TOPENG SANG PUTERI

Editor : Han Lu

Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)

Genre : Kingdom, Romance, Family

Length : Chapter 7 0f ?

Summary :

Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.

Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.

.

.

.

DISCLAIMER :

Hai Readers, AKU KEMBALI LAGI MEMBAWA FANFIC YANG AKU AMBIL DARI NOVEL TERJEMAHAN BERLATAR BELAKANG KERAJAAN EROPA tapi tetap My Bias EXO Specially HunHan yang menjadi Main Castnya.

SEKALI LAGI AKU KATAKAN, KALO AKU NGEPOSTING FANFIC INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting fanfic di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.

NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 7

.

.

.

"Selamat pagi, Paduka."

Luhan meninggalkan jendela kamarnya.

"Saya membawa jadwal kegiatan Anda untuk hari ini. Pagi ini Anda dan Paduka Raja akan berkeliling Skellefreinth dan memberi pidato di tempat-tempat penting."

Kyungsoo memberikan jadwal itu pada Luhan. Luhan tidak membacanya. Ia hanya melihatnya. Gadis itu tahu kegiatan sehari-harinya akan penuh seperti ini.

"Sarapan telah siap, Paduka. Anda ingin makan di sini atau di RuangMakan?"

"Ruang Makan," Luhan menjawab singkat.

"Baiklah, Paduka," Kyungsoo mengangguk mengerti, "Silakan duduk di sini, Paduka. Saya akan merapikan rambut Anda."

Luhan duduk di meja rias sementara Kyungsoo menata rambutnya. Setelah selesai menggelung rambut Luhan, Kyungsoo berkata, "Sudah selesai, Paduka."

"Terima kasih."

"Sudah menjadi tugas saya melayani Anda, Paduka," kata Kyungsoo, "Saya akan mengantar Anda ke Ruang Makan."

Luhan mengikuti Kyungsoo menuju Ruang Makan. Semalam ketika Sehun mengantarnya ke kamar yang sudah dipersiapkan untuknya, Luhan tidak sempat menghafalkan bagian-bagian Istana yang telah dilaluinya. Luhan terlalu lelah untuk memperhatikan sekelilingnya. Bahkan ketika makan pun, Luhan sama sekali tidak bernafsu. Ia merasa sangat lelah. Penjaga pintu membungkuk hormat melihat kedatangannya dan membukakan pintu.

"Silakan, Paduka," Kyungsoo mempersilahkan.

Luhan terus melangkah masuk sedangkan Kyungsoo tetap di tempatnya.

"Selamat pagi, Luhan," Sehun mencium tangannya. "Kau dapat tidur nyenyak?"

Luhan mengangguk.

"Aku senang mendengarnya. Hari ini kita akan melakukan banyak kegiatan di luar Istana dan itu akan sangat melelahkanmu."

Sehun menarikkan kursi untuk Luhan.

"Kau telah menerima jadwal kegiatanmu?"

Lagi-lagi Luhan hanya mengangguk.

Pelayan mulai membawa masuk baki-baki perak. Mereka meletakkan baki itu di depan mereka.

Seperti biasa, Luhan berdiam diri. Sehun juga tidak banyak berbicara. Ia telah tahu sifat pendiam Luhan. Sepanjang makan pagi itu Sehun menjelaskan tempat-tempat yang akan mereka datangi dan apa saja yang akan mereka lakukan.

Seusai makan pagi, Luhan kembali ke kamarnya untuk mengambil topi. Kemudian ia menuju pintu depan tempat Sehun telah menantinya. Sebuah kereta emas yang lain telah siap mengantar mereka ke Skellefreinth dan ke semua tempat yang akan mereka datangi hari ini.

Seperti kemarin, sepanjang jalan dipenuhi orang yang ingin bertemu Ratu mereka, Luhan. Tetapi sayang hari ini mereka tidak menaiki kereta terbuka tetapi kereta yang tertutup.

Sesekali Luhan mengintip keluar. Jendela kereta membuat wajahnya tak tampak dari luar.

