Tittle : Putri Tidur-Ku
By : Saita Hyuuga Sabaku
.
.
.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing:
Kakashi x Saita
Sasuke x Sakura
Itachi x Aki
Hidan x Hana
Pein x Hezlin
Gaara x Kirei
Rate : T+ s/d M
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Comedy (?)
Warning : CRAICK PAIR, AU, OC, OOC, gaje, maksa, alur berantakan, dll
.
.
.
D.L.D.R
.
.
.
Happy Reading for me :v
.
.
.
Chapter 6
.
.
.
Selepas Saita pergi, semua kembali melanjutkan acara mengobrolnya.
"Ne, Kirei-chan kalian akan bulan madu kemana?"ucap Hana dengan senyum menggoda.
"Kami sudah merencanakan untuk pergi ke Kepulauan Yaeyama yang terletak di ujung selatan Jepang," jawab Kirei.
"Disana terdapat Pulau Hateruma yang indah. Terpencil, tak ada keramaian, dan menyatu apik dengan birunya Samudera Pasifik," sambung Gaara.
"Benarkah seindah itu?" tanya Hana antusias.
"Itu benar Han-chan," sahut Hezlin.
"Ada perasaan terpencil ketika kau menginjakkan kaki di pulau itu. Setelah disuguhi birunya lautan sepanjang perjalanan laut, kita akan dihadapkan pada pantai landai berpasir putih. Di hadapan mata terbentang beberapa vegetasi seperti pohon beringin, bambu, juga bunga anggrek dan kembang sepatu. Semakin kita berjalan, wangi bunga-bunga itu semakin kentara," jelas Hezlin dengan sorot mata yang berbinar-binar.
"Semua keindahan alam seakan menyatu di pulau itu. Bila memandang laut lepas, gradasi biru muda dan biru muda tampak sangat kontras. Warna biru satu lagi dihasilkan oleh langit cerah, dengan awan putih yang mengambang di udara. Tanpa suara, tanpa resor, tanpa restoran, tanpa pesta pantai, dan tanpa kerumunan orang." Pein ikut menjelaskan.
"Demi dewa Jashin, kalian sangat mengenal tempat itu ya?" ucap Hidan tak kalah antusias.
"Aku tak sabar ingin berlari di atas pasir pantai yang halus seperti bedak itu. Kemudian berenang di lautan jernihnya. Melihat terumbu karang warna-warni yang sangat indah dan ikan-ikan tropis warna pelangi yang hilir mudik di sekitarnya," ucap Kirei sambil menerawang.
"Jika ingin menikmati panorama lautan, Pantai Nishi adalah tempat yang tepat. Selaras dengan pulaunya, Nishi merupakan pantai terindah di Jepang. Kita bisa memandang laut lepas sambil duduk-duduk di bawah pohon rindang. Yang terdengar hanya bunyi deburan ombak, dan angin yang menyatu dengan gemerisik dedaunan." Hezlin kembali menjelaskan.
"Aku tidak heran Hezlin, kalau kau tau sebanyak itu. Karena dari dulu kan hobimu memang traveling. Ne, kapan kau mengunjungi tempat itu?" tanya Hana.
"Aku dan Pein baru saja merencanakannya beberapa hari yang lalu. Kami ingin liburan kesana akhir pekan ini. Benar kan Pein-kun," ucap Hezlin manja.
"Ya, begitulah. Tidak kusangka pengantin baru kita ini juga mempunyai pemikiran yang sama," ucap Pein sambil terkekeh pelan.
"Yah, kami memang sudah merencanakannya jauh sebelum hari pernikahan kami," ucap Gaara datar.
"Selain panorama darat dan lautnya, Hateruma juga tersohor karena panorama langitnya. Hateruma adalah salah satu tempat terindah untuk melihat bintang, terutama karena letaknya jauh dari polusi. Waktu terbaik untuk datang ke pulau itu adalah bulan Desember-Juni, ketika ribuan bintang sedang gemar bersinar. Sangat pas kan bukan? Lagipula sebentar lagi Desember berakhir. Kami sekalian ingin menikmati malam tahun baru disana." Jelas Gaara panjang lebar.
