Tittle : Putri Tidur-Ku
By : Saita Hyuuga Sabaku
.
.
.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing:
Kakashi x Saita
Sasuke x Sakura
Itachi x Aki
Hidan x Hana
Pein x Hezlin
Gaara x Kirei
Rate : T+ s/d M
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Comedy (?)
Warning : CRAICK PAIR, AU, OC, OOC, gaje, maksa, alur berantakan, dll
.
.
.
D.L.D.R
.
.
.
Happy Reading for me :v
.
.
.
Chapter 2
Setibanya di rumah, Saita langsung berhambur ke dalam rumah tanpa mempedulikan Kakashi yang masih terdiam di motornya. Dia berlari secepat kilat menuju kamarnya di lantai atas, tanpa mempedulikan Itachi yang memandangnya heran.
"Ada apa dengan anak itu? Tidak biasanya," ucap Itachi sambil menggendikkan bahunya.
BLAAAM
Suara pintu yang ditutup kasar membuat Aki keluar dari kamar Itachi.
"Ada apa dengan Saita?"tanya Aki khawatir pada suaminya Itachi.
"Entahlah, mungkin Kakashi bisa menjelaskan," ucap Itachi sambil melirik Kakashi yang sudah berada disebelahnya.
Kakashi hanya terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya apa yang terjadi Kakashi?" tanya Aki menuntut penjelasan.
"Tadi dia tertidur di motor, kemudian aku pegang tangannya agar dia tidak terjatuh. Begitu sampai, tepat saat dia terbangun dan dia langsung melepaskan tangannya dari genggamanku dan berlari begitu saja," kata Kakashi panjang lebar memberi penjelasan.
"Ppffffttt, ha ... ha ... ha ..." Tawa Itachi meledak mendengar penjelasan Kakashi.
"Dia pasti malu, makanya dia langsung berlari seperti itu," ucap Itachi menahan tawa membayangkan wajah Saita yang seperti kepiting rebus.
"Maafkan ketidaksopanannya Kakashi," ucap Aki lembut.
"Ah, tidak apa-apa. Tidak masalah," ucap Kakashi sambil tersenyum lembut.
"Ayo kita mengobrol di ruang tamu," kata Itachi sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
Mereka pun berjalan ke ruang tamu dan Aki menuju dapur untuk membuat minuman dan mengambil beberapa cemilan.
.
.
.
Di dalam kamar Saita langsung merebahkan badannya ke kasur setelah menutup pintu dengan kasar, tak lupa juga mengunci kamarnya.
"Baka,"rutuknya.
.
.
.
Saita POV on
Aku terus merutuki kebodohanku. Bagaimana bisa aku tertidur di saat yang tidak tepat, bersama orang yang tidak tepat pula? Dan apa-apan dia? Siapa yang mengijinkannya melingkarkan tanganku pada pinggangnya dan menggenggam tanganku? Lancang sekali ...
Dan apa ini? Jantungku rasanya berdetak sangat cepat dan kencang, hingga aku bisa mendengar debarannya. Wajahku terasa panas dan aku yakin wajahku sudah merah seperti tomat kesukaan Sasuke nii-chan.
Kami-sama, aku sungguh tak punya muka bertemu dengannya lagi. Mau ditaruh dimana harga diri Uchiha ku? Andai saja ada topeng lolipop Tobi, aku akan dengan senang hati memakainya.
Saita POV off
.
.
.
"Aaaaargggghhh." Saita menggeram kesal.
Hei Saita, itu hanya masalah kecil dan kau terlalu berlebihan menanggapinya.
Saita yang merasa tidak tenang dengan keadaannya yang seperti itu, memutuskan untuk pergi keluar, tepatnya ke rumah Hana. Dia tidak akan makan malam di rumah karena dia yakin pria bernama Kakashi itu pasti akan lama di rumah dan akan ikut makan malam bersama. Dan Saita tidak punya muka untuk bertemu dengannya setelah kejadian tadi mengingat sikapnya terhadap Kakashi sejak di Universitas tidak ada baik-baiknya sama sekali.
