Tittle : Putri Tidur-Ku
By : Saita Hyuuga Sabaku
.
.
.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing:
Kakashi x Saita
Sasuke x Sakura
Itachi x Aki
Hidan x Hana
Pein x Hezlin
Gaara x Kirei
Rate : T+ s/d M
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Comedy (?)
Warning : CRAICK PAIR, AU, OC, OOC, gaje, maksa, alur berantakan, dll
.
.
.
D.L.D.R
.
.
.
Happy Reading for me :v
.
.
.
Chapter 4
Dan disinilah Saita berada. Di kediaman Hana, tepatnya di dalam kamar Hana. Hana masih bersiap-siap memilih pakaian yang akan dikenakan.
"Han-chan, mau sampai berapa baju yang kau keluarkan dari lemari?" Saita memutar bola matanya bosan. Hana selalu bingung memakai pakaian apa yang cocok kalau ingin bertemu Hidan.
"Lagipula, ku kira kita hanya akan mencari hadiah. Kenapa harus mengajak Hidan-nii?" Saita mengerucutkan bibirnya sebal.
"He-he-he, gomen Saita. Tadi setelah kau menelepon, Hidan-kun juga meneleponku. Katanya dia ingin mengenalkanku pada orang tuanya. Jadi aku harus tampil sempurna kan?" Hana nyengir 5 jari.
"Bersikaplah biasa, apa adanya Han-chan. Yang penting percaya diri. Kau sudah cantik memakai apapun." Saita tersenyum ke arah Hana.
Hana mendekati Saita dan menyentuh kening Saita menggunakan punggung tangannya.
"Apa kau sakit? Tidak biasanya aku mendengarmu bicara dewasa seperti ini." Hana menyipitkan matanya. Pandangannya seakan mengintimidasi.
"Tch, berhenti menatapku seperti itu," Saita mendecih.
Hana hanya tersenyum lembut melihat reaksi Saita.
Mereka memang sahabat sejak SMA. Selain itu masih ada lagi Kirei dan Hezlin. Tapi Hana lah yang paling dekat dengan Saita dan paling mengerti Saita. Itulah sebabnya Saita tak pernah segan menceritakan keluh kesahnya pada Hana. Lalu kenapa Saita belum lulus kuliah sedangkan temannya yang lain sudah lulus, bahkan ada yang akan menikah. Yah, itu karena Saita sempat vacuum sekolah selama 2 tahun, setelah kecelakaan kakaknya.
Akhirnya setelah selesai memilih baju yang cocok, mereka pun siap berangkat ke Konoha Lifestyle untuk mencari hadiah untuk Itachi dan Aki. Hidan telah menunggu di mobil sportnya yang berwarna hitam.
Hana dan Saita langsung menuju ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumah Hana. Hana duduk di depan, tepat di sebelah Hidan yang akan mengendarai mobil. Sedangkan Saita duduk di belakang.
"Demi dewa Jashin, aku seperti obat nyamuk disini," gerutu Saita. Dia selalu merasa risih kalau di hadapan sepasang kekasih.
"Hohoho Saita-chan, demi Dewa Jashin, kau sudah mempercayai aliranku ya?" Hidan tertawa puas.
"Tch, aku tidak pernah percaya dan mengenal yang namanya Dewa Jashin." Saita mendecih.
"Ha-ha-ha, kalian ini selalu mempersalahkan hal yang sama kalau bertemu." Hana terkekeh geli.
"Lebih baik kita berangkat sekarang Hidan-kun," ucap Hana mengakhiri perdebatan yang akan panjang jika tidak dilerai.
"Yah, baiklah, demi Dewa Jashin, aku akan menuruti perintahmu Hime." Hidan menarik telapak tangan Hana, mengecup punggung tangannya dan setelah itu menjalankan mobilnya.
'Ya ampun inilah yang malas kulihat. Sifat lebay Hidan-nii sudah muncul ke permukaan,' batin Saita.
.
.
.
Setelah melintasi jalanan Konoha yang cukup padat, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Mereka pun membantu mencari hadiah yang cocok untuk Itachi dan Aki. Setelah kurang lebih satu jam mencari dari lantai satu ke lantai lainnya, akhirnya Saita telah mendapatkan barang yang cocok.
Setelah semua keperluan di dapat, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Hana juga membeli makanan untuk dibawa ke tempat calon mertuanya. Akhirnya mereka berpisah di luar gedung Mall.
