~4~
"Goodbye at the fork"

Kuda yang membawa Gray dan Claire akhirnya tiba di perbatasan kota Forget-Me-Not Valley sekitar pukul 7 malam. Gerbang kota dijaga oleh dua orang penjaga bersenjata tombak panjang. Claire tetap di gerobak, sementara Gray tampak berbicara dengan penjaga gerbang. Ia memandang sekilas pada dua penjahat yang masih tak sadarkan diri di gerobak mereka, lalu kembali melihat Gray. Gray dan Claire telah mengganti bajunya yang berlumuran darah dengan pakaian baru yang mereka ambil dari muatan perampok bersaudara. Mereka memakai pakaian lokal yang membaur, sehingga Claire tak nampak seperti suku asing lagi sekarang.
Kelihatannya Gray sudah selesai bicara dengan penjaga. Ia berjalan kembali ke Claire dan mengarahkan kuda mereka masuk ke dalam kota. Saat mereka melewati gerbang, salah seorang penjaga berkata pada Gray dengan nada sedikit menggoda.

"Kau bisa menemui penari cantik yang kau kejar-kejar itu berkemah di dekat Turtle Pound!" serunya. Gray tampak menanggapinya dengan cuek, tapi hal ini malah membuat Claire penasaran.

"Jadi kau mencari seorang gadis di sini?" tanya Claire. Gray hanya menjawab pendek, "ah," dan mengakhiri pembicaraan. Claire mengangguk paham. Ia bisa maklum kalau Gray tidak mau memberitahu alasannya ke sini, karena ia kemari untuk mengejar seorang gadis.

Gray menghentikan kudanya di pos polisi, lalu turun dan memasuki pos polisi seperti sudah biasa. Claire mengikuti Gray, dan heran karena Gray langsung menunjuk salah satu selebaran buronan yang ditempel di sana. Seperti saat ia bicara dengan petugas penjaga gerbang, ia bicara dengan polisi secara profesional. Claire yakin Gray sudah sering melakukan proses-proses ini terkait pekerjaannya sebagai hunter.

"Bagaimana kau tahu kalau mereka buronan?" tanya Claire heran.

Gray yang sedang mengisi kertas formulir hanya menjawab tanpa memalingkan wajahnya pada Claire. "Aku hunter, ingat? Mengingat wajah penjahat yang dicari keamanan dunia adalah kunci untuk mendapatkan uang."

Lagi-lagi Claire mengangguk paham. Ia mengalihkan pandangannya ke gerobak mereka. Saat ini salah satu petugas polisi sedang memeriksa dengan seksama kedua perampok yang masih tak sadarkan diri. Setelah yakin hasil tangkapan Gray benar, ia memberi isyarat pada petugas di dalam kantor untuk mengeluarkan dua ikat rentengan Gold yang kira-kira jumlahnya 20.000 Gold.

"Terimakasih, Tuan Hunter. Asosiasi Keamanan Harvest Moon telah lama berusaha menangkap mereka, kau hebat!" kata petugas yang lain. Gray lalu meninggalkan pos polisi, berjalan menyusuri daerah pertokoan yang masih ramai oleh aktivitas warga. Claire berjalan mengikuti Gray hingga tiba-tiba ia berhenti di sebuah pertigaan. Satu jalan ke selatan, satu jalan ke barat. Gray membuka tasnya, dan memberikan satu ikat uang yang diterimanya tadi pada Claire.

"Eh?" tanya Claire bingung.

"Kau juga ikut ambil bagian, jadi ambillah setengah," kata Gray sambil memakai kembali tasnya. Claire yang menerima uang itu masih tak bergeming di tempatnya.

"Jika kau ingin ke Flowerbud, ikuti saja jalan utama ini terus ke barat. Jika kau terus berjalan, kau bisa sampai di perbatasan kota besok siang. Tapi kusarankan kau beristirahat di penginapan malam ini," terang Gray. Lagi-lagi Claire hanya diam. Ia seperti baru ingat bahwa Gray hanya akan bersamanya hingga Forget-Me-Not Valley, dan sisa perjalannya harus ia lalui sendiri.

"Ehm... lalu kau?" tanya Claire ragu.

"Ada urusan yang harus kuselesaikan di kota ini," jawab Gray pendek. Ia tak biasa melakukannya, tapi kali ini ia tersenyum tipis pada Claire.

