Hunter X Hunter Togashi Yoshihiro

femKurapika X Kuroro X Killua

Romace/Crime/Hurt/comfort

OOC banget, AU, typo, FemKurapika.

Fic ini terinspirasi dari film "DAISY". Karna chapter sebelumnya pendek, jadi dichapter ini Ai buat panjang, dan semoga aja ga kepanjangan. Eh, lupa bilang hountoni Arigatou, yang sudah mau singgah dan membaca fic Ai ini, apa lagi yang udah mau review, kasih semangat, fav, dan follow-nya ^^. selamat menikmati ^^.

Ai belum ucapin makasih buat kalian yang udah mendukung fic ini.

So, Thanks to :

Fujoshi janai desu yo ne, Gest, Rianthi Risma, orb90, and Aria Lou-Eva

.

.

.

~( Sun Flower )~

Kurapika terus berusaha menenangkan dirinya. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak memperlihatkan sisi lemahnya pada Kuroro. Usahanya menundukkan kepalanya dan tersenyum menyembunyikan kesedihannya dibalik senyum palsu yang diusahakannya sebisa mungkin untuk menutupi rasa sedihnya dan menguatkan dirinya tentu bukanlah usaha yang mudah, namun dia belum menemukan cara untuk menahan setiap tetesan air mata yang selalu ingin dihilangkannya saat mengingat almarhum kedua orang tuanya yang takkan pernah dilihatnya lagi.

Apalagi mengingat hangatnya sentuhan seorang ibu yang sudah lama dilupakannya. Bahkan dia sendiri hampir lupa bagaimana rasanya bahagia. Dia tumbuh dengan sikap cuek, dingin, dan tak banyak bicara sudah cukup membuatnya merasa sendiri. Kesendirian yang dirasakannya membuatnya kesepian dan seakan merasa hidup sendiri didunia ini.

Sampai akhirnya dia menemukan orang yang peduli padanya, bahkan dia sendiri tidak tau siapa dia. Yang pastinya orang itu juga tidak pernah dipedulikan oleh Kurapika – sebelumnya. Sampai dia merasakan orang itu benar-benar hadir mengisi harinya tatkala dia mendapat bunga matahari disetiap paginya. Mengingatkan bahwa arti bunga matahari baginya adalah untuk menyinari hidupnya. Dari sana dia merasakan cinta untuk yang pertama kalinya – selain dari kedua orang tuanya. Hanya saja dia tidak pernah tau siapa yang mengiriminya bunga-bunga itu. jika dia bertemu dengan orang itu, ingin rasanya Kurapika memeluknya erat dan mengucapkan rasa terimakasihnya yang mendalam karena tlah membangkitkan semangat hidupnya.

Namun, saat dia sudah merasa menemukan sesososk pria bunga matahari itu, entah apa yang ada dibenaknya, keinginannya untuk memeluk lelaki itu dan berterimakasih seakan sangat sulit untuk dilakukannya. Walaupun kebahagiaan yang yang terpancar diwajahnya tak dapat disembunyikan. Namun, tidak satupun kata yang bisa terucap dari mulutnya untuk mengungkapkan perasaan senang itu. Atau mungkinkah Kurapika masih belum merasa yakin dengan orang yang ada didepannya kini?

Entahlah.

Namun dia merasa nyaman saat didekat Kuroro, seakan menemukan seorang yang akan melindunginya selamanya.

DEG.

Jantungnya merdegup semakin cepat saat mendapati Kuroro duduk disampingnya dan merangkulnya. Entah sejak kapan tetesan air mata yang bersusah payah ditahannya keluar.

Membuat Kuroro semakin merasa bersalah setelah melihat Kurapika menagis dalam diam. Menyalahkan dirinya sendiri dan mencoba sebisa mungkin untuk menghentikan tangis Kurapika. Perlaham dia mengelus lembut pundak Kurapika dan mencoba menenangkannya.

"Mereka pasti tidak akan senang melihatmu seperti ini."

Bisik Kuroro tepat ditelinga kiri Kurapika. Hembusan hangat nafas Kuroro menjalar keseluruh tubuh Kurapika membuatnya semakin tenang. Baru kali ini ada seseorang yang memenangkannya saat dia sedang sedih. Karena selama ini dia hidup sendiri walaupun ditemani dengan orang yang bekerja dirumahnya, namun mana tau mereka tentang Kurapika yang sedang sedih? Sedangkan Kurapika tidak pernah menampakkan kelemahannya pada orang lain?

