Disclaimer : NARUTO milik Masashi Kishimoto

Pair : ada aja~ kalian boleh nebak nih, si karin akhirnya sama siapa yey!

WARNING : Gak jelas, drama queen, miss curhat, miss typo, alay, OOC (binggow), ceritanya terlalu pendek (ew), dan yang terpenting masih pemula, oh ya, lagi belajar buat konsisten menulis, enaknya setiap hari apa ya nge-publish nya? *mikir keras* (minggu aja gimana?), Author lagi belajar konsisten, harap maklum #PisLoFensGueGaoel

Hope y'all like it!

Haaay para readers yang unyu banget (pasti ada maunya nih), jangan lupa reviewnya ya! (kan bener ada maunya)

Happy Reading to all my readers^^

-ooo-

TAMPAN - GAGAK - GAJAH - HIU

Part 2

-ooo-

"Ini tempatnya." Sasuke menunjuk ke arah yang ia tuju.

Aku melihat di tepi hutan, ada sebuah batu nisan.

Jangan - jangan itu...

Gak, gak mungkin!

Tapi kok...

Seketika semuanya gelap.

-ooo-

"Karin!"

Aku mendengar sayup - sayup suara merdunya. Suara yang ingin kudengar sepanjang hidupku. Suara yang ingin aku miliki dari dahulu.

"Ya?" aku menyahutnya sambil tersenyum lepas.

"Maaf ya, hari ini kita tidak bisa jalan - jalan. Padahal, aku tau banget kamu pengen jalan - jalan, ya kan?" katanya dengan raut muka kecewa. Tapi sungguh, itu tidak merubah opiniku tentang suaranya yang merdu.

Suaranya tetap merdu, suaranya tetap masih ingin aku dengar.

Andai aku punya suara seperti miliknya!

"Hm, misi lagi ya?" aku ikut kecewa.

"Ya begitu," katanya. "Tapi janji deh, setelah misi nanti, aku akan mengajakmu jalan - jalan!"

"Benarkah?" tanyaku langsung memasang raut wajah bahagia. Padahal dalam hatiku, aku masih sedih, bercampur cemas.

"Tentu saja," dia mengacak rambutku yang berwarna merah cerah karena terkena cahaya matahari.

"Misi apa?" rasa cemas itu masih ada.

"Ada saja," katanya tersenyum misterius. "Misi penting, tentu saja."

"Kau ini!" aku memukulnya pelan. "Aku penasaran!"

Sebelum dia menjawab pernyataanku tadi, aku langsung memeluknya, menandakan aku mempercayainya kalau dia dapat berhasil oleh misi itu.

"Tapi kamu gak bakalan gagal menjalani misi ini kan?" tanyaku akhirnya. Bertanya dengan cemas, tentu saja.

"Hei, kau bakalan kangen gak?" dia malah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.

"Yaiyalah!" aku menepuk lengannya. Dia hanya tertawa.

"Hei, tetep jalani hidup ya walau gak ada aku," katanya. "Hadapi semua dengan senyuman!"

"Apaan sih? Kayak mau perpisahan aja huh," kataku. Dia tertawa.

"Kan kita emang mau pisah. Berarti bener kan?"

"Ih, tapi kan gak lama!" kataku tetap mengelak. Dia hanya tertawa geli dan menginjak kakiku. Aku pun langsung mengejarnya tanpa ampun.

Kuharap misi ini adalah misi yang tidak berbahaya.

Ah, aku yakin, dia bisa melalui misi itu! Dia kan, cowo kuat yang pernah aku temui.

Tapi, aku hanya ingin dia baik - baik saja.

-ooo-

"KARIN!" Juugo mengguncang tubuhku dengan kencang. Ralat, sangat kencang.

"Apaan sih? Ini gue udah bangun!" kataku langsung melepas tangan Juugo yang mencengkramku kuat.

"Lo kenapa? Tiba - tiba kok pingsan?" Sasuke bertanya dengan tampang cueknya dan seperti biasa, tidak melihat ke arah lawan bicaranya.

Tunggu dulu...

Oh no.

OH NO.

OH NO!

Kepalaku langsung sakit seperti habis dilempar batu yang besar. Kenangan itu terulang lagi. KENANGAN ITU! Kenangan yang sudah lama itu mulai teringat kembali!

"Emang harus dibahas ya?" tanganku mulai gemetar dengan hebatnya.

