TOPENG SANG PUTERI

Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)

Genre : Kingdom, Romance, Family

Length : Chapter 2 0f ?

Summary:

Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.

Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

Seperti keinginan Sehun, dalam waktu empat hari ia telah tiba di Istana Vezuza.

Sehun berdiri memandang Istana yang tinggi itu. Seumur hidupnya ia akan selalu mengagumi Istana itu walau ia juga mempunyai Istana yang besar dan indah.

Istana Vezuza yang berdinding putih dengan tamannya yang selalu berseri sepanjang tahun. Berbagai macam bunga tampak bermekaran di seluruh halaman Istana walau saat ini adalah pertengahan musim gugur.

Tanaman perdu diatur rapi mengelilingi pohon-pohon tinggi yang berbagai macam. Bunga-bunga kecil tampak di antara rerumputan dan semak-semak. Angin berhembus menimbulkan suara gemerisik dedaunan. Dedaunan terus bergemerisik menyambut kedatangan setiap tamu. Bunga-bunga terus berseri dengan warnanya yang indah memberi senyuman ramah pada tiap tamu.

Prajurit berbaju putih kebiru-biruan berbaris rapi di depan pintu masuk. Di pintu gerbang, berbaris prajurit yang dengan teliti memeriksa setiap tamu yang datang.

"Benar-benar Istana yang indah," kata Jongin.

Sehun mengangguk.

"Selamat datang," sambut seorang prajurit.

"Kami datang untuk menemui Raja Zhoumi," kata Sehun.

"Ijinkanlah saya mengetahui siapa Anda dan ada keperluan apa Anda mencari Paduka Raja?" tanyanya pula.

"Saya adalah Raja Kerajaan Skyvarrna. Kami datang untuk membicarakan perjanjian yang penting yang telah kami sepakati bersama."

"Silakan masuk, Paduka," prajurit itu sedikit membungkuk. Tangan kirinya melintang ke pundak kanannya dan tangan kanannya menunjuk ke dalam Hall.

Prajurit itu kemudian mengantar mereka ke Ruang Duduk. "Silakan menanti di sini, Paduka. Saya akan memberitahukan kedatangan Anda pada Paduka Raja Zhoumi."

"Terima kasih," kata Sehun.

Jongin tiba-tiba bertanya, "Apakah setiap tamu selalu disambut oleh prajurit yang kaku seperti itu?"

"Sepertinya seperti itu," jawab Sehun.

"Benar-benar ketat penjagaan di sini," bisik Jongin.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan Raja Zhoumi datang sambil tersenyum ramah. "Selamat datang. Anggaplah ini sebagai rumah kalian."

"Terima kasih, Paduka," kata Sehun.

"Senang dapat bertemu dengan Anda, Raja Sehun," kata Raja Zhoumi.

"Saya juga senang dapat berjumpa dengan Anda."

Raja Zhoumi melihat seorang pria yang berdiri di samping Sehun.

"Ijinkanlah saya memperkenalkan teman saya, Jongin kepada Anda, Paduka."

"Saya merasa terhormat dapat berjumpa dengan Anda, Paduka," kata Jongin sopan.

"Saya juga senang dapat berkenalan dengan Anda, Tuan Jongin."

"Ia ikut bersama saya karena ia mendengar tentang keindahan kerajaan ini. Ia tertarik untuk melihatnya sendiri. Di sini ia juga bertindak sebagai seorang pengawal saya."

Raja Zhoumi mengangguk-angguk melihat Jongin kemudian ia kembali pada Sehun dan berkata, "Saya merasa tersanjung mendapatkan lamaran Anda itu. Ijinkanlah saya mewakili putri saya mengucapkan terima kasih atas lamaran Anda."

"Saya juga senang dapat mempersunting putri Anda yang cantik."

Raja Zhoumi tersenyum dan berkata, "Saya tidak pernah menduga akan mendapatkan lamaran Anda. Harus saya akui Andalah orang pertama yang melamar putri saya."

"Saya merasa tersanjung mendengarnya, Paduka," kata Sehun.

"Tidak perlu merasa seperti itu. Mungkin putri saya ditakdirkan untuk menjadi istri Anda." Raja Zhoumi tertawa senang lalu melanjutkan, "Karena kita akan menjadi ayah dan menantu, sebaiknya panggilan sopan itu mulai kita hilangkan dari sekarang. Aku takkan senang mendengar menantuku

memanggilku Paduka terus menerus. Kurasa mulai sekarang kau harus membiasakan diri memanggil aku ayah."

