TOPENG SANG PUTERI
Editor : Han Lu
Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)
Genre : Kingdom, Romance, Family
Length : Chapter 9 0f ?
Summary :
Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.
Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.
Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.
.
.
.
DISCLAIMER :
Hai Readers, AKU KEMBALI LAGI MEMBAWA FANFIC YANG AKU AMBIL DARI NOVEL TERJEMAHAN BERLATAR BELAKANG KERAJAAN EROPA tapi tetap My Bias EXO Specially HunHan yang menjadi Main Castnya.
SEKALI LAGI AKU KATAKAN, KALO AKU NGEPOSTING FANFIC INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting fanfic di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.
NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.
.
.
.
Happy Reading ^-^
.
.
.
CHAPTER 9
.
.
.
Sehun melihat Luhan yang berdiri di ambang pintu.
"Maafkan aku, Luhan. Aku ingin menemanimu tetapi ada sesuatu yang harus kuselesaikan secepatnya. Aku terpaksa membatalkan semua jadwalku bersamamu pagi ini karenanya."
"Saya mengerti. Kyungsoo telah memberitahu saya."
Sehun mendekati Luhan. "Setelah urusan ini selesai, aku akan menemanimu lagi. Hari ini kau terpaksa pergi sendirian ke Kemmiyarf. Beberapa prajurit akan mengawalmu dan Pasukan Pengawal akan menjagamu."
"Saya mengerti."
Sehun tidak tega membiarkan Luhan berkeliling Skellefreinth sendirian tetapi ia terpaksa melakukannya. Ia menginginkan sebuah kejelasan dan tanpa sepengetahuan Luhan. Dalam rencana, hari ini ia dan Luhan akan pergi ke kawasan tempat tinggal orang-orang miskin di tepi Istana Qringvassein. Tetapi karena rencananya, ia terpaksa membiarkan Luhan pergi sendiri.
"Sehun!" Pintu tiba-tiba terbuka.
Jongin terkejut melihat Luhan.
"Selamat pagi, Tuan Jongin," salam Luhan.
"Selamat pagi, Paduka Ratu," balas Jongin gugup.
"Kukira sekarang mereka sedang menantimu," kata Sehun.
Luhan mengangguk.
Sehun membukakan pintu untuk Luhan dan berkata perlahan setengah berbisik, "Maafkan aku, Luhan. Aku sungguh-sungguh menyesal tidak dapat menemanimu."
Luhan tersenyum pengertian dan meninggalkan tempat itu.
"Mengapa kau tidak menemaninya?" tanya Jongin heran.
"Mengapa kau datang tergesa-gesa, Jongin? Ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
"Ya," kata Jongin tegas, "Aku ingin memprotesmu karena tidak mengatakan Reischauer bisa membunuhku karena aku menggoda istrimu."
"Aku telah memperingatimu," kata Sehun tenang dan kembali ke meja kerjanya.
Jongin menuju jendela dan melongok keluar melihat kepergian Luhan. "Ia mempunyai pengawal yang luar biasa. Baru kali ini aku merasa setakut itu. Aku takkan pernah menginjakkan kaki di sini lagi bila mengingat mereka ada di sekitarku. Mereka membuat seluruh tubuhku merinding
ketakutan."
"Jadi itu sebabnya kemarin sore aku tak melihatmu."
"Bayangkan, Sehun!" Tiba-tiba Jongin berbalik dan menatap tajam Sehun. "Yang menodongku itu wanita dan ia membuat aku takut setengah mati. Kalau Putri Luhan tidak mengatakan sesuatu padanya, aku pasti sudah terkencing-kencing."
"Wanita?" tanya Sehun tak percaya, "Bukannya laki-laki?"
"Aku tidak terlalu tuli untuk membedakan suara wanita dan suara pria, Sehun," kata Jongin kesal, "Wanita itu berkata sangat tajam dan penuh bahaya. Ia benar-benar membuatku sangat ketakutan."
"Aku telah memperingatimu," Sehun mengingatkan dengan tenang.
"Sebenarnya Putri Luhan bisa berapa bahasa?"
"Aku tidak tahu."
"Kalau kuhitung-hitung, ia bisa menggunakan empat bahasa. Inggris, Latin Kuno, Prancis, dan bahasa aneh itu. Aku yakin ia masih menguasai bahasa lain. Apakah perimu itu bisa menggunakan semua bahasa di dunia ini?"
