Disclaimer : NARUTO milik Masashi Kishimoto

Pair : Karin with... gatau liat aja akhirnya deh^^

WARNING : Gak jelas, drama queen, miss curhat, miss typo, alay, OOC, cerita dengan word yang sangat dikit, masih pemula, tukang PHP

Hope y'all like it!

R.E.V.I.E.W ya!

Happy Reading\o/

-ooo-

TAMPAN - GAGAK - GAJAH - HIU

Part 3

-ooo-

Tak biasanya aku melihat sang gajah kelelahan. Ada apa dia?

"Juugo, lo gak apa - apa kan?" tanyaku. Tumben banget nih, aku antusias sama Juugo.

"Gak tau juga nih, Gak," katanya.

Aku-bukan-gagak-dasar-kau-gajah.

"Hm, harusnya gue gak bertanya tadi," kataku lanjut berjalan di samping Sasuke si tampan.

"Yaampun, canda kali Rin!" Juugo menarik tanganku agar jalanku sejajar dengannya.

"Haha, santai aja, ngerti kok," kataku tetap berjalan. Juugo hanya membalasnya dengan cengiran.

Hm, aku mulai berpikir soal perekrutan yang nanti akan dilakukan si tampan. Apakah orang yang direkrutnya akan baik? Atau lebih tampan dari Sasuke? Atau pengertian sama cewe? Wah aku benar - benar penasaran! Semoga saja orang ini akan cocok denganku, Juugo, dan terutama dengan Sasuke. Kuharap juga, dia punya selera humor yang bagus, dan gak cuek - cuek banget. Semoga saja.

Saat sedang melamun, tiba - tiba saja Juugo menarik bahuku dengan lemah. Tapi aku merasakan tangannya yang ada di bahuku. Maklum, tangannya sebesar dan seberat kaki gajah.

"L-lo kenapa?" gue melihat Juugo dengan cemas. Dan benar saja, Juugo langsung pingsan.

"Sasuke! Juugo pingsan," teriakku pada Sasuke. Sasuke menoleh dan menghampiriku dan membantuku membawa Juugo.

"Huh, Juugo ini merepotkan saja. Baiklah, kita istirahat sampai Juugo sadar," kata Sasuke, lalu dia membuka peta sambil duduk. Mungkin dia sedang menyusun rencana lagi.

"Kenapa dia pingsan ya?" aku pura - pura antusias dengan peta milik Sasuke.

"Mungkin karena dia nungguin lo sampe lo sadar?"

Jadi, selama ini Juugo menungguku saat aku pingsan? Jadi maksudnya mengguncang tubuhku saat itu karena perasaan cemasnya. Jadi, selama ini Juugo perhatian sama cewe kayak aku?

Gak bisa dipercaya.

Ah, mungkin bisa - bisanya bahasa Sasuke tuh!

Aku pun membaringkan Juugo dengan posisi yang nyaman untuknya. Setelah itu, aku duduk di samping Sasuke. Memang sih, Juugo sudah baik padaku, tapi aku tetap saja tidak mau melihat mukanya dalam keadaan seperti ini. Ya, Sasuke melihat peta, Juugo pingsan, sedangkan aku? Hanya melihat rumput yang bergoyang dan merasakan angin yang sukanya menyerbu rambut merahku.

"Gak nungguin Juugo lu?" tanya Sasuke tanpa melihatku. Seperti biasanya, ingat?

"Nungguin kok, tapi lebih enak liatin peta lo daripada liat mukanya Juugo," kataku pura - pura antusias dengan peta milik Sasuke.

Sasuke tak menjawab. Lucu banget.

Aku masih heran pada diriku sendiri. Kenapa aku masih saja suka dengan Sasuke yang cuek dan kejam? Ah, apakah aku sudah terlanjur jatuh pada pesonanya? Apakah karena dia seorang pemimpin tim? Apakah karena dia orang yang terkuat? Apakah karena ketampanannya itu melebihi siapa pun? Apakah karena sikap cueknya itu yang membuatnya memiliki daya tarik tersendiri?

Sepertinya semuanya benar...

Tapi...

Aku baru sadar, kenapa aku suka Sasuke.

Alasannya..

Karena Sasuke mirip dia.

-ooo-

Aku terbangun di malam hari. Entah ada kejadian apa yang membuatku tertidur, dan terbangun malam - malam begini. Aku melihat Juugo yang masih tak sadarkan diri, sedangkan Sasuke yang sedang di dekat kayu yang sedang dimakan api.

"Tadi lo kejedot pohon pas lagi melamun," kata Sasuke singkat.

Benarkah?

"Oh, makasih ya udah nolongin," kataku manis dan duduk dekat Sasuke. Sasuke menoleh ke arahku, lalu melihat ke arah kayu.

Dasar dingin!

"Hoammm!" aku mendengar Juugo yang ternyata sudah mulai sadar.

"Udah sadar lo?" tanya Sasuke bangkit dari tempat duduknya.

Hm, ternyata Sasuke memang tidak suka padaku.

Tapi akan aku buat dia jatuh juga dalam pesonaku, walau memerlukan waktu yang lama.

"Udah nih," kata Juugo. "Tiba - tiba aja tadi pusing. Yaudah yuk lanjut perjalanan."

"Serius lo lanjut perjalanan?" kataku menghampiri Juugo.

"Yaiyalah. Tumben cemas gitu sama gue, ada fenomena apa yang-"

"Gak ada fenomena apa - apa," potongku cepat. Juugo tertawa.

"Canda doang. Sasuke, ayo lanjut misi gak?" tanya Juugo. Sepertinya kondisi badannya sudah normal. Oh bukan, kelewat normal sepertinya.

"Malam seperti ini? Jangan bercanda," kata Sasuke dengan nada mengejek. Aku tertawa melihat Juugo yang memasang raut muka sebal setelah mendengar jawaban Sasuke.

Aku melihat mereka berdua sekilas, lalu melamun lagi. Andai mereka kakak beradik, mungkin lucu ya? Yang satunya cuek + kejam, satunya lagi rese + bawel.

Tunggu dulu...

APA - APAAN AKU INI, TIBA - TIBA SAJA BERKATA HAL - HAL YANG ENGGAK BANGET?!

"Rin!"

"Eh? Apaan?" aku menoleh ke arah Juugo.

"Ke danau yuk," kata Juugo menghampiriku dan menarik tanganku lembut. "Suasana danau kalo lagi malem indah banget!"

"Eh tung- Sasuke, aku sama Juugo ke danau bentar ya," kataku lalu mengikuti arah Juugo.

"Ya, pacarannya jangan lama - lama," Sasuke membalasnya dengan santai.

Apa - apaan sih nih orang? Aku, suka sama Juugo? Gak deh, maaf aja, mendingan Juugo dilelang, siapa tau ada yang tertarik, terus dibeli deh. Lumayan kan dapet uang? Hahaha.

Setelah meminta ijin Sasuke, aku dan Juugo pun pergi ke danau yang rupanya lumayan jauh dari tempat Sasuke berada. Walaupun jauh dari si tampan, aku tak menyesal telah mengikuti Juugo, karena danau yang ditunjukkan Juugo ini benar - benar indah. Tak kusangka Juugo ternyata baik juga.

"Gimana?"

"Keren banget," kataku saking takjubnya. "Makasih banyak, danaunya keren!"

"Gue ada pertanyaan buat lo," kata Juugo berubah serius.

