~6~

"Accompany"

-Konohana-

Namanya Oracle. Rambut merah muda yang bergelombang, kulit putih halus dan mulus, serta perawakannya yang mungil, membuat tak seorangpun akan menyangka bahwa ia seorang nenek berusia 180 tahun. Ia tinggal di suatu rumah di lereng gunung yang menghubungkan Desa Konohana dan Bluebell. Hari-hari ia lalui dengan mencari tanaman di gunung, membuat ramuan, atau terkadang melakukan beberapa ritual sihir. Ia punya banyak teman di Konohana, karena hanya Konohana satu-satunya desa yang masih memegang tradisi sihir. Di berbagai belahan dunia Harvest Moon, sihir nyaris hilang.

Konohana mampu bertahan karena letaknya yang terpencil dan jauh dari kota besar. Namun menurut Oracle, semua itu bisa terjadi karena campur tangan Harvest Goddess. Buktinya hampir semua penduduk Konohana dapat menggunakan sihir. Lebih dari pada ketekunan, kemampuan sihir sebagian besar ditentukan oleh bakat. Dan hampir semua penduduk Konohana terlahir dengan bakat sihir; sesuatu yang tak akan terjadi jika hanya kebetulan semata.

Hari ini, seperti biasa Oracle mengunjungi Danau Harvest Goddess dan memberikan strawberry sebagai persembahan. Harvest Goddess telah menjadi semacam teman baiknya sejak ia kecil.

"Hey, Oracle!"

Dan Harvest Goddess akan selalu muncul jika Oracle memberikan strawberry kesukannya. Oracle duduk di salah satu sisi bebatuan di tepi danau, sementara Harvest Goddess bersandar pada bebatuan di sisi lain sambil tetap berendam di air.

"Ada apa?" tanya Harvest Goddess.

Oracle tersenyum kecil dengan wajah kanak-kanaknya pada Harvest Goddess. "Tampaknya retakan kedua dunia mulai menyebar. Haah~ Kau tahu, aku tak tahu apa lagi yang bisa kami lakukan. Meskipun kami telah menyebar orang ke berbagai penjuru dunia untuk mengamankan situasi, aku tak yakin kami bisa meng-cover seluruh dunia."

"Eh~ sungguh~" hanya itu respon Harvest Goddess.

Oracle mendesah.

Ia melihat langit biru yang cerah. Beberapa burung gereja lewat di atas sana. Oracle kembali memandang Goddess dengan serius. "Apa kau sudah merencanakan semua ini? Apa kau bermaksud menyudahi dunia ini?"

Mendengar pertanyaan Oracle, Harvest Goddess hanya tertawa kecil.

"Apa kau menyukai dunia ini, Oracle?" tanya Harvest Goddess tanpa menjawab Oracle. Oracle kembali memandang langit.

"... Ya, aku suka."

Harvest Goddess tersenyum lagi. Ia memakan strawberry yang tadi dilemparkan Oracle ke danau. "Manis, aku suka! Terimakasih, Oracle!" serunya. Ia lalu menghilang kembali ke dalam danau.

Oracle masih duduk di sana, bergumam pelan,

"Meski di dunia ini banyak hal pahit yang terjadi...?"

Oracle lalu berjalan menuruni gunung ke arah desa Konohana. Ia berhenti ketika melihat Razhi, laki-laki kecil berusia 14 tahun yang sedang duduk di pagar pembatas jalan, menghadap jurang, melihat langit biru yang terbentang luas dari sana. Oracle, dengan kebiasaan isengnya, sengaja mengagetkannya dengan menyentuhkan jari telunjuknya pada punggung Razhi. Ia tahu betapa sensitifnya Razhi pada sentuhan di leher dan punggungnya. Benar saja, Razhi kehilangan keseimbangan dan oleng.

"Wu-Wuah!" teriak Razhi kaget sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Melihat ekspresi lucu Razhi, Oracle tertawa.

"Haah... Oracle-sama?" keluh Razhi dengan wajahnya yang masih pucat karena kaget.

