TOPENG SANG PUTERI

Editor : Han Lu

Main Cast : Oh Se Hun, Lu Han (HunHan)

Genre : Kingdom, Romance, Family

Length : Chapter 11 0f ?

Summary :

Sehun, seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Skyvarrna. Baru saja diangkat menjadi seorang Raja demi menggantikan Ayahandanya yang telah wafat. Demi kepentingan rakyatnya Sehun ingin menyatukan Kerajaannya dengan Kerajaan Aqnetta.

Konon sejak Kerajaan Aqnetta berdiri, banyak yang berusaha menguasainya tetapi tidak pernah ada yang berhasil. Dan sampai sekarang hal itu tidak pernah terjadi. Kekuatan militer Aqnetta tidak dapat diabaikan. Kekuatan militernya yang tangguh itulah yang membuatnya tetap damai dalam kebebasannya. Siapapun yang ingin menyerang Kerajaan Aqnetta selalu berpikir berulang kali. Apalagi terdengar adanya kabar bahwa Kerajaan Aqnetta mempunyai sekelompok pasukan rahasia yang tiada tandingnya.

Akhirnya Sehun memutuskan untuk melamar Sang Putri Mahkota Kerajaan Aqnetta dengan niat untuk menyatukan dua kerajaan. Namun siapa menduga rencananya ini akan membawanya ke dalam kisah cinta yang indah.

.

.

.

DISCLAIMER :

Hai Readers, AKU KEMBALI LAGI MEMBAWA FANFIC YANG AKU AMBIL DARI NOVEL TERJEMAHAN BERLATAR BELAKANG KERAJAAN EROPA tapi tetap My Bias EXO Specially HunHan yang menjadi Main Castnya.

SEKALI LAGI AKU KATAKAN, KALO AKU NGEPOSTING FANFIC INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting fanfic di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.

NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 11

.

.

.

Sehun mendekati Luhan.

Merasakan kehadiran Sehun di sampingnya, Luhan mengulurkan tangannya yang gemetaran.

Sehun duduk di tempat tidur dan memeluk Luhan. "Mengapa kau meringkuk di pojok?"

Sebagai jawabannya, Luhan mempererat pelukannya.

"Kata Minseok kau tidak mau makan. Aku juga belum makan malam. Bagaimana kalau kita makan bersama?"

Luhan tidak menanggapi.

"Sekarang Minseok mengambilkan makanan untuk kita. Tak lama lagi ia akan datang," Sehun melanjutkan.

Luhan masih tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu bersandar di dada Sehun dan dengan tenang merasakan tangan kekar yang memeluknya.

Terdengar ketukan di pintu.

"Kurasa Minseok yang datang."

Minseok muncul dengan wajah berseri-seri. Ia membawa nampan yang penuh berisi makanan. Kyungsoo muncul dari belakang wanita tua itu. Di tangannya terdapat nampan yang lain.

Kedua wanita itu mengatur makanan di meja tengah kamar Luhan. "Makan malam telah siap, Paduka," kata Minseok.

Dengan gerakan tangannya, Sehun meminta mereka meninggalkan kamar.

Sehun mengangkat Luhan dan mendudukkan gadis itu di kursi. Lalu ia duduk di samping gadis itu.

"Minseok membawa banyak makanan untuk kita, Luhan. Kau mau makan apa?"

Luhan melihat makanan di meja itu tanpa nafsu. Semua yang dibawakan Minseok adalah makanan kesukaannya tetapi saat ini ia sedang tidak ingin makan. Rasa takut menyerap semua keberaniannya.

Di pikirannya masih terbayang bagaimana wajah-wajah menakutkan itu menatapnya. Bagaimana pandangan mereka yang membuat Luhan bergidik. Luhan masih dapat merasakan keinginan untuk memberontak dari tangan yang memeluk tubuhnya itu. Luhan masih teringat ketika seorang di antara

mereka memeluk tubuhnya sementara ia mengendalikan kuda. Luhan mengulurkan tangannya yang gemetaran semakin hebat. Sehun cepat-cepat menangkap tangan itu dan berdiri di samping Luhan.

"A…aku… takut…"

"Tidak ada yang perlu ditakutkan, Luhan." Sehun merasakan tangan Luhan mencengkeram lengannya kuat-kuat. "Baiklah, Luhan. Kalau kau tidak mau makan, aku tidak akan memaksamu."