"Apaan?" tanyaku.

"Lo udah tau alasan Sasuke gak suka sama lo?" tanya Juugo. Aku hanya menganga lebar.

"Hah?" hanya kata itu yang bisa kukeluarkan dari mulut mungilku ini.

"Lo tau kan Sasuke gak suka sama lo?" tanya Juugo.

Oke, Juugo benar - benar merusak pemandangan indah danau ini dengan bertanya hal seperti itu. Yaampun, apakah tak ada yang lebih buruk dari ini? Kenapa membahas topik yang tidak menguntungkanku seperti ini?

"Biar gue ceritain..." kata Juugo, menghela napas. Aku hanya memperhatikannya.

"Jangan potong gue sebelum gue selesai cerita, ngerti?" tanya Juugo, disertai aku yang mengangguk dengan cepat.

"Alasannya bukan karena lo jelek, Gak..."

Bagus sekali. Juugo mengataiku dua kali dalam satu kalimat. Bukan-karena-lo-jelek-gak. Dia benar - benar tak sayang nyawa.

"Sesudah Itachi membunuh seluruh anggota keluarganya kecuali Sasuke, hidup Sasuke benar - benar kacau. Sasuke benar - benar hidup sendirian, tanpa ditemani siapa pun. Bagaimana aku bisa tau ini? Saat itu aku pernah membaca sejarah hidup Sasuke lewat buku milik Orochimaru yang ada di lab miliknya," kata Juugo, lalu menghela napas. Aku semakin serius mendengarkan.

"Di saat masa terpuruknya ini, Sasuke benar - benar tak punya teman, sampai suatu saat, ketika Sasuke masuk akademi, dia bertemu teman yang mengagumi bakat alaminya. Seperti biasa, Sasuke hanya cuek. Tapi saat itu, dia hanya memperhatikan dua orang. Yang satu laki - laki bernama Naruto Uzumaki, ya satu klan denganmu. Satunya lagi perempuan bernama Sakura Haruno. Sasuke mengenal mereka berdua karena dulu mereka satu tim. Saat itu... Sasuke sudah mulai menyukai Sakura, Sasuke juga sudah mulai merasakan hidup normal walau tanpa keluarga dan kakaknya. Dan sepertinya... Sakura juga menyukai Sasuke," kata Juugo. Dia sesekali menarik nafas lagi.

"Tapi, ini semua berubah karena kemauan Sasuke untuk membalaskan dendamnya pada Itachi. Ia rela meninggalkan desanya, teman - temannya, juga termasuk Sakura tentu saja, demi membalaskan dendamnya pada Itachi. Dan kau tau apa yang paling Sasuke sesali? Ia meninggalkan Sakura, orang yang dicintainya. Sejak saat itu, Sasuke tidak menyukai siapa pun lagi. Mungkin karena dia masih menyukai Sakura," kata Juugo. Aku yakin ceritanya sudah selesai.

"Benarkah?" tanyaku shock.

"Menurut kesimpulan gue begitu, karena memang setahu gue, Sasuke dulu sangat dekat dengan Naruto dan Sakura," kata Juugo. Aku hanya ber-oh ria.

"Yuk deh balik, sebelum Sasuke nyariin nih," kata Juugo menarik tanganku.

"Terima kasih infonya. Tapi lo mau tau? Gue gak bakalan nyerah untuk ngedapetin cintanya Sasuke," kataku tersenyum. Juugo hanya nyengir.

"Sama - sama," baru kali ini aku mendengar Juugo mengucapkan kata itu dengan tulus dan merdu.

-ooo-

Pagi yang indah. Aku hanya bersiul - siul menikmati pemandangan indah di hutan. Sinar matahari menembus dedaunan pada pohon di hutan. Benar - benar pemandangan yang langka.

"Ehem, lo bisa siul?" tanya seseorang. Udah pasti Juugo. Siapa lagi kalo bukan dia?

"Gak, tadi suara burung gagak lagi tersedak oleh biji," kataku kesal.

"BECANDA KARIN!" teriak Juugo lalu tertawa.

"Ya," kataku lalu mengalihkan pandanganku ke arah Sasuke. Ku lihat ada yang berbeda dari Sasuke hari ini.

"Sasuke, kamu gak apa - apa? Kita istirahat dulu deh. Aku tau kamu emang kuat, tapi kamu tetep aja perlu istirahat. Selama kita berhenti jalan, kayaknya kamu doang yang gak istirahat. Sekarang kita istirahat ya?" bujukku. Aku melihat Sasuke yang tak bisa menjawab karena sekarang dia sudah terlihat kelelahan. Kami pun akhirnya berhenti berjalan untuk istirahat.

Aku pun membaringkan Sasuke. Beberapa air mataku sudah menetes ke tanah.

"Lo sedih banget ya?" tanya Juugo. "Padahal dia gak sayang sama lo."

"KENAPA EMANGNYA?" emosiku sudah tak terkontrol. Sepertinya Juugo tau hal ini, makanya dia hanya diam saja. Bahkan, Juugo sepertinya duduk agak menjauh dariku. Aku sangat menghargai tindakannya.

Yang aku lakukan hanya bisa menunggu Sasuke sampai sadar. Aku harap, sangat mengharapkan, Sasuke sadar secepatnya. Aku menunggunya dengan cemas.

"Ehem, lo beneran suka banget sama Sasuke ya?" tanya Juugo akhirnya. Aku hanya mengangguk. Tak terasa air mataku jatuh lagi.

"Udah, jangan nangis. Sasuke bakalan bangun kalo dia udah gak lelah," kata Juugo sambil berbaring di dekat pohon yang rindang.

Aku hanya bisa mengangguk dan menghapus air mata. Aku tak tau harus bagaimana lagi.

Aku mencoba mengeluarkan Shousen Jutsu. Siapa tau Sasuke menjadi lebih baik.

"Karin, jangan berusaha terlalu keras, lo juga pasti nanti butuh chakra. Perjalanan kita masih jauh," kata Juugo.

"Sasuke lebih butuh chakra ini dibanding gue!" kataku galak. "Lagipula, chakra Sasuke lebih bagus daripada lo! Jadi, gue rela ngasih chakra gue ke dia! Lagipula, ngapain lo atur - atur gue? Suka - suka gue dong!"

Juugo hanya diam saja melihat kepribadianku yang berubah 180 derajat. Habis, dia membuatku kesal!

Aku tak bisa menahan tangis. Aku memang terlalu berlebihan. Tapi melihat chakra Sasuke yang mulai tak teratur, aku jadi takut sendiri. Aku meneteskan air mata lagi dan lagi.

"RIN! JANGAN NANGIS MULU! GUE YAKIN SASUKE PASTI BANGUN!" Juugo berteriak ke arahku.

Ya, benar juga kata Juugo. Apa gunanya aku menangis seperti ini? Hanya terlihat seperti orang lemah.

Tak lama kemudian, aku merasa tangan Sasuke bergerak. SASUKE SUDAH SADAR!

"SASUKE!" aku memeluknya. "Akhirnya kau sadar juga."

"Hm, oke. A-ayo sekarang kita n-nyari itu p-pedang l-lagi," kata Sasuke memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri, padahal aku yakin sekali dia belum sehat.

Aku pun tersenyum lega melihat Sasuke sudah sadar. Tapi aku tetap saja cemas karena sifatnya yang suka memaksakan dirinya. Aku pun akhirnya meminta Sasuke untuk istirahat.