Hidan dan Hana menuju rumah Hidan. Sedangkan Saita menunggu di halte bis. Tak lama kemudian bis yang di tunggu datang. Saita pun naik dan memposisikan diri dengan nyaman lalu tidur.
.
.
.
Di kediaman Hidan, dengan rumah gaya Jepang kuno dan taman yang terlihat asri, terlihat beberapa orang tengah mengobrol. Mereka adalah orang tua Hidan, Hana, dan Hidan tentunya. Kurang lebih sudah satu jam mereka menikmati acara bincang-bincang itu dan ketika Hidan akan mengantar Hana pulang, Pein datang berkunjung.
"Heh Pein, tumben sekali kau mampir." Hidan mengernyit alis heran.
"Yah, kebetulan aku sedang lewat, sekalian saja. Aku membawa ini." Pein mengeluarkan beberapa undangan.
"Ah, apa ini? Jadi Gaara akan segera menikah? Tak kusangka dia lebih cepat mengambil keputusan dari kita." Hidan terkekeh.
"Hana, titip ini untuk Saita-chan ya," ucap Pein pada Hana.
Hana menerimanya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Lalu, kau sendiri kapan ...? Dengan Hezlin-chan?" Hidan menyikut-nyikut perut Pein dan mengintimidasi.
"Kalau sudah saatnya juga akan ku beritahu. Kalau begitu aku pergi dulu. Aku ada kencan dengan Hezlin." Pein pun berlalu meninggalkan mereka.
Akhirnya Hidan melanjutkan perjalanannya menuju mobil yang terparkir dan mengantarkan Hana pulang. Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Hidan menatap Hana yang terlihat murung.
"Hana, kau kenapa?" tanya Hidan khawatir.
"Aku bingung bagaimana menyampaikannya pada Saita. Dia pasti akan terluka. Yah meski dia berusaha menyembunyikan perasaannya, aku tau dia masih mencintai Gaara." Hana menundukkan pandangannya.
"Demi dewa Jashin, cinta benar-benar rumit." Hidan memijit keningnya yang tak pusing dan melanjutkan kembali perkataannya. "Kurasa dia akan baik-baik saja. Itu sudah lama kan? Lagipula Kirei juga sahabat kalian, dia pasti akan ikut senang untuk kebahagiaan sahabatnya. Kita berdoa saja agar dia bisa tabah dan tegar menghadapi kenyataan ini," ucap Hidan panjang lebar.
Hana hanya mengangguk dan Hidan kembali memfokuskan dirinya menyetir.
.
.
.
'Hoooaammm'
Saita bangun dari tidurnya, menutup mulutnya dengan telapak tangannya, saat mulutnya terbuka karena acara menguapnya itu. Dia alihkan pandangannya ke sisi kanan dan kiri, menetralisir otaknya untuk tau dimana ia sekarang. Saat ia menyadari kalau ia sudah terlalu jauh dari tempat seharusnya ia turun, ia menepuk pelan jidatnya dan bergumam, "Ya ampun, nyenyak sekali tidurku sampai aku sejauh ini ..."
Ia segera turun dari bis dan kembali menunggu bis ke arah sebaliknya. Ia lihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sebentar lagi pasti Itachi-nii menelepon. Dan benar saja, tak lama kemudian handphonenya berdering pertanda telepon masuk.
"Iya Nii-chan, maafkan aku. Tadi aku ketiduran di bis, dan ternyata aku sudah terlewat jauh."
"Iie. Tidak usah menjemputku. Aku sudah besar. Tak usah khawatir seperti itu. Lagipula aku sudah terlalu biasa kan seperti ini."
"Iya ... iya, aku akan mengubah kebiasaanku."
"Hn, aku akan menghubungimu begitu aku dapat bis."
Piiiip
Dan sambungan pun terputus. Saita menempelkan punggungnya pada kursi di halte. Tangannya ia letakkan dibelakang kepalanya untuk menopang kepalanya. Ia menatap langit dan memejamkan matanya dengan seulas senyum manis yang ia sunggingkan.
