TOPENG SANG PUTERI
Main Cast: Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)
Genre: Kingdom, Romance, Family
Length: Chapter 6 0f ?
Summary:
Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.
Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.
Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.
.
.
.
DISCLAIMER :
Hai Readers, AKU KEMBALI LAGI MEMBAWA FANFIC YANG AKU AMBIL DARI NOVEL TERJEMAHAN BERLATAR BELAKANG KERAJAAN EROPA tapi tetap My Bias EXO Specially HunHan yang menjadi Main Castnya.
SEKALI LAGI AKU KATAKAN, KALOAKU NGEPOSTING FANFIC INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting fanfic di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.
NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.
.
.
.
Happy Reading ^-^
.
.
.
CHAPTER 6
.
.
.
Orang-orang itu terkejut. Beberapa dari mereka sibuk merapikan tempat itu dan beberapa sibuk menyambut.
"Selamat pagi, Paduka," kata Chanyeol kebingungan, "Maaf tempat ini kotor."
"Selamat pagi," balas Sehun, "Apakah kalian dapat tidur nyenyak?"
"Ya, Paduka."
"Apa yang sedang terjadi hingga keributan kalian terdengar sampai ke kapal induk?"
"Maafkan kami, Paduka," Chanyeol merasa bersalah, "Beberapa dari kami tiba-tiba memutuskan untuk makan pagi dengan ikan bakar. Tetapi dari tadi kami belum mendapat seekor pun. Itulah yang membuat kami ribut. Kami sungguh menyesal telah menganggu istirahat Anda, Paduka."
"Tidak apa-apa, Chanyeol," kata Sehun, "Kami ke sini bukan untuk marah tetapi untuk ikut makan pagi dengan ikan bersama kalian."
Sehun melihat sekeliling. Beberapa orang tampak menanti umpannya dimakan ikan dan beberapa yang menyadari kedatangan mereka, sibuk merapikan peralatan untuk segera menyambut.
"Sudah lama aku tidak memancing," kata Sehun tiba-tiba, "Masih ada alat yang tersisa?"
"Ada , Paduka," kata Chanyeol. Kemudian Chanyeol memanggil seseorang yang berada di dekat mereka.
Sehun melihat Luhan. "Kau mau di sini atau ikut bersamaku?"
Sebelum Luhan menjawab, Sehun berkata, "Aku tahu kau pasti ingin ikut bersamaku."
Luhan tak menanggapi.
Tak lama kemudian seseorang mendekati Chanyeol sambil menyerahkan sebuah alat pancing.
"Ini alatnya, Paduka," Chanyeol menyerahkan dengan hormat.
"Terima kasih, Chanyeol."
Luhan mengikuti Sehun ke tempat prajurit yang lain memancing.
Prajurit-prajurit itu segera berdiri dan membersihkan bebatuan itu.
"Silakan duduk, Paduka," kata mereka hampir bersamaan.
"Tidak perlu bersikap seperti itu. Kali ini aku hanya seorang pemancing biasa seperti kalian," kata Sehun, "Mari kita memancing."
Sehun duduk diikuti prajurit lainnya yang telah memancing disana sejak tadi.
"Berapa banyak ikan yang kalian dapatkan?" tanya Sehun sambil menanti umpannya dimakan ikan.
"Kami hanya mendapat sedikit, Paduka."
"Sepertinya ikan-ikan di tempat ini tahu akan dipancing sehingga kabur semua," gurau yang lain.
"Kalian kurang bersabar. Memancing membutuhkan kesabaran."
Mereka mengeluh panjang.
Sehun tertawa. "Kalian tidak bersabar seperti itu bagaimana bisa mendapat ikan?"
Luhan melihat pancing Sehun bergerak-gerak, ia memegang lengan pria itu.
Sehun menoleh. Ia melihat Luhan memandang laut kemudian mengikuti pandangan gadis itu.
"Rupanya aku telah mendapat seekor," kata Sehun menarik pancingnya.
Sehun melepas ikan yang menggelepar-gelepar itu. Luhan mengambil ember di sampingnya.
"Anda beruntung, Paduka. Anda telah mendapatkan seekor sedangkan kami yang sejak tadi di sini belum mendapatkan apapun."
"Kalian harus bersabar." Sehun melemparkan kailnya.
Pagi ini Sehun beruntung. Lebih beruntung daripada prajurit-prajuritnya yang lain. Ketika orang banyak itu menanti ikan mengambil umpannya, Sehun telah mendapatkan beberapa ekor.
"Mengapa ikan-ikan itu tidak mau berbelok sebentar?" keluh seorang di antara mereka.
"Karena ia takut padamu," jawab yang lain.
Sehun belum sempat ikut menanggapi ketika Luhan menyentuh lengannya lagi untuk memberitahukan pancingnya bergerak-gerak.
"Aku dapat lagi," kata Sehun senang, "Rupanya kali ini aku memang sedang beruntung."
Luhan menyodorkan embernya yang hampir penuh oleh ikan.
Seorang prajurit meletakkan pancingnya dan mendekati Luhan.
"Ijinkan saya untuk memberikannya pada tukang masak, Paduka Ratu."
Luhan memberikan embernya.
Prajurit yang lain mengumpulkan ikan tangkapan mereka di ember yang lain. "Bawa juga ini," katanya.
Prajurit itu membawa kedua ember itu ke kumpulan tenda di pantai.
"Paduka Ratu, silakan menggunakan ember," seseorang berkata pada Luhan sambil menyerahkan embernya.
Luhan memandang pria itu tanpa berkata apa-apa.
"Saya ingin membantu yang lain memanggang ikan," prajurit itu berkata canggung karena ditatap Luhan.
"Luhan," Sehun memanggil, "Aku telah mendapatkan lagi."