Sehun yakin baik Minseok maupun Kyungsoo masih berjaga-jaga di depan pintu. "Minseok," panggilnya.

"Ada apa, Paduka?" tanya Minseok.

"Maaf membuatmu kecewa, Minseok. Kami tidak jadi makan."

"Saya mengerti, Paduka," kata Minseok tetapi wajahnya menunjukkan kekecewaannya. Ia dan Kyungsoo kembali membawa pergi nampan itu.

Sehun membopong Luhan kembali ke tempat tidur. "Tidurlah, Luhan. Aku akan memanggil Minseok."

Luhan mencengkeram lengan baju Sehun kuat-kuat.

Seperti waktu mereka berada di kapal, Sehun melihat Luhan tidak mau ia pergi. Tetapi kali ini Luhan tidak mau melepaskan baju Sehun. Ia memegang tangan Sehun erat-erat.

Sehun kembali duduk di samping Luhan dan memeluk gadis itu. "Tidak ada yang perlu kau takutkan, Luhan. Sekarang kau sudah aman. Tidurlah dan lupakan semua yang terjadi hari ini."

"Aku… takut…"

"Jangan takut, Luhan," kata Sehun lembut, " Para prajurit berjaga-jaga di luar sana. Mereka tidak akan mengijinkan seorang pun memasuki Istana."

Luhan masih tidak mau melepaskan Sehun.

"Reischauer juga menjagamu, bukan? Mereka selalu siap melindungimu dari setiap ancaman."

"Aku… takut sendirian."

"Kau tidak sendirian, Luhan. Reischauer ada di sekitarmu. Kalau kau masih takut, aku akan menyuruh Kyungsoo atau Minseok menemanimu."

Luhan menggeleng. "Aku…aku ingin… kau menemaniku."

"Baiklah, aku akan menemanimu sampai kau tertidur." Sehun hendak membaringkan Luhan di tempat tidur tetapi gadis itu tidak mau melepaskannya.

"Aku… aku… ingin kau… menemaniku sampai… pagi," kata Luhan malu-malu.

Sehun tersenyum. Ketakutan telah merobohkan semua ketenangan Luhan. "Baiklah, Luhan. Sekarang berbaringlah. Aku akan menjagamu di sini."

Luhan tidak mau melepaskan Sehun.

"Kalau kau tidak mau melepaskanku, aku tidak akan dapat mengambil kursi untuk tempat aku duduk sampai pagi."

Luhan masih terus melingkarkan tangannya di pinggang Sehun dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.

"Baiklah," kata Sehun mengalah. Sehun membaringkan Luhan ke sisi dalam tempat tidur kemudian berbaring di samping gadis itu.

Luhan terbelalak menatap Sehun.

"Tidak apa-apa, Luhan. Ranjang ini cukup besar untuk kita berdua. Di samping itu aku suamimu bukan orang lain. Aku tidak melakukan kesalahan bila tidur bersama istriku," kata Sehun tenang, "Kau tidak mau melepaskanku dan hanya ini cara agar aku dan kau dapat tidur nyenyak. Kau membutuhkan banyak istirahat setelah kejadian hari ini."

Luhan mulai melepaskan pelukannya tetapi Sehun semakin mempererat pelukannya.

"Aku tidak akan melepaskanmu, Luhan. Aku hanya akan memelukmu sepanjang malam sampai pagi," kata Sehun meyakinkan Luhan.

Jantung Luhan berdebar kencang.

"Katakan padaku seperti apa rupa kakakmu, Luhan?" Sehun berusaha mengalihkan perhatian Luhan dari ketakutannya.

"Dari mana kau mengetahuinya?"

Sehun senang mengetahui ia berhasil. Perasaan tajam Luhan telah kembali dan membuat gadis itu curiga.

"Minseok yang mengatakannya padaku. Ia menceritakan banyak hal padaku," jawab Sehun jujur.

"Ia sangat cantik. Rambutnya selalu menyala merah dan mata hijaunya selalu bersinar penuh semangat. Ia selalu terlihat bersinar terang," kata Luhan mengenang kakaknya.

"Di manapun ia berada, ia selalu menjadi pusat perhatian," tambah Sehun.

Luhan mengangguk membenarkan.

"Bagiku kau lebih cantik dan mempesona, Luhan. Kakakmu mungkin selalu bersinar terang tetapi kau bersinar lembut. Kakakmu menjadi perhatian semua orang tetapi semua orang merasakan kelembutan sinarmu."

"Kau belum melihatnya."