"Kau sudah siap?"

Luhan mengangguk. Ia telah siap melakukan segala kegiatannya sebagai seorang Ratu sejak ia melangkah menuju altar. Ia telah siap menghadapi semuanya.

"Hari ini akan terasa sangat berat," Sehun mengingatkan, "Tetapi besok sudah tidak lagi. Hanya hari ini kita akan berkeliling Skellefreinth untuk memberikan pidato dan melakukan berbagai macam hal."

Luhan mendengarkan dengan tekun. Ia tidak pernah meninggalkan Istana Vezuza untuk menemui rakyatnya tetapi dari kesibukan ayahnya, Luhan tahu beratnya menjadi seorang Raja apalagi Raja dari dua kerajaan.

Kereta berhenti di depan sebuah bangunan yang besar. Pada bangunan itu tertulis huruf-huruf besar, "Gedung Pertemuan".

"Penduduk Skellefreinth selalu mengadakan rapat-rapat besar dan penting mereka di sini. Kadang tempat ini juga digunakan untuk pementasan drama dan konser besar."

Luhan tidak menanggapi penjelasan Sehun itu. Gadis itu melihat orang-orang yang membungkuk hormat pada mereka. Di antara mereka ada yang datang mendekat.

"Selamat datang, Paduka," sambutnya, "Silakan masuk, Paduka." Kemudian pria itu mengantar mereka ke sebuah ruangan yang telah dipenuhi orang. Orang-orang itu membungkuk hormat melihat kedatangan mereka. Pria itu terus mengantar Sehun dan Luhan ke tempat yang telah disediakan untuk mereka.

Setelah Sehun dan Luhan duduk, acara dimulai. Sambutan- sambutan diucapkan pertama-tama dari penanggung jawab acara ini hingga ke ketua pengurus gedung ini.

Sehun terkejut melihat Luhan tidak mengantuk mendengar pidato yang panjang lebar ini. Ia menduga seorang gadis yang selama ini hidup tenang di dalam Istananya yang megah tak biasa mendengar pidato yang diucapkan dengan monoton selama dua jam ini. Tetapi Luhan tidak tampak bosan maupun mengantuk. Ia tetap duduk dengan tenang mendengarkan setiap ucapan penanggung jawab acara ini.

Walau Luhan tidak pernah muncul di hadapan umum, bukan berarti ia tidak terbiasa mendengar pidato sepanjang ini. Ia terlalu sering mendengar pidato yang lebih panjang dari ini.

Setiap kali memberi pengarahan atau nasehat pada putrinya, Raja Zhoumi selalu berbicara panjang lebar. Bila ia sedang bersemangat, nasehat-nasehatnya bisa terucapkan terus-menerus selama lebih dari tiga jam. Sehun tidak tahu itu.

Luhan sudah tahu panjangnya sebuah acara penting seperti ini. Sebenarnya acara ini hanya jamuan makan siang biasa. Namun karena ada sepasang orang terpenting dari dua kerajaan, maka sebuah jamuan bisa sepanjang ini. Karena seorang pria dan seorang gadis, jamuan makan siang ini telah dimulai ketika hari masih menunjukkan pukul setengah sepuluh.

Luhan melihat beberapa orang telah bosan mendengarkan pidato yang panjang lebar dari penanggung jawab acara ini. Tetapi bukan berarti kebosanan mereka telah berakhir, masih ada pidato dari ketua pengurus gedung ini sebelum tiba pidato terakhir yaitu dari Sehun. Beberapa orang tampak berusaha menutupi kantuk mereka dengan berbisik-bisik.

Duduk di podium atas samping orang banyak itu membuat Luhan dapat melihat semua yang hadir dengan jelas.

Ketika akhirnya tiba giliran Sehun untuk memberikan pidatonya, beberapa orang telah terkantuk-kantuk.

Sehun berjalan ke podium diiringi tepuk tangan. Luhan terus memandang tenang ke podium.

