TOPENG SANG PUTERI
Editor : Han Lu
Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)
Genre : Kingdom, Romance, Family
Length : Chapter 8 0f ?
Summary :
Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.
Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.
Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.
.
.
.
DISCLAIMER :
Hai Readers, AKU KEMBALI LAGI MEMBAWA FANFIC YANG AKU AMBIL DARI NOVEL TERJEMAHAN BERLATAR BELAKANG KERAJAAN EROPA tapi tetap My Bias EXO Specially HunHan yang menjadi Main Castnya.
SEKALI LAGI AKU KATAKAN, KALO AKU NGEPOSTING FANFIC INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting fanfic di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.
NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.
.
.
.
Happy Reading ^-^
.
.
.
CHAPTER 8
.
.
.
"Sialan kau, Sehun!"
Jongin melihat Luhan yang sedang berada di antara bunga-bunga di taman. Gadis itu tampak seperti peri pagi dengan gaun putihnya yang sederhana. Luhan menyentuh pucuk-pucuk dedaunan di sekitarnya dengan penuh kasih sayang.
"Kalau tahu Putri Kerajaan Aqnetta secantik peri, aku pasti akan melamarnya sebelum kau. Kalau tahu ia sangat cantik, aku pasti akan semakin keras melarangmu melamarnya."
"Aku tidak menyuruhmu tidak mengambil resiko," Sehun berkata tenang.
"Ya, kau tidak menyuruhku. Juga tidak ada yang menyuruhmu mengambil resiko menikahi Putri Kerajaan Aqnetta yang kata orang jelek, gemuk, dan sebagainya," Jongin berkata tanpa sedikitpun melepaskan pandangan dari Luhan.
"Kau mengambil resiko dan kau mendapatkan berkat," Jongin terus menggerutu, "Kau sangat beruntung. Kau tahu itu?"
"Ya, aku juga merasa seperti memenangkan hadiah yang sangat besar dalam perjudianku."
"Memang seharusnya kau merasa seperti itu. Putri Luhan cantik dan mungil seperti peri. Siapapun yang tidak mempercayai adanya peri, pasti percaya ia adalah seorang peri. Tetapi sayang, ia telah menjadi milikmu."
"Ia cantik dan cerdas, tetapi aku merasa ada sesuatu yang salah padanya. Sesuatu yang kurang."
"Kurang?" Jongin baru beralih dari Luhan, "Gadis sesempurna itu masih kau bilang kurang? Aku heran padamu, Sehun. Gadis itu adalah gadis impian tiap orang. Cantik, manis, mungil, seorang Putri dari kerajaan yang makmur. Ia memiliki segala yang diinginkan tiap gadis dan itu masih kau bilang kurang? Kalau kau tidak mau dengannya, Sehun, berikan saja ia padaku dan aku akan merasa sangat beruntung."
"Ia memang sempurna, tetapi aku merasa ada yang kurang padanya. Aku tidak tahu apa itu tetapi aku merasakannya."
"Aku tidak mengerti kau, Sehun," Jongin kembali memperhatikan Luhan, "Dulu kau berani mengambil resiko menikah dengan gadis yang buruk rupa. Sekarang setelah mendapatkan seorang peri, kau masih merasa tidak puas. Kalau kau lebih menyukai gadis buruk rupa, berikan ia padaku."
Sehun tidak mendengarkan perkataan sahabatnya itu. Ia melihat Jongin masih saja memandang ke bawah ke Luhan di taman melalui jendela. Sejak muncul di Ruang Duduk di tingkat tiga ini, Jongin terus memandang ke bawah dan tidak menoleh saat berbicara dengannya.
"Sebaiknya kau tidak terus menerus memperhatikannya, Jongin," Sehun memperingati, "Luhan mempunyai perasaan yang tajam. Kemarin dalam jamuan makan siang di Gedung Pertemuan, Luhan tahu Wendy memperhatikannya walau Wendy duduk jauh darinya."
Jongin tiba-tiba merapat di dinding. "Mengapa kau baru memberitahuku sekarang, Sehun?" gerutunya. "Ia baru saja melihat ke arah sini."
"Kau masih beruntung ia hanya melihatmu. Kalau ia memanggil Reischauer, aku tidak yakin apakah kau masih selamat."
"Reischauer ada di sini?" tanya Jongin tak percaya.
"Ya, kemarin Luhan memberitahuku. Ia mengatakan Reischauer telah mengikutinya sejak ia meninggalkan Kerajaan Aqnetta."
"Dan kau tidak mengetahuinya," tebak Jongin.
