TOPENG SANG PUTERI
Editor : Han Lu
Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)
Genre : Kingdom, Romance, Family
Length : Chapter 10 0f ?
Summary :
Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.
Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.
Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.
.
.
.
DISCLAIMER :
Hai Readers, AKU KEMBALI LAGI MEMBAWA FANFIC YANG AKU AMBIL DARI NOVEL TERJEMAHAN BERLATAR BELAKANG KERAJAAN EROPA tapi tetap My Bias EXO Specially HunHan yang menjadi Main Castnya.
SEKALI LAGI AKU KATAKAN, KALO AKU NGEPOSTING FANFIC INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting fanfic di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.
NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.
.
.
.
Happy Reading ^-^
.
.
.
CHAPTER 10
.
.
.
Siwon berjalan dengan terburu-buru dan cemas menuju Ruang Kerja. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Sehun bila ia mendengar hal ini. Tetapi ia telah siap menghadapi segala hal termasuk kemarahan Sehun. Kekhawatirannya pada keselamatan Luhan telah membuatnya lupa pada semua tata cara menemui seorang Raja.
Tanpa mengetuk pintu, Siwon langsung membuka pintu dan berlutut di depan meja kerja Sehun.
"Kau sudah datang," sambut Sehun, "Bagaimana perjalanan kalian ke Kemmiyarf?"
"Maafkan hamba, Paduka. Hamba tidak dapat menjalankan tugas dengan baik."
"Kalian telah ke Kemmiyarf, bukan?"
"Hamba telah mengawal Paduka Ratu hingga beliau tiba di Kemmiyarf, tetapi hamba gagal membawanya kembali."
Sehun curiga melihat kekhawatiran di wajah Siwon. "Katakan padaku, Siwon. Apa yang telah terjadi?"
"Sekelompok penjahat membawa Ratu pergi, Paduka," Siwon menjawab hati-hati.
Sehun terhenyak kaget. "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Kalian terus berada di sisi Luhan, bukan?"
"Maafkan kami, Paduka, kami telah lengah."
"Mengapa kalian meninggalkan Luhan? Bukankah tugas kalian menjaga dan melindunginya?"
"Saat itu Ratu menyuruh kami semua mengambilkan selimut."
"Dan kalian semua pergi tanpa seorang pun mengawal Luhan?" selidik Sehun.
"Maafkan kami, Paduka. Kami mengakui kami salah. Kami telah lengah sehingga Ratu diculik oleh penjahat-penjahat itu," Siwon cepat-cepat berkata, "Saat itu Ratu berada di antara orang-orang yang sakit. Mereka semua lemah. Mereka takkan dapat mencelakakan Paduka Ratu, bahkan mereka harus bersusah payah untuk mendekati Ratu. Kami tidak menduga para penjahat itu bersembunyi di antara mereka."
"Ceritakan apa yang terjadi. Aku ingin mendengar ceritamu," kata Sehun menahan kemarahan.
Siwon menceritakan mulai dari saat mereka memasuki kawasan Kemmiyarf dan orang-orang mulai mendekati Luhan. Siwon juga menjelaskan saat mereka meninggalkan Luhan, mereka merasa hal itu aman. Tidak seorang pun di antara orang sakit itu yang dapat berdiri apalagi mencelakakan Luhan.
Sehun mendengarkan cerita Siwon dengan penuh perhatian
.
"Itulah yang terjadi, Paduka," Siwon mengakhiri ceritanya.
Tiba-tiba Sehun teringat Luhan pernah mengatakan di sekitarnya selalu ada Reischauer yang siap membunuh siapa saja yang mengancam keselamatannya. Tetapi di dalam cerita Siwon tadi, tidak disebutkan kemunculan orang lain yang tiba-tiba menyelamatkan Luhan. Kalau mereka muncul, tentu saat ini Luhan sudah berada di sini.
"Saat itu tidak muncul siapapun?" tanya Sehun antara curiga dan ingin tahu.