"Baik-baiklah. Selamat tinggal, Claire," ucap Gray. Tanpa ragu ia melangkahkan kakinya ke jalur selatan, dan menghilang di antara keramaian orang. Claire masih diam di tempatnya, menggenggam serenteng Gold yang terasa dingin di tangannya.

"Selamat tinggal, Gray..." ucap Claire pelan. Ia melihat sekelilingnya, dan memutuskan untuk mencari penginapan untuk bermalam. Lagi-lagi, Claire merasa kakinya terasa membeku.

"Saat aku sendirian, entah kenapa segalanya terasa dingin," gumam Claire. Ia mengepalkan tangannya, seolah mengumpulkan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

"Kau bisa, Claire..."

-000-

-Mineral Town-

Dirk memacu kuda cokelat kekarnya melalui hutan utara Mineral Town, dan mengikat kudanya di dekat gereja. Setelah turun dari kuda, Dirk memejamkan matanya dan menggumamkan sesuatu yang membuat kalung rubinya bercahaya.

"Katakan padaku dimana Reina berada," perintah Dirk. Seperti mengerti perintah Dirk, kalung rubi itu melukiskan panah tempat Reina berada. Dirk langsung mengikuti arah itu, dan tiba di sebuah penginapan bernama Doug's Inn. Tak butuh waktu lama baginya hingga ia menemukan orang yang dicarinya: seorang wanita seusianya, berambut hitam panjang dengan dua kepang tipis di belakang, dan baju toska dengan motif yang sangat berbeda dari orang-orang di sekitarnya.

"Reina!" Dirk tampak terengah-engah, namun tak ingin menyia-nyiakan waktu sedetikpun. Ia segera menghampiri Reina yang duduk di restoran Inn.

"Kau masih belum menemukan Claire?" tanya Dirk tak sabar. Reina hanya menggelengkan kepalanya lemah. Dirk tampak sangat kesal, namun berusaha menenangkan dirinya dengan menghirup napas dalam-dalam. Ia duduk di hadapan Reina, memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya yang sakit. "Kenapa? Kenapa kita tak bisa melacak keberadaannya? Sesuatu seperti menutupi keberadaan Claire..."

Melihat teman sejak kecilnya itu frustasi, Reina hanya bisa diam. Ia telah menceritakan kejadiannya pada Dirk dalam suratnya: ia kehilangan Claire saat mereka melewati keramaian festival di kota sebelumnya. Terakhir kali ia masih bisa melacak Claire ke arah Mineral Town, tapi setelah itu... seperti ditelan bumi, keberadaan Claire menghilang.

"Kau ingat apa kata Oracle?" tanya Reina dengan nada lemah. Dirk mengangkat alisnya. Oracle, nenek berusia 180 tahun yang berperawakan seperti gadis 15 tahun. Mungkin ia tahu, tapi ia tak ingin peduli. "Takdir akan menemukan jalannya... mungkin ini adalah takdir yang diisyaratkan Harvest Goddess untuk kita," kata Reina. "Jadi aku yakin, dimanapun Claire berada sekarang, ia akan baik-baik saja," lanjutnya.

Berbeda dengan Reina yang tampak tenang, Dirk tidak bisa menerima hal itu begitu saja. Ia meremas kepalan tangannya sendiri. Kesal.

"Apa yang bisa dilakukan anak itu sendiri? Ia bahkan tak bisa menggunakan sihir untuk melindungi dirinya, Reina!" geram Dirk. Karena ia menyebut-nyebut sihir dengan suara keras, ia menarik perhatian banyak pengunjung Inn, bahkan Doug yang sedang berada di counter. Reina menyadari itu, dan menarik Dirk keluar dari Inn.

"Dirk, tenangkan dirimu! Aku tahu kau sangat peduli pada Claire, tapi bukan begitu caranya. Demi dunia ini, ada hal yang lebih penting yang harus kita, Konohana, lakukan!" Reina akhirnya meninggikan suaranya. Namun Dirk dengan kekeraskepalaannya, tak bergeming dan masih tampak kesal. Reina mengamati sekelilingnya, memastikan tak ada orang disana, lalu berbisik pada Dirk, "Gerbang-gerbang lain telah terbuka, bukan hanya di Konohana."

Kalimat itu rupanya berhasil membuat Dirk terdiam. Reina bersandar pada pagar Inn yang dipenuhi oleh tumbuhan rambat. Ia kembali memandang Dirk. Ia yakin dalam diri Dirk saat ini terjadi konflik yang berat. Dirk sangat menyayangi Claire, ia tahu sekali itu.

