Tittle : Putri Tidur-Ku

By : Saita Hyuuga Sabaku

.

.

.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing:

Kakashi x Saita

Sasuke x Sakura

Itachi x Aki

Hidan x Hana

Pein x Hezlin

Gaara x Kirei

Rate : T+ s/d M

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Comedy (?)

Warning : CRAICK PAIR, AU, OC, OOC, gaje, maksa, alur berantakan, dll

.

.

.

D.L.D.R

.

.

.

Happy Reading for me :v

.

.

.

Chapter 5

Tap ... Tap ... Tap

Langkah pria berhelai perak mengalun menuruni anak tangga. Ia berniat pergi ke dapur untuk mengambil air, tapi langkahnya justru berubah ke arah ruang tengah saat indera pendengarannya menangkap bunyi televisi. Ia lihat jam tangannya, yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.

Alisnya mengernyit heran, saat mendapati TV yang menyala, tapi satu-satunya orang yang tampak disana, justru tak menontonnya. Wajahnya tertutupi oleh kertas undangan. Tak perlu menebak lagi, karena ia tau itu Saita. Yang dia heran kenapa ia tidur di sana. Perlahan, ia mulai mendekat ke arah Saita. Namun sebuah suara, mengalihkan atensinya.

"Inilah yang kumaksud," ucap Itachi yang tiba-tiba muncul dari arah kamarnya yang memang berada di lantai satu rumah itu.

Kakashi menaikkan sebelah alisnya, masih belum menangkap arah pembicaraan Itachi.

"Seperti yang kubilang tadi pagi, saat aku memintamu memindahkan Saita ke kamarnya," ucap Itachi.

"Jadi ini ...," ucap Kakashi menggantung. Dia mengerti sekarang.

"Begitulah, sudah 6 bulan belakangan ini dia selalu tidur di ruang tengah. Dia bilang, di sini dia merasa lebih baik dibandingkan tidur di kamar. Dia selalu bermimpi buruk tentang Shisui. Aku dan Sasuke yang kadang membawanya ke kamar. Hanya jika ia tidur, karena dia bahkan tak tidur hingga matahari terbit. Itulah sebabnya dia sering tertidur di tempat umum." Itachi menjelaskannya panjang lebar.

"Aku mengerti, mulai sekarang aku akan memastikan dia tidur nyenyak di kamarnya," ucap Kakashi meyakinkan.

"Tolong yah ...," ucap Itachi sambil menepuk pelan pundak Kakashi sebelum ia kembali ke kamarnya.

Setelah Itachi ke kamarnya, Kakashi memutuskan untuk menghampiri Saita yang tengah tertidur dengan posisi yang tak nyaman menurut Kakashi.

Ia duduk di sebelah Saita yang sedang terlelap. Ia ambil kertas undangan yang menutupi wajah Saita. Sekilas ia melihat masih ada jejak air mata di pelupuk matanya. Ia tatap wajah damai yang tengah tertidur itu sebentar sebelum membuka isi undangan itu.

"Jadi sekarang kau menangis karena kakakmu atau pria ini heh, Putri Tidur?" Sekilas ia menyentuh pucuk kepala Saita.

Kakashi meletakkan undangan itu di atas meja dan mematikan televisi. Ketika ia ingin beranjak dari posisi duduknya, tiba-tiba kepala Saita bersandar pada dada bidangnya.

DEG

Kakashi terkejut dan ada perasaan aneh yang menghinggapi dirinya. Jantungnya seakan ingin berpacu layaknya drum yang ditabuh dengan cepat. Ia biarkan sejenak posisinya yang seperti itu. Tanpa sinkronisasi dari otaknya, tangannya bergerak mengelus helaian hitam gadis itu. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum yang author pastikan dapat membuat para gadis meleleh.

Setelah puas mengelus helaian lembut gadis manis itu, akhirnya dia putuskan membawa Saita ke kamarnya. Ia singkirkan perlahan kepala Saita darinya, dan kemudian ia mulai menggendong Saita ala bridal style.

"Nah Putri Tidur, saatnya pindah ke kamar," ucap Kakashi pelan sambil tersenyum.

.

.

.

.

.

Hari ini telah tiba. Hari dimana Itachi dan Aki harus pergi ke Iwa, menunaikan amanat orang tua Aki. Saita sengaja membolos kuliah, karena ingin mengantar mereka ke bandara. Tidak perlu khawatir akan tertinggal pelajaran, karena otaknya cukup encer, mengingat dia adalah seorang Uchiha.

