Hunter X Hunter Togashi Yoshihiro
femKurapika X Kuroro X Killua
Romace/Crime/Hurt/comfort
OOC , AU, typo, FemKurapika.
Fic ini terinspirasi dari film "DAISY". Karna Ai sudah lama tidak update dikarenakan so sibuk, jadi, untuk chapter ini, Ai buka deh inti ceritanyah, biar greget. Eh, lupa bilang hountoni Arigatou, yang sudah mau singgah dan membaca fic Ai ini, apa lagi yang udah mau review, kasih semangat, fav, dan follow-nya ^^. selamat menikmati ^^.
.
.
.
~( Sun Flower )~
"Hai Killua" orang itu tersenyum. Suara yang sudah sangat dikenali oleh Killua.
Yap, suara bosnya.
"Kenapa kau memaksaku kesini tengah malam seperti ini?" Tanya Killua dingin.
"Aku ingin memberikanmu sebuah tugas yang harus kau selesaikan besok" lelaki itu menjeda perkataannya. Dia berdiri dari duduknya menghisap rokoknya sambil menghampiri Killua yang masih terpaku ditempatnya dengan tatapan heran.
Tumben sekali bos nya ini menyuruhnya membunuh orang ditengah malam seperti ini, dan membawa pengawal untuk menjemput Killua. Benar-bnar sesuatu yang sangat langka. Killua sendiri bingung. Tidak biasanya.
Brak
Pintu terbuka dengan lebar. Dibuka oleh seorang lelaki tak dikenal memakai kaca mata dengan wajah datar.
"Oh, hai gotoh! Kau datang juga" ucap sang bos dengan devil smile-nya yang khas.
"Kau sudah membawa anak itu?" seru lelaki yang ternyata bernama gotoh.
"Tentu saja. Seperti permintaanmu"
Killua berbalik dan mendapati sebuah senyum dan wajah yang seakan sudah familiar di matanya. Tapi? Siapa? Siapa dia? Killua sama sekali tidak bisa mengingat siapa orang yang berdiri didepannya itu. yang dia tau, lelaki berkacamata itu adalah seseorang yang datang dari masa lalunya.
"Oh, kau sudah datang rupanya" kata gotoh menghapiri Killua.
"Kau siapa?" tanya Killua dengan wajah datar dan intonasi dingin khasnya.
"Tentu saja kau tidak mengenalku. Tapi, aku akan selalu mengingatmu." katanya seraya menarik ujung bibir sebelah kirinya.
Killua mengerutkan dahinya 'Siapa orang ini?' batin Killua.
"Killua!"
Killua berbalik, menatap sang bos yang memanggil namanya. "Apa?"
"Tugasmu sederhana, kau hanya perlu menyelesaikan tugas pamanmu." Katanya seraya menyerahkan sebuah amplop hitam.
Killua tau betul isi dari amplop itu – target selanjutnya. Killua mengambil amplop itu dan mulai membukanya.
"Tunggu!" cegah gotoh sebelum killua sempat membuka amplop itu. "Kau tidak boleh membukanya sekarang."
Yah, sesuai permintaan Gotoh, killua tidak membuka amplop itu. Lagi pula, killua tidak terlalu tertarik melihat siapa orang yang ada didalam amplop itu.
"Siapa targetku ini?"
"Kau akan tau nanti." Kata sang bos.
"Ini tugas khusus untukmu. Dan, jika kau tidak membunuhnya, maka Kurapika akan kami bunuh"
"A-apa?" Killua terkejut. Ah, tidak. Sangat terkejut lebih tepatnya. "Apa-apaan ini?" Lanjutnya
"Kalau kau tidak mau menerimanya, maka nyawamu yang akan melayang, dan oh setelah kau membunuhnya, aku akan memberi tau siapa pembunuh pamanmu, bagaimana?"
Sungguh pilihan yang sangat gila. 'siapa sebenarnya targetku kali ini?' batin killua bingug. Amplop yang tadi tidak membuatnya tertarik sama sekali, kini membuatnya penasaran setengah mati.
"Oh satu lagi." Sang bos mengambil sebuah senjata dari saku celananya dan meletakkannya tepat diantara kening Killua. "Kau harus menembaknya tepat diantara keningnya. Kau mengerti sayang?"
"Cih! Sial!" umpatnya seraya menatap mata bos-nya tajam.
Bukan, bukannya killua takut mati. Bukan. Killua sadar bahwa kematian berjalan disampingnya, dan siap mengambil nyawanya kapanpun. Malaikat maut adalah temannya. Dia tidak suka melibatkan kasusnya pada orang lain. Apalagi yang dilibatkan ini adalah perempuan yang telah mencuri hatinya. Dia juga sudah berjanji untuk membalaskan dendam pamannya. Kalau dia mati sekarang? Siapa yang akan membalaskan dendam pamannya?