"Seperti yang semua orang katakan, Reischauer memang hebat. Ia menjadi penumpang gelap di kapal dan tidak ada seorang prajurit pun yang tahu. Kau tahu prajurit yang waktu itu kubawa adalah prajurit terbaik Kerajaan Skyvarrna. Kalau prajurit terbaik saja tidak bisa merasakan keberadaan Reischauer apalagi orang biasa."
"Kau yang mempunyai perasaan tajam juga tidak dapat merasakan keberadaannya. Mereka benar-benar hebat membuat aku ingin mencoba kehebatan mereka."
"Sebaiknya kau tidak melakukannya, Jongin. Kata Luhan, mereka seperti pembunuh bayaran kelas tinggi yang diperintah untuk melindunginya dari setiap ancaman."
"Aku mengerti," kata Jongin. Tetapi Sehun melihat mata pria itu mengatakan lain. Ia tahu pria itu mempunyai rencana.
"Terserah kau, Jongin. Bila terjadi sesuatu padamu, jangan katakan aku tidak memperingatimu."
"Bicara tentang Wendy," Jongin mengalihkan pembicaraan, "Kemarin aku melihat ia mencegat Ratu Luhan di koridor. Kau pasti tertawa geli kalau mengetahui apa yang diperbuat wanita itu padanya."
"Apa yang telah terjadi di antara mereka?"
"Tidak terjadi apa-apa. Kemarin Wendy mencegat Ratu Luhan dan mengolok-oloknya."
Sehun terkejut.
"Jangan khawatir, ia mengucapkannya dalam bahasa Prancis."
"Untunglah. Kalau tidak, aku tidak tahu apakah ia masih selamat hari ini."
"Semula aku juga berpikir demikian tetapi siapa yang menyangka kalau yang terjadi berlawanan dengan yang kita pikirkan."
"Apa yang telah terjadi, Jongin?" tanya Sehun cemas.
"Akan kuceritakan apa yang kudengar," kata Jongin, "Kemarin Wendy berkata panjang lebar tetapi aku masih ingat sedikit-sedikit. Aku tidak ingat jelas tetapi pada intinya ia berkata, 'Kau wanita yang tidak pantas. Gadis bisu sepertimu sama sekali tidak pantas untuk menjadi Ratu Kerajaan Skyvarrna. Pantas Raja Zhoumi mengurungmu dalam Istana Vezuza. Kalau bukan karena ingin menguasai kerajaanmu, Raja Sehun tidak akan menikahimu. Baginya kau adalah alat untuk menguasai Kerajaan Aqnetta. Tidak lebih dari itu! Kau harus mengerti itu. Kalau bukan karena menguasai Kerajaan Aqnetta, Raja Sehun pasti akan menikah denganku. Aku telah mengenalnya jauh sebelum kau mengenalnya dan aku lebih pantas menjadi Ratu Kerajaan Skyvarrna daripada kau. Kau mengerti?'"
"Ia mengatakan itu?" Sehun tak percaya.
"Ya, itulah yang dikatakan Wendy. Tetapi jangan berpikir lega dulu. Ketika aku mendengarnya, aku merasa marah. Aku berpikir bagaimana mungkin Wendy bisa menghina seorang Ratu seperti itu. Saat itu aku bersyukur Wendy mengatakannya dalam Bahasa Prancis. Aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi kalau ia mengatakannya dalam Latin Kuno atau Inggris."
"Rasa syukurku itu hanya sampai di situ. Sebab kemudian Putri Luhan menjawab pertanyaan Wendy itu dalam Bahasa Prancisnya. Aku terkejut sekali mendengar ia dengan Bahasa Prancisnya yang fasih berkata, 'Saya mendengar dan mengerti semuanya, Mademoiselle."
Sehun terkejut. "Aku tak menyangka."
"Aku pun juga tak menyangka apalagi Wendy. Wanita itu sampai pucat pasi mendengar jawaban itu. Aku yakin ia akan segera meninggalkan Kerajaan Skyvarrna."
"Ya, itu cukup menjelaskan isi surat ini," Sehun mengangkat sebuah surat.
"Aku ingin melihatnya."
Jongin mengambil surat itu dan membacanya.
Maafkan saya, Paduka, saya tidak sempat pamit pada Anda. Saya harus kembali ke Paris. Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan. Saya senang dapat tinggal di Istana Qringvassein.
Wendy.
Jongin membelalak menatap Sehun.
"Tadi pagi pelayan memberikannya padaku. Katanya kemarin malam saat meninggalkan Istana Qringvassein, Wendymenitipkan surat itu padanya."