Keheningan diantara mereka pecah oleh suara elang yang berputar beberapa kali di jauh diatas mereka, lalu mendarat dengan anggun di pagar Inn. Reina dan Dirk langsung mengenali elang itu dari tiga strip putih di ekornya.

"Sheng," ujar Reina. Ia melepas ikatan surat di kaki elang itu dan membacanya.
"Sudah kubilang kan?" Reina menyerahkan surat itu pada Dirk yang segera membacanya. Dirk mengerutkan dahinya, menampakkan kekhawatirannya dengan jelas.

"Dia meminta kita menyerahkan masalah itu pada Claire, dan melakukan tugas kita sendiri. Sebagai satu-satunya kelompok yang masih menguasai sihir, menjaga stabilitas dunia adalah kewajiban kita," Reina mengulangi isi surat itu. Dirk memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya.

Tak lama kemudian, ia membuka matanya kembali.

"Sudah kubilang kan?"

Ia meremas surat itu di tangannya,

"Claire bahkan tidak bisa menggunakan sihir..."

Dan merubahnya menjadi abu dengan sihir,

"Tapi kenapa..."

lalu menangis,

"Kenapa ia harus menanggung semua ini...?"

merasa sangat lemah karena tak dapat melakukan apapun untuk gadis kecilnya, Claire.

Reina mengangkat tangannya ragu, lalu menempatkannya di bahu Dirk. Menepuk-nepuk bahunya pelan. Sangat pelan. Samar, kata-kata Oracle saat mereka memutuskan untuk melakukan misi ini kembali terngiang di telinganya:

"Yang kita lakukan hanyalah mengembalikan segalanya menjadi seperti seharusnya."

-000-

-Forget-Me-Not Valley-

Claire menghempaskan tubuhnya pada kasur empuk kamar penginapan yang disewanya. Tangan kanannya memegang selembar peta yang terbuka. Ia melihat peta itu sekali lagi. Perjalan dari Forget-Me-Not Valley ke Zephyr tidaklah dekat. Jika ia butuh satu minggu dari Konohana ke sini dengan berkuda, mungkin ia butuh waktu dua minggu untuk sampai Zephyr dengan berjalan kaki. Malam sudah larut, namun ia masih bisa mendengar banyak suara orang di jalan. Kota ini sangat berbeda dengan Konohana, tempat tinggalnya dulu. Di Konohana, ia bisa mendengar suara nyanyian jangkrik dan katak dengan jelas. Tanpa sadar pikirannya sekarang melayang ke sana, membayangkan apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang Konohana pada waktu ini.

Ying dan Razhi mungkin masih berlatih sihir dengan Sheng. Ah, karena aku tidak bisa menggunakan sihir, biasanya aku hanya menonton saja...

Paman Dirk mungkin masih di gunung, menjaga hutan...

Kakek Gombe mungkin sedang duduk di beranda rumahnya, menikmati suara jangkrik...

Kakek Moko, Kana, dan Hiro mungkin masih minum-minum di restoran Nenek Yun.

Reina, Ina, dan Nori sedang mengobrol di Town Hall.

Tapi...

Malam ini mungkin tidak seperti itu.

"Aku terpisah dengan Reina karena keramaian festival, lalu diculik. Dia pasti kesulitan mencariku. Kenapa ia belum kesini juga?" gumam Claire. Sebenarnya ia merasa takut dan banyak pikiran negatif menyergapnya saat ini. Reina penyihir yang hebat, harusnya ia bisa langsung menemukan Claire. Tapi sudah tiga hari sejak ia diculik dan Reina tak juga muncul. Bagaimana jika Reina ternyata tak mencarinya? Apa dia benar-benar harus ke Zephyr meskipun sendirian? Untuk apa ia melalui semua ini?

"... mengembalikan segalanya menjadi seperti seharusnya."

Claire menggerakkan jemarinya, merasakan tekstur kulit ujung jemarinya, merasakan bahwa dirinya memang masih ada dan hidup di sini. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Ia meringkuk, meletakkan tangannya yang terkepal di dadanya untuk menenangkan hatinya sendiri.

Seperti apa rasanya menghilang?

-000-

(Bersambung...)

Author's Note:

Terimakasih yang sudah mampir ke fanfic ini xD

Apalagi yg sempet-sempetin review, hehe. I hope you enjoy this chapter!