"Hey, Razhi!" sapa Oracle dengan ceria, seperti biasanya. Razhi saat ini menggantikan shift Dirk menjaga hutan dengan Kana.

Oracle melompat dan duduk di samping Razhi,

"Ada kabar dari Dirk?" tanya Oracle.

Razhi menghela napas.

"Paman Dirk atau siapapun di Konohana belum bisa menemukan Claire dengan sihir. Jadi Kakek Sheng mengirim Paman Dirk ke Flower Bud untuk membantu daerah itu jika gerbang terbuka," jelas Razhi. Oracle mengangguk mengerti. Ia lalu berdiri, menjejakkan kedua kakinya pada kayu pagar pembatas yang kecil.

"Kita tidak tahu kapan dan dimana gerbang lain akan terbuka. Dari pada menyebar pasukan tanpa arah, bukankah lebih baik mencari Claire dan menyelesaikan semua ini secepatnya? Apa jangan-jangan Claire memang sengaja menyembunyikan keberadaannya agar dia tak perlu melakukan tugasnya?" Razhi akhirnya menanyakan pertanyaan negatif yang selama ini muncul di benaknya.

Oracle merengutkan wajahnya, lalu menendang bahu Razhi, membuat Razhi sekali lagi kehilangan keseimbangannya dan nyaris terjatuh.

"Kemana perginya seluruh kepintaranmu itu? Kau lupa kalau Claire tidak bisa menggunakan sihir?" Omel Oracle.

"A-aku tahu! Aku tahu! Ayolah, aku hanya mengeluh, dan banyak orang di desa berpikiran seperti itu!" keluh Razhi.

Oracle mendesah.

"Kau, Claire, dan Ying tumbuh besar bersama. Kau tahu pasti orang seperti apa dia kan?"

Razhi menghela napas, lagi.

"Aku tahu. Dia tak akan pernah kabur seperti pengecut."

Oracle tersenyum. Ia meletakkan tangannya di atas kepala Razhi yang tertutup cindung merah besar. Razhi yang terganggu karena Oracle memperlakukannya seperti anak kecil biasanya akan protes. Tapi kali ini ia diam saja.

"Kau kenapa?" tanya Oracle.

"Aku merasa jahat," jawab Razhi dengan wajah sedih. "Di satu sisi, aku sedikit berharap agar Claire tidak pernah ditemukan. Tapi aku juga takut pada malapetaka yang akan terjadi kalau Claire lebih mementingkan keselamatannya sendiri. Aku merasa... membuang Claire." lanjutnya.

Oracle memandang wajah Razhi dari samping. Perasaan Razhi mungkin sama dengan perasaannya, Kana, Dirk, dan hampir seluruh penduduk Konohana yang telah mengenal Claire sejak bayi.

"Aah... Bukankah ini sangat pahit?" gumam Oracle pada dirinya sendiri. Ia membiarkan angin musim gugur menyibakkan rok panjangnya dan memainkan rambut merah muda bergelombangnya.

.

-000-

.

-Forget-Me-Not Valley-

Claire duduk dengan canggung di kursi tinggi Blue Bar. Ia tak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya, tapi seorang gadis bernama Celia yang baru saja ditemuinya memaksanya kemari. Pertunjukkan rombongan sirkus Celia telah dibatalkan akibat kekacauan aneh. Meski begitu Celia masih mengenakan baju pertunjukannya, lengkap dengan lonceng-lonceng kecil yang bergemerincing jika ia bergerak.

Celia duduk di samping Claire, memutar-mutar cherry di dalam minumannya yang berwarna hijau. Claire tidak minum alkohol, jadi ia hanya meminum jus jeruk.

"Apa hubunganmu dengan Gray?" tanya Celia.

"Eh? Hubungan?" Claire berpikir sebentar. "Aaah, kau tak perlu khawatir! Kami hanya bertemu di jalan. Kami bahkan tak cukup dekat untuk bisa dibilang teman..."

Melihat reaksi Claire ini, Celia tertawa geli.

"Haha. Sepertinya kau salah paham, ehm...?"