"Tentu, tetapi saya akan mulai melakukannya setelah saya menikah dengan putri Anda."

"Ya, tentu saja," Raja Zhoumi setuju. "Kapankah kalian akan menikah?"

"Itulah yang ingin saya bicarakan dengan Anda juga dengan putri Anda."

"Putri saya akan selalu siap kapan saja," Raja Zhoumi cepat-cepat menyahut, "Anda tidak perlu mengkhawatirkan itu."

"Kedatangan saya kemari juga ingin bertemu dengan putri Anda."

"Maafkan saya," kata Raja Zhoumi, "Putri saya sedang tidak enak badan. Ia tidak dapat menemui Anda dalam beberapa hari ini. Anda tidak perlu khawatir. Ia akan cukup sehat untuk menghadiri pesta pernikahannya."

"Saya berharap demikian. Saya tidak ingin putri Anda sakit ketika upacara itu berlangsung."

"Saya meyakinkan Anda ia akan cukup sehat untuk menikah dengan Anda," kata Raja Zhoumi kemudian ia mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Menginaplah di sini untuk beberapa hari hingga kita selesai membicarakan pernikahan ini."

"Saya juga berencana tinggal beberapa hari di Kerajaan Aqnetta untuk membicarakan masalah ini."

Raja Zhoumi tersenyum senang. "Makan siang akan siap sebentar lagi. Saya berharap Anda mau turut makan bersama kami. Anda juga, Tuan Jongin."

"Terima kasih atas undangan Anda," kata Sehun dan Jongin hampir bersamaan.

Sehun memberi tanda dengan matanya kepada Jongin ketika Raja Zhoumi membawanya meninggalkan ruang itu.

Jongin tersenyum. Sekarang bukan waktunya ia memulai sandiwaranya sebagai seorang pengawal. Tidak tertutup kemungkinan saat makan siang nanti, mereka akan makan bersama sang Putri.

Sayangnya, harapan tinggallah harapan.

Di meja makan yang besar itu tidak tampak seorang gadis pun. Yang ada hanya Raja Zhoumi, Sehun dan Jongin serta beberapa prajurit pengawal.

Pelayan-pelayan berbaju biru cerah dengan celemek putihnya mulai bermunculan dengan nampan perak di tangan mereka. Mereka terus bergerak melayani ketiga orang itu.

"Hidangannya sangat lezat, Paduka," puji Jongin, "Belum pernah saya merasa dijamu semewah ini."

"Anda hanya melebih-lebihkan, Tuan Jongin," kata Raja Zhoumi merendah.

"Hidangan yang Anda sajikan ini sangat lezat," timpal Sehun.

"Terima kasih, saya senang Anda menyukainya," kata Raja Zhoumi.

Raja Zhoumi melihat sinar matahari yang menyinari ruangan itu. "Hari sudah siang," katanya, "Saya kira Anda lelah setelah perjalanan jauh Anda. Silakan Anda beristirahat. Besok kita baru membicarakan rencana pernikahan ini."

"Anda benar, Raja Zhoumi," kata Sehun, "Sebaiknya kita mulai membicarakannya esok hari."

"Henry!" panggil Raja Zhoumi, "Antarkan Raja Sehun dan temannya ke kamarnya."

"Baik, Paduka," kata Henry kemudian pada Sehun ia berkata, "Saya akan mengantar Anda berdua."

"Kami permisi dulu, Paduka," kata Jongin. Kemudian mereka meninggalkan Ruang Makan.

Ketika merasa cukup jauh dari Ruang Makan, Jongin berbisik, "Sang Putri tidak ada."

Sehun mengangguk.

"Sepertinya ia benar-benar disembunyikan bahkan dari calon suaminya sendiri," bisik Jongin lagi.

"Kurasa kata-katamu tempo hari benar," bisik Sehun, "Sementara aku berunding, kau mencari sang Putri."

Jongin tersenyum puas.

Keduanya berdiam diri dan terus mengikuti Henry.

Henry membuka pintu sebuah ruangan. "Ini kamar untuk Anda, Paduka," kemudian Henry melihat Jongin, "Di sampingnya adalah kamar untuk Tuan."

"Terima kasih," kata Sehun.

Pria itu membungkuk dan meninggalkan mereka.

Sehun memasuki kamarnya. Dibandingkan luas kamarnya di Kerajaan Skyvarrna, kamar ini sama besarnya.

