~5~
-Mystical Dance-
"Kalian akan pergi?" tanya seorang bocah laki-laki berambut cokelat panjang yang diikat satu. Ia duduk bersama dengan bocah laki-laki seusianya yang berambut pirang di dermaga. Kaki mereka mengayun-ayun, membuat air laut yang hijau bening beriak-riak kecil. Bocah berambut pirang itu melihat kapal besar yang berlabuh tak jauh dari sana dengan bangga.
"Yap. Kami akan berlayar nanti malam," kata anak berambut pirang. Melihat temannya sangat antusias, si rambut cokelat merasa iri. Ia berhenti mengayunkan kakinya dan tampak sedih.
"Aku juga ingin pergi dari kota ini," katanya. Si pirang akhirnya ikut menghentikan ayunan kakinya. "Aku ingin melihat dunia, seperti kau dan ayahmu," lanjutnya.
Melihat temannya sedih, si Pirang bangkit dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya, dengan senyum lebar di wajahnya.
"Kalau begitu ikut saja dengan kami! Ayahku pergi ke berbagai tempat yang menakjubkan dan punya banyak sekali anak buah. Kau bisa jadi anak buah pertamaku!" seru anak itu semangat. Si rambut coklat tersenyum. Ia meraih uluran tangan anak itu, lalu berdiri di hadapannya. Tubuh si pirang lebih pendek darinya, jadi ia sengaja merangkul anak itu dan menumpukan berat badannya sepenuhnya. Tentu saja hal ini membuat si pirang kewalahan.
"Anak buah? Aku?" tanya si rambut coklat dengan nada kesal yang berbanding terbalik senyum canggung di wajahnya. Merasa sedikit tercekik, si pirang berusaha melepas rangkulan temannya itu.
"A-aduh! Lepaskan, Cliff!" keluh si rambut pirang. Cliff, si rambut cokelat itu, akhirnya melepaskan rangkulannya. Ia bertolak pinggang dan menengadahkan wajahnya ke langit yang luas.
"Aku akan ikut denganmu, Gray..." kata Cliff. Determinasinya disambut oleh senyuman Gray, anak berambut pirang yang lebih pendek darinya itu.
.
.
"Aku ingin melihat dunia bersamamu..."
.
"Hahaha! Sekarang aku lebih tinggi 1 cm darimu!"
.
"Terimakasih, Gray..."
.
"Dia cantik kan?"
.
"Cliff!"
.
"Cliff!"
.
"Hidupku sangat menyenangkan, partner..."
.
.
.
Tes.
Setetes air jatuh dari mata Gray. Iris birunya memantulkan warna merah api unggun yang menyala-nyala di tengah tarian gadis-gadis berpakaian etnis. Rok merah marun lebar mereka seperti berkobar, disambut gemerincing lonceng-lonceng kecil di rambut dan pergelangan kaki mereka. Percikan api seolah menambah perih mata Gray. Ia seperti membatu. Hanyut. Hingga sentuhan di kulitnya membangunkannya dari pikirannya.
"Kau suka, Tuan?" tanya seorang pria bertopi koboy tinggi dengan hiasan bunga tersemat. Ia duduk di samping Gray dengan membawa sebotol anggur. Gray tak begitu mempedulikannya, namun penampilan pria ini memang sangat aneh. Ia menawarkan anggur pada Gray, tapi Gray menolaknya. Gray segera mengusap matanya. Beruntung kegelapan membuat air matanya tak tampak.
"Orang bilang tarian ini bukan sekadar tarian. Orang dulu menarikan tarian ini untuk memanggil arwah mereka yang telah mati. Jangan bengong, atau mereka yang telah mati mungkin akan mengajak arwahmu pergi, haha!" jelas pria itu tanpa diminta. Penjelasan pria itu membuat Gray memperhatikan sekelilingnya yang cenderung sunyi, meskipun ramai dengan orang.
Gray duduk diantara warga yang membentuk lingkaran mengelilingi api unggun besar. Di tengah mereka, enam orang wanita tengah menarikan tarian etnis dengan tempo yang menghentak-hentak, diiringi lantunan aneka perkusi dan alat musik gesek kecil yang Gray tidak tahu namanya. Tarian itu berakhir dengan suara melengking para wanita penari. Suara yang melengking bagaikan pekikan prajurit setan. Para penonton yang tadinya seperti terdiam dalam pengaruh sihir, bertepuk tangan riuh, tampak sangat menikmati pertunjukan itu. Gray tidak yakin apakah ia bisa menyebut tarian ini indah. Karena daripada indah, Gray merasa bahwa tarian ini...