"Nah Saita, sudah saatnya aku dan Aki pergi. Jaga dirimu baik-baik. Ubah kebiasaan burukmu. Dan turuti perintah Kakashi. Ini demi dirimu. Ingat itu!" Itachi menasihatinya panjang lebar, membuat Saita memutar kedua bola matanya bosan dan Aki hanya tersenyum lembut menanggapinya.

"Pesanku hanya satu, ingat semua pesan Ita-koi," kata Aki. Satu pesan mewakili semua nasihat panjang yang tadi dilontarkan oleh Itachi.

"Ha'i," ucap Saita mengangguk mantap.

"Kalian tidak usah khawatir. Saita anak baik, pasti akan mengingat semua nasihat kalian," ucapnya sambil nyengir lima jari.

"Kami berangkat." Itachi melambaikan tangannya dan berbalik menuju pesawat.

Saita membalas lambaian tangan mereka, dan pergi setelah punggung mereka sudah tak terlihat lagi.

.

.

.

Hana datang berkunjung ke kediaman Uchiha. Dia ingin bertemu Saita sekaligus membicarakan rencana ke pernikahan Kirei.

Ting nong, ting nong, ting nong.

Bel berbunyi dan tak lama kemudian pria berhelai perak dengan masker menutupi wajahnya terlihat membuka pintu. Hana terkesiap mendapati sosok di hadapannya yang belum pernah ia kenal sebelumnya dan sedikit terlihat agak 'aneh' menurutnya. Dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa pria itu ada di sini dan siapa gerangan dia? Kenapa Saita tak pernah menceritakan soal pria itu? Tak mau ambil pusing, ia gelengkan kepalanya untuk mengusir semua pertanyaan yang mendarat bebas di otaknya.

"Ne, aku Hana, teman Saita," ucapnya seraya membungkukkan badan.

"Apa dia ada di rumah?" tanyanya kemudian.

"Mungkin sebentar lagi dia datang," ucap Kakashi datar.

"Masuk dan tunggulah di dalam." Kakashi mempersilahkan Hana masuk.

Hana masuk dan menunggu di ruang tengah, sedangkan Kakashi ke dapur untuk mengambil minuman.

'Ya ampun, kenapa tiba-tiba ada pria misterius di sini?' batin Hana.

"Tadaima." Teriak Saita sambil memasuki rumah.

"Okaeri," ucap Hana girang.

"Hana, sejak kapan kau disini?" tanya Saita saat mendengar suara Hana dan mendapati sosoknya diruang tengah.

"Baru saja," ucap Hana singkat.

Tak lama Kakashi pun muncul dari arah dapur dengan segelas minuman di tangannya.

"Ayo kita ke kamarku!" Saita menarik tangan Hana dan menyambar minuman di tangan Kakashi.

"Arigatou Kakashi nii-san," ucapnya seraya tersenyum dan berlalu dengan Hana menaiki tangga menuju kamarnya.

"Yoo," ucap Kakashi singkat dan ia duduk di ruang tengah melihat acara televisi.

.

.

.

Di kamar, Hana langsung menyerbu Saita dengan berbagai pertanyaan.

"Saita, siapa pria misterius itu? Ada hubungan apa denganmu? Kena ...," ucapannya terpotong karena Saita menyuruhnya berhenti.

"Aiiishh, Han-chan, pertanyaanmu sudah seperti wartawan. Akan kujelaskan, dan tenanglah. Dan jangan memotong pembicaraanku," ucap Saita mendelik ke arah Hana. Karena kebiasaan Hana yang suka heboh sendiri ketika ia bercerita tak jarang memotong ucapannya.

Saita mulai menceritakan awal dia bertemu dengan Kakashi, sampai tujuannya tinggal di rumah ini. Dan Hana hanya ber'oh' ria sambil sesekali mengangguk. Setelah selesai permasalahan Kakashi, kini kembali ke tujuan awal Hana datang ke rumah ini.

"Um, Saita-chan, kau sudah menerima undangan Kirei dan Gaara kan?" tanya Hana ragu. Dia merasa tidak enak, tapi kenyataan tetaplah kenyataan.

"Ya, aku sudah melihatnya semalam," ucap Saita sambil tersenyum miris.

"Ne, apakah kau akan datang?" tanyanya kemudian.

"Tentu saja," ucap Saita sambil terkekeh pelan.

