~2~
"The Red Riding Hood"
Hari sudah gelap dan Gray masih berada di hutan yang menghubungkan Mineral Town dan Forget-Me-Not Valley. Normalnya penduduk pergi ke sana dengan perahu, namun karena keadaan laut saat ini sedang tidak baik dengan gelombang yang masih sangat tinggi dan berbahaya, Zack menolak memberangkatkan kapal hingga hari yang tidak ditentukan. Gray tidak mau menunggu lama. Jika ia melewati jalur darat, meskipun ia harus menyebrangi hutan, ia bisa tiba dalam waktu satu setengah hari. Tak banyak orang yang mau melewati jalur ini kecuali karena situasi darurat, sebab keselamatan mereka tidak terjamin. Tak hanya hewan buas yang menjadi ancaman, namun juga para perampok yang beroperasi di hutan telah menjadi ancaman serius. Bagi Gray semua itu tak jadi masalah. Justru ia bisa memperoleh hadiah dari pemerintah dengan menangkap perampok di hutan itu. Bagaimanapun, harga yang cukup tinggi ditawarkan bagi yang dapat menangkap mereka, karena mereka bukanlah lawan yang mudah.
Setelah berjalan sepanjang siang menyusuri hutan, Gray memilih sebuah dahan pohon yang cukup besar untuknya bermalam. Ia terbiasa tidur di mana saja dengan kewaspadaan tinggi. Ia juga telah melatih dirinya untuk merasakan keberadaan manusia di dekatnya. Gray melepas tasnya dan menggantungnya di dahan terdekat, lalu berbaring di dahan, dengan kepala bersandar di batang pohon. Ia melihat langit yang sudah semakin gelap, namun terang dengan adanya kerlip bintang-bintang yang malam ini terlihat sangat banyak. Ia tak tahu langit di hutan perbatasan Mineral Town ini begitu indah. Malam kemarin ia tak sempat memperhatikannya karena pekerjaannya menyelamatkan Stu dari penculik. Ketika pikirannya jatuh pada Stu, ia teringat permen-permen yg diberikan Stu padanya kemarin malam, setelah ia mandi. Ia tak suka makanan manis, tapi ia tetap menerimanya karena merasa tidak enak pada kakak Stu yang waktu itu mengantar stu ke kamar sewaannya.
Ketika Gray hendak mengambil permen di saku celananya, Gray mengubah gerakannya segera untuk mengambil pisau kecil yang ada di saku jaketnya, dan melempar pisau itu ke semak-semak cukup jauh dari situ. Pisau Gray jelas tak sekedar mendarat ke semak-semak, sebab Gray dapat mendengar suara gesekan daun-daun kering setelah itu. Jelas sesuatu atau seseorang terpaksa bergerak karena dikagetkan oleh pisau Gray. Gray segera memakai tasnya, dan bersiap dengan pedang kecilnya. Ia hanya membawa lima pisau kecil, dan ia tak ingin menghabiskannya dengan menyerang musuh yang bergerilya. Setelah beberapa lama tidak ada pergerakan dari musuh, Gray turun dari atas pohon. Ia mengamati sekeliling dengan hati-hati. Segera setelah ia menjejakkan kakinya di tanah, ia dapat memperkirakan jumlah musuh yang menyerangnya saat ini.
Dua orang? Aneh. Kenapa aku tidak menyadari keberadaan mereka sejak tadi? Sebelum berbaring aku yakin aku sudah memastikan tidak ada orang dalam radius 100 meter. Bagaimana mereka bisa menemukanku?
Suara gagak membuyarkan pikiran Gray. Kepakan sayapnya terdengar jelas di tengah kesunyian hutan. Gagak itu terbang dari dahan yang tinggi, kira-kira lima pohon dari tempat Gray berdiri, menuju ke semak-semak tempat Gray melemparkan pisaunya tadi. Dari semak-semak itu lalu keluarlah dua orang pria berpenampilan berantakan. Salah satu dari mereka bertubuh kurus, berjalan dengan gagak bertengger di lengan kirinya. Yang satunya lagi berperawakan gemuk, kombinasi duo yang klasik. Maka terjawablah pertanyaan Gray tadi: gagak itu pastilah pembawa pesan mereka yang ditugaskan untuk mengawasi musafir yang masuk ke hutan.
"Serahkan hartamu, jika kau masih ingin hidup!" seru pria berperawakan gemuk. Ia mengeluarkan golok yang cukup panjang, jelas mengancam Gray.
"Aku tidak membawa benda berharga bersamaku. Kalian salah memilih target," jawab Gray tenang. Kata-kata Gray itu rupanya memicu tawa si gemuk.