"Tidak, Paduka. Di sana hanya ada kami, Dokter Park, para pasien dan para penjahat itu."
Sehun ingat pasukan rahasia tidak boleh muncul begitu saja. Mereka bekerja secara rahasia. Mengingat hal itu, Sehun mulai merasa lega. "Tidak apa-apa, Siwon," katanya lega, "Mungkin sebentar lagi Luhan akan tiba di sini."
"Maksud Anda?" tanya Siwon dan Jongin bersamaan.
"Luhan pernah mengatakan padaku, Reischauer selalu berada di sekitarnya. Kurasa saat ini mereka berusaha menyelamatkannya."
"Ya, aku baru ingat itu," kata Jongin bersemangat. "Anda tidak perlu khawatir, Komandan Siwon. Saya yakin pada kekuatan pasukan rahasia Kerajaan Aqnetta itu."
"Saya rasa tidak, Paduka."
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. Dan sesaat kemudian muncul seseorang yang berbaju serba hitam di depan Sehun.
Mereka terkejut melihat kedatangan wanita itu.
"Siapa kau?" Siwon menghunuskan pedangnya.
"Letakkan senjatamu, Siwon," kata Sehun, "Ia adalah seorang dari Reischauer."
Siwon memasukkan kembali pedangnya namun matanya terus memandang curiga.
Wanita itu merasakannya tetapi ia tidak mempedulikannya. Ia tahu pria itu tidak akan dapat mengalahkannya.
"Nama saya Amber. Saya adalah Ketua dari Reischauer yang bertugas melindungi Putri."
Sehun melihat seluruh tubuh wanita itu tertutup oleh pakaian hitam hanya matanya yang tidak terlindungi oleh kain hitam itu. Sehun tidak pernah menyangka penampilan Reischauer seperti seorang pencuri.
"Dapatkah Anda menjelaskan maksud Anda itu, Nona? Bukankah kalian berada di sini untuk melindungi Luhan."
"Benar," jawab Amber tegas, "Kami di sini untuk melindungi Putri dari setiap ancaman." Wanita itu memandang tajam Jongin. "Tetapi karena kejadian kemarin, hari ini kami lebih memusatkan perhatian kami pada keamanan Istana Qringvassein."
Jongin merasakan tatapan tajam wanita itu. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.
Sehun juga merasakan tatapan tajam yang penuh curiga itu. "Dia tidak berbahaya. Ia adalah temanku dan apa yang dilakukannya pada Luhan kemarin bukanlah hal yang serius. Ia hanya ingin menggoda Luhan."
"Kami tahu," sahut Amber, "Putri telah mengatakannya pada kami kemarin malam."
Jongin lega mendengarnya.
"Tetapi," kata wanita itu tajam.
Jongin kembali merinding ketakutan.
"Kami tidak ingin mengambil resiko apa pun. Hari ini kami menyelidiki semua yang ada di Istana Qringvassein. Kami melihat banyak prajurit yang mengawal Putri dan kami tidak khawatir. Tetapi kami tidak menduga prajurit pengawal itu sedemikian lemahnya hingga Putri diculik."
"Ada katamu?" Siwon merasa terhina, "Itu bukan kesalahan kami. Kami sama sekali tidak tahu penjahat-penjahat itu berada di antara orang-orang sakit itu."
"Kalian tidak curiga pada seorang pria muda yang tegap yang meminta selimut baru padahal di sana banyak selimut?"
Siwon semakin geram. Ia tidak pernah dihina seperti ini apalagi oleh seorang wanita.
"Saya ke sini bukan untuk bertengkar dengan Anda, Komandan."
Amber kembali berkata pada Sehun, "Seperti yang saya katakan tadi, kami tidak mau mengambil resiko apapun. Karena itu saya hanya mengirim dua orang untuk mengawal Putri."
Amber melirik tajam Siwon dan berkata, "Sebenarnya, mereka sudah dapat membunuh semua penjahat itu."
