Mimpi buruk itu akhirnya terjadi. Tetsuya menyadari pelacak yang dipasang pada barang-barangnya. Jelas, ia merasa kesal dengan tindakan Tokiwa. Ia segera menyusun rencana untuk melarikan diri dari sekolahnya dengan otaknya yang cerdik. Ia meminta salah seorang temannya untuk mengganti pakaian dan tasnya dengan dirinya. Temannya setuju, jelas. Tetsuya mempunyai wajah polos yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Ia memakai wig berwarna hitam yang selalu dibawanya dan dengan mudah berhasil melarikan diri. Dua jam kemudian, Tetsuya telah berada di daerah pinggiran kota yang tenang dengan menggunakan pakaian kasual yang baru dibelinya.

Ia tidak mengenal daerah yang dikunjunginya ini. Dan baginya, itu adalah suatu hal yang bagus. Karena para pengawalnya pasti akan mencarinya di tempat-tempat yang biasa dikunjunginya. Tetsuya begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai tidak sadar bahwa ia telah mealngkah masuk ke dalam sebuah taman bergaya Jepang Kuno yang indah.

"Kau. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya sebuah suara menyentakkan Tetsuya dari lamunannya. Tetsuya serta merta menoleh ke arah datangnya suara itu. Di hadapannya, berdirilah seorang laki-laki berambut merah dengan mata heterochrome yang indah.

Laki-laki itu berjalan mendekati Tetsuya dengan wajah dingin yang mengintimidasi. Jantung Tetsuya mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan entah kenapa, Tetsuya tak bisa mengalihkan pandanganya dari mata itu. Mata yang seakan-akan menyihirnya ke dimensi lain.

"Kau tidak mau menjawabku?" tanya laki-laki itu lagi. Ia menatap Tetsuya dengan kening dikerutkan tidak senang. Tetsuya bukannya tidak mau menjawab. Ia ingin menjawab pertanyaan lelaki itu. Tapi mulutnya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.

"Baiklah kalau kau tidak mau menjawab." ujar lelaki itu setelah menunggu jawaban yang tidak kunjung datang dari mulut Tetsuya. "Mulai saat ini, kau akan kutahan di sini." lanjut laki-laki itu lagi.

Tetsuya tersentak mendengar perkataan yang tidak masuk akal itu. "Ano.. Tolong jangan lakukan itu." ujar Tetsuya akhirnya menemukan suaranya.

"Terlambat." senyum laki-laki itu licik. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung berbalik pergi. Tetsuya merasa bingung dengan tingkah laku lelaki itu. Ia ragu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia punya tiga pilihan, dan ketiga-tiganya sama-sama tidak mengenakkan.

"Apa yang kau lakukan? Ikut aku." kata laki-laki itu tiba-tiba, menyadarkan Tetsuya dari lamunannya. Tetsuya mengangkat wajahnya dan dengan terkejut menyadari lelaki itu telah berhenti berjalan dan kini menghadap ke arah Tetsuya.

Tetsuya merasa ragu sejenak sebelum akhirnya melangkah mengikuti lelaki itu. Lelaki itu berjalan menyusuri jalan setapak dari batu yang mengarah ke sebuah rumah besar bergaya Jepang yang terdapat di tengah-tengah taman itu.

"Seijuuro-sama, siapa anak ini?" tanya seorang kakek tua yang menyambut kami di depan pintu. Tetsuya sebenarnya merasa tidak senang dipanggil anak-anak. Tapi ia hanya diam saja.

"Dia? Entahlah. Namamu?" tanya lelaki itu pada Tetsuya sambil lalu. Tetsuya merasa ragu untuk memberitahukan namanya pada orang asing. Dan nama keluarganya mungkin akan membawa pengaruh buruk.

"Tetsuya." jawab Tetsuya singkat.

"Yah, Tetsuya akan kutahan di sini untuk sementara." ujar lelaki itu kepada kakek tua itu dengan santai. Lelaki itu berjalan menyusuri lorong dengan banyak pintu yang terdapat tepat di depan pintu depan. Tetsuya ingin mengintip ke dalam setiap ruangan yang tampak ribut itu tapi ia tidak berani melakukannya karena lelaki berambut merah ini tampak menyeramkan.

Lelaki itu berhenti di depan sebuah pintu geser dan membukannya dengan satu sentakan cepat. "Ini kamarmu." ujarnya singkat. Tetsuya bingung apa yang harus dilakukannya. Masuk ke dalam kamar itu atau tetap berdiri di depan pintu bersama lelaki itu. "Masuklah." ujar lelaki itu dengan nada memerintah.

Tetsuya buru-buru masuk ke kamar itu tanpa mengatakan apa-apa. Lelaki itu tetap berdiri di depan pintu mengawasi Tetsuya. Tetsuya baru saja akan memanggil lelaki itu ketika ia sadar, ia belum mengetahui nama lelaki itu.

"Ano.. Siapa namamu?" tanya Tetsuya dengan nada suara dan ekspresi datar yang menjadi andalannya.

Kening laki-laki itu sontak mengerut saat mendengar pertanyaan Tetsuya. Ia bergerak masuk ke dalam kamar itu dan kembali menutup pintu dengan sebuah sentakan cepat. Tetsuya jelas terkejut dengan reaksi laki-laki itu.

Sebelum Tetsuya sempat bereaksi apapun, lelaki itu telah mendorong Tetsuya sehingga ia berbaring telentang di lantai. Dan tanpa Tetsuya sadari, lelaki itu telah menahan tangannya di atas kepalanya sehingga Tetsuya tidak dapat beregerak. Ini berbahaya. Jantung Tetsuya kembali berbuat ulah.

"Kau benar-benar tidak mengenalku?" tanya lelaki itu dengan nada rendah dan tajam. Tetsuya tidak dapat mengatakan apa-apa. Ia takut. Benar-benar takut. Tapi ia tidak dapat mengalihkan pandangan. Tubuhnya menolak untuk menuruti perintahnya.

Lelaki itu mencium ketakutan Tetsuya dan dengan santai mendekatkan wajahnya ke Tetsuya. Tidak! Hentikan! Ciuman itu hanya berlangsung singkat. Lelaki itu hanya menempelkan bibirnya di bibir Tetsuya dengan lembut. Tapi itu sudah cukup untuk membuat air mata Tetsuya menggenang, menunggu untuk jatuh.

Lelaki itu tampak terkejut melihat air mata di pipi Tetsuya. Ia segera melepaskan Tetsuya dan berjalan kembali ke pintu geser. Eh? Tetsuya tidak menegerti cara berpikir laki-laki ini. Tapi ia tahu kalau ia harus cepat-cepat bangkit setelah lelaki itu melepaskannya. "Lupakan tentang ciuman itu." ujar lelaki itu pelan. "Aku Seijuuro Akashi, pemimpin klan yakuza Aka." lanjutnya tanpa sedikitpun memandang ke arah Tetsuya.

Kata-kata singkat itu telah cukup untuk membuat mata Tetsuya melebar dan membuat badannya bergetar ketakutan. Tunggu dulu.. Mereka akan membunuhku seperti mereka membunuh Otousan, bukan? Bagaimanapun juga, ia ingin hidup. Masih banyak yang ingin dilakukannya. Air mata Tetsuya kembali mengalir di pipinya tanpa bisa berhenti. Seluruh tenaga tiba-tiba hilang dari tubuhnya. Ia kembali berbaring di lantai tatami dengan tubuh bergetar ketakutan.

Tetsuya, kau harus menjadi pemimpin yang baik setelah kami pergi.

Review, please?^^