"Saya tidak akan berkata banyak. Saya hanya mengharapkan dukungan dari Anda semua dalam pemerintahan saya bersama istri saya, Putri dari Kerajaan Aqnetta, Putri Luhan."

Sehun mengulurkan tangannya ke arah Luhan yang duduk dengan tenang di tempatnya. Melihat semua orang memalingkan kepada ke arahnya, Luhan berdiri dan memberikan senyuman tipis sambil sedikit menganggukan kepala.

"Setelah hari ini, saya berharap Anda semua mau bersama-sama saya semakin mengeratkan hubungan dengan Kerajaan Aqnetta dalam segala hal. Tentu saja saya tetap akan berusaha sebaik-baiknya demi kemakmuran kerajaan ini. Akhir kata saya sangat mengharapkan dukungan Anda semua dalam usaha saya mempererat hubungan Kerajaan Skyvarrna dengan Kerajaan Aqnetta."

Semua orang kembali bertepuk tangan.

Luhan menyembunyikan kekagumannya pada pidato Sehun yang singkat namun penuh semangat itu, di balik sikap tenangnya.

Sehun kembali ke sisi Luhan.

Pria yang tadi menyambut kedatangan mereka, berdiri di podium depan dan berkata, "Terima kasih kami ucapkan pada Yang Mulia Paduka Raja Sehun atas kesediaan Anda memberikan pidato pada siang hari ini. Saya mewakili semua yang hadir di sini mengucapkan selamat kepada Anda. Semoga Anda berdua hidup bahagia untuk selamanya."

Semua kembali bertepuk tangan sambil melihat Sehun dan Luhan yang telah berdiri di podium atas itu.

"Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, makanan telah siap. Silakan menuju ruang yang telah disediakan," pria itu melanjutkan.

Sehun melihat jam sakunya. "Sudah kuduga pidato sambutan ini akan sampai pukul dua belas lebih."

Sehun membantu Luhan berdiri.

Prajurit memberi jalan pada mereka dan terus mengawal ketika mereka melewati kerumunan orang banyak.

Pria yang tadi disebut sebagai ketua pengurus gedung ini, mendekati mereka. "Ijinkan saya mengantar Anda ke ruang makan, Paduka."

"Silakan," jawab Sehun.

Pria itu mengantarkan mereka hingga ke meja makan panjang di sebuah ruangan. Ia menunjukkan tempat duduk Sehun di ujung meja dan menarikkan kursi untuk Luhan di samping kanan Sehun.

"Terima kasih," kata Luhan lirih tak terdengar di keramaian itu.

Beberapa orang yang belum duduk segera menempati tempat yang telah diatur untuk mereka.

Di depan Luhan duduk seorang wanita dan di kirinya seorang pria setengah baya. Namun Luhan tidak tampak memperhatikan keberadaan mereka juga keberadaan Sehun.

Ketika dalam perjamuan itu orang-orang di sekitarnya berbicara, Luhan hanya diam mendengarkan dengan tekun.

Sehun yang sudah kenal betul sifat Luhan hanya tersenyum melihat gadis itu tetap diam dalam ketenangannya. Tetapi orang lain yang belum mengenal baik Luhan, khawatir.

"Apakah ia bisu?" bisik beberapa di antara mereka. "Mungkin ia tidak mengerti bahasa Latin," bisik yang lain.

Luhan yang diam dalam ketenangannya itu dapat mendengar setiap bisikan itu tetapi ia tidak mempedulikannya. Selama ini ia telah membiarkan orang-orang mempunyai anggapan yang aneh-aneh tentang dirinya. Sekarang ia juga tidak memikirkan kata-kata mereka itu.

"Saya dengar Kerajaan Aqnetta mempunyai banyak tempat yang indah. Apakah itu benar, Paduka Ratu?" Orang yang duduk di samping Luhan mencoba mengajak Luhan bicara dengan bahasa Kerajaan Aqnetta.

Luhan hanya mengangguk. Dan membuat tiap orang yang hadir semakin merasa dugaan mereka benar.