Sehun yakin seorang Reischauer dapat membunuh lebih dari sepuluh orang dalam satu waktu.
"Tetapi kami tidak dapat melawan perintah," Amber menambahkan.
"Kemarin malam Putri telah meminta kami semua untuk tidak bertindak gegabah. Putri mengingatkan kerajaan ini bukan Kerajaan Aqnetta. Putri meminta kami lebih banyak menyelidiki dan mengamati. Bila ada sesuatu yang mencurigakan, Putri melarang kami bertindak. Putri ingin kami melaporkan hal itu pada Putri sendiri atau pada Anda."
"Baru saja saya mendapat laporan dari seorang di antara mereka bahwa mereka mengetahui tempat persembunyian para penjahat itu. Para penjahat itu bukan pemberontak seperti dugaan Anda. Mereka hanya penjahat biasa yang ingin memanfaatkan rasa cinta rakyat dua kerajaan kepada Putri. Dalam waktu dekat ini mereka akan mengirimkan berapa banyak mereka meminta tebusan bagi keselamatan Putri. Suatu tebusan yang dapat membuat mereka hidup mewah selama tujuh turunan."
Amber mengeluarkan secarik kertas dari balik bajunya dan melemparkannya ke arah Sehun. "Ini adalah peta tempat persembunyian mereka."
Sehun menangkapnya dan membukanya. Sebuah tempat tergambar jelas di kertas itu. Sebuah peta rumah lengkap dengan bagian-bagiannya dan tempat-tempat yang aman untuk bersembunyi juga keterangan di mana Luhan disekap dan di mana saja penjahat itu berjaga-jaga.
Sehun mengagumi kemampuan dan kecepatan Reischauer. Dengan kecepatan dan keterampilan seperti ini, tak heran bila semua orang tidak berani mengusik ketentraman Kerajaan Aqnetta apalagi Reischauer.
"Bila Anda ingin mereka masih hidup, sebaiknya Anda bergegas. Saya tidak bertanggung jawab bila seorang dari kami yang masih berjaga di sana, membunuh mereka semua."
"Aku mengerti, Amber. Luhan telah mengatakannya padaku."
"Kami akan pergi ke sana sekarang juga. Bila dalam waktu dekat kami tidak melihat kalian, kami akan bertindak."
"Satu hal yang perlu Anda ketahui, Paduka," Amber mengingatkan, "Anda tidak dapat memerintah kami. Yang dapat memberikan perintah pada kami adalah Paduka Raja Zhoumi dan di kerajaan ini hanya Putri Luhan saja yang dapat melakukannya."
"Hanya orang-orang yang dapat berbicara dengan bahasa asing itu, bukan?"
"Sebaiknya Anda bergegas, Paduka," kata Amber kemudian ia melompat keluar jendela.
Sehun bergegas menuju jendela. Baik Jongin maupun Siwon rupanya juga tidak mau ketinggalan melihat apa yang dilakukan wanita itu setelah melompat dari jendela lantai dua.
Terlihat bayangan hitam menuju pohon terdekat. Bayangan itu terus melompat ke pohon terdekat dengan cepat. Sesaat kemudian, muncul bayangan-bayangan hitam lain yang mengikuti bayangan hitam itu tadi. Mereka muncul dari segala arah seolah-olah dari segala penjuru dunia ini.
Sehun kagum melihat kecepatan mereka. Belum lama ia melihat bayangan hitam terakhir, ia melihat bayangan hitam terdekat telah jauh melampaui pintu gerbang Istana Qringvassein. Jarak gedung dan pintu gerbang Istana Qringvassein hampir dua kilometer, tetapi pemimpin mereka telah mencapainya dalam waktu satu kedipan mata.
"Kita juga tidak boleh ketinggalan," kata Sehun, "Siwon, segera temui Kangin dan perintahkan dia untuk segera menyiapkan pasukan dalam waktu singkat. Setengah jam lagi mereka harus sudah siap berangkat."
