Hunter X Hunter Togashi Yoshihiro
femKurapika X Kuroro X Killua
Romace/Crime/Hurt/comfort
OOC banget, AU, typo, FemKurapika.
Halo minna-san… fic yang Ai buat kali ini terinspirasi dari film "DAISY", ada yang tau? Dalam beberapa chapter akan terus maju, dan nantinya akan ada chapter yang mengarah ke kejadian sebulan yang lalu yang akan menjelaskan kejadia sebenarnya. Yah langsung saja, dan tidak lupa Author ucapkan, selamat menikmati ^^.
.
.
.
~( Sun Flower )~
Langkah demi langkah, Kurapika dan Kuroro yang berjalan berdampingan masuk kedalam rumah Kurapika. Rumah yang besar dan rapih, didominasi dengan warna putih. Beberapa lukisan besar yang menempel didinding, dan sebuah lukisan besar yang paling mencolok di tengah-tengah ruang tamu, yaitu lukisan bunga matahari disebuah padang rumput yang luas diantara bunga-bunga liar dengan bingkai foto berwarna emas yang terlihat sederhana namun misterius, disanalah kini mata Kuroro tertuju setelah melihat sekeliling. Pertama melihat lukisan itu, Kuroro langsung beranggapan bahwa lukisan itu special, bahkan dia menyimpulkan bahwa kurapika menyukai bunga matahari, terlebih lagi setelah melihat ekspresi Kurapika yang berubah saat dia memberikannya bunga matahari.
Kurapika melirik kearah kuroro dan mendapatinya sedang menatap lukisan bunga matahari yang menempel didepan mereka. Kurapika tersenyum bahagia untuk yang pertama kalinya pada seorang lelaki, dia merasa senang saat melihat kuroro menatap lukisan bunga matahari itu. Akhirnya, orang yang selama ini kutunggu bertemu denganku, batin Kurapika.
Berfikir tanpa hasil, akhirnya Kuroro menanyakannya langsung pada Kurapika, "Kau suka bunga matahari?" pertanyaan Kuror berhasil mengembalikan Kurapika kealam sadarnya.
Dengan sesegera mungkin untuk memalingkan wajahnya dari Kuroro dan kembali melihat lukisan didepannya. Kurapika mengangguk menanggapi pertanyaan Kuroro, "Ya." Katanya.
Kuroro mengangguk mengerti. "Apa kau yang melukis ini?"
Kurapika kembali mengangguk. "Em.. Silahkan duduk!" kata Kurapika seraya mempersilahkan Kuroro duduk di sofa yang berada didepannya. "Em… Aku mau kedapur dulu, kau suka minuman apa?" Tanyanya sedikit gugup.
Kuroro ternyata menyadari sikap Kurapika yang canggung. Membuatnya tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaan Kurapika, "Haha… Yah, terserah kau saja lah."
Kurapika mengangguk dan segera menuju kedapur untuk membuatkannya minum. Saat sampai didapur, Kurapika mendapati dirinya seperti seorang bocah. Bagaimana tidak? Sikapnya yang seperti itu membuatnya seperti anak kecil, karen kebahagiaan yang tak mampu terucapkan dengan sebuah kata yang membuat sikap Kurapika menjadi seperti itu.
"Aduuhh… Aku ini…" katanya sambil memumul mukul kedua pipinya.
Kurapika berusaha menetralkan dirinya. Kemudian membuatkan teh manis untuk Kuroro dan dirinya.
Sedangkan disisi lain, Kuroro merasa begitu bahagia. Karena sebenarnya Kuroro sudah lama menyukai Kurapika, namun dia tidak tau bagaimana caranya untuk mendapatkan hati seorang Kurapika, baginya semua ini bagaikan mimpi, karena yang Kuroro tau bahwa Kurapika sangat dingin dan cuek terhadap lawan jenisnya. Namun, saat melihat Kurapika mendapat bunga matahari setiap pagi dan melihat senyum yang mengembang dari Kurapika saat menerima bunga matahari itu. Melihat itu, Kuroro menaksir bahwa Kurapika menyukai bunga matahari. Saat itulah dia mencoba melamar Kurapika lewat kakeknya. Dan hasilnya yah seperti ini, Kuroro berhasil mendapatkan hati Kurapika.
Beberapa menit kemudian, Kurapika datang membawa dua gelas teh lalu menaruh keduanya diatas meja dan duduk didepan Kuroro.