Tiba - tiba saja aku langsung sesak napas. Jantungku berdetak lebih pelan dari yang biasanya. Kepalaku juga sakit. Sangat sakit.

Ini semua karena kenangan itu. Kenangan yang sangat menyedihkan selama aku hidup.

Tidak hanya paru - paru, jantung, dan kepalaku.

Bahkan, mataku juga ikut berpartisipasi dalam hal ini.

Iya, mataku membuat semuanya kembali gelap seperti tadi.

-ooo-

"Bagi para keluarga dan kerabat dari shinobi yang kemarin menjalankan misi, harap segera berkumpul!"

Aku mendengar suara yang disiarkan tersebut.

Oke, kemarin dia mendapatkan misi...

Berarti aku harus ke sana!

Ya, aku termasuk dalam kerabatnya.

Dan calon dari keluarganya.

Berarti aku harus ke sana kan?

Ah, benar aku memang harus ke sana. Aku ini gimana sih?

Tanpa basa - basi, aku langsung berlari untuk pergi ke tempat pertemuan biasanya.

Selama perjalanan, aku terus saja berpikir. Bagaimana tidak? Jarang sekali ada pertemuan mendadak begini. Hm, perkumpulan yang mendadak seperti ini membuatku begitu penasaran. Ralat, sangat penasaran. Membuatku berpikir, ada apa sebenarnya? Apakah dia tetap baik - baik saja? Semoga dia baik - baik saja. Hanya itu harapanku satu - satunya.

Tapi harapanku ini terhalangi oleh kecemasanku yang sudah membengkak.

-ooo-

"Jadi semua sudah berkumpul?"

Aku hanya mendengarkan, tanpa mengubris hal tersebut dengan anggukan atau perkataan. Kecemasan itu masih ada. Ketakutan dari pikiranku beberapa kali muncul terus.

"Baik, jadi... para shinobi yang menjalankan misi kemarin... mereka semua gagal."

Gak mungkin.

Pasti tadi cuma salah denger!

Haha, iya tadi cuma salah denger.

Aku berusaha meyakinkan diriku, kalau yang dikatakan tadi itu hanya bercanda, hanya salam pembuka agar semua yang hadir menjadi lebih rileks. Iya, pasti karena itu.

"Haha, bisa aja, jadi mereka gagal dalam misi kemarin ya? Lalu, mereka di mana?" tanyaku lalu tertawa kikuk.

"Mereka... mereka gagal dalam melaksanakan misi... karena terbunuh saat melawan shinobi dari desa lain."

Jawaban itu membuatku sesak napas. Sungguh. Sesak napas yang hebat, seakan - akan paru - paruku hanya satu, bahkan hanya setengah. Seakan - akan, oksigen tidak ada yang masuk ke dalamnya. Seakan - akan, saat ini aku menghirup karbondioksida.

"SEBENARNYA MEREKA MELAKUKAN MISI APA?!" tiba - tiba saja, tangisku meledak. Ketakutan dan kecemasan yang ada dalam benakku benar - benar terjadi.

Benar - benar jadi kenyataan.

Firasatku tadi ternyata benar!

"Mereka... melakukan misi untuk membunuh para shinobi yang ditandai sebagai shinobi yang paling dicari dengan bayaran paling mahal."

"KENAPA? KENAPA HARUS MELAKUKAN MISI KONYOL SEPERTI ITU?! KENAPA HARUS MELAKUKAN MISI YANG MENURUTKU SANGAT ANEH ITU, HAH?!" aku sudah tak bisa menahan luapan emosiku saat ini. Aku benar - benar hancur sekarang.

"Maafkan kami para tetua desa. Desa kita saat ini sedang kekurangan penghasilan, mau tidak mau kita harus melakukan hal seperti itu."

"TAPI KENAPA HARUS DENGAN CARA INI?! KENAPA?!" tidak hanya aku saja, tapi ada seorang wanita yang berteriak sambil menangis. Ia membawa anaknya yang masih kecil. Anak itu juga menangis. Mungkin, anak itu heran akan sikap ibunya.

"Kita harus menerimanya..."

Aku tidak akan bisa menerima hal ini. Orang yang benar - benar aku cintai, aku sayangi dengan segenap hatiku, aku lindungi selalu, yang aku ingin dia selalu bersamaku, tiba - tiba pergi, dan tidak akan pernah kembali. Selamanya.