"Baik, Paduka." Siwon berlari melakukan tugas itu.
"Kau gila, Sehun," kata Jongin, "Tidak mungkin menyiapkan pasukan dalam waktu setengah jam."
"Kita tidak ingin terjadi pembantaian yang mengerikan, bukan?" kata Sehun sambil meninggalkan Ruang Kerjanya.
"Mau ke mana kau?"
"Mempersiapkan diri," jawab Sehun.
Sehun bergegas ke kamarnya dan berganti pakaian seragam militer. Siwon yang berlari-lari melakukan perintah Sehun, berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik.
Kepala Pengawal Istana terkejut mendapat tugas itu. Dengan segera ia melakukannya dan seperti yang diinginkan Sehun, sebelum setengah jam di depan Istana Qringvassein telah berbaris lebih dari dua puluh prajurit. Sehun berdiri di depan para prajurit itu.
Kangin datang mendekat. "Pasukan telah siap diberangkatkan, Paduka," lapornya.
"Kita berangkat sekarang!"
"Baik, Paduka."
Jenderal Kangin kembali ke pasukannya dan memerintahkan pasukan bersiap-siap berangkat.
Sehun segera menaiki kudanya dan memimpin pasukan meninggalkan Istana Qringvassein. Sehun melajukan kudanya dengan kencang ke hutan belakang Kemmiyarf.
Dalam peta yang diberikan Amber itu, disebutkan tempat persembunyian mereka terletak di dalam hutan itu. Tidak jauh dari Kemmiyarf.
Ketika mulai mendekati hutan itu, Sehun memperlambat laju kudanya. Dan memasuki hutan dengan hati-hati.
Sehun berhenti ketika melihat semak-semak tinggi yang seperti membentuk sebuah pagar. Ia mendekati semak-semak itu dan melihat apa yang ada di baliknya.
Seperti yang digambarkan dalam peta, tempat persembunyian para pejahat itu terlindungi oleh semak-semak yang tinggi.
Dengan tangannya, Sehun memerintahkan para prajurit turun dari kudanya.
"Sembunyikan kuda," bisik Jenderal Kangin memberikan dari para prajurit itu berlindung di balik semak-semak dan sebagian membawa kuda mereka berlindung di semak-semak yang lebih tinggi.
Melihat tidak ada seorang pun di luar rumah kecil itu, Sehun bergerak mendekat. Dengan hati-hati ia mendekati sebuah jendela dan mengintip ke dalam.
Sehun melihat Luhan duduk meringkuk di salah satu sudut rumah. Sehun lega melihat gadis itu masih selamat.
"Bagaimana, Paduka?" bisik Kangin.
"Luhan masih selamat," jawab Sehun berbisik pula. Sehun kembali mengintip ke dalam. Ia terkejut ketika seorang pria yang berjanggut tebal mendekati Luhan. Sehun mendengar pria itu berkata, "Ayolah, Manis. Mengapa kau meringkuk di situ?"
Pria itu mengulurkan tangan memegang dagu Luhan. Luhan memejamkan mata erat-erat. Ia takut melihat pria itu. Ia takut disentuh pria itu. Ia takut membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Luhan ingin melihat Sehun. Ia ingin pria itu segera datang menolongnya. Ia ingin berlindung dalam pelukan pria itu.
Sehun semakin geram ketika melihat pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan dan membuat gadis itu semakin ketakutan. Ia sudah hampir menyerbu masuk bila Kangin tidak segera memegang tangannya.
"Jangan gegabah, Paduka," kata Kangin, "Kalau Anda gegabah, mereka mungkin akan membunuh Ratu."
Sehun tidak ingin Luhan meninggal. Ia kembali melihat ke dalam. Pria itu semakin mendekati Luhan. Ia ingin mencium Luhan. Luhan tidak mau disentuh lebih lama lagi. Ia memejamkan mata erat-erat dan menendang kaki pria itu.
Pria itu meringis kesakitan karena tulang keringnya ditendang kuat-kuat oleh Luhan.