Luhan menyodorkan ember itu.
"Kami permisi dulu, Paduka."
"Kalian mau pergi?" tanya Sehun tak percaya, "Kalian belum mendapatkan banyak."
"Kami bosan, Paduka. Sejak tadi kami menunggu tetapi tidak ada ikan yang mau menghampiri umpan kami."
"Memancing itu membutuhkan kesabaran," kata Sehun.
"Cara yang baik untuk melatih kesabaran," tambah Luhan.
Sehun melihat Luhan dengan heran. Ia baru sadar gadis itu sejak tadi tidak bersuara sedikitpun. "Mengapa kau diam saja?" tanya Sehun ingin tahu.
"Mencegah ikan lari ketakutan," jawab Luhan singkat.
Sehun tersenyum geli, "Kurasa ikan-ikan itu tidak akan lari ketakutan mendengar suaramu yang merdu itu. Mereka akan mendekat."Luhan tidak menanggapi.
Tak seorangpun di antara mereka yang sadar prajurit-prajurit yang memancing di sekitar mereka, telah pergi. Kini tanah terjal itu tinggal mereka berdua.
Mereka juga tidak sadar di pantai sana, beberapa orang membicarakan mereka.
"Paduka Raja memang beruntung. Ia mendapatkan banyak ikan daripada kita."
"Kurasa Paduka Ratu yang membuatnya beruntung."
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Raja dan Ratu kita, Komandan."
Chanyeol melihat ke tempat Sehun dan Luhan berada.
Sehun duduk menanti umpannya dimakan ikan sedangkan Luhan berlutut di samping pria itu. Sehun tidak tampak memperhatikan pancingnya. Pria itu berbicara dengan Luhan. Luhan hanya diam mendengarkan dan memberitahu Sehun bila pria itu telah mendapatkan
ikan.
"Ada apa dengan mereka?"
"Paduka Raja beruntung, ia mendapatkan banyak ikan."
"Kurasa ia mendapat ikan banyak karena ikan-ikan itu ingin mendekati Ratu," Siwon menyahut, "Ratu sangat cantik dan tidak akan ada orang yang menyangkalnya."
"Aku yakin ia adalah seorang peri yang dapat memanggil para ikan."
"Ia membuatku gugup ketika ia menatapku."
"Bukan saatnya kita membicarakan mereka," Chanyeol memotong, "Banyak yang harus kita lakukan. Kita masih harus memeriksa kapal."
"Dan aku menjaga keamanan," tambah Siwon.
Baik Sehun maupun Luhan memang terlalu sibuk untuk memperhatikan orang lain. Sehun sibuk membuat Luhan berbicara sedangkan Luhan sibuk mendengarkan sambil mengawasi pancing Sehun.
"Hari ini aku benar-benar beruntung," kata Sehun sambil meletakkan seekor ikan lagi di ember. "Kau mau mencobanya, Luhan? Aku yakin kau bisa."
Luhan menggeleng.
"Apakah ini sudah cukup?" Sehun melihat ember ikannya. Sehun melihat sekeliling dan sadar tidak ada orang lain selain mereka. "Rupanya mereka memang tidak sabar," gumamnya.
"Paduka! Paduka Ratu!"
Luhan berpaling pada Kyungsoo yang berlari mendekat.
"Maafkan saya, Paduka. Saya tidak melayani Anda dengan baik."
"Kau ingat perintahku kemarin?"
Kyungsoo mengingat-ingat kapan Luhan memberinya perintah. Sejauh ingatannya, Luhan belum pernah memberinya perintah. Luhan jarang berbicara dengannya. Kyungsoo teringat kata-kata Luhan kemarin malam.
Kyungsoo tersenyum sambil berkata, "Saya senang melayani Anda, Paduka Ratu."
"Kyungsoo, apakah ikan di sana sudah cukup?"
"Saya rasa sudah, Paduka Raja. Tidak semua dari kami yang akan makan ikan," jawab Kyungsoo.
"Berarti ini sudah cukup. Mari, Luhan," Sehun mengulurkan tangan membantu Luhan berdiri namun ia menariknya kembali. "Sebaiknya aku tidak membuatmu yang wangi menjadi bau ikan," kata Sehun jujur.
Luhan tidak menanggapi dan berdiri.
Kyungsoo membantu Luhan membersihkan debu dari gaunnya.
"Kurasa sudah ada ikan yang matang," kata Sehun.
Kyungsoo yang merasa menganggu Raja dan Ratunya berkata, "Akan saya siapkan untuk Anda berdua, Paduka."
Sebelum seorang pun di antara mereka berkata, Kyungsoo telah berlari menjauh.
"Dia memang pelayan yang cekatan. Aku sengaja menyuruhnya menemani sekaligus melayanimu dalam perjalanan ini. Kuharap kau menyukainya."
"Aku menyukainya," sahut Luhan singkat.
Sehun menatap lekat wajah Luhan.
Beberapa orang mendekati mereka.
"Ijinkan saya untuk membantu Anda, Paduka."
Sehun menyerahkan pancing dan embernya yang penuh berisi ikan pada mereka.
Setelah mengantar Luhan ke tengah kumpulan tenda itu, Sehun berkata, "Aku akan pergi sebentar. Aku ingin mencuci tanganku."Sehun mencari tong yang berisi air bersih. Ketika ia mencuci tangannya, Siwon datang mendekat.
"Ada apa, Siwon?"
"Paduka Ratu telah mempesona semua orang, Paduka. Apakah Anda tidak khawatir meninggalkan Paduka Ratu?"
Sehun melihat Luhan dan terkejut.
Beberapa pria mengelilingi Luhan. Sembilan pria itu kemudian membawa Luhan ke sebuah batang pohon besar yang terbaring di dekat hutan. Pria-pria itu tampak berbicara dengan Luhan kemudian mereka meninggalkan Luhan ke dalam hutan.