"Mengapa kau tidak menanyakannya langsung padanya?"
"Berbicara dengannya sekarang membuatku merinding. Aku tidak dapat membayangkan kalau seorang wanita membuatku sangat ketakutan dan mengalungkan pedangnya di leherku."
"Mereka tidak akan melakukannya bila kau tidak mengganggu Luhan."
"Kau percaya, Sehun, ia menggunakan bahasa yang aneh ketika memerintah wanita itu. Bahasa yang sangat aneh. Belum pernah aku mendengarnya."
"Kurasa itu semacam suatu bahasa khusus untuk memberi perintah Reischauer. Kadang-kadang kekuatan pasukan rahasia dapat membahayakan bila diatur oleh orang yang salah."
"Aku berharap tidak bertemu mereka lain kali."
"Sebaiknya memang tidak. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padamu," kata Sehun tenang, "Sekarang bisakah kau meninggalkanku?"
"Kau mengusirku?"
"Tidak. Aku memerintahkanmu. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku lakukan."
"Baiklah," Jongin mengalah, "Sampai jumpa lagi, Sehun. Nanti aku akan kembali."
.
.
.
Sehun melipat tangannya di meja. Ia menanti kedatangan seseorang. Orang yang dinanti-nantikan Sehun itu akhirnya datang.
"Saya datang setelah mengantar kepergian Paduka Ratu, seperti perintah Anda, Paduka," Minseok melapor.
"Duduklah, Minseok. Ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Apakah yang ingin Anda tanyakan, Paduka?"
"Apakah sebelum menikah denganku, Luhan jatuh cinta pada seseorang?"
Minseok terkejut. "Dari mana Anda mendapat pikiran itu, Paduka?"
"Dari sikapnya, Minseok. Selama ini Luhan sangat pendiam dan tenang. Ia sangat dingin seperti mengenakan topeng di wajahnya. Aku tidak pernah melihatnya benar-benar bahagia. Ia selalu tersenyum tetapi itu adalah topengnya. Topeng yang selalu tersenyum."
"Paduka Ratu tidak pernah meninggalkan Istana bagaimana ia bisa jatuh cinta pada orang lain, Paduka? Bagaimana mungkin ada orang lain yang jatuh cinta pada seorang Putri yang dikatakan orang-orang buruk rupa? Satu-satunya pria dalam hidup Putri adalah ayahnya dan saudara sepupunya, Tuan Yifan."
"Tetapi sikapnya mengatakan lain, Minseok. Ia jarang berbicara denganku. Ia tampak seperti marah padaku karena aku membuatnya tidak bahagia."
"Kalaupun ada yang membuat Paduka Ratu tidak bahagia, itu adalah Raja Zhoumi," kata Minseok mendesah.
"Bukankah selama ini Raja Zhoumi menyembunyikan Luhan di Istana Vezuza karena ia ingin mencari pria yang benar-benar mencintai Luhan baik ia cantik maupun buruk?"
"Anda salah, Paduka. Semua yang Anda katakan itu semuanya salah. Salah besar," Minseok menekankan.
"Putri tidak dingin seperti yang Anda katakan. Putri Luhan adalah gadis yang pendiam dan tenang. Ia tidak marah pada Anda karena sejak lahir ia sudah jarang berbicara. Ia juga tidak pernah bisa marah, Paduka."
"Tidak mungkin ada orang yang tidak bisa marah?"
"Kalau orang itu adalah Putri Luhan, saya percaya."
Sehun tertarik mendengarnya.
"Sejak Ratu Sooyeon, di dalam keluarga Kerajaan Aqnetta selalu ada seorang yang tenang. Ratu Sooyeon adalah gadis yang tenang. Orang-orang mengatakan ia adalah gadis yang dingin-dingin tenang tetapi Raja Zhoumi mengatakan ia orang yang tenang-tenang dingin. Diceritakan turun temurun bahwa Ratu Sooyeon adalah ratu Kerajaan Aqnetta yang paling tenang dalam segala hal tetapi tangkas."
"Ratu Sooyeon?" Sehun tertarik mendengarnya.