Di luar sana Sehun terkejut juga tersenyum geli melihat keberanian tindakan Luhan.
"Kurang ajar, kau!"
Sehun melihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ia terkejut ketika melihat benda itu adalah sebilah pisau. Sehun segera berdiri dan bersiap mendobrak pintu.
Pria itu menghujamkan pisau kecil itu ke tubuh Luhan, tetapi sebelum ia melakukannya seseorang telah mengalungkan pedang di lehernya. Bersamaan dengan itu muncul orang-orang berbaju hitam yang segera menyergap kelima penjahat yang lain.
Sehun belum sempat mendobrak pintu ketika semua itu terjadi. Keempat orang berbaju hitam itu muncul dengan sangat cepat dan tepat waktu.
Kesebelas penjahat itu berusaha melawan keempat orang itu. Amber yang mengalungkan pedang di leher pria yang hendak membunuh Luhan berkata, "Sebaiknya kalian menyerah sekarang juga. Kawan-kawan kalian yang di luar telah kami lumpuhkan."
Rupanya para penjahat itu tidak mau mendengarkan. Mereka mengeluarkan pedang mereka dan menyerang keempat pasukan rahasia itu. Pada saat yang bersamaan, di luar sana Sehun memberi perintah,
"Kita masuk sekarang!"
Reischauer tidak mau bermain-main dengan kesebelas pejahat itu. Amber segera memukul keras-keras kepala pria itu dengan pedangnya hingga pria itu pingsan. Ketiga anggota Reischauer yang lain segera melemparkan senjata rahasia mereka pada kelima pria itu.
Dalam waktu singkat kesebelas orang itu roboh. Seorang pingsan dan yang lain tersungkur dengan luka parah di lengan mereka.
Sehun dan pasukannya berhasil mendobrak masuk.
Melihat hal itu Amber kembali melompat ke langit-langit rumah dan menghilang diikuti yang lain.
Kangin memerintahkan para prajurit meringkus penjahat-penjahat itu. Sehun segera mendekati Luhan. "Luhan," panggilnya cemas.
Luhan tidak mempercayai pendengarannya. Ia takut membuka matanya dan mendapatkan bahwa ia tidak sungguh-sungguh mendengar suara Sehun di dekatnya.
Sehun berlutut di depan Luhan dan mengulurkan tangan memegang pundak gadis itu. "Luhan," panggilnya sekali lagi.
Luhan masih meringkuk ketakutan. Gadis itu menarik kedua kakinya semakin mendekati tubuhnya yang menggigil.
"Sekarang sudah aman, Luhan. Mereka telah berhasil diringkus." Kangin dan prajuritnya telah membawa pergi para penjahat itu.
"Semua telah kami ikat, Jenderal. Apa yang harus kami lakukan sekarang?"
Kangin melihat Sehun berusaha menenangkan Luhan. Ia berkata, "Kita tinggalkan mereka. Kita tunggu mereka di depan."
Sekelompok orang banyak itu menjauhi rumah kecil itu tetapi baik Sehun maupun Luhan tidak menyadarinya.
Sehun berkata lembut, "Mereka telah kami tangani, Luhan. Sekarang tidak akan ada lagi yang dapat membuatmu takut. Aku ada di sini."
Perlahan-lahan Luhan membuka matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah pakaian putih dengan benang emasnya kemudian ia memberanikan diri melihat wajah orang itu.
Tangis Luhan meledak melihat wajah Sehun. Seluruh kecemasannya serta merta hilang. Yang dirasakannya saat ini hanya kegembiraan luar biasa yang membuat hatinya serasa ingin meledak.
Gadis itu menjatuhkan diri di pelukan Sehun. "Sehun," panggilnya. Dan di dalam hati ia terus menerus memanggil nama pria itu. Sehun memeluk Luhan erat-erat.
