Chapter 6 : Fuuinn III »» The Truly

.

.

.

Langsung saja ya? Biar cepet selesai!


LEN POV


'Dimana ini? Kemana semua orang? Kenapa di sini sangat gelap?' pikiranku terus berkecamuk. Semua yang kulihat hanya gelap, cahaya? Di sini benar-benar tidak ada satupun cahaya yang masuk, semua hanyalah warna hitam, tidak ada yang bewarna putih. 'Apa kau ingin tahu kebenaran tentang Wizard Ghost?' suara perempuan itu terdengar. Ya, perempuan itu, perempuan yang merasuki tubuhku, perempuan yang menculik semua orang yang berkaitan dengan balas dendamnya. Perempuan itu adalah Megurine Luka, korban yang dibunuh dikira penyihir.

Megurine Luka menunjukkan dirinya, dia tersenyum tulus. Aku heran dengan sikapnya, bukannya tadi dia sangat kasar dan selalu bicara dengan ucapan penuh ancaman. 'Gomen…. Kau jadi harus menyegelku di tubuhmu,' katanya dengan penuh rasa bersalah. 'Demo arigato ne…. Dengan begini, dia tidak akan membujukku terus untuk melukai kalian,' lanjutnya. "Dia? Siapa?" tanyaku sambil mendekatinya. 'Dia…. Kamui Gakupo, pacarku, yang tega menjulukiku penyihir padahal dia sendiri yang penyihir,' jawabnya. Megurine menunjukkan seorang pria yang diikat dengan tali yang…. Bercahaya? Rambutnya panjang diikat gaya ponytail, matanya bewarna ungu gelap senada dengan warna rambutnya. Dia memakai pakaian serba hitam, seperti orang yang akan ke makam orang. 'Dia Kamui Gakupo, pacarku, penyihir yang sebenarnya. Jika saja, kalau dia yang mati, mungkin dia yang dijuluki Wizard Ghost tapi, karena aku yang mati…. Aku malah dijuluki Wizard Ghost,' jelas Megurine panjang lebar.

"Hmm…. Megurine─" aku ingin bertanya, dia langsung meralat cara panggilku ke dia.
'Luka,' selanya dengan nada dingin. Aku berdehem, "Jadi begini Luka….-san…. Bukankah kau tadi bilang 'Apa kau ingin tahu kebenaran tentang Wizard Ghost?' bisa kau ceritakan sekarang?" tanyaku. 'Oh…. Itu…. Sebenarnya aku ingin menceritakan kepada orang yang kuculik juga. Tapi…. Kurasa kau yang mendengarnya sudah lebih dari cukup. Aku ingin bebanku hilang saat aku benar-benar tersegel dalam "guci itu". Aku akan membuatnya lebih singkat, aku tidak mau mereka menunggumu terlalu lama untuk sadar,' jawabnya. Aku mulai mempersiapkan telingaku untuk mendengarkan ceritanya yang sebenarnya, entah itu singkat atau panjang.


-Flashback- [NORMAL POV]


CRESS!

Hujan turun dengan deras, terdapat tiga anak SMA yang berteduh di rumah pohon buatan mereka sendiri. "Hujannya deras banget! Bagaimana kita bisa pulang kalau gini?" tanya laki-laki berambut biru dengan warna mata yang senada dengan rambutnya, dia memakai seragam lengan pendek bewarna putih dengan celana panjang warna hitam, dia juga memakai syal bewarna biru laut. "Entahlah…. Mungkin kita harus menungu hujan reda, kalau kita pulang dengan basah kuyup, pasti kena marah sama orang tua," jawab perempuan berambut toska panjang yang di kuncir dengan gaya twintail, warna matanya senada dengan rambutnya, dia memakai seragam bewarna putih lengan pendek dengan rok pendek selutut bermotif kotak-kotak dengan warna dasar merah dan garis-garis bewarna hitam, tidak lupa dengan pita bewarna merah sebagai pengganti dasi. "Padahal ini musim panas, kenapa harus hujan?" gumam perempuan berambut pink sepunggung dengan warna mata biru laut, dia memakai seragam seperti gadis berambut toska. 'Perasaanku jadi tidak enak,' kata hantu laki-laki yang mirip dengan perempuan berambut pink tapi, rambutnya pendek.

