Tittle : Putri Tidur-Ku
By : Saita Hyuuga Sabaku
.
.
.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing:
Kakashi x Saita
Sasuke x Sakura
Itachi x Aki
Hidan x Hana
Pein x Hezlin
Gaara x Kirei
Rate : T+ s/d M
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Comedy (?)
Warning : CRAICK PAIR, AU, OC, OOC, gaje, maksa, alur berantakan, dll
.
.
.
D.L.D.R
.
.
.
Happy Reading for me :v
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
"Engghh ..." Suara lengkuhan terdengar di dalam kamar bernuansa merah hitam. Saita mengerjapkan matanya ketika sadar dirinya berada di dalam kamar. Otaknya terus meloading kejadian sebelumnya. Sedikit demi sedikit dia mulai mengingatnya.
"Aku seperti mendengar suara Shisui nii-chan semalam," gumamnya pelan.
"Kenapa ruangan ini panas sekali." Saita menyeka keringatnya yang sudah bercucuran. Saita yang merasa kehausan karena atmosfer kamarnya yang terlalu panas bermaksud beranjak dari ranjangnya untuk pergi ke dapur. Tapi suara pintu yang dibuka menghentikan keinginannya.
Ceklek
Dari arah pintu muncullah seorang pria berhelai raven mencuat kebelakang dengan mata onyx yang tajam bagai elang. Dia membawakan segelas susu coklat kesukaan Saita.
"Heh, baka Imotou ku sudah bangun rupanya." Sasuke berjalan mendekat ke arah ranjang, dan mematikan pemanas ruangan sebelum meletakkan segelas susu tadi di atas meja kecil samping ranjang.
"Heh, baka Aniki, tumben sekali kau perhatian padaku." Saita menggembungkan pipinya, memasang wajah kesal, tapi dalam hatinya merasa sangat senang.
"Kau membuat kami khawatir semalam." Sasuke mengacak rambut Saita pelan.
"Kau bisa membuat keriput Itachi-nii bertambah tau ..." ucap Sasuke seraya menyeringai jahil.
Saita terkekeh geli membayangkannya. Kemudian pandangannya tertunduk. Seketika raut wajahnya berubah sendu.
"Nii-chan, apa aku selalu merepotkan kalian? Maafkan aku jika aku selalu membuat masalah dan menyusahkan kalian. Aku sungguh tak bermaksud." Saita mulai terisak. Kalau di ingat-ingat dia memang sering membuat Itachi dan Sasuke kewalahan dengan tingkahnya yang sedikit kekanak-kanakkan.
"Teruslah seperti itu. Aku dan Nii-chan sama sekali tidak keberatan dan tidak merasa direpotkan olehmu. Kami senang ada kau di tengah keluarga kami ini. Rumah ini terasa lebih ramai dengan kehadiranmu yang selalu membuat masalah." Sasuke mengulum sebuah senyum tulus pada Saita.
Meskipun mereka terlihat sering cekcok, tapi seperti itulah ikatan di antara mereka. Itachi yang memanjakan Saita. Sedangkan Sasuke, lebih sering menjahilinya begitu pula sebaliknya. Wajar saja, itu karena usia Sasuke dan Saita hanya terpaut dua tahun.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku sudah terlambat ke kantor. Kalau kau belum merasa baikan, tidak usah memaksakan diri untuk ke kampus." Sasuke berbicara panjang lebar, sungguh hal yang di luar kebiasaan.
Sepeninggalan Sasuke, Saita mengulum sebuah senyum tulus di balik punggung Sasuke. Hal yang jarang ia lakukan. Ia memang tau Sasuke berhati lembut, hanya saja sikap stay cool nya itu terkadang membuat Saita tidak tahan.
Setelah meminum habis susu pemberian Sasuke, Saita yang merasa gerah langsung membersihkan diri ke kamar mandi. Dia sudah merasa sehat. Wajar saja, karena penghangat ruangan itu menyala semalaman.
Setelah selesai mandi dia bergegas turun, karena perutnya merasa lapar. Dia belum tau kalau Kakashi masih ada di rumah itu.
"Aki nee-chan, dimana Itachi-nii?" tanya Saita sambil mencomot roti di meja makan dan mengolesinya dengan selai cokelat.