Killua menggenggam erat kedua tangannya. Dia sangat marah. Sungguh sangat marah. Hal yang paling tidak dia sukai akhirnya datang saat dia sedang merasakan sakit hati yang dalam. Sial! Yah, itulah kata yang tepat untuk Killua saat ini.
Killua menatap tajam bosnya. Sangat kentara serat kemarahannya. Kalian pasti taukan? Siapa itu Kurapika? Dia adalah orang yang disayanginya. Kalau Killua tidak menerima tugas ini, maka nyawanya dan nyawa Kurapika yang akan melayang.
"Kita lihat saja nanti." Itulah kata yang keluar dari mulut Killua.
Kalimat pertimbangan. Bukan persetujan ataupun penolakan. Bukannya Killua takut tidak bisa membunuh targetnya. Kalian ingat kan? Killua adalah pembunuh bayaran profesional. Semua targetnya mati tanpa meninggalkan jejak. Dan ciri khasnya adalah tembakan yang tepat mengenai otak kanan atas targetnya.
v(^.^)v
"Besok yah?" kata pemuda bermata hitam kelam itu sambil menggosok pistol hitam lama miliknya. "Sudah lama juga aku tidak pernah berburu. Dan besok, adalah buruan specialku" evil smile.
Kuroro melirik foto ayahnya yang berada di atas meja yang terletak disamping kasurnya. "Ayah, besok dendammu akan terbalaskan" katanya seraya tersenyum sendu.
FLASHBACK ON
KURORO POV :
"Dia adalah pembunuh ayahmu" kata paman gotoh kala itu.
"APA?" yah, aku sangat terkejut mendengar pernyataan paman. Aku tentunya tidak langsung percaya, tapi ibu juga mengatakan hal yang sama.
"Iyah, dia teman ayahmu. Dan ibu juga baru tau kalau dia yang membunuh ayahmu. Padahal, dia dan ayahmu sangat dekat. Yang ibu tau, dia adalah pembunuh bayaran profesional yang paling ditakuti dan dicari diseluruh dunia." Jelas ibu.
Aku benar-benar terkejut. Dan dari penjelasan ibu pula, kau mengetahui alasan kenapa ayah tdak pernah mengenalkan teman ayah itu padaku dan sekaligus tidak pernah berkunjung kerumah – dia adalah pembunuh bayaran.
Dan penjelasan paman yang membuatku ingin membunuh keponakan ke**rat itu. Si bre**sek Killua.
"Dan dia mempunyai keponakan yang kini menjadi penerusnya" kata paman seraya menyodorkan sebuah foto. Foto seorang anak lelaki berambut silver bermata biru. "Namanya killua. Kalau kau ingin membunuhnya, dia tinggal di apartemen yang berada di depan rumah kekasihmu kurapika. Jika kau tidak segera membunuhnya, maka dia akan membunuh Kurapika besok"
"Paman tau informasi itu dari siapa?" tanyaku penasaran.
Yah, aku tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan paman. Walaupun dia pamanku, tapi bukan berarti aku harus percaya padanya sepenuhnya kan?
"Ayolah~ apa kau tidak mempercayaiku sebagai pamanmu sendiri? Coba? Kapan paman berbohong?"
Benar juga.. Kapan paman berbohong padaku? Kurasa tidak pernah. Tapi? Kenapa paman tidak mau memberitahuku dimana paman mendapat informasi itu?
"Kalau memang benar killua penerus pamannya, apa paman bisa memberikan buktinya?" aku masih tidak percaya.
"Foto itu juga bisa membuktikan bahwa dia adalah pembunuh. Baiklah kalau kau memang tidak mempercayai paman." Katanya dengan wajah yang terlihat kecewa.
Sungguh itu sedikit membuatku merasa bersalah. Bagaimanapun dia adalah pamanku. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu, seakan menuduhnya.
'huh..' aku menghembuskan nafas berat.. hati kecilku tidak mau mempercayai paman, tapi disisi lain aku merasa bersalah.
Paman berdiri dari duduknya, tersenyum kecut lalu memberiku sebuah kertas.
"Tidak ada pilihan lain, kurasa harus kau sendiri yang membacanya." Katanya seraya pergi dari meninggalkanku.
Aku melirik kertas itu, terlihat seperti kertas biasa, tapi.. tunggu.. ada sebuah simbol diujung kertasnya, dan ini lah yang membuatku yakin bahawa surat ini adalah surat dari pembunuh bayaran terkenal itu – Killua Zoldyck.
"Tunggu paman! Dimana dan kapan kau temukan surat ini?" aku segera mencegah kepergian paman.
Paman berbalik dan menatapku datar "Pagi ini di depan rumah paman."