Sehun tersenyum. "Mereka menjaga Luhan, mengapa aku harus khawatir? Yang aku khawatirkan hanya apakah kapal kita akan selesai diperbaiki siang ini."
"Chanyeol mengatakan bila tidak ada hambatan maka kita dapat berlayar lagi siang ini," Siwon melaporkan.
Sehun melihat kapal yang terombang-ambing di laut lepas itu. "Kuharap tidak ada badai."
"Saya juga berharap demikian, Paduka."
Sehun berpaling pada Luhan yang duduk diam memandang kesibukan di depannya. Beberapa pria mengajaknya berbicara. Sehun tidak heran ketika mereka kesulitan melihat sikap diam Luhan.
Tidak heran pula bila di sekeliling Luhan yang ada hanya lelaki.
Karena Luhan tidak seperti dugaannya, banyak perhitungan Sehun yang salah. Sehun tidak membawa pelayan wanita lain selain Kyungsoo.
Semula Sehun berniat membuat Putri Kerajaan Aqnetta itu tahu ia tidak bisa berbuat sewenang-wenang pada rakyatnya. Sehun tidak mau banyak pelayan wanita membuat wanita itu besar kepala. Tetapi ia telah melakukan kesalahan dengan tindakannya itu.
Sekarang di sekeliling Luhan yang ada hanya pria selain Kyungsoo yang selalu melayaninya.
Sehun melihat prajurit-prajurit yang tadi masuk hutan kembali dengan buah-buahan di tangan mereka. Mereka memberikan buah itu pada Luhan.
Luhan tersenyum manis.
Sehun tercengang.
"Aku harus kembali, Siwon," kata Sehun, "Awasi terus keadaan sekitar tempat ini."
"Baik, Paduka," kata Siwon sambil tersenyum penuh arti.
Sehun bergegas mendekati Luhan.
Gadis itu mengangkat kepala melihat kedatangannya.
"Mereka memberimu banyak buah-buahan," kata Sehun.
Luhan memandangi buah-buahan di pangkuannya.
"Kami permisi dulu, Paduka." Prajurit-prajurit itu meninggalkan mereka berdua.
Sehun duduk di samping Luhan. "Bagaimana perasaanmu?" kata Sehun tajam.
Luhan mengangkat bahunya.
"Mengapa? Bukankah kau seharusnya senang mendapat banyak buah?"
Luhan menatap Sehun lekat-lekat. Ia tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba menjadi sinis kepadanya. Ia tidak tahu apakah ia telah berbuat kesalahan. "Kau mau?" Luhan memberikan sebuah pada Sehun.
Sehun menerimanya tapi tidak mengatakan apa pun.
Luhan diam memandangi buah-buahan itu kemudian memandang hutan di belakang mereka.
"Sarapan telah siap," Kyungsoo datang dengan nampannya. Kyungsoo meletakkan nampan itu di antara Sehun dan Luhan. "Biarkan saya menyimpan buah-buahan ini, Paduka."
Luhan membantu Kyungsoo memindahkan buah itu ke celemek Kyungsoo.
Luhan mengawasi kepergian wanita itu. Beberapa prajurit ingin mengambil buah itu dari Kyungsoo, tapi mereka tidak melakukannya setelah Kyungsoo memarahi mereka.
Luhan melihat Sehun yang sedang memakan seekor ikan. Luhan tidak merasa lapar, tetapi ia merasa tidak pantas mengecewakan Kyungsoo yang telah bersusah payah membakarkan ikan untuknya. Luhan memilih seekor ikan yang kecil.
Tak seorangpun di antara mereka yang bersuara. Baik Sehun maupun Luhan diam memandang prajurit lain yang juga makan ikan melihat laut. Pandangannya menerawang jauh dan pikirannya melayang-layang tanpa arah.
"Luhan!"
Seperti waktu upacara pernikahan mereka, Sehun melihat Luhan tenggelam dalam dunianya sendiri. Kali ini Sehun tidak memanggil Luhan berulang-ulang, ia memegang lengan Luhan.
Luhan berpaling.
"Hari semakin siang. Aku melihat Chanyeol telah kembali. Tak lama lagi ia akan datang melaporkan kapal telah selesai diperbaiki."
Sehun mengulurkan tangan membantu Luhan berdiri. Mereka berjalan mendekati tepi pantai.
"Perbaikan kapal telah selesai?"
"Benar, Paduka. Kerusakan kapal tidak separah yang kita duga. Lambung kapal hanya terkoyak sedikit. Sebagian besar telah kami perbaiki kemarin. Hari ini kami hanya memperkuat perbaikan itu. Saat ini juga kita bisa berlayar."
"Kalian beristirahat dulu setelah itu kita baru berangkat."
"Baik, Paduka." Chanyeol memimpin anak buahnya ke pantai.
"Kita bisa berperahu sebelum kapal berangkat kalau kau mau," kata Sehun mengulurkan tangannya.
Luhan menyambut uluran tangan itu.
Dengan tangkas, Sehun menarik Luhan mendekat dan mengangkat tubuh gadis itu. Sehun mendudukkan Luhan di perahu kecil itu dan mulai mendorong perahu.
Sehun sudah mulai mendayung perahu kecilnya ketika para pengawalnya sadar di mana Raja dan Ratunya berada. Mereka bergegas naik perahu dan bersiaga di tepi pantai.
Luhan menatap kaki langit tanpa suara.
"Kau marah padaku, Luhan?"
Luhan diam saja.
"Aku tidak pernah ingin membuatmu marah. Aku ingin membuatmu senang. Kalau kau marah padaku, katakan saja tetapi jangan berdiam diri seperti ini."