"Sasuke, kau istirahat aja dulu. Biar aku sama Juugo deh yang nyari pedangnya," kataku bersikap manis lagi.

"Gak m-mau. Gue harus cepetan c-cari tuh p-pedang!" Sasuke tetap memaksa. "ARGH!"

"Tuh kan, kau masih capek. Udah kau jangan memaksakan diri, badanmu lagi lemah. Biar aku sama Juugo aja yang nyari. Kau istirahat di sini-"

"APA KATA LO?! LEMAH?! J-JANGAN P-PERNAH P-PANGGIL G-GUE L-LEMAH!" Sasuke pun langsung marah. Suaranya bergetar.

UPS! Salahku mengatakan kata terlarang itu!

"T-tapi kan-"

"POKOKNYA GUE MAU C-CARI T-TUH PEDANG BIAR LO T-TAU K-KALO GUE GAK SELEMAH Y-YANG K-KALIAN SEMUA KIRA!" Sasuke langsung bangun dari tempat duduknya. Aku hanya pasrah dan tidak bisa mencegahnya.

Dan kalian tau apa yang terjadi? Yap, aku menangis. Lagi.

Aku tau aku terlalu berlebihan, tapi aku tak bisa menampung air mata ini lebih banyak lagi. Aku harus mengeluarkannya. Aku sudah tak peduli lagi dengan Juugo yang melihatku dengan tatapan aneh.

"KARIN! Lo gitu aja nangis? Jangan nangis dong, lo kayak gak tau Sasuke aja sih! Nanti kita nyari Sasuke ya? Tenang aja, Sasuke pasti juga baik sendiri kok," Juugo menghampiriku dan duduk di sampingku.

Aku terdiam. Aku benar - benar menyedihkan.

"Udahlah, jangan nangis lagi. Sekarang hapus air mata lo. Lo kalo nangis makin mirip aja sama burung gagak," kata Juugo. Aku memukulnya pelan.

Juugo pun berdiri dan mengulurkan tangan padaku. Aku menyambutnya lalu berdiri dan mulai berlari untuk mengejar Sasuke.

-ooo-

Aku dan Juugo pun mulai mencari Sasuke. Aku mulai melacaknya, sedangkan Juugo yang bukan tipe ninja sensor, dia hanya bisa menggunakan penglihatannya saja.

Tiba - tiba, Juugo menyikutku. Aku memberinya tatapan ada-apa-sih-kenapa-kau-menyikutku pada Juugo. Juugo pun masih diam beberapa saat. Mungkin dia sedang mencerna tatapan ku tadi. Setelah dia mengerti, dia menjawabnya dengan raut wajah itu-di-sana-sepertinya-Sasuke. Aku pun langsung berlari lebi cepat ke arah yang Juugo maksud. Dan ternyata benar. Ini chakra Sasuke. Aku mulai bisa merasakannya. Akhirnya aku menyikut Juugo dan memberinya kode iya-itu-Sasuke-ayo-cepet-larinya.

Aku dan Juugo mempercepat laju jalan kami. Setelah melihat tubuh Sasuke, aku tak tahan untuk berteriak, "SASUKE!"

Aku melihat Sasuke yang menoleh sekilas, lalu berjalan lagi.

Apa - apaan sih orang ini? Kadang aku sebal dengan kecuekkannnya itu.

Tiba - tiba saja tanpa sepengetahuanku, Juugo sudah menghadang Sasuke, "Sasuke, kami minta maaf. Sekarang kami melanjutkan misi denganmu ya!"

Sasuke terlihat diam beberapa menit.

Dan akhirnya mengangguk.

Aku kelewat lega.

-ooo-

Sudah berhari - hari terlewati, namun kami belum mendapatkan pedang Zabuza. Kadang Sasuke kesal karena ini sama saja menunda pembunuhan Itachi lebih lama lagi.

Tapi, kadang aku ingin memperlama lagi misi ini.

Ya, kalian tau dong alasannya apa.

Ya, biar aku deket terus sama Sasuke.

Setelah pertengkaran kecil kami, kemarin kami memutuskan untuk istirahat- berhubung kemarin sudah sore dan kondisi tubuh Sasuke yang kurang baik. Sekarang sudah pagi, dan aku sudah terbangun sedangkan si gajah- eh maksudku Juugo, belum terbangun.

Aku melihat ke tempat Sasuke kemarin berbaring, dan dia tidak ada.

Astaga. Semoga dia tak kabur lagi.

"SASUKE, LO DI MANA?!" aku sudah kelewat bingung, akhirnya aku teriak aja deh. Aku tau, aku tidak berpikir panjang. Juugo yang mendengar aku berteriak langsung terbangun.

"Apaan sih lo Rin, pagi - pagi begini udah teriak - teriak aja kayak burung gagak!" kata Juugo.

"LAH SALAH SEND- eh maaf. Salah sendiri lo masih tidur. Sasuke hilang!" aku histerius sambil menunjuk - nunjuk tempat Sasuke berbaring.

Aku pun panik karena Juugo seperti ya-sudahlah-kalo-Sasuke-mau-kabur-biarin-saja. Tapi, aku langsung lega setelah ada suara yang berkata, "Gue di sini. Lo pikir gak capek apa tiduran mulu."

Aku mengelus dadaku lega. Juugo hanya cuek saja. Sasuke terkekeh mengejekku.

AH KADANG DIA MEMANG MENYEBALKAN!

-ooo-

Aku melihat sekelilingku dengan tatapan yang tajam. Ya, tadi Sasuke sudah menggerutu dengan kesalnya karena pedang Zabuza belum ketemu. Dia memarahi aku dan Juugo- yang katanya pacaran padahal gak- karena kerja kami lambat. Aku hanya diam, sedangkan Juugo pura - pura tak mendengar.

Sasuke memang tampan dan perilakunya juga lebih bersahabat dibanding Juugo. Tapi, kalau dia sering memarahi kami seperti ini, aku bisa saja memepercepat diriku untuk melompat ke jurang.

Ah, jangan. Aku tak boleh melompat ke jurang. Aku masih harus menyusun masa depanku bersama Sasuke nanti.

Haha, terlalu mimpi.

"Eh Karin," kata Juugo membuyarkan lamunanku.

"Hm?" kataku sambil memberi tatapan apa-sih-sukanya-mengganggu.

"Eh, mata lo biasa aja dong. Gue mau ngasih tau lo sesuatu," kata Juugo. Kali ini raut wajahnya berubah menjadi serius.

"Apaan?" tanyaku dengan tatapan tak-usah-berlagak-serius.

"Ih, jutek banget sih jadi orang," kata Juugo melihatku sekilas. "Lo cantik kalo gak jutek."

Aku melongo. Apa benar dia bilang seperti itu?

"Hah?"

"HAHA, BECANDA KALI. GAK USAH TERSIPU MALU GITU," kata Juugo dengan tawanya yang mulai meledak ledak.

Aku tak terima dengan candaan Juugo. Aku pun meninju lengannya. Dengan keras.

"KARIN SAKIT!" kata Juugo langsung memegang lengan kirinya yang tadi aku tinju.

"Biarin!" aku menjulurkan lidah lalu menjajari langkah Sasuke yang berada di depan kami.

Saat aku mau menjajari langkah Sasuke yang sangat cepat- buktinya dia berada di depan kami- tanganku ditarik oleh Juugo. Aku hanya mendecak kesal.