"Saya tidak tahu banyak tentang Ratu Sooyeon. Yang saya ketahui hanya keluarga Kerajaan Aqnetta mendapatkan warisan sifat tenang itu dari Ratu Sooyeon. Kalau Anda ingin mengetahuinya lebih banyak, lebih baik Anda bertanya pada Putri."
"Kuharap ia mau menceritakannya," kata Sehun, "Ia gadis yang sulit dibuat berbicara banyak, Minseok."
"Ya, saya juga selalu kewalahan membuat Putri mau berbicara. Tak jarang dalam satu hari Putri sama sekali tidak berbicara. Putri Luhan memang gadis yang sangat pendiam. Dalam sejarah keluarga Kerajaan Aqnetta, Putri Luhan adalah gadis yang paling tenang."
"Walaupun ia tahu di luar Istana, orang-orang menjelekkan dirinya, ia tetap tenang-tenang saja. Bahkan ketika tahu ia harus menikah dengan Anda, ia tetap tidak tampak terganggu. Putri Luhan sangat tenang. Ketika ia bahagia, sedih maupun marah yang tampak di wajahnya hanyalah sikap tenangnya. Namun di balik itu semua, saya tahu ia adalah gadis yang lembut hati. Ia dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, apa yang tidak dirasakan orang lain."
"Ia pasti Putri kebanggaan Raja Zhoumi."
"Saya juga berharap seperti itu," kata Minseok sedih.
"Raja Zhoumi tidak bangga padanya?" tanya Sehun tak percaya,
"Rakyat Kerajaan Skyvarrna sangat bangga mempunyai Ratu secantik peri tetapi Raja Zhoumi tidak?"
"Seperti itulah, Paduka. Saya sangat bangga dapat mengasuh Putri Luhan. Seperti yang rakyat Kerajaan Skyvarrna katakan, Putri Luhan memang cantik dan mungil seperti peri. Tetapi Raja Zhoumi berkata lain. Raja Zhoumi sama sekali tidak menyayangi Putri. Ia malu pada Putri."
Sehun semakin tertarik mendengar cerita Minseok. Ia ingin tahu mengapa Raja Zhoumi malu pada Luhan yang sangat cantik dan sempurna seperti seorang peri itu.
"Raja Zhoumi lebih bangga pada kakak Putri, Putri Zitao."
"Luhan mempunyai kakak perempuan? Mengapa aku tak pernah mendengar tentangnya?"
"Ia meninggal ketika masih berumur delapan tahun, Paduka," kata Minseok, "Saat itu Putri Zitao dan Ratu Victoria dalam perjalanan ke Hutan Naullie dan karena hujan lebat, kereta yang mereka tumpangi tergelincir ke jurang. Tak seorangpun di antara mereka yang selamat. Saat itu Putri Luhan tidak ikut bersama mereka."
"Raja Zhoumi sangat mengharapkan mempunyai seorang putra yang kelak dapat menggantikannya dan ketika Putri Zitao lahir, ia sangat kecewa. Tetapi kekecewaannya itu terobati oleh kecantikkan Putri Zitao. Putri Zitao cantik tetapi Putri Luhan lebih cantik lagi."
Minseok mulai menjelaskan perbedaan Putri Luhan dan Putri Zitao. "Ia dan Putri Luhan sangat bertolak belakang. Ia gadis yang periang dan kecantikkannya menyolok. Sedangkan Putri Luhan sangat pendiam dan tenang, ia memiliki kecantikan yang lembut dan penuh misteri. Pada Putri Luhan seakan-akan tampak ada sesuatu yang tak tersentuh manusia."
"Putri Luhan selalu tampak tenang dan ia seperti berada dalam suatu dunia lain. Di dalam dunianya itulah terdapat sesuatu. Sesuatu… sesuatu yang sangat… Entahlah saya sulit menjelaskannya. Tetapi sesuatu itu tampak seperti sebuah misteri yang sangat mempesona dan mampu membuat siapa saja terus memandang Putri Luhan," Minseok tampak kesulitan, "Sejak lahir ia sudah seperti seorang peri. Tetapi tidak bagi Paduka Raja Zhoumi."