"Wah, Hidan-kun aku juga ingin liburan ke pulau indah itu," rengek Hana manja pada Hidan.
"Boleh saja, jika kau memang menginginkannya Hime," ucap Hidan sambil mengecup sekilas pipi chubby Hana.
Jangan heran kalau Hidan bersikap seperti itu. Dia memang sering bersikap vulgar di hadapan umum. Apalagi sekarang, di hadapan teman-temannya. Hana hanya bisa berblushing ria dengan perlakuan Hidan.
"Ne, sepertinya kita sudah terlalu larut. Sebaiknya kami pamit pulang. Kalian kan pengantin baru, pasti sudah tak sabar ingin menikmati malam pertama kalian sebagai pengantin," ucap Hezlin pada Kirei dan Gaara.
Tamu-tamu memang sudah pulang sejak tadi. Sejak mereka masih berkumpul berdelapan bersama Kakashi dan Saita. Itulah sebabnya Saita tak dapat mengontrol diri sampai akhirnya mabuk berat.
"Tidak masalah kok," ucap Kirei dengan cengirannya.
"Demi dewa Jashin, kita memang sudah terlalu larut. Orang tua Hana bisa menceramahiku," ucap Hidan sambil melihat jam tangannya.
"Kalau begitu, kami pulang dulu," pamit Pein.
Akhirnya mereka berempat pulang dan meninggalkan Gaara dan Kirei.
Saat berjalan keluar Hana dan Hezlin sempat berbincang.
"Hezlin-chan, kami ikut liburan bersamamu ya," pinta Hana.
"Kita berangkat bersama," lanjutnya lagi.
"Boleh juga. Sepertinya akan seru. Oh ya, bagaimana kalau mengajak Saita-chan dan Kakashi-san?" usul Hezlin.
"Um, entahlah. Apa dia mau ya?" Hana tampak berpikir.
"Cobalah bujuk dia. Kau kan dekat dengannya. Kapan lagi kita bisa liburan bersama?" ucap Hezlin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Baiklah, akan kubujuk dia," ucap Hana bersemangat.
Akhirnya mereka pun memasuki mobil sport kekasihnya masing-masing karena Pein dan Hidan sudah menunggu. Mereka pun melaju meninggalkan tempat pesta.
Sementara itu di dalam hotel tempat Kirei dan Gaara.
"Nah Kirei, apa kau siap melayaniku malam ini?" bisik Gaara sensual tepat ditelinga Kirei.
"Gaara-kun ...,"ucap Kirei terpotong karena Gaara langsung melumat bibirnya.
Tak lama, karena Gaara segera melepas lumatannya dan mengangkat tubuh Kirei ala bridal style menuju kamar pengantin di lantai atas hotel itu.
.
.
.
Sementara itu, Kakashi yang telah tiba di kediaman Uchiha, menatap sekilas Saita, sebelum memutuskan untuk turun dari mobilnya. Dia memijit keningnya pelan, dan bergumam," Apa yang akan ku katakan pada Sasuke dan Sakura? Membiarkannya mabuk berat seperti ini. Baka, aku ceroboh tak mengawasinya di saat hatinya sedang kalut seperti ini."
Akhirnya setelah merutuki kebodohannya sendiri, Kakashi memutuskan untuk segera turun dari mobilnya. Ia mengangkat tubuh Saita ala bridal style dan pasrah akan apa yang akan dikatakan oleh Sasuke dan Sakura nanti.
Kakashi memasuki rumah dan saat melihat rumah sangat sepi, alisnya mengernyit heran. Tak mau ambil pusing, dia pun segera membawa Saita ke kamarnya. Setelah membaringkan Saita di atas kasurnya, handphonenya bergetar.
Ternyata pesan dari Sasuke.
'Kakashi nii-san, aku titip Saita malam ini ya. Aku pergi bersama Sakura.'
"Heh, dasar bocah hentai itu. Apa dia tidak khawatir kalau aku macam-macam dengan anak ini?" ucap Kakashi frustasi.
Hei, biar bagaimanapun dia seorang lelaki normal kan. Entah setan mana yang bisa saja merasukinya untuk berbuat macam-macam pada gadis yang bahkan tengah mabuk berat itu.