"Miku-chan, Luka, lihat! Itu Gakupo 'kan?" kata laki-laki berambut biru sambil menunjuk seorang laki-laki berambut ungu panjang yang dikuncir ponytail dengan warna mata ungu gelap, dia memakai seragam seperti laki-laki berambut biru. Perempuan yang dipanggil laki-laki berambut biru itu langsung mengikuti arah tangan laki-laki itu. "Iya, itu memang Gakupo. Kenapa dia bersembunyi di pohon itu ya? Apa lagi bawa tongkat itu?" tanya perempuan berambut toska yang bernama Hatsune Miku. "Apa Luka-chan tahu?" lanjut Miku. "Entahlah…. Mungkin dia ada urusan di hutan ini," jawab perempuan berambut pink tepatnya, Megurine Luka.

'Aneeki, kau harus bersembunyi! Sepertinya dia merencanakan hal yang buruk!' pinta laki-laki berambut pink yang merupakan kembaran Luka, Megurine Luki (Note : Dia mati lebih dulu karena penyakit leukimia). "Kalian menunduk, jangan sampai ketahuan Gakupo!" perintah Luka sambil memaksa tubuh kedua temannya itu menunduk. "Ittai! Memangnya kenapa? Bukannya dia pacarmu? Kenapa harus sembunyi?" tanya laki-laki berambut biru beruntun yang bernama Shion Kaito. "Luki bilang, dia merencanakan sesuatu," jawab Luka. "Sesuatu?" ulang Miku dan Kaito bersamaan. Luka menghela nafas, "Yang pasti rencana yang buruk," jelas Luka. Miku dan Kaito terkejut, mereka memang percaya kalau Luka bisa melihat makhluk halus, mereka juga percaya kalau firasat Luki itu memang tepat. Tapi mereka tidak percaya kenapa Gakupo merencanakan sesuatu yang buruk.

"Lalu, Apa yang harus kita lakukan? Gakupo 'kan tahu kalau rumah pohon ini milik kita. Bagaimana kalau dia tahu kita ada di sini?" tanya Miku yang mulai takut. "Memang benar, aku tahu kalian memang ada di sini," kata Gakupo yang menjawab pertanyaan Miku. Mereka bertiga langsung terkejut karena Gakupo tiba-tiba ada di rumah pohon mereka, padahal mereka tadi lihat kalau Gakupo ada bersebunyi di belakang pohon yang agak jauh dari rumah pohon mereka. "Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Kaito yang mulai takut. "Terlalu mudah untuk menemukan kalian, aku bisa merasakan aura kalian," jawab Gakupo dengan nada dingin. "Apa yang akan kau lakukan pada kami?" tanya Luka dengan suara datar. "Tentu saja untuk membunuh kalian," jawab Gakupo tenang.

"Kenapa kau─" belum sempat Miku menyelesaikan ucapannya, Gakupo sudah menyela. "Karena aku akan menjadi penyihir yang terkuat dengan membunuh teman terdekat serta kekasihku," sela Gakupo. Dia mengarahkan tongkatnya ke arah Miku dan Kaito, lalu cahaya hitam keluar dari tongkatnya dan membunuh Kaito dan Miku. Luka yang melihatnya langsung kaget. Takut, marah, sedih menjadi satu, dia tak menyangka pacarnya akan melakukan hal sekejam itu kepada temannya. "Sekarang giliranmu…," kata Gakupo dengan seringainya. Cahaya hitam dari tongkat Gakupo mulai muncul. "Tapi tidak seru kalau aku langsung membunuhmu, kau 'kan kekasihku, jadi aku akan membunuhmu dengan cara yang spesial," lanjut Gakupo tetap dengan seringai di wajahnya.