'Lusa, Itachi-nii akan pergi ke Iwa. Tidak ada lagi yang akan cerewet padaku. Yang akan meneleponku bila aku pulang malam. Yang akan memarahi kalau aku tidak mandi di hari libur. Yang mengangkatku ke kamar jika aku ketiduran di ruang tengah. Dan yang paling penting, siapa yang akan menenangkanku jika aku ketakutan. Sasuke Nii-chan pasti akan lebih sibuk. Dia akan jarang pulang.' Saita yang asyik dengan curahan batinnya tak menyadari seseorang sudah berada di hadapannya. Bahkan wajahnya hanya terpaut 5 cm.
" ... Ta ... Saita-chan." Sebuah suara yang dikenalnya membuyarkan curahan batinnya.
Saita tersentak kaget saat membuka mata dan mendapati Kakashi yang memakai masker. Kalau saja bukan karena warna dan gaya rambutnya yang khas itu, dapat dipastikan dia sudah berteriak karena Kakashi sudah seperti pencuri bermasker.
"Menyingkir dari depan wajahku Nii-san," ketus Saita.
Kakashi pun langsung memposisikan badannya tegak. Lalu ia bertanya, "Apa yang kau lakukan disini, malam-malam begini?"
Wajah Saita bersemu merah karena insiden tadi. Berterima kasihlah pada malam yang telah menyembunyikan rona merah itu, sehingga tak terlalu tampak jelas. Jantungnya masih berdebar tak karuan. Setelah menghela nafas dan mengembalikan sifat stoic Uchiha, ia pun menjawab pertanyaan Kakashi.
"Aku hanya terlewat cukup jauh dari tempat seharusnya aku turun," ucapnya datar.
"Kau pasti tertidur lagi." Kakashi memutar bola matanya bosan.
Saita hanya membalas dengan cengiran lima jari.
"Ayo pulang! Ajak Kakashi.
"Eh? Denganmu?" Saita tergeragap.
"Menurutmu? Apa ada orang lain selain aku? Lagipula kita tinggal serumah kan?" Kakashi pun langsung menarik tangan Saita, membuat Saita mau tak mau mengikuti langkahnya.
Mereka berjalan menuju mobil sport mewah berwarna putih yang berada di pinggir jalan. Kakashi membukakan pintu mobil untuk Saita, dan setelah itu memposisikan dirinya duduk di depan kemudi.
"Kakashi nii-san, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Saita polos begitu mobil mulai melaju.
"Aku tadi menghadiri rapat. Apa kau tidak tau, di sana tadi ada cabang Hatake Group?" Kakashi menaikkan sebelah alisnya.
"Ah, iya ya, aku lupa." Saita terkekeh menyadari pertanyaan bodoh yang ia lontarkan.
'Baka. Mana mungkin ia main dengan pakaian formal seperti itu,' rutuknya dalam hati.
Dan setelah itu hanya keheningan yang terjadi, sampai mereka tiba di rumah. Itachi dan Aki masih berada di ruang tengah menunggu kepulangan Saita sambil berbincang.
"Tadaima," teriak Saita dan Kakashi bersamaan.
"Okaeri," jawab Itachi dan Aki.
"Kakashi, Saita, bagaimana kalian bisa bersama?" tanya Itachi.
"Ah, tadi ketika aku ingin pulang dari kantor, aku melihatnya sedang memejamkan mata di halte. Aku penasaran siapa yang tertidur malam-malam di halte bus. Begitu kuhampiri ternyata Saita-chan," jelas Kakashi.
"Kenapa kau tidak menghubungiku lagi Saita?" Perempat siku muncul di dahi Itachi.
"Gomen ne nii-chan, karena tadi aku kaget Kakashi nii-san tiba-tiba ada di hadapanku, aku jadi lupa." Saita terkekeh pelan.
Saita dan Kakashi pun langsung memposisikan dirinya duduk.
"Saita, tadi Han-chan kesini," ucap Aki.
"Apa? Ada apa dia kemari? Aku kan baru saja bertemu dengannya tadi sore." Saita bertanya-tanya.
"Dia memberikan undangan. Ini ...," ucap Aki seraya menyerahkan sebuah undangan pada Saita.
Saita menerima undangan itu dan mulai membukanya. Hatinya mencelos, nafasnya terasa tercekat, hatinya terasa bagai ditikam oleh sembilu berkarat. Dia merasa sakit menerima kenyataan, tapi dia juga turut bahagia atas kebahagiaan sahabatnya. Sekilas dia menyunggingkan senyum miris, sebelum menggantinya dengan senyum manis yang dipaksakan.