"Saya tidak bisa marah," Luhan mengakui.
Sehun menatap heran. "Jangan bercanda, Luhan. Tiap orang pasti bisa marah termasuk aku juga kau."
Luhan hanya memandang langit dengan pandangannya yang menerawang jauh.
Sehun memegang dagu Luhan dan memalingkan wajah gadis itu. "Kalau aku membuatmu marah, maafkan aku," katanya lembut.
Luhan tetap memandang langit.
"Apakah yang merisaukanmu, Luhan? Aku sering melihatmu memandang jauh. Apa ada yang kau pikirkan?"
"Tidak ada," kata Luhan tenang.
"Kau merindukan kerajaanmu?" tanya Sehun.
Luhan menggeleng.
Tiba-tiba ombak yang cukup besar menerjang perahu mereka. Luhan memegang erat-erat lengan Sehun. Wajahnya memucat, teringat pengalaman yang lalu.
Sehun memeluk Luhan dan berkata, "Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Ombak di sekitar tempat ini memang tidak teratur. Ada yang besar dan ada yang kecil."
Setelah perahu seimbang, Sehun melepaskan Luhan. "Sebaiknya kita menanti mereka di kapal."
Sehun mendayung perahu mendekati kapal.
"Naiklah dulu. Aku di bawahmu," Sehun mengangkat tubuh Luhan ke tangga tali di samping kapal.
Luhan berpegangan erat pada tangga itu. Belum lama ia berpegangan pada tali ketika angin tiba-tiba bertiup keras. Luhan terkejut. Ia merasa tubuhnya didorong angin keras itu.
"Tidak apa-apa," tubuh tegap Sehun menghadang angin itu. Sehun yang tinggi tegap itu hanya butuh berada setingkat di bawah Luhan untuk bisa melindunginya.
Dengan kata-katanya yang lembut, Sehun berkata, "Jangan takut. Teruslah melangkah, aku akan terus berada di sisimu."
Luhan hanya menatap wajah tampan yang lembut itu.
Sehun tersenyum, mendorong semangat Luhan. Sesuatu dalam senyum itu meyakinkan Luhan bahwa ia tidak akan apa-apa. Sehun pasti akan menangkapnya bila angin meniupnya. Sehun pasti akan memeganginya bila ia terjatuh. Maka Luhan pun melanjutkan
langkah-langkahnya.
Seperti tadi, Sehun menjaganya dalam tiap langkahnya.
Ketika mereka hampir sampai di ujung tangga, Sehun berkata, "Aku akan naik dulu. Berpeganglah yang erat."
Luhan menepi memberi jalan pada Sehun.
Sehun berhati-hati ketika ia melewati gadis itu. Ketika ia telah sampai di dek kapal, ia mengulurkan tangan membantu Luhan. "Naiklah seperti tadi, Luhan," Sehun memberitahu, "Jangan takut, aku memegang tanganmu."
Luhan baru menaiki dua tangga tali ketika Sehun mengangkat tubuhnya. Sehun tidak menurunkan Luhan di dek kapal melainkan membawanya ke kamarnya.
"Kau bisa tenang sekarang," kata Sehun setelah menurunkan gadis itu. "Kau merasa pusing lagi?"
Luhan menggeleng.
Terdengar suara ramai mendekati kapal.
"Mereka telah berkemas. Sekarang mereka pasti telah mendekati kapal."
Sehun menuju dek diikuti Luhan.
"Kami siap berangkat, Paduka," Chanyeol melaporkan.
Dek kapal yang sepi itu kembali ramai. Orang-orang berhilir mudik mempersiapkan keberangkatan mereka. Beberapa orang menarik perahu-perahu kecil. Ada pula yang menarik jangkar.
"Angkat jangkar!" Chanyeol memberi perintah.
Luhan yang tidak melihat saat pertama kali mereka akan berlayar, memperhatikan kesibukan itu.
Ketika melihat jangkar telah dinaikkan ke dek, Chanyeol kembali berseru, "Tarik layar!"
Prajurit yang telah bersiap-siap, segera menarik layar.
Angin yang bertiup membentangkan layar dan menjalankan kapal.
Chanyeol mengawasi orang yang mengemudikan kapal. Prajurit-prajurit meninggalkan tempat mereka dan mulai berjaga-jaga.
Kesibukan di kapal telah dimulai sejalan dengan lajunya kapal. Mereka berlayar dengan tenang. Tidak ada gangguan lagi dalam pelayaran ini. angin berhembus seperti biasa dan terus mendorong kapal.
Ombak terus membuai kapal.
.
.
.
Perjalanan menuju Leiffberg telah dilanjutkan setiap orang ingin perjalanan itu tanpa gangguan lagi. Juga tidak ada badai yang ditakutkan. Luhan tahu perjalanan menuju Leiffberg masih panjang. Masa depannya juga masih panjang. Ia tidak tahu seperti apakah tempat ia akan tinggal itu. Sama seperti ia tidak tahu bagaimanakah kehidupannya akan berlangsung. Yang diketahuinya saat ini adalah ia telah menjadi milik Kerajaan Skyvarrna dan Kerajaan Aqnetta. Ia adalah Ratu dari kedua kerajaan itu. Tetapi sebagai Ratu, Luhan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Seperti langit, ia tak dapat melihat ujung masa depannya. Langit membentang di hadapannya. Laut yang biru membentang di kakinya. Tetapi semua itu tak memberikan jawaban apapun.
Luhan bagaikan kapal itu. Terombang-ambing di antara laut dan kaki langit. Berlayar menurut arah tujuan sang nahkoda kapal. Tetapi itu bukan masalah bagi Luhan. Ia telah terperangkap dalam Istana Vezuza seumur hidupnya. Ia telah hidup menurut aturan-aturan ayahnya.