"Aku tetap berkeyakinan kau yang paling cantik," Sehun bersikeras, "Kau belum menceritakan padaku sejarah keberadaan Reischauer."

Luhan terdiam.

"Maukah kau menceritakannya sekarang? Aku sangat ingin tahu. Aku berpikir Kerajaan Aqnetta adalah satu-satunya kerajaan yang memiliki pasukan wanita, apakah itu benar?"

Luhan mengangguk.

"Menarik sekali. Bagaimana itu bisa terjadi? Aku belum pernah melihat seorang prajurit wanita."

"Itu semua terjadi beratus-ratus tahun lalu."

"Apa yang terjadi waktu itu?" Sehun berusaha membuat Luhan berkata lebih banyak lagi.

Luhan menengadah menatap Sehun lekat-lekat dan tanpa melepaskan pandangannya, ia berkata, "Pemberontakan, kemunculan Perwira Muda wanita pertama dan pernikahannya dengan Raja Hangeng."

"Siapakah wanita muda yang pertama kali menjadi seorang Perwira itu?"

"Ratu Sooyeon."

Mendengar nama itu, Sehun menjadi semakin ingin tahu siapakah Ratu itu.

Seperti tahu apa yang dipikirkannya, Sehun mendengar Luhan berkata, "Ia adalah Ratu yang mendirikan pasukan rahasia kami, Reischauer. Ia juga adalah prajurit terbaik pada masanya. Ia adalah orang yang mengetahui markas pemberontak itu dan ia pula yang menangkap mereka."

"Ia pasti seorang wanita yang mampu membuat siapa saja terpesona."

"Ia sangat cantik, seperti Zitao," Luhan setuju.

"Aku menjadi semakin tertarik mengetahui latar belakang berdirinya Reischauer."

Sehun melihat pandangan mata serius Luhan yang untuk pertama kali dilihatnya. Sesaat ia menduga Luhan tidak mau mengatakannya. Ia sedikit terkejut ketika gadis itu mengatakan sesuatu yang lain dengan yang ada di pikirannya.

"Kuharap kau mau menerima kenyataannya."

Sehun tidak mengerti apa yang dikatakan Luhan tetapi ia mendengarkan dengan baik cerita Luhan.

"Pasukan ini didirikan tiga ratus tahun lalu oleh Perwira wanita pertama kami, Sooyeon. Beliau kemudian menikah dengan Raja Hangeng dan menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta. Ratu Sooyeon adalah wanita yang cerdas. Ia mendirikan Reischauer tetapi tidak semua ilmunya diturunkan pada pasukan itu. Seorang Putra Mahkota sejak lahir dididik untuk menjadi pewaris Kerajaan Aqnetta sekaligus pemimpin Reischauer."

"Ratu Sooyeon khawatir pasukan Reischauer suatu hari nanti dipengaruhi orang dan memberontak karena itu ia hanya menurunkan ilmu tertinggi dalam ninja, Kobadera pada Putra Mahkota. Karena di Jepang, seorang pemimpin haruslah laki-laki, maka pemimpin Reischauer adalah laki-laki. Untuk mencegah perebutan kekuasaan, maka putra pertama yang lahir adalah Putra Mahkota Kerajaan Aqnetta sekaligus calon pemimpin tertinggi Reischauer."

"Bila tidak ada pemberontak itu, maka tidak akan pernah ada Reischauer dan tidak seorang pun yang tahu bahwa Perwira Muda yang saat itu menjadi pusat perhatian tiap orang adalah seorang gadis. Dan semua ini ada hubungannya dengan Raja Kerajaan Skyvarrna yang hidup tiga ratus tahun lalu, pada saat munculnya pemberontakan di Kerajaan Aqnetta, Raja Kyuhyun"

Luhan mendengar desahan terkejut Sehun tetapi ia tetap melanjutkan.

"Dari hasil penyelidikan terhadap para pemberontak itu diketahui mereka mendapat pasokan senjata dari Kerajaan Skyvarrna. Diketahui pula Raja Kyuhyun bermaksud memanfaatkan keberadaan pemberontak itu untuk menguasai Kerajaan Aqnetta. Namun sayang setelah membantu mengembangkan markas Kirshcaverish selama dua tahun lebih dan dengan biaya yang tidak sedikit, pemberontakan itu berhasil digagalkan."

Sehun dapat mengerti apa yang berada di pikiran leluhurnya itu hingga melakukan hal selicik ini.