Dia buka jendela kamarnya dan dengan menggunakan beberapa kain yang ia ikatkan pada sisi tempat tidur, ia mulai menuruni kamarnya tanpa khawatir akan terjatuh. Begitu tiba di bawah, dia mengendap-ngendap bagai pencuri menuju ke gerbang. Setelah berhasil melewati gerbang, dengan santainya ia berjalan menuju kediaman Hana.
.
.
.
Sementara itu di ruang tamu kediaman Uchiha.
Kakashi, Itachi dan Aki sedang asyik berbincang-bincang.
"Jadi ada hal penting apa, sampai kau repot-repot meminta bantuanku,"kata Kakashi menebak tujuan Itachi memanggilnya.
"Analisismu sungguh cepat Kakashi," kata Itachi sambil terkekeh.
"Yah ... kau tau kan Uchiha Shisui." Itachi memulai pembicaraan serius.
"Hm." Kakashi mengangguk.
"Dia sepupuku yang sangat baik. Aku selalu menceritakan keluh kesahku padanya. Dia sudah seperti sosok Tou-san bagiku. Lima tahun yang lalu, saat hujan deras mengguyur Ame, sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Dan kecelakaan itu tepat terjadi di depan mata Saita." Tatapan Itachi berubah sendu.
"Shisui satu-satunya kerabat sedarah yang Saita miliki. Kecelakaan itu membuatnya terpukul. Sebulan lamanya Saita mengalami tekanan psikologis. Sejak saat itu keluargaku memutuskan untuk membawanya ke Konoha ini. Agar dia bisa melupakan mimpi buruknya." Itachi menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
"Enam bulan belakangan ini, dia sering tidur larut malam, bahkan hingga pagi buta. Itulah kenapa dia sering tertidur di siang hari, dimanapun itu. Selain itu, jika hujan turun disertai dengan petir dan kilat yang menyambar, dia sering berteriak ketakutan memanggil nama Shisui. Aku khawatir kondisinya yang seperti ini akan menekan keadaan mentalnya seperti lima tahun lalu. Aku sudah berusaha mengobati phobianya tapi belum juga berhasil."
"Maka dari itu, aku ingin kau mencoba menyembuhkannya. Kau lulusan terbaik di Suna untuk masalah psikologi seperti ini. Rasanya, entah kenapa aku yakin, dia bisa benar-benar melupakan kejadian buruk itu di bawah pengawasanmu. Jadi tinggallah di sini untuk sementara waktu. Gantikan posisiku mengawasinya dan sembuhkanlah dia." Itachi mengakhiri cerita panjangnya dan menatap lurus Kakashi.
"Apakah aku harus tinggal di sini? Jujur saja, aku merasa agak tidak enak jika harus tinggal di sini. Lalu, memangnya kau mau kemana?" tanya Kakashi.
"Aku akan kembali ke Iwa, dan mengurus perusahaan di sana. Aki sedang hamil anak pertamaku dan orang tuanya ingin Aki kembali kesana selama masa kehamilan sampai melahirkan."
"Lagipula Sasuke juga akan sibuk mengurus perusahaan disini dan mengurus pesta pertunangannya dengan Sakura bulan depan. Saat ini Sasuke jarang menghabiskan waktu di rumah, maka dari itu Ita-koi khawatir tak ada yang menenangkan Saita jika ketakutan." Aki yang sejak tadi diam pun sekarang ikut berbicara.
"Jadi begitu. Baiklah. Akan ku lakukan yang terbaik untuk kesembuhan totalnya." Akhirnya Kakashi menyetujui keinginan Itachi. Dan dia akan tinggal di kediaman Uchiha.
Tak lama setelah mereka selesai mengobrol, Sasuke pulang.
"Tadaima," teriak Sasuke.
"Okaeri Sasuke," Aki menyambut Sasuke dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Aki nee-chan, dimana Saita? Tumben sekali dia tidak terlihat," kata Sasuke yang menyadari keadaan rumah agak sepi.