"Apa jadinya kalau aku tidak datang? Kirei-chan kan juga sahabatku. Aku tak ingin dia salah paham jika aku tak datang. Dia harus tau kalau aku sudah bisa melupakan Gaara, dan aku juga sudah mendapat pengganti Gaara," ucap Saita mantap tanpa menyadari ucapannya barusan.

"Benarkah? Siapa pria yang telah berhasil merebut hatimu?"tanya Hana bersemangat.

"Belum ada," ucap Saita cuek.

"Lalu, maksud perkataanmu tadi itu apa?" Hana menyipitkan matanya pada Saita dan mendekatkan wajahnya pada Saita, membuat Saita bergidik ngeri.

"Jangan pasang wajah menyeramkan seperti itu Han-chan," ketus Saita.

"Habisnya, kau mengumbar omongan, tanpa memikirkannya. Lalu kau akan membawa siapa? Pasti masing-masing, ah tidak, kebanyakan yang datang membawa pasangannya. Aku dengan Hidan-kun, Hezlin dengan Pein. Lalu kau ingin membawa siapa? Kami juga tidak tega jika membiarkanmu sendiri seperti sapi ompong," cerocos Hana panjang lebar.

"Hn ... bawa siapa ya?" Saita tampak berpikir.

"Bagaimana kalau Kakashi, pria super misterius itu?" ucap Hana sambil menyeringai jahil.

"Tapi akan aneh kalau dia datang menggunakan masker seperti itu. Apa wajahnya tak tampan ya? Jadi dia menutup sebagian wajahnya itu. Dan mata sayunya itu, seperti orang yang tak mempunyai semangat hidup." Hana mengeluarkan semua yang dia pikirkan. Dia memang terlalu ceplas-ceplos.

"Tidak juga. Kalau dia sedang serius, kilatan mata obsidiannya itu terlihat tajam dan mengintimidasi," bela Saita.

Hana menyeringai.

"Lagipula dia tidak seperti yang kau pikirkan. Dia cukup ...," ucapan Saita menggantung.

"Tampan maksudmu?" Hana tertawa.

"Kau menyukainya ya Saita?" goda Hana.

"Ti-tidak. Aku baru mengenalnya beberapa hari. Mana mungkin. Jangan bercanda Han-chan," gerutu Saita.

"Tapi sepertinya ucapanmu berbanding terbalik dengan perasaanmu?" Hana masih menggoda Saita.

"Tidak." Sergah Saita.

"Aku ... aku benar-benar belum bisa melupakan dia. Dia cinta pertamaku," ucap Saita lirih.

"Saita, gomenne," ucap Hana pelan begitu menyadari raut wajah Saita yang berubah sendu.

"Tidak apa Han-chan," ucap Saita dengan senyum yang dipaksakan. Ia cepat-cepat mengusap air mata yang sudah terkumpul di sudut matanya sebelum air mata itu jatuh membasahi pipinya.

"Jadi bagaimana? Siapa yang akan kau ajak?" tanya Hana penasaran.

"Entahlah. Mungkin kau benar. Aku akan mencoba mengajak Kakashi-nii. Karena kami serumah, aku tidak perlu khawatir membuatnya terlalu repot kan? Karena harus menjemput dan mengantarku nanti."

"Baguslah," ucap Hana senang.

"Lalu kau akan pakai gaun yang seperti apa nanti?" tanya Hana antusias. Dia ingin sekali melihat penampilan berbeda dari sahabatnya itu.

"Aku belum memikirkannya. Sasuke nii-chan bilang dia yang akan membelikanku gaun. Aku terima beres sajalah," ucapnya enteng.

"Kau ini, selalu terima jadi ya," ucap Hana sambil tersenyum.

"Yah, dari pada aku salah membeli barang lagi, lebih baik serahkan pada yang sudah berpengalaman kan?" kekeh Saita.

"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Hidan-kun sudah sampai di depan." Ucap Hana girang dan mengedipkan sebelah matanya.

"Tch, kau tidak bosan apa setiap hari bertemu?" decih Saita.

"Hahahahaha, setiap detik pun aku tidak akan pernah bosan padanya. Oiya, jangan paksakan diri jika kau tak sanggup datang ya." Pesan Hana sebelum dia pergi.

Saita mengiringinya turun dan mengantarnya hingga gerbang. Kemudian ia kembali masuk begitu mobil Hidan meluncur pergi.

Saat di ruang tengah ia melihat Kakashi yang sedang bersandar di sofa dengan koran yang menutupi wajahnya dan televisi yang menyala.