Ketangguhan Kerajaan Aqnetta bukan lagi rahasia sejak kerajaan itu didirikan tetapi itu tidak berarti melemahkan keinginan Raja Kyuhyun untuk menguasai Kerajaan Aqnetta yang sejak beratus-ratus tahun lalu menjadi incaran kerajaan-kerajaan besar.

Raja Kyuhyun mengira dengan menghasut pemberontak itu dan memberi bantuan senjata pada mereka, ia akan dengan mudah menguasai Kerajaan Aqnetta. Di saat Kirshcaverish melakukan pemberontakan mereka, Raja Kyuhyun bermaksud mengirimkan bala bantuan untuk Kirshcaverish. Tetapi bukan berarti ia akan membantu begitu saja. Setelah berhasil menggulingkan Raja, ia akan memukul balik Kirshcaverish dan menguasai Kerajaan Aqnetta.

Sayang, rencana besar yang hampir berhasil itu gagal karena adanya seorang Perwira Muda Kerajaan Aqnetta yang cantik. Sooyeon, demikian nama Perwira itu. Seperti arti namanya, ia adalah bola api. Bola api yang membakar habis seluruh markas Kirshcaverish di Hutan Naullie. Sendirian ia menyusup ke hutan itu dan ia pula yang memanahkan panah api ke markas Kirshcaverish. Putri bola api itu menyelamatkan Kerajaan Aqnetta dari pemberontakan. Ia kemudian menikah.

Peristiwa ini sebenarnya sudah merupakan alasan yang cukup untuk menyerang Kerajaan Skyvarrna. Tetapi Ratu Sooyeon tidak mau melakukannya. Raja Hangeng juga sependapat dengan istrinya. Peperangan dengan Kerajaan Skyvarrna hanya akan membuat rakyat menderita.

Bahkan Raja Hangeng bersikap seolah-olah Raja Kyuhyun tidak pernah membantu Kirshcaverish melakukan pemberontakan. Ia menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Skyvarrna. Dan melarang setiap orang menyebarkan hal ini pada siapapun.

Sejak itu tidak seorangpun di luar Istana yang tahu ada siapa dibalik Kirshcaverish. Hal ini telah menjadi rahasia Raja Hangeng dan Ratu Sooyeon hingga kini. Bahkan Raja Zhoumi tidak tahu bahwa di masa lalu Kerajaan Skyvarrna pernah mencoba menguasai Kerajaan Aqnetta.

Luhan juga takkan pernah mengetahuinya bila ia tidak secara tidak sengaja menemukan laporan penyelidikan Kirshcaverish yang dibuat oleh Ratu Sooyeon di Perpustakaan Istana.

Dari situ Luhan mengetahui bahwa ketika keberadaan Kirshcaverish diketahui, tidak seorangpun di luar Istana yang mengetahuinya. Ratu Sooyeon yang saat itu masih seorang Perwira Muda melarang menyarankan untuk tidak memberitahu rakyat. Ia khawatir hal itu akan membuat setiap orang panik.

Rakyat Kerajaan Aqnetta baru mengetahui adanya sekelompok pemberontak di Hutan Naullie ketika pemimpin pemberontak itu ditangkap. Saat itu pula mereka juga baru tahu bahwa Perwira Muda yang selama ini menjadi pujaan setiap wanita di Kerajaan Aqnetta adalah seorang gadis.

Perwira Sooyeon yang saat itu baru delapan belas tahun telah menjadi seorang Kepala Pengawal Istana. Ketangguhannya telah diakui Raja Hangeng sejak ia masih lima belas tahun. Ketangguhannya itu diperolehnya dari seorang Jepang yang tinggal di rumahnya sejak ia lahir, Kenichi.

Kenichi adalah seorang ninja. Ia menurunkan ilmunya itu pada Ratu Sooyeon sejak ia masih kecil. Setelah menikah, Ratu Sooyeon mulai berpikir pentingnya pasukan rahasia bagi Kerajaan Aqnetta. Ia pun membentuk Reischauer. Kepada merekalah Ratu Sooyeon menurunkan ilmunya.

Sehun termangu-mangu mendengar cerita Luhan itu. Cara Luhan mengatakan campur tangan leluhurnya dalam pemberotakan itu menunjukkan hal itu tidak berarti apa-apa. Gadis itu mengucapkannya dengan tenang dan perlahan. Dalam suaranya yang merdu tidak terdapat nada marah atau pun dendam.