Tidak akan ada yang mengajakku jalan - jalan lagi.

Tidak akan ada yang mengacak rambutku lagi.

Tidak ada senyum misterius itu lagi.

Tidak akan ada lagi yang kupeluk.

Tidak ada lagi suara merdunya yang selalu mengisi hariku.

Aku hancur.

Hancur berkeping - keping.

-ooo-

Aku terbangun. Kulihat sekelilingku. Ternyata ini sudah malam. Semua sudah gelap, dan aku melihat sekarang langit dihiasi bulan dan bintang yang indah.

"Hei, sudah bangun?" Juugo melihatku dan duduk di sampingku. Aku berusaha untuk duduk.

"Iya," kataku dengan kepalaku yang masih pusing.

"Jadi, kenapa lo pingsan?" tanyanya sambil melihatku sekilas.

Aku mulai mengingat lagi kenangan itu.

Ah, kenapa aku ingat lagi sih?!

"B-bisa g-gak k-kalo k-kita g-gak b-bahas h-hal i-itu la..."

Sepertinya, kepalaku masih sakit, dan hatiku merasakan kalau kenangan itu hadir lagi.

Sepertinya, aku akan pingsan lagi.

Ya, aku berpikir seperti itu karena tiba - tiba saja semuanya menjadi gelap. Lagi.

-ooo-

Aku menatap sekali lagi batu penghormatan itu. Ya, batu untuk menghormati jasanya yang telah melakukan misi berbahaya seperti itu. Misi tingkat S, katanya.

Aku tidak peduli itu misi tingkat apa.

Yang jelas, itu misi yang sangat berbahaya dan sukses membuat kekasihku mati seperti ini.

"Hei, apa kabar?" aku menatap batu itu lalu memegangnya.

"Sepi loh gak ada kamu," aku berusaha untuk tidak menangis.

"Inget janji kamu padaku untuk berjalan - jalan? Ya, anggap saja janji itu sudah ditepati ya?" aku tetap berbicara, seakan - akan dengan aku berbicara, dia bisa mendengarku. Setidaknya. "Ah udahlah, lo gue kayaknya lebih enak. Ya gak? Kalo aku kamu... aku jadi inget kamu lagi."

"Lo baru pergi sehari, tapi gue sudah ingin ngobrol denganmu dan mendengar suara lo. Harusnya saat lo belum pergi, gue meluk lo lama ya. Atau, gue bahkan tidak membolehkan lo melakukan misi ini," kataku menatap batu itu lagi dan lagi.

"Atau, gue harusnya ikut sama lo aja ya dalam misi itu?" kataku, lalu terkekeh.

"Lo mau tau? Gue bakalan melewati hari yang susah tanpa melihat wajah lo. Iya, wajah lo yang selalu menatap gue dengan lembut, dan mata lo yang cokelat gelap itu," aku pun duduk, ingin berlama di sini.

"Gue di sini lebih lama boleh? Gue ingin lo ngedengerin obrolan gak penting gue," aku seakan - akan meminta ijin darinya. "Omong - omong, ngomong gue lo jadi rada aneh ya. Tapi daripada gue inget kata - kata lo pas itu, ya gak?"

"Gue kangen lo. Gue ingin jalan - jalan sama lo lagi. Gue rindu suara lo dan gaya lo pas ngacak rambut gue. Gue kangen di saat lo ngejar gue karena kecemasan gue yang kadang berlebihan. Gue benar - benar gak bakalan ngelupain lo, gak bakalan ngelupain kenangan kita," aku sudah meneteskan air mata.

"Haha, kok gue nangis gini sih? Gue kan harus kuat. Seperti kata lo... Apaan ya pas itu? Yaampun gue lupa!" aku mulai mengingat lagi kata - katanya yang dia ucapkan dengan suara merdu itu.

"Oh iya! Tetep jalani hidup walau gak ada lo, hadapi semua dengan senyuman!" kataku girang karena mengingat kata - kata yang dia ucapkan.

"Tapi, kalo gue kangen lo gimana?" tanyaku tiba - tiba.

"Oh iya! Kan gue tinggal datang ke sini ya! Gue bisa mencurahkan seluruh keluh kesah yang gue hadapi di sini. Gue berharap, lo mau mendengarnya terus di alam sana," aku lalu tersenyum melihat batu itu.