Tentu saja dia menyadarinya. Karena biasanya terdengar suara televisi dari ruang tengah. Siapa lagi kalau bukan Saita yang sedang asyik menonton film anime kesukaannya.
"Sepulang dari kampus dia langsung masuk ke kamarnya dan belum turun." Aki tersenyum dan Sasuke hanya terheran mengetahui sifat yang tidak lazim dari sepupunya itu.
"Kemana Itachi nii-chan?" tanyanya lagi.
"Dia sedang berada di ruang tamu bersama Kakashi," jawab Aki.
"Jadi dia sudah datang ya," ucap Sasuke seraya mengulum senyum dan bergegas menuju ruang tamu. Sedangkan Aki berlalu ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Kakashi nii-san, lama tidak bertemu." Sasuke langsung membuka percakapan begitu masuk ruang tamu.
"Ya ... sudah 7 tahun. Ternyata ingatanmu bagus juga ya," ucap Kakashi sambil tersenyum.
Sasuke memang telah mengenal sosok Kakashi semenjak kecil. Karena dia, Itachi dan Kakashi memang berteman akrab. Suasana sore menjelang malam pun dilalui dengan obrolan nostalgia mereka.
.
.
.
Saat akan makan malam, Aki bermaksud memanggil Saita di kamarnya. Tapi karena tak mendapat sahutan dari kamar, dan keadaan kamar yang terkunci, Aki langsung berhambur memanggil Itachi.
"Ita-koi, Saita tidak menjawab panggilanku, dan kamarnya juga terkunci," ucap Aki panik.
Itachi langsung mengambil telepon genggamnya dan menelepon Saita. Tapi karena operator mengatakan nomor Saita sedang tidak aktif dia meminta pada Sasuke untuk mengambil kunci cadangan dan ia pun bergegas menuju kamar Saita.
Saat pintu terbuka, yang Itachi dapati adalah kamar yang kosong dengan jendela yang terbuka dan selimut yang terjuntai ke bawah tanah. Dan tak lupa memo yang telah ditinggalkan Saita.
'Aku pergi main sebentar, dan tidak makan malam di rumah. Jadi jangan menungguku ya Itachi nii-chan.' ^-^
Itachi memijit keningnya yang tidak sakit.
"Kenapa dia harus keluar lewat jendela? Kau mau menambah kerutan di wajahku eh Saita?" gumamnya.
"Sudahlah Itach-nii, tak usah berlebihan seperti itu. Kau kan tau kalau baka Imotou itu termasuk unik. Jangan heran jika dia melakukan hal-hal aneh." Sasuke berusaha menenangkan kakaknya. Dalam hati dia tertawa puas karena Saita selalu bisa membuat Itachi kesal dan khawatir di saat bersamaan. Dan efeknya menambah kerutan di wajahnya. Eh?
"Dia pasti pulang malam lagi," ucap Itachi sambil memijit keningnya.
"Sudahlah, ayo kita makan!" Mereka pun beranjak dari kamar Saita dan menuju ke ruang makan.
SKIP
Disinilah Saita berada. Di kedai ramen Ichiraku favoritnya. Dia tidak jadi ke tempat Hana, karena Hana sedang pergi bersama Hidan untuk berkencan. Salahkan saja keteledorannya yang tidak menelepon Hana terlebih dahulu. Dan mau main ke tempat temannya yang lain pun dia merasa ragu karena hp nya lowbet. Sekali lagi salahkan keteledorannya yang tidak membawa charger Hp ataupun power bank di saat keluar rumah. Uchiha yang satu ini benar-benar membuat kepala author sakit. Eh?
Hari sudah gelap, tentu saja karena ini sudah jam 8 malam. Saita yang telah selesai makan ramen langsung pergi menuju halte bis, bermaksud hendak pulang ke rumah.