Tetapi Sehun tetap merasa bersalah atas kelicikan leluhurnya dan ia berterima kasih pada kebijaksanaan Raja Hangeng yang memutuskan untuk tidak menyerang Kerajaan Skyvarrna. Andaikan itu terjadi, Sehun yakin Kerajaan Skyvarrna tidak akan selamat. Dan saat ini tidak akan ada Kerajaan Skyvarrna.

"Ijinkanlah aku atas nama leluhurku meminta maaf atas semua tindakannya yang licik itu."

Luhan memandang Sehun. "Semua telah dimaafkan tiga ratus tahun lalu," kata gadis itu singkat tetapi cukup menghibur Sehun.

Andaikan Raja Zhoumi mengetahuinya juga, Sehun dapat memastikan ia tidak akan menerima lamarannya pada putrinya. Sehun sangat bersyukur Luhan tidak mengatakan apa-apa pada ayahnya.

"Biarkan apa yang mereka rahasiakan ini terus menjadi rahasia," kata Luhan ketika mengetahui apa yang dipikirkan Sehun.

Tiba-tiba Sehun tertawa geli. "Kurasa Minseok benar. Kau selalu dapat mengetahui apa yang orang lain rasakan. Tetapi ada yang terasa ganjil bagiku. Kalau seorang Putra Mahkota Kerajaan Aqnetta selalu laki-laki, mengapa…" Sehun tiba-tiba ragu-ragu melanjutkan.

"Aku menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta?" sambung Luhan. Kembali Sehun melihat pandangan jauh Luhan.

"Langit tidak berbatas, kita tidak akan pernah tahu di mana batasnya," kata Luhan.

"Apakah kau bermaksud mengatakan kau tidak tahu kalau kau ternyata menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta?"

"Kalau Yifan menjadi seorang Raja, itu tidak mungkin. Seorang Raja Kerajaan Aqnetta adalah pemimpin Reischauer. Dan untuk menjadi pemimpin Reischauer, ia harus dididik sejak lahir. Yifan tidak mendapatkan itu. Tidak pernah terjadi seorang Raja tidak memiliki anak laki-laki. Sejak dulu aku adalah Putri Mahkota dan hingga aku mempunyai anak laki-laki, ayahanda akan tetap menjadi pemimpin Reischauer. Hanya itu cara yang aman."

Sejak kematian kakaknya, Luhan sudah tahu kelak ia akan menjadi Ratu Kerajaan Aqnetta. Tetapi ayahnya lebih suka mengakui Yifan sebagai calon penggantinya. Raja Zhoumi juga Yifan mempunyai niat menikahkan Yifan dengan Luhan sehingga kedudukan Yifan sebagai Raja akan menjadi kuat di hadapan rakyat.

Tidak seorangpun tahu rencana mereka selain Luhan. Tetapi Luhan tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Ia juga tidak berniat memberitahukan rencana ayahnya itu pada Sehun.

Bila Sehun tidak melamarnya, sekarang atau mungkin tak lama lagi ia menjadi istri Yifan. Tetapi sekarang ia telah menjadi istri Sehun.

"Aku merasa tidak adil, Luhan," kata Sehun bersalah, "Aku telah mengetahui masa kecilmu tetapi kau tidak mengetahui apa pun tentang diriku. Aku ingin menceritakannya padamu tetapi kupikir kau pasti telah mengetahuinya."

Luhan hanya mengangkat bahunya.

"Aku tidak menghafalkan semua buku perpustakaan seperti yang kau lakukan. Aku yakin kau telah mengetahui semua hal di dunia ini dan semua bahasa kau ketahui. Kau memiliki apa yang orang lain inginkan. Kau peri cantik yang serba tahu."

Luhan menyembunyikan wajah di dada Sehun dan bergumam lirih, "Aku tidak memiliki kebebasan."

Luhan terkejut ketika Sehun tiba-tiba melepaskannya. Tanpa disadarinya, tangannya telah mencengkeram lengan Sehun kuat-kuat.

Sehun tersenyum pada Luhan dan berkata, "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku hanya ingin

menyelimutimu. Kau tidak mau kedinginan, bukan?"

Luhan melepaskan lengan Sehun. Tangannya berganti mencengkeram baju Sehun. Luhan masih takut ditinggalkan sendiri. Gadis itu diam saja ketika Sehun menarik selimut ke atas tubuh mereka berdua.

