahnya. Fang hanya tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Sudah lama sekali kami tak melihat anda keluar dari kastil... Terakhir kali kami melihat anda masih sangat kecil..."

Fang sendiri juga merasa demikian. Ia tak ingat kapan terakhir kali dirinya menapakkan kaki di perbukitan bersama ayahnya mengawasi ternak. Yang ia ingat hanyalah ketika dirinya berhenti mengekori kedua orang tuanya karena menemukan seorang bidadari di dunia ras manusia, membuat dirinya dimabuk cinta hingga rela setiap hari mengunjungi sang pujaan hati diam-diam. Dan kini pujaannya itu berdiri di sampingnya dengan balutan mantel merah dan seragam pelayan yang manis.

Dua pekerja tersebut agak heran melihat Boboiboy. Dengan segan mereka bertanya pada Hao, "Tuan... apakah gadis ini... pelayan anda...?"

Boboiboy menyadari dirinya sama sekali orang asing di tempat yang baru itu. Buru-buru ia memperkenalkan diri, sementara Fang nyaris emosi mendengar pertanyaan yang sebenarnya wajar, karena Boboiboy memang dalam busana pelayan.

"Ah! Ma, maaf saya lupa memperkenalkan diri...! Saya Boboiboy... saya pelay..."

"Gadis ini calon pengantinku..."

Boboiboy mendadak terdiam dalam pelukan Fang yang tiba-tiba dan membuat kedua penggembala di hadapannya terkejut bukan main. Tentu saja Boboiboy merona kebingungan dan gugup bagaimana menjawab pernyataan Fang yang begitu tiba-tiba dan amat jujur berterus terang.

Hao mengangguk kecil menjawab pandangan terkejut para penggembala, "Ya... dia tunangan anakku..."

Pandangan para penggembala kini menuju Boboiboy yang panik kebingungan, "A, ah... saya... anu..."

Hao buru-buru kembali memotong, "Tapi bisakah kalian menyimpan ini sebagai rahasia terlebih dahulu...?"

Fang mengrenyitkan alis heran pada keputusan ayahnya, "Kenapa harus dirahasiakan? Memangnya tak boleh aku mengumumkan hal ini?"

Hao menghela napas kecil dan memberi isyarat pada Fang melalui pandangan matanya yang tertuju pada Boboiboy. Fang menunduk, mendapati Boboiboy di pelukannya kebingungan bagaimana harus menjawab dan bereaksi terhadap pernyataan tersebut. Fang teringat permintaan Boboiboy ketika memasuki desa dengan wujud serigala, ia belum bisa membiarkan orang-orang tahu bahwa dirinya memiliki hubungan spesial dengan keluarga Lang yang tersohor.

Remaja bertelinga serigala tersebut menghela napas tipis sambil mengelus kepala Boboiboy lembut. Pada akhirnya ia juga meminta hal yang sama pada para penggembala untuk merahasiakan pernyataannya tadi... dengan amat sangat berat hati.


Dalam perjalanan pulang ke kastil, Fang hanya diam berjalan di samping Boboiboy. Hao berjalan di depan kedua remaja yang tak mengeluarkan suara sama sekali. Ia tahu Fang merasa kecewa karena tak bisa mengumumkan suatu hal yang telah lama ia pendam dan ingin agar semua orang tahu, pengantinnya berdiri di samping sang remaja. Bahkan teman-teman Fang menganggapnya delusional karena selalu menggembor-gemborkan pengantin yang tak pernah dilihat siapapun.

Boboiboy berjalan sambil memeluk pot mawar putihnya. Wangi lembut dari mawar itu mengiringi perjalanan ketiganya. Sedikit ia mencuri pandang, melihat wajah Fang yang kecewa. Kembali menunduk, Boboiboy menyesal atas sikapnya tadi. Seharusnya ia lebih mengerti Fang.

Wangi dari bunga mawar putih begitu menenangkan diri sang gadis. Membantunya berpikir lebih dalam dan jernih. Sedikit demi sedikit, muncul keberanian dalam diri Boboiboy. Hati kecilnya mulai bergerak lebih teguh, membuat yakin akan perasaannya pada Fang.

Boboiboy memutuskan agar ia bisa lebih jujur mengucapkan sesuatu yang ada di dalam hatinya agar tak ada lagi orang yang tersinggung atau kecewa karena dirinya.