Sebenarnya Sasuke memang tau semua sifat asli Kakashi. Dan ia percaya Kakashi tak akan pernah berbuat hal-hal mesum pada Saita. Lagipula siapa sangka Saita mabuk? Sasuke sama sekali tak mengetahuinya bukan?
Akhirnya Kakashi memutuskan untuk meninggalkan kamar. Tapi belum sempat kakinya menuju ambang pintu, ia sudah berbalik karena suara Saita.
"Engghh," lengkuhnya.
"Shisui-nii, jangan pergi, hiks ...," Saita mengigau.
Kakashi pun menghampiri Saita dan berjongkok di samping ranjangnya.
"Kau bermimpi buruk lagi ya," gumamnya pelan di depan wajah Saita yang kini mengarah ke sisi sebelah kanan tepat berhadapan muka dengan Kakashi.
"Ennghh, Shisui-nii," gumamnya lagi.
Saita membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur karena pengaruh alkohol. Tapi entah mengapa saat ia melihat sosok Kakashi, ia seperti melihat kakaknya. Ditambah dengan aroma maskulin yang menguar dari tubuh Kakashi, sama persis seperti kakaknya. Saita langsung memposisikan dirinya duduk, walau agak terhuyung, sehingga Kakashi berdiri dari posisi jongkoknya dan duduk di sebelah Saita, menahan tubuhnya agar tak jatuh.
"Saita langsung memeluk tubuh Kakashi dengan erat.
DEG DEG DEG
Detak jantung Kakashi mulai tak normal.
"Saita-chan," ucap Kakashi lembut.
"Shisui-nii, hiks. Nii-chan, kenapa baru sekarang kau menemui aku. Kemana saja kau selama ini? Aku sangat merindukanmu, hiks ... hiks ... hiks." Saita mulai meracau.
"Saita-chan, aku ...," Kakashi berusaha memberi tau kalau dia bukan Shisui seperti yang Saita pikirkan.
"Nii-chan, ku mohon, tetaplah disini. Disampingku. Jangan tinggalkan aku lagi." Saita terisak.
Kakashi yang tak tega, akhirnya membiarkan Saita memeluknya. Ia pun membalas pelukan Saita dan membelai lembut rambutnya.
"Sudah. Tenanglah. Aku disini," ucap Kakashi lembut.
Lama mereka dalam posisi berpelukan seperti itu. Kehangatan menjalari tubuh keduanya. Tapi tidak mungkin mereka mau seperti itu sampai pagi kan? Akhirnya Kakashi kembali berbicara.
"Saita, istirahatlah. Ini sudah larut," ucapnya lembut pada Saita.
"Tidak mau. Aku tidak mau tidur. Kalau aku tidur, Nii-chan akan pergi lagi. Kau akan meninggalkanku lagi," rengek Saita manja.
"Aku akan menemanimu disini Saita. Jangan khawatir." Kakashi berusaha meyakinkan.
"Iie. Aku tidak mau tidur, kecuali Nii-chan menemaniku tidur disini. Aku tidak ingin melepaskan pelukan hangat ini Nii-chan. Aku merindukanmu. Kau harus selalu disisiku," celoteh Saita.
Kakashi membelalakkan matanya tak percaya. Sungguh jika dia laki-laki tak bertanggung jawab, Saita pasti sudah habis olehnya. Bersyukur dia cukup baik mengendalikan nafsunya.
Akhirnya mereka pun tidur seranjang. Lengan Kakashi sebelah kanan digunakan untuk tumpuan kepala Saita. Saita tak pernah melepas pelukannya pada Kakashi. Posisi mereka berhadapan. Benar-benar posisi berbahaya jika Kakashi tak bisa menahan diri. Kakashi terus membelai lembut rambut Saita, berusaha meninabobokannya dengan cara seperti itu.
"Nii-chan, kau selalu hangat. Aku suka sekali jika nii-chan memelukku seperti ini," ucap Saita pelan.
"Hm. Tidurlah!" Kakashi tersenyum dan masih membelai rambut Saita. Saita menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Kakashi.