Butiran-butian bening yang tadi mengalir deras dipipi Kurapika kini perlahan mengering. Perasaannya pun mulai terasa lebih tenang. Perkataan Kuroro memang benar, Kurapika tidak pernah berniat untuk mengganggu ketenangan kedua orang tuanya.

Kurapika mengangguk membenarkan perkataan Kuroro.

"Malam ini kujemput yah, jam 8" Kata kuroro kemudian, memastikan rencananya malam ini tak akan gagal.

Apalagi setelah melihat keadaan Kurapika, Kuroro juga berniat memberikan kejutan untuknya malam ini.

Ponsel Kuroro yang tak pernah disentuhnya sedari tadi bergetar. Memaksanya untuk mengangkaatnya, "Ya, Halo?" tanpa melihat siapa yang menelepon, Kuroro langsung menekan garis hijau yang tergambar dilayar ponselnya.

Dari balik ponsel terdengar suara seorang lelaki yang sudah dikenal oleh Kuroro dan menyuruhnya untuk pulang, "Maaf mengganggumu Kuroro, tapi ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. Cepalah pulang!"

Kuroro sendiri kaget mendengar permintaan mendadak pamannya itu. Namun dia juga tidak bisa menolak permintaan mendadak pamannya nya itu yang terdengar sangat penting. Namun, dia juga menghawatirkan kurapika. "Hem… Kenapa mendadak seperti ini paman?"

"Paman menemukan sebuah buku yang sepertinya ditulis oleh almarhum ayahmu sebelum dia meninggal."

Tidak perlu waktu yang lama untuk mencerna perkataan pamannya dengan otak encer Kuroro. Namun, yang menjadi tanda tanya adalah isi dari buku itu. karena seingat Kuroro, dia jarang sekali melihat ayahnya menulis dibuku pribadi. Dia bahkan tidak tau kalau ayahnya mempunyai buku pribadi. Apa seorang lelaki tua memiliki diary? Ayolah bukannya itu lucu? Atau sebuah wasiat? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan terjawab jika tidak melihatnya langsung kan? "Ya, baiklah..." jawab Kuroro sebelum memutuskan telepon.

Kuroro kembali menghampiri Kurapika yang kali ini sudah tidak menangis lagi dan duduk kembali disampingnya. Kuroro bersyukur melihatnya, namun raut wajahnya Kurapika yang masih terlihat murung itulah yang membuat Kuroro tidak tega meninggalkan Kurapika sendirian disini. Tapi, disisi lain dia juga penasaran dengan isi buku yang ditemukan pamannya itu…

"Pergilah Kuroro!"

Perkataan Kurapika membuat keinginannya untuk tidak pulang tidak beralasan lagi. Yah, apa lagi? Pilihannya hanya pulang. Tapi apa Kurapika akan baik-baik saja? Itu yang masih mengganggunya, apa lagi melihat ekspresi Kurapika yang sedih begitu. Dia tidak bisa meninggalkannya. "Ta-Tapi…"

"Tidak apa-apa… Aku sudah terbiasa sendiri." Jawab Kurapika. Yah, dia kan sudah terbiasa sendiri. Dari mulai senang, sedih dll. Dan dengannya yang selalu sendiri, membuatnya bisa berfikir dengan jernih dan lebih santai.

Kuroro akhirnya yakin untuk meninggalkan Kurapika. "Baiklah, aku akan pulang."

"Biar kuantar! Lagi pula hujan turun dengan deras." Tawar Kurapika.

Mamang benar, hujan turun beberapa menit yang lalu. Seakan mengetahui perasaan Kurapika yang sedang sedih, awan pun turut menangis.

Kuroro juga mengiyakan perkataan Kurapika. Lagi pula kalau dia harus menelpon supir pribadinya, bukannya supir pribadinya tidak tau alamat rumah Kurapika? Kalau dia mau menunggu taksipun, dia pasti akan basah kuyup karena halaman rumah Kurapika yang luas dan tidak ada tempat untuk berteduh didepan rumahnya. Ya, apa lagi kalau bukan menerima saran Kurapika untuk mengantarnya pulang.

"Baiklah. Ah maaf, saya sudah sangat merepotkan." Kata Kuroro malu.

