TOPENG SANG PUTERI
Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)
Genre : Kingdom, Romance, Family
Length : Chapter 5 0f ?
Summary :
Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.
Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.
Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.
.
.
.
Happy Reading ^-^
.
.
.
CHAPTER 5
.
.
.
"Luhan!"
Luhan memalingkan perhatiannya dari laut biru.
"Seharian aku melihatmu berdiri di sini. Kau senang melihat laut?"
"Ya," jawab Luhan singkat, seperti biasanya.
Laut yang biru telah mempesona Luhan. Di malam hari Luhan dapat melihat laut seakan-akan bersatu dengan langit. Dan di pagi hari ia dapat melihat laut biru yang membentuk garis lurus dengan langit biru.
"Laut memang indah. Aku senang melihatnya terlebih saat matahari terbit atau matahari terbenam. Kau telah melihat matahari terbit pagi tadi?"
"Ya."
Luhan telah banyak mendengar tentang keindahan laut saat matahari terbit juga matahari terbenam. Pagi ini ia bangun pagi-pagi dan berdiri di geladak untuk melihat matahari terbit.
Gadis itu telah membuktikan sendiri apa yang dikatakan banyak orang. Matahari yang terbit di laut memang tampak indah bahkan lebih indah dari apa yang dikatakan orang-orang.
Sesaat sebelum matahari muncul, langit tampak kemerahan dengan sinar-sinar orange ikut mewarnai langit. Warna merah yang cerah itu mengusir langit malam yang gelap. Beberapa saat kemudian matahari yang tampak besar seolah-olah muncul dari dalam laut. Matahari terus muncul perlahan-lahan sampai akhirnya ia menunjukkan seluruh wajahnya yang besar dan merah menyala.
Saat itu Luhan mengerti mengapa Minseok mengatakan sinar matahari pagi membawa harapan baru dalam hidup setiap orang. Malam yang dingin dan gelap terusir oleh sinar matahari yang terang dan menghangatkan. Sinar itu mencerahkan hati siapa saja dan memunculkan harapan baru di dalam hati yang melihatnya.
Matahari siang memang tidak bersahabat terutama di musim panas, tetapi matahari pagi muncul dengan harapan-harapan baru.
Harapan-harapan baru yang dibawa matahari itulah yang berabad-abad lalu membangkitkan semangat para pelaut.
Dimulai dari bangsa Mesir kira-kira tahun 2000 SM yaitu oleh orang yang bernama Hennu. Menurut kepercayaan bangsa Mesir pada jaman itu, dunia ini dataran bulat yang dikelilingi air. Mereka menyangka bahwa Sungai Nil berasal dari kumpulan air itu di selatan dan mengalir lewat sebuah gua di dalam gunung.
Mula-mula Hennu membawa rombongannya menyeberangi gurun pasir ke ujung utara Laut Merah. Di sini mereka membangun kapal-kapal, lalu berlayar ke Punt melalui Laut Merah. Penduduk Punt ramah tamah. Hennu membuat kapal-kapalnya dengan barang-barang berharga, lalu kembali ke Mesir dengan selamat. Setibanya di tanah airnya kisah pelayarannya yang luar biasa dipahat pada sebuah batu.
Kapal Hennu mempunyai dasar yang datar serta haluan dan buritan yang menonjol. Ia terbuat dari potongan-potongan kayu kecil yang disatukan dan diperkuat dengan tali dan kulit mentah. Tiangnya hanya satu berbentuk huruf V terbalik, sedang layarnya juga hanya satu. Kapal itu dikemudikan dengan dayung-dayung kasar yang dilekatkan pada sisinya. Bila angin tidak cukup baik untuk menggunakan layar, pengayuh-pengayuh yang berdiri mendayung kapal itu.
Itulah kapal pertama yang dibuat manusia.
Tiba-tiba kapal berguncang keras.
Sehun cepat-cepat menarik Luhan ke dalam pelukannya. Ia melihat sekeliling dengan cemas. Beberapa prajurit berlari lalu-lalang dengan panik. Sementara itu kapal terus bergerak dengan keras. Ayunan kapal yang tenang membuat Luhan merasa terbuai tetapi ayunan yang keras ini membuat Luhan merasa mual. Baru kali ini ia bepergian dengan kapal dan ia belum pernah mengalami guncangan sekeras ini. Sepanjang hari kemarin kapal terus berlayar dengan tenang.