Satu kata yang membuatku begitu kaget. Dirumah paman, katanya?
Kukepalkan tanganku begitu erat, emosiku memuncak, aku bahkan merasakan nafasku perlahan memberat. Sungguh, aku tidak bisa mentoleran peristiwa ini. setelah membunuh ayah, dia ingin mengancam hidup paman? TIDAK! Tidak akan kubiarkan.
KURORO POV END.
FLASHBACK OFF
Kuroro melihat kembali isi surat pemberitahuan itu – membacanya penuh emosi. Dia mengepalkan tangannya begitu kuat – penuh amarah. Namun, sekilas terlihat pancaran kesedihan yang begitu dalam dari matanya.
Dia bohong, dai pasti berbohong jika dia tidak merasa sedih dan bersalah.
Ayahnya pernah mengajarkannya untuk tidak membunuh manusia, dan menghargai nyawa manusia.
Secinta-cintanya kuroro pada pistol, senapan dan senjata api lainnya, dia tidak penah menggunakannya untuk membunuh manusia. Dan, semarah marahnya seorang kuroro, dia tidak penah berniat untuk membunuh manusia.
FLASHBACK ON
KURORO POV:
Saat suasana hening, mata ini terfokus pada layar televisi yang sedang memperlihatkan tayangan film bergendre action. Mataku tidak hentinya terfokus pada adegan baku tembak yang begitu menakjubkan bagiku, dimana para tentara bertarung mati-matian demi negaranya.
"Kuroro, kau harus ingat. Nyawa manusia itu berharga – hanya ada satu. Maka dari itulah, manusia berusaha untuk mempertahankan nyawanya. Nah, kau jangan gunakan pistolmu untuk membunuh orang yah. Hargailah usaha mereka untuk mempertahnkan nyawanya." Ucap ayah sambil tersenyum.
Aku ingat, saat itu ayah baru saja pulang dari kantor, terlihat wajah yang begitu lelah. Tapi, dia masih bisa tertawa dan menyembunyikan keletihannya untukku, anaknya yang dia sayangi.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah yah" kataku sambil tersenyum bahagia.
FLASHBACK OFF
Dalam hati yang terdalam, Kuroro enggan melakukan ini. Tapi, aku tidak bisa membiarkan ini terulang kembali, cukup aku yang mengalami semua ini, bukan orang lain. Dan caranya adalah aku harus membuhun kepar*t itu.
Kuroro sebenarnya tidak menyangka akan semua ini, ayahnya mati ditangan sahabat dekatnya sendiri. Dan kenapa ayahnya harus mati dengan cara seperti ini? Padahalkan ayahnya adalah orang yang sangat menghargai nyawa seseorang.
Sebuah senyum kecut tepampang indah terlukis diwajahnya. Dendamnya kembali lagi, amarahnya kemballi memuncak, nekatnya untuk membunuh Killua tumbuh lagi. "Tenang saja kepar*t, kau akan tenang dineraka besok, menyusul paman bren**ekmu itu." kata Kuroro sambil memperlihatkan evil smile-nya – menyeramkan.
…..v(^.^)v…..
Amplop hitam dalam genggaman, tatapan kosong yang seakan mati dan jantung yang berdetak begitu kencang. Didalam ruang tamu dengan gaya minimalis didalam apartemennya, killua membuka amplop yang baru didapatnya – perlahan.
Matanya membulat dengan sempurna, keterkejutannya lengkap. Detak jantungnya bahkan seakan tidak berdetak. Ya, penyebabnya adalah target selanjutnya. Pada tatapannya seakan kosong, namun bulatan mata birunya terlihat menyimpan seribu pertanyaan.
Mulutnya terbuka, dengan samar menyebutkan 'Whalter PPKS'.
Dengan berat hati, Killua berjalan menuju kedalam kamarnya, membuka satu-satunya lemari besar yang berada didalam kamarnya, lalu terlihat menacri sesuatu.
Sebuah kotak persegi panjang yang terbuat dari kayu yang diabil dari dalam lemarinya perlahan dibukanya. Terlihat sebuah senjata api berwarna hitam, dengan lubang senjata yang bulat dan besar, tak lupa pistol tersebut dilengkapi dengan peredam suara.
Dengan lirih Killua berbisik, "Besok aku akan melanggar janji yang baru kubuat paman, dan hidup sebagai pengecut."
Sebuah sapu tangan berwarna putih diambilnya dari saku celananya, menggosok pistol yang dipegangnya. "Akan membunuhmu dengan cepat." Katanya seraya melihat targetnya. Lalu, sebuah tetasan bening terjatuh dari matanya, "Maafkan aku paman."