Gimana ga malu? Walau dia punya mobil, dari restoran tadi bahkan sampai sekarang pun dia harus diantar oleh Kurapika? Salahnya sendiri sih, menyuruh sopir pribadi ibunya untuk mengambil mobilnya. Entah kenapa dia begitu, mungkin dia ingin bersama Kurapika didalam mobil? Dan s**lnya, sekarang pun hujan, dan tak mungkin kalau menyuruh sopir pribadi ibunya mengantar mobilnya kerumah Kurapika, pasti dia tidak tau alamat rumah ini.

Mereka berdua berdiri dari duduknya dan menuju keluar rumah. Kurapika segera membuka pintu lalu keluar dari rumah disusul oleh Kuroro kemudian ditutup kembali pintu rumahnya. Kurapika segera menuju bagasi disusul oleh Kuroro.

Kuroro dan Kurapika naik kedalam mobil. Yah, Kurapika akan berangkat bersama Kuroro.

Kira-kira 10 menitpun berlalu. Sampai akhirnya Kurapika menghentikan mobilnya didepan rumah Kuroro. Jarak rumah Kurapika dan Kuroro ternyata tidak begitu jauh.

Berbeda dengan rumah Kurapika yang mempunyai taman yang besar. Halaman rumah Kuroro tidak memiliki taman. Namun rumah Kuroro lebih besar dari rumah Kurapika.

Sebelum Kuroro turun, dia sempat tersenyum dan mengucapkan..

"Hati di jalan!" katanya lalu turun.

Saat Kuroro sudah sampai didepan rumahnya, dan berdiri menghadap kearah mobil Kurapika, Kurapika tersenyum, "Ya, terima kasih!" katanya.

"Ya, sama-sama!"

Kurapika tersenyum sebelum pergi dari hadapan Kuroro, tepatnya pergi dari rumah Kuroro.

Setelah mobil Kurapika sudah tak terlihat lagi, Kuroro masuk kedalam rumahnya. Langkah demi langkah, namun tegas dengan pasti dia masuk kedalam rumahnya. 'Pati om sudah menungguku' ucapnya dalam hati.

Dia membuka sebelah pintu rumahnya dan masuk kedalam. Tampaklah isi rumahnya yang besar dan megah. Dihiasi dengan barang-barang mewah, warna cat tembok yang didominasi dengan warna cream, dan 2 buah lukisan.

Kuroro terus berjalan menuju tujuan pertamanya, yaitu pamannya. Dia menaiki tangga untuk menuju kelantai 2, tempat kerja ayahnya. Selain di kantor, ayah Kuroro memang mempunyai sebuah ruangan khususnya untuk bekerja, karena ayahnya yang memag seorang pekerja keras.

Saat sampai di ujung tangga, dia berbelok kekiri menuju ruang paling pojok. Disanalah tempat kerja ayahnya. Dia juga tau pasti bahwa pamannya sudah berada disana, karena setiap kali pamannya memanggilnya untuk membicarakan ayahnya, pamannya selalu mengambil ruang kerja ayahnya sebagai tempat mereka berbincang.

Saat sampai didepan pintu, tanpa pikir panjang Kuroro langsung membuka pintu. Dan didapatinya ditengah ruangan, ibu dan pamannya yang sedang berbincang. Apalagi kalau bukan membincangkan buku yang sedang terbuka diatas meja didepan mereka bukan? Ya, buku milik ayahnya tentunya.

Ayahnya memang meninggal karena dibunuh, terbukti dengan peluru yang bersarang dikening ayahnya. Kuroro sendiri tidak habis pikir, siapa yang menembak ayahnya. Yang jelas-jelas ayahnya itu adalah seorang pengusaha yang sangat baik dan disegani. Dia juga tidak pernah tau bahwa ayahnya punya musuh. Saingan perusahaan? Apa mungkin? Setaunya, ayahnya tidak pernah bertengkar dengan clien atau rekan bisnis lainnya. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau ada orang yang sirik atau semacamnya sehingga ayahnya harus menjadi korban.

"Hei Kuroro" sapa pamannya saat melihat Kuroro yang berjalan masuk kedalam ruangan untuk menghampirinya.

Kuroro tersenyum, tanpa sepatah katapun sambil melangkah menuju kearah dua orang yang sudah menunggunya itu. Ms. Lucifer tersenyum menyambut anak satu-satunya itu, namun bisa dibilang itu bukanlah senyum tulus atau senang yang biasa terpampang diwajahnya. Mungkin itu karena buku yang baru ditemukannya.