"A… aku… takut…. Me… mereka…"
"Mereka telah ditangkap, Luhan. Sekarang kau tidak perlu takut lagi. Aku ada di sini dan aku akan menjagamu."
Luhan merasa sangat aman. Tidak ada lagi yang dapat membuatnya takut ketika ia berada di pelukan Sehun. Luhan senang dapat merasakan hangatnya pelukan Sehun.
"Jangan takut lagi. Aku sudah ada di sini," kata Sehun menenangkan Luhan. Sehun menciumi rambut Luhan.
"Ia… ia tadi ingin menciumku… Aku… takut sekali."
"Ia telah pergi, Luhan. Ia tidak akan dapat menciummu."
"Aku… aku takut sekali… Aku tidak mau diciumnya…"
Dengan lembut Sehun menjauhkan kepala Luhan dari dadanya dan dengan kelembutan yang sama ia mencium bibir Luhan. Luhan terkejut dan terpana melihat wajah Sehun. Sebuah kesadaran merasuki hatinya yang terdalam.
Sehun tersenyum dan berkata, "Tidak akan ada yang boleh menciummu selain aku. Hanya aku yang dapat menciummu."
Kesenangan mendengar kata yang tegas itu membuat Luhan benar-benar yakin ia tidak salah. Ia benar-benar mencintai Sehun. Air mata kembali meleleh di wajah Luhan.
Sehun kembali memeluk Luhan erat-erat. Getaran tubuh Luhan yang hebat menyadarkan Sehun pada ketakutan gadis itu yang amat dalam.
"Kau tidak perlu takut lagi, Luhan," Sehun tak henti-hentinya membisikkan kata-kata lembut yang menenangkan, "Aku di sini. Aku akan menjagaimu. Tak akan ada yang bisa menjauhkanmu dariku. Kau aman sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Tangis Luhan semakin deras. Ia menumpahkan semua ketakutannya ketika pria itu mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di depannya. Ia sangat ketakutan ketika pria itu menggendongnya ke dalam rumah dan meletakkannya di lantai. Luhan takut pria-pria yang berwajah menyeramkan itu menyentuhnya.
Sehun terus mencium rambut Luhan dan membelainya sementara gadis itu menangis di dadanya. Sehun yakin ini pertama kalinya gadis itu menangis dan ia ingin gadis itu menumpahkan semua rasa takutnya.
Ketika tangis Luhan mulai mereda, Sehun berkata lembut, "Kau lebih tenang sekarang?"
Luhan merasa pipinya memanas.
"Kalau kau sudah benar-benar tenang, aku akan membawamu kembali ke Istana."
Tangis Luhan telah mereda.
Sehun tersenyum penuh kelembutan ketika mengulurkan tangan menyeka sisa-sisa air mata Luhan. Sehun mencium sekilas mata Luhan yang masih basah – membuat rona merah muda mewarnai pipi Luhan yang masih pucat ketakutan.
Kemudian ia melepaskan baju luarnya dan mengenakannya pada Luhan. "Pakailah ini. Di luar dingin."
Luhan terus melihat Sehun.
"Kau sudah siap kembali ke Istana Qringvassein?" tanya Sehun sambil mengangkat tubuh Luhan.
Luhan melingkarkan tangan di leher Sehun dan menyembunyikan wajahnya di pundak pria itu.
Sehun membopong Luhan meninggalkan tempat itu. "Kita kembali sekarang," katanya pada Kangin yang menanti perintahnya.
"Baik, Paduka."
Seorang prajurit membawa kuda Sehun mendekat. Sehun meletakkan Luhan di depan pelana kudanya kemudian duduk di belakang gadis itu.
Merasakan kehangatan Sehun di punggungnya, Luhan segera memeluk Sehun.
Sehun menyentuh tangan Luhan yang melingkari pinggangnya kemudian melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Luhan menyembunyikan wajahnya di dada Sehun dan memejamkan mata. Ia tidak ingin melihat wajah-wajah ingin tahu semua orang. Ia tidak ingin melihat apapun. Gadis itu hanya ingin merasakan kehangatan yang menyelimutinya. Kehangatan yang memberikan perasaan aman.