Ketika Sehun kembali berbaring di sampingnya, Luhan melepaskan baju pria itu dan kembali memegang tangannya.

Tangan Sehun melepaskan pegangan Luhan dan memeluk gadis itu. "Tidurlah," bisiknya lembut, "Hari ini kau mengalami banyak kejutan dan sekarang saatnya untuk tidur dan melupakannya. Aku akan menjagamu sepanjang malam. Aku akan terus memelukmu seperti ini agar kau tahu aku selalu ada di sisimu."

Di dalam pelukannya, Sehun merasakan kepala Luhan bersandar lemah di dadanya dan perlahan-lahan gadis itu memasuki alam mimpinya.

Ketika ia yakin gadis itu telah tertidur, Sehun juga berharap dapat tertidur. Tetapi sang dewa mimpi tidak mengijinkannya. Sehun sama sekali tidak merasa mengantuk.

Berbagai macam kejadian hari ini terlintas kembali di benaknya.

Perlahan-lahan Sehun meletakkan kepala Luhan di bantal dan menyandarkan punggung di tepi

ranjang yang tinggi di belakangnya. Tangannya terus memeluk Luhan dan merasakan nafas lembut Luhan yang teratur.

Hari ini Sehun telah melihat wajah di balik topeng Luhan. Hari ini Luhan telah menunjukkan jiwa manusianya yang lain. Di waktu lalu ia melihat Luhan yang sedang tertawa bahagia. Hari ini wajah yang penuh ketakutan.

Di balik topeng tenangnya yang dingin, Luhan menyimpan semua perasaannya. Apakah perasaan itu akan cepat hilang seperti ketika mereka berada di Panti Carmell?

Saat meninggalkan Panti Carmell, Luhan kembali menjadi gadis yang tenang dan pendiam. Sehun tidak ingin besok pagi Luhan kembali menjadi peri bertopeng. Tetapi bagaimana cara membuat Luhan melepaskan topeng itu untuk selama-lamanya, Sehun tidak tahu.

Tiba-tiba Luhan bergerak semakin merapatkan dirinya. Gadis itu seolah-olah ketakutan dan berusaha mencari keamanan dalam pelukan Sehun.

"Kau memang selalu serba tahu," gumam Sehun geli, "Saat tidurpun kau tahu aku tidak berbaring di sisimu."

Sehun mencium dahi Luhan dan kembali berbaring di samping gadis itu. Sehun tersenyum ketika dalam tidurnya, Luhan memeluknya. Sekali lagi Sehun mencium dahi Luhan lalu mencoba melupakan semua kerisauan pikirannya dan membiarkan dewa mimpi membuainya.

.

.

.

Pagi harinya ketika Sehun terbangun, Sehun melihat Luhan tidak ada. Sehun meloncat duduk karena kagetnya.

"Di mana Luhan?" tanyanya panik.

Sehun mencoba menenangkan diri dan memikirkan tempat yang paling mungkin didatangi Luhan sepagi ini.

Teringat oleh Sehun kebiasaan Luhan bila ia mempunyai waktu luang. Gadis itu selalu berada di taman bunga Istana. Setiap ada waktu senggang, Luhan menyibukkan diri untuk merawat bunga-bunga itu.

Sehun bergegas turun mencari Luhan.

.

.

.

Luhan terbangun. Ia tidak tahu apa yang membuatnya terbangun. Luhan merasakan sebuah tangan melingkari pinggangnya. Teringat kembali olehnya peristiwa tadi malam yang membuat Sehun tidur

bersamanya.

Pipi Luhan memerah malu. Ditatapnya Sehun yang terus tidur tanpa merasa terganggu oleh bangunnya Luhan.

Semalaman ia terus memeluk Luhan dan sama sekali tidak melakukan yang lain selain itu. Luhan percaya pria itu melakukan kata-katanya.

Tiba-tiba tercium oleh Luhan wangi bunga. Luhan merasa bunga-bunga di bawah sana memanggilnya.

Perlahan-lahan ia melepaskan diri dari pelukan Sehun dan meninggalkan tempat tidur.

Ketika melihat bayangan dirinya di cermin, wajah Luhan kembali memerah. Ketika semalam tidur di samping Sehun, ia sama sekali tidak sadar ia mengenakan gaun tidur sutra lembut yang menempel di tubuhnya dan menunjukkan bentuk tubuhnya yang sempurna.

Ketika tercium kembali wangi bunga di taman, Luhan merasa bunga-bunga itu tidak sabar menantinya. Ia bergegas meraih mantel panjangnya dan menuju taman.