Di Kerajaan Skyvarrna pun ia tahu ia harus mengikuti semua peraturan kerajaan tahu keputusan Sehun untuk menikah dengannya ditentang oleh rakyat Kerajaan Skyvarrna. Kecil kemungkinan rakyat Kerajaan Skyvarrna akan mencintai dirinya sebagaimana mereka mencintai Sehun. Tetapi Luhan telah bersumpah di hadapan Pendeta, di hadapan ayahnya, di hadapan rakyatnya dan di hadapan Allah bahwa ia akan mendampingi Sehun apa pun yang terjadi.
Tidak banyak yang Sehun ketahui tentang dirinya tetapi Luhan tahu banyak tentang pria itu. Yifan membantunya mencari informasi tentang suaminya itu.
Luhan tahu ketika Sehun datang ke Istana Vezuza bersama rombongannya. Ia ada di Istana , ia ada di dekat pria itu tetapi ia tidak pernah menemui pria itu. Luhan tahu Sehun berusaha menemukannya, tetapi pria itu tidak pernah dapat menemukannya.
Luhan tahu banyak kerajaan yang memuji keberanian Sehun ketika mereka tahu pria itu melamar dirinya. Resiko besar yang tidak pernah diambil siapapun, telah diambil Sehun. Luhan mengagumi pria itu.
Tak diragukan lagi bila rakyat Kerajaan Skyvarrna sangat mencintai Raja Muda itu. Raja Donghae meninggal dengan meninggalkan banyak masalah.
Selama ia jatuh sakit, pemerintahannya terhambat. Menteri-menteri disibukkan oleh kondisi Raja.
Keadaan raja yang kritis itu membuat para menteri terbagi dua.
Sebagian sibuk menjemput Pangeran Sehun yang masih bersekolah di Paris. Sebagian sibuk melayani perintah Raja.
Di saat-saat terakhir sebelum kematiannya, Raja Donghae menjadi sangat pemarah. Ia akan membanting apa saja bila perintahnya tidak dituruti. Perintahnya bukan lagi menyangkut kerajaan tetapi pesta.
Bahkan sehari sebelum kematiannya, Raja Donghae meminta diadakan pesta meriah untuk kesembuhannya. Saat itu Raja Donghae tampil dengan segar bugar. Semua orang menyangka Raja memang telah sembuh. Tidak seorangpun menyangka itu adalah pesta terakhir Raja Donghae.
Keesokan paginya Raja Donghae ditemukan dalam keadaan tak bernafas di tempat tidurnya. Kerajaan Skyvarrna berduka. Namun Sehun tidak membiarkan dirinya terlarut terlalu lama dalam kedukaan itu. Ia segera membenahi segala pekerjaan yang terbengkalai sejak ayahnya sakit. Setelah semuanya selesai, ide itulah yang muncul. Keinginan untuk memiliki Kerajaan Aqnetta melalui pernikahan telah terwujud. Sekarang mereka berada dalam perjalanan ke Leiffberg dan kemudian menuju Istana Qringvassein.
Setiap perjalanan pasti ada akhirnya demikian pula perjalanan Luhan ini. Setelah melewati hari-hari yang tenang di atas laut, mereka akhirnya melihat kota pelabuhan Leiffberg.
"Daratan! Daratan!" teriak prajurit di menara pengintai.
"Kita sudah tiba di Leiffberg," sahut yang lain senang.
Kesibukan kembali memenuhi seluruh kapal itu. Prajurit-prajurit mulai bersiap-siap di posisinya. Mereka menanti perintah Chanyeol sebagai kapten kapal.
Luhan berdiri di dek kapal dan melihat daratan yang semakin mendekat itu. Tampak olehnya daratan itu yang semakin mendekati mereka bukan kapal yang mendekati daratan itu.
"Itu adalah Leiffberg," Sehun memberitahu, "Dari situ kita akan naik kereta menuju Istana Qringvassein."
Luhan diam memandangi daratan yang semakin mendekat itu. "Laut pun akhirnya ada batasnya," gumamnya lirih.
"Kita harus bersiap-siap untuk pendaratan ini."
Sehun mengajak Luhan kembali ke kamar mereka masing-masing. Kyungsoo segera menyambut kedatangan Luhan. "Kita hampir merapat di pelabuhan, Paduka. Anda harus segera mempercantik diri," kata wanita itu ketika merapikan kembali rambut Luhan.
Luhan mengenakan mantel panjangnya yang tebal kemudian kembali ke dek. Sehun sudah ada di sana menanti kedatangannya.
Tak sampai setengah jam kemudian mereka telah melihat perahu-perahu lain di dekat daratan itu.
Ketika mereka semakin mendekati pelabuhan itu, Chanyeol berseru, "Naikkan layar!"
Prajurit yang telah bersiap-siap segera menarik layar. Beramai-ramai mereka menarik tali dan menutup layar yang terkembang itu.
Luhan terus memandangi pelabuhan itu.
"Kita tiba lebih lambat dari yang semula dijadwalkan. Kukira orang-orang yang ingin menyambut kita telah pulang semua."
Luhan diam saja.
Akhirnya mereka merapat di pelabuhan dan Chanyeol kembali berseru, "Tambatkan kapal!"
Beberapa orang melompat keluar dan melakukan perintah itu. Orang-orang mulai memasang tangga kayu di dek.
Pelabuhan masih ramai seperti biasanya walau hari sudah menjelang sore. Sebuah kereta emas terlihat di tepi pelabuhan. Kereta terbuka itu menanti dengan anggun di bawah kapal.