Perjalanan pulang ini lebih lambat daripada keberangkatannya. Para prajurit yang mengawal mereka mengikuti Sehun dengan lambat pula. Tidak seorangpun yang keberatan berjalan lambat. Mereka semua lega Luhan selamat. Hanya itu yang ada di perasaan mereka semua.
Tidak seorangpun dapat membayangkan apa yang terjadi bila Luhan terbunuh. Hal yang paling mungkin terjadi adalah rakyat Kerajaan Aqnetta akan marah. Dan itu tidak menutup kemungkinan terjadi perang. Bila itu terjadi, Kerajaan Skyvarrna akan mengalami kesulitan terbesar untuk dapat menang.
Tetapi bukan itu yang dicemaskan Sehun. Sehun hanya memikirkan Luhan. Hanya gadis itu saja yang terpikirkan olehnya ketika Siwon memberikan laporannya. Ia begitu ketakutan kehilangan perinya. Tetapi semua itu telah berlalu. Sekarang gadis itu telah berada dalam pelukannya.
Luhan merasakan pelukan Sehun semakin erat. Gadis itu semakin menenggelamkan diri dalam perlindungan Sehun. Hari telah sore ketika mereka tiba di Istana Qringvassein.
Sehun turun dari kudanya kemudian menurunkan Luhan. Seorang berbaju hitam tiba-tiba muncul di depan Luhan. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Luhan telah memeluknya.
Amber memeluk Luhan dan berkata, "Maafkan kami, Putri. Kami tidak dapat melakukan tugas dengan baik."
Sehun memanggil seorang prajurit untuk mengembalikan kudanya ke kandang kuda.
"Saya akan membawa mereka ke tempat saya dan memeriksa mereka," kata Kangin.
"Lakukanlah," Sehun memberi ijin.
Kangin membawa para penjahat itu ke bangunan di samping Istana tempat para prajurit berkumpul.
"Kami merasa sangat bersalah, Putri," kata Amber.
"Kau telah melakukan tugasmu dengan baik, Amber," Sehun memegang pundak Luhan.
Luhan melepaskan Amber dan berbalik memeluk Sehun. "Sekarang lebih baik kau pergi ke kamar Luhan dan katakan pada Minseok kami sudah datang."
Amber melihat Luhan.
Luhan mengatakan sesuatu pada Amber. Kemudian wanita itu meloncat ke pohon dan terus melompat ke jendela kamar Luhan. Para prajurit yang ada di sekitar tempat itu terpana melihat kecepatan dan kelincahan Amber yang dengan melompat-lompat dari jendela ke pohon, telah mencapai jendela kamar Luhan dalam waktu singkat.
"Kuantar kau ke kamarmu," Sehun mengangkat Luhan. Luhan tidak berkata apa-apa. Gadis itu hanya memeluk leher Sehun.
Sehun terus membopong Luhan hingga tiba di kamar gadis itu. Di kamar, Minseok dan Kyungsoo telah menanti dengan cemas. Kedua daun pintu kamar terbuka lebar dan Kyungsoo menanti di ambang pintu sambil terus berharap melihat kedatangan Luhan.
Ketika Sehun muncul di lorong, Kyungsoo sangat senang. "Mereka datang, Minseok!" serunya.
Sehun melewati Kyungsoo juga Minseok dan terus menuju tempat tidur. Sehun membaringkan Luhan dengan hati-hati.
"Gantilah baju Luhan. Sepertinya ia kedinginan dan kelelahan."
"Baik, Paduka."
"Aku akan pergi melihat keadaan."
Sehun meninggalkan kamar Luhan dan menuju ke markas pasukan pengawal Istana di samping bangunan Istana.
"Bagaimana, Kangin?" tanya Sehun.