Luhan merasa apa yang telah dimakannya pagi tadi mulai naik ke atas tenggorokannya. Luhan mual dan kepalanya terasa pening. Luhan bersyukur Sehun memeluknya kalau tidak, Luhan yakin ia akan jatuh pingsan. Kakinya terasa lemas sekali sementara itu matanya terasa berkunang-kunang.
"Kurasa sesuatu telah terjadi," kata Sehun, "Sebaiknya aku membawamu kembali ke kamarmu."
Sehun membopong Luhan dan membawa Luhan ke kamarnya sambil menyesuaikan diri dengan gerakan kapal yang tidak teratur. Luhan, merasa ia terlalu lemah untuk melakukan sesuatu, menyandarkan kepalanya di pundak Sehun.
Sehun melihat langit dengan cemas. Ia khawatir akan terjadi badai.
Itulah hal yang paling tidak diharapkannya akan terjadi selama perjalanan ini. Saat ini Sehun tidak dapat menanyakan apa yang telah terjadi. Luhan berada di gendongannya dan ia tidak mau gadis itu menjadi khawatir kalau tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.
Luhan melingkarkan tangannya di sekeliling leher Sehun. Gadis itu menyembunyikan kepalanya di dada Sehun dan mencoba mengatasi rasa mual di perut dan lehernya. Matanya terus berkunang-kunang dan apa yang dilihatnya hanya membuat dirinya semakin pusing. Luhan memejamkan mata. Sehun merasakan tubuh Luhan bergetar di pelukannya. Ia mengerti gadis itu ketakutan oleh hal yang baru pertama kali dialaminya ini. Sehun semakin berhati-hati membawa Luhan ke kamarnya.
Kyungsoo yang sejak tadi menanti Luhan, terkejut melihat Sehun datang dengan Luhan di gendongannya.
"Cepat siapkan tempat tidur," perintah Sehun.
Kyungsoo cepat-cepat membenahi letak bantal dan menarik selimut yang menutupi seluruh permukaan tempat tidur.
Dengan hati-hati Sehun meletakkan Luhan di tempat tidur.
Merasakan kelembutan tempat tidur, perlahan-lahan Luhan membuka matanya.
Sehun terkejut melihat wajah pucat Luhan. Tiba-tiba saja ia menyadari ia tak memperhitungkan kemungkinan Luhan mabuk laut.
"Maafkan aku," kata Sehun sambil menyelimuti Luhan, "Aku sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan kau mabuk laut."
"Ti… tidak apa… apa…," kata Luhan sambil mencegah tubuhnya memuntahkan kembali apa yang telah dimakannya pagi tadi.
"Kyungsoo," kata Sehun, "Carikan obat untuk Luhan."
"Baik, Paduka."
"Aku pun harus pergi, Luhan," kata Sehun lembut. "Aku ingin mengetahui apa yang telah terjadi."
Luhan menarik lengan baju Sehun.
Sehun melihat tangan putih yang memegang erat-erat lengan bajunya itu. Sehun meletakkan tangannya di atas tangan itu dan berkata lembut, "Jangan khawatir, Luhan. Di sini kau aman. Sebentar lagi Kyungsoo juga akan kembali. Ia akan menemanimu sampai aku datang."
Sehun melepaskan pegangan itu dengan lembut. "Tunggulah Kyungsoo di sini."
Gadis itu mengangguk dan memejamkan matanya.
Sehun meninggalkan kamar Luhan dan segera menemui Chanyeol di ruang kemudi.
"Apa yang terjadi? Apakah akan ada badai?"
"Tidak, Paduka," jawab Chanyeol, "Guncangan tadi akibat kapal kita hampir menabrak karang. Kami telah berhasil menjauhi karang-karang itu tetapi sebagian dari lambung kapal tertabrak akibatnya air masuk dan kapal menjadi tidak seimbang."
"Perintahkan beberapa orang untuk memperbaiki kerusakan kapal dan membuang air yang masuk."
"Paduka tidak perlu khawatir. Saya telah melakukannya."
"Untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, kita harus mendarat di daratan terdekat. Di sana kita akan memeriksa kerusakan dengan lebih teliti. Jangan sampai ada kerusakan yang terlewatkan."