"Itu kereta kuda yang akan membawa kita ke Istana Qringvassein," Sehun memberitahu, "Menurut jadwal semula, kita akan tiba pagi hari tetapi kita baru tiba saat ini. Aku ingin menunjukkan padamu kerajaanku dalam perjalanan ke Istana Qringvassein. Sekarang aku menyesal menyuruh kereta itu yang menjemput kita. Hari sudah malam dan udara semakin dingin, kita tidak dapat berjalan cepat bila tidak ingin kau sakit."
Luhan melihat orang banyak yang berdiri di belakang sebaris prajurit yang memagari mereka.
Sehun juga melihat orang banyak itu dan berkata, "Aku tidak tahu mereka akan menyambut kita. Aku sama sekali tidak memberitahu siapa pun kapan kita datang. Kurasa mereka mengetahuinya dari kereta yang menanti kita."
"Kapal telah merapat, Paduka," Chanyeol melaporkan.
Luhan mengenakan topi mantelnya untuk mencegah angin mempermainkan rambut panjangnya.
"Kita jangan membuat mereka menanti lebih lama lagi, Luhan." Luhan memasukkan tangannya di siku Sehun dan berjalan di samping pria itu.
Terdengar suara ramai ketika mereka berjalan ke kereta. Ketika seorang prajurit membuka pintu kereta dan Sehun mengangkat Luhan ke dalam kereta itu, suara ramai itu masih tidak berhenti.
Sehun terkejut melihat Luhan tetap tenang. Sikap gadis itu menunjukkan ia tidak terpengaruh oleh keramaian itu.
Seharusnya seorang gadis yang selama ini dikurung di Istananya yang besar, akan bingung dan gugup ketika mendapat sambutan semeriah ini dari rakyat. Tetapi raut wajah Luhan tetap tenang. Matanya memandang ke depan.
Kereta berjalan perlahan menuju Istana Qringvassein. Orang-orang yang telah menanti mereka sejak tadi itu tidak tampak lelah. Mereka berseru-seru memanggil mereka dan melambai-lambaikan tangannya. Luhan memberikan senyum kepada mereka dan membalas lambaian tangan mereka.
Sehun juga tidak mau berdiam diri saja menghadapi sambutan rakyatnya yang meriah itu.
Seperti yang dikatakan Sehun, kereta berjalan lambat. Luhan tidak menyadari kereta berjalan lebih lambat dari yang diperhitungkan Sehun.
Kusir kuda tidak berani menjalankan kereta lebih kencang. Ia khawatir rakyat yang ingin menyambut kedatangan Raja dan Ratu, kecewa bila tidak dapat melihat rupa Raja dan Ratu.
Prajurit berkuda yang mengawal mereka baik di depan maupun di belakang kereta yang ditumpangi Sehun dan Luhan juga berjalan lambat. Sehun menyadari hal ini tetapi ia tidak mempedulikannya. Dengan kecepatan seperti ini, Sehun tidak khawatir Luhan kedinginan.
Melalui ujung matanya, Sehun melihat Luhan yang terus membalas lambaian tangan rakyat. Gadis itu telah menutupi seluruh tubuhnya dengan mantelnya yang tebal. Cukup tebal untuk menghadapi angin yang bertiup lembut ini tetapi tidak cukup untuk menghadapi angin yang lebih kencang. Luhan merasa sedang diperhatikan. Namun ia tidak mempedulikannya. Ia terus membalas lambaian tangan rakyat.
Sehun juga terus melambaikan tangannya pada rakyat.
Hingga mereka meninggalkan Leiffberg, kereta tetap berjalan lambat. Ketika mereka telah meninggalkan kota Leiffberg, orang-orang yang berdiri di tepi jalan tidak kunjung berkurang. Baru ketika mereka memasuki kawasan yang jauh dari rumah penduduk, orang-orang mulai berkurang.
"Kau kedinginan?"
Luhan menggeleng.
Sehun terdiam beberapa saat. Ia melihat langit yang semakin gelap kemudian melihat Luhan dengan cemas. "Berhenti!" Sehun memerintah kusir.
Siwon yang mengawal di belakang mereka segera mendekat. "Ada apa, Paduka?"
"Pergilah lebih dulu dan cari penginapan. Malam ini kita beristirahat dulu. Besok baru kita lanjutkan."
"Saya khawatir kita akan mengecewakan rakyat, Paduka. Saya baru saja mengirim orang untuk melihat keadaan di kota yang akan kita lalui dan ia mengatakan banyak orang yang berdiri di tepi jalan menanti Anda."
"Kita tidak bisa mengecewakan mereka," kata Luhan perlahan.
"Baiklah. Kita akan meneruskan perjalanan walau mungkin kita akan tiba tengah malam."
"Menurut perhitungan saya, Paduka, dengan kecepatan seperti ini kita akan mencapai Skellefreinth dalam empat jam. Ketika kita meninggalkan Leiffberg, waktu menunjukkan pukul lima sore. Jadi, kita akan tiba sekitar pukul sembilan malam."
"Kita lanjutkan perjalanan."
"Baik, Paduka." Kemudian Siwon memerintahkan kusir menjalankan kuda.
"Kalau kita tidak berada di keramaian, cepatkan kereta," Sehun memberitahu kusir kuda.
"Baik, Paduka." Kusir kuda itu melakukan perintah Sehun.
Sehun melihat Luhan yang duduk menepi. Jarak di antara mereka sangat lebar hingga cukup untuk satu orang lagi. Luhan merapat di pinggir kereta seolah-olah ia takut berdekatan dengan Sehun.
"Luhan," panggilnya.
Gadis yang sedang memandang ke depan itu menoleh.
"Aku menyesal kita tidak dapat menginap di kota terdekat malam ini."
"Tidak apa-apa."
"Mendekatlah kemari," Sehun mengulurkan tangannya, "Aku tidak ingin kau kedinginan."