"Ia memang harus pergi secepatnya. Ia telah menghina seorang Ratu di hadapan Ratu itu sendiri dan itu akan berakibat buruk baginya kalau ia tetap tinggal di sini."
"Apalagi Ratu itu dilindungi oleh pasukan rahasia yang tidak akan segan-segan membunuh siapa saja yang berani mengusik Ratunya," timpal Sehun.
"Aku lega akhirnya wanita itu kembali ke Paris dan aku yakin ia tidak akan kembali."
"Jangan melihatku dengan pandangan menuduh seperti itu, Jongin. Aku tidak mengajaknya ke sini. Ia sendiri yang ikut dan ia sendiri yang meminta diijinkan tinggal di sini. Aku tidak bisa menolaknya sebab selama aku di Paris, ia banyak membantuku ketika aku mengalami kesulitan."
"Karena wanita itu aku mengalami kesulitan. Ia selalu menempel padaku dan selalu menanyakan padaku mengapa kau tidak mencintainya. Karena dia, semua wanita menjauhiku. Ia bukan wanita yang ramah untuk diajak bersaing, Sehun."
"Sekarang ia sudah pergi, Jongin. Bukan saatnya lagi kau menasehatiku. Sekarang aku telah menikah."
"Sekarang aku juga baru mengerti mengapa kau tidak jatuh cinta pada wanita cantik itu. Sejak awal kau memang berniat menikahi Putri Kerajaan Aqnetta."
"Maukah kau memanggilkan Luhan untukku?"
"Kau bisa menyuruh pelayan."
"Katamu kau ingin mengenal Luhan dan berbicara dengannya? Kalau kau tidak mau, aku akan menyuruh pelayan."
"Tidak perlu," Jongin tiba-tiba menjauhi jendela, "Akan kupanggilkan dia untukmu. Aku juga ingin mencoba kehebatan Reischauer."
"Jangan lakukan itu, Jongin!" cegah Sehun.
Jongin melesat pergi tanpa mendengarkan larangan Sehun. Dengan hati riang ia menuju taman. Sekarang ia mempunyai alasan untuk berbicara dengan Luhan dan kalau ia beruntung, ia dapat membuat Reischauer muncul.
.
.
.
"Paduka Ratu!"
Luhan menoleh perlahan.
Seperti biasa, Jongin terpesona melihat kecantikkan Luhan.
"Ada apa, Jongin?" kata Luhan membuyarkan lamunan Jongin.
"Saya ingin berbicara dengan Anda," kata Jongin sambil mendekati Luhan.
Luhan merasakan Jongin memiliki rencana tertentu terhadapnya, tetapi ia tetap bertanya tenang, "Apa yang ingin Anda bicarakan?"
"Anda sangat cantik, Paduka. Mengapa Anda sendirian di sini?" Jongin terus mendekat, "Anda bagaikan bunga yang tiada taranya di taman bunga ini. Kecantikkan Anda mengalahkan kecantikkan semua bunga di sini. Anda membuat saya terpesona, Paduka."
Jongin terus mendekat dan ketika ia telah dekat dengan Luhan, ia mengulurkan tangannya meraih dagu Luhan.
Luhan berpegangan pada pohon dibelakangnya. Dengan tenang ia berkata, "Sebaiknya Anda menjaga sikap, Tuan Jongin."
"Bagaimana saya bisa menjaga sikap, Paduka?" tanya Jongin, "Anda telah mempesona saya dan membuat saya melupakan segalanya."
"Anda harus mengingat siapa saya, Tuan Jongin," Luhan mengingatkan.
"Saya tahu. Anda adalah Ratu Kerajaan Skyvarrna dan istri sahabat saya. Tetapi, saya tidak dapat menghilangkan perasaan terpesona ini. Anda sangat cantik, Paduka dan membuat saya tidak dapat menahan diri."
Jongin semakin mendekatkan wajahnya. Ketika Jongin hampir mencium bibir Luhan, tiba-tiba seseorang berdiri di belakang Jongin dan melingkari leher Jongin dengan pedangnya yang lentur tetapi tajam.
"Sebaiknya Anda menjauhi Paduka Ratu sekarang juga," suara itu memperingatkan tajam, "Atau saya tidak akan segan-segan membunuh Anda."
Tiba-tiba Jongin merasakan bahaya di sekitarnya. Sehun telah memperingatinya untuk tidak mengusik Luhan dan sekarang ia merasakan akibatnya. Ia merasakan perasaan yang sama dengan ketika ia berada di Istana Vezuza. Ribuan mata serasa menatap tajam dirinya. Dan bahaya berada di dekatnya.