"Ini, buku ayah?" Tanya Kuroro saat sampai diujung meja dan melihat kearah buku yang tergeletak diatas meja.

Kuroro mengamati buku itu. buku yang terlihat sudah usang, namun tulisannya masih bisa dibaca dengan jelas. Buku tua itu terlihat rapih walaupun sisi bukunya sudah berubah warna. Tulisan rapih ayahnya yang sangat dikenalnya. Dan beberapa fotonya yang masih muda sambil memegang senapan bersama seorang lelaki. Tapi, itu siapa? Kuroro tidak mengenal jelas lelaki itu.

"Yang bersama ayah itu siapa?" tanya Kuroro sambil menunjuk foto lelaki yang berdiri disamping ayahnya.

Tanpa ragu, pamannya langsung menjawab pertanyaan Kuroro, "Dia adalah teman ayahmu dan juga-" pamannya menggantung perkataannya.

"Dan juga apa?" Kuroro langsung menyusulnya dengan pertanyaan. Dia begitu penasaran dengan pemuda itu. Karena ayahnya sendiri tidak pernah menceritakan temannya itu sama sekali. Tapi mereka berdua terlihat sangat akrab di foto itu. Bahkan datang kerumah merekapun tidak pernah. Kalau memang itu adalah teman baik ayahnya, dia pasti pernah berkunjung kerumahnya kan?

"Dia adalah…"

"APA?"

~(*v*)~

"PAMAN!" Killua berteriak keras saat bangun dari tidurnya.

Nafas Killua tak teratur. Dadanya naik turun dengan cepat. Peluh yang keluar didahinya mengalir dengan deras. Matanya membulat dengan sempurna.

Killua masih mencoba mengatur nafasnya, menetralkan perasaannya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali sampai akhirnya dia mulai bisa berfikir jernih. Killua melirik jam didinding diantara gelap kamarnya, walaupun samar-samar dia bisa memastikan jarum jam yang menunjukkan pukul 08:14 malam.

Killua bangun dari tidurnya, duduk dipinggir kasur dan mencoba mengingat semua mimpi yang baru saja menghantui tidurnya. Dia melirik kearah jendela kaca yang masih terbuka, menyisakan dingin dari sisa hujan sore tadi, membuat cahaya lampu masuk kedalam kamarnya yang gelap dan menyinari wajahnya yang kini sedang menatap langit. Hitam.

"Huh…" Killua menghembuskan nafas berat sebelum melangkah kearah jendela.

Killua menatap langit tanpa bergeming sedikitpun. Membiarkan rasa dingin masuk kedalam tubuhnya. Matanya beranjak menuju kearah rumah Kurapika. Masih menyala, dan tunggu… lelaki itu lagi? Killua bisa melihat dengan jelas lelaki yang sedang berdiri didepan rumah Kurapika dan berjalan menuju mobil mewah yang terparkir disana – didepan Kurapika dan Kuroro. Killua tersenyum hambar "Mereka pasti akan pergi kencan." Lirihnya.

Sakit memang. Tapi apa boleh buat? Bukannya salahnya sendiri yang tidak mau memperlihatkan wajahnya? Bukankah dia sendiri yang membiarkan Kurapikanya pergi dengan lelaki itu? Bukannya itu mutlak kesalahannya sendiri? Ya, siapa lagi yang patut disalahkan kalau bukan dirinya sendiri. Dia bahkan berjanji untuk melindungi lelaki itu. Bagaimanapun, lelaki itu adalah bukti bahwa pamannya pernah hidup bersamanya dan mati dihadapannya.

Killua sudah terlambat, Kurapika-nya sudah milik orang lain. Dilihat dari sisi manapun, wajah Killua tetaplah terlihat sedih. Bukan hanya karena Kurapika, tapi juga karena pamannya. Dia bahkan belum menemukan titik terang tentang siapa pembunuh pamannya. Petunjuk satu-satunya Killua hanyalah pistol Whalter PPK-S yang berhasil membuat pelurunya menembus kening keluarga satu-satunya itu. Dan kini, tinggallah dirinya seorang sebagai penerus keluarga Zoldyck. Tapi masa depannyapun sudah suram, dipenuhi dengan rasa benci. Cinta yang pernah ditananmnya, kini telah dipetik orang dan dicuri didepan matanya. Lengkaplah sudah penderitaannya. Walaupun begitu, hatinya tetap senang saat melihat Kurapika tersenyum walaupun bukan karenanya.