"Saya mengerti, Paduka."
Sehun melihat laut yang tenang. "Aku berharap tidak terjadi badai selama perjalanan ini hingga kita sampai di Leiffberg."
"Saya juga berharap cuaca akan tetap tenang seperti ini hingga kita sampai di Leiffberg."
Sehun mengawasi laut yang tenang.
Chanyeol mulai memeriksa kedudukan mereka dan membuka peta untuk mencari daratan terdekat untuk mendarat. Sementara itu di geladak, beberapa kelasi berlalu lalang kepanikan.
"Paduka! Paduka!"
" Ada apa, Kyungsoo?"
"Gawat, Paduka," kata Kyungsoo terengah-engah, "Paduka Ratu…"
" Ada apa dengannya?" potong Sehun panik.
"Paduka Ratu tidak mau makan obat dan ia tampak sangat pucat. Saya sudah membujuknya tetapi ia tidak mau."
"Aku mengerti."
Sehun menuju kamar Luhan. Sehun melihat wajah Luhan tampak putih pucat. Gadis itu tampak sangat kesakitan. Sehun duduk di samping Luhan. Dengan satu tangannya, ia mengangkat tubuh Luhan dan tangannya yang lain meraih obat di meja samping tempat tidur.
Luhan membuka matanya perlahan-lahan.
"Mengapa kau tidak mau minum obat? Kau harus minum obat ini agar kau merasa lebih baik."
"S…"
Sehun tidak melewatkan kesempatan baik ketika Luhan membuka mulutnya. Cepat-cepat ia meraih gelas dan menyodorkannya di bibir Luhan.
"Obat ini akan membuatmu mengantuk tetapi setelah kau bangun nanti, kau akan merasa lebih baik."
Luhan meneguk sedikit air yang disodorkan di mulutnya. Luhan takut air itu akan membuat perutnya semakin mual dan akhirnya ia memuntahkan semua yang ada di perutnya.
Sehun menyeka keringat dingin di kepala Luhan yang tersandar di dadanya itu.
"Keadaanmu sangat mengkhawatirkan aku, Luhan. Aku akan menyuruh Chanyeol mendarat di kota terdekat. Dari sana kita akan ke Istana Qringvassein dengan kereta kuda. Kita akan berjalan pelan-pelan agar kau dapat pulih sebelum kita mencapai Skellefreinth."
Tangan Luhan bergetar ketika ia berusaha meraih tangan Sehun. Sehun melihatnya dan ia cepat-cepat meraih tangan Luhan.
"Ti… ti… ti…dak… p… pe… per… lu…"
"Perlu!" bantah Sehun, "Kalau aku memaksa kau pergi dengan keadaan seperti ini, kau akan jatuh sakit. Itu adalah hal yang tidak kuinginkan. Rakyat kita pasti juga tidak ingin Ratunya sakit."
"Baiklah," Sehun cepat-cepat mengalah ketika melihat Luhan hendak berkata, "Kita akan membicarakannya setelah kau merasa lebih baik. Sekarang kau beristirahat saja."
Luhan mulai merasa mengantuk.
Sehun terus memeluk Luhan sampai gadis itu tertidur. Sehun membaringkan tubuh Luhan dan menyelimutinya.
Seperti dulu, ia senang melihat wajah cantik itu tidur dengan tenang. Tetapi kali Sehun tidak ingin meninggalkan Luhan. Sehun ingin menjaga Luhan.
Sehun meletakkan kursi di samping tempat tidur Luhan. Melalui pintu yang menghubungkan kamarnya dan kamar Luhan, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil koran tetapi ia tidak membacanya.
Sehun mengawasi wajah Luhan dengan penuh rasa ingin tahu.
Sampai saat ini ia jarang mendengar suara Luhan. Luhan pendiam, sangat pendiam hingga kelihatannya ia marah pada Sehun dan tidak mau berbicara dengannya. Sampai saat ini pula Sehun tidak tahu mengapa gadis secantik Luhan dikurung Raja Zhoumi di Istana Vezuza.
Gadis itu baik tidur maupun tidak tidur selalu tenang bahkan ketika ia sakit pun matanya tetap terlihat tenang. Mata hitam yang selalu tenang itu indah dipandang. Hitam bagai gua yang tak berujung dan penuh misteri. Misteri kecantikan yang selalu memabukkan tiap orang untuk terus memandangnya.