"Bukankah sudah kubilang? Kau hanya bisa hidup jika menyerahkan hartamu. Jika tidak ada harta, maka kami akan mengambil hidupmu! Hahaha!" serunya lagi. Si gemuk kemudian maju dan mengayunkan goloknya ke arah Gray. Gray menghindarinya dengan mudah, namun ketika ia menghindar, tengkuknya terasa tersengat. Ia segera menoleh ke belakang, dan melihat si kurus memegang supit di mulutnya. Gray menghentikan gerakannya.
Ceh. Mereka bermain kotor rupanya...
Pandangannya mulai kabur dan kakinya terasa lemah. Ia melihat senyuman si kurus yang mengerikan, sebelum akhirnya segalanya benar-benar gelap bagi Gray.
-000-
Gray membuka matanya perlahan, namun pandangannya masih kabur. Ia mencium bau asap bercampur dengan rumput kering dan ia juga mendengar suara kayu yang terbakar. Selebihnya sunyi. Gray mencoba menggerakkan tubuhnya yang masih terbaring lemah. Rupanya tangan dan kakinya terikat kuat dengan tali rami. Gray mengubah posisinya, berusaha mengamati sekelilingnya. Ia terbaring di lantai tanah yang dipenuhi jerami kering. Ia berada di ruangan kecil yang dinding-dindingnya terbuat dari kayu tua. Sepertinya ini adalah bekas kandang kuda yang sudah lama tidak terpakai. Dari pintu kecil yang terbuat dari potongan-potongan batang pohon kurus, cahaya api memasuki ruangan. Tampaknya kedua perampok itu menyalakan api unggun tepat di depan kandang kuda ini. Ketika matanya jatuh di pojok ruangan, ia menyadari kehadiran orang lain selain dirinya. Seorang wanita dengan tudung kepala berwarna merah, dan sebagian rambut pirang panjangnya jatuh di bahunya. Wanita itu tampak tertidur, bersandar pada dinding kayu. Sama seperti Gray, tangan dan kakinya juga diikat.
"Rupanya bukan hanya aku," kata Gray pada dirinya sendiri. Ia merasa sangat bodoh karena tertangkap dengan mudahnya oleh sepasang perampok hutan. Gray berbaring terlentang, memandangi langit-langit yang penuh sarang laba-laba, berpikir. Hanya ada satu jalan keluar, yaitu satu pintu kecil itu. Pedangnya tak ada di sini, sehingga mustahil baginya untuk memotong tali yang mengikat tangan dan kakinya. Kesempatan kabur terbaiknya hanya satu, yaitu jika perampok itu memindahkannya dari kandang sialan ini. Dilihat dari "tangkapan" mereka, tampaknya ia dan gadis pirang di pojok ruangan ini akan dijual sebagai budak di bazar pasar gelap besok. Saat itulah Gray bisa melarikan diri. Sekalipun ia menjebol dinding dan kabur sekarang, ia tak tahu di mana ia berada dan ia tak ingin ambil resiko dengan tubuhnya yang lemah sekarang. Merasa tak ada yang bisa dilakukan, Gray memutuskan untuk kembali memejamkan matanya dan tidur untuk saat ini.
-000-
Gray terbangun karena suara keras. Rupanya si perampok gemuk menendang tong di sebelah Gray.
"Bangun kalian! Hari ini kita jalan-jalan sedikit, hahaha!" seru si gemuk. Gray menggeliat meregangkan otot-ototnya yang kaku karena terikat sepanjang malam. Tak hanya kaku, tubuh Gray terasa luar biasa lemah sejak semalam. Gadis berambut pirang yang senasib dengannya tampak sudah bangun. Begitu sadar Gray melihatnya, Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan canggung. Gray membalas anggukan gadis itu sambil mengamatinya. Ia kira-kira lebih muda dua atau tiga tahun dari Gray.
Meski gadis ini tampak kotor, tapi Gray bisa melihat bahwa ia cukup manis. Matanya biru, sama seperti mata Gray, dan ia mengenakan baju dengan model yang sangat asing bagi Gray. Selama ini Gray telah menjelajahi hampir seluruh harvest moon, tapi ia belum pernah melihat motif baju gadis itu. Karena itu Gray berasumsi bahwa ia berasal dari tempat yang sangat jauh.
"Kau mengerti bahasaku?" tanya Gray. Gadis itu mengangguk, namun tampak sedikit bingung dengan pertanyaan Gray.