"Raja Zhoumi pasti menyembunyikannya karena ia bisu," beberapa dari mereka berbisik penuh keyakinan.

Samar-samar Luhan dapat mendengar bisikan itu tetapi ia bersikap seolah-olah ia tidak mendengarnya. Tiba-tiba Luhan merasa seseorang sedang memandang tajam ke arahnya. Tanpa sadar ia telah memalingkan kepala ke arah perasaan itu berasal.

Wanita berambut merah itu cepat-cepat membuang muka ketika Luhan melihatnya. Ia bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa dan mengajak pria di sampingnya berbicara.

"Ada apa, Luhan? Apakah ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?" tanya Sehun cemas melihat sikap Luhan.

Melihat Luhan menggeleng, Sehun bertanya lagi, "Kau yakin?"

Luhan mengangguk.

"Baiklah," Sehun mengalah, "Kalau ada sesuatu yang tidak beres, beritahu aku."

Luhan mengangguk lagi.

Tanpa disadarinya, Luhan membuat setiap orang di sana semakin yakin ia tidak dapat berbicara. Sehun telah mengajaknya berbicara dengan bahasa Kerajaan Aqnetta tetapi sedikitpun ia tidak mengeluarkan suara. Ia hanya menggerakkan kepalanya sebagai jawabannya.

Kalaupun Luhan menyadari, hal itu tidak akan mengusiknya. Luhan terlalu tenang untuk diganggu. Setelah peristiwa kecil tadi, Luhan kembali dengan tenang menghadapi makanan dan tidak banyak berbicara.

Akhirnya makan siang terpanjang yang pernah dialami Luhan dalam hidupnya itu selesai. Belum pernah Luhan merasa suatu makan siang bisa selama itu karena tamu yang makan bersama mereka lebih dari tiga puluh orang dan juga karena pembicaraan selama hidangan disajikan itu.

Seperti biasa, Sehun mengulurkan tangan membantu Luhan bangkit dari kursinya dan mengapit tangan Luhan dengan sikunya. Orang-orang itu mengantar kepergian Sehun dan Luhan hingga di depan kereta.

"Sekali lagi saya mewakili kami semua mengucapkan terima kasih atas kedatangan Anda dalam jamuan makan siang ini," pria yang tadi disebut sebagai penanggung jawab acara berkata.

"Aku juga berterima kasih atas jamuan yang mewah ini," balas Sehun.

Seorang pasukan pengawal membuka pintu kereta.

"Terima kasih atas jamuan yang menyenangkan ini," kata Luhan dalam bahasa Latin Kuno.

Kata-kata yang diucapkan perlahan tetapi cukup keras untuk didengar oleh semua yang berdiri di dekat kereta kuda itu membuat semua orang terpana.

Orang-orang itu masih terpana di tempatnya ketika kereta melaju meninggalkan tempat itu.

Di dalam kereta, Sehun tertawa geli.

"Kau pintar, Luhan," pujinya, "Aku tak menyangka kau pandai membuat orang-orang terkejut hingga melupakan segala-galanya."

Luhan memandang Sehun dengan keheranan.

"Aku tidak tuli, Luhan. Aku juga mendengar bisik-bisik mereka itu. Sebelum kau berbicara tadi, aku bermaksud mengajakmu berbicara sehingga semua orang tahu kau tidak bisu juga mengerti bahasa kami."

"Caramu itu akan membuat setiap orang tutup mulut," puji Sehun, "Kau akan membuat orang-orang yang suka bergunjing itu menutup mulutnya rapat-rapat selama berhari-hari."

Luhan tidak menanggapi.

Kembali Sehun melihat Luhan memandang jauh ke depan. Sering ia melihat Luhan seperti ini.

Pernah suatu kali ketika Luhan memandang jauh, Sehun bertanya, "Apakah yang sedang kau pikirkan? Apakah kau memikirkan seseorang?"

Luhan menggeleng tanpa berkata apa-apa.