"Saya tidak kedinginan."
"Kau yakin?" Sebelum Luhan menjawab Sehun telah berkata, "Kalau kau duduk menjauh seperti itu, kau akan kedinginan. Kemarilah, aku tidak akan menyakitimu."
"Saya paham akan hal itu."
"Maka, kemarilah," Sehun berkata lembut, "Aku hanya tidak ingin kau kedinginan."
Luhan menyambut uluran tangan itu dengan ragu-ragu. Ia bukannya ingin menjauhi Sehun tetapi ia tidak terbiasa duduk berdua dengan pria di kereta.
Sehun menarik Luhan menyeberangi jarak di antara mereka. "Kalau kita duduk seperti ini, kau tidak akan terlalu kedinginan.
Luhan diam memandangi tangannya.
Sehun memegang kata-katanya. Ia menyandarkan punggung dan melipat tangan di belakang kepalanya.
.
.
.
Perjalanan ini masih jauh. Luhan tahu itu. Ia belum melihat pucuk-pucuk menara Istana Qringvassein. Yang dilihatnya masih hijaunya dedaunan dan rimbunnya pohon.
Setelah beberapa saat, Luhan mulai melihat rumah-rumah penduduk dan orang-orang yang berdiri di belakang barisan prajurit.
"Mereka menyambut kita."
Luhan hanya mengangguk.
Luhan seorang putri kerajaan, tetapi ia tidak pernah tahu sambutan rakyat terhadap keluarga kerajaan bisa lebih meriah dari yang dibayangkannya. Matahari mulai kembali ke istananya tetapi rakyat masih berdiri di tepi jalan dan dengan bersemangat menyambut kedatangan Raja dan Ratu mereka.
Semangat rakyat yang besar itu menunjukkan cinta mereka pada Raja dan Ratu. Luhan terharu melihatnya.
Ketika untuk pertama kalinya ia meninggalkan Istana Vezuza, sepanjang jalan rakyat berteriak-teriak memanggilnya. Sepanjang jalan menuju Gereja Chreighton, rakyat mengelu-ngelukan namanya.
"Putri! Putri!" demikian teriak mereka. "Putri lihatlah kemari!"
Mereka berharap dapat melihat wajah Luhan, tetapi jendela kereta tertutup rapat. Luhan ingin sekali melihat wajah-wajah rakyat yang menyambutnya tetapi Raja Zhoumi yang duduk di sampingnya tidak ingin ia melakukannya.
Luhan hanya dapat mendengar panggilan rakyat itu dan merasa bersalah. Rakyat telah menantinya sepanjang jalan dan berharap dapat berjumpa dengannya yang untuk pertama kalinya meninggalkan Istana Vezuza. Tetapi ia bersikap sangat angkuh dan sedikitpun tidak mau mengintip keluar.
Di jalan masuk menuju Gereja Chreighton, Luhan melihat banyak orang berdiri dengan penuh semangat. Melalui kerudungnya, Luhan dapat melihat harapan di wajah orang banyak itu.
Seperti orang-orang di tepi jalan yang dilaluinya, mereka juga berharap dapat melihat wajahnya. Sayang, saat itu Luhan dalam perjalanan menuju altar. Dari ujung rambut hingga kakinya tertutup oleh kerudung pengantinnya yang sangat panjang dan tebal.
Gaun pengantin itu dipesan khusus untuk Luhan. Perancang gaun itu membuatnya sedemikian rupa hingga ia tampak seperti pengantin misteri. Seluruh tubuhnya tertutup oleh kerudung pengantinnya yang tebal. Dan gaun pengantinnya dibuat berleher tinggi dan berlengan panjang.
Dua lapisan kain yang menutupi tubuh itu dapat membuat Luhan kepanasan. Untung udara pagi musim gugur di Kerajaan Aqnetta sangat dingin dan membuat Luhan yang bersembunyi di balik gaun pengantinnya tidak kepanasan.
Melalui kerudungnya, Luhan dapat melihat pandangan kagum orang-orang pada gaun pengantinnya yang bersulamkan benang perak. Juga pada kristal-kristal kaca bening yang membentuk bunga-bunga mawar di ujung gaunnya.
Saat memasuki Gereja Chreighton, Luhan tahu masa depannya bukan berada di tangannya lagi. Di depan sana menanti pria yang akan menjadi suaminya. Pria yang bersama-sama dengan dirinya akan memerintah Kerajaan Aqnetta.
Saat itu pula Luhan menyadari ia bukan lagi seorang Putri tetapi seorang Ratu yang memiliki tanggung jawab besar. Luhan menyadari kedudukannya ini sejak ia tahu Menteri Luar Negeri Kerajaan Skyvarrna datang untuk menyampaikan surat lamaran Raja Sehun.
Sekarang Luhan telah berada di sisi Sehun dan dalam perjalanan ke Istana Qringvassein.
Mereka melewati lautan manusia bagaikan melewati sebuah ujian untuk dapat mencapai Istana Qringvassein.
Ribuan, puluhan orang telah mereka lewati. Hari semakin malam tetapi orang-orang tetap bersemangat menyambut mereka. Hingga mereka tiba di Skellefreinth, masih banyak orang yang menyambut kedatangan mereka. Ketika puncak-puncak menara Istana Qringvassein terlihat, lautan itu tak berkurang.
Luhan tidak lagi memperhatikan orang-orang di kanan kirinya. Ia memandang jauh ke depan ke Istana Qringvassein yang berdiri dengan kokoh. Istana itu berbeda jauh dengan Istana Vezuza tetapi tidak berbeda jauh dengan Istana Camperbelt. Di depan bangunan Istana terdapat sebuah air mancur besar dikelilingi rerumputan yang menguning. Sebuah jalan besar terbagi dua memutari air mancur itu dan bergabung kembali ke depan pintu
masuk Istana.