Diam-diam Sehun mengakui ia senang melihat wajah cantik itu baik sedang tidur maupun tidak. Untuk saat ini lebih aman bila ia menatap lekat-lekat wajah cantik itu saat gadis itu tidur. Kalau saat gadis itu bangun, Sehun tidak tahu apa yang akan dilakukan Luhan.
Terdorong perasaannya, Sehun membungkuk mencium bibir yang terkatup rapat itu.
"Paduka." Panggilan ragu-ragu itu membuat Sehun terpaksa berpaling dari Luhan.
"Saya minta maaf telah mengganggu Anda," Kyungsoo berkata hati-hati.
"Aku yakin ada sesuatu yang hendak kau katakan, Kyungsoo. Mengapa kau tidak mengatakannya sekarang?"
"Ini mengenai Paduka Ratu. Selama ini Paduka Ratu hampir tidak pernah berbicara dengan saya. Saya khawatir Paduka Ratu tidak mengerti apa yang saya katakan."
"Kupikir ia mendiamkanmu bukan karena Luhan tidak mengerti, tetapi karena ia memang pendiam. Kau tidak perlu khawatir, Kyungsoo. Aku melihat Luhan menyukaimu hanya saja dia terlalu pendiam."
Kyungsoo lega Sehun mengerti apa yang dikhawatirkannya. "Raja Sehun memang orang yang pengertian," pujinya dalam hati.
"Hari ini kau bebas tugas, Kyungsoo. Aku yang akan menjaga Luhan untuk hari ini. Kau dapat bersenang-senang."
"Terima kasih, Paduka," kata Kyungsoo.
Kyungsoo membungkuk hormat sebelum meninggalkan kamar itu. Sehun kembali pada peri mungilnya yang cantik.
.
.
.
Luhan kesulitan membiasakan matanya dalam cahaya yang memenuhi kamarnya. Sinar yang menyilaukan itu membuat Luhan melindungi matanya.
"Kau sudah bangun?"
Luhan mengerjapkan mata berulang kali sebelum ia benar-benar terbiasa dengan sinar itu.
Sehun duduk di sisi Luhan. Perlahan-lahan ia mengangkat badan Luhan. Sementara tangannya yang lain menyangga punggung Luhan, Sehun menumpuk bantal di pinggiran ranjang. Sehun masih bersikap hati-hati ketika ia menyandarkan punggung Luhan di tumpukan bantal itu.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Saya baik-baik saja," jawab Luhan singkat.
Sehun tidak percaya. Ia meraba kening Luhan. "Aku senang mendengarnya."
"Kita…," Luhan tidak merasakan buaian laut yang lembut, "Kita telah mendarat?"
Sehun tersenyum lembut. "Benar, kita sekarang sudah mendarat."
"Kita akan tetap melanjutkan perjalanan laut ini tetapi kita harus memeriksa lambung kapal. Guncangan siang tadi disebabkan kapal kita menabrak karang. Tabrakan itu menyebabkan lambung kapal koyak dan air masuk. Kerusakan itu telah dibenahi tetapi aku tetap memerintahkan kita mendarat di daratan terdekat. Aku ingin kerusakan diperiksa dengan lebih teliti sebelum melanjutkan perjalanan. Aku juga ingin pendaratan ini memulihkan keadaanmu."
Luhan diam saja. Ia sadar apa yang diinginkan Sehun benar.
Setelah guncangan yang membuat ia mual tadi, Luhan merasa ia perlu meninggalkan buaian laut yang dapat memabukkan itu. Tubuhnya harus sehat kembali agar dapat meneruskan perjalanan sampai akhir.
Luhan melihat jendela tempat sinar itu masuk. Ia ingin tahu apakah ini sudah saatnya matahari terbenam.
"Belum terlalu terlambat untuk melihat matahari terbenam." Luhan mengalihkan perhatiannya.
"Aku akan memanggil Kyungsoo untuk membantumu mempersiapkan diri." Luhan melihat tubuhnya dan memerah. Gaunnya telah ditanggalkan dari tubuhnya. Yang melekat padanya adalah gaun tidurnya. Ini sudah kedua kalinya Sehun melihatnya berbaring di ranjang dengan mengenakan gaun tidur sutra yang lembut. Pertama kemarin sore lalu sore ini.