Ia tak suka melihat wajah kecewa Fang. Sungguh sedih hati Boboiboy bila melihat ekspresi tersebut kembali menghias paras tampan Fang.

Perlahan, Boboiboy mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh ujung lengan kemeja Fang. Tentu saja werewolf muda tersebut terkejut mendapat gadis pujaannya menunduk dengan jemari yang ingin meraih tangannya.

Fang tersenyum. Seharusnya ia sadar bahwa Boboiboy begitu pemalu. Bahkan untuk mengutarakan isi hatinya ia begitu hati-hati, tak ingin melukai perasaan orang lain. Fang menggenggam tangan Boboiboy yang menyentuh ujung kemejanya. Boboiboy agak terkejut mendapati Fang menggandeng hangat tangannya dengan mesra. Tapi kemudian mata keduanya bertemu dan saling melempar senyum hangat. Boboiboy memberanikan diri mendekatkan tubuhnya tepat di samping Fang.

Ada hal yang tak Fang sadari...

Bahwa Boboiboy telah jatuh cinta pada Tuan Muda Fang Lang, sejak ia menyadari Fang selalu berada di sisinya, di dekatnya, membantu dirinya... berkat kilasan bayangan masa lalu yang diperlihatkan Fang ketika tak sengaja menghipnotis dirinya.

Di mana ia melihat sosok Fang kecil yang bersembunyi di balik semak memperhatikan Boboiboy kecil yang sedang bermain sendirian di taman yang sepi, hingga beberapa orang anak bandel mendekati dan mengganggu dirinya. Fang berusaha menahan diri tak memperlihatkan wujudnya meski anak-anak bandel itu tengah mengganggu Boboiboy dengan melemparkan topi kesayangannya ke sungai kecil yang mengalir membawa topi tersebut menjauh. Tangisan Boboiboy begitu memilukan hati Fang.

Boboiboy ingat jelas, ia menemukan topinya dalam keadaan basah dan kotor di depan pintu rumah, tanpa tahu siapa yang mengembalikannya. Sementara Fang kecil bersin-bersin karena dingin setelah berjuang keras mencari topi tersebut di sungai.

Ketika Boboiboy demam setelah pulang kerja mencari nafkah untuk kakeknya. Saat tertidur di sofa, ada yang mengompres dahinya dengan handuk dingin. Menyelimutinya, mengelap peluhnya... Banyak hal yang telah Fang lakukan diam-diam untuknya...

Dan kini Boboiboy menyadari jelas bahwa Fang-lah yang telah melakukan segala kebaikan tersebut untuk dirinya. Fang rela melewati batas peraturan dunia halfter demi menemui sang pujaan hati tanpa peduli resiko. Menemuinya, mengawasinya, menjaganya... dari kejauhan yang begitu membuat Fang merindu akan diri Boboiboy. Rindu yang amat sangat. Rindu ingin menyapanya, berbicara dengannya, menatap matanya, menyentuhnya, menciumnya...

Senyuman lembut menghias bibir Boboiboy yang berjalan berdampingan dengan serigala penjaganya.

"Terima kasih... untuk semua yang telah kau lakukan untukku, Fang...," bisikan lembut yang didengar Fang pada telinganya yang tajam membuat serigala jejadian itu bertanya-tanya apa maksud sang gadis.

"Maksudmu... karena aku telah menemanimu belanja...?" Pertanyaan lugu Fang dijawab tawa kecil Boboiboy.

"Bukan hanya itu... ada banyak hal yang baru aku sadari setelah kejadian tak mengenakkan yang terjadi di antara kita... Aku rasa... ketidak sengajaanmu menghipnotisku bukanlah hal yang buruk..."

Boboiboy mengangkat wajahnya menatap Fang, "Aku jadi tahu... siapa malaikat pelindungku sejak kecil... Sudah lama aku penasaran dan mencari-cari siapa yang begitu baik padaku... seseorang yang selalu menjaga dan membantuku di kala susah... Sudah lama aku ingin mengucapkan terima kasih dan membalas segala kebaikan yang telah dilakukannya..."