"Apaan sih?" aku tiba - tiba dipaksa berhenti oleh Juugo. "Itu kita udah tertinggal jauh oleh Sasuke!"

"Gak... itu..."

Aku mengarahkan pandanganku ke arah yang ditunjuk Juugo. Tak ada apa - apa yang aneh. Aku menatap Juugo heran.

"Apaan..."

"KETIPU! HAHAHA," Juugo menertawaiku dengan keras.

Aku tak tertawa balik, atau pun membalas Juugo. Yang ada di otakku hanya kecemasan, kegelisahan. Ada apa ini? Tak seperti biasanya pikiranku dihantui rasa seperti ini.

Aku buru - buru berlari sekuat tenaga, meninggalkan Juugo yang terbengong. Aku sudah tak peduli lagi. Yang jelas, aku mengkhawatirkan Sasuke.

Dan, benar saja.

Sasuke diserang oleh ninja dari desa lain. Matanya berdarah akibat menggunakan Amaterasu.

Tunggu...

Darah. Ninja desa lain. Sendiri.

Dia.

Aku pun langsung terjatuh lemas.

"Rin, lo gak apa - apa?" Sasuke menghampiriku. Aku tau ini sebuah kejadian langka karena tiba - tiba saja Sasuke menolongku dan tampak cemas.

Dan yang aku kecewakan bukan itu saja.

Aku kecewa karena... aku tak bisa membalas tatapan Sasuke yang telah ada di hadapanku.

-ooo-

Aku terbangun di malam hari. Sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini...

Deja vu.

Aku bangun dari tidurku, dan melihat sekelilingku. Aku melihat Sasuke yang tiduran di sampingku. Melihatnya sebentar.

"Heh, udah bangun lo?" tanya Juugo.

"Gak, gue masih tidur! Menurut lo?" tanyaku dingin.

"Santai dong, yaudah yuk, bangunin Sasuke," kata Juugo lalu menghampiri Sasuke.

"Eh, lagi tidur kok dibangunin?!" kataku berteriak kesal. Mendengar teriakanku Sasuke terbangun.

Aku merasa bersalah.

"Lihat? Lo yang bangunin dia bukan gue," kata Juugo lalu terkekeh.

"Sasuke, lo jangan gerak dulu, masih sakit kan?" kataku pada Sasuke. Aku tak memedulikan apa yang dikatakan Juugo barusan.

Aku hanya ingat Sasuke, benar?

"Hah? Sakit apaan?" Sasuke kebingungan. Aku juga heran. "Gue tadi cuma tidur sebentar, terus gue nyuruh Juugo buat ngebangunin gue kalo lo udah bangun."

JUUGO, KENAPA LO GAK BILANG GUE KALO SASUKE CUMA TIDUR, BUKAN PINGSAN?!

Aku mengumpat kesal dalam hati. Sasuke masih terheran - heran karena tiba - tiba Juugo tertawa dengan kerasnya. Aku mengerti kenapa Juugo tertawa. Haha, lucu.

"Yaudah, lanjut jalan yuk," kataku mengajak Sasuke dan Juugo dengan semangat.

"Lo bercanda ya Rin? Ini malam hari kali," kata Sasuke sengit. Aku melongo. Juugo tertawa.

Pasti ada yang gak beres.

"Terus ngapain kita malam ini?" kataku heran.

"Ya, kita kan mau nyusun rencana buat besok pagi. Gimana sih?" Sasuke mendengus sebal.

Benar kan?

JUUGO MEMANG MENYEBALKAN. KENAPA AKU TAK DIBERITAHU KALO INI CUMA MENYUSUN RENCANA.

Aku menatap Juugo dengan tatapan urusan-kita-belum-selesai. Juugo hanya menggaruk tengkuknya.

"Oke, mari kita menyusun rencana!" teriakku senang.

"Enak aja asal langsung main nyusun rencana! Gue mau ngomong sesuatu dulu sama kalian!" kata Sasuke.

Jantungku berdetak sangat cepat. Aku melihat Juugo yang seperti cepat-Sasuke-kau-lama-sekali. Aku pun langsung membuang muka melihat sikapnya itu. Menggelikan.

"Jadi kalian pacaran?" tanya Sasuke.

Aku diam. Lalu ada ide iseng.

"Kenapa? Kamu cemburu ya? HAAA SASUKE CEMBURU!" kataku riang sambil melompat - lompat.

"Gak, kalo beneran kalian pacaran, mending kalian gak usah ikut misi. Kalian hanya merepotkanku saja," kata Sasuke.

DEG! Nyesek sekali.

Merepotkan katanya? Luar biasa.

"Gak, kita gak pacaran. Gagak sama gajah tuh gak cocok. Yang satu di darat, yang satu di udara. Ya walau sesekali gagak hinggap di darat," kata Juugo.

Yang aku kagetkan bukan karena dia membahas gagak atau apa.

Tapi...

DARI MANA DIA TAU KALO AKU MEMANGGILNYA GAJAH?!

Aku menatap Juugo tak percaya. Juugo yang merasakan tatapanku itu langsung tersenyum seakan dia tau semuanya.

"Oh, baiklah. Gue tunggu kalian di sana!" kata Sasuke yang disertai anggukan Juugo.

Ketika Juugo siap berjalan, aku menghadangnya.

"Lo tau dari mana, hah?" kataku.

"Heh, jangan dikira gue gak tau ya! Setiap kali lo tidur, lo selalu bilang 'Dasar Juugo gajah!'" kata Juugo tersenyum penuh kemenangan.

Astaga! Ternyata aku suka mengigau tentang Juugo!

Bahaya!

Aku terdiam saat Juugo mengatakan hal itu. Juugo pun meninggalkanku dan menuju arah Sasuke. Dia menatapku sekilas dengan tatapan makanya-jangan-suka-ngatain-orang, sedangkan aku hanya mengumpat kesal.

KENAPA SIH AKU BISA MENGIGAU SOAL JUUGO?!

Ya, saat ini aku hanya bisa pasrah...

Mungkin selama proses menyusun rencana nanti, aku akan diam.

Kenapa? Karena aku akan melamunkan hal ini sepanjang malam.

-ooo-

Aku duduk di samping Sasuke. Aku lebih dekat dengan Sasuke dibanding dengan Juugo, karena aku masih takut dengan senyum Juugo.

Bagaimana tidak? Dia memang sangat menyeramkan.

Siapa tau aja kan, habis ini dia bisa membaca pikiranku?

"Rin, bisa gak lo jangan deket - deket sama gue duduknya? Tempatnya kan masih luas," kata Sasuke. Mungkin dia risih.

"O-oke," kataku lalu hanya menjauh 3 cm.

"Hm," Sasuke menghela napas melihat tingkahku. "Oke kita susun aja rencananya. Kalian dengerin, kalo ada yang mau disaranin, saranin aja."

Juugo menggangguk dengan mantap, sedangkan aku mengangguk dengan ragu.

Apa aku dari tadi memperhatikan apa yang Sasuke katakan? Jawabannya gak. Aku masih kepikiran Gagak dan Gajah yang tadi dikatakan oleh Juugo. Mungkin sekarang ini kata paranoid keduaku. Tidak hanya itu saja. Aku baru menyadari arti senyum Juugo yang sesungguhnya.

Artinya adalah...

Dia mengetahui kalau aku memimpikan dirinya. Sial.

"Arrrgggghhhhh!" aku berteriak sebal.

Ups!