Pintu diketuk seseorang lalu Kyungsoo muncul. Seperti biasa Kyungsoo tersenyum ramah sambil menyapanya, "Selamat sore, Paduka Ratu. Apakah Anda sudah merasa lebih baik?"
Luhan mengangguk. Gadis itu meninggalkan tempat tidurnya. Kyungsoo dengan cekatan mengambil gaunnya dan membantunya mempersiapkan diri.
.
.
.
Luhan hanya dapat terpana ketika melihat di buritan kapal terdapat meja yang telah dihiasi dengan taplak putih dan pot bunga besar. Sehun tersenyum ramah ketika mendekatinya. Pria itu mencium tangannya. "Kita akan makan siang di sini. Kau senang?"
Luhan melirik matahari yang hampir terbenam.
Sehun tertawa geli. "Baik. Aku ralat makan sore sebagai ganti makan siang kita yang terlewatkan."
"Aku berkata ingin mengenalmu karena itu aku juga ingin makan bersamamu."
Sehun membimbing Luhan ke meja makan. Seperti yang sering dilakukannya, Sehun menarik kursi untuk Luhan sebelum ia duduk di hadapan gadis itu.
Pelayan mulai melayani mereka.
Matahari yang terus mendekati wajah bumi menyinari mereka. Sinarnya yang merah terasa hangat. Angin laut yang bertiup sepoi-sepoi meramaikan suasana. Ombak laut membuai perahu.
Suasana makan siang seperti ini tidak pernah dibayangkan Luhan. Sangat romantis. Berdua menyantap makan siang sementara matahari menyinari mereka, angin memabukkan mereka dan laut membuai mereka. Sehun berdiri di samping Luhan yang tengah memandang matahari yang mulai memasuki peraduannya.
Langit membara terang. Matahari tampak sangat besar dan sinarnya yang jatuh di permukaan laut membuat laut tampak merah. Di sekeliling matahari tampak pelangi yang mempesona.
Tidak seorangpun dari mereka yang berbicara. Juga para pelayan yang tengah merapikan meja makan.
Sehun mengira Luhan akan terpesona melihat keindahan alam itu. Ia terkejut ketika melihat Luhan dan mendapati gadis itu tetap tenang. Ketika matahari sudah benar-benar memasuki peraduannya dan meninggalkan sinarnya yang membara pun, Luhan masih tetap tampak diam membisu.
"Bagaimana menurutmu?" Sehun sengaja memancing Luhan berbicara.
"Seperti tiara laut," jawab Luhan singkat.
Untuk sesaat Sehun kebingungan mendengar jawaban itu. Ia melihat laut di kejauhan dan mengerti apa yang dikatakan Luhan.
Sinar merah matahari di permukaan laut tampak seperti permata yang tiada taranya. Benar-benar permata laut yang indah.
Luhan melihat sekeliling kapal yang sepi.
"Malam ini mereka berkemah di daratan. Besok mereka akan kembali memeriksa kapal. Ketika kita mendarat tadi, hari sudah sore dan pemeriksaan belum selesai. Menurut perhitunganku, besok siang kita sudah akan berlayar kembali."
Luhan melangkah ke geladak kapal. Dari situ ia melihat prajurit-prajurit yang mengawal mereka telah mendirikan tenda. Sekarang mereka tengah bercakap-cakap sambil mengelilingi api unggun.
"Apa yang akan kau lakukan?" Sehun kaget ketika Luhan menuju tangga tali kapal. Sehun cepat-cepat menarik Luhan.
"Saya merasa kita tidak adil. Mereka tidur di tanah sementara kita tetap di kapal."
"Mereka yang ingin berkemah, Luhan," kata Sehun lembut, "Aku tidak melarang kalau mereka ingin tidur di kapal. Kurasa mereka sudah merindukan daratan."
Luhan memandang pantai di kejauhan.
Sehun berkata tegas, "Kau masih belum sehat benar. Jangan sampai kau tidur dengan angin dingin sepanjang malam terus menerpamu. Malam ini kau harus tidur di kamarmu yang hangat!"
Belum habis kekagetan Luhan mendengar nada-nada tegas dan memerintah itu ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat.