"Claire,"

"Claire! Aku tidak khawatir, karena dia bukan pacarku," jelas Celia. Ia menenggak minumannya sampai habis, lalu menatap benci pada gelas yang kosong itu. "Aku membencinya. Sangat membencinya."

Celia menengok ke arah Claire, lalu memegang pipi Claire dengan jemari tangan kanannya. "Apa kau, seperti halnya kakakku yang bodoh itu, terpikat padanya?"
Claire yang tak terbiasa dengan situasi itu hanya mampu diam tak bergerak. Celia memandang Claire dengan tajam, lalu berpesan, "dia telah membunuh kakakku. Sebaiknya kau juga tidak mendekati pria brengsek itu."

... Pesan yang membuat Claire merinding dan ingin segera pergi dari situ. Namun Celia tidak membiarkannya. Celia memintanya menemaninya, dan ia bercerita tentang banyak hal.

"Kau tahu? Kakakku senang sekali saat melihat kapal yang sangat besar berlabuh di pulau kecil kami. Ia bahkan berteman sangat akrab dengan anak pemilik kapal itu, Gray. Gray menceritakan banyak hal tentang dunia padaku dan kakakku. Aku tak menyangka, cerita-cerita itu membuat kakakku nekad keluar dari desa untuk pergi bersamanya. Ia sangat terpikat pada Gray dan ayahnya. Ingin jadi kuat lah, ingin melihat dunia lah, apa lah... dia selalu membicarakan Gray dengan matanya yang bersinar. Tapi karena itulah ia berpisah dari kami."

Claire menyedot jus jeruknya. Ia memutuskan untuk mendengarkan cerita Celia yang tampak frustasi.

"Bahkan ketika ibu kami meninggal karena wabah beberapa tahun lalu, kakakku tak ada bersama kami. Setelah ibu meninggal, aku pergi dari desa dan bergabung dengan sirkus keliling. Lalu sekarang tiba-tiba dia datang padaku, mengatakan bahwa kakakku sudah meninggal... apa maksudnya coba? Bagiku... dia hanyalah penghancur keluarga kecilku. Aku benci dia."

Kali ini Celia memegang gelasnya dengan sangat kuat.

Sampai sini Claire berhenti menyedot minumannya.

"Kurasa kau tak bisa menyalahkan Gray seperti itu," Claire akhirnya buka suara.

"Hm?"

"Dari yang kudengar, kakakmu pergi untuk mengejar mimpinya atas tekadnya sendiri. Kebetulan saja Gray menjadi orang yang bisa membantunya. Dan soal ibumu atau kakakmu yang meninggal... itu adalah takdir dari Harvest Goddess."

-000-

Claire berjalan dengan lemah. Ia telah menyusuri jalan-jalan di kota untuk mencari Gray, namun tidak menemukannya. Padahal setelah melihat Gray mengalahkan monster itu, Claire yakin bahwa Gray dapat membantunya ke Zephyr. Melihat monster itu membahayakan orang-orang banyak, Claire semakin yakin bahwa ia harus menyelesaikan misinya secepatnya.

"Gray?"

Pandangan Claire mendarat pada pria berambut pirang yang tengah duduk di pinggir sungai. Memang gelap, namun Claire dapat melihatnya memegangi lengannya karena kesakitan. Claire segera menghampirinya.

"Gray! Kau tak apa?" tanya Claire khawatir. Gray tampak terengah-engah. Claire menarik lengan Gray dengan paksa, melihat luka cukup besar yang dengan darah masih mengalir. Tanpa membuang waktu lagi, Claire hendak menggigit jarinya sendiri untuk mengeluarkan darahnya.

"Hentikan!" seru Gray. "Aku tak butuh darahmu!"

Claire kaget dengan teriakan Gray dan sempat terhenti, namun ia tetap meletakkan jarinya ke mulutnya. Melihat itu, Gray langsung menarik tangan Claire dan menghentikannya. Mata Gray nyalang. Ia terlihat sangat marah.

"Darah yang bisa menyembuhkan? Apa kau juga monster yang akan menghilang jadi cahaya ketika mati?" tanya Gray dengan nada yang mengancam.