Killua menutup jendela yang membuat kamarnya semakin gelap, kemudian menarik horden untuk menutupi sinar bulan dan cahaya lampu yang masuk kedalam kamarnya, membuat kamar yang gelap menjadi begitu gelap tanpa cahaya. Bagaimana lagi? Seluruh sumber cahaya ditutupnya rapat membuatnya menjadi gelap dengan sempurna. Karena belum berniat untuk tidur kembali. Ingat kan, kalau dia baru bangun? Apalagi melihat wanita yang dicintainya pergi bersama lelaki idamannya yang tentunya bukan dirinya. Itu juga membuatnya menjadi tidak mengantuk lagi. Terlebih lagi dengan perutnya yang sudah lapar dan mendemo minta untuk diisi.

Dia menyalakan lampu kamarnya. Membuat seluruh ruangan gelap itu kembali menjadi terang. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam mata birunya. Tidak lama setelah matanya sudah terbiasa dengan cahaya lampu kamarnya.

Dia menuju kedapur untuk memasak makan. Karena perutnya yang tidak bisa diajak kompromi, apalagi setelah badannya basah kuyup dan menguras energinya saat marah dan menyalahkan dirinya sendiri. Walaupun sudah tidur, tapi perutnya belum diisi oleh makanan berat.

Didapurnya, Killua memasak telur mata sapi dan sup untuk dirinya sendiri. Memang siapa lagi yang akan dia masakkan makanan? Dia kan hidup sendiri dari dulu. Walaupun Killua memang pintar dalam hal masak-memasak yang diajarkan oleh pamannya tentunya. Tapi dia tidak bisa membuat orang lain senang dengan masakan buatannya. Bagaimana pun dia itu pembunuh bayaran yang tak mau merepotkan orang lain dan memilih untuk hidup sendiri. Dia tidak berfikir sedikitpun untuk hidup bersama orang lain, ya karena profesi yang tidak diinginkannya itu. Hanya saja, dendam yang sudah terlanjur dalam yang selalu menghantui otaknya. Jadi, dia bertahan dengan keadaannya itu.

(Gila, Ai pengen nagis baca kisah Killua. Padahalkan Ai sendiri yang bikin. Duh, jadi kasian liat Killua.)

~(*v*)~

Setelah berkendara selama kurang lebih 30 menit, kini sampailah Kuroro dan Kurapika didepan sebuah restorn mewah bergaya clasik. Setelah memarkir mobilnya, Kuroro dan Kurapika turun dari mobil.

Tampaklah sebuah kafe yang tidak terlalu besar dengan gaya clasik Inggris.

"Kau suka?" tanya Kuroro.

Kurapika hanya tersenyum. Walaupun begitu, tampak jelas kebahagiaan dari sorot matanya.

Mereka berjalan berdampingan menuju kedalam kafe.

Saat mereka masuk, kedatangan mereka langsung disambut ramah oleh salah seorang pelayan wanita berambut hitam, bermata coklat dan memakai seragam kerja yang berwarna hitam putih layaknya seorang maid. Pelayan itu mengantar Kurapika dan Kuroro ke salah atu tempat VIP. Disana sudah disediakan sebuah lilin ditengah meja kayu, dan vas yang berisi bunga matahari.

"Silahkan duduk!" kata pelayan tersebut.

Tak usah ditanya lagi, mereka berdua pastinya duduk – saling berhadapan.

"Anda mau memesan apa tuan?" tanya pelayan tersebut.

Kuroro mengambil buku menu yang sudah disediakan di depannya lalu mulai memilih salah satu menu yang tertulis disana. "Cappucino dan untuk makananannya, aku pesan Galette Des Rois(*)". Setelah memesan minuman dan makanan, Kuroro kemudian menaruh buku menu.

Dia menatap Kurapika, lalu tersenyum. " Kau mau pesan apa?"

"Terserah kau saja."

"Baiklah." Kuroro kembali melihat pelayan itu, "Untuk nyonya ini, saya pesan Teh. Oh ia, untuk Galette Des Rois, crème de marrons-nya diperbanyak ya." katanya kemudian.

Setelah mencatat semua pesanan Kuroro, pelayan itu pamit dan tidak lupa dengan senyum ramahnya.