"Dia sedang berada di teras depan," ucap Aki lembut.
"Kau sudah merasa baikan Saita-chan?" tanya Aki dengan raut muka khawatir.
Saita tersenyum dan menjawab pertanyaan Aki. "Tentu saja Nee-chan. Aku merasa sangat baik."
"Syukurlah kalau begitu." Aki merasa lega.
Saita pun dengan santai melenggangkan kakinya ke teras depan. Tanpa tau Itachi yang sedang asyik menikmati ocha dengan Kakashi.
"Ita nii-chan." Saita berteriak girang saat melihat sosok Itachi di depan sana. Dan dia tidak menyadari keberadaan Kakashi.
Saita terus berjalan mendekat sambil memakan roti yang ada di genggamannya. Setibanya di teras dia kaget bukan main melihat pria berhelai perak duduk di sebelah Itachi. Kakashi memamerkan senyum mautnya. Tapi Saita justru tercekat. Tercekat bukan karena rasa sakit hati, tapi karena roti yang ditelannya tiba-tiba, sebelum proses penguyahan selesai, membuat roti itu menyangkut di tenggorokan.
Itachi yang menyadari kebiasaan Saita saat makanan tersangkut di tenggorokannya langsung menyambar asal minuman yang berada di atas meja, tanpa tau kalau minuman itu milik Kakashi.
Setelah acara roti menyangkut di tenggorokannya selesai, Itachi langsung menyuruh Saita untuk duduk. Karena bangku di teras cuma ada tiga buah, dan satu-satunya bangku kosong terletak di sebelah Kakashi, jadilah Saita duduk di sana.
Keringat mulai membasahi pelipisnya. Tapi sebisa mungkin dia memasang wajah datar andalan Uchiha.
'Hei Saita, kau hanya disuruh duduk di sebelah pria tampan berhelai perak. Bukan menghadapi sidang skripsi di hadapan para rektor Universitas. Jangan menghancurkan nama baik Uchiha hanya karena kegugupanmu.' Itulah inner Saita yang berteriak-teriak memberi semangat.
Heh, kau tidak sadar ya, kalau kau sudah mengakui pria berhelai perak itu tampan.
"Apa kau sudah baikan?" tanya Itachi.
"Ya nii-chan. Kau orang ketiga yang menanyakan keadaanku. Aku ini gadis kuat. Tidak mungkin sakit hanya karena kehujanan," ucap Saita bangga.
Itachi hanya terkekeh geli mendengar jawaban Saita. Karena kenyataannya dia menggigil hebat semalam.
"Kau masih ingat aku?" Kakashi ikut-ikutan bertanya.
"Te-tentu saja. Kau kan Kakashi sensei," ucap Saita sedikit ketus.
"Ku kira kau akan memanggilku seperti semalam." Kakashi tersenyum lembut pada Saita tanpa ingin melanjutkan perkataannya.
"Semalam? Memangnya aku memanggilnya apa?" Saita bergumam pelan dan meloading kejadian semalam.
"Semalam kau memanggil Kakashi dengan sebutan Shisui Nii-chan. Bahkan kau memeluknya dengan sangat erat. Apa kau tidak ingat?" Itachi tersenyum jahil.
'Baka,' rutuknya dalam hati. Betapa banyak kebodohan yang ia lakukan kemarin.
'Hancur sudah nama Uchiha-ku,' jeritnya dalam hati.
"Gomennasai sensei," ucap Saita sambil menundukkan wajahnya.
"Tidak masalah. Dan, jangan panggil aku sensei. Panggil saja Kakashi."
"Ha'i."
"Saita, karena semalam kau tak ada, aku jadi belum sempat mengatakan hal penting padamu." Raut wajah Itachi berubah serius. Saita menelan salivanya karena perasaannya jadi buruk.
Sekali lagi Uchiha kita yang satu ini benar-benar berlebihan menanggapi sesuatu. Author mulai meragukan nama Uchiha yang disandangnya. -_-"
Saita masih diam menunggu Itachi bicara.