"Rin! Jangan lama - lama yuk! Kita jalan - jalan, gimana?"

"Hei, gue jalan - jalan dulu ya. Kali ini, gak sama lo gapapa kan?" tanyaku yang pastinya tidak akan dijawab. "Gue harap lo bilang gapapa."

Walau dia tidak ada, tapi dia dan kenangan dia sama aku akan tetap ada di sini.

Di hatiku.

-ooo-

Aku terbangun lagi. Tapi kali ini, suasana sekitar mulai bersahabat. Ternyata sudah pagi. Matahari benar - benar sukses membangunkanku. Nilai A+ buat matahari!

Aku ingin berdiri untuk meregangkan ototku yang kaku. Tapi, tiba - tiba saja, aku tidak bisa bangun. Tiba - tiba saja, badanku berasa berat sekali. Apakah ini efek dari tidurku yang terlalu lama?

Oh bukan.

Ini ternyata ada kaki gajah yang nongkrong dengan santainya di perutku. Eh, maksudku tangan Juugo.

Apa bedanya tangan Juugo dengan kaki gajah? Menurutku sama saja.

"Ng? Oh, lo udah bangun Rin?" tanya Juugo lalu mengucek matanya sesekali.

Kuharap matanya tak bisa melihat lagi.

Aku memang kejam.

"Belom, gue masih tidur!" aku menyingkirkan tangan Juugo, lalu berdiri. Aku mendengar Sasuke yang terkekeh pelan.

WAA, BARU PERTAMA KALINYA DENGER SASUKE TERKEKEH!

"Gue juga udah," sahut Sasuke pelan.

"Haha, seperti biasa, lo bangun terakhir," kataku tergelak cukup lama.

"Hm, jadi lo udah..." Juugo baru saja mau berbicara, tapi mulutnya tiba - tiba dibekap oleh Sasuke. Aku bingung.

"Udah apaan?" tanyaku heran dan dengan spontan menghentikan tawaku.

"Udah berdiri maksudnya," Sasuke langsung melepas mulut Juugo, lalu memeperkannya ke pohon. Aku tertawa geli.

"Sasuke, mulut gue gak sebau itu kali!" kata Juugo protes. Aku tertawa kencang, sedangkan Sasuke tersenyum.

WA! SENYUMAN ITU!

"Jadi, kau sudah mendapatkan pedangnya, Sasuke?" tanyaku antusias. Biasa, aku hanya ingin dapat perhatian lebih dari Sasuke. Cari perhatian di calon pacar gak apa - apa kan?

"Belum. Sebaiknya lo nunggu di sini, sedangkan gue dan Juugo akan ke sana buat ngambil tuh pedang," kata Sasuke lalu bangun.

"Kenapa aku gak boleh ikut?" ini keherananku yang kedua kalinya. Sasuke membuatku bingung!

"Karena... karena lo harus jaga tempat ini. Tempat ini enak, kalau sampai ditempatin musuh kan, bakalan nyesel," kata Juugo lalu tertawa waswas.

"Benarkah itu, Sasuke?" aku mengernyitkan keningku pada Sasuke dan Juugo.

"Ya," jawab Sasuke sekenanya.

"Baiklah," kataku lalu duduk untuk menunggu mereka kembali.

Hm, aku mulai berpikir lagi. Mungkin, alasan Sasuke dan Juugo sebenarnya bukan itu. Mungkin alasan mereka yang sesungguhnya adalah agar aku tidak kecapean seperti tadi. Buktinya saja tadi aku sudah pingsan beberapa kali. Tapi aku pingsan karena apa? Aku sungguh tak mengerti. Mungkin aku karena kecapean. Ya, mungkin karena itu. Kalau aku memaksakan diri untuk mengikuti Sasuke dan Juugo, aku malah akan merepotkan mereka. Ya, keputusan ini benar.

Keputusanku untuk menunggu Sasuke dan Juugo kembali.

-ooo-

Sudah 2 jam aku berbaring, ya melamun sesekali.

Tapi tanda - tanda kehadiran Juugo dan Sasuke tidak ada.

Aku mulai cemas. Pikiran berlebihanku mulai muncul. Hatiku mulai berdebar sepuluh kali lebih cepat dari yang biasanya. Pikiran - pikiranku yang tidak enak mulai berkecamuk dalam pikiranku. Firasat - firasat buruk mulai menyelimuti otakku.