Sepeninggalan pelayan itu, Kuroro yang memang sudah menyiapkan ini semua. Dia juga tidak enak dengan suasana yang sedikit canggung ini, makanya dia yang angkat bicara terlebih dahulu.

"Ehem… Bagaimana? Kau suka?"

"Apa ini tidak berlebihan?"

Kuroro tertawa pelan. "Tentu saja tidak. Apalagi untuk orang yang istimewa."

"Hahaha, ada-ada saja."

"Oh ia. Tidak apa kan, aku pesankan teh?"

"Tentu saja tidak apa-apa. Aku kan suka teh."

"Baguslah kalau begitu."

Kuroro dan Kurapika mengobrol ringan. Membicarakan tentang pekerjaan masing-masing dan pengalaman hidup. Untuk point ke dua, pastilah Kuroro yang lebih banyak bercerita.

Tidak lama kemudian, pesanan Kuroro datang. Pelayan itu meletakkan pesanan Kuroro diatas mejanya. Lalu mengucapkan..

"Silahkan tuan! Nyonya!" katanya kemudian pamit. Masih dengan senyum ramahnya.

Kuroro menyodorkan Galette Des Rois yang dipesannya setelah mengambil mahkota yang diletakkan diantara makanan tersebut. Makanan dengan sebuah mahkota.

"Loh? Ko ada mahkotanya?"

Kuroro tidak menjawab pertanyaan Kurapika. Dia malah tersenyum sambil memakaikan mahkota itu ke kepala Kurapika. "Nah, kan tambah cantik. Pas untukmu tuan putri."

Perlahan kurapika merasa wajahnya menjadi panas. Dengan cepat, dia memalingkan wajahnya. Ya, dia sedang gugup. Inilah pertama kalinya dia mendapat perlakuan baik dari seorang lelaki. Dan itu juga membuatnya gugup. "A-Apaan sih?"

Melihat tingkah Kurapika yang sedang gugup itu, membuat Kuroro tertawa kecil. 'Ah.. lucunya..' batin Kuroro.

Mendengar tawa Kuroro, Kurapika merasa malu. Dia juga tau, pasti wajahnya sudah memerah sekarang. "A-Apan sih?"

"Kau memang manis, haha." Kata kuroro sambil tertawa kecil.

Kurapika masih tidak mau melihat wajah Kuroro. Dia pasti akan ditertawai lebih keras kalau Kuroro melihat wajah lucu Kurapika yang sedang malu.

"Hei samapai kapan, kau akan terus begitu? Ayo makan makanannya!" kata Kuroro masih tertawa kecil.

Sedangkan Kurapika, dia masih sibuk menenangkan dirinya. Menormalkan kembali detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. Sampai akhirnya dia yakin untuk menampakkan wajahnya. Dan setelah yakin bahwa wajahnya tidak lagi memerah. Akhirnya dia kembali pada posisinya semula.

"Ayo dimakan!" Kuroro kembali mempersilahkan Kurapika memakan makanan yang sengaja dipesannya tadi lalu meneguk Cappucino pesanannya.

Ternyata Kurapika masih merasa canggung dan malu. Dia mulai memakan makanan yang dipesankan Kuroro sambil menunduk malu.

Sedangkan Kuroro. Dia begitu menikmati malamnya bersama Kurapika. Ini sungguh sebuah kesenangan yang tak terlupakan. Akhirnya putri yang selama ini di inginkannya kini telah didapatkannya.

Dia terus tersenyum sambil menatap Kurapika yang sedang makan didepannya.

"Em, apa ini?" Kurapika mengeluarkan sesuatu berbentuk boneka yang sangat kecil dari dalam mulutnya.

"Wah… kau beruntung tuan putri."

"Ma-maksudnya?"

"Ya, konon katanya jika kau mendapatkannya maka tuhan akan memberkati mu!"

Kurapika tidak mengerti. "Eh?"

"Ya, itu adalah makan tradisional dan rumornya juga begitu. Siapa saja yang menemukan boneka itu, dia akan beruntung."

Sebenarnya, Kurapika masih tidak mengerti dengan penjelasan Kuroro. Tapi, karena dia juga tidak mau membahasnya, jadi Kurapika hanya mengangguk seakan dia mengerti.

Makan malampun kembali berjalan tanpa seorangpun yang angkat bicara.

Sampai saat Kurapika menghabiskan makanannya. Dia kembali dikejutkan oleh Kuroro.