"Ehem, kenapa Rin? Lo gak setuju sama gue?" kata Sasuke. Jarinya masih menunjuk ke arah peta, sedangkan matanya melirikku.

"Gak kok! Gue... setuju banget sama lo!" kataku lalu tertawa. Aku melihat sekilas ke arah Juugo yang ternyata masih dengan senyumnya itu.

"Oke... kita lanjutkan lagi," kata Sasuke.

Mungkin aku akan mendengarkan Sasuke kali ini. Aku sudah kapok.

Ini akan menjadi malam yang panjang.

-ooo-

Aku sudah terbangun dari tidurku yang sangat tidak nyaman. Sepanjang malam kemarin, aku diomeli Sasuke karena kebanyakkan melamun.

Dan parahnya lagi, aku kira senyum Juugo kemarin hanyalah mimpi buruk.

"Karin..." kata Juugo dengan senyuman kemarin malam.

DEG! Aku langsung ketakutan. Juugo malah tertawa keras.

"Haha, canda kali. Yaudah, gak apa - apa kali lo mimpiin gue. Gue tau, lo itu sebenernya suka sama gue," kata Juugo duduk di sampingku dan masih tertawa beberapa detik kemudian.

Aku menepuk lengannya pelan. Bisa - bisanya dia seperti itu.

"Kalian udah pada bangun?" tanya Sasuke seperti biasa. Dingin.

"GAK, GUE MASIH TIDUR!" teriak kami berdua serempak. Haha.

Sasuke melirik kita dengan tatapan sumpah-bercandaan-kalian-gak-lucu-haha. Aku pun langsung terdiam, sedangkan Juugo masih tertawa.

"Yaudah, lanjut misi," kata Sasuke.

"Misi apaan?" tanyaku bingung. Bangun - bangung langsung disuruh misi.

"Kalian lupa? Nyari pedang Zabuza lah. Perjalanan kita masih sangat panjang," kata Sasuke sudah berjalan duluan di depan.

Hm, nih orang emang bener - bener.

"Yaudah, kita ikutin aja si Sasuke. Daripada bingung sendiri," Juugo menengok ke arahku, lalu mulai berjalan mengikuti Sasuke.

Ya aku sih ikut aja.

-ooo-

Bertanya kepada penduduk sekitar. Itu misi yang dikasih Sasuke.

Selain itu, Sasuke juga nyuruh aku buat satu kelompok sama Juugo. Gak apa - apa. Nasibnya udah kayak gini, mau di apain lagi?

Jadi, di sinilah aku bersama si gajah- maksudku Juugo. Kami terus menanyai penduduk. Namun, hasilnya nihil. Untuk mempercepat pencarian, aku dan Juugo berbagi tugas. Aku ke arah kiri, sedangkan Juugo ke arah kanan. Tentu saja.

"Lo ke sana, gue ke sini. Mengerti?" terang Juugo.

"Ya, kita ngumpul lagi di sini?" tanyaku pada Juugo. Dia mengangguk mantab.

Aku pun mulai bergerak. Aku menanyai satu per satu penduduk yang aku jumpai. Namun hasilnya nihil.

"Maaf, saya tidak tau pedangnya seperti apa."

"Aduh, saya gak pernah liat itu pedang di sini."

"Zabuza kan udah meninggal. Emangnya orang meninggal masih bawa pedang?"

"Zabuza itu siapa ya? Keluarga kamu?"

Dan jawaban - jawaban lain yang tak kuinginkan terus berdatangan. Aku sampai kadang mengumpat dalam hati. Misi yang banyak mengeluarkan tenaga. Dan pikiran tentunya.

Karena sudah tidak ada penduduk di arah kiri, aku pun segera berbalik arah dan melaju ke tempat bertemu Juugo. Aku berlari. Ku lihat sekilas beberapa penduduk yang kutanyai lagi melihatku dengan tatapan loh-itu-bukannya-orang-yang-tadi. Ya, aku orang yang tadi.

Aku mulai berlari lagi, dan kulihat di tempat tadi Juugo sudah menungguku. Sepertinya.

"Gimana?" tanyaku pada Juugo.

"Nihil," kata Juugo.

"Terus Sasuke gimana?" tanyaku mulai cemas.

"Tenang aja, dia paling masih nanya - nanyain orang," kata Juugo lalu duduk. Juugo langsung memberikan tatapan cepet-duduk-gue-yang-cowo-aja-duduk-masa-lo-yang-cewe-berdiri.

Ya karena tatapannya itu, aku duduk di sampingnya.

"Gue mau nanya," kata Juugo, yang membuatku langsung menoleh ke arahnya. "Sejak kapan lo suka sama Sasuke?"

"Hm, kapan ya? Mungkin pas dia gabung sama Orochimaru, terus gue liat mukanya dia. Tiba - tiba suka gitu deh," kataku mengingat kembali masa itu.

"Kenapa lo bisa suka sam-"

"Bukannya gue udah pernah bilang ya?" kataku sengit.

"Yaudah biasa aja dong," kata Juugo melihatku sekilas, lalu menghadap ke langit.

Hening menemani kami. Angin terus menerpa rambut merahku. Aku meluruskan kakiku yang pegal, dan melihat Juugo sesekali. Juugo tampak begitu tak peduli dengan matanya yang terpejam. Sedangkan aku bingung ingin berbicara apa. Seperti biasa, aku lebih suka melamun dibandingkan mengobrol.

Jadi lebih baik aku diam saja.

Dan melamun.

-ooo-

Tak beberapa lama, Sasuke datang juga. Aku langsung girang dan melonjak kesenangan, sedangkan Juugo hanya menunjukkan sikap oh-dia-sudah-datang. Aku hanya geleng - geleng kepala kalau liat sikapnya itu.

"Jadi gimana?" tanyaku langsung menghadap ke Sasuke.

"Tadi ada seorang tukang kayu, katanya kita harus ke daerah Selatan sana," kata Sasuke.

"Terus di sana kita nemuin pedangnya?" tanyaku mulai senang. Akhirnya tak akan ada lagi gerutuan kesal dari Sasuke.

"Gak, katanya di sana ada sebuah kastil dan kita harus merebut pedang itu dari orang tersebut," terang Sasuke.

Yah, kirain tinggal ngambil. Kalo gini caranya mah males banget kalau harus berantem dulu. Kalian tau kan, aku lebih baik selamat dari pada disuruh bertengkar?!

Aku melihat sekilas ke arah Sasuke yang membicarakan sesuatu- entah apa itu. Aku masih seram mendengar kata Sasuke tadi. Kata paranoidku yang ketiga. Sial.

"Eh Rin, lo bengong mulu sih? Nanti tiba - tiba diserang orang make kunai sama shuriken aja..."

"DIEM JUUGO IH!" teriakku. Ya sebenernya sih aku juga gak takut banget sama senjata seperti kunai dan shuriken. Yang aku kesalkan adalah sikap Juugo yang selalu menggangguku. Setiap saat.

"KARIN, JUUGO! Lo denger gak tadi gue ngomong apa?" tanya Sasuke sambil melihat kami sengit. Aku hanya menelan ludah.

Duh, Sasuke... Kenapa harus marah - marah sih? Nanti gantengnya luntur loh!

Eh, gak marah sih... Memang nadanya cuek seperti itu kan?

Aduh, aku ada - ada saja!

"Gak," kata Juugo melirikku dengan tatapan eh-lo-jawab-pertanyaan-Sasuke-jangan-diem-aja.