"Kau tau kan istriku Aki sedang hamil?" Tanpa menunggu jawaban dari Saita, Itachi kembali melanjutkan perkataannya. "Ibu mertuaku meminta kami untuk tinggal di Iwa selama proses kehamilan sampai melahirkan Aki. Maka dari itu, Kakashi akan tinggal disini menggantikan posisiku untuk menjagamu. Dia lulusan psikolog terbaik di Suna. Di bawah pengawasannya, aku yakin kau akan cepat sembuh dari phobia dan mimpi buruk masa lalumu."
"Tapi nii-chan, aku merasa baik-baik saja. Bukankah aku sudah lama sembuh. Kurasa aku tidak butuh pengobatan dan terapi lagi." Saita membantah.
"Apanya yang baik-baik Saita? Sejak 6 bulan yang lalu, kau mulai menunjukkan gejala-gejala beberapa tahun silam. Kau tidak menyadarinya Saita. Kami khawatir padamu. Aku tidak ingin kau kembali tertekan seperti waktu itu. Kupastikan kali ini kau akan benar-benar sembuh dari phobia dan mimpi burukmu." Itachi terus berusaha meyakinkan Saita.
"Asal ada Itachi-nii, Sasuke-nii, dan Aki-nee, aku merasa baik-baik saja. Apa jadinya kalau kalian jauh dariku." Saita bergumam pelan, tapi masih cukup terdengar.
"Aku dan Aki juga sebenarnya ingin tetap disini, tapi aku tidak bisa menolak permimtaan mertuaku. Bukannya aku tak menyayangimu Saita, kau jangan sampai salah mengira. Kami semua menyayangimu." Itachi terus meyakinkan Saita.
"Kau bisa menganggapku kakak dan memanggilku Nii-chan kalau kau mau." Kakashi menepuk pucuk kepala Saita dan mengacaknya pelan seraya tersenyum lembut ke arah Saita.
DEG
Jantung Saita berdetak lebih cepat dan rona merah sudah memenuhi wajahnya meski sangat tipis.
'Jangan terlihat bodoh Saita, kau harus mengendalikan perasaanmu. Tunjukkanlah kalau kau memang seorang Uchiha sejati,' batinnya.
"Jadi kapan Nii-chan akan pergi?" Saita bertanya untuk memastikan. Setidaknya dia ingin memberikan sesuatu untuk Itachi dan Aki, karena mereka pasti akan lama tidak bertemu.
"Lusa aku sudah harus berangkat. Karena perusahaan di Iwa juga sedang mengalami sedikit masalah. Kau harus mengubah kebiasaan tidurmu yang terlalu larut itu Saita. Jangan membuat Kakashi repot." Itachi berusaha menasihati Saita.
"Jadi bagaimana kalau mulai sekarang kita berdamai?" Kakashi tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya pada Saita.
Saita menerima jabatan tangannya dan berkata, "Memangnya kapan aku memusuhimu Kakashi-san?" Ia pun tersenyum lembut.
"Yah ... setidaknya aku merasa kau menghindariku karena sepertinya aku mengganggu harimu." Kakashi terkekeh pelan dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Gomen ne, aku tidak bermaksud seperti itu." Saita menundukkan kepalanya.
"Wah, aku senang melihatmu sudah bisa menerima kehadiran Kakashi." Itachi tersenyum lembut ke arah keduanya. Kemudian dia melanjutkan lagi perkataannya, "Kau bisa memanggilnya Nii-chan atau Kakashi-kun. Jangan membatasi diri seperti itu Saita." Satu lagi nasihat dari Itachi, membuatnya terlihat seperti sosok ibu yang tak pernah Saita punya sebelumnya.
He-he-he
Saita tertawa kikuk dan berkata,"Mungkin aku akan memanggilmu Kakashi nii-chan bila kau tidak keberatan."
"Tentu saja tidak," ucap Kakashi seraya tersenyum. Kakashi senang, Saita sudah bisa menerimanya. Ini akan mempermudah proses penyembuhannya.