"Benar-benar kamar yang indah," kata Jongin.

Sebuah tempat tidur antik dengan tirai-tirai putihnya yang tipis terletak di dekat jendela. Antara jendela dan tempat tidur hanya berbatasan sebuah meja kecil. Sebuah meja lain terletak di depan perapian besar di hadapan tempat tidur. Di atas meja terdapat sebuah vas bunga dengan bunga-bunga keringnya yang ditata rapi dan indah.

Lantainya berselimutkan permadani hijau yang cerah. Dinding kamar putih bersih tanpa noda sedikit pun. Di sudut langit-langit kamar terdapat ukiran-ukiran malaikat yang indah. Langit-langit putih yang tinggi itu menaungi kamar yang rapi itu.

Tirai-tirai jendela menari-nari tertiup angin yang sejuk. Di luar jendela tampak sehamparan permadani alam yang hijau berseri.

"Inilah kamar Istana negeri dongeng," kata Sehun lalu ia melangkah masuk.

"Aku ingin tahu kamarku seperti apa." Jongin berlari ke kamarnya dan tak lama kemudian ia kembali ke kamar Sehun dengan wajah sedih.

"Ada apa?" tanya Sehun ingin tahu.

"Kupikir kamarku akan lebih indah dari kamarmu tetapi…"

"Kamarmu lebih jelek," sambung Sehun.

"Tidak," kata Jongin sedih, "Kamarku sama dengan kamarmu."

"Mengapa kau sedih seperti anak kecil?" tanya Sehun, "Tidak ada gunanya menangisi kamar Istana ini. Kita sudah beruntung mendapat kehormatan untuk menginap di Istana negeri dongeng ini."

Jongin menunduk sedih.

"Aku lelah sekali. Aku ingin beristirahat kemudian aku akan mencari tahu seperti apa rupa sang Putri."

Tiba-tiba Jongin menjadi bersemangat lagi. "Istirahatlah," katanya lalu menghilang dari kamar Sehun.

Sehun tersenyum. Ia yakin Jongin akan mencari sang Putri saat ini juga. Sehun menjatuhkan diri di kasur bulu angsa yang lembut. Sekarang ia dapat beristirahat dan menanti Jongin memberikan laporannya.

Jongin menuju lantai terdasar dari Istana Vezuza dan berjalan santai seperti layaknya penghuni Istana lainnya.

Orang-orang yang berlalu lalang di Hall tidak mempedulikan kedatangannya. Mereka tampak sibuk sendiri dengan pembicaraan mereka. Tidak adanya orang yang memperhatikan, membuat Jongin merasa senang dan bebas. Ia dapat mencari sang Putri tanpa khawatir seorang prajurit akan menangkapnya karena mencurigainya.

Mengingat sang Putri tidak pernah meninggalkan Istana, sang Putri pasti telah terbiasa berada di dalam Istana. Karena sang Putri tidak pernah menampakkan diri, ia pasti tidak berada di Hall yang ramai seperti ini. Berada di dalam Istana terus juga tidak mungkin. Bagaimana pun senangnya sang Putri tinggal di dalam Istana, ia pasti ingin melihat dunia luar. Siang hari seperti ini, jarang ada orang di halaman. Halaman Istana sangat luas dan sang Putri tidak akan menemukan kesulitan untuk mencari tempat persembunyian yang sejuk dan menyenangkan.

Jongin terus melangkah ke taman dan berharap melihat seorang gadis buruk rupa seperti yang dikatakan orang-orang itu.

Berjalan di bawah teriknya matahari bukanlah hal yang menyenangkan. Tumbuhan di halaman sangat banyak dan lebat tetapi tidak dapat menandingi keangkuhan sang surya.

Belum ada setengah halaman yang dilalui Jongin tetapi seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Jongin tidak kuat lagi untuk berjalan di teriknya matahari. Ia kembali ke Istana.

Sang Putri tidak pernah meninggalkan Istana tentu ia juga tidak pernah merasakan teriknya matahari. Jadi, kemungkinan satu-satunya adalah sang Putri sekarang berada di dalam Istana. Di suatu tempat yang jarang didekati orang.

Tidak mungkin di lantai pertama karena tempat itu sangat ramai oleh orang yang berlalu-lalang. Lantai dua juga tidak mungkin karena di sanalah kamarnya juga kamar Sehun berada. Lantai tiga masih mungkin apalagi lantai tertinggi Istana Vezuza.