Fang tertegun. Ia tak menyangka kata-kata yang begitu mendamaikan serta menenangkan kegelisahan dan kegalauan hatinya selama ini keluar dari bibir putri pujaan hatinya. Semua keresahan rasa bersalah dalam diri Fang hilang seketika begitu Boboiboy menyandarkan kepalanya pada bahu gagah Fang.

"Maafkan aku yang tak bisa jujur mengucapkan apa yang kurasakan... Aku tak ingin membuatmu kecewa lagi... Ijinkan aku membalas semua kebaikan hatimu dengan berada di sisimu selalu, Fang... Aku... akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu kelak... Aku mencintaimu tulus dari lubuk hatiku yang terdalam..."

Langkah Boboiboy terhenti begitu ia merasa tangannya yang masih menggenggam tangan Fang tiba-tiba ditarik mendadak. Fang berdiri diam tak bergerak sambil menunduk membuat Boboiboy khawatir. Gadis itu mendekat dan berusaha melihat wajah sang pemuda, "Fang... kau baik-baik saja...?"

Sebuah tetesan air terasa membasahi tangan Boboiboy yang menggenggam tangan Fang erat. Begitu mengangkat wajahnya, sang gadis terperanjat mendapati di balik kacamata berbingkai ungu mata Fang berkaca-kaca. Gadis itu panik sambil melepaskan genggaman tangannya dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Fang, "Fa, Fang!? Ada apa...!? A, apa aku melukai perasaanmu...?"

Hao yang hendak membuka gembok gerbang kastil terkejut mendengar suara Boboiboy yang panik. Ia mendapati kedua remaja yang berjalan di belakangnya tadi tertinggal agak jauh dan nampak lebih akrab. Yang mengejutkan sang kepala keluarga adalah melihat Fang menangis dengan ekspresi yang menunjukkan sebuah kelegaan hati yang amat sangat luar biasa. Tak pernah Hao melihat anaknya menangis, bahkan sejak kecil.

"A, aku... te, terima kasih... Boboiboy... Aku sungguh...," Fang tak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia langsung memeluk erat tubuh Boboiboy yang masih memeluk pot bunga menjadi jarak di antara keduanya.

"Aku... tak pernah merasa selega ini... Aku pikir... kau tak akan pernah membalas perasaanku... aku pikir... kau akan terus membenciku... Aku... aku... aku mencintaimu..."

Dalam pelukan Boboiboy Fang menangis sejadinya. Boboiboy mengelus punggung yang lebar tersebut dengan lembut. Di lehernya, Boboiboy merasa air mata Fang telah membasahi mantel yang dikenakannya. Namun ia tak peduli sama sekali. Di pipi Boboiboy, turut mengalir juga air mata penuh kelegaan.

Fang tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya ia mengetahui bahwa cinta Boboiboy padanya bukan karena hipnotis yang tak sengaja ia lakukan. Namun murni dan tulus dari diri Boboiboy.

Dua ekor tupai berlompatan di atas pagar mengintip kedua insan yang tengah mengutarakan perasaan mereka masing-masing. Penasaran, mereka mendekat dan hinggap di bahu Hao tanpa sungkan. Hao sedikit terkejut mendapati teman-teman Boboiboy menghampirinya. Tak ada keraguan pada tupai-tupai itu untuk singgah di bahu Hao, karena keduanya melihat Boboiboy dan Fang berada bersamanya tanpa ancaman.

Sang kepala keluarga tersenyum melihat kedua remaja yang kini sibuk menghapus air mata masing-masing dengan senyuman di bibir mereka. Hao mendekati keduanya dan merangkul erat, membimbing mereka masuk ke dalam kastil.


Sore menjelang. Tak kenal lelah, Boboiboy menyiapkan santapan untuk makan Keluarga Lang. Bahkan ia menyempatkan diri membersihkan lorong kastil dan dapur. Mawar putih pemberian nenek tua misterius ia pindahkan dari pot tanah liat ke sebuah pot baru yang indah pemberian Elizabeth. Boboiboy memutuskan untuk memindahkannya ke halaman esok hari ketika matahari bersinar terang.

Sembari mengepel lantai, Boboiboy melewati kamar Fang. Pintu kamar werewolf muda tersebut tak tertutup erat, membiarkan Boboiboy mengintip dengan sedikit khawatir ke dalamnya. Fang tengah ambruk di atas tempat tidurnya dan tertidur pulas.