SKIP TIME…
Pagi-pagi sekai Killua sudah bangun, membuka jendela kamarnya, lalu menyeduh the hangat seperti pagi-pagi sebelumnya. Mencoba menenagkan dirinya walaupun dia tau, setelah ini pasti dia tidak akan merasa hidup lagi.
Berjalan menuju tempatnya biasa menghabiskan waktunya dengan bersantai ditengah bunga matahari, menatapnya penuh makna, lalu menyiramnya.
"Jika aku masih hidup setelah ini, aku ingin elihat orang lain bahagia oleh masakanku" katanya pada dirinya sendiri.
Mengistirahatkan pikiran mungkin adalah pilihan yang tepat.
…..v(^.^)v…..
Pukul 8 tepat, kuroro sudah berada didalam mobilnya bersiap menuju ke tempat targetnya, namun sebelum itu dia ingin memastikan bahwa Kurapikanya baik-baik saja.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ketempat tujuan, saat dia sampai didepan tumah Kurapika, dia meliahat seorang dengan perawakan kecil tinggi memakai jaket hitam yang menutupi kepala. Samar telihat surai silver didalam jaket.
Dengan langkah tenang lelaki itu menghampiri Kuroro.
Evil smile terpampang jelas diwajah Kuroro,"Dia mengantarkan nyawanya padaku." Katanya pelan.
"Kau sudah bosan hidup Killua?" yah, beitulah sapaan kuroro.
Terlihat jelas wajah terkejut Killua. Bagaimana tidak? Sejak kapan orang didepannya ini tau namanya, dan apa-apaan tatapan itu?
Namun, dengan tenang Killua tersenyum begitu tulus, "Maafkan apa yang akan kulakukan."
Seketika Kuroro kaget,'Apa maksudnya?' namun denga cepat dia memperbaiki ekspresinya, "Kau tau apa kesalahanmu Killua?"
Dengan tenang Killua menjawab,"Aku penuh dengan dosa besar."
Kuroro terlihat marah, dia begitu kesal dengan sifat Killua yang terlihat begitu tenang.
"Pembunuh bayaran seperti tidak pantas hidup! Kau sama saja seperti pamanmu yang tidak menghargai nyawa manusia, membunuh targetnya dengan kejam, bahkan membunuh sahabatnya sendiri!"
Kuroro mengambil pistol yang ditaruhyan di dalam saku celannaya lalu manembakkan pada killua, tapat pada perut kirinya.
Seketika mata killua membulat setelah mendengar pernyataan kuroro, 'bahkan membunuh sahabatnya sendiri' apa makasunya? Lalu disusul dengan keterkejutannya setelah dia merasakan perut kirinya kini bersarang sebuah peluru.
Dengan nafas memburu killua tidak melawan dan masih terlihat mencoba untuk menenangkan diri sambil tertawa hambar, "Pamanku bahakan mengorbankan nyawanya untuk ayahmu."
"Pembohong!"
"Aku tidak pernah berbohong tentang pamanku"
"lalu apa maksudmu mengirimkan pesan peringatan kepada pamanku"
"Pesan apa?"
Kuroro tertawa, terlihat bahwa dia sudah kehilangan dirinya, dan yanag ada diotaknya kali ini hanya satu – Bunuh orang yang berdiri didepannya. Kuroro mengangkat pistolnya lurus tepat menuju kekekning Killua tidak peduli dengan orang-orang yang melihat kearahnya.
"Persetan dengan semua perkataanmu pembunuh! Hari ini, aku akan mengakhirinya, mengistirahatkanmu dineraka."
Namun, saat Kuroro akan melepaskan peurunya, Killua dengan sigap menendang tangan kuroro lalu dengna cepat dia menembakkan sebutir peluru dari pistol yang sedari tadi digenggamnya didalam saku jaketnya tepat diantara kedua keningnya.
Tergeletak, kuroro jatuh tak berdaya didepan Killua, dan tidak lama kemudian Kurapika datang dan melihat wajah Killua.
Terkejut, itulah yang pertama kali terlihat pada wajah Kurapika saat melihat wajah Killua. Dengan tatapan tak percaya, dia menyebutkan nama 'Killua' untuk peretama kali dari sekian lamanya.
Dengan nafas memburu, killua pergi meninggalkan Kuroro dan Kurapika.
To be Continue…
" Masalalu akan menyadarkanmu pada sebuah kenyataan yang terjadi dimasa depan" _SelenT_
Jah, berakhir dengan nistanya :'v
Yo, gomen gomen lama gak update. Masih ingatkah dengan cerita ini? :'v masih ada kah yang ingat? T.T
Yo, jadi di episode selanjutnya Ai bakal buka2an tentang masalalu Killua dan Kurapika.
Btw, Ai ganti nick yang dulunya Ainaka-chan jadi SelenTetrad :3
Mau mebuka dunia fiksi baru bah :v