Dengan penuh percaya diri Jongin melangkah ke lantai tiga. Seperti dugaannya di tempat itu jarang ada orang. Yang tampak olehnya hanya pelayan-pelayan yang bertugas membersihkan tempat itu.

Setelah lama mencari akhirnya Jongin menemukan sebuah tempat yang tidak tampak dihuni. Tidak seorang pun yang tampak di sana walaupun tempat itu sangat bersih. Lorong-lorongnya yang terang tampak kosong.

Jongin tersenyum puas dengan temuannya itu. Walau tidak tampak seorang pun di tempat ini, ia yakin sang Putri berada di sini di lantai empat ini. Jongin mulai berjalan lambat-lambat dan berhenti di tiap pintu untuk mendengar bila ada kehidupan di dalamnya. Bila tak ada orang, Jongin membuka pintu yang tak terkunci itu dengan harapan sama yaitu melihat sang Putri.

Tetapi harapan Jongin tidak pernah terwujud. Dengan sedih ia melanjutkan pencariannya dan semakin lama semangat ingin tahunya semakin besar.

Tiba-tiba Jongin merasa hawa dingin di sekitarnya. Rasanya seperti ada beratus-ratus orang yang tengah mengawasinya dengan mata tajam mereka dan siap menghunuskan pedang ke perutnya.

Jongin melihat ke sekeliling lorong mulai dari atas hingga bawah tetapi ia tidak melihat seorang pun. "Mungkin hanya perasaanku saja," kata Jongin pada dirinya sendiri tetapi pikiran Jongin mengatakan pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta sedang mengawasinya.

Jongin memarahi dirinya sendiri. Sejak tadi hingga saat ini ia sama sekali tidak ingat tempat ia berada saat ini adalah markas dari pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta yang sangat terkenal. Tentu sejak tadi mereka telah mengawasinya.

Celaka sudah dirinya! Sekarang seluruh pasukan Kerajaan Aqnetta akan mencurigainya.

Jongin mengutuki dirinya sendiri dan kembali ke kamarnya.

Walau ia telah meninggalkan lantai empat, perasaan diawasi itu masih tetap ada. Jongin merasa seluruh tubuhnya bergetar ketakutan membayangkan sekelompok pasukan rahasia sedang mencurigainya. Dengan terpaksa Jongin harus membatalkan pencariannya untuk hari ini. Ia harus beristirahat agar pasukan rahasia itu tidak curiga lagi padanya. Kalau ia berhasil, maka pasukan itu akan menganggap perbuatannya sepanjang siang ini hanya karena ia ingin melihat seluruh isi Istana Vezuza bukan memata-matai kegiatan di Istana Vezuza.

Hari ini Jongin membatalkan pencariannya tetapi bukan berarti ia akan membatalkannya untuk seterusnya.

Pagi ini setelah makan bersama Raja Zhoumi, Sehun diajak Raja Zhoumi ke ruangannya untuk membicarakan pernikahannya. Kesempatan ini dimanfaatkan Jongin dengan baik untuk mulai mencari sang Putri. Pencariannya hari ini berbeda dengan pencarian kemarin. Hari ini ia mencari perhatian para wanita di Hall.

Seperti yang dilakukannya kali ini, Jongin mendekati sekelompok wanita yang sedang berbincang-bincang.

"Selamat pagi," sapanya, "Maaf saya menganggu pembicaraan Anda. Kalau Anda tidak keberatan, saya ingin bertanya pukul berapa sekarang."

"Saat ini sekitar pukul setengah sepuluh."

"Sudah siang rupanya," Jongin berpura-pura mengeluh, "Saya tak menyangka waktu terasa lebih cepat berlalu di negeri ini."

"Anda tidak berasal dari sini?" tanya seorang wanita tertarik.

"Saya berasal dari Kerajaan Skyvarrna."

"Anda berasal dari negeri yang luas itu rupanya. Ada keperluan apa Anda datang kemari?" tanya yang lain.

Jongin puas mendapat perhatian dari para wanita itu.

"Saya ke sini menemani teman saya menyelesaikan masalahnya di sini."

"Tampaknya masalah yang teman Anda hadapi itu bukan masalah mudah."

"Anda benar. Saya yang hanya sebagai penonton ikut pusing karenanya."

"Saya berharap dapat membantu Anda."

"Anda sudah membantu saya bila Anda mengijinkan saya memperkenalkan diri pada wanita-wanita yang cantik seperti Anda semua."

"Anda pandai memuji, Tuan."