"Apa yang Kakashi-nii lakukan?"tanyanya.

"Hanya mencoba merasakan sensasi tidurmu tadi malam," jawabnya datar sambil menyingkirkan koran yang menutupi wajahnya.

"Aku heran kau bisa tidur dengan keadaan seperti itu tadi malam. Baru sebentar saja aku mencobanya, badanku sudah terasa sakit semua," lanjutnya kemudian.

Saita berjalan menghampiri Kakashi dan entah kesialan apa yang membuat kakinya tersandung sehingga ia jatuh ke pelukan Kakashi.

Siiiing

Hening.

Posisi mereka saat ini, tangan Saita berada di pundak Kakashi. Dan tangan Kakashi berada di pinggangnya ketika berusaha menahannya. Wajah mereka sangat dekat hanya terpaut 5 cm. Dan saat ini Kakashi sedang tidak menggunakan maskernya sehingga deru nafasnya sangat terasa menerpa wajah Saita, begitupun sebaliknya. Manik hitamnya seperti terhipnotis dengan manik obsidian Kakashi yang tidak terlihat sayu seperti biasanya. Detak jantung mereka berpacu dengan kencang seperti saling berlomba-lomba untuk melompat keluar. Wajah Saita sudah sangat merah, seperti tomat kesukaan Sasuke, tapi wajah Kakashi masih bisa bersikap datar. Saita seperti tersihir oleh kharisma Kakashi yang baru ia sadari. Dewasa, tampan, lembut dan tenang.

"Apa kau baik-baik saja?" ucap Kakashi memecah keheningan yang terjadi.

Saita tergeragap dan cepat-cepat menghindar dari posisinya yang sedikit berbahaya. Wajahnya sudah terasa sangat panas karena malu, dan jangan tanya lagi semerah apa wajahnya. Dia cepat berbalik bermaksud melarikan diri dari Kakashi, tapi tangan Kakashi dengan cepat menarik tangannya dan memaksanya duduk di sebelah Kakashi. Saita hanya bisa merunduk sambil terus merutuki kebodohannya di dalam hati.

"Jangan biasakan melarikan diri dari masalah," ucap Kakashi datar.

"Bukankah ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyanya kemudian.

"Ti-ti-tidak ada," ucap Saita terbata-bata.

"Aku tak bisa dibohongi Saita-chan, kalau tidak ada yang ingin kau sampaikan, untuk apa kau repot-repot menghampiriku. Itu bukan kebiasaanmu kan?" Kakashi melirik ke arah Saita yang masih setia menunduk.

"E-etto, aku ... aku ingin ...," Saita tak sanggup meneruskan. Jantungnya masih belum bisa kembali ke mode normal.

"Ingin minta tolong padaku, untuk menemanimu ke pesta pernikahan sahabatmu. Benar begitu?" tebak Kakashi.

Saita tak menyangka Kakashi bisa menebaknya semudah itu. Dia hanya bisa mengangguk. Kemudian untuk menghindar dari rasa malunya, dia malah menuduh yang bukan-bukan.

"Kau menguping pembicaraanku dengan Han-chan ya?" gerutunya.

"Tak ada untungnya kan buatku menguping pembicaraan kalian. Dari gelagatmu sudah bisa kutebak. Dan lagi, kalau tebakanku benar, kau menyukai pria yang akan menikah itu kan? Atau bisa ku bilang kau mencintainya?" tutur Kakashi.

"Tidak," ucap Saita cepat.

"Aku ini lulusan di bidang psikologi Saita-chan, hampir semua kepribadian orang dapat ku tebak," ucapnya.

"Iya, aku mengaku. Jadi ... jadi bisakah kau membantuku?" ucap Saita cepat. Tak ada gunanya menutup-nutupi rahasia dengan orang dihadapannya ini. Itulah yang ia pikirkan.

"Bisakah kau meminta dengan cara yang sopan?" Kakashi mengujinya. Karena daritadi Saita terus menundukkan kepalanya.

'Kami-sama, dia mencoba mempermainkanku. Tch,' decihnya dalam hati. Ia menghela nafas dan mencoba menetralisir keadaan hatinya dan berusaha menampilkan wajah datar dan stoic khas Uchiha.

Setelah dirasa dia bisa mengendalikan gemuruh jantungnya, akhirnya ia beranikan diri menatap Kakashi dan memohon.