"Ketika putri keduanya lahir, Raja Zhoumi sangat kecewa dan kekecewaannya itu tak terobati oleh kecantikkan Putri Luhan. Ia tetap menganggap Putri Zitao sangat cantik dan Putri Luhan tidak cantik. Setelah kematian Ratu Victoria dan Putri Zitao, kekecewaan Raja Zhoumi semakin besar. Ia semakin melarang Putri Luhan meninggalkan Istana."
Dengan sedih Minseok melanjutkan, "Sejak lahir Putri Luhan selalu disuruh belajar. Raja Zhoumi sering berkata Putri Luhan tidak cantik dan hanya kecerdasannya saja yang dapat membuat seorang pria jatuh cinta pada Putri. Karena itu sejak lahir Putri Luhan lebih banyak berada di Istana."
"Saya kasihan pada Putri Luhan. Setiap hari ia hanya belajar, belajar, dan belajar. Tetapi ia sama sekali tidak mengeluh. Dibandingkan Putri Zitao, Putri Luhan memang lebih rajin. Putri Zitao selalu memberontak bila disuruh belajar sedangkan Putri Luhan selalu melakukannya dengan tekun."
"Apa yang dilakukan Raja Zhoumi pada Putri Luhan memang kejam. Ia melarang Putri Luhan menampakkan dirinya di depan umum. Orang-orang di Istana Vezuza juga dilarangnya mengatakan pada orang lain seperti apa rupa Putri Luhan. Setiap ada tamu yang menginap, Putri dilarang meninggalkan kamarnya. Bahkan Raja Zhoumi tega menyuruh Putri membaca semua buku di perpustakaan dan menghafalkannya."
Sehun terperanjat. "Dan Luhan melakukannya dengan sangat baik," tebaknya.
Minseok mengangguk sedih. "Sepanjang hari Putri Luhan berada di Ruang Baca dan membaca semua buku-buku itu. Saya pernah berpikir mengapa Putri tahan membaca semua buku tebal itu. Bahkan banyak di antara buku- buku itu yang menggunakan bahasa asing sehingga Putri Luhan harus mempelajari bahasa itu terlebih dulu."
"Raja Zhoumi sangat malu pada putrinya dan melarang Luhan meninggalkan Istana Vezuza. Ia juga menyuruh Luhan belajar setiap hari agar ada seorang pria yang tertarik padanya. Bukan karena kecantikkannya tetapi karena kecerdasannya," Sehun mengulang semua cerita Minseok.
"Aku tidak percaya bagaimana mungkin ia mengatakan Luhan tidak cantik? Semua orang yang melihat Luhan langsung jatuh cinta padanya, bagaimana mungkin ia mengatakannya?"
"Anda akan mengerti bila Anda tahu rupa Putri Zitao, Paduka."
"Kalau Putri Zitao lebih cantik dari Luhan, tentu akan banyak pria yang mengejarnya. Tentu saja bila ia masih hidup."
"Saya kira tidak, Paduka. Pasti lebih banyak pria yang jatuh cinta pada Putri Luhan. Putri Zitao bukan seorang gadis yang lembut, Paduka. Ia cantik tetapi ia juga mudah marah. Sedangkan Putri Luhan memiliki kecantikan yang tidak akan pernah Anda temukan di dunia ini dan ia sangat pendiam juga tenang. Andaikan Raja Zhoumi memperbolehkan Putri meninggalkan Istana Vezuza, saya yakin sejak dulu Putri Luhan telah menikah."
"Sekarang aku sudah mengerti semuanya. Terima kasih, Minseok."
"Saya senang dapat melakukannya, Paduka. Yang saya inginkan hanya dapat membuat Putri Luhan bahagia."
"Aku akan membuatnya bahagia, Minseok."
"Apakah Anda mencintai Putri Luhan?"
Sehun terkejut oleh pertanyaan yang tak terduga itu.
"Saya melihat Putri mencintai Anda. Hanya kepada Anda saja Putri mau lebih sering berbicara."
"Bagaimana kau dapat menyimpulkan hal itu hanya karena Luhan lebih sering berbicara denganku?"
"Anda akan mengerti kalau Anda melihat bagaimana diamnya Putri Luhan ketika ia tinggal di Istana Vezuza. Anda tidak perlu heran bila berhari-hari tidak mendengar suara Putri."
"Kalau melihat sikap Luhan, aku dapat mempercayainya walaupun itu rasanya sulit. Tetapi bagaimanapun juga, aku tetap akan membuatnya bahagia."