"Menakutkan, bukan?"
Gray menoleh ke kanan. Lagi-lagi pria bertopi tinggi itu mengajaknya bicara. Ia menenggak minuman anggur langsung dari mulut botolnya, dan mengusap mulutnya dengan lengan bajunya. "Aku sudah tiga kali melihatnya, tapi tetap saja bulu kudukku merinding!" lanjutnya. Gray kembali memandang ke tengah lingkaran. Mereka tampak sedang menyiapkan pertunjukkan berikutnya.
"Mereka sudah lama di sini?" tanya Gray.
"Hm~ sudah hampir dua minggu, kurasa. Kudengar hari ini hari terakhir mereka di kota ini. Sayang sekali. Kau lihat wanita berambut cokelat itu? Dia sangat cantik!" kata pria itu sambil menunjuk ke salah satu penari yang sedang menyiapkan lingkaran api. Gray memperhatikan wanita yang ditunjuk. Seorang wanita berambut cokelat lurus panjang dengan raut wajah yang lembut. Memang ia tidak menyadarinya sejak tadi, tapi ia mengenal wanita itu. Wanita yang menjadi tujuannya datang ke kota ini.
Karena mereka sedang istirahat, Gray memanfaatkan kesempatan itu untuk menghampirinya.
"Celia," panggil Gray. Gadis itu berbalik, melihat wajah Gray yang memanggilnya.
"Ya?" Ia mengerutkan wajahnya pada Gray, jelas tak mengenalinya. Mata coklatnya yang jernih persis seperti pria yang muncul dalam pikirannya ditengah tarian mistis tadi.
"Aku Gray. Kau ingat?" tanya Gray.
"Gray...?" Ekspresi bingung Celia langsung berganti dengan ekspresi kaget.
Gray!" seru Celia. "Kalau begitu..." Celia melihat ke belakang Gray, mencari-cari sekelilingnya, namun tak mendapati apa yang ia cari.
"Dimana dia?" tanya Celia dengan wajah sedikit marah. Gray menundukkan wajahnya. Tak yakin ekspresi apa yang harus ditunjukkannya saat ini.
"Cliff sudah meninggal," kata Gray dengan suara lemah. Membuat Celia sekali lagi mengerutkan dahinya.
"Dia memintaku memberikan ini padamu," lanjut Gray sambil menyerahkan sebuah hiasan rambut emas berbentuk bunga, berhiaskan batu permata yang sangat cantik.
Celia menerima hiasan itu, tapi tidak langsung bereaksi. Ia malah tersenyum aneh, berusaha menganggap bahwa Gray hanya bergurau.
"Kau bohong kan? Kakakku tidak mungkin meninggal..."
"Maafkan aku Celia. Ia tewas... karena aku..."
Mendengar itu Celia merasa kakinya lemas. Ia terduduk di tanah, tak mempedulikan rok merah marun lebarnya kotor. Gray berlutut, mensejajarkan matanya dengan kepala Celia yang tertunduk cukup lama. Celia mengepalkan kedua tangannya, lalu mengangkat wajahnya. Menatap Gray tajam dengan matanya yang merah dan berair bening.
"Kenapa kau mengambilnya dari kami? Kau tahu apa yang terjadi selama ia pergi?" Celia tidak berusaha menahan amarahnya. Ia menarik baju Gray, meremasnya kesal dengan kedua tangannya yang kecil. Gray tidak melawannya. Ia hanya diam. Celia memukul-mukul dada Gray dengan sekuat tenaganya.
"Ibu kami tewas karena wabah...!"
Satu pukulan.
"Tapi ia bahkan tidak tahu itu...!"
Satu pukulan lagi.
"Semua ini karena kau meracuninya dengan pikiran bodoh itu...!"
Satu pukulan lagi.
"Kenapa kau mengambilnya dari kami?" isak Celia dengan air mata yang tak tertahankan.
Tidak sakit.
Ah...
Kuharap pukulannya lebih sakit dari ini.
Kuharap ia memukulku sangat keras sehingga membunuhku.
Ya. Aku pantas menerimanya.
Tapi tangan kecil dan halus Celia tidaklah sebertenaga itu. Ia berhenti memukul Gray saat ia tak punya tenaga lagi, dan hanya menangis setelahnya.
"Pergi kau! Aku tak mau melihatmu lagi!" teriak Celia sambil menangis.