"Kakashi nii-san, maukah kau menemaniku ke pesta dan berpura-pura menjadi kekasihku? Ku mohon," ucapnya dengan suara yang dibuat lebih lembut dari biasanya dan menampilkan puppy eyes andalannya dengan tangan yang ia tangkupkan membentuk permohonan.

Kakashi tersenyum dan menepuk pucuk kepala Saita lembut dan berkata, "Tentu."

Saita yang merasa senang sontak memeluk Kakashi erat dan melepaskan pelukannya kasar saat menyadari kebodohannya. Akhirnya ia kembali ke kamarnya meninggalkan Kakashi di ruang tengah.

.

.

.

Beberapa hari ini Saita tidak bisa menikmati tidur di sofa seperti biasanya. Karena saat ia ingin ke sofa di ruang tengah, Kakashi selalu berada di sana. Seolah sengaja, agar Saita membiasakan diri kembali tidur di kamar. Meski terkadang Saita masih suka bermimpi buruk.

Tentu saja Kakashi melakukannya dengan sengaja. Dia berpura-pura tidur disana untuk memaksa Saita agar tidak di sofa. Dan setelah memastikan Saita sudah tertidur, ia baru kembali ke kamarnya. Inilah langkah awal yang ia lakukan untuk proses penyembuhan Saita.

.

.

.

Hari pernikahan Kirei dan Gaara akhirnya tiba. Hana, Hezlin dan Saita berjanji untuk berangkat bersama dari kediaman Uchiha, mengingat tempat resepsi lebih dekat dari rumahnya.

Hana datang bersama Hidan dengan menggunakan mobil sportnya yang berwarna hitam. Hidan dengan setelan jas hitam, kemeja putih dan dasi berwarna merah senada dengan gaun Hana.

Hana memakai gaun berwarna merah ketat sebatas paha dengan bagian yang mekar dari pinggang ke bawah sebatas paha layaknya pakaian princess. Rambutnya dibuat keriting gantung dengan pita sebagai pemanis di rambutnya

Hezlin datang bersama Pein dengan menggunakan mobil sport Pein yang berwarna orange pekat. Sama halnya seperti Hidan, Pein menggunakan setelan jas hitam dengan dasi berwarna orange senada dengan rambutnya.

Sedangkan Hezlin menggunakan gaun berwarna gold polos panjang dengan belahan sebatas paha di bagian kirinya. Gaun tanpa lengan dengan bagian punggung yang terbuka lebar, menampilkan punggung indahnya. Benar-benar gaun yang terkesan elegant. Tatanan rambutnya yang panjang di buat bergelombang dan disampirkan ke sebelah sisi wajahnya. Menambah kesan elegant yang sempurna.

Kemudian yang paling ditunggu. Penampilan Saita yang sangat berbeda dari biasanya. Saita dengan balutan gaun berwarna merah panjang dengan lipitan-lipitan di beberapa bagian. Bagian atasnya yang tanpa lengan terdapat renda putih dari sisi bahu sebelah kanan menjulur ke sebelah kiri. Bagian tengah dadanya terdapat tali yang menyilang-nyilang berwarna merah. Rambut sebatas punggungnya yang bergelombang dibiarkan tergerai dengan jepitan berbentuk bintang dengan butiran-butiran permata menempel di sisi lain rambutnya, menampilkan kerlap kerlip di tempat yang gelap ataupun remang.

Kakashi memakai setelan jas berwarna putih dengan dasi merah. Maskernya yang telah di lepas, menunjukkan wajah tampan dan kesan dewasanya. Manik obsidiannya berkilat tajam, tidak sayu seperti biasanya. Mobil sport berwarna putih sudah bertengger manis di halaman.

Setelah Sasuke puas selfie dengan Saita yang penampilannya sangat jarang terjadi seperti sekarang, akhirnya ia mengijinkan Saita untuk berangkat. Kakashi telah menunggu Saita di ujung tangga bawah.

Dia tengadahkan tangannya begitu Saita sampai di bawah. Dan Saita menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan Kakashi yang terbuka, menerima sambutan tangan Kakashi. Seperti pangeran yang membawa putrinya untuk berdansa, mereka keluar dengan posisi tangan seperti itu. Membuat Hana dan Hezlin memandang dengan pandangan menggoda ke arah Saita. Dan wajah Saita merah padam dibuatnya. Ini memang sudah menjadi kesepakatan antara Kakashi dan Saita. Kalau Saita akan menerima semua perlakuan khusus Kakashi dan ia harus memanggilnya Kakashi-kun begitu di tempat pesta nanti.