"Ah, aku hanya merasa kau sangat asing," kata Gray. "Bajumu, maksudku," lanjutnya, berusaha menghapus kebingungan di wajah gadis itu. Tampaknya gadis itu mengerti maksud Gray, sebab ia kemudian tersenyum.
"Aku berasal dari tempat yang sangat jauh di pedalaman," kata gadis itu.
Gray hanya mengangguk kecil, jelas tak ingin mengobrol tentang identitas mereka lebih jauh.
"Kau mau membantuku? Kita bisa melarikan diri hari ini, saat mereka membawa kita ke kota." jelas Gray, membuat mata gadis itu melebar.
"Tentu! Apa yang bisa kulakukan?" tanyanya antusias. Gray membalik posisi duduknya sehingga membelakangi gadis itu, menghadapkan lengannya yang terikat padanya.
"Kendorkan ikatanku. Tapi jangan dibuka semuanya. Jika kita kabur sekarang juga percuma karena kita tidak tahu wilayah ini. Ketika mereka membawa kita ke jalan utama, baru kita kabur." Kata Gray. Gadis itu lalu menggeser tubuhnya hingga mendekati Gray, lalu berusaha mengendorkan ikatan Gray dengan giginya. Gray tahu pasti sulit bagi gadis itu,sebab beberapa kali ia berhenti dan mendesis -sepertinya merasakan ngilu giginya.
"Kau tak bisa gunakan tanganmu?" Tanya Gray.
"Tidak. Mereka mengikatnya sangat kuat. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan jari-jariku."
"Kau benar," kata Gray. Ia juga tidak bisa menggerakan jari-jarinya. Jika bisa, pastilah ia akan melepas gadis itu terlebih dahulu. Cukup lama gadis itu berusaha, dan akhirnya berhasil. Gray menggerak-gerakkan tangannya, memastikan ia sudah bisa melepas ikatan itu sendiri.
"Oke, ini cukup. Thanks. Biar kulonggarkan ikatanmu juga," bisik Gray. Gadis itu memutar tubuhnya sehingga Gray bisa melepas ikatan di tangannya dengan jari-jarinya. Saat Gray menyentuh tangan gadis itu, ia hampir melonjak kaget, karena tangan gadis itu sangat dingin. Tak heran, udara di gunung ini sangat dingin, dan ia mungkin sudah berada di sini lebih lama dari Gray.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Gray segera menjauh dari si gadis tudung merah. Dari pintu masuklah salah satu perampok bertubuh kurus. Ia berjalan mendekati gadis tudung merah dan melepas ikatan di kakinya.
"Hey, boy. Kau sudah bisa bangun?" tanya si perampok kurus. "Kau bangun lebih cepat dari perkiraanku. Dengan racun yang kuberi, normalnya orang tidak akan bisa bergerak hingga 2-3 hari," lanjutnya.
"Mungkin aku perlu memberimu tambahan dosis agar transaksi nanti berjalan lancar... hey, Steve!"
Gray mengerutkan dahinya. Ini buruk. Jika si kurus itu kembali memberinya obat, ia tak akan bisa lari lagi. Meski saat ini tubuhnya masih lemah, setidaknya ia sudah dapat bergerak. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Gray menoleh ke arah si tudung merah, memberinya isyarat bahwa mereka harus kabur sekarang. Entah gadis itu mengerti maksud Gray atau tidak.
Ketika si kurus itu berjalan ke luar kandang kuda, Gray dengan cepat melepas ikatannya. Gray kemudian menarik lengan si tudung merah dan berlari ke luar, menabrak si perampok kurus hingga ia terjengkang. Sayangnya pelarian mereka tidak berjalan mulus. Si gemuk segera berlari merespon suara teriakan rekannya. Begitu ia melihat Gray, tanpa ragu-ragu ia mengayunkan golok panjangnya. Gray menghindar sambil mendorong si tudung merah agar menjauh dari pertarungan.
"Cepat lari!" Seru Gray pada si tudung merah. Gray tahu kondisi tubuhnya masih lemah akibat racun yg diberikan perampok itu, karen itu ia tidak yakin bisa meloloskan dirinya dan si tudung merah sekaligus. Melihat si tudung merah masih tak bergeming, ia kembali berteriak dengan keras. "Cepat!"
Kaget dan takut dengan teriakan Gray, gadis itu tampaknya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Setelah lega bebannya berkurang, Gray berusaha mengatur napasnya. Ia benar-benar dalam keadaan yg buruk. Saat ini untuk berdiri tegak saja sulit bagi Gray. Tapi ia harus pergi ke Forget-Me-Not Valley dan menemui seseorang. Ia tak bisa berakhir di sini.
-000-
(Bersambung...)