Dua orang penari wanita lain kemudian mendekat karena mendengar teriakan Celia. Mereka segera memegang pundak Celia, lalu memandang tajam pada Gray.
"Siapa kau? Ada urusan apa dengan Celia?" tanya salah satu dari mereka.
Gray kembali berdiri dan memasang ekspresi dinginnya. Ia tak ingin membuat masalah lebih jauh. Lagipula urusannya dengan adik partnernya ini sudah selesai.
"Maafkan aku, Celia. Aku pergi," ucap Gray. Seperti biasa, ia tak pandai berkata-kata. Ia tak tahu bagaimana caranya untuk menghentikan tangis Celia. Ia tak tahu cara menyampaikan perasaannya yang sebenarnya. Karena itu ia memilih pergi.
Beberapa saat setelah Gray melangkah, ia mendengar kembali suara riuh tepuk tangan penonton. Rupanya mereka sudah memulai pertunjukkan yang lain. Seekor anjing labrador baru saja melompati lingkaran api. Satu anjing lainnya yang berukuran lebih kecil kemudian mengikuti aksinya. Lalu tibalah giliran anjing yang paling besar dan berbulu lebat untuk melompat. Seperti sebelum-sebelumnya, sang pawang memberi arahan pada anjing itu. Namun berbeda dengan anjing sebelumnya, anjing besar itu tak mau melompat. Ia malah diam di tempatnya, mengeram ke arah kereta rombongan sirkus yang berada di samping Gray. Gray menoleh ke sana. Tak ada hal yang aneh. Hanya adik Cliff yang masih menangis didampingi dua orang temannya. Namun anjing itu kini menggonggong, disusul oleh gonggangan dua anjing lainnya. Terang saja hal ini membuat penonton yang baru saja disuguhkan tarian mistis ketakutan dan bertanya-tanya.
Tiba-tiba semua orang dikagetkan oleh suara keras robekan di atap kereta kuda rombongan sirkus yang terbuat dari kain. Kain itu robek dari dalam. Dari sela robekan itu terlihat jelas besi panjang melengkung yang berkarat. Para penonton maupun anggota rombongan sirkus masih memperhatikan apa yang terjadi, dan tidak bergerak, namun insting Gray berkata ada sesuatu yang jahat di dalam kereta itu.
"Semuanya menjauh!" teriak Gray. Sayangnya respon semua orang tampaknya menjadi sangat lambat saat ini. 'Sesuatu' keluar dengan cepat dari kereta itu. Gray berlari dengan cepat ke arah Celia dan dua temannya, dan menghunus pedangnya tepat waktu. Pedang Gray bertemu dengan besi melengkung, panjang, kasar, dan berkarat. Senjata yang tampaknya tak dibuat dengan begitu baik. Karat besi itu bercampur dengan kotoran hitam menjijikan yang berlendir. Tapi pemegang senjata itu lebih menjijikan lagi. Ia memiliki sepasang kaki dan tangan seperti manusia. Namun ia bungkuk, tingginya sekitar 4 kaki, kepalanya bermoncong seperti kambing, telinganya panjang, kulitnya hitam sedikit biru dengan tekstur yang berantakan -beberapa terlihat terkelupas, dan napas serta tubuhnya sangat bau.
Gray yang menahan pedangnya dapat memperkirakan kekuatan makhluk ini.
Ia kuat dan cepat.
"Makhluk apa kau?" tanya Gray pada makhluk aneh itu. Ia tak menjawab. Ekspresinya pun tak berubah. Makhluk itu tiba-tiba menekan Gray sangat keras sehingga Gray terpental. Tak berhenti disitu, ia menyerang Gray dan melukai lengan Gray yang memegang pedang. Makhluk itu lalu menjauh dari Gray dan mengayunkan senjatanya sembarangan. Warga yang sejak tadi terpaku kini lari berhamburan menyelamatkan diri. Gray tahu bahwa ia harus segera mengakhiri ini sebelum jatuh korban jiwa. Gray kembali menyerang dengan cepat, kali ini bagian tengkuk makhluk itu, dan memisahkan kepala dari badannya. Darah hitam berbau busuk makhluk itu menciprati pipi dan baju Gray. Gray tidak menghapusnya. Ia masih berusaha mengatur napasnya yang terengah. Ia menengok ke samping, melihat Celia yang tampak sangat ketakutan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Gray, masih dengan napas terengah. Celia hanya mengangguk. Matanya lalu melebar kembali saat melihat ke arah samping Gray. Gray mengikuti arah pandangannya.