Ada apa dengan mereka? Apakah mereka baik - baik saja?

Aku langsung beranjak dari tempat dudukku, berlari sekuat yang aku bisa, dan mengikuti jejak kaki mereka yang ditinggalkan. Setelah berlari cukup lama, akhirnya aku menemukan mereka di suatu tempat yang sepertinya pernah aku datangi.

Aku mulai berpikir dan mengingat tempat ini.

Oh iya...

Tempat ini kan...

Rasa shock-ku yang berlebihan membuat mataku tak mampu menahan untuk menutup.

Seketika semuanya gelap lagi.

Aku benci warna hitam!

-ooo-

"Hai, kira - kira lo lagi apa ya di sana?" aku duduk di samping batu itu lagi. "Sepi parah gak ada lo."

Aku mulai mengusap lembut batu itu. Aku harap, dengan melakukan hal tersebut, sama saja aku merasakan hangatnya tubuh miliknya. Aku benar - benar merindukan sosoknya yang kuat, namun berubah lembut bila berhadapan denganku. Benar - benar rindu akan masa - masa itu!

"Lo mau tau? Hidup terasa berat bila gak ada lo yang ngehibur gue," aku mulai meneteskan air mata, aku masih tak terima kepergiannya. Ya, kurasa aku masih belum terbiasa, dan mungkin tidak akan pernah terbiasa. Bagaimana bisa aku terbiasa akan hal seperti ini? Sudah, aku tak mau memikirkannya lebih lama.

Tidak ada yang bisa menggantikannya. Walau ada, pasti tak akan ada yang sepertinya.

"Karin..."

Tunggu dulu...

Apakah aku bermimpi? Ah aku salah dengar pasti!

Aku harus ke rumah sakit sepulang dari sini.

"Rin! Jangan melamun terus!"

Gak, aku gak salah dengar. Ini suara dia!

"Kamu..."

"Kok tiba - tiba aku kamu lagi? Bukannya tadi udah gue lo ya? Omong - omong, sebegitu kangennya sama aku?" tanyanya lembut.

Aku langsung terpekik kaget melihatnya.

"K-kamu bukannya udah m-mati ya?!" aku bergidik ngeri.

"Yee, aku tuh datengin kamu buat ngehibur kamu, kok kamunya malah takut gitu?"

"Ya gimana gak takut? Kamu tuh udah mati, kok tiba - tiba ngajak aku ngomong?" aku masih seram. "Kamu hantu yang menyamar kan?!"

"Haha, berarti kamu ngomong sama hantu dong?" dia tertawa. Ketakutanku mulai mereda.

"Oke, jadi ini beneran kamu?" tanyaku. "Kamu beneran masih hidup?"

"Ya bisa dibilang begitu."

Aku mulai ingin berlari untuk memeluknya, tapi langsung ada aba - aba darinya. "Tapi kamu gak bisa meluk aku. Kita udah beda dunia."

DEG! Ternyata dia memang sudah tak ada.

"Jadi... maksudmu kembali ke sini kenapa?" aku langsung kecewa. Kecewa untuk yang kedua kalinya.

"Kau masih sedih?" tanyanya lembut, tapi tegas. Berbeda seperti biasanya.

Aku hanya diam. Tak terasa, air mataku jatuh lagi.

"Jawab Rin."

"OKE, GUE MASIH SEDIH. GUE MASIH PENGEN BARENG BARENG SAMA LO LAGI. GUE BENAR - BENAR... BENAR - BENAR INGIN BERSAMA LO TERUS!" aku berteriak sambil menangis, melepaskan semua keluh kesahku selama ini.

"Nah kan, kamu tuh orangnya gak konsisten. Tadi aku kamu, sekarang gue lo," katanya lalu tertawa. "Tapi, terserah aja deh."

Aku hanya diam.

"Rin, denger..." katanya. "Kamu gak bisa kayak gini terus. Kamu harus bisa ngejalanin sisa hidup kamu tanpa aku."

"GIMANA GUE BISA? GIMANA AKU BISA?" aku berteriak histeris kali ini.

"Hei..." katanya berbisik di telingaku. "Kamu pasti bisa."

Aku berhenti menangis.

"Plis rin, permintaanku cuma satu ini. Plis kamu harus nurut kali ini aja," katanya dengan nada bersungguh - sungguh.