Bukan hanya sekali Sehun menanyakannya, tetapi jawaban Luhan tetap sama. Akhirnya Sehun hanya dapat membuat kesimpulan Luhan suka memandang jauh.

"Sekarang kita akan menuju pemakaman keluarga kerajaan di belakang Katedral Agung Machiavell. Aku ingin kau mengenal leluhur-leluhurku. Ini sudah menjadi kebiasaan dalam kerajaan kami bahwa setiap menantu keluarga raja harus dibawa mengunjungi leluhur-leluhur kerajaan setelah menikah. Seharusnya kemarin sore kita ke sini tetapi karena kita baru tiba malam hari, maka kunjungan ini ditunda sampai saat ini."

Luhan terus melihat keluar jendela hingga mereka tiba di Katedral Agung Machiavell.

Seorang prajurit membukakan pintu kereta. Ia membungkuk hormat ketika Luhan melewatinya.

Beberapa biarawati menanti mereka di depan bangunan gereja yang besar itu.

Seorang pendeta tua menghampiri mereka. "Selamat datang, Paduka. Kami senang Anda mau berkunjung ke tempat ini," sambutnya.

"Ia adalah Pater di Katedral Agung Machiavell ini, Pastur Marcellus," Sehun memperkenalkan, "Pastur Marcellus, ini adalah Putri dari Kerajaan Aqnetta yang kini menjadi istriku, Putri Luhan."

"Merupakan suatu kerhormatan bagi saya untuk dapat berkenalan dengan Anda, Paduka Ratu," kata Pastur Marcellus, "Ijinkan saya mewakili semua yang ada di sini mengucapkan selamat datang di Kerajaan Skyvarrna. Semoga Anda senang tinggal di sini."

"Terima kasih, Pastur Marcellus. Aku senang dapat mengenal kalian semua dan kerajaan yang luas ini," Luhan berkata tenang.

Pastur Marcellus berkata, "Ijinkan saya mewakili semua yang tinggal di Gereja ini mengucapkan selamat atas pernikahan Anda berdua, Paduka. Semoga Anda hidup bahagia selamanya."

"Terima kasih, Pastur Marcellus," kata Sehun. "Kau tentu telah mengetahui maksud kedatangan kami ke sini."

"Tentu, Paduka," sahut Pastur Marcellus, "Silakan masuk. Saya akan mengantar Anda ke pemakaman keluarga kerajaan."

Pastur Marcellus berjalan di samping Sehun dan menunjukkan jalan ke belakang Katedral Agung Machiavell.

Di tempat yang luas itu terdapat makam yang megah. Itulah makam- makam raja-raja dan ratu Kerajaan Skyvarrna terdahulu. Di sini pula terdapat makam orang tua Sehun.

Luhan melihat di antara makam-makam itu ada sebuah yang sangat megah dan diberi pagar batu di sekelilingnya.

Beberapa prajurit muncul membawakan keranjang bunga. Sementara Pastur Marcellus membawa Sehun dan Luhan berkeliling, mereka dengan setia mengikuti di belakang. Di tiap makam, mereka berhenti untuk menaburkan bunga.

Mereka berjalan menurut urutan raja-raja itu dimulai dari raja pertama Kerajaan Skyvarrna hingga orang tua Sehun.

Ketika sampai di makam termegah itu, Sehun berkata, "Beliau adalah raja terbesar kami. Beliaulah yang membuat kerajaan ini menjadi seluas ini."

Luhan menatap lekat-lekat nisan itu. Bahkan ketika mereka meninggalkan makam itu, Luhan masih melihatnya.

"Ada apa, Luhan?" tanya Sehun penuh perhatian, "Apakah ada sesuatu pada makam itu?" Kemudian Sehun bergurau, "Apakah kau melihat Raja Geroge VIII?"

"Kurasa."

Mereka meneruskan berkeliling makam hingga ke makam yang terakhir. Setelah menabur bunga di makam orang tua Sehun, mereka kembali ke Katedral Agung Machiavell untuk berdoa bagi leluhur keluarga Kerajaan Skyvarrna.