"Anda tidak akan mengurungnya seperti Raja Zhoumi, bukan?"
"Untuk apa aku mengurungnya? Aku sangat bangga mempunyai istri seperti peri. Aku ingin menunjukkan pada semua orang seperti apakah istriku itu."
"Saya lega mendengarnya. Saya yakin Putri Luhan akan senang dapat melihat dunia yang tidak pernah dilihatnya selama tujuh belas tahun hidupnya."
"Luhan masih berumur tujuh belas?" tanya Sehun tak percaya, "Orang-orang mengatakan ia lebih tua dari itu."
"Raja Zhoumi telah mengurung Putri sejak ia lahir, Paduka. Dan orang- orang itu menduga Putri Zitao adalah Putri Luhan. Rakyat Kerajaan Aqnetta saja tidak tahu kalau mereka mempunyai dua orang Putri bagaimana mungkin orang lain tahu? Putri Zitao berbeda enam tahun dengan Putri Luhan. Itu sebabnya Anda mendengar usia Putri Luhan lebih tua dari yang
sebenarnya."
Sedikitpun Sehun tidak pernah berpikir Luhan lebih muda sepuluh tahun darinya.
"Kalau tidak ada yang ingin Anda tanyakan lagi, Paduka, saya ingin menemui Kyungsoo. Ia berjanji akan mengajari saya bahasa Latin Kuno."
"Silakan, Minseok. Aku telah mendapatkan lebih banyak dari yang ingin aku ketahui. Terima kasih, Minseok."
"Saya senang dapat melakukannya, Paduka." Minseok membungkuk hormat dan meninggalkan Ruang Kerja.
Sehun menuju jendela dan memandang keluar. Tetapi yang terlihat olehnya adalah Luhan yang sedang memandang jauh.
Minseok benar. Luhan selalu terlihat tenang dan selalu memandang jauh. Di wajahnya yang tenang dan pandangannya yang jauh itu ia tampak seperti memiliki sebuah dunia sendiri.
"Tidak," bantah Sehun kepada dirinya sendiri.
Luhan tidak membentuk dunia itu. Gadis itu tidak memiliki dunia lain tetapi ia telah menjadi bagian dari alam ini di mana pun ia berada dan itulah yang membuatnya tampak tak tersentuh dan tampak begitu mistik.
Terbayang jelas di ingatan Sehun ketika ia mendapati Luhan duduk di jendela Istana Camperbelt memandang jauh ke depan. Gaun hijaunya yang cerah membuatnya tampak seperti peri alam. Wajahnya tenang menunjukkan kedamaian hatinya, pandangan matanya menerawang jauh seperti merindukan saat-saat berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Saat itu Luhan tampak menjadi bagian dari alam.
Sekarang ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia akan membuat Luhan bahagia. Ia akan melepas topeng dingin itu dari wajah cantik Luhan dan menunjukkan pada dunia wajah seorang peri yang selalu berbahagia.
.
.
.
Bermil-mil dari Istana Qringvassein, Luhan mengalami kesibukan yang luar biasa.
Orang banyak berusaha mendekatinya dan membuat para pengawal Luhan kewalahan.
Luhan tahu mereka ingin berbicara dengannya. Mencurahkan keluh kesah yang tampak di wajah mereka. Mereka mengharapkan uluran tangan Luhan sebagai seorang Ratu.
Di lubuk hatinya yang terdalam, Luhan merasa sedih. Di balik kemegahan kota Skellefreinth ternyata ada tempat yang memerlukan perhatian. Masih ada orang yang memerlukan bantuan di balik kemewahan gaya hidup Skellefreinth.
Setiap hal di dunia ini selalu memiliki kawan yang bertolak belakang. Ada yang kaya ada pula yang miskin. Ada yang benar ada pula yang salah. Ada putih ada hitam. Semua memiliki lawan.
Para prajurit membuat jalan untuk Luhan.
Beberapa pengawal mendampingi Luhan masuk ke sebuah rumah sakit yang kurang terawat. Dinding-dindingnya tidak seputih rumah sakit lainnya. Peralatan di dalamnya memerlukan banyak perbaikan.