Jongin melepaskan Luhan dan menjauhinya tetapi pedang tajam itu terus melingkari lehernya. Bahkan orang di belakangnya itu menariknya mendekat dan menempelkan ujung pedangnya yang tajam di lehernya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jongin merasa ketakutan. Darah dingin terasa mengalir mulai dari kepalanya hingga seluruh tubuhnya. Keringat dingin bercucuran di dahinya.
Tiba-tiba Luhan mengatakan sesuatu pada orang itu. Jongin tidak mengerti dengan bahasa apa Luhan memberi perintah pada orang itu. Tetapi seketika itu juga orang itu kemudian melompat ke rimbunnya dedaunan pohon. Jongin merasa lega ketika pedang itu pergi dari lehernya.
"Maafkan saya, Paduka Ratu. Saya tidak benar-benar berniat menggoda Anda," kata Jongin setengah lega dan setengah ketakutan.
"Tidak apa-apa, Jongin. Saya mengerti," kata Luhan lembut untuk menenangkan pria itu. "Tadi Anda mengatakan ada yang ingin Anda bicarakan."
"Sehun memanggil Anda."
Luhan menengadahkan kepala ke jendela Ruang Duduk. Di balik jendela yang tertutup itu, Sehun tersenyum padanya.
"Terima kasih, Jongin."
Luhan meninggalkan taman bunga.
.
.
.
Luhan mengetuk pintu Ruang Duduk dan membukanya perlahan-lahan.
"Maafkan Jongin. Luhan. Ia tidak bersungguh-sungguh menggodamu. Aku telah memperingatinya untuk tidak mencoba kekuatan Reischauer tetapi rupanya ia tidak mendengarku."
"Saya mengerti."
Sehun berkata, "Ia adalah salah satu dari mereka bukan?"
Sehun terus melihat taman sejak Jongin pergi. Sehun merasa khawatir ketika Jongin terus mendekati Luhan hingga Luhan mundur perlahan-lahan. Ketika Jongin memegang dagu Luhan, Sehun sangat cemas.
Saat itulah Sehun melihat sebuah bayangan hitam yang bergerak sangat cepat sebelum seseorang menghunuskan pedang di leher Jongin. Orang itu berbaju serba hitam. Mulai dari rambut hingga kakinya tertutup kain hitam. Sehun kagum melihat kecepatan orang itu. Setelah Luhan mengatakan sesuatu, ia melesat pergi secepat kedatangannya.
"Ada yang ingin Anda katakan pada saya?"
"Aku mempunyai kejutan untukmu, Luhan. Aku yakin kau pasti senang." Sehun membunyikan bel dan tak lama kemudian Kyungsoo datang dengan seorang wanita tua yang amat dikenal Luhan.
"Paduka Ratu," Minseok berseru dan berlari memeluk Luhan.
Luhan terus menatap Sehun.
Sehun tersenyum. "Ketika kita mendarat di pantai itu, aku menyuruh beberapa prajurit menjemput Minseok. Aku tahu kau akan merasa senang bila di sisimu ada seseorang yang telah kau kenal."
"Saya sangat senang dapat berjumpa Anda lagi, Paduka Ratu," kata Minseok terharu, "Saya sangat merindukan Anda. Bunga-bunga Anda juga merindukan Anda. Semua tampak lesu setelah Anda pergi."
"Tumbuhan memiliki perasaan," Luhan menjelaskan singkat.
Minseok melihat Luhan lekat-lekat. "Anda tidak berubah sedikitpun, Paduka Ratu. Anda tetap seperti dulu."
Luhan tidak menanggapi.
Sehun semakin merasa ada sesuatu yang kurang pada Luhan. Di saat ia melihat Minseok tersenyum senang, ia melihat Luhan tetap tenang. Wajah cantiknya tetap menunjukkan ketenangannya.
"Kita masih mempunyai banyak waktu sebelum kita ke Skellefreinth," Sehun memberitahu.
Karena Sehun mengatakannya dengan bahasa Inggris, Minseok dapat mengerti. "Mari, Paduka Ratu," ajaknya.
Di pintu, Minseok tiba-tiba berbalik. "Terima kasih, Paduka. Saya senang Anda mempertemukan saya dengan Putri kembali."
"Aku senang dapat melakukannya untuk kalian, Minseok."