Luhan terpesona melihat taman bunga itu. Ia tidak tahu apa yang membuat taman bunga itu tampak

lebih indah dari biasanya. Hatinya yang sedang diselimuti kebahagiaan cinta ataukah karena bunga-bunga itu sedang tersenyum padanya.

Luhan merasa kedua hal itulah sebabnya. Bunga-bunga di sekitarnya memberikan senyuman mereka yang paling indah dan ikut merasakan kebahagiaan Luhan. Mereka menunjukkan warna-warni mereka yang cemerlang walau saat ini musim dingin semakin dekat.

Tengah Luhan sibuk merasakan sapaan bebungaan itu, ia merasa seseorang berada di dekatnya dan memandangnya.

Luhan membalikkan badan dan melihat Sehun sedang tersenyum padanya sambil merentangkan kedua tangannya.

Seolah-olah terpanggil, Luhan berlari menjatuhkan diri di pelukan Sehun.

"Aku senang dapat menemukanmu. Kupikir kau hilang lagi. Kalau kau benar-benar hilang, aku takkan tahu harus berbuat apa. Aku senang dapat memelukmu lagi, cintaku."

Sehun merasakan tubuh Luhan tiba-tiba menegang. Sehun merasa tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan.

"Aku mencintaimu, Luhan," Sehun memberikan pengakuannya dengan lembut, "Kukira aku telah merasakannya ketika aku melihatmu di upacara pernikahan kita. Aku baru yakin ketika di kapal kau tiba-tiba sakit. Saat itu aku ingin segera mencapai daratan. Aku tidak memikirkan kerusakan kapal. Yang kuinginkan hanya kau segera sembuh. Dan ketika aku menjagaimu siang itu, aku semakin yakin pada perasaanku."

Luhan terus menatap Sehun tanpa mengatakan apa-apa.

"Kau tidak perlu terganggu dengan cintaku, Luhan. Aku tidak ingin kau merasa terganggu, aku hanya ingin membuatmu merasakan besarnya cintaku padamu. Dan kelak aku berharap, aku berhasil membuatmu mencintaiku seperti aku mencintaimu."

Sehun melihat air mata mulai menuruni pipi Luhan yang halus. "Mengapa kau menangis, sayang?" tanyanya lembut sambil menghapus air mata itu dari wajah Luhan.

Luhan mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini aku jadi mudah menangis. Aku

terlihat cengeng."

"Tidak," bisik Sehun lembut, "Kau gadis yang paling tenang yang pernah kutemui."

"Juga membosankan," sahut Luhan.

"Membosankan kalau kau terus diam dan tenang," Sehun menyetujui, "Tetapi dengan sikap tenang dan diammu itu, kau menjadi semakin menarik. Kau seperti menjadi bagian dari alam ini dan membuatmu tampak penuh misteri dan mistik. Kau seperti peri mungil yang selalu bersinar di hatiku,

Luhan."

Luhan tersenyum bahagia dan memeluk Sehun.

Sehun terkejut ketika mendapatkan pelukan tiba-tiba yang tak diduganya itu.

"Kau tidak perlu membuatku jatuh cinta, Sehun. Tidak perlu karena aku telah mencintaimu. Aku sangat mencintaimu hingga aku merasa tidak sanggup menahannya lebih lama lagi."

Sehun tersenyum bahagia kemudian mencium Luhan dengan penuh perasaan cinta.

Untuk pertama kalinya bibir Luhan melembut dan menerima ciuman itu. Seluruh topeng dingin Luhan seolah-olah terlepas dan membuat gadis itu menunjukkan semua cintanya lewat hatinya dan ciuman-ciumannya.

Tiba-tiba Sehun menjauhkan bibirnya dari bibir Luhan yang terbuka dan seperti mengundang itu."Pagi ini udara sangat dingin. Tidak baik untukmu kalau aku membuatmu terus berada di sini. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan berganti baju. Setelah sarapan, aku akan mengajakmu pergi berjalan-jalan. Hanya kita berdua tanpa orang lain."

Luhan memandang Sehun dengan cemas.

"Aku membatalkan semua kegiatan kita untuk hari ini. Mereka pasti mengerti kalau aku ingin menghabiskan hari ini hanya dengan istriku yang tercinta." Sehun kembali mencium Luhan dan berkata, "Kali ini aku akan mengantarmu ke kamarmu dan memastikan kau tidak pergi meninggalkanku lagi."