"Saya berkata yang sejujurnya. Saya belum pernah melihat wanita yang secantik Anda semua. Saya yakin sang Putri kalah cantik dari Anda semua."

"Putri kami yang Anda maksud?" tanya seorang wanita.

"Ya, kata orang ia cantik tetapi saya yakin ia kalah cantik dengan Anda semua."

Wanita-wanita itu tertawa geli.

"Siapakah yang mengatakan hal itu pada Anda, Tuan?"

"Putri kami sangat memalukan Tuan hingga Paduka melarangnya meninggalkan Istana Vezuza. Sejak lahir ia sudah buruk rupa karena itu Paduka tidak mengijinkannya keluar."

"Benarkah itu?" tanya Jongin pura-pura tak percaya, "Apa yang saya dengar sangat berlainan dengan yang Anda katakan."

"Kami mengatakan yang sebenarnya, Tuan. Semua orang di kerajaan ini juga tahu sang Putri sangatlah buruk hingga untuk menyebut namanya saja, Paduka malu. Kami dengar sang Putri sudah tua. Raja tampaknya sudah menyerah untuk mencarikan suami bagi putrinya itu."

"Siapa yang mau menikah dengan wanita yang sudah buruk, gemuk juga tua walaupun ia seorang Putri Raja?"

"Orang yang menikah dengannya pasti orang gila."

"Saya setuju dengan Anda," sahut Jongin tak mau kalah, "Hanya orang gila yang mau menikah dengan gadis seperti itu."

"Ia bukan seorang gadis muda lagi, Tuan," kata seorang wanita mengingatkan, "Ia gadis tua."

"Karena tua dan buruknya dia, Paduka sampai tak mengijinkannya meninggalkan kamarnya."

"Benarkah itu?" Jongin pura-pura tak percaya, "Tidak mungkin Paduka Raja Zhoumi menyembunyikan putrinya sampai tidak mengijinkanya meninggalkan kamarnya."

"Itu benar, Tuan. Ayah saya telah bekerja di Istana ini selama berpuluh-puluh tahun tetapi belum pernah ia melihat sang Putri. Ia hanya tahu mengenai kelahirannya setelah itu ia tidak tahu apa-apa lagi tentangnya."

"Jadi apa yang saya dengar selama ini sangat salah," gumam Jongin.

"Benar, Tuan. Semuanya itu sangat salah."

"Kalau Anda tidak mempercayai kami, Anda bisa menanyakannya pada para pelayan di Istana ini."

"Anda jangan heran bila mereka mengatakan tidak pernah bertemu sang Putri."

"Saya akan mencoba saran Anda," kata Jongin, "Terima kasih atas pembicaraan yang menyenangkan ini."

"Bila Anda sangat ingin tahu mengenai sang Putri, Anda bisa mencari Minseok. Kata ayah saya, wanita itulah yang merawat sang Putri sejak ia lahir."

"Terima kasih atas saran Anda. Saya akan mencarinya."

Jongin tersenyum puas ketika meninggalkan sekelompok orang itu. Sehun akan sangat terkejut bila mengetahui apa yang dikatakan para wanita itu padanya. Mungkin ia akan membatalkan pernikahan konyolnya ini.

Bila itu terjadi, Jongin sebagai temannya akan sangat senang. Jongin tidak perlu menemui pelayan yang disebut wanita itu. Ia yakin wanita itu akan mengatakan hal yang sama padanya.

Ketika melihat Sehun kembali ke kamarnya, Jongin segera menuju kamar pria itu.

"Dari wajahmu, aku melihat kau telah menemukan sesuatu yang sangat menyenangkan hatimu."

"Kau benar," sahut Jongin, "Apa yang kutemukan ini pasti dapat mengubah semua rencanamu."

Sehun hanya memandang tak percaya.

"Aku yakin, Sehun. Sangat yakin," kata Jongin tegas. Sehun tetap memandang tak percaya.

"Putrimu itu benar-benar seperti yang dikatakan orang-orang. Wanita-wanita yang kutemui tadi mengatakan seperti apa rupa sang Putri tepat seperti yang kita ketahui. Mereka berulang kali menekankan sang Putri sudah tua."

"Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini."

"Ia lebih tua darimu, Sehun. Ia sangat tidak pantas untukmu."

"Kau terlambat, Jongin. Aku dan Raja Zhoumi telah mencapai kata sepakat untuk menikah secepat mungkin. Kami juga telah membicarakan di mana dan kapan kami akan menikah. Malam ini puaskan rasa kagummu pada Istana Vezuza sebab besok siang kita akan kembali ke Kerajaan Skyvarrna untuk melaksanakan apa yang telah kusepakati dengan Raja Zhoumi."