Minseok kembali mencurahkan perhatiannya sepenuhnya pada Luhan. Kyungsoo mendampingi mereka kembali ke kamar Luhan.
Minseok berulang kali mengatakan kerinduannya pada Luhan dan kata- kata penduduk Kerajaan Aqnetta tentangnya. Minseok mengatakan semua orang terkejut karena Putri Kerajaan Aqnetta yang dikatakan buruk rupa itu ternyata sangat cantik. Minseok tampak sangat puas ketika ia menceritakan kekagetan orang-orang itu.
Ia juga mengatakan kekagetannya ketika seorang prajurit Kerajaan Skyvarrna datang ke Istana Vezuza dan mengatakan Sehun menyuruh mereka menjemputnya. Tanpa banyak bertanya, Raja Zhoumi mengijinkannya pergi. Prajurit itu memacu kereta kuda yang ditarik empat ekor kuda, cepat-cepat sehingga ia tiba dalam waktu singkat. Pagi ini ia baru tiba dan langsung disambut Kyungsoo yang segera mengantarnya ke kamarnya.
Tak lupa Minseok mengatakan kesedihan bunga-bunga Luhan karena kepergian gadis yang selalu merawat mereka. Tetapi Minseok tidak lupa membawa bunga-bunga yang telah mekar. Karena Minseok merendamnya dengan air segar selama perjalanan ke Istana Qringvassein, bunga-bunga itu masih segar. Minseok tidak lupa pada kebiasaan Luhan untuk memanfaatkan udara musim gugur untuk mengeringkan bunga-bunga.
Minseok menunjuk tiga keranjang penuh bunga di tengah kamar Luhan. Ketika masuk tadi, Luhan dapat mencium wanginya bunga-bunga dari tamannya dan ia telah melihat ketiga keranjang yang diletakkan di tengah kamarnya itu.
Usai bercerita panjang lebar, Minseok menghela nafasnya dalam-dalam dan berkata, "Saya tidak pernah menyangka Paduka Raja Sehun akan mengijinkan saya mendampingi Anda walau sekarang Anda tinggal di Istana Qringvassein."
"Paduka Raja memang orang yang pengertian," Kyungsoo mencoba berbicara dengan bahasa Inggris.
"Sebaiknya kau belajar bahasa kami, Kyungsoo. Aku tidak ingin kau merasa tersisih ketika kami berbicara."
"Mungkin sebaiknya saya juga belajar bahasa Latin Kuno. Saya tidak mau seperti orang bodoh yang hanya bisa kebingungan mendengar sekeliling saya berbicara."
"Sebaiknya kalian saling belajar mengajar."
Minseok tersenyum. "Anda tidak berubah, Paduka Ratu. Selalu berkata tenang, singkat, padat, dan jelas tetapi bertujuan besar."
Karena bahasa yang digunakan di Kerajaan Skyvarrna agak mirip dengan bahasa Kerajaan Aqnetta, Kyungsoo dapat mengerti sedikit apa yang dikatakan Luhan dan Minseok. Ia sependapat dengan Minseok. Luhan tidak mengatakan ia ingin Kyungsoo dan Minseok berteman baik tetapi kata-kata singkatnya itu menunjukkan maksudnya.
.
.
.
Luhan melihat matahari semakin tinggi. Ia menuju tiang penggantung mantel dan mengambil topinya.
"Anda mau ke mana?" tanya Kyungsoo dan Minseok bersamaan dalam bahasa yang berbeda.
"Panti Carmell," jawab Luhan singkat.
"Anda mau ke Panti Carmell dengan gaun itu?" Kyungsoo terkejut, "Jangan, Paduka. Paduka Raja pasti tidak senang melihat Anda pergi dengan gaun itu."
"Aku bukan pergi ke pesta," kata Luhan singkat.
"Tetapi, Paduka…"
"Maaf," Minseok memotong, "Apa yang kalian bicarakan?"
Sejak diberi tugas oleh Sehun untuk melayani Luhan, Kyungsoo telah belajar Bahasa Inggris namun ia masih terbata-bata dalam mengucapkannya. "Paduka Ratu akan pergi ke Panti Asuhan dengan gaun itu," Kyungsoo mencoba menjelaskan.
Minseok melihat Luhan dari atas hingga bawah. Dengan rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai dan gaun putihnya yang sederhana, Luhan tidak tampak seperti seorang Ratu. Ia lebih tampak seperti gadis biasa.
"Ke Panti Asuhan dengan gaun itu?" kata Minseok sambil berpikir. Luhan tidak menanti hasil pemikiran Minseok. Ia melambaikan topinya pada kedua orang itu dan melangkah pergi.