"Angin malam laut musim gugur sangat kejam. Ia akan membuatmu sakit. Kalau itu terjadi, aku akan membatalkan perjalanan ini walau kau tidak suka."
Luhan hanya berpegangan pada pundak Sehun yang lebar dan membiarkan pria itu membawanya ke kamarnya.
Kyungsoo telah menyalakan lilin-lilin. Wanita itu tersenyum ramah ketika melihat mereka. "Selamat malam."
"Selamat malam, Kyungsoo."
"Bila Anda mengijinkan, Paduka, saya ingin berkumpul dengan yang lain."
"Lakukan apa yang kau mau, Kyungsoo," kata Luhan.
Kyungsoo terpana mendengarnya. Kemudian ia tersenyum senang dan membungkuk badan dalam-dalam sebelum meninggalkan mereka berdua.
Sehun menurunkan Luhan dengan hati-hati. "Aku tahu kau bisa bahasa kami."
Luhan diam saja.
"Kyungsoo khawatir kau tidak dapat mengerti Bahasa Latin Kuno. Sekarang ia tidak perlu khawatir lagi. Kau dapat berbicara bahasa itu dengan fasih. Dan, sepertinya aku tidak harus berbicara dalam bahasamu."
Pelajaran bahasa Latin Kuno adalah satu di antara pelajaran-pelajaran lain yang diterima Luhan. Raja Zhoumi berulang kali menegaskan Luhan harus bisa menggunakan bahasa yang menjadi induk hampir semua bahasa di Eropa ini.
"Hari ini masih panjang. Bagaimana kalau kita bermain kartu atau catur sambil berbicara tentang sesuatu yang menarik?"
"Saya tidak mempunyai apa pun untuk diceritakan."
"Sebaliknya, Luhan, aku berpendapat kau mempunyai banyak hal menarik yang dapat kau ceritakan."
Luhan diam saja.
"Aku akan mengambilnya di kamarku."
Tak lama kemudian Sehun kembali bersama kotak catur dan sebuah buku tebal. Sehun menunjukkan buku itu pada Luhan.
"Aku menemukan buku ini ketika mencari catur ini. Kulihat kau sangat menyukai laut. Aku yakin kau akan menyukainya."
Luhan melihat judul buku itu. "Gambaran Dunia" begitu judulnya.
"Buku ini ditulis oleh Marco Polo," Sehun menjelaskan, "Ia banyak bercerita tentang Negara-negara Timur. Tentang kerajaan yang semuanya berlapis emas, negeri-negeri yang subur. Semuanya ada."
"Bukan oleh Marco Polo," Luhan membenarkan, "Tetapi oleh seorang pengarang populer yang bernama Rusticello dari Pisa ."
"Tak kuduga kau banyak tahu tentang buku ini," Sehun terkejut. Luhan tidak menanggapi.
Sehun melihat pembicaraan tentang buku ini dapat membuat Luhan berbicara panjang lebar. Pria itu tidak membuang kesempatan ini.
"Mengapa bukan Marco Polo sendiri yang menulisnya?"
"Waktu itu Marco Polo ditangkap dan dipenjara oleh tentara Genoa. Sewaktu di dalam penjara itulah Marco Polo memutuskan untuk membukukan kisah perlawatannya. Dengan bantuan catatan-catatannya, ia mendiktekan pengalaman-pengalamannya kepada Rusticello yang waktu itu juga terpenjara bersamanya. Rusticello menterjemahkan cerita itu ke dalam bahasa Perancis Kuno, bahasa sastra Itali di abad 13. Buku itu selesai tahun 1298."
Sehun senang pada akhirnya ia berhasil membuat Luhan berbicara panjang. Tapi ia harus puas sekali membuat Luhan berbicara banyak. Selanjutnya Sehunlah yang banyak bicara. Luhan lebih banyak membenarkan atau mendengarkan.
Mereka berbicara tentang Marco Polo yang merupakan penjelajah pertama yang menempuh seluruh Asia dari barat ke timur dan kembali lagi.
Sehun menjelaskan apa saja yang ada dalam buku "Gambaran Dunia." Bagaimana Marco Polo menyebutkan semua kerajaan yang dilaluinya dan melukiskan negeri-negeri dan rakyatnya.