"Makanya jangan sibuk sama pikirannya sendiri!" kata Sasuke menggerutu dengan kesal.

"Dengerin tuh Juugo!" aku menimpali Sasuke. Juugo membalasku dengan tatapan enak-aja-lo-main-nyalahin-gue-emang-apa-salah-gue. Aku sudah tak peduli lagi.

"Oke, kita langsung aja pergi ke kastil itu, namanya Kastil Tenzen. Letaknya di tengah hutan. Menurut kabar angin, tempat itu dijaga ribuan penjaga dan sulit ditembus," kata Sasuke. "Tapi, itu kabar angin, pasti gue bisa menembusnya."

Ya, walaupun aku masih takut, tapi aku akan mencoba untuk berani.

Kan ada Sasuke.

-ooo-

Aku menyesal.

Aku benar - benar menyesal.

Aku tak berpikir kalau Sasuke cemburu atau lainnya, yang aku pikirkan adalah Sasuke yang memarahiku karena aku yang tak pernah konsentrasi saat Sasuke menjelaskan sesuatu. Aku takut sekarang.

"S-sasuke..."

"Hm?" jawab Sasuke sekenanya tanpa melihatku. Tragis.

"Kau masih marah?" tanyaku melihatnya sekilas, lalu menunduk lagi.

"Marah kenapa? Emang gue pemarah?" katanya sengit.

Sepertinya aku salah ngomong.

"Soal tadi aku gak dengerin omonganmu tadi," kataku.

"Oh, asal jangan diulangin lagi," jawabnya.

AKU LEGA CAMPUR BAHAGIA!

"Tapi, gue rasa lo bakalan ulangin lagi."

Oke, aku mulai menyesal lagi.

Maafkan aku, Sasuke.

-ooo-

Jadi, selama perjalanan ke Kastil Tenzen, kita hanya diam saja. Tak ada seorang pun yang berusaha mematahkan kesunyian ini. Si Juugo pun juga mendadak menjadi diam. Aku juga canggung jika berbicara duluan. Jika aku penemu hutan ini duluan, aku akan menamai hutan ini "Hutan Sunyi". Ya, itu nama hutan yang bagus. Semoga saja.

"S-sasuke, kita masih l-lama?" tanyaku ragu.

"Masih setengah perjalanan lagi," kata Sasuke datar. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

"Juugo," kataku berjalan lebih dekat ke arah Juugo. "Lo kenapa?"

"Gak apa - apa," jawabnya sekenanya.

"Serius Juugo!" teriakku.

"Dari pada nanti disalahin sama lo lagi," kata Juugo tetap berjalan.

"Yaudah, maaf deh," kataku dengan muka memelas.

"Haha, lucu banget lo. Gue maafin," kata Juugo tertawa. Aku menyesal karena baru menyadari kalau aku baru saja secara tidak langsung dikerjai oleh Juugo. Sial.

Akhirnya, aku beberapa kali mengobrol dengan Juugo. Kami cenderung tidak bercanda karena takut menganggu Sasuke.

Tapi, perasaanku mulai tidak enak.

"Sasuke, aku merasakan kehadiran chakra orang lain," kataku panik.

"Berhati - hatilah," katanya padaku dan Juugo. Kami mengangguk.

Aku berhati -hati. Aku mulai mendekat ke arah Juugo dan Sasuke agar selamat.

Aku merasakan chakra yang mau mengarah ke Sasuke.

"SASUKE, AWAS DEPAN LO!" aku teriak.

Dan ternyata benar. Ada shinobi yang menyerang kami. Dan aku pikir itu shinobi yang dibayar mahal oleh Tenzen.

"Berarti kita tak jauh lagi dari Kastil Tenzen!" kata Sasuke menyerang orang itu.

Aku melihat Juugo yang juga diserang orang lain. Aku berjalan sambil membawa kunai. Aku tidak melawan mereka. Aku hanya menghindar dari mereka yang ingin melawanku, dan mengumpat di balik semak - semak.

"Sasuke, di belakang lo! Juugo awas!" aku hanya bisa teriak dari balik semak - semak.

"Argh!"

Itu teriakan Sasuke. Aku melihat Sasuke yang sudah terluka.

"Sasuke!" aku berteriak lalu mengambil kunai lagi untuk menghindari shinobi yang mau melawanku. Setelah aku mendapat tubuh Sasuke, aku membawanya ke tempat yang lebih aman.

"Sasuke, kau tak apa?" aku berteriak panik. "Ini, gigit!"

Sasuke kemudian menggigit lenganku. "Argh!"

Seketika Sasuke kembali menyerang mereka. Juugo juga sudah mulai membuka segel kutukan dari Orochimaru. Sedangkan aku? Aku hanya bersembunyi dan memberi tahu mereka.

Dan menahan rasa sakit.

Ah, lupakan rasa sakit ini! Tidak ada waktunya meratapi kesakitan ini, Karin!

"Sasuke, awas! Juugo, samping lo awas!" kataku berteriak - teriak sambil tetap memegang kunai. Aku kunoichi yang payah.

Lain kali, aku harus meminta seseorang untuk mengajariku melawan seseorang!

"Juugo!" teriakku. Tapi terlambat. Juugo sudah terluka.

"Juugo!" teriakku, dan aku langsung menghampirinya, dan membawanya ke tempat yang aman.

"Maafin gue, lo gak bisa gigit lengan gue," kataku pada Juugo. "Sasuke, Juugo terluka!"

Mendengar teriakanku, Sasuke langsung mengeluarkan amaterasu miliknya. Setelah itu Sasuke memberiku tatapan ayo-kita-pergi-dari-sini. Aku pun mengangguk, dan langsung membawa Juugo pergi. Sasuke menyusulku.

"Dah, lo berbaring aja dulu di sini. Sasuke..."

Aku melihat Sasuke yang sudah berbaring. Aku pikir chakranya mulai habis.

Chakraku mungkin hanya cukup untuk menyembuhkan salah satu di antara mereka. Aku harus menyembuhkan Sasuke atau Juugo dulu?

"Juugo cepet lo sembuhin." Suara Sasuke mengejutkanku.

"Kau..." aku hanya melongo.

"Gak usah khawatirin gue. Lagipula udah mendingan setelah gigit tangan lo tadi," katanya lalu memejamkan matanya.

Aku pun langsung menggunakan Shousen jutsu pada tubuh Juugo yang terluka. Setelah mengeluarkan jutsu dan selesai mengobatinya, aku mulai istirahat. Sepertinya chakraku juga mulai habis.

Aku melihat Juugo yang masih belum sadar, dan Sasuke yang masih istirahat.

"Sasuke, maaf ganggu," kataku membuat Sasuke mendongak ke arahku.

"Apa?"

"Bisakah misi ditunda dahulu? Seminggu mungkin?" tanyaku.

Sebelum Sasuke sempat menjawab, aku langsung berkata, "3 hari saja. Kita tunda selama 3 hari agar kita benar - benar pulih. Lalu aku janji, kita bakalan cepet menyelesaikan misi."

"Hm, baiklah. Tapi 3 hari saja. Sebenernya gue paling males kalo disuruh nunda misi kayak gini," kata Sasuke.

Mungkin saja Sasuke mengiyakan tawaranku karena dia melihat mukaku yang terlanjur memelas.

Ah, peduli apa? Yang penting Sasuke dan Juugo bisa beristirahat 3 hari ini.