"Aku tidak bermaksud pergi," Luhan membela diri tetapi Sehun tidak mendengarkannya. Pria itu mengangkat tubuh Luhan dan mengantarkannya sampai di kamar.

Seperti yang dikatakan Sehun, seusai sarapan seekor kuda telah menanti di depan pintu masuk.

Minseok membawakan mereka sekeranjang besar makanan. Ketika memberikannya pada Luhan, wanita tua itu berkata, "Kalian belum pernah berpiknik bersama. Sekarang saat yang tepat. Angin musim gugur yang sejuk. Daun-daun yang berguguran. Sinar matahari yang hangat. Semua itu akan membuat suasana jadi romantis."

Minseok tersenyum bahagia kemudian melepaskan Luhan ke dalam pelukan Sehun yang segera membimbing gadis itu ke kuda yang telah menanti mereka.

Luhan kebingungan melihat kuda itu.

"Kita akan berkuda," Sehun memberikan penjelasan singkat kemudian menaikkan Luhan ke punggung kuda.

"Suatu hari nanti aku akan mengajarimu menunggang kuda," kata Sehun ketika mereka mulai meninggalkan Istana Qringvassein.

"Tidak perlu," kata Luhan tenang, "Aku lebih suka seperti ini." Luhan menyandarkan badan di tubuh Sehun.

"Aku merasa dibohongi, Luhan," kata Sehun. Sehun melihat senyum tipis di wajah Luhan yang tenang itu dan melanjutkan, "Tetapi tidak apa-apa karena aku juga suka berjalan-jalan seperti ini." Sehun mempererat pelukan sebelah tangannya di pinggang Luhan.

Pagi ini ia telah menyadari satu hal. Minseok benar, Luhan tidak dingin dan tidak mengenakan topeng apa pun. Luhan adalah gadis yang tenang namun memiliki hati yang sangat lembut. Di balik sikap tenang dan pendiamnya, ia menyimpan semua perasaannya. Hanya pada saat tertentu saja ia menunjukkannya. Seperti pada saat yang penting saja, Luhan baru berbicara panjang Sehun tidak merasa kecewa. Seperti yang dikatakannya, itulah yang membuat Luhan seperti berada di dalam dunia perinya yang penuh keajaiban dan misteri. Itulah yang membuat perinya semakin berbeda dari peri yang lain. Sehun mencintai perinya itu melebihi apa pun di dunia ini.

Seperti yang dikatakan Jongin, ia telah berjudi dan ia mendapatkan lebih dari harapannya. Sehun mendapatkan hati perinya yang cantik dan mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah terbayang dalam hidupnya. Sehun mempererat pelukannya dan terus melangkah menapaki jalan kehidupan mereka yang baru.

Langit sedemikian luasnya dan kita tidak tahu dan tidak dapat menentukan di mana depan tak terbatas dan kita tidak tahu di mana kita akan melangkah di mana kita akan berhenti. Tetapi masa depan itu ada dan kita harus terus menjalaninya dengan segala cinta dan harapan.

.

.

.

TBC

.

.

.

Masih To Be Continue ya.. Next chapter aku kasih EPILOG-Nya dan FINISH deh..

Berhubung akan END, aku udah update new fanfic tuk gantiin fanfic Topeng Sang Putri ni. So, jangan ketinggalan read and review new fanfic aku "MIDNIGHT SUN"

.

.

.

Special Thanks to bameeya sebagai reviewer pertamaku. Makasih sayang ^^

.

.

.

Thanks To :

\hunexohan\SFA30\luhannieka\vira ardilla\Guest\zoldyk\HunHan\younlaycious88\KiranMelodi\anindiya 13\nisaramaidah28\Guest\samiyatuara09\mcdon al\khalidasalsa\DEERHUN794\BoraSISTARK\one\oh chaca\novi\Dazzlingcloud\Guest\RZHH 261220\niasw3ty\kimyori95\Ririn ayu\ruixi1\ramyoon\SangRi14\Hieri Chaniezruew\jdcchan\367fans - EXO\wineparadise\novi\OhTheHun\Jung NaeRa\artiosh\Jung NaeRa\AprilianyArdeta\whirlbambi\chenma\cassandraaeris12\Oh Juna93\NopwillineKaiSoo\rikha-chan\okta HunHan\Ray KT KS CB\Guest\

.

.

.

Mind To Review?

.

.

.

"170515"