Pastur Marcellus terus mendampingi Sehun dan Luhan hingga mereka kembali ke kereta kuda. Usai mengucapkan selamat tinggal, mereka naik ke kereta dan melaju kembali ke Istana Qringvassein.

"Ada yang mau kau katakan?"

"Tidak," kata Luhan tenang.

"Aku tahu kau mengetahui sesuatu tentang Raja Geroge VIII dan kau ingin mengatakannya. Tetapi kalau kau tidak mau mengatakannya, aku mengerti. Mungkin suatu hari nanti kau akan mengatakannya. Aku percaya itu."

Luhan menunduk mendengar pengertian Sehun. Ia senang Sehun dapat mengerti dirinya. Sungguh suatu keajaiban bagi Luhan bahwa ada orang yang mengerti dirinya walau ia tidak mengatakan apa-apa.

"Kau akan mengatakannya suatu hari nanti, bukan?"

Luhan ragu-ragu. Ia khawatir apa yang diketahuinya berakibat tidak baik bagi hubungan kedua kerajaan ini.

"Sekarang kita kembali ke Istana Qringvassein," Sehun mengalihkan pembicaraan, "Aku yakin kau lelah. Aku mengerti kau tidak terbiasa dengan kesibukan seperti ini, karena itu kuputuskan untuk tidak terlalu memperpadat jadwal kegiatan sehari-harimu. Kau akan lebih banyak berada di Istana Qringvassein sampai kau terbiasa dengan kesibukan ini."

Luhan melihat Sehun.

Sehun tersenyum. "Tentu saja aku akan menemanimu."

Tak lama kemudian mereka tiba di Istana Qringvassein.

"Beristirahatlah," kata Sehun, "Setelah ini kita tidak mempunyai kegiatan lagi."

Luhan menuju kamarnya. Dengan tenang ia melintasi Hall yang dipenuhi orang banyak. Ia mendengar orang-orang itu berbisik-bisik ketika ia berjalan, tetapi ia tidak memperhatikannya dan terus melangkah.

.

.

.

Malam itu seusai makan malam, Luhan memadangi langit malam melalui jendela kamarnya.

Di bawah sana prajurit yang bertugas menjaga Istana telah berkeliling. Pintu gerbang Istana telah ditutup rapat. Skellefreinth telah memancarkan cahaya malamnya. Kota-kota lain juga telah menunjukkan sinar malamnya. Pandangan Luhan menerang jauh menembus langit malam. Tidak ada yang dipikirkan gadis itu. Ia duduk dan memandang langit malam yang dipenuhi awan. Hanya itu.

Melalui jendela kamarnya, Luhan dapat melihat Ruang Kerja di lantai dua menyala terang. Ia dapat melihat bayangan Sehun yang sedang duduk menghadap meja kerjanya.

Sekilas Luhan melihat sekelebat bayangan hitam di pepohonan depan. Luhan tidak mengkhawatirkan siapa mereka. Ia tahu mereka siapa. Tiba-tiba saja Luhan sadar sebagai Raja Kerajaan Aqnetta, Sehun harus mengetahui tentang Reischauer. Ia yakin pria itu pernah mendengar tentang Reischauer tetapi tidak mengetahui apa yang harus diketahuinya. Luhan memutuskan untuk memberitahu Sehun secepatnya. Luhan mengambil mantel untuk menutupi gaun tidurnya dan melangkah menuju Ruang Kerja.

Di sepanjang koridor Istana lilin-lilin bersinar terang. Angin yang masuk melalui celah-celah jendela mempermainkan api lilin. Pelayan-pelayan tidak tampak di sepanjang koridor.

Hari telah menunjukkan pukul setengah dua belas dan sudah waktunya bagi mereka untuk beristirahat.

Luhan mengetuk perlahan pintu Ruang Kerja dan membukanya perlahan-lahan.

"Luhan!" Sehun terkejut melihat gadis itu berdiri di ambang pintu, "Apa yang kau lakukan malam-malam buta seperti ini?"

Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Sehun. Dengan tenang, ia mendekati meja kerja Sehun.

Sehun berdiri dan mendekati Luhan. Sehun membawa Luhan ke kursi depan meja kerjanya. "Duduklah," katanya.

Sehun duduk di meja di depan Luhan dan bertanya "Apakah ada yang membuatmu terjaga?"

"Tidak," kata Luhan tenang, "Ada yang ingin saya katakan pada Anda."

"Aku siap mendengarkannya."

"Saya yakin Anda pernah mendengar nama Reischauer."

"Saya akan memberitahu Anda apa yang harus Anda ketahui sebagai Raja Kerajaan Aqnetta," Luhan tetap berkata tenang, "Tugas utama Reischauer adalah melindungi Kerajaan Aqnetta dari serangan musuh. Bila pasukan Kerajaan Aqnetta tidak dapat menghalau musuh, mereka baru ditugaskan. Reischauer langsung berada di bawah pimpinan Raja Kerajaan Aqnetta."

"Raja Kerajaan Aqnetta yang keturunan asli rakyat Kerajaan Aqnetta," Luhan menegaskan. "Selain melindungi Kerajaan Aqnetta, Reischauer juga bertugas melindungi keluarga kerajaan bila mereka keluar wilayah kerajaan."

"Jadi, sekarang mereka ada di sini?"

"Ya," jawab Luhan singkat.

Sehun kagum. Ia sama sekali tidak merasakan keberadaan orang lain di sekitarnya selain Luhan, tetapi Reischauer ada di sini. Di suatu tempat di sekitar ini.

"Ini artinya mereka telah ada di sekitarmu sejak kita meninggalkan Gereja Chreighton. Dan mereka juga ada dalam kapal kita."

Luhan tidak menjawab. Ia tahu Sehun telah mengetahui jawabannya.

Kekaguman Sehun pada pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta semakin bertambah. Tanpa membuat awak kapal curiga, mereka telah menjadi penumpang gelap. Tidak seorang pun selain Luhan yang tahu dalam kapal mereka ada sekelompok pasukan lain. Mereka terus mengawal Luhan sejak gadis itu meninggalkan Istana Vezuza tetapi tidak seorang pun yang tahu.

Pasukan pengawal Kerajaan Skyvarrna bukan pasukan sembarang. Mereka telah terlatih untuk memperhatikan setiap gerakan di sekeliling mereka tetapi tidak ada yang mampu merasakan keberadaan Reischauer. Tak heran bila pasukan rahasia ini ditakuti banyak orang.

"Reischauer memiliki keahlian tinggi untuk menyamar, menyusup dan membunuh. Mereka berani mengorbankan diri demi Kerajaan Aqnetta dan mereka tidak akan segan-segan membunuh setiap orang yang mengancam keselamatan Kerajaan Aqnetta."

"Mereka juga tidak akan segan membunuh setiap orang yang mengancam keselamatanmu," tambah Sehun.

"Tugas mereka menyelidik, membunuh dan melindungi. Mereka dapat membunuh tanpa tanda-tanda yang jelas dan cara mereka membunuh tidak ada ampun."

Sehun memperhatikan sekelilingnya dan berharap dapat melihat seorang di antara mereka.

"Mereka lebih tepat disebut pembunuh bayaran kelas tinggi. Walaupun Anda memasang mata lebar-lebar, Anda tidak akan dapat melihatnya," Luhan memberitahu dengan tenang.

"Mereka di sini di bawah perintahmu?"

"Ya," jawab Luhan singkat, "Sebagai Raja Kerajaan Aqnetta, saya meminta Anda untuk benar-benar memperhatikan keamanan Kerajaan Aqnetta. Sedikit saja usikan dari negara lain, Reischauer akan segera beraksi dan apa yang dapat ditimbulkan oleh mereka, Anda dapat membayangkan sendiri."

"Pembunuhan yang tidak kenal ampun dan pembantaian berdarah."