"Paduka! Paduka Ratu!" Kyungsoo mengejar Luhan. "Saya mohon, Paduka. Dengarkanlah saya. Jangan pergi dengan gaun itu. Gaun itu tidak pantas."
"Gaun ini pantas," kata Luhan tenang.
"Paduka!"
Luhan terus menuju ke kereta kuda yang telah menanti. Kyungsoo juga terus mengikuti gadis itu dan terus memohon.
"Maafkan saya, Paduka Raja," kata Kyungsoo, "Ratu tidak mau mengganti gaun. Ia memaksa pergi dengan gaun ini."
"Gaun ini cocok untuk pergi ke Panti Asuhan," kata Luhan tenang.
Sehun melihat Luhan kemudian berkata, "Luhan benar, Kyungsoo. Kami akan pergi ke Panti Asuhan bukan ke pesta. Lebih baik mengenakan pakaian yang sederhana bila akan berkunjung ke Panti Asuhan. Tidak baik membuat orang lain menjadi iri."
Kyungsoo terpana mendengar Rajanya setuju dengan Ratu.
"Sebaiknya aku mengenakan sesuatu yang lebih sederhana." Sehun kembali masuk ke dalam Istana.
"Mungkin Paduka Raja benar," gumam Kyungsoo setelah terdiam beberapa saat. Sekali lagi Kyungsoo dibuat kagum oleh Luhan. Gadis itu tidak mengatakan apa yang dipikirkannya tetapi langsung melakukannya.
"Sebaiknya saya kembali ke kamar Anda dan memulai pelajaran bahasa saya dengan Minseok," Kyungsoo berpamitan. Kyungsoo membungkuk hormat kemudian masuk kembali ke dalam bangunan megah itu.
Tak lama kemudian Sehun muncul kembali dan kali ini ia mengenakan kemeja santai yang terbuat dari bahan biasa. Pakaiannya seperti pakaian orang-orang lainnya tidak seperti pakaian seorang bangsawan.
"Mari kita berangkat."
.
.
.
Perjalanan ke Panti Carmell tidak lama. Dengan kereta yang ditarik empat ekor kuda yang cepat, dalam waktu singkat mereka tiba di Panti Carmell.
Kali ini yang menyambut kedatangan mereka bukan hanya orang dewasa. Banyak anak yang berdiri di depan panti menanti mereka.
"Selamat datang, Paduka," sambut seorang wanita, "Saya, Taeyeon, Kepala Panti Carmell siap melayani Anda."
Seorang anak tiba-tiba berseru, "Peri! Perinya datang!"
Mereka melihat anak-anak yang mulai ribut itu.
"Jangan berisik, anak-anak. Kalian belum memberi salam pada Paduka," seorang wanita memperingati. Tetapi anak-anak itu tidak dapat diam. Mereka semakin ramai dan berulang kali mengatakan, "Benar. Perinya datang! Perinya datang!"
"Maafkan anak-anak itu, Paduka. Mereka terlalu senang dapat berjumpa dengan Paduka Ratu."
"Peri yang mereka katakan itu?" tanya Sehun tertarik. Sehun melihat Luhan yang tetap dengan tenang memandangi anak-anak Panti Carmell itu.
"Benar, Paduka, mereka menyebut Paduka Ratu. Maafkan mereka, Paduka. Mereka tidak mengerti siapa yang mereka sebut peri itu."
"Aku mengerti mereka, Taeyeon. Semua orang juga mengatakan padaku Luhan lebih mirip seorang peri daripada seorang Putri."
Taeyeon melihat Luhan. "Kami mengajak mereka menyambut Anda kemarin dan ketika mereka melihat Paduka Ratu memasuki Gedung Pertemuan, mereka mengatakan Paduka Ratu adalah peri."
Beberapa anak memberontak dari pengasuh mereka. Mereka tidak menghiraukan larangan pengasuh-pengasuh mereka dan berlari mendekati Luhan.
"Anda benar-benar seorang peri?"
"Mana sayap Anda?" tanya yang lain.
Luhan melihat wajah-wajah polos itu dan tersenyum. "Aku bukan peri dan tidak mempunyai sayap," katanya lembut.
Seorang anak perempuan menarik tangan Luhan. "Ikutlah main bersama, peri."
Taeyeon membungkuk dan berkata pada anak-anak itu. "Kalian jangan mengangguk Paduka Ratu. Pergilah bermain."
Anak-anak membandel. Mereka memegang erat-erat tangan Luhan dan berkata, "Kami mau bermain dengan peri."