"Tunggu dulu! Apa Gakupo memang terlahir menjadi penyihir? Dia tidak mempelajari ilmu hitam 'kan?" tanya Len menghentikan cerita Luka. 'Sebenarnya…. Keluarga Kamui itu penyihir hitam, tapi karena generasi penerus Kamui menikah dengan manusia biasa, kekuatan sihir dari Kamui lama-lama lenyap. Dan saat Gakupo lahir, para tetua Kamui terkejut, mereka tidak menyangka kalau Gakupo mempunyai kekuatan sihir yang besar. Sehingga Gakupo tumbuh sambil mempelajari sihir-sihir hitam. Itu sih yang kulihat di buku Gakupo,' jawab Luka panjang lebar. Len hanya mengangguk tanda mengerti, "Kau boleh lanjutkan ceritanya lagi, Luka…. –san," kata Len. Luka mengangguk, 'Lalu…,'


"Apa yang akan kau lakukan?! Lepaskan! Sakit!" teriak Luka sambil memegang rambutnya yang ditarik Gakupo. "Diamlah!" bentak Gakupo, tapi itu tidak membuat Luka berhenti meronta. Setelah lama berjalan (Note : Diseret khusus Luka), Gakupo dan Luka sampai di gudang belakang sekolah, di sampingnya terdapat pohon besar. Di dahan pohon besar itu terdapat simpul tali tambang untuk menggantung seseorang. "Itu dia! Kau sudah menangkapnya?" tanya Kepala Keluarga Shion kepada Gakupo. Gakupo mengangguk, lalu melempar Luka di hadapan orang-orang yang menatapnya dengan kebencian. "K-kenapa k-kalian menatapku s-seperti itu?" tanya Luka ketakutan. "Cih! Masih pake' tanya! Sudah jelas kau membunuh anakku dan Miku!" jawab Kepala Keluarga Shion dengan nada tinggi.

"Benar itu! Seperti yang Gakupo katakan tadi, kau memang penyihir hitam yang sudah lama kami cari! Beraninya kau membunuh anakku!" bentak Nyonya Hatsune. Tubuh Luka gemetar, dia ketakutan dan marah. Luka 'kan tidak membunuh Miku dan Kaito, mereka adalah sahabat terbaik yang pernah Luka miliki. Mana mungkin dia membunuh sahabatnya, yang membunuh Kaito dan Miku adalah Gakupo, pacarnya. "I-itu bukan aku! Gakupo menipu kalian! Gakupo yang membunuh Kaito dan Miku tepat di depan mataku! Dialah penyihir yang sebenarnya!" bantah Luka. Semua orang yang berkumpul di gudang belakang sekolah menatap Gakupo mencari kepastian.

Gakupo hanya menggelengkan kepalanya, "Dia bohong! Jika aku membunuh Miku dan Kaito yang merupakan sahabatku, apa kau punya buktinya?!" elak Gakupo. Semua orang kembali menatap Luka, "Ini membuat kami bingung! Kami harus memastikan apa cerita kalian benar atau tidak," kata Rinto, Kepala Keluarga Kagamine menengahi perdebatan. "Aku punya buktinya!" kata Gakupo yakin. Dia membuka baju seragamnya yang basah, sehingga ia hanya bertelanjang dada. Di tubuhnya terdapat bekas luka bakar. "Tadi Luka menyerangku dengan tongkatnya yang mengeluarkan api dan mengenai tubuhku, api itu juga membunuh Miku dan Kaito," lanjut Gakupo sambil memegang tongkat sihirnya yang dibuat seolah-olah itu milik Luka. Keluarga Shion, Hatsune, Kagene, dan Kagamine yang dipanggil Gakupo terkejut.