"Kalo gak lo bakal apa?" aku tantang. Aku sudah tak peduli lagi, mau pakai kata lo gue atau aku kamu. Menurutku sama saja. Aku sama saja tak berbicara dengan dia yang nyata.

"Kalo gak, aku bakalan terus datengin kamu."

"Bagus deh, berarti lo bisa nemenin gue lagi. Mending gak usah nurutin kata lo," aku girang.

"Tapi aku gak bakal tenang."

Oke, sikap egoisku mulai muncul.

"Plis Rin."

"O-oke, akan gue coba, akan aku coba," kataku.

"Boleh aku minta satu permintaan lagi?"

"Apapun itu, selama gue dan aku bisa melakukannya," aku kali ini menatapnya sungguh - sungguh.

"Gue dan aku. Haha," katanya lalu tertawa.

"Cuma satu. Lakukan apa yang hati kamu bilang. Dan senyum terus. Lo kalo lagi cemberut jelek tau," dia tertawa terbahak - bahak.

"Ya, aku jadi ikutan ngomong gue lo deh, gapapa ya?" tanyanya yang hanya aku jawab dengan anggukan pelan. Setelah dia mengatakan hal itu, dia menghilang begitu saja.

Oke, aku akan lakukan apa yang hatiku mau.

Yang hatiku mau sekarang adalah...

Tetap mengenangmu, tapi tetap menjalani hidup dengan senyuman.

Mungkin melupakan dia memang susah, tapi aku akan melupakannya.

Melupakan dia, tapi tak akan pernah melupakan kenangan dia bersamaku.

-ooo-

"Karin! Lo akhirnya sadar juga!" lagi - lagi Juugo yang mengguncang tubuhku. Dan lagi - lagi, dia mengguncangnya dengan kekuatan penuh miliknya. Kekuatan gajah miliknya, maksudku.

"Ih, Juugo! Lepasin!" aku berteriak mengaduh.

"Yaudah nih," tiba - tiba saja, Juugo langsung melepas tangannya, dan aku terjatuh.

"JUUGO! SAKIT!" teriakku. "Sasuke, Juugo nyebelin!"

"Jangan manja," Sasuke lalu memalingkan wajahnya, sedangkan Juugo hanya menjulurkan lidahnya.

"Apa lo?!" tanyaku galak.

"Weits, galak banget sih," kata Juugo membuatku kesal setengah mati.

"Hm, jadi bagaimana dengan pedangnya, Sasuke?" akhirnya aku berusaha manis di depan Sasuke.

"Belum ketemu, rupanya sudah diambil oleh orang lain!" Sasuke menendang kerikil itu dengan kencang. Aku hanya diam.

"Sasuke, lo jangan nendang itu kerikil, dia gak salah apa - apa," kata Juugo dengan wajah datar, namun dengan nada lucu.

"Juugo! Lo jangan kayak gitu napa!" kataku membentak Juugo, tapi menahan ketawa.

"Lo kalo mau ketawa, ketawa aja kali," Sasuke menyindirku dan Juugo. Tawaku langsung meledak.

"Ya sudah, mau lanjutkan perjalanan?" tanya Sasuke.

Tanpa ada keraguan di benakku dan Juugo, kami kemudian berkata, "YA!"

-ooo-

Kami mulai berjalan, tapi kali ini bukan di sekitar hutan. Kami sudah memasuki sebuah desa. Desa yang sepi rupanya.

"Jadi, apa rencana kali ini, Sasuke?" tanya Juugo yang kali ini meregangkan tangannya dan mengenai mukaku.

"Hei, tangan lo santai dikit bisa gak?" aku langsung memukul tangannya pelan.

"Maaf deh," kata Juugo. Aku ingin membalasnya, tapi kuurungkan niatku setelah melihat tatapan sengit dari Sasuke.

"Hm, jadi kita akan ke rumah penduduk sekitar sini untuk menanyakan soal pedang itu," kata Sasuke.

"Kalau gak ketemu?" kali ini aku yang bertanya.

"Harus... ketemu..." Sasuke melihatku dengan tatapan licik. Aku menelan ludah, ngeri.

"Canda, tapi memang harus ketemu," kata Sasuke, lalu melihat jalan lagi.