"Kami masih menanyai mereka, Paduka," Kangin melaporkan, "Kami baru selesai mengobati luka mereka. Seperti yang orang-orang katakan, Reischauer memang menakutkan, Paduka. Hanya seorang yang tidak luka. Ia adalah orang yang tadi berusaha mendekati Ratu. Yang lain terluka parah. Untung luka mereka terletak pada lengan, kalau tidak mereka tidak akan selamat." Kangin mengambil sebuah bungkusan dan memberikannya pada Sehun.
Sehun mengamati pisau-pisau kecil yang berlumuran darah itu. "Itu adalah pisau yang kami ambil dari lengan mereka. Pisau itu menancap cukup dalam di lengan mereka. Reischauer memang kuat. Mereka hanya melemparkan pisau itu tetapi pisau itu menancap sangat dalam seperti ditusukkan kuat-kuat."
"Kau akan lebih mengagumi mereka bila tahu yang tadi melakukannya adalah para wanita, Kangin."
Kangin terkejut. "Maksud Anda, Paduka?"
"Aku tidak yakin mereka semua adalah wanita tetapi pemimpin Reischauer yang mengawal Luhan seorang wanita. Mungkin semua Reischauer yang berada di sini adalah wanita."
"Baru kali ini saya mendengar ada prajurit wanita apalagi pasukan rahasia."
"Aku juga baru mendengarnya, Kangin. Sepertinya Kerajaan Aqnetta adalah satu-satunya kerajaan yang memiliki pasukan wanita," kata Sehun.
"Teruskan pemeriksaanmu, Kangin. Aku menanti laporannya."
"Baik, Paduka."
Sehun meninggalkan tempat itu. Ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti baju. Kemudian ia ke Ruang Kerja membereskan meja kerjanya.
Sehun membereskan meja kerja. Berkas-berkas penting disimpannya dalam laci dan menguncinya. Sehun menutup Ruang Kerja kemudian menuju kamar Luhan.
Minseok baru saja menutup pintu ketika Sehun muncul.
"Bagaimana keadaan Luhan?"
"Paduka Ratu baik-baik saja. Tetapi ia tidak mau makan walau hanya sedikit. Saya baru saja menyuruhnya beristirahat tetapi saya rasa Paduka Ratu tidak mau. Ia terus meringkuk ketakutan."
"Bawa kembali makanan untuk Luhan. Aku akan membujuknya."
"Baik, Paduka," kata Minseok senang, "Saya juga akan membawakan makanan untuk Anda. Saya yakin Anda belum makan."
Sehun memasuki kamar Luhan. Ia melihat tubuh mungil meringkuk ketakutan di sudut tempat tidurnya dan bersandar di dinding. Sehun mengerti apa yang dirasakan Luhan.
Selama ini hidup gadis itu selalu tenteram dan damai. Tidak ada bahaya yang dapat mengancamnya apalagi menyentuhnya. Sekarang tiba-tiba saja ia ditawan sekelompok penjahat. Hal itu mengguncangkan ketenangan hatinya. Gadis yang selalu tenang itu seperti kehilangan topeng dinginnya dan menunjukkan wajahnya yang penuh ketakutan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Special Thanks to artiosh sebagai reviewer pertamaku. Makasih sayang ^^
.
.
.
Thanks To :
|Dazzlingcloud|DEERHUN794|samiyatuara09| |moo|younlaycious88|HunHan|NoonaLu|mcdon al|BeibiEXOl|hunexohan|luhannieka|khalidasalsa|niasw3ty|Alif|RZHH 261220|Guest|zoldyk|Oh Juna93|ramyoon|edogawa ruffy|kimyori95|KiranMelodi|chenma|Guest|whirlbambi|oh chaca|3678fans - EXO|Ririn Ayu|lee irma|ruixi1|novi|lovehunhan|Fatan|NopwillineKaiSoo|AprilianyArdeta|15|RereYunjae Pegaxue|seul gi shin|SFA30|whitechrysan|
.
.
.
Mind To Review?
.
.
.
"090515"