Semoga saja.

-ooo-

3 hari kemudian, aku kembali berkumpul di tempat kami berkumpul kemarin. Ya, selama 3 hari kemarin aku beristirahat di gubuk kecilku, sedangkan Sasuke dan Juugo... entah mereka ngapain.

Dan, aku baru menyadari kalau...

Aku telat.

Spontan saja, saat aku sampai di tempat berkumpul, aku langsung disambut dengan tatapan sengit Sasuke.

"M-maaf..."

Sasuke hanya diam.

"Yaudah, kau diam saja. Berarti aku dan Juugo juga akan diam saja di sini, tak mau menyelesaikan misi darimu!" aku merapat ke Juugo.

"Apa - apaan..."

Sebelum Juugo menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menginjak kakinya agar dia diam. Aku tau dia mengaduh kesakitan.

Heran, kaki segede gajah kalah sama injekan dari kaki burung gagak!

"Ya, mau bagaimana lagi," kata Sasuke. Aku langsung melonjak senang sedangkan Juugo memberiku tatapan liat-saja-nanti-urusan-kita-belum-selesai.

Aku tak peduli. Biarin aja.

-ooo-

Yaampun!

Aku tak pernah sebahagia ini.

Ya aku tau, aku terlalu berlebihan. Tapi kata - kata dari Sasuke tadi membuatku senang. Sangat senang.

Ah, tak pernah aku merasakan hidup seindah ini!

Tapi, tiba - tiba saja, aku melihat kakiku terseret.

Jangan - jangan...

"Juugo!" aku teriak sangat keras.

"Lagian lo diem aja sih, makanya gue sampe seret - seret lo!" kata Juugo.

"Ah, tapi lu kan bisa bilang gue dulu!" kataku masih tak terima.

"Daripada nanti diomelin Sasuke?!"

Aku langsung diam, meminta Juugo melepas seretannya dan aku mengumpat kesal dalam hati.

Maksud Juugo apaan sih? Suka banget gangguin pikiran orang lain!

Kan dia bisa bilang dulu, gak usah make acara nyeret - menyeret kayak gitu!

Udah gitu, dia make alasan 'daripada gue diomelin Sasuke'. Emang Sasuke pemarah apa?

"Awww!" tiba - tiba saja pipiku terasa sakit. Ada apa dengan pipiku?!

Ternyata Juugo memang perusak suasana. Dia menyubit pipiku sampai merah. Sial.

"Apa sih lo cubit pipi gue?! Emang gak sakit apa?!" aku memukul kedua lengannya yang mencubit pipiku.

"Lagian, gue udah lepasin seretan gue, lo tetep diem aja! Nanti kalo lo ketinggalan lagi, Sasuke sama gue bakalan susah nyari lo!" kata Juugo memarahiku.

Tumben.

Tiba - tiba saja aku merasakan kalau ada orang yang mulai memperhatikan kami. Aku mendadak takut. Ya, mungkin saja itu musuh kan?

Ternyata Sasuke. Aku menghela napas lega. Sedangkan Juugo menatapku dengan tatapan ada-apaan-sih.

"Ada apa, Sasuke?" tanyaku bingung. "Oke, oke. Kita janji gak bakalan bercanda lagi. Ayo cepat kita lanjut misi biar cepat selesai."

"Bukan gitu, aneh aja liat kalian sering berduaan."

Aku melongo kaget. Sasuke jarang sekali mau mencampuri urusan orang lain. Benar - benar kejadian yang langka.

Tunggu dulu...

Aku-sering-berduaan-dengan-Juugo?

Mending aku mati saja.

Aku langsung melirik Sasuke dengan tatapan serius-lo-dengan-omongan-lo-tadi sedangkan Juugo melirikku dan Sasuke serius-dengan-cewe-kayak-dia.

"Udahlah, gak usah menatap kayak gitu. Lanjut aja perjalanannya," kata Sasuke. Aku buru - buru berjalan mendekat Sasuke daripada Juugo.

Satu alasan. Juugo itu menggelikan.

-ooo-

Waktunya istirahat!

Ternyata Sasuke belum benar - benar sembuh. Kondisi kesehatannya belum stabil. Aku menyadarinya pertama kali, sedangkan Juugo menyadarinya juga. Aku menyadarinya ketika melihat chakra Sasuke yang berjalan tidak teratur seperti biasanya. Sedangkan Juugo, aku tau dia menyadari Sasuke yang tidak seperti biasanya dengan berkomentar, "Sasuke aneh."

JUUGO, LO KAN EMANG DARI DULU GAK SENENG SAMA SASUKE!

Aku pun hanya bisa bercanda dengan Juugo sambil menunggu keadaan Sasuke yang benar - benar stabil. Aku harap bisa lebih cepat.

"Rin..."

Suara Sasuke memanggilku!

"Ya?" tanyaku langsung bersemangat.

"Lo temenin gue ya?"

SERIUS.

SERIUS APA KATA SASUKE BARUSAN?!

Aku tak menjawab Sasuke. Aku masih shock. Sasuke menatapku dengan tatapan Karin-lo-kenapa. Dan aku hanya bisa diam.

Ada apa dengan diriku?!

"Rin..."

"JUUGO, LO CARI AIR AJA DEH YA DEKET SINI," kataku langsung berteriak pada Juugo, sebelum dia melanjutkan omongannya dan merusak suasanaku dengan Sasuke.

Juugo pun ikut saja.

Akhirnya aku bisa bareng Sasuke deh! Haha, berdua doang sama Sasuke. Akhirnya bisa ngobrol banyak sama dia tanpa diganggu siapa pun.

Saat aku ingin mengobrol dengannya...

Dia sudah tertidur lelap.

Ya, sudahlah.

-ooo-

"Rin?"

Aku mendongak ke atas, mendapati sosok Juugo yang membangunkanku dari tidur sesaatku. Dia sudah membawa air yang sebenarnya sangat tidak diperlukan. Ya biarkan saja.

"Kita lanjut misi aja deh, Sasuke kayaknya udah gak apa - apa. Coba lo cek chakra dia lagi," kata Juugo. Aku hanya mengangguk.

Dan benar saja, kondisi Sasuke mulai stabil. Aku menghela napas lega.

"Lo aja deh yang bangunin," kataku. Aku takut kalau disuruh membangunkan Sasuke.

"Yaudah," kata Juugo.

"SASUKE, LO BANGUN YA!"

"Eh, jangan diteriakin gitu dong!" kataku menepuk punggung Juugo. Orang ini seenaknya saja.

"Lah, bangunin Sasuke emang kayak gitu!" kata Juugo ngotot. Aku hanya mendengus sebal.

"Eh? Juugo?" Sasuke tampak bingung. "Kok lo yang bangunin gue? Harusnya kan Karin."

OH JADI INI MAKSUDNYA SASUKE?

TERNYATA TADI GUE DISURUH BANGUNIN DIA TIDUR, BUKAN NGEJAGAIN DIA. SIAL.

"Maaf deh," kataku dengan muka tak bersalah. Aku masih sebal, tapi kuusahakan tetap tersenyum. "Lagipula, tadi Juugo juga nungguin lo, kenapa gue doang yang dimarahin?"

"Oh, tadi lo tidur ya? Kirain gue, lo cuma memejamkan mata," kata Juugo tak kalah sebal.

Sasuke mendengus sebal, sedangkan aku dengan susahnya menahan tertawa.