Sehun juga menjelaskan bahwa di dalam buku itu dijelaskan bahwa Marco Polo adalah orang yang pertama yang mendaki dataran Pamir yang tinggi di Asia Tengah dan menceritakan tentang gurun-gurun Pasir yang penuh bahaya. Ia adalah orang Eropa pertama yang melukiskan kehidupan rakyat Cina.
Marco Polo juga menggambarkan kehidupan di Tibet, Burma, Siam, Srilangka dan India . Semua negeri ini sudah dikunjunginya. Tetapi ia juga menceritakan tentang negeri-negeri berbatasan yang diketahuinya keadaannya dari orang lain.
Ia bicara mengenai Jepang dengan angkatan lautnya yang kuat dan diceritakannya tentang kereta luncur yang ditarik anjing, tentang rusa-rusa dan beruang-beruang kutub di Siberia dan daerah-daerah Kutub Utara yang beku.
Dalam bukunya yang diberi judul "Gambaran Dunia" Marco Polo menceritakan tentang kerajaan Kublai Khan yang makmur dan maju, tentang kekayaan kerajaan itu, perdagangan, jalan-jalan dan terusan-terusannya yang panjang.
Ia juga menceritakan tentang sistem pos Khan yang terdiri dari jaringan stasiun-stasiun kurir di seluruh kerajaannya. Penunggang-penunggang kuda menyampaikan berita-berita secara beranting dari stasiun yang satu ke stasiun yang lain.
Semua itu diceritakan Sehun kepadanya. Sepanjang malam Luhan mendengar bagaimana Sehun menjelaskan isi buku itu padanya. Luhan sudah membaca buku itu tetapi ia tetap tertarik mendengar penjelasan Sehun.
Mereka keasyikan membahas buku itu hingga tidak sadar hari telah berganti dan saat mereka sadar, waktu menunjukkan hampir pukul setengah dua.
"Sudah hampir pukul setengah dua?" kata Sehun tak percaya ketika melihat jam. "Tak kuduga kita terlalu larut membicarakan buku ini hingga dini hari."
Luhan juga tidak menyadari waktu terus berjalan sementara ia asyik mendengar Sehun berbicara.
"Kurasa kita harus tidur sekarang juga kalau tidak ingin kita bangun lebih siang," kata Sehun sambil menutup buku, "Aku khawatir kita akan bangun terlambat."
Sehun meletakkan buku itu di meja lalu mendekati Luhan.
"Tidurlah yang nyenyak," Sehun mencium dahi Luhan, "Selamat malam."Setelah Sehun menghilang di balik pintu, Luhan berganti gaun tidur lalu naik ke tempat tidur. Seperti Sehun, ia juga khawatir akan kesiangan.
.
.
.
Tetapi pagi ini ia sudah membuka matanya ketika hari masih gelap.
Sayup-sayup Luhan mendengar keramaian di kejauhan. Luhan tahu suara ramai itulah yang membangunkannya sepagi ini. Luhan tertarik untuk mengetahui apa yang menyebabkan suara itu.
Luhan membuka lemari bajunya dan mencari mantel yang tebal. Kemudian ia menuju geladak yang menghadap pantai.
Di pantai prajurit-prajurit sudah terbangun. Terlihat beberapa api unggun sudah padam dan meninggalkan asap membumbung tinggi. Beberapa masih menyala terang.
Sejumlah prajurit menuju ke bagian pantai yang menjorok ke laut dan melemparkan sesuatu ke dalam laut. Yang lain ada yang masih berada dalam tenda tetapi ada juga yang menghidupkan api unggun kembali.
"Sepertinya mereka yang membuat kita terbangun."
Luhan membalikkan badan.
"Entah apa yang membuat mereka ribut seperti ini," Sehun mendekati Luhan, "Sangat ribut sampai suara mereka terdengar di sini."
Luhan melihat keramaian di pantai.
"Aku rasa mereka sedang memancing. Aku ingin sesekali sarapan dengan ikan bakar. Kau mau ikut?" Tanpa perlu bertanya pun Sehun tahu Luhan mau.
"Kita harus berganti baju dulu," Sehun mengajak Luhan kembali ke kamar mereka masing-masing.
Ketika sampai di depan pintu kamar Luhan, Sehun berkata, "Aku akan menunggumu di sini."