Kuroro tersenyum, lalu mengambil teh yang dibuat Kurapika dan meminumnya. Setelah meminumnya beberapa tegukan, Kuroro kembali menaruhnya diatas meja. Kurapika hanya tersenyum sambil memandangi Kuroro dengan penuh suka cita.
Kuroro mendongak menemui Kurapika yang lagi-lagi menatapnya. Sejujurnya Kuroro merasa senang, namun dia tidak ungkin mengatakannya pada Kurapika kerena dia tidak mau Kurapika marah atau lain sebagainya. Sedangkan Kurapika yang menyadarinya langsung memalingkan wajahnya yang sudah sangat merah seperti tomat mungkin atau udang rebus.
"A-apa ada yang aneh padaku?" Tanya Kuroro mencairkan suasana.
Kurapika tidak tau harus menjawab apa, yang akhirnya membuatnya gugup. "Ah ti-tidak…" Kurapika menjawabnya dengan nada yang terbata-bata.
Kuroro kembali tersenyum, "Apa kau suka melukis?"
Kurapika mengangguk mengiyakan.
"Kalau boleh tau, itu dimana?" tanyanya sambil menunjuk lukisan bunga yang berada didepannya.
Kurapika kembali menatap Kuroro, namun kali ini dengan tatapan yang dalam, beharap kuroro dapat mengetahui isi hatinya yang tanpa disadarinya sudah ketahuan oleh Kuroro. Perlahan memori indah yang pernah dilaluinya terputar kembali, kemudian dengan senang hati, Kurapika menceritakan lukisan itu pada Kuroro.
"Aku kesana saat musim semi untuk memotret bunga-bunga liar. Dan tanpa disengaja aku menemukan beberapa tangkai bunga matahari tumbuh diantara rerumputan liar itu. Bagiku, bunga matahari yang tumbuh disana adalah sebuah kebetulan yang luar biasa. Karena hanya beberapa yang bertahan hidup disana. Bagiku bunga matahari mampu menyinari hidupku, sebagaimana matahari sesungguhnya. Aku mulai menyukai bunga matahari saat melihat salah satu karya Van Gogh yang sangat disukai ibuku, dan bunga matahari seakan mengingatkanku rasa hangat tangan ibuku." Nada Kurapika bicara kurapika menurun saat mengucapkan kata 'mengingatkanku rasa hangat tangan ibu' sehingga membuat Kurapika menunduk dan menghentikan penjelasannya.
Kuroro melihat wajah sedih Kurapika, dia tau saat melihat ekspresi Kurapika yang berubah saat mengatakan kata ibu. Disana tergambar jelas rasa sedihnya membuat Kuroro yakin bahwa ibu Kurapika sudah meninggal. "Kurapika?"
Kurapika kembali megangkat kepalanya, menahan tangis dan rasa sedihnya mencoba untuk yang kesekian kalinya agar tidak menjatuhkan air matanya lagi. "Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit sedih mengingat almarhumah ibuku." Katanya.
Kuroro merasa bersalah karena tidak sengaja telah mengingatkan Kurapika pada almarhumah Ibunya. "Ma-maaf Kura.."
Belum juga Kuroro selesai meminta maaf, Kurapika langsung menyelanya perkataan Kuroro, "Ah sudahlah. Aku tidak mengapa." katanya seraya tersenyum pada Kuroro.
Kuroro memaklumi keadaan Kurapika. Dia bahkan merasa kagum dengan sikap Kurapika yang bisa menjadi seorang wanita yang kuat tanpa kedua orang tuanya. Benar-benar gadis yang diidamkan Kuroro. Dia bahkan berjanji pada dirinya sendiri untuk menghukum siapa saja yang membuat Kurapika menangis.
~(*v*)~
Penasaran dengan siapa yang masuk bersama Kurapika, Killua keluar dari apartemennnya dengan memakai jaket hitam dan menutupi kepalnya. Dia pergi ke kafe yang berada disamping apartemennya, disana Killua terus mengawasi rumah Kurapika sampai akhirnya hujan turun dan tidak lama kemudian orang yang ditunggunya akhirnya keluar bersama Kurapika. Killua merasa tidak senang saat melihat wajah Kurapika yang murung. Melihat mereka berdua menuju kebagasi rumah Kurapika untuk mengeluarkan mobil. Yah, Kurapika akan mengantarkan Kuroro menuju kerumahnya. Melihat itu, Killua tau pasti mereka akan pergi. Dengan segera, Killua masuk kedalam apartemen untuk mengambil kunci motornya untuk mengejar mereka berdua.