Kakashi POV on
Kami-sama, gadis ini benar-benar tak sadar ini aku. Hey Putri Tidur, lupakah kau bahwa kakakmu sudah berada di surga? Ya ampun, aku tidak tau bagaimana reaksinya saat ia terbangun esok hari. Sudahlah, aku siap menanggung semua resiko jika besok ia akan memarahiku karena kemabukannya ini.
Aku benar-benar tidak kuat dengan posisi ini. Detak jantungku benar-benar berdebar dengan sangat kencang. Apa kau tidak mendengarnya Putri Tidur? Kami-sama, sebenarnya perasaan apa ini? Mungkinkah ini cinta? Secepat itukah cinta ini tumbuh? Selama ini belum ada gadis yang bisa menyentuh perasaanku seperti ini.
Setelah Rin pergi, tidak pernah ada gadis yang bisa menarik perhatianku. Apa ini rasa kasihan? Karena aku bertanggung jawab atas gadis ini. Atas kesembuhannya.
Aaarrrggghhh aku pusing memikirkannya. Aku memejamkan mataku sambil terus membelai lembut rambut hitamnya. Hingga aku tak sadar apapun lagi.
Kakashi POV off
Dan mereka pun berlelap bersama.
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya hotel tempat Gaara dan Kirei.
"Hime, apa kau masih sanggup?" bisik Gaara di telinga Kirei sambil mengecup cuping telinganya. Ini sudah ronde kelima mereka melakukan hubungan suami istri. Meski sebelum menikahpun mereka pernah melakukannya, tapi malam pertama sebagai pengantin baru, benar-benar terasa berbeda bagi mereka. #digampar wyda senpai
"Engghh ... tentu saja. Sampai kau puas dan lelah, aku masih sanggup mengimbangimu," ucap Kirei di sela desahannya karena kelakuan Gaara.
Gaara menyeringai sexy dan mulai melakukan aksinya kembali.
Dia kini beralih melumat bibir mungil Kirei. Menghisapnya pelan, lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Kirei, mengajak lidah mereka berdansa dan saling bertarung. Mereka saling bertukar saliva, hingga pasokan oksigennya habis dan melepas ciuman panasnya.
Setelah itu, Gaara mulai menjelajahi leher jenjang Kirei. Dia mencium, menjilat, hingga menghisap leher jenjang itu, meninggalkan jejak kiss mark, meski leher Kirei sudah dipenuhi oleh jejak kiss mark buatannya.
"Engghhh ...," Kirei mendesah tertahan akibat rasa geli dan nikmat yang dibuat oleh Gaara.
Gaara mulai turun ke bagian bukit kembar Kirei. Dia memainkan tonjolan kecil di atas bukit kembar itu. Memilin, memutar, menjilat dan menyedotnya layaknya bayi yang sedang menyusui. Kirei makin mengeluarkan desahan yang memabukkan bagi telinga Gaara. Sehingga Gaara semakin liar memainkannya. Terkadang ia meremas salah satunya saat bagian yang lainnya sedang ia mainkan oleh lidahnya.
Tak hanya itu, tangannya kembali menelusup menyentuh rongga kewanitaan Kirei. Ia mainkan klitoris Kirei untuk membuat Kirei makin mendesah tertahan.
"Engghh ... ahhh ... uhhh ...," desahan-desahan keluar dari bibir mungil Kirei disertai dengan tubuhnya yang terkadang menggelinjang karena sensasi itu.
"Kau sudah siap Hime?" bisik Gaara sensual.
"Ini akan jadi penutup malam pertama kita," ucap Gaara sambil menyeringai.
Akhirnya Gaara melancarkan serangan terakhir. Ia mulai memasukkan kejantanannya pada lorong kewanitaan Kirei. Pinggulnya mulai ia gerakkan maju mundur dengan tempo lambat dan lama-kelamaan makin cepat. Milik Kirei sudah sangat basah dan sudah mencapai klimaks. Akhirnya tiba giliran Gaara yang mencapai klimaks dan ia mengeluarkan cairannya di atas badan Kirei. Karena ia tak ingin membuat Kirei langsung hamil.
.
.
.
TBC
Makasih sami haruchi 2, hani yuya senpai, dah follow, favorite, dan review fic gaje ini...
Juga untuk para silent reader, makasih udah mau baca fic gaje ini...
With Love,
Saita