Juugo ada - ada saja.

-ooo-

Akhirnya...

AKU, JUUGO DAN SASUKE SAMPAI JUGA DI KASTIL TENZEN.

Aku hampir saja melonjak kegirangan sekaligus tak percaya, tapi Sasuke menyuruhku agar tetap diam karena takut ketahuan oleh ninja bayaran Tenzen. Sasuke sampai rela menyuruh Juugo untuk mengawalku.

Makasih banyak, Sasuke.

Aku sangat menghargainya loh.

"Oke, itu, mereka datang!" aba - aba Sasuke tadi seperti menyuruh Juugo untuk mulai menyerang, sedangkan aku untuk mulai bersembunyi.

Ya gitu.

Beberapa menit kemudian, aku hanya mengawasi mereka menyerang orang - orang tersebut.

Aku memang payah.

Setelah mereka selesai bertarung, aku keluar dari persembunyian dengan perasaan cukup takjub. Bagaimana tidak? Mereka tidak seperti awal - awal pertarungan. Mereka sudah berubah menjadi lebih kuat. Aku senang.

"Lo sama Juugo tunggu aja di luar, biar gue aja yang ambil tuh pedang," kata Sasuke dengan santainya.

"Oke!" Juugo langsung bersemangat menjawab. Aku pikir dia senang karena tak perlu lagi mengikuti arahan dari Sasuke selama di dalam Kastil nanti. Aku hanya mendelik ke arah Juugo dengan tatapan geli.

Sasuke pun masuk ke Kastil Tenzen.

Juugo hanya bersiul menunggu kehadiran Sasuke, sedangkan aku cemas. Bagaimana kalau dia tidak berhasil mendapatkan pedang itu? Siapa tau saja kan di dalam sana dia terluka? Aku menunggu Sasuke dengan gelisah. Sesekali aku melihat Juugo yang menatap ke arahku dengan tatapan lo-terlalu-berlebihan. Seperti biasa, aku tetap tidak peduli.

Beberapa menit kemudian, Sasuke berhasil keluar dari Kastil Tenzen.

Dan mengejutkannya lagi...

Dia berhasil menadapatkan pedang Zabuza. Aku langsung menghampirinya.

"Kau keren!" kataku mengacungkan jempol yang tentu saja tidak dibalas oleh Sasuke.

Sasuke! Untung saja kau tampan, kalau tidak, aku sudah membencimu!

-ooo-

Aku melihat Juugo sekilas. Sepertinya ada yang tidak beres dengannya. Entahlah, perasaanku yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi.

Dan benar saja.

"Sasuke, lo mau tau gak?"

Deng, deng! Aku mulai tidak enak.

"Apa?" tanya Sasuke melihat ke belakang.

"Karin kan suka... Aw! Gagak merah!" teriak Juugo.

"Gagak merah? Karin suka Gagak merah? Jadi Gagak merah beneran ada?" Sasuke bingung.

Ternyata benar, Juugo sudah tak sayang nyawa. Setelah dia berkata seperti itu kepada Sasuke, dia bukannya meminta maaf padaku, malah dia melihatku sambil tertawa.

Oh tidak...

Jangan bilang mukaku merah sekarang...

OH TIDAK!

"Ehem, bukan gagak merah sekarang. Sekarang lebih tepat kalau Karin adalah kepiting rebus!" Juugo tertawa keras.

Aku pun kabur.

Aku sudah tidak kuat.

-ooo-

"Juugo nyebelin!" aku menendang kerikil yang ada di depanku dengan keras.

Setelah capek menendang kerikil, aku pun terduduk lemas. Sedih rasanya. Nyesek rasanya. Aku sudah tak bisa mendeskripsikan perasaanku lagi. Benar - benar kacau!

Juugo benar - benar cowo yang paling nyebelin! Bisa - bisanya Juugo mempermalukan aku di depan Sasuke. Bisa - bisanya Juugo mempermalukanku di hadapan masa depanku yang cerah dan cute itu.

Halo? Sasuke ada didekatku tadi!

Sial.

"Hebat juga ya tendangan lo."

Aku kaget dan langsung menoleh begitu mendengar suara laki - laki yang tak aku kenal. Rupanya, orang itu sedang berbaring di balik pohon dengan wajahnya yang tertimpa bayangan pohon. Aku tidak tau sejak kapan dia di sana. Aku tak peduli juga sih. Aku pun mendengus sebal. Aku tak ada waktu untuk bicara hal yang tidak penting dengan siapa pun termasuk dengannya, karena aku harus mulai berpikir dengan cepat bagaimana caranya memperbaiki citraku yang telah dirusak oleh Juugo.

"Ngomong - ngomong, lo udah mengganggu jam istirahat gue yang berharga ini. Gue menuntut kata maaf dari mulut lo," kata cowo itu, yang bahkan aku tak tau namanya. Aku sampai mendelik tak percaya dibuatnya.

Apa - apaan sih ini cowo? Menuntut maaf katanya? Huh, bahkan tadi aku tak sengaja melakukan hal itu! Siapa juga yang suruh dia di sana?! Emang hutan ini miliknya apa?!

Lagipula, dia ini siapa?!

-ooo-

A/N:

\(^o^)/ Konnichiwa

Ketemu lagi sama Author MissYamanaka yang lebay tapi oenjoe (sengaja pake ejaan lama biar kalian bacanya gak begitu shock)

Gimana ceritanya? Semoga memuaskan yaaws (memasang muka semanis mungkin). Udah doain author biar nilai UN nya cakep? (Author minta ditimpuk)

Rebyu o arigato! Author bukan siapa - siapa, tanpamu ooo~ (malah nyanyi). BTW, author selalu feedback review kalian, jadi review ya (muka kelewat melas)

Sekarang author hadir dalam kemasan OOC (canda kooqhz) (astaga, author kayak gini semoga cuma satu deh *plak)

Gapapa ya OOC? UDAH GAPAPA KOK GAPAPA (Author-nya maksa beud)

OOC-nya apalagi yang kata Sasuke dicap sebagai cowok pemarah dan tukang ikut campur. Ampun Sasuke! Aku gak maksud menjatuhkan karakter asli kamu loh! Ampunnn! (authornya kabur) Tapi kan, bukan Sasuke doang yang OOC, Karin sama Juugo juga OOC kan? (buru- buru lari sebelum ditimpuk sama readers)

Ini rekor word terbanyak yang pernah author tulis! Yuhuuu *blushing*

Terima kasih buat para reviewers setiaku (ea banget) dan para siders. Tanpa kalian aku bukan apa - apa^^

Shite itadaki arigatōgozaimasu 130 views and 100 visitors for this story yeeey!

Well, i'm sorry i can't be perfect (malah nyanyi lagi), jadi kalo ada kesalahan atau authornya suka PHP, maafkan! (muach) (jhijhiq) (bacanya gimana lagi ini thor-_-)

Sumimasen, kalo author nge-publish fanfiction-nya gak hari Minggu. Author kan gitu, maunya konsisten, tapi ngomong doang, gak dijalanin (kampret emang nih author)

Oke, sampe di sini dulu Author Note-nya, dari pada author berceloteh lagi, yegak? Sai soalnya juga udah manggil author nih, mau diajakin makan bareng (OKE AUTHOR-NYA NYEBELIN PARAH)

No plem ya no plem (flame kali)

Arigato \(^o^)/

TBC!

See you again in part 4! Sayonara^^