Sebuah kotak kecil berwarna merah marun diberikannya pada Kurapika.

"A-Apa ini?" tanya Kurapika bingung.

"Buka saja!"

Kurapika menuruti perkataan Kuroro – membuka kotak itu.

Senyumnya begitu lebar. Bahkan dia mengeluarkan air mata yang sudah sekian lama tidak pernah dikeluarkannya – air mata bahagia.

"Bagaimana? Kau suka?" tanya Kuroro.

Kurapika mengangguk.

Sebuah cincin dengan permata biru – Blue Shapire. Terlihat begitu cantik.

"Kau mau menjadi istriku?" Sungguh tatapan yang tenang, namun terlihat tegas.

Kurapika hanya bisa mengangguk pelan sambil tersenyum menatap mata Kuroro yang penuh dengan kesungguhan.

~(*v*)~

Baru saja Killua selesai makan dan mengangkat piringnya, berniat untuk mencucinya. Tiba-tiba saja bel apartementnya berbunyi.

Karen itulah, niatnya untuk langsung mencuci piringnya di urungkannya. Dia langsung saja pergi dari dapur untuk menyambut tamu yang datang.

Killua sendiri kaget. Tidak biasanya dia kedatangan tamu, mengingat profesinya sebagai pembunuh bayaran dan tamunya ini datang malam-malam pula. Sunnguh sesuatu yang sangat langka.

Setelah membuka pintu, terlihatlah tamu yang mengunjunginya malam-malam begini. Seorang lelaki berperawakan besar, namun tidak gendut. Berambut hitam panjang sebahu. Yang dia tau adalah pemuda itu merupakan bawahan dari bosnya. Namun anehnya, pemuda itu menyodorkan pistol yang tepat menempel di perut bagian kananya saat dia membuka pintu.

"Apa-apaan ini?"

..To Be Continue..

"Yang terlihat itu sering menipu, dan yang tak terlihat adalah sebuah teka-teki mystery."

_Asih_

Ket : (*) : salah satu makanan tradisional Inggris kalau tidak salah. Makanan ini disajikan bersama sebuah mahkota sebagai hiasan. Didalam makanan ini, diselipkan feve. Konon katanya, siapa saja yang berhasil menemukannya, maka tuhan akan memberkatinya – yang menemukan feve itu.

Bales Review yang ga Log In :

Guest : Eh, sorry banget baru bales sekarang. Makasih review-nya^^. Nih udah lanjut, hehe.

Aria Lou-Eva : wah… ga terlalu berlebihan tuh mujinya?. tapi, makasih deh, hehe. Kecepan? Yang mana yah? Di 3 chapter ini masih 1 hari , Ai juga suka gitu kok. Hahaha. Colab? Boleh deh, mumpung lagi libur, hehe. Yosh! Makasih semangat dan review-nya ^^.Nih udah lanjut. Gimana? Makin bagus ga?

Guest : kalo langsung ditemuin ga rame dong. sabar ajah, kita liat pertemuan mereka nanti okeh :)

A/N : Ah… entah kenapa Ai tidak terlalu menghayati menjadi seorang kurapika dan kuroro. Jadi ajah OOC bingit *Plak!*. Kayanya cuman chara-nya Killua deh yang ga OOC, soalnya yah mendalami bingit sih kalo masalah idola Ai yang satu ini.

Sorry, telat banget update-nya. Kemaren-kemaren lagi WB sih. Sekarang juga masih WB sih, tapi karna Ai pengen Up-date sebelum kembali ke Sulawesi Tengah, yah semoga sampai dengan selamat, jadi rada-rada semangat gitu deh, haha. Selain itu juga, tadi Ai habis baca dari atas chapter ini dan anehnya, ko Ai bisa bikin fic kayak gini yah? Ga nyangka sih sebenernya. Dari sana juga, Ai jadi semangat lagih ngetiknya, hihi.

Yang bagian KuraKuro, so sweet ga sih? Awalnya Ai bingung tempatnya, antara Restoran ato Kefe, dan sempat alay gitu deh pokonya. Tapi mengingat sifat KuraKuro, jadi gitu deh jadinya. Yah, semoga ajah ga OOC binggo dan tidak mengecewakan, hihi. Gimana? Lebih bagus?

Karna udah banyak omong, jadi Ai pamit dulu. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Silahkan, kritik dan sarannya! Makasih juga yang sudah mampir ^^.

Salam, Ai.