Di dalam ketenangannya, Luhan dapat merasakan kesedihan, keharuan juga rasa senang mereka melihat kedatangannya. Prajurit-prajurit yang mengangkat kotak-kotak besar berisi bantuan mengawal Luhan hingga ke kantor Kepala Rumah Sakit itu. Mereka meletakkan dua kotak itu di lantai kemudian meninggalkan kantor itu.
"Saya merasa terhormat Anda mau datang ke tempat sekotor ini, Paduka Ratu."
"Selama masih ada yang tinggal, suatu tempat tidak dapat dikatakan kotor. Tempat ini hanya memerlukan perhatian lebih dan biaya besar untuk memperbaikinya."
Pria tua itu kagum mendengar kata-kata Luhan yang singkat tetapi penuh dengan hiburan dan perhatian.
"Perbaikan apa yang diperlukan?"
"Banyak sekali, Paduka Ratu, tetapi yang paling utama saat ini adalah obat-obatan dan tempat yang bersih," jawab Dokter Park, "Tanpa obat- obatan dan sarana yang bersih, para pasien akan sulit sembuh, Paduka."
Luhan melihat sekeliling kantor kecil itu. Di atas meja yang usang berserakan kertas-kertas. Dinding-dindingnya tampak seperti hampir roboh.
"Aku ingin melihat para pasien," kata Luhan tiba-tiba.
"Sebaiknya tidak, Paduka," Dokter Park cepat-cepat melarang, "Di sini sedang terjadi wabah penyakit menular. Saya akan merasa sangat bersalah bila Anda tertular."
Sebelum Dokter Park melarangnya lagi, Luhan berbalik meninggalkan kantor kecil itu dan menuju sebuah ruangan yang penuh berisi orang yang sedang kesakitan.
Dokter Park terkejut melihat tindakan Luhan itu. Gadis itu tidak berusaha bersikeras dengan keinginannya tetapi langsung melakukannya.
Banyak orang yang tergeletak di ruangan itu. Tidak ada tempat tidur yang baik di sana. Mereka tergeletak di lantai dan tidak terawat. Tubuh mereka yang kurus hanya dilindungi oleh sehelai selimut tipis yang kotor. Muka-muka pucat itu terkejut melihat kedatangan peri Kerajaan Skyvarrna.
Luhan melihat sinar bahagia dan terharu di wajah-wajah yang kesakitan itu. Dengan susah payah mereka berusaha mendekati Luhan. Gadis itu tidak mendekat juga tidak menjauh. Ia berdiri dengan anggunnya di tengah-tengah ruangan itu seolah-olah ingin orang-orang itu dengan semangat dan kekuatan mereka sendiri datang padanya.
Dengan susah payah akhirnya beberapa orang berhasil mendekati Luhan. Para prajurit berusaha menyingkirkan orang-orang itu dari sekitar Luhan.
Luhan berlutut dan mendekati seorang di antara mereka.
"Paduka!" cegah para pengawal Luhan dan Dokter Park bersamaan. Terlambat bagi mereka untuk mencegah Luhan menyentuh seorang pasien.
Luhan menyentuh tangan seorang wanita dan berkata, "Tempat ini juga memerlukan perawat."
Para prajurit tidak tahu bagaimana mencegah Luhan semakin mendekati mereka. Dokter Park juga tidak tahu bagaimana melarang Luhan. Pria tua itu hanya dapat berkata, "Benar, Paduka."
"Paduka," seseorang di antara mereka memanggil, "Saya kedinginan, Paduka."
Luhan melihat seorang pria muda yang tengah kesakitan itu. Perlahan-lahan Luhan bangkit. Ia melihat keinginan di wajah orang-orang itu. Mereka tidak ingin ia pergi, mereka ingin ia menemani mereka dan menghibur mereka.
"Kalian semua, tolong ambilkan selimut yang kita bawa tadi," Luhan memberi perintah dengan kelembutan yang tersembunyi di balik wajah tenangnya.
"Baik, Paduka."
Semua prajurit itu kembali ke kantor Dokter Park. Luhan kembali berlutut. Ketika ia mengulurkan tangannya pada orang-orang itu tiba-tiba tangannya dicengkeram kuat. Luhan terkejut. Tangan itu bukan tangan orang yang sakit tetapi tangan orang yang sehat.
Pria itu menariknya mendekat dengan kasar. Semua orang di ruangan itu menjerit ketakutan melihat hal itu. Pria itu menghunuskan pisau tajamnya di leher Luhan.