Oke, saat ini aku paranoid kalau Sasuke mengatakan 'harus ketemu'. Oke, aku akan hilangkan pikiran itu. Aku akan hilangkan perkataan Sasuke tadi. Baru kali ini pikiran tentang Sasuke aku hilangkan. Tapi, sungguh, Sasuke sangat menyeramkan tadi. Seperti ingin menelanku hidup - hidup. Mengerikan!

"Oke, kita bagi tugas. Gue akan cari ke arah utara dan timur. Sedangkan lo sama Karin, cari ke arah barat sama selatan. Kita ketemu lagi di sini," kata Sasuke.

"KENAPA GUE MUSTI SAMA DIA?" tanyaku bebarengan dengan Juugo. Aku mendadak jijik, sedangkan Juugo mendadak muntah - muntah.

"Karena, lo berdua itu gak pernah akur, makanya harus bareng. Lagipula, Juugo, lo harus jagain Karin, kondisi badan dia lagi gak stabil. Kalo Karin sama gue, yang ada dia malah ngerepotin," kata Sasuke dengan cueknya.

Aku-merepotkan-Sasuke. Oke...

"Baiklah," kata Juugo akhirnya berjalan duluan.

"Ih, Juugo! Baiklah, Sasuke, kami berangkat!" kataku disertai anggukan Sasuke.

Dan kami pun mulai melangkah ke arah yang berbeda untuk mendapatkan pedang yang bagi 'Sasuke' sangat berharga untuk masa depannya. Wah, aku terlalu berlebihan.

Tapi benar kan?

Apa perkataanku ada yang salah?

-ooo-

Baru kali ini aku menyadari, jalan bersama Juugo ternyata mengasyikkan juga.

"Eh, lo ternyata jelek banget ya," kata Juugo lalu berjalan cuek.

AKU TARIK KATA - KATAKU BARUSAN!

"Rese emang lo, yaudah jadi gimana?" tanyaku.

"Ya liat sendiri, kita udah cari di sini gak ada kan? Hm, padahal tadi Sasuke bilang harus ketemu ya," kata Juugo lagi melihat sekitar dengan matanya yang bulat.

Oke. Kata - kata Juugo barusan membuatku bergidik ngeri. Aku mulai paranoid lagi.

"Tapi, baru kali ini lo gak bawel, ada apaan? Ada fenomena apaan sampe lo diem kayak gini? Apa ada seseorang yang membuat lo diem kayak gini? Kalo ada, gue mau berterima kasih sebanyak - banyaknya sama dia," kata Juugo. Aku memukulnya pelan.

"Ah udah ah! Sekarang kita tanya orang sekitar aja, siapa tau mereka tau," kataku lalu membelakangi Juugo.

"Oke. Eh, coba tanya ibu itu!" kata Juugo histeris.

"Ibu yang mana?" aku melihat arah yang ditunjuk Juugo.

"Itu yang lagi jualan!" kata Juugo.

"ITU LAKI - LAKI, JUUGO!" kataku akhirnya. Dasar Juugo!

"Oh, laki - laki? Maaf deh," kata Juugo. "Yaudah langsung aja tanya sama dia, siapa tau dia tau, kan pedang itu sangat terkenal banget."

Siapa-tau-dia-tau. Bahasa yang fenomenal sekali.

Sangat-terkenal-banget. Juugo, belajar bahasa di mana kamu?

Akhirnya, aku dan Juugo menghampiri pria itu. Pria yang sedang menjajakan dagangannya.

"Permisi, apakah kau pernah melihat pedang milik Zabuza Momochi?" tanyaku sopan.

"Oh, maaf sekali, saya tidak pernah melihatnya," kata pria itu.

"Oh, terima kasih," kata Juugo membalik badannya, dan diikuti aku di belakangnya.

"Tunggu sebentar!"

"Ada apa ya?" tanyaku heran.

"Apakah kalian sepasang kekasih?" tanya pria itu.

Serius-aku-ingin-muntah. Apa - apaan ini?

"GAK!" teriakku serentak dengan Juugo.

"Oh," kata pria itu dengan raut wajah yang kecewa sekaligus sedih. "Padahal aku mau memberi kalian ini."

Kuamati kantung kecil yang ada di tangan pria itu, "ini apa?"

"Oh, ini tradisi keluarga kami. Jika kami melihat sepasang kekasih, kami harus memberikan kantung ini," kata pria itu tersenyum.

"Isinya?"

"Isinya berbagai makanan dan minuman yang hanya ada dalam tradisi ini," kata pria itu.