Taeyeon tampak kewalahan menghadapi anak-anak itu. "Maafkan anak-anak ini, Paduka Ratu," kata Taeyeon bersalah, "Mereka anak-anak yang nakal. Saya akan membujuk mereka untuk pergi bermain."
"Mereka di sini untuk menyambut kedatangan kami."
Taeyeon menatap Luhan lekat-lekat.
Anak-anak itu tidak mau menanti ijin dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Beramai-ramai mereka menarik Luhan dan membuat gadis itu tidak dapat berbuat lain selain mengikuti mereka.
Melihat wajah bersalah Taeyeon, Sehun berkata, "Tidak apa-apa, Taeyeon. Anak-anak itu menunjukkan rasa sayang mereka pada Luhan. Luhan juga tampak senang dapat menemani mereka."
Taeyeon melihat Luhan yang seakan-akan menjadi mainan anak-anak itu dengan pandangan bersalah.
"Bagaimana perkembangan tempat ini, Taeyeon?"
Taeyeon memalingkan kepala. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, Paduka. Anak-anak di tempat ini tidak berkurang jumlahnya tetapi semakin bertambah. Beberapa di antara mereka sudah ada yang diambil keluarga lain tetapi masih ada anak-anak yang ditinggalkan di depan Panti. Kami kesulitan menemukan orang tua kandung mereka."
Sehun mendengarkan sambil melihat Luhan.
Luhan mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya dan memberikannya pada anak perempuan yang tadi memegang tangannya. Anak itu melupakan bonekanya dan mengambil bunga kering itu. Dengan bangga anak itu menunjukkan pemberian Luhan pada teman-temannya. Entah karena terlalu senangnya anak itu atau karena kecerobohannya, bunga itu tiba-tiba jatuh dan seorang anak tidak sengaja menginjaknya.
Luhan cepat-cepat mendekati anak itu sebelum ia menangis. Luhan mengeluarkan bunga yang lain dari sakunya dan anak itu gembira menerimanya.
Beberapa prajurit menurunkan peti-peti berisi mainan yang dibawa dari Istana Qringvassein dan membawa sebuah peti ke samping Luhan. Bagaikan seorang peri yang baik hati, Luhan mulai memberikan mainan itu pada tiap anak. Anak-anak tentu saja senang mendapat hadiah dari peri mereka. Mereka berebutan menerima pemberian Luhan tetapi Luhan dengan tenang terus membagikan.
Dua orang anak terlihat berebut kereta kayu. Mereka sama-sama tidak mau mengalah.
Luhan ingin melerai mereka tetapi sebuah tangan kecil memegang tangannya. Luhan berlutut di depan anak itu. Anak itu mengulurkan tangannya. Luhan menyambut uluran tangan itu dengan menggendongnya. Anak yang tadi berebut mainan melihatnya dan mereka meninggalkan mainan itu. Mereka berlari menuju Luhan.
"Aku!"
"Tidak! Aku dulu!"
Terdengar mereka masih memperebutkan sesuatu. Ketika sampai di samping Luhan, mereka sama-sama mengulurkan tangan meminta gendong. Kedua anak itu saling melihat dengan marah kemudian berkejar-kejaran di sekeliling Luhan dan membuat gadis itu kewalahan.
Kedua anak itu tidak sadar teman mereka yang lain mengambil mainan yang tadi mereka perebutkan. Anak itu berjingkat-jingkat seperti seorang maling kecil dan tersenyum nakal ketika melihat mainan yang tergeletak itu.
Ketika ia kembali ke tempatnya semua, anak-anak itu baru
menyadarinya. Serentak mereka meninggalkan Luhan dan berlari mengejar pencuri mainan mereka.
Luhan tertawa geli melihat mereka. Bukan salah anak itu kalau ia mengambil mainan yang menjadi perebutan itu. Mereka meninggalkan benda itu tergeletak begitu saja di tanah dan sibuk memperebutkan Luhan.
Sehun terpana melihat tawa Luhan itu. Tiba-tiba saja ia menyadari apa yang tidak ada pada Luhan.
Gadis itu memang sempurna tetapi ia bagaikan mengenakan sebuah topeng. Topeng cantik dengan bibirnya yang selalu tersenyum. Benar, sebuah topeng cantik yang selalu tersenyum. Di saat diam, bibir Luhan menekuk halus membentuk sebuah senyum tipis. Tetapi tidak pernah ada ekspresi di sana. Sinar matanya selalu tenang. Senyum di bibirnya terasa hambar. Wajahnya tidak pernah terlihat bahagia. Gadis itu terlalu tenang dan dingin.