"Lepaskan dia!" seru Dokter Park, "Jangan kau sentuh Paduka!" Teriakan itu memanggil kembali para prajurit yang tadi disuruh Luhan. Melihat seorang pria menawan Ratu, mereka bersiap-siap menyerang. Tangan mereka telah siap menarik pedang mereka dari sarungnya.
Dengan berjalan mundur, ia berkata, "Jangan mendekat! Bila ada yang bergerak, aku akan membunuhnya. Aku tidak bercanda. Aku akan membunuhnya bila kalian bergerak!"
Tidak seorangpun yang berani mengambil resiko.
Seorang prajurit bergerak meninggalkan tempat itu. Sayang, pria itu melihatnya. Pria itu berseru, "Jangan meninggalkan tempat ini! Tidak seorang pun yang boleh meninggalkan tempat ini!"
Prajurit itu kembali ke tempatnya.
"Buang senjata kalian!" perintahnya, "Cepat buang senjata kalian! Kalian tidak ingin Ratu kalian mati, bukan?"
Semua prajurit meletakkan pedang mereka di lantai kemudian mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi.
"Sekarang kami sudah tak bersenjata," kata Siwon, "Katakan apa maumu."
Luhan melihat Kepala Prajurit Pengawal pribadinya itu berusaha mengulur waktu.
"Aku akan memberitahu kalian bila kami telah meninggalkan tempat ini dengan selamat."
Beberapa pria muncul di antara orang sakit itu dan mendekat ke teman mereka. Bersama-sama mereka bergerak mundur hingga mencapai jendela. Di luar jendela telah menanti teman mereka yang lain. Pria yang menyandera Luhan, mengangkat tubuh Luhan dan memberikannya pada temannya. Kemudian ia dan kawan-kawannya yang lain melompat pergi.
Siwon segera berlari menuju jendela tetapi terlambat. Kawanan pria itu telah melajukan kuda mereka cepat-cepat meninggalkan debu tebal yang berterbangan di jendela.
"Kejar mereka!" perintahnya.
Prajurit di dalam ruangan itu segera berlari keluar tetapi saat mereka telah berada di luar, tidak terlihat seorang pun di antara kawanan penjahat itu. Bayangan mereka pun tidak ada. Yang ada hanya jejak debu tebal yang berterbangan.
"Kita terlambat," kata Siwon geram, "Mereka akan mendapatkan balasannya bila aku berhasil menangkap mereka."
"Maafkan saya," Dokter Park merasa bersalah, "Saya tidak tahu kalau di antara para pasien ada penjahat-penjahat itu."
"Bukan salahmu, Dokter Park. Kita tidak tahu mereka berada di antara para pasien itu. Siapa pun mereka, mereka telah mengetahui Ratu akan datang ke tempat ini. Mereka benar-benar cerdik. Aku yakin merekalah yang tadi meminta selimut dan mereka menanti hingga kita semua meninggalkan Ratu sendirian."
"Apakah kalian yang di luar melihat siapa mereka?" tanya Siwon tiba- tiba.
"Tidak, Komandan. Mungkinkah mereka sekelompok pemberontak?"
"Mungkin saja."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Beberapa prajurit bertanya cemas.
"Berharap mereka tidak mencelakakan Ratu. Kita harus kembali ke Istana Qringvassein dan melaporkan hal ini pada Paduka Raja," kata Siwon tegas.
.
.
.
T B C
.
.
.
Special Thanks to ramyoon sebagai reviewer pertamaku. Makasih sayang ^^
.
.
.
Thanks To :
|alif|RZHH 261220|samiyatuara09|zoldyk|Guest|Dazzlingcloud| |mcdon al|Fa|luhannieka|younlaycious88|anna nurdjanah|khalidasalsa|Ririn ayu|hunhandeep|oh chaca|BeibiEXOl|chenma|nisa|niasw3ty|Guest|EXO-L|silmo|seul gi| |Oh Juna93|NopwillineKaiSoo|Guest|whitechrysan|ClouDyRyeoRez|Ali|rikha-chan|narahunhan9812|knj12|KiranMelodi|inzy|hunrinlu|
.
.
.
Mind To Review?
.
.
.
"030515"