"Li... lihat itu!" seru seorang penduduk kaget. Kekagetan yang juga dialami Gray dan semua yang menyaksikan keadaan ini. Tubuh makhluk itu seperti terurai menjadi cahaya yang perlahan-lahan menghilang. Seolah ia tak hanya mati, tapi 'menghilang'.
.
.
.
-000-
Meskipun sudah berusaha memejamkan matanya, Claire tetap tidak bisa tidur. Cahaya bulan yang menyusup dari jendela kamarnya membuatnya tertarik untuk melihat keluar jendela. Di kejauhan ia bisa melihat api unggun yang dikelilingi oleh banyak orang dalam satu lingkaran besar, dengan dua gerobak besar di salah satu sisinya.
Mungkin itu rombongan penari yang dibicarakan penjaga gerbang pada Gray. Seperti apa gadis penari yang dicari-cari Gray? Aku penasaran.
Angin yang cukup kuat memainkan rambut Claire yang kali ini tidak tertutup tudungnya merahnya. Claire mengambil langkah keluar dari kamarnya, menuruni tangga penginapan, dan menuju selatan kota -tempat api unggun besar itu berada. Ia berjalan pelan sambil menikmati udara malam dan keramaian yang jarang dirasakannya. Langkahnya terhenti saat banyak warga berlarian ke arah yang berlawanan dengan arah yang ditujunya.
"Ada monster!" seru beberapa warga.
Ketika ia mendengar itu dan mencernanya, ia mulai berlari, menerobos arus massa yang berlarian. Di sana ia melihat monster yang tebaring dengan kepala terpisah. Juga seseorang yang dikenalnya, berdiri dengan tangan berlumuran darah yang menggenggam pedang berlumuran cairan hitam. Gray tampak menoleh pada seorang wanita cantik berambut coklat panjang, lalu mengatakan sesuatu yang tidak dapat Claire dengar.
"Lihat itu!" seruan seorang warga membuat Claire kembali melihat monster itu. Monster itu terurai menjadi cahaya. Ya, 'menghilang'.
Tangan dan lutut Claire gemetar. Jelas ia tak baik-baik saja setelah melihat kejadian itu. Dan bukan hanya ia. Pria berambut pirang dan bermata biru, sama seperti Claire, pun memasang ekspresi yang hampir sama: takut.
Petugas polisi mulai berdatangan. Merasa tak ingin terlibat, Gray menyarungkan pedangnya yang masih berlumuran cairan hitam menjijikan itu, lalu berjalan pergi, menjauh dari keramaian.
Sementara Claire, masih dengan tubuhnya yang gemetar, secara spontan mengikuti Gray dan menarik ujung baju belakang Gray.
"Tu-tunggu!" tahan Claire. Gray menghentikan langkahnya, menoleh dan melihat mata biru Claire yang terlihat panik.
"Kau seorang hunter kan? Jika aku membayarmu, kau akan membantuku kan?" tanya Claire dengan cepat dan suara sedikit bergetar. Meskipun Gray tak meresponnya, Claire tidak berhenti. Ia melangkah mendekati Gray dan memegang salah satu lengan bajunya.
"Tolong antar aku ke Zephyr. Aku harus kesana secepatnya! Aku pasti akan membayarmu!"
Gray bisa melihat rasa takut dan panik yang tidak normal di mata Claire. Tapi itulah yang sejak awal dilihat Gray dari gadis ini: ia tidak normal.
Membantunya?
Saat ini aku tak ingin berhubungan atau bicara dengan siapapun.
Kenapa juga aku harus membantunya?
Uang?
Ah, aku tak peduli.
"Minta saja orang lain," jawab Gray datar, dengan tatapan yang sama sekali tak hidup. Membuat Claire lemas dan melepaskan lengan Gray. Ada hal yang berbeda dari mata biru Gray. Seperti sesuatu yang sangat menyedihkan telah terjadi padanya setelah mereka berpisah.
"Kau kenal Gray?"
Suara dari belakang Claire membuatnya menoleh.
Itu wanita cantik berambut coklat yang diajak bicara oleh Gray.
.
.
.
(bersambung...)
.
.
.
Author's Note:
Sorry for late update... Dan authour tau Celia nya OOC banget. Gray kecil juga sangat berbeda dengan Gray yang sekarang... Yah, waktu merubah segalanya kan /ngeles
Enjoy!