Luhan diam termenung.

"Terima kasih, Luhan. Kau sudah memperingatiku."

Sehun menatap lekat-lekat wajah Luhan. Gadis itu tidak tampak terganggu dengan tatapannya.

Apa yang dikatakan Joonmyeon padanya tadi benar. Luhan sangat cantik seperti seorang peri dan ia beruntung dapat menikahinya. Bila mengingat kekhawatiran semua orang saat ia memutuskan akan menikahi Putri Kerajaan Aqnetta, Sehun tersenyum geli. Putri Kerajaan

Aqnetta yang dikatakan jelek, buruk bahkan sudah tua itu ternyata seorang peri mungil yang cantik dan manis.

Orang-orang yang dulu khawatir sekarang iri pada Sehun. Kerajaan- kerajaan yang dulu tidak berani menempuh cara yang diambil Sehun, cemburu. Mereka semua kini memuji-muji Sehun dan mengatakan ia adalah pria yang beruntung.

Sehun juga merasa ia beruntung. Ia seperti telah berjudi dan mendapatkan apa yang jauh lebih baik dari dugaannya. Ketika mengirimkan lamarannya, ia tidak menyangka akan mendapatkan seorang peri. Tidak sedikitpun terbesit dalam pikirannya Putri Kerajaan Aqnetta yang misterius itu adalah seorang peri.

Tetapi saat menatap lekat-lekat wajah Luhan seperti ini, Sehun merasa ada yang salah. Ada yang kurang pada diri Luhan. Ia telah mengenal sifat pendiam Luhan tetapi…

Sesuatu…

Ya, sesuatu tidak ada pada Luhan.

Semua orang mengatakan ia adalah gadis yang sempurna. Peri cantik yang sempurna. Luhan cantik, elok, cerdas, dan penurut. Luhan adalah gadis impian tiap orang baik pria maupun wanita. Tetapi sesuatu tidak ada padanya.

Semakin lama melihat Luhan, Sehun semakin merasakannya. Ia telah merasakannya sejak dulu tetapi ia baru benar-benar menyadarinya tadi saat mengawasi Luhan yang melintasi Hall yang dipenuhi orang. Luhan berjalan anggun dan dengan tenang melalui orang-orang. Luhan tersenyum pada tiap orang yang menyapanya dan membalas singkat sapaan mereka. Tetapi di raut wajahnya yang selalu tenang itu, Sehun menemukan sesuatu yang kurang.

Jam berdentang dua belas kali.

Sehun berdiri dan mendekati Luhan. "Sekarang sudah malam. Sudah waktunya bagimu untuk beristirahat."

Luhan melihat meja kerja.

"Aku juga akan beristirahat."

Sehun mematikan lilin Ruang Kerjanya sebelum menutup pintu. Sehun mengambil sebuah lilin yang tertancap di tempat lilin di tembok. Koridor yang semula terang itu menjadi remang-remang.

Sehun mengantar Luhan hingga ke kamarnya.

"Tidurlah yang nyenyak. Besok kita masih harus ke Skellefreinth untuk mengunjungi panti asuhan terbesar di Kerajaan Skyvarrna." Sehun membukakan pintu kamar dan berkata, "Selamat malam."

"Selamat malam," balas Luhan dan ia melangkah masuk.

.

.

.

T B C

.

.

.

Big Thanks To :

|zoldyk|SFA30|doremifaseul|Guest|Dazzlingcloud|psc|Sanshaini Hikari|Guest|niasw3ty|367fans - EXO|luhannieka|younlaycious88|apalah arti sebuah nama|Guest|ainindya13|Guest|ramyoon|Hun.K Salvatore|hunhandeep|funkychen2199|Wu Raisa Kristao|khalidasalsa|Oh Juna93|hunhanips|chenma|RZHH 261220 II|oh chaca|rikha-chan|sayjeje|NopwillineKaiSoo|narahunhan9812|XD|ClouDyRyeoRez|

.

.

.

Mind To Review?

.

.

.

"250315"