Akhirnya mereka pun berangkat menuju tempat pesta dengan mobil sport dan pasangan masing-masing.

.

.

.

Begitu sampai di tempat pesta para pangeran mereka membukakan pintu untuk gadisnya. Mereka berjalan dengan tangan yang merangkul kekasihnya masing-masing.

"Demi dewa Jashin, kau seperti perempuan sungguhan jika tampil seperti ini," kata Hidan begitu mereka telah sampai di dalam gedung.

"Iya benar," sahut temannya yang lain, Hana, Hezlin dan Pein.

"Tch, kalian ini, memang kalian pikir selama ini aku apa?" ketus Saita.

"Setengah perempuan," celetuk Pein tanpa tampang berdosa.

Kakashi hanya tersenyum menanggapi. Dan Hezlin mengajak mereka untuk menemui Kirei.

"Sudah hentikan, kalian ini. Lebih baik sekarang kita temui Kirei dan Gaara," ucapnya melerai perdebatan yang tidak perlu di antara mereka.

"Ayo," ucap mereka serempak.

Sejenak Saita tak mengikuti langkah teman-temannya. Pandangannya mengisyaratkan kesedihan, tapi dia sudah terlanjur datang. Tidak mungkin dia kabur begitu saja. Kakashi yang menyadari atmosfer perubahan Saita, menggenggam tangan Saita yang ternyata sudah berkeringat dingin.

"Kau sampai keringat dingin seperti ini, apa kau yakin ingin melanjutkan?" tanya Kakashi khawatir. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengelap tangan Saita.

Saita mengangguk mantap. Kakashi kembali menggenggam tangan Saita dan Saita mempererat genggaman tangannya pada Kakashi seolah itu memberi kekuatan tersendiri baginya.

Kirei tampil sangat anggun dan cantik. Dengan balutan gaun berwarna putih panjang. Dengan bagian yang mengembang dari atas pinggang dan makin mengembang hingga menyentuh lantai. Dari sisi kanan ke kirinya hiasan bunga mawar putih yang mekar, tampak menarik garis menyilang di salah satu sisinya. Rambutnya digelung ke atas dan tudung kepala dengan mahkota di atasnya benar-benar menambah kesan mewah dan anggun pada sosok Kirei sang pengantin perempuan.

Gaara dengan tampilan jas putih dan dasi berwarna merah senada dengan warna rambutnya, dan gaya rambut yang di atur sedemikian mungkin, menambah kesan keren pada dirinya.

"Kirei-chan, omedetou," ucap Hezlin menyalami Kirei dan mendekatkan wajahnya pada Kirei hingga pipi mereka saling bersentuhan.

"Sankyuu Hezlin. Senang rasanya kalian bisa menghadiri pernikahanku," ucap Kirei seraya tersenyum lembut.

Hana dan Saita pun melakukan hal yang sama dan para lelaki hanya menyalami pengantin wanita dan menepuk pundak pengantin pria.

"Omedetou Gaara," ucap Hidan.

"Arigatou Hidan," balas Gaara.

Tak banyak yang bisa mereka bicarakan, karena banyaknya tamu yang mengantri untuk bersalaman. Pesta mewah di gedung yang mewah itu pun mengadakan acara dansa. Sang pengantin dengan pasangannya dan para tamu dengan pasangan masing-masing.

Kirei, Hezlin, dan Hana tampak bahagia dengan pasangannya masing-masing. Sedangkan Saita memilih duduk manis, karena ia sama sekali tak bisa berdansa, dan Kakashi tak ingin memaksanya.

Setelah selesai berdansa mereka berdelapan berkumpul di salah satu meja. Mereka duduk melingkar dan saling berbincang. Para gadis sibuk bernostalgia dan para pria membicarakan hal yang biasa. Saita lebih banyak diam, meski sesekali menyahut, akibatnya dia terlalu banyak minum dan mabuk.

Menyadari Saita yang sudah mabuk berat, Kakashi mohon ijin untuk pulang duluan. Hana hanya bisa menatap nanar tubuh Saita yang dibopong Kakashi.

.

.

.

Tbc


Bales review walaupun dikit #plaakk

Hani Yuya senpai : dengan senang hati di ijinin :v

Arigatou senpai dah mau mampir :-D

Sami haruchi 2 : Iya sami-chan, char cewenya author ffn semua, wkwkkwk

Makasih dah mau mampir n review :*