Jongin hanya dapat terpana mendengar kata-kata tegas itu.

Sehun menepuk pundak Jongin. "Bersenang-senanglah malam ini. Hanya malam ini satu-satunya kesempatan yang tersisa."

Jongin tidak mengerti mengapa Sehun secepat ini memutuskan pernikahannya. Sehun dengan cepat memutuskan akan menikah di mana dan kapan. Masalah ini bukan masalah kecil tetapi kedua raja itu telah menyelesaikannya dalam sekali bicara. Tampaknya kedua raja merasa diuntungkan dengan pernikahan ini sehingga dengan cepatnya memutuskan akan segera menikahkan sang Putri dengan Sehun.

Jongin yakin Raja Zhoumi merasa sangat lega karena pada akhirnya ada pria yang mau menikah dengan putrinya yang buruk rupa. Karena segalanya telah diputuskan berarti masa depan Sehun juga Kerajaan Skyvarrna sudah jelas. Mereka akan mempunyai ratu yang buruk rupa dan sangat memalukan sepanjang sejarah Kerajaan Skyvarrna.

"Tidak," kata Jongin dalam hatinya. Jongin tidak mau mempunyai ratu yang memalukan seperti itu. Satu-satunya jalan untuk membuka mata Sehun adalah mempertemukannya dengan pengasuh sang Putri.

Jongin segera keluar mencari wanita itu.

"Di mana Minseok?" tanya Jongin kepada pelayan yang ditemuinya di lorong.

"Itu Minseok." Pria itu menunjuk seorang wanita yang baru saja meninggalkan Ruang Perpustakaan.

Jongin segera menghampiri wanita tua itu. "Nyoya Minseok," berhenti. "Apakah saya mengenal Anda?" tanyanya heran.

"Saya Jongin, teman baik Raja Sehun dari Kerajaan Skyvarrna. Saya tahu Anda adalah pengasuh sang Putri. Saya ingin bertanya pada Anda mungkinkah teman saya bertemu sang Putri."

"Maaf, Putri sangat sibuk," kata Minseok ketus.

Jongin tidak mengerti mengapa wanita itu bersikap ketus padanya.

"Teman saya sangat ingin bertemu sang Putri sebelum menikah dengannya."

"Untuk melihat apakah Putri seperti yang orang-orang katakan?" tanya Minseok tajam.

Jongin terdiam.

"Paduka Raja Sehun telah melamar Putri tanpa melihat seperti apa rupanya. Ia juga tidak peduli seperti apa sang Putri. Sekarang ia ingin bertemu Putri. Apakah ia ingin lebih mengolok Putri?" tanya Minseok ketus,

"Apakah ia ingin semakin mempermalukan Putri dengan membatalkan pernikahannya setelah bertemu dengannya dan semakin memperbesar mulut orang-orang itu? Maaf, saya tidak dapat membantu Anda."

Minseok pergi dengan angkuhnya.

Jongin terpana melihat wanita itu.

Wanita itu tampaknya sangat mencintai sang Putri hingga tidak mau ada orang yang menjelek-jelekkannya. Itu berarti sang Putri memang seperti apa yang dikatakan orang-orang itu. Jongin yakin pada apa yang didengarnya tetapi Sehun tentu tidak mau mempercayai apa yang baru saja terjadi ini.

Dengan lesu Jongin kembali ke kamarnya.

Tampaknya tidak ada jalan lagi untuk menyelamatkan Sehun dari pernikahan konyol ini.

.

.

.

T B C

.

.

.

Chapter 2 selesai..

Mudah-mudahan readers gak kecewa dengan chapter ini..

Luhan dan Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta belum muncul..

Tenang-tenang, Chapter depan mereka bakal dimunculin..

di tunggu ya..

.

.

.

Big Thanks to(Reviewer Chapter 1) :

|VelanditaSelly|apalah arti sebuah nama|hhuunniiee|niasw3ty|Karuhi Hatsune|khalidasalsa|NoonaLu|dwiihae| |vidyafa11|ruixi1|Oh Juna93|ichan|Ayu|luhannieka|qie kaisoo 2|rikha-chan|nisaramaidah28| |Guest|fivahlulu|chenma|lisnana1|guest|

.

.

.

So, Review again please..

.

.

.

"090115"