Benar-benar seperti sebuah topeng yang dingin dan hanya menunjukkan wajah yang sama. Ketika melihat Minseok datang, Luhan juga tidak tampak bahagia. Ia dengan tenang menatap wajah wanita tua itu dan tidak membalas pelukannya.
Sehun yakin pasti ada penyebabnya di balik semua sikap dingin Luhan ini. Sehun semakin yakin Luhan memang marah padanya bahkan mungkin tidak senang menjadi istrinya!
Sehun mulai menduga sebelum menikah dengannya, Luhan telah jatuh cinta pada seseorang. Dan karena harus menikah dengannya, ia melepaskan kebahagiaannya itu di Kerajaan Aqnetta dan sekarang yang tertinggal padanya hanya seorang peri cantik dengan topengnya yang selalu tersenyum.
Tidak ada alasan yang lebih tepat dari itu!
Raja Zhoumi mengurung peri cantik itu di Istana Vezuza juga pasti karena ia mempunyai rencana lain terhadap masa depan gadis itu. Raja Zhoumi mungkin ingin menikahkan Luhan dengan pria pilihannya dan ia tidak mau ada orang lain yang mengetahui kecantikkan Luhan. Raja Zhoumi tidak mau banyak pria melamar Luhan karena kecantikkannya yang tiada tara ini. Raja Zhoumi menginginkan seorang pria yang benar-benar mencintai Luhan dan tetap mau berada di sisinya walaupun ia buruk rupa.
Pasti karena itu Raja Zhoumi membiarkan khayalan orang-orang melambung tinggi dan berlawanan dengan kenyataan. Raja Zhoumi terus membiarkan hal itu hingga ada seorang pria yang benar-benar mau mendampingi Luhan seumur hidupnya baik ia buruk rupa maupun ia cantik.
Dan ketika Sehun melamarnya, Raja Zhoumi merasa senang dan menerimanya dengan terbuka. Tetapi Raja Zhoumi tidak tahu saat itu Luhan sudah jatuh cinta pada pria lain. Raja Zhoumi tentu memaksa Luhan menikah dengannya demi hubungan dua kerajaan ini.
Tiba-tiba saja Sehun merasa bersalah pada Luhan. Tetapi tidak ada yang dapat dilakukannya. Mereka telah menikah. Pernikahan mereka sakral dan tak terpisahkan. Dalam upacara pernikahan mereka, mereka telah berjanji untuk terus bersama sampai maut memisahkan.
Luhan menunjukkan ketidakbahagiaannya dengan berdiam diri sepanjang hari dan tidak menunjukkan ekspresi di wajahnya selain wajah tenangnya. Luhan mendiamkan Sehun dan tidak mau berbicara banyak kepadanya.
Sehun melihat ketiga anak yang berkejaran itu berlari ke arah Luhan. "Permisi," katanya kemudian mendekati Luhan.
Sebelum anak yang dikejar itu menabrak Luhan, Sehun menggendong anak itu. "Cukup," katanya, "Jangan berebut lagi. Masih ada banyak mainan untuk kalian."
Sehun menurunkan anak itu dan menunjuk dua buah peti lain di samping kereta.
Melihat teman-temannya berlari ke kereta, anak perempuan di gendongan Luhan meminta turun. Luhan menurunkan anak itu. Sehun melihat wajah Luhan yang kembali tenang seperti tertutup topeng itu. Sehun ingin melepas topeng itu dan sebelum ia melakukannya ia ingin sebuah kepastian. Ia tahu apa yang harus dilakukannya dalam waktu dekat ini.
.
.
.
T B C
.
.
.
Special Thanks to ClouDyRyeoRez sebagai reviewer pertamaku. Makasih sayang ^^
.
.
.
Thanks To :
|Dazzlingcloud|wuziper|zoldyk|Aliyah649|luhannieka|KiranMelodi| Guest|GreenAradirachta|ramyoon|niasw3ty|younlaycious88|RZHH 261220 II|moebyansz|BeibieEXOl|Roxanne Jung|Guest|NopwillineKaiSoo|LuXiaoLu|367fans – EXO|nanau|VOUSMEVOYEZ|shin seulgi|hunhandeep|exo lovers|oh chaca|khalidasalsa|ruixi1|Ririn ayu|Oh Juna93|rikha-chan|chenma| |anna nurdjanah|
.
.
.
Mind To Review?
.
.
.
"040415"