Boboiboy tersenyum sambil menyandarkan tongkat pel di tembok luar kamar. Dengan hati-hati ia memasuki kamar Fang, mendekati sang Tuan Muda yang terlelap. Perlahan Boboiboy melepaskan kacamata yang masih tergantung di wajah Fang. Ekspresi damai melukiskan perasaan hati Fang yang begitu ringan tanpa beban. Terlebih Boboiboy tahu, sebelum mereka berjalan-jalan pagi tadi, Fang telah menunggunya keluar kamar. Kemungkinan remaja lelaki tersebut hanya tidur setengah hari, membuat dirinya lelah selepas berjalan-jalan dan menangis tadi.

"Selamat tidur, serigalaku yang tampan...," Kecupan sayang diberikan Boboiboy pada pipi Fang.

Kacamata Fang diletakkan di atas meja kecil sebelah tempat tidur. Dengan hati-hati gadis itu menyelimuti tubuh Fang, dan kemudian Boboiboy melanjutkan pekerjaannya.


Malam berkunjung tak lama kemudian. Dari tempat tidurnya, Elizabeth bergegas bangkit dan membasuh diri bahkan berdandan rapi untuk menemui gadis kesayangannya. Namun sebelum menyapa Boboiboy, Elizabeth mengunjungi Hao yang tengah beristirahat di ruang kerjanya dengan perapian yang menyala menghangatkan ruangan.

Hao menceritakan apa yang telah terjadi di antara kedua remaja kesayangan mereka. Elizabeth tersenyum manis sambil memeluk suaminya dengan rasa lega luar biasa.

"Ayah... Ibu...," Suara Fang sedikit menggema dari lorong. Ia melongokkan kepalanya mengintip ruang kerja sang ayah.

"Sudah bangun, Fang...? Sepertinya kau tadi tidur pulas sekali begitu masuk kamar...," Hao bangkit dari sofa dan menghampiri anaknya. Tangan kanannya menepuk bahu Fang. Mata Hao tertuju pada Elizabeth yang berada di sampingnya sambil merangkul sayang sang istri, "Ayo, makan bersama..."

Makan malam pun tiba. Di meja makan tak bosannya Elly mendengar kisah Boboiboy dan Fang yang saling mengisi dan melengkapi kalimat dalam kisah mereka. Hao begitu menikmati kopi yang terbuat dari biji kopi pemberian Boboiboy. Tak ada yang bisa melukiskan kegembiraan Elizabeth ketika menerima parfum wangi mawar merah dari Boboiboy. Baginya, sebotol parfum itu adalah harta karun dari malaikat kesayangannya.


Di tengah udara dingin yang menyelimuti daerah pinggiran London yang sepi, kehangatan sebuah keluarga menerangi gelapnya malam.

Ketika orang-orang menceritakan kisah penuh horor dan kegelapan para vampir dan werewolf serta makhluk-makhluk penuh misteri di dunia manusia, makhluk-makhluk tersebut tengah menikmati damainya malam bersama teman dan keluarga mereka penuh rasa hangat.

Termasuk seorang gadis yang berdarah setengah vampir. Gadis yang berdiri di tengah jembatan dua dunia yang berbeda. Gadis yang menemukan keajaiban serta keindahan dari dunianya yang baru, yang ia sebut dengan 'rumah'.


Melody of the Night ~ 1st Gate

The End


(Lanjut? Lanjut? Lanjut ga yaaa? xD)

Ngomong-ngomong... Saya penasaran, siapa saja yang berdomisili di Jakarta di antara teman-teman sekalian? Ada kemungkinan saya akan menghadiri OTPcon pada tanggal 2 Agustus nanti dan membawa kejutan bagi para fans FangBoy ^^ Saya tunggu kabar kalian ^^ Nanti akan saya umumkan via FB jika sudah jelas kabar dan dekat tanggal event ^^

Oh, dan tak lupa saya ingatkan... bagi teman-teman yang add friend saya di FB dan belum saya accept, itu dikarenakan kalian belum mengenalkan diri kalian terlebih dahulu lewat private message. Saya tak mau ada orang asing yang tak saya kenal ada di dalam friends list. Terima kasih ^^7