Claire langsung membatu sepenuhnya mendengar pertanyaan itu. Seolah itu bukanlah sesuatu yang bisa dibantahnya.

"Ugh." Gray mengaduh lagi. Jelas Gray sangat kesakitan sekarang. Dan Gray harusnya sudah tahu bahwa darah Claire bisa menyembuhkannya dengan sangat mudah.

Tapi ia tidak mau.

Kenapa?

Karena darahku mengerikan?

Claire melihat sekelilingnya. Malam sudah larut dan tempat mereka berada sekarang hanyalah pinggir hutan yang sangat sepi.

"Luka itu bisa sembuh dengan pengobatan biasa. Kalau kau tak mau kusembuhkan dengan darahku... setidaknya biarkan aku mengobati lukamu?" pinta Claire tulus. Gray memicingkan matanya, persis seperti kucing penyendiri yang baru bertemu orang asing.

"Tak perlu. Tinggalkan aku sendiri," kata Gray dingin.

Claire menggeleng kuat, "tidak bisa! Ka-kau bisa mati kehabisan darah..."

"... itu bagus. Mungkin harusnya kau tak menyelamatkanku waktu itu..."

"Kenapa? Kau ingin mati?" tanya Claire dengan nada sedikit kesal.

"...Entahlah. Aku hanya... mati rasa," kata Gray pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Tapi waktu itu kau bersikeras untuk hidup. Kenapa sekarang kau jadi begini?"

Gray hanya memejamkan matanya. Ia tampak kelelahan menahan sakit.

Kenapa?

Waktu itu masih ada hal yang harus kulakukan.

Urusanku sudah selesai.

Untuk apa lagi aku berlama-lama di sini?

Sentuhan di tangannya membuat Gray kembali membuka matanya. Tepat dihadapannya ia melihat mata biru gadis itu tampak tegas.

"Maafkan aku," ucap Claire tiba-tiba. Dan tiba-tiba juga Gray merasakan pukulan kuat di lehernya. Claire memukulnya dengan sangat kuat, membuat Gray yang sudah lemah kini kehilangan kesadaran.

"Ikutlah denganku. Aku punya banyak obat di tasku," jelas Claire sambil mengangkat lengan Gray yang tak terluka, berusaha memapahnya dengan tubuhnya yang lebih kecil.
Claire tak pernah melakukan ini sebelumnya, tapi ia merasa bahwa ia harus menyelamatkan Gray. Gray terlihat sangat menderita. Seperti orang yang telah kehilangan orang-orang yang disayanginya. Seperti orang yang tak memiliki tempat untuk pulang. Yang tak punya tujuan yang dapat membuatnya ingin bertahan hidup.

Claire membaringkan Gray di kasur kamar sewaannya. Ia membuka baju Gray, dan melihat luka cukup lebar di lengan atas Gray. Gray tidak mau menggunakan darah Claire, jadi kali ini Claire tak menyayat tubuhnya sendiri untuk mengeluarkan darahnya. Ia mengambil kain pembalut luka dan obat dari dalam tasnya, sesuatu yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.

Karena lukanya, Gray berkeringat banyak di malam hari, bahkan demam. Sepanjang malam Claire menjaganya hingga Claire tertidur di sisi tempat tidur.

Malam itu Claire bermimpi. Bukan mimpi tentang desanya, tapi sebuah tempat yang sama sekali asing baginya. Ia bahkan tak ada di mimpi itu.

Karena itu mimpi Gray.

Mimpi Gray yang entah bagaimana mengalir ke dalam mimpinya.

-000-

.

.

Pirang.

Ah, seperti waktu di hutan perbatasan Forget-Me-Not Valley

Aku terbangun dengan melihat warna pirang itu. Mata biru itu.

Tapi ada yang berbeda...

Ah, benar.

Mata biru itu menangis?

Kenapa?

Gray melihat Claire menangis tanpa suara di sisi tempat tidurnya. Tangisan yang aneh karena Claire menangis dengan mata yang sedikit melebar, dengan kedua tangannya tertangkup di depan mulutnya.

Kenapa ekspresinya begitu?

"Maaf..." ucap Claire.

Soal apa?