Istana ini tidak memiliki serambi depan seperti Istana Vezuza. Juga tidak ada taman bunga Luhan.
Luhan sedih menyadari ia tidak berada di Istananya lagi. Ia merindukan Istana negeri dongengnya yang putih dengan menara-menaranya yang menjulang tinggi dan atapnya yang bercat biru. Juga pada kebun bunganya yang terletak di belakang Istana Vezuza.
Kereta melalui air mancur itu dan berhenti di depan pintu masuk Istana.
Seorang pelayan segera membuka pintu kereta dengan membungkuk hormat.
Sehun turun kemudian membantu Luhan. Ketika ia menurunkan Luhan, seseorang mendekat dan berseru marah,
"Apa saja yang kau lakukan? Mengapa lama sekali? Katamu akan datang sebelum makan siang, tetapi ini sudah melewati makan malam."
"Maafkan atas gangguan ini, Luhan," bisik Sehun kemudian menoleh pada Jongin. "Kapal kami mendapat kecelakaan, Jongin."
Jongin melihat gadis mungil yang berdiri di samping Sehun. Di Gereja Chreighton, ia tidak dapat melihat dengan jelas rupa Putri Luhan selain mengetahui ia bertubuh ramping dan tidak gemuk. Dan ia mempunyai rambut hitam yang indah.
Jongin menatap lekat-lekat wajah cantik yang tenang itu.
Bola mata yang dikeliling bulu mata yang lentik itu menatapnya dengan tenang. Bibirnya yang menutup rapat membentuk sebuah senyuman. Tubuhnya tertutup rapat oleh mantel coklat tebal tetapi tidak dapat menyembunyikan kemolekannya. Rambut hitamnya berjuntai keluar dari topi mantelnya. Mantelnya menari-nari diterbangkan angin malam dan membuat ia nampak seolah-olah akan terbang jauh.
"Luhan, kau telah bertemu dengannya di upacara pernikahan kita.
Ia adalah teman baikku, Jongin," Sehun memperkenalnya.
"Senang berkenalan dengan Anda."
Jongin tiba-tiba saja menjadi gugup karena suara tenang namun merdu itu. Ia meraih tangan Luhan dan menciumnya sebelum berkata, "Sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi saya dapat bertemu dengan Anda, Paduka Ratu."
"Dapatkah saya juga menjadi teman baik Anda?"
"Tentu, Paduka Ratu. Anda adalah istri teman baik saya berarti Anda teman baik saya pula."
Luhan tersenyum.
"Bisakah saya meminjam suami Anda sebentar, Paduka Ratu?" Sebelum Luhan menjawab, Jongin mendekati Sehun dan menariknya menjauh.
"Ada apa, Jongin?" tanya Sehun heran. "Aku sudah mengatakan padamu, aku terlambat karena kapal mendapat kecelakaan kecil."
Jongin melirik Luhan yang berdiri dengan tenang di samping kereta. "Ia benar-benar Putri Kerajaan Aqnetta?"
Sehun belum menjawab, Jongin telah berkata, "Gadis itu cantik sekali. Aku sampai dibuat gugup olehnya. Mengapa ia disembunyikan sampai mendapat banyak tuduhan jelek?"
"Aku tidak tahu, Jongin. Aku tidak punya ide tentang itu," kata Sehun kesal, "Kalau sudah tidak ada yang ingin kau katakan lagi, aku permisi."
Sehun beranjak pergi.
"Sehun!"
Sehun berbalik dan berkata, "Aku lelah dan lapar, Jongin. Kau sudah makan malam atau belum? Kalau belum, ikutlah bersama kami."
Jongin hanya dapat menahan kekesalannya melihat Sehun terus berjalan mendekati Luhan kemudian membawa gadis itu masuk.
"Percuma memisahkan mereka, Jongin," tegur Siwon, "Selama perjalanan Paduka Raja terus berada di samping Ratu. Raja seolah-olah khawatir Ratu akan direbut orang lain."
Jongin mendesah panjang.
"Raja benar. Kalau saya mempunyai istri secantik itu, saya juga pasti akan selalu berada di sisinya. Saya takkan rela ia direbut orang lain."
"Ini aneh, bukan?" celetuk Joonmyeon, "Dulu kita khawatir Putri Luhan takkan sepadan dengan Paduka, tetapi ternyata Putri Luhan sangat cocok bersanding dengan Paduka. Aku yakin Paduka bahagia didampingi seorang gadis secantik itu."
"Ratu cantik dan ramping seperti seorang peri mungil, bukan seperti yang dikatakan orang banyak," kata Jongin.
"Aku heran mengapa ia disembunyikan sampai muncul banyak dugaan yang sangat salah?" tanya Joonmyeon heran.
"Jangan tanya aku karena aku tidak tahu. Sehun sendiri juga tidak tahu."
Tidak seorangpun di antara mereka yang tahu. Mereka hanya dapat menebak-nebak tetapi tidak akan pernah tahu jawaban yang sebenarnya.
.
.
.
T B C
.
.
.
Big Thanks To :
|pws7|AprilianyArdeta|Sanshaini Hikari|luhannieka|one|Okta HunHan|Velandita Selly|narahunhan|hhyujnn|SFA30|apalah arti sebuah nama|vidyafa11|Guest|Hun.K Salvatore|ruixi1| |chenma|khalidasalsa| |rikha-chan|Oh Juna93|younlaycious88|niasw3ty|doremifaseul|ramyoon|RZHH261220 II|kimyori95|zoldyk|3678fans - EXO|ChenMinDongsaeng14|oh chaca|
.
.
.
Mind To Review?
.
.
.
"250215"