Hujan mulai turun membasahi kota Konoha. Untung saja dia sudah sampai di halte sehingga tidak khawatir basah kuyup. Sudah hampir satu jam dia menunggu bis, tapi tak kunjung tiba. Dia benar-benar ingin pulang sekarang, karena dia takut membuat Itachi khawatir sehingga menambah kerutan di wajahnya. :v
Saat sedang asyik menunggu bis, suara decitan rem yang mendadak mengalihkan atensinya. Dia melihat seseorang yang sedang marah-marah pada pengendara mobil itu, karena hampir saja menabraknya.
Seketika Saita merasakan kepalanya sakit dan berputar-putar. Sekelebat bayangan masa lalu terlintas di hadapannya. Kejadian 5 tahun yang lalu, saat Shisui meregang nyawa di hadapannya. Semua berputar begitu saja dengan gerakan slow motion. Saita mencengkram kuat rambutnya guna menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya itu. Nafasnya terasa tercekat. Dia terus bergumam lirih memanggil satu nama yang sangat dia rindukan sampai saat ini.
"Shisui nii-chan."
"Shisui nii-chan."
Tanpa sadar air mata telah mengalir melalui kedua sudut matanya. Ia berlari tak tentu arah meninggalkan halte. Tak peduli dengan hujan deras, ia terus melangkahkan kakinya menerobos hujan, meninggalkan bayangan-bayangan yang seakan tampak nyata itu.
Saita terus saja berlari tanpa tujuan, hingga tak sadar ada mobil yang melaju ke arahnya. Dia hanya bisa menutup matanya, tak berani melihat nasib yang akan menimpanya. Kakinya sudah terasa lemas karena sedari tadi berlari tanpa tujuan. Juga rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuat badannya bergetar hebat.
Ckiiiitttt
Mobil yang melaju kencang ke arah seorang gadis tiba-tiba berhenti, tepat 5 cm sebelum menyentuh tubuh gadis itu. Seorang pria berhelai putih perak keluar dari mobil dan langsung menghampiri sosok gadis yang sudah setengah tak sadar itu.
"Saita-chan," ucap Kakashi panik. Entah kenapa Saita seperti mendengar ilusi suara kakaknya dan langsung menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Kakashi seraya meremas erat kaos Kakashi dan berbisik lirih.
"Shisui nii-san, aku rindu ..." Kalimatnya menggantung dan dia pingsan. Kakashi langsung mengangkatnya ala bridal style dan Sasuke yang berada di depan kemudi langsung keluar mobil membukakan pintu belakang mobil. Terlihat jelas oleh Sasuke dan Kakashi badan Saita yang sudah gemetar hebat.
"Sebaiknya kau duduk di belakang Nii-san. Tolong buat dia hangat." Setelah mengatakan itu Sasuke kembali ke kursi depan dan siap mengendarai mobilnya.
Kakashi duduk di kursi belakang dan meletakkan kepala Saita di atas pangkuannya. Dia menyelimuti Saita dengan jaketnya dan jaket Sasuke, kemudian menggenggam tangan Saita, menggosok-gosokannya supaya tetap hangat.
Sasuke terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Kurang lebih 15 menit, akhirnya mereka sampai di kediaman Uchiha. Kakashi menggendong Saita ala bridal style dan bergegas menuju kamar Saita dengan Sasuke yang telah lebih dulu berada di depannya untuk membukakan pintu.
Itachi dan Aki yang melihat kedatangan Sasuke, Kakashi dan keadaan Saita yang tak sadarkan diri, langsung bergegas menyusul langkah mereka. Sasuke langsung menyalakan penghangat ruangan dan menyelimuti Saita dengan selimut tebal. Raut wajah khawatir jelas terlihat di wajah mereka semua.
.
.
.
TBC
Thanks special to Khioneizys yang udah follow dan favorit cerita gaje ini...
Salam kenal ya.
Makasih juga untuk para silent reader yang nyempetin diri mampir ke karya abal ini.
Review, kritik dan saran di nanti, meskipun ini craick pair yang ancur banget :-p
Arigatou minna...
With Love,
Saita