"Ah, ini undangan dari Kirei-chan. Dia akan menikah dengan Gaara-kun minggu depan. Sayang sekali ya Aki-nee dan Itachi-nii akan pergi lusa. Aku tidak akan bisa memilih pakaian yang baik untuk hari baik sahabatku itu." Saita tertawa kaku dan Kakashi tau dia tengah berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Kau bisa minta tolong pada Sakura kan?" Suara bariton Sasuke terdengar dan mendekat ke arah mereka. Dia baru saja dari kamarnya. Dia ikut duduk dan melanjutkan perkataannya.
"Akan kubawa dia kemari untuk mendandanimu nanti." Sasuke menyeringai. Oh, ayolah, Sasuke tau Saita tidak suka berdandan, dan memakai gaun. Dan saat-saat langka seperti ini, pasti akan digunakannya untuk mengabadikan perubahan Saita yang jarang-jarang terjadi.
Saita hanya bisa mendesah.
"Semuanya, aku permisi ke kamar dulu ya, aku ingin membersihkan badan." Kakashi pun bangkit dan beranjak menuju kamarnya.
"Kau tidak mandi, baka Imotou?" tanya Sasuke seraya mengendus-ngendus tubuh Saita.
Ctaaakk
"Heh, aku tidak bau tau!" Saita mendengus kesal dan menyingkirkan wajah Sasuke. Kemudian ia mengerucutkan bibirnya.
Sasuke terkekeh geli melihat kelakuan Saita.
"Kalau begitu aku dan Aki juga akan beristirahat. Besok kami harus berkemas-kemas, ucap Itachi.
"Tunggu dulu nii-chan. Ini ...," Saita menyerahkan barang yang ia beli tadi. "Sebagai hadiah perpisahan," lanjutnya.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, menunggu kejutan apa yang akan Saita berikan. Setaunya Saita tidak pandai memilih barang. Itachi dan Aki membuka bungkusan barang itu dan masing-masing bereaksi berbeda. Dan ... binggo!
"Sankyuu Saita," ucap Aki tersenyum, karena ia mendapat baju hamil.
Ctakk
Perempatan siku muncul di dahi Itachi karena ia mendapat krim anti keriput.
"Saita, apa maksudnya ini? Di hari perpisahan kau malah mengerjaiku, heh?" Itachi pura-pura marah.
Ha-ha-ha
Tawa Sasuke meledak dan Saita hanya tertawa geli sambil memegang perutnya.
"Gomen ne nii-chan, aku bingung ingin memberikanmu apa ...,"ucap Saita berusaha menahan tawanya.
"Huuft, ya sudahlah. Memang seperti itu kan dirimu. Terima kasih ya." Itachi menyentuh pucuk kepala Sakura dan kemudian beranjak bersama Aki menuju kamarnya.
"Jangan tidur terlalu larut Saita," ucapnya terakhir kali sebelum sosoknya menghilang.
"Jadi ...?" ucap Sasuke begitu Itachi dan Aki telah benar-benar menghilang.
"Apa?" tanya Saita berpura-pura bodoh.
"Kirei dan Gaara. Apa lagi? Kau yakin akan datang?" Sasuke melirik Saita yang kini tertunduk.
Biar bagaimana pun Sasuke memang mengetahui kalau Saita menyukai Gaara dari dulu. Gaara adalah teman seangkatan Sasuke waktu di Universitas. Dia sering ke rumah Sasuke karena mereka sering satu kelompok. Dan Sasuke menyadari kalau Saita menyukainya. Karena sifat Uchiha nya dia malu mengungkapkan perasaannya, dan setelah berusaha meyakinkan diri untuk mengungkapkan perasaannya, semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Dan penyesalan selalu datang terlambat.
"Tentu saja!" Jawab Saita mantap. "Aku pasti datang," lanjutnya.
"Hn, tidurlah. Jangan terlalu banyak pikiran," ucap Sasuke menepuk pucuk kepala Saita.
"Aku tidur duluan, besok ada rapat pagi-pagi sekali. Kau juga lekas tidur ya." Sasuke tersenyum dan meninggalkan Saita sendiri di ruang tengah itu.
Saita membuka undangannya. Melihat hari, jam, dan tempat diadakan resepsi itu. Ia menyalakan televisi, tapi kepalanya justru ia sandarkan pada sandaran sofa, dan menutup wajahnya dengan undangan itu.
.
.
.
TBC