Luhan segera masuk dan cepat-cepat merapikan diri. Gadis itu ingin segera turun melihat keramaian di pantai. Luhan membiarkan rambut panjangnya terurai kemudian ia mengambil mantel coklatnya.
Ketika Luhan keluar, Sehun juga baru keluar dari kamarnya.
"Dengan gaun biru cerah itu, kau tampak seperti peri yang baru muncul dari laut," puji Sehun.
Luhan diam termenung.
Sehun mengambil mantel tanpa lengan di tangan Luhan kemudian mengenakannya pada Luhan. "Lebih baik kau memakai mantelmu. Di bawah sana lebih dingin dari di sini."
Sehun membawa Luhan ke geladak.
Luhan melihat laut di sekeliling kapal mereka.
"Kita akan ke pantai dengan perahu kecil," Sehun menjelaskan.
Luhan melihat di bawah telah ada sebuah perahu kecil.
"Aku akan turun dulu untuk menjagamu," kata Sehun kemudian pria itu menuruni tangga tali di samping kapal. Setelah menuruni beberapa tangga, Sehun berkata pada Luhan, "Turunlah, aku menjagamu."
Luhan mengikuti apa yang disuruh Sehun.
Sehun benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Pria itu menjaga Luhan dalam setiap langkahnya.
Ketika Sehun sampai di perahu, ia segera mengangkat tubuh Luhan dari tangga.
Luhan memegang erat-erat lengan Sehun sampai ia terbiasa oleh ombak yang menghantam perahu kecil itu.
Sehun membantu Luhan duduk di perahu kemudian ia duduk dan mulai mendayung.
Ketika mereka mulai meninggalkan kapal besar itu, Luhan melihat beberapa perahu mengikuti mereka. Luhan tahu prajurit yang ada di dalam perahu itu adalah pasukan pengawal Raja dan Ratu.
Semakin mereka menjauhi kapal besar itu, Luhan semakin tahu sebesar apa kapal itu. Kapal itu sangat besar dan kokoh. Tiang-tiang layarnya berdiri tegak menjulang ke angkasa seolah-olah memamerkan kekuatan mereka. Kapal yang berdiri di lautan itu tampak terayun-ayun oleh ombak besar. Kapal dengan laut biru yang membentang luas itu tampak seperti lukisan di dini hari.
Semakin mereka menjauhi kapal, semakin luas laut yang tampak oleh mata. Laut yang terhampar di depannya, tampak hitam dan memantulkan sinar kemilau bintang-bintang yang mulai memudar.
Sehun melihat gadis yang duduk di hadapannya itu memandang jauh. Pria itu terus mendayung kapal ke pantai.
Orang-orang yang berada di pantai tidak menyadari kedatangan Sehun dan Luhan. Mereka terlalu sibuk dengan keramaian mereka sendiri.
Sehun melompat ke pantai ketika mereka tiba. Sehun mencegah Luhan yang hendak melompat juga. Sehun menarik perahu kecil itu ke pantai yang tidak tergenang air lalu mengangkat Luhan keluar dari perahu. Perahu-perahu lain yang mengikuti mereka juga mulai mendekati pantai. Tetapi baik Sehun maupun Luhan tidak menanti mereka. Mereka berdua berjalan ke tenda-tenda di depan mereka.
Semua orang di sana tidak menyadari Raja dan Ratu mereka telah berada di dekat mereka hingga salah seorang yang kebetulan melihat ke arah laut, melihat mereka berjalan mendekat dengan sejumlah pasukan di belakang mereka.
"Paduka Raja dan Paduka Ratu datang!" teriaknya.
.
.
.
T B C
.
.
.
Big Thanks to (Reviewer Chap 4) :
| one | Oh Juna93 | doremifaseul | khalidasalsa | Hun.K Salvatore | Sanshaini Hikari | psw7 | ruixi1 | apalah arti sebuah nama | BeibiEXOl | Happybacon | SFA30 | hhyunn | younlaycious88 | Guest | rikha-chan | EXOST Panda | niasw3ty | funkychen2199 | Xiao Rose | lisnana1 | kimyori95 | Entahlah | meimei | chenma | vidyafa11 | 3678fans - EXO | RZHH 261220 II | luhannieka | N. | VelanditaSelly |
.
.
.
So, Review again please..
.
.
.
"280115"