Killua tidak bisa melihat Kurapika bersedih, apalagi oleh seorang lelaki yang baru kali ini dilihat Killua memasuki rumah Kurapika. Jika Kurapika memang menyukai lelaki itu, Killua tidak akan rela melihat Kurapika bersedih apalagi menangis oleh orang yang dicintainya.
Tanpa menghiraukan hujan yang turun semakin deras, Killua terus mengikuti arah mobil yang dinaiki Kurapika dan Kuroro, menembus hujan yang turun semakin deras. Hingga akhirnya mobil itu berhenti didepan sebuah rumah besar. "Orang kaya rupanya" kata Killua, lebih tepatnya seperti berbisik.
Killua dapat melihat Kuroro keluar, dan memastikan bahwa Kurapika baik-baik saja. Bahkan Kuroro tersenyum saat keluar dari mobil. Melihat itu, membuat Killua bersyukur tidak ada hal buruk yang menimpa Kurapika yang akhirnya membuat Killua merasa lega. Killua bisa tersenyum melihat orang yang disukainya baik-baik saja. Killua sudah merasa lega, dan memutuskan untuk pulang sebelum Kurapika pulang, karena dia yakin bahwa Kurapika akan baik-baik saja, dengan menembus hujan yang turun begitu deras, Killua menyusuri jalan dengan kecepatan tinggi agar dia bisa segera sampai keapartemennya.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat Killua sampai di apartemennya dengan kecepatan penuh. Sesampainya di apartemen, dia segera mengganti bajunya yang basah kuyup kemudian mandi.
SKIP TIME…
Killua meminum teh baru dibuatnya. Untuk menghangatkan kembali badannya, Killua memilih untuk meminum teh manis hangat. Sambil mengingat lokasi dan mobil Kurapika berhenti mengantarkan Kuroro, membuat Killua mengingat sesuatu yang sudah lama dilupakannya. Masa lalu bersama pamannya.
"Rumah itu.. Aku ingat rumah itu.. Itu adalah rumah pengusaha baik yang pernah menjadi target paman dulu, tapi paman tidak mau membunuhnya karena paman tau dia itu adalah pengusaha yang baik. Dan 5 hari setelah penolakan pembunuhan itu, paman ditemukan meninggal dengan tembakan tempat dikeningnya." Mengingat semua itu lagi, amarah Killua kembali meledak. Dia menggenggam gelas begitu kuat lalu melemparnya penuh emosi. "Hari itu… Hari itu paman mati ditembak oleh pistol Whalter PPK-S yang hanya bisa memuat 8 peluru. Hahaha…" Killua menertawakan dirinya sendiri, "Aku.. Aku bahkan hampir lupa semua itu, heh.."
Nafas Killua berubah menjadi tidak beraturan akibat emosinya yang memuncak. Killua akhirnya duduk kembali untuk meredam emosinya. "Aku masih ingat sumpahku untuk membunuh pelaku yang menembak paman dengan pistol Whalter PPK-S, aku tidak akan melupakan itu.."
Killua berusaha keras meredam amarahnya. Dia menghirup udara dalam-dalam keudian menghembuskannya perlahan. Setelah dia bisa mengontrol emosinya, Killua berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi lelaki yang bersama Kurapika sebagai rasa cintanya terhadap pamannya, "Aku berjanji, aku akan melindunginya walau kutau dia akan mengambil Kurapika dariku." Begitulah janji Killua.
Dengan begitu lelah, Killua berjalan menuju kedalam kamarnya untuk mengistirahatkan badan dan fikirannya.
Killua menjatuhkan badannya diatas kasur. Menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Paman… Aku berjanji akan membalaskan dendammu dan melindungi anak dari orang yang tlah kau lindungi…" katanya lalu menutup matanya.
Killua memutuskan untuk tidak mengirim bunga lagi dan menyerahkan Kurapika seutuhnya pada lelaki itu, dan entah mengapa, Killua begitu yakin bahwa lelaki itu tidak akan menyakiti Kurapika.
To be continue…
A/N : Terimakasih yang sudah memberikan saran dan komentar. Reviewnya juga makasih. Makasih juga untuk Follow dan Favoritenya. Yah, mungkin chapter ini sedikit pendek dari chapter sebelumnya, Gomen. Yosh karena akang Moli (nama modem Ai) sudah tidak pundung lagi, jadi bisa update deh. Yah, sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^.