"Sepertinya... aku baru saja melihat mimpimu..."

Hah?

Mimpi?

Ah, ya. Semalam aku bermimpi... mimpi tentang Cliff.

Bukan mimpi yang menyenangkan. Dan ia melihatnya seenaknya?

"Kau juga bisa melakukan itu? Mengintip ke dalam mimpiku?" tanya Gray. Ia bangkit dan duduk di tempat tidur. Matanya dingin.

"A... aku tidak tahu. Ini pertama kalinya aku mengalami hal ini. Dan aku tak pernah bermaksud melakukannya, sungguh!" Claire berusaha membersihkan kecurigaan Gray. Melihat mata Claire, Gray tahu bahwa Claire tidak berbohong.

"Sudahlah," Gray menghela napas. Ia lalu meraba perban yang membalut lukanya. Ia juga sadar bahwa ia tak mengenakan bajunya. Lukanya masih sakit dan terasa basah saat ia menekannya, pertanda bahwa gadis pirang itu memang tak menggunakan 'darah ajaib' nya.

"Ehm... anu... maaf," ucap Claire lagi. Gray mengangkat satu alisnya, sepertinya sangat bosan mendengar Claire mengatakan maaf. "Aku juga... pernah berhutang nyawa pada ayahku. Dan pamanku bilang, nyawa yang telah dilindungi oleh ayahku ini adalah berkah yang harus kujaga baik-baik. Jika seseorang mati karena melindungimu... dari pada berharap untuk mati dan merasa bersalah, bukankah lebih baik jika menggunakannya sebaik-baiknya... demi orang yang telah melindunginya?"

Tangan Gray tiba-tiba terasa membeku. Claire benar-benar melihat mimpinya. Mimpi tentang kejadian satu tahun lalu. Mimpi dimana ia dan partner hunternya, Cliff, ikut dalam misi pencarian kelompok pemberontak kelas dunia. Karena kecerobohan Gray, mereka berada dalam situasi terdesak. Saat itu Cliff tewas karena menjadi tameng bagi Gray. Ia terkena panah yang menembus dadanya. Gray bahkan masih bisa merasakan darah yang membuncah dari mulut Cliff karena jantungnya tertikam panah. Hal yang membuatnya sangat menyesal adalah itu terjadi karena kesembronoannya yang ingin langsung menyerang dan memenangkan hadiah. Hadiah yang akan digunakannya untuk membeli kapal baru milik mereka sendiri.

"Kau tahu apa?" geram Gray. Ia menjatuhkan tatapan mengancam pada Claire. Tapi Claire sama sekali tidak mundur.

"Aku tahu! Aku tahu, karena sekarang aku sedang menggunakan nyawa yang telah diselamatkan ayahku ini sebaik-baiknya!" sergah Claire.

Gray tertawa sinis. "Memang apa yang sedang kau lakukan?"

"A- Aku tak bisa memberitahumu," jawab Claire dengan suara sedikit bergetar. Dia selalu begini sejak pertama Gray melihatnya. Ia lemah dan penakut, tapi punya tekad yang kuat.

Melihat kelakuan Claire itu, Gray hanya melanjutkan tawa sinisnya. Ia memandang ke luar jendela dan melihat langit yang semakin terang.

"Kau harus memberitahuku," kata Gray tanpa memandang wajah Claire. "Jika kau ingin aku menemanimu ke Zephyr."

.

.

.

(bersambung...)

Dou? It's really dark, this fanfic... haha. Semoga kalian menyukai fanfic ini, meskipun gelap dan Celia nya OOC banget banget di sini. Sempet terpikir sih pengen make Karen jadi adiknya Cliff, tapi kok ya kayaknya nggak pas... Dan mata Karen itu hijau haha. Oiya, ngomong-ngomong soal rambut Gray, author lebih suka pake rambut Gray di HM FOMT/MFOMT, yaitu pirang, bukan merah atau orange seperti di HM lainnya. Kenapa? Biar serasi sama Claire~ hahaha.

Okay... Notes kali ini lebih panjang tapi juga gak penting. Ah sudahlah.

I hope you enjoy this chapter!