"Oh, kita sepasang kekasih kok!" tiba - tiba saja Juugo menggandeng tanganku. Aku berusaha melepasnya, tapi Juugo melotot sekilas ke arahku.

"Oh, jadi kalian sepasang kekasih?! Ini untuk kalian," kata pria itu. Juugo langsung menyambarnya.

"Makasih pak, ayo kita pulang, sayang," kata Juugo menggandeng tanganku.

SAYANG?! DUH JIJIK SEKALI!

Kalau Sasuke yang berbicara seperti itu, aku sangat berterima kasih. Aku pasti langsung melonjak kegirangan, dan mungkin tidak akan pernah mencuci tanganku selama - lamanya.

TAPI - INI - JUUGO! MENJIJIKAN!

"Heh, lepasin!" aku melepas paksa tanganku dari genggamannya, dan lagi - lagi memeperkannya ke pohon dengan tatapan aku-tidak-rela-ini-sungguh-menjijikan. "Maksud lo gandeng dan ngaku kalo lo kekasih gue apaan?!"

"Heh, tadi penyamaran doang," kata Juugo. "Ogah juga tadi ngomong sayang ke elo."

"Terus maksud lo apa hah?!" kataku masih geli.

"Ini. Kantung ini berisi makanan sama minuman. Lo pikir, kita pas di perjalanan makan enak? Gak kan? Makanya, lumayan nih dapet makanan. Mau gak?" tanya Juugo. Aku hanya mengangguk karena kali ini aku setuju dengan usul Juugo. Kantung itu berisi makanan yang memang jarang ada di toko - toko, biasanya hanya ada di perayaan - perayaan tertentu. Lumayan untuk mengganjal perut.

Setelah makan, aku dan Juugo mulai menanyai penduduk lagi. Saat kami melangkah, tiba - tiba aku merasakan kehadiran chakra Sasuke. Dan, itu benar.

"Kalian!"

"Woi, Sasuke!" teriak Juugo sambil melambai.

"Sasuke, gimana soal pedangnya? Apakah ketemu?" kataku berusaha bersikap manis lagi pada Sasuke.

"Ya, gue tadi bertanya ke beberapa penduduk. Katanya itu pedang ada di kastil Tenzen. Jadi gimana?" tanya Sasuke.

"Yaudah, ayo kita ke kastil Tenzen, biar kita dapetin itu pedang!" kataku di depan.

"Iya Rin, kan 'harus ketemu' itu pedang," kata Juugo menekankan kata 'harus ketemu'.

Aku paranoid lagi.

Aku pun memukul Juugo yang sudah tertawa geli.

Aku menyumpah agar muka Juugo hancur saat melawan musuh nanti.

"Sudahlah, cepat kita pergi ke kastil Tenzen," kata Sasuke.

"Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan pedang itu, merekrut satu anggota lagi dan..."

"Membunuh Itachi."

"Itachi?" tanyaku heran. Sepertinya nama ini familiar.

"Ya, Uchiha Itachi. Kakakku."

Aku hanya menelan ludah.

-ooo-

Konnichiwa^^

Ketemu lagi dengan Author MissYamanaka paling ketjeh (hoeks)

Jujur - jujur aja ya, Author masih deg - degan nunggu hasil UN keluar. Semoga memuaskan yaa!

Rebyu o arigato! Author sangat menghargainya dan mengenangnya (berasa mengheningkan cipta ye)

Sekarang author hadir dalam kemasan OOC (yailah berasa makanan sama minuman kemasan ye)

Maafkan author yang tidak menulis sampe 5.000 words (author beneran sedih) Gomenasai!

By the way, gais, cerita ini kok malah makin OOC parah ya? Yaampun gak cucok-_-

Sudah dulu ya. Author masih memikirkan lanjutan part 2 nya nih. Author harus tetap berkarya untuk nusa dan bangsa (apaan dah) (azek)

Well, pas itu ada request dari salah seorang readers, katanya dia mau minta SaiIno lagi. Author bakalan berusaha untuk nepatin setelah cerita ini ya! Tenang aye.

Sumimasen, author tak menepati janji. Tadinya mau hari Minggu nge-publish cerita ini. Taunya... ya malah telat. MAAFKAN AUTHOR! (nangis tersedu - sedu) (beneran ini gak boong) (taulah ya author mah begini orangnya).

Review-nya no bully!

Arigato^^