"Dia yang menipu kalian! Kalian bilang jika ada penyihir hitam di kota ini, penyihir itu harus mati dengan cara gantung diri 'kan? Ini seperti kejadian 35 tahun lalu! Kalian tidak ingin sejarah kembali terulang lagi 'kan?! Kejadian 35 tahun lalu itu telah mernggut keluarga kalian 'kan?! Karena itu Megurine Luka sang penyihir hitam harus mati!" kata Gakupo panjang lebar. 'Cih! Dia memang licik! Apa yang akan kau lakukan Aneeki?' kata Luki yang dari tadi mendengar percakapan penuh dusta. Luka hanya diam saja, "Memang benar kalau penyihir hitam harus mati. Seperti ucapan Gakupo, Luka harus gantung diri!" kata Tuan Kagene mengambil keputusan. Yang lain pun mengangguk setuju, dan menggantung Luka secara paksa.


'Dan saat itulah aku mati dan membalaskan dendamku. Itu sih dibantu Luki, dia membantuku membunuh Gakupo dan mengikat Gakupo dengan tali itu. Dan aku membawanya selama ini, walau tidak bisa dilihat oleh kalian sih…. Karena Luki memberi mantra terkutuk ke Gakupo. Dia juga membantuku dalam kasus menculik keluarga yang bersangkutan denganku dan menjaga gudang yang ada di belakang sekolah itu agar tidak ada yang berani mendekati gudang itu,' kata Luka mengkahiri ceritanya. Len mengangukkan kepalanya tanda mengerti, "Jadi? Aku harus menyegel kalian bertiga di tubuhku untuk sementara sampai Rin-nee-chan dan yang lainnya menyegel kalian?" tanya Len . Luka hanya mengangguk, 'Tapi…. Bagaimana bisa kau tahu kalau Luki ikut bersamaku? Padahal aku belum memberitahumu,' tanya Luka. Len hanya menggaruk kepalanya yang kebetulan tidak gatal, lalu tangannya menunjuk ke samping Luka, "Dia dari tadi duduk disampingmu dengan wajah yang menyeramkan, aku sampai merinding ketakutan," jawab Len.

Luka mengikuti arah tangan Len, seketika itu Luka langsung terkejut, 'Luki! Bagaimana bisa kau baru menunjukkan dirimu sekaranng!? Apalagi kau memasang wajah menyeramkan!' tanya Luka. Memang benar kata Luka dan Len, Luki memasang wajah yang menyeramkan. Matanya melebar dengan pupil mata yang mengecil, mulutnya terus membentuk seringai, sehingga orang yang melihatnya langsung pingsan. Luki langsung memasang wajah datarnya, 'Gomen, dari dulu aku mencoba untuk melepas mantra milik Gakupo no yatsu, gak tahunya baru bisa sekarang aku mematahkan mantranya karena bantuan dari kekuatan Len…-san. Masalah wajah yang menyeramkan tadi…. Efek dari mantranya, aku terlalu serius ingin mematahkan mantra Gakupo, eh…. Malah lepas kendali,' jawab Luki panjang lebar.

Luka dan Len hanya bisa sweatdrop saat mendengar jawaban Luki. 'Len, kau harus kembali ke dunia nyata, teman-temanmu menunggu. Jangan buat mereka khawatir,' kata Luka setelah lepas dari sweatdrop-nya. Len mengangguk, 'Dan maaf kami membebanimu, tapi kami tak punya pilihan lain selain kau menjadi segel sementara untuk kami,' kata Luki. Len hanya tersenyum, "Tidak apa-apa kok, Luka…-san, Luki…-san, aku senang membantu kalian. Jika saja kalian bisa berenkarnasi menjadi seumuranku, mungkin kita bisa menjadi teman yang baik," balas Len. Luka dan Luki hanya bisa tersenyum miris. 'Arigato ne…. sekarang waktunya kau sadar,' kata Luka dan Luki bersamaan.

KRAK! TRAKK! SSIIIINGG!

Ruangan gelap itu pun hancur berkeping-keping dan cahaya silau membuat Len hilang kesadaran.

-To Be Continued-


Seperti biasa REVIEW! *tepar langsung.