Mereka pun asyik mengobrol membahas masa lalu dan perusahaan. Meski Saita lebih banyak diam. Saita baru tau kalau Kakashi adalah pewaris Hatake Group, yang terkenal se-Konoha. Angin sepoi-sepoi yang berhembus memainkan helaian mereka, ditambah dengan bincang-bincang yang menggelitik telinga, membuat rasa kantuk tak tertahan. Saita bersender pada kursi dan masih mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mempertahankan matanya agar tak tertidur, tapi suara Kakashi dan Itachi benar-benar seperti dongeng yang memaksa matanya untuk terpejam. Dan ia pun kembali terlelap. Yah mungkin karena kondisi badannya yang belum stabil, membuat dia merasa kelelahan.
"Dia sudah tertidur lagi," ucap Itachi melihat ke arah Saita.
Kakashi memandang Saita dan tersenyum, lalu berkata, "Dia seperti Putri Tidur ya." Kakashi pun terkekeh.
Itachi ikut terkekeh geli dan berkata, "Yah, kau benar. Itulah julukan yang cocok untuknya. Mungkin sebagai latihan, bersediakah kau membawanya ke kamar? Karena kalau aku tidak ada, tiap malam kau pasti akan menggendongnya ke kamar." Itachi tersenyum dan Kakashi mengernyit alis heran dengan penuturan Itachi.
"Baiklah aku akan membawanya ke kamar." Kakashi pun beranjak dari duduknya dan menggendong Saita ala bridal style.
"Lagipula badannya sangat ringan." Kakashi berkata untuk terakhir kalinya dan melangkahkan kakinya menuju kamar Saita.
Dalam batin Itachi berkata, 'Kuyakin dia cocok untukmu Saita. Semoga kau bisa membuka hatimu kembali.' Dan Kakashi pun akhirnya menghilang dari pandangannya.
.
.
.
'Saita-chan ... Saita-chan ... aku harus pergi!'
'Shisui-nii ... Nii-chan kau kemana? Saita ikut. Saita ingin bersama nii-chan. Jangan tinggalkan Saita sendiri, hiks.'
'Kau harus melanjutkan hidupmu dengan baik Saita. Jangan pernah melihat kebelakang. Teruslah melangkah. Masih banyak yang menyayangimu.'
'Tapi Saita ingin Shisui-nii selalu menemani Saita. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku mohon nii-chan, hiks, hiks, hiks.'
Seorang gadis kecil terus mengejar sosok yang makin menghilang dari pandangannya. Dia terus berlari hingga terjatuh dan bangkit lagi kemudian berlari lagi. Tapi sosok itu terus menghilang tanpa dapat dia sentuh.
.
.
.
Keringat mengalir deras dari pelipis Saita. Nafasnya terlihat memburu. Mulutnya terus bergumam lirih menyebutkan satu nama 'Shisui-nii'.
Ia tersentak dari tidurnya dan langsung memposisikan dirinya duduk. Dengan cepat ia menyambar gelas berisi air putih yang ada di samping ranjangnya.
"Mimpi itu lagi," gumamnya lirih. Pandangannya tertunduk. Ia tekuk kakinya dan ia lipat tangannya di atas lututnya, dan ia mulai menenggelamkan wajahnya.
"Shisui-nii, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Jangan paksa aku melupakanmu, hiks." Saita pun menangis terisak di dalam kamarnya.
Di luar kamar Saita, terlihat pria berhelai putih silver tengah menyandarkan diri ke tembok, dengan tangan yang di lipat ke dada. Tadi ia ingin membangunkan Saita, tapi mengurungkan niatnya saat tau Saita telah bangun dan sedang menangis. Tak lama akhirnya dia memutuskan untuk turun.
Saita yang sudah merasa agak tenang menghentikan tangisnya dan mengambil telepon genggam di atas mejanya. Ia cari kontak Hana dan meneleponnya.
"Han-chan, apa kau sedang sibuk hari ini?"
"Aku ingin mencari hadiah untuk Itachi-nii dan Aki-nee. Lusa mereka akan berangkat ke Iwa. Dan aku ingin sekali membelikan mereka sesuatu."
"Baiklah, aku akan kesana jam 3 sore."
"Iya kemarin aku ke rumahmu, Oba-san bilang kau sedang pergi dengan Hidan-nii. Akhirnya aku luntang-lantung tak jelas."
"Iya, aku akan segera berkemas. Tunggu aku."
Piiiip
Dan sambungan pun terputus. Saita segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berkemas